• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teori Keunggulan Kompetitif

D. Konsep Daya Saing

3. Teori Keunggulan Kompetitif

a. Menurut Michael E Porter (1990) dalam bukunya yang berjudul Competitive Advantage of Nations terdapat empat faktor utama yang menentukan keunggulan bersaing industri nasional, yaitu kondisi faktor (factor condition), kondisi permintaan (demand condition), industri terkait dan industri pendukung (related and supporting industry), dan struktur, persaingan dan strategi industri (firm strategy, structure, and rivalry). Selain keempat faktor tersebut terdapat dua faktor yang mempengaruhi interaksi antara keempat faktor tersebut yaitu factor kesempatan (chance event) dan faktor pemerintah (government). Secara bersamasama faktor-faktor ini membentuk sistem dalam peningkatan keunggulan daya saing yang disebut Porter’s Diamond theory. Berikut ini merupakan penjelasan lebih lanjut mengenai Porter’s Diamond theory (Porter’s, 1990): 1). Kondisi Faktor (Factor Condition)

Kondisi faktor merupakan suatu gambaran faktor sumberdaya yang dimiliki suatu negara yang berkaitan dengan proses produksi suatu industri. Peran faktor sumberdaya sangat penting dalam proses industri, karena factor

sumberdaya merupakan modal utama dalam membangun keunggulan kompetitif suatu industri. Menurut Porter, 1990 faktor sumberdaya diklasifikasikan menjadi lima kelompok yaitu : sumberdaya alam, sumberdaya manusia, ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), modal, dan infrastruktur. Kelima kelompok tersebut akan menggambarkan keunggulan yang dimiliki oleh suatu negara dan segala potensi yang dapat dikembangkan oleh negara tersebut.

2). Kondisi Permintaan (Demand Condition)

Kondisi permintaan merupakan faktor penting yang mempengaruhi posisi daya saing nasional. Menurut Widayunita, 2007 mutu produk dan produktivitas suatu negara akan mempengaruhi kondisi permintaan dan pada akhirnya akan berpengaruh pada keunggulan kompetitif suatu negara. Mutu persaingan di

tingkat global memberikan tantangan bagi perusahaan - perusahaan untuk meningkatkan daya saingnya. Dalam pengembangan mutu,

perusahaan-perusahaan akan melakukan inovasi serta peningkatan kualitas produk agar sesuai dengan permintaan konsumen.

3). Industri Terkait dan Industri Pendukung (related and supporting industry) Industri terkait dan industri pendukung merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi posisi daya saing suatu industri. Untuk itu perlu dijaga hubungan dan koordinasi dengan para pemasok, khususnya untuk menjaga dan memelihara rantai nilai produksi dari industri hulu hingga industri hilir. Keberadaan industri hulu mampu menyediakan bahan baku untuk proses produksi suatu industri sedangkan industri hilir menggunakan bahan baku tersebut untuk diproses menjadi suatu produk yang memiliki nilai tambah. Rantai nilai produksi antara industri hulu dan industri hilir yang terhubung dengan baik akan menciptakan keunggulan kompetitif bagi suatu negara.

4). Persaingan, Struktur dan Strategi Perusahaan (Firm Strategy, Structure, and rivalry)

Persaingan dalam negeri mendorong perusahaan untuk mengembangkan produk baru, memperbaiki produk yang telah ada, menurunkan harga dan biaya, mengembangkan teknologi baru, dan memperbaiki mutu serta pelayanan. Pada akhirnya, persaingan di dalam negeri yang kuat akan mendorong perusahaan untuk mencari pasar internasional (berorientasi ekspor). Globalisasi ekonomi akan menyebabkan terjadinya ketergantungan antar negara. Masing-masing negara membangun perekonomiannya berdasarkan kekayaan yang dimiliki, yang merupakan keunggulan komparatifnya. Namun, keberhasilan pembangunan tersebut lebih ditentukan pada keunggulan kompetitifnya dikarenakan ada

pesaing-pesaing yang dekat, yaitu negara lain yang membangun keunggulan perekonomian mereka di sektor atau jenis industri yang sama dengan strategi

serupa.

