• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode Penelitian

Dalam dokumen HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN (Halaman 37-0)

BAB I PENDAHULUAN

G. Metode Penelitian

Metode (Inggris: method, Latin: methodus, Yunani: methodos-meta berarti sesudah, diatas; sedangkan hodos, berarti suatu jalan, suatu cara). Mula-mula metode diartikan secara harfiah sebagai suatu jalan yang harus ditempuh, menjadi penyelidikan atau penelitian berlangsung menurut suatu rencana tertentu.40

Penelitian hukum merupakan suatu kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode, sistematika dan pemikiran tertentu yang bertujuan untuk mempelajari satu atau beberapa gejala hukum tertentu dengan jalan menganalisanya, disamping itu juga diadakan pemeriksaan yang mendalam terhadap fakta hukum tersebut, untuk kemudian mengusahakan suatu pemecahan atas permasalahan-permasalahannya yang timbul di dalam gejala yang bersangkutan.41

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam tesis ini adalah penelitian yuridis normatif yaitu penelitian hukum yang menggunakan sumber data sekunder atau data yang diperoleh melalui bahan-bahan pustaka dengan meneliti sumber-sumber bacaan yang relevan dengan tema penelitian, meliputi penelitian terhadap asas-asas hukum,

39Pasal 1792 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

40Tampil Anshari Siregar, Metodologi Penelitian Hukum Penulisan Skripsi, (Medan: Pustaka Bangsa Press, 2005), hal.15

41Suratman dan Philips Dillah, Metode Penelitian Hukum, (Bandung: Alfabeta, 2013), hal.

31.

sumber-sumber hukum, teori hukum, buku-buku, peraturan perundang-undangan yang bersifat teoritis ilmiah serta dapat menganalisa permasalahan yang dibahas.42

Penelitian hukum normatif dikonsepkan sebagai apa yang tertulis didalam peraturan perundang-undangan (law in the books) atau hukum yang dikonsepkan sebagai kaidah atau norma yang merupakan patokan berprilaku manusia yang dianggap pantas.43

Dalam hal ini dilakukan studi pustaka yang segala sesuatunya berkaitan dengan pengaturan hukum mengenai Analisis Hukum Kedudukan General Manager Mewakili Perseroan Baik Di Dalam Maupun Di Luar Pengadilan (Studi pada PT.

Pelabuhan Indonesia I (Persero), Medan).

2. Sumber Data Penelitian

Berhubung karena metode penelitian adalah penelitian hukum normatif maka sumber data dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari bahan penelitian yang berupa bahan-bahan hukum, yang terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier, seperti:44

1. Bahan Hukum Primer yaitu bahan-bahan hukum atau dokumen peraturan yang mengikat dan ditetapkan oleh pihak yang berwenang berupa bahan pustaka yang berisikan peraturan Perundang-undangan, yang antara lain terdiri dari:

a. Kitab Undang-undang Hukum Perdata;

42Johny Ibrahim, Teori & Metodologi Penelitian Hukum Normatif, (Malang: Bayu Media Publishing, 2008), hal 25-26

43 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: UI Pers, 2007), hal. 43

44Ibid, hal. 23-24

b. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas;

2. Bahan hukum sekunder yaitu bahan-bahan yang erat kaitannya dengan bahan hukum primer berupa hasil kajian seminar-seminar, jurnal-jurnal, buku-buku, serta karya tulis lainnya yang terdapat pada website yang terpercaya yang berhubungan dengan objek yang diteliti.

3. Bahan hukum tersier, yakni yang memberikan informasi lebih lanjut mengenai bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder seperti kamus hukum ensiklopedia, dan kamus besar bahasa Indonesia.

Selain data sekunder sebagai sumber data utama, dalam penelitian ini juga digunakan data pendukung yang diperoleh dari wawancara dengan pihak yang telah ditentukan sebagai informan.

