• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

Gambar 2.1. Ker angka Pemikir an

III. METODE PENELITIAN

A. Lokasi dan Obyek Penelitian

Penentuan wilayah penelitian mengenai kakao olahan yang dilakukan secara sengaja di Jawa Timur, berdasarkan pertimbangan bahwa Jawa Timur merupakan salah satu daerah penghasil kakao di Indonesia dengan harapan dapat memberikan informasi yang memungkinkan untuk proses pembelajaran sehubungan dengan potensi dan daya saing kakao Jawa Timur yang menjadikan dasar penelitian.

B. Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data penelitian ini dilakukan dengan cara mencari data sekunder. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari berbagai

referensi, laporan, literatur baik data ataupun ringkasan yang diperoleh dari pihak - pihak yang terkait, hasil penelitian terdahulu, bukti - bukti relevan serta instansi

terkait yang digunakan untuk melengkapi penulisan skripsi. Pengambilan data sekunder yang digunakan untuk mengambil data Analisis Potensi dan Daya Saing Kakao Olahan Jawa Timur adalah dengan cara dokumentasi, yaitu pengambilan data kakao olahan Tahun 2007 – 2012 sebagai beikut :

1. Luas areal perkebunan kakao Jawa Timur 2. Luas Areal Perkebunan Kakao Indonesia 3. Produksi Kakao Jawa Timur dan Indonesia 4. Ekspor Pertanian Jawa Timur dan Indonesia 5. Ekspor Kakao olahan Jawa Timur

6. Ekspor Kakao olahan Indonesia

7. Tingkat Produktivitas kakao Jawa Timur 8. Harga Ekspor Kakao Olahan Jawa Timur

9. Volume Ekspor Kakao Olahan Jatim 10. Jumlah Industri Kakao Olahan Jatim

11. informasi dari instansi tempat kami melakukan kegiatan penelitian dan pustaka - pustaka ilmiah yaitu buku penunjang lain yang berhubungan dengan penelitian.

C. Definisi dan Pengukuran Variabel

1. Kakao Olahan adalah biji kakao yang diproduksi menjadi empat jenis produk kakao setengah jadi seperti cocoa liquor, cocoa butter, cocoa cake, cocoa powder dan cokelat. Biji buah kakao/coklat yang telah difermentasi dijadikan

serbuk yang disebut sebagai coklat bubuk. Coklat ini dipakai sebagai bahan untuk membuat berbagai macam produk makanan dan minuman.

2. Poduksi kakao Jawa Timur dalam penelitian ini adalah total biji kakao yang dihasilkan oleh Perkebunana Rakyat dan Perkebunana Besar Negara (PTPN) yang dihitung setiap akhir tahun yang dinyatakan dalam satuan Kg.

3. Daya Saing (competitiveness) merupakan kemampuan perusahaan, industri, daerah, negara, atau antar daerah untuk menghasilkan faktor pendapatan dan faktor pekerjaan yang relatif tinggi dan berkesinambungan untuk menghadapi persaingan. Di dalam penelitian ini daya saing diukur dengan indek RCA. 4. Ekspor adalah satu bentuk kerjasama perdagangan antara Negara yang

menyangkut produksi barang dan jasa yang diproduksi dalam suatu batas negara, dimana Negara produsen sebagai pengekspor dan Negara konsumen sebagai pengimpor. Ekspor kakao Jawa Timur dalam hal ini diukur berdasarkan jumlah biji kakao yang dikirim atau diperdagangkan ke luar negeri dan dinyatakan dalam satuan Kg per tahun.

5. Produktivitas biji kakao adalah kemampuan total perkebunan kakao Jawa Timur untuk menghasikan biji kakao. Produktivitas merupakan perbandingan total produksi perkebunan kakao jawa timur per tahun dengan luas areal perkebunan kakao Jawa Timur per tahun.

6. Harga Kakao olahan di Jawa Timur adalah harga yang dihitung berdasarkan harga rata- rata kakao ditingkat konsumen untuk semua jenis kakao olahan dengan satuan Rp per Kg.

7. Volume ekspor kakao olahan adalah besarnya jumlah ekspor kakao olahan yang dihitung dalam Kg per tahun.

8. Harga ekspor adalah perbandingan antara nilai ekspor dan volume ekspor kakao olahan Jawa Timur. Harga ekspor dinyatakan dalam FOB (Free On

Board) yaitu harga ekspor kakao olahan ditetapkan oleh penjual diatas kapal pelabuhan yang artinya suatu kesepakatan harga ekspor kakao olahan yang

diperjual belikan di pasar Domestik oleh eksportir sampai ketempat negara importir mulai dari biaya pengangkutan, transportasi dan resiko kerusakan atau kehilangan berpindah dari penjual kepada pembeli ditanggung oleh exportir. Dengan kata lain harga ekspor tersebut sudah termasuk ongkos kirim sampai ke negara tujuan importir. Harga ekspor kakao olahan dinyatakan dalam satuan Rp per Kg.