5). Peran Pemerintah (government)

Peran pemerintah merupakan faktor yang menentukan posisi daya saing suatu industri. Peran pemerintah dapat terjadi secara langsung dan tidak langsung, secara tidak langsung pemerintah dapat mempengaruhi permintaan melalui kebijakan fiskal dan kebijakan moneter, sedangkan peran pemerintah secara langsung adalah dengan bertindak sebagai pembeli produk dan jasa. Pemerintah juga dapat mempengaruhi berbagai sumber daya yang tersedia, berperan sebagai pembuat kebijakan yang menyangkut tenaga kerja, pendidikan, pembentukan modal, sumber daya alam dan standar produk. Dalam penerapan kebijakan peran pemerintah tidak selamanya baik, masih terdapat kemungkinan kegagalan yang dapat dilakukan pemerintah atau biasa disebut government

6). Peran Kesempatan (chance event)

Kesempatan memainkan peranan dalam membentuk lingkungan bersaing karena peluang merupakan peristiwa yang terjadi di luar kendali perusahaan, industri dan pemerintah, seperti terobosan besar dalam teknologi, pergeseran dramatik yang tiba-tiba terjadi dalam biaya faktor atau biaya masukan seperti krisis minyak, atau perubahan dramatis dalam kurs mata uang. Selain itu terjadinya peningkatan permintaan produk serta kondisi politik yang stabil juga merupakan kesempatan yang dapat diambil oleh para pelaku usaha.

Peran kesempatan merupakan suatu hal yang bersifat kecelakaan (accidental), sehingga dalam kenyataan peran kesempatan bisa terjadi atau tidak terjadi. Dalam hal ini peran kesempatan bisa menguntungkan atau merugikan

para pelaku usaha.

b. Menurut Mulyani, Sri ( 2004), Analisis daya saing kompetitif akan dibahas

dengan metode kualitatif yaitu dengan menganalisis tiap komponen dalam Porter’s Diamond Theory. Komponen tersebut adalah sebagai berikut:

1). Factor Condition (FC), yaitu keadaan faktor-faktor produksi dalam suatu industri seperti tenaga kerja dan infrastruktur.

2). Demand Condition (DC), yaitu keadaan permintaan atas barang dan jasa dalam negara.

3). Related and Supporting Industries (RSI), yaitu keadaan para penyalur dan industri lainnya yang saling mendukung dan berhubunan.

4). Firm Strategy, Structure, and Rivalry (FSSR), yaitu strategi yang dianut perusahaan pada umumnya, struktur industri dan keadaan kompetisi dalam suatu industri domestik.

Selain itu ada komponen lain yang terkait dengan keempat komponen utama yaitu faktor pemerintah dan kesempatan. Keempat faktor utama dan dua faktor pendukung tersebut saling berinteraksi. Berdasarkan hasil analisis

komponen penentu daya saing kita dapat menentukan komponen yang menjadi keunggulan dan kelemahan daya saing industri pakaian jadi. Keunggulan tiap faktor dalam komponen penentu daya saing akan dilambangkan dengan symbol (+), sedangkan kelemahan tiap faktor dalam komponen penentu daya saing akan disimbolkan dengan tanda (-). Hasil keseluruhan interaksi antar komponen yang saling mendukung sangat menentukan perkembangan yang dapat menjadi competitive advantage dari suatu industri. Hasil keterkaitan atau interaksi yang saling mendukung dilambangkan dengan garis tebal biru sedangkan keterkaitan yang tidak saling mendukung atau bahkan saling melemahkan dilambangkan dengan garis tipis merah.

c. Menurut Rahmanu (2009), Analisis daya saing kompetitif akan dibahas dengan metode kualitatif yaitu dengan menganalisa tiap komponen dalam Porter’s Diamond Theory. Komponen tersebut adalah faktor sumberdaya, faktor

permintaan, faktor industry terkait dan industri pendukung, dan faktor Strategi perusahaan, struktur, dan persaingan. Selain keempat komponen yang saling berinteraksi diatas terdapat dua komponen yang mempengaruhi keempat komponen tersebut yaitu factor pemerintah dan faktor kesempatan. Berdasarkan hasil analisis Porter’s Diamond kita dapat melihat faktor apa yang menjadi keunggulan dan kelemahan industri pengolahan kakao, sehingga kita dapat melihat potensi serta kendala pada industri pengolahan kakao jawa timur. Komponen – komponen didalam Theory Porter’s Diamond ada yang tidak dapat dikuantitatifkan dan ada yang dapat dengan menggunakan model regresi linear yaitu metode Ordinary Least Square (OLS).