9. Luas areal adalah luas yang dihitung berdasarkan luas rata - rata dari Perkebunan Rakyat dan Perkebunan Besar Negara (PTPN) setiap akhir tahun yang dinyatakan dalam satuan hektar (Ha).

10. Permintaan adalah jumlah permintaan domestik yang diukur berdasarkan jumlah penawaran pada tahun tersebut dan dinyatakan dalam satuan Kg. 11. Perkembangan volume ekspor kakao di Jawa Timur adalah fluktuasi atau

naik turunya jumlah permintaan domestik dan dinyatakan prosentase tiap tahun.

12. Metode Porter’s Diamond dalam penelitian ini digunakan untuk mengidentifikasi faktor – faktor yang mempengaruhi daya saing, fak\tor tersebut adalah volume ekspor produk olahan kakao jatim, harga ekspor produk kakao olahan jatim, tingkat produktivitas industri pengolahan kakao jatim yang dapat dikuantitatifkan dalam uji regresi linear berganda.

D. Metode Analisis Data

Sesuai dengan tujuan penelitian, maka analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif dan analisis kuantitatif. Analisis deskriptif kualitatif digunakan untuk menjelaskan pengkajian potensi menggunakan metode LQ (Location Quotient), kendala, dan peluang industri pengolahan kakao dan menganalisis faktor-faktor yang dapat mempengaruhi daya saing kakao olahan dengan menggunakan teori Porter’s Diamond. Kemudian untuk mengetahui upaya – upaya meningkatkan Industri pengolahan kakao di Jawa Timur menggunakan analisis deskriptif kualitatif dan untuk mengetahui tingkat daya saing kakao olahan di Jawa Timur menggunakan analisis kuantitatif yaitu metode RCA (Revealed Comparatif Advantage).

1. Metode Location Quotient

(

LQ)

Untuk menjawab tujuan yang pertama menggunakan analisis basis komoditas ekonomi dengan Indeks Location Quotient (LQ) dan Revealed Comparative Advantage (RCA). Metode Location Quotient (LQ) ini digunakan

untuk mengetahui potensi daya saing kakao olahan di Jawa Timur dengan perbandingan antara besarnya peranan kakao olahan tersebut secara nasional

atau pada wilayah yang lebih luas sehingga diperoleh derajat relatif spesialisasi suatu komoditas. Secara sistematis perhitungan LQ dinyatatakan sebagai berikut:

LQ = Ri / Rt Ni / Nt Keterangan:

Ri = Nilai produksi kakao (Rp) i Jawa Timur

Rt = Nilai Produk Domestik Regional Bruto total (Rp) Jawa Timur Ni = Nilai produksi kakao (Rp) i Indonesia

Nt = Nilai Produk Domestik Bruto total (Rp) Indonesia

LQ = Nilai Produksi Kakao Jatim / Perkebunan (PDRB) Jatim Nilai Produksi Kakao Indonesia/ Perkebunan (PDB) Nasional

Jika nilai LQ = 1, berarti peranan kakao olahan Jawa Timur sama dengan peranan kakao olahan secara Nasional. Jika LQ > 1, berarti kakao olahan Jawa Timur merupakan komoditi basis. Jika LQ < 1, berarti kakao olahan Jawa Timur merupakan komoditi basis.

2. Metode Revealed Comparative Advantage (RCA)

Untuk menjawab tujuan ke dua dalam penelitian ini menggunakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengukur keunggulan komparatif di suatu wilayah (negara, propinsi, dan lain-lain) yaitu metode RCA. Alasan yang mendukung pendekatan ini adalah bahwa arus pertukaran barang antar wilayah yang sesungguhnya terjadi merupakan cerminan keunggulan komparatif yang dimiliki oleh suatu wilayah. Pola pendekatan tidak hanya menggambarkan biaya untuk memproduksi komoditi tersebut, tetapi juga perbedaan faktor-faktor non harga yang menentukan keunggulan komparatif suatu produk. Pada dasarnya metode ini mengukur kinerja suatu komoditi tertentu dengan ekspor total suatu tempat dibandingkan dengan pangsa komoditi tersebut dalam perdagangan

dunia. Analisis keunggulan komparatif RCA diperkenalkan pertama kali oleh Bela Balassa pada tahun 1965 dalam penelitian tentang pengaruh liberalisasi.

Balassa mengevaluasi prestasi ekspor masing-masing komoditi di negara-negara tertentu dengan membandingkan bagian relatif ekspor suatu negara dalam ekspor dunia untuk masing-masing dalam rumus sebagai berikut :

RCAt = Pt / Qt Rt / St

Dokumen terkait