Ordinary Least Square (OLS) adalah metode analisis yang digunakan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi posisi daya saing hasil olahan kakao di Indonesia adalah regresi linear berganda dengan metode Ordinary Least Square (OLS) atau metode kuadrat terkecil biasa. Metode OLS

diperkenalkan oleh seorang ahli matematika berkebangsaan Jerman yang bernama Carl Frederich Gauss (Gujarati 1978). Menurut Koutsoyianis (1977), terdapat beberapa kelebihan metode Ordinary least Square (OLS) seperti berikut :

1). Hasil estimasi parameter yang diperoleh dengan metode OLS memiliki beberapa kondisi optimal (BLUE)

2). Tata cara pengolahan data dengan metode Ordinary Least Square (OLS) relatif lebih mudah daripada metode ekonometrika yang lain, serta tidak membutuhkan data yang terlalu banyak ;

3). Metode Ordinary Least Square (OLS) telah banyak digunakan dalam penelitian ekonomi dengan berbagai macam hubungan antar variabel

dengan hasil yang memuaskan ;

4). Mekanisme pengolahan data dengan metode Ordinary Least Square (OLS)

mudah dipahami;

5). Metode Ordinary Least Square (OLS) juga merupakan bagian dari kebanyakan metode ekonometrik yang lain meskipun dengan penyesuaian di beberapa bagian.

d. Menurut Gauss Markov dalam menggunakan metode OLS, penduga koefisien regresi harus bersifat BLUE (Best Linier Unbiased Estimated), bila persyaratan tersebut dipenuhi maka metode OLS dapat memberikan penduga koefisien regresi yang baik. Akan tetapi, sifat tersebut didasarkan pada berbagai asumsi yang tidak boleh dilanggar agar penduga tetap bersifat BLUE. Teorema tersebut dikenal dengan sebutan Teorema Gauss Markov. Asumsi - asumsi atau persyaratan yang melandasi estimasi koefisien regresi dengan metode OLS berdasarkan teori Gauss-Markov sebagai berikut :

1). E (μ i) = 0 atau E (μ i xi) = 0 atau E(Yi) = β1 + β2 Xi

μ i menyatakan variabel-variabel lain yang mempengaruhi Yi akan tetapi tidak terwakili dalam model.

2). Tidak ada korelasi antara μ i dan μ j {cov (μ i,μ j) = 0}; i tidak sama dengan j Artinya, pada saat Xi sudah terobservasi, deviasi Yi dari rata-rata populasi (mean) tidak menunjukkan adanya pola { E (μ i,μ j) = 0}

3). Homoskedastisitas : yaitu besarnya μ i sama atau var (μ i) = 2 untuk setiap i. 4). Kovarian antara varian μ i dan X1 nol. {cov (μ i,X1) = 0}

Asumsi tersebut sama artinya bahwa tidak ada korelasi antara μ i dan X1. Dengan perkataan lain, bila Xi non random maka E (μ i,μ j) = 0

5). Model regresi dispesifikasikan secara benar. Hal-hal yang perlu diperhatikan

yaitu, model harus berpijak pada landasan teori, perhatikan variabel-variabel yang diperlukan, bagaimana bentuk fungsinya.

Sifat yang dimiliki oleh estimator pada model regresi OLS denganmemenuhi asumsi-asumsi di atas adalah best linear unbiased estimator (BLUE). Ragam minimum (efisien) dan konsisten serta berasal dari model yang linear. Selain itu, nilai estimasi dari contoh (sample) akan mendekati nilai populasi.

E. Kerangka Pemikiran dan Hipotesis

Dokumen terkait