3. Teknik Pengumpulan Data

Adapun untuk mendapatkan data yang diperlukan, maka dilakukan pengumpulan data melalui tahap-tahap penelitian antara lain sebagai berikut:

1. Studi Kepustakaan (Library Research)

Studi kepustakaan yaitu menghimpun data dari hasil penelaahan bahan pustaka atau data sekunder yang meliputi bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier. Untuk memperoleh data sekunder yang berupa bahan hukum primer, hukum sekunder dan hukum tersier dalam penelitian ini akan menggunakan alat penelitian studi dokumen/pustaka atau penelitian pustaka (library research) yaitu dengan cara mengumpulkan semua peraturan

perundang-undangan, dokumen-dokumen hukum dan buku-buku yang berkaitan dengan rumusan masalah penelitian.45

2. Pedoman Wawancara

Hasil wawancara yang diperoleh akan digunakan sebagai data pendukung dalam penelitian ini. Data tersebut diperoleh dari pihak-pihak yang telah ditentukan sebagai informan. Wawancara dilakukan secara terstuktur dengan berpedoman pada pertanyaan yang telah disusun terlebih dahulu. Adapun pihak yang ditentukan sebagai informan adalah:

a. Basuki Widodo, S.H., M.M, Senior Menejer Bidang Hukum PT Pelabuhan Indonesia I (Persero), Medan;

b. Trisna Wardani dan Irwansyah, Divisi Perencanaan dan Pengembangan SDM PT Pelabuhan Indonesia I (Persero), Medan;

c. Khairul Ulya, Plh Menejer SDM dan Umum PT Pelabuhan Indonesia I (Persero) Cabang Belawan;

d. Suprayitno S.H., M.Kn, Notaris di Kota Medan.

4. Analisa Data

Dalam suatu penelitian sebelumnya perlu disusun secara sistematis kemudian akan dianalisa dengan menggunakan prosedur logika ilmiah yang sifatnya kualitatif.

Kualitatif berarti akan dilakukan analisa data yang bertitik tolak dari penelitian

45 Mukti Fajar ND dan Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan Empiris, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), hal. 156-159.

terhadap asas atau prinsip sebagaimana yang diatur di dalam bahan hukum primer.46 Artinya bahwa akan dilakukan penguraian, menghubungkan dengan peraturan yang berlaku serta pendapat ahli, dan hasil yang diperoleh dari analisis ini berbentuk tesis.47

Semua data sekunder yang diperoleh dari penelitian kepustakaan (library research) kemudian disusun secara berurutan dan sistematis dan selanjutnya dianalisa dengan menggunakan metode kualitatif sehingga diperoleh gambaran secara menyeluruh tentang gejala dan fakta yang terdapat dalam masalah yang akan diteliti.

Selanjutnya ditarik kesimpulan dengan menggunakan metode deduktif, yaitu cara berpikir yang dimulai dari hal-hal yang umum untuk selanjutnya menarik hal-hal yang khusus dengan menggunakan ketentuan berdasarkan pengetahuan umum seperti teori-teori, dalil-dalil atau prinsip-prinsip dalam bentuk proposisi-proposisi untuk menarik kesimpulan terhadap fakta-fakta yang bersifat khusus.48

46Zainuddin Ali, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), hal. 105

47Ibid, hal. 107.

48Mukti Fajar ND dan Yulianto Achmad, Op.Cit,. hal.109

BAB II

PENGATURAN TENTANG KUASA DIREKSI DI INDONESIA

A. Tinjauan Umum Tentang Kuasa

1. Pengertian Kuasa dan Pemberian Kuasa

Kekuasaan atau wewenang yang diberikan untuk melakukan perbuatan hukum atas nama orang lain dalam bahasa Belanda disebut volmacht, dan dalam bahasa Inggris disebut power of attomey. 49 Kuasa menurut G.H.S.L Tobing adalah pernyataan, dengan mana seseorang memberikan wewenang kepada orang atau badan hukum lain untuk dan atas namanya melakukan perbuatan hukum.50 Surat kuasa adalah surat yang berisi pelimpahan wewenang dari seseorang atau pejabat tertentu kepada seseorang atau pejabat lain. Pelimpahan wewenang dapat mewakili pihak yang memberi wewenang.51

Hukum perusahaan mengenal perwakilan berdasarkan kuasa atau pengangkatan. Perwakilan ini adalah penugasan untuk melakukan pekerjaan, yang menurut undang-undang di dalamnya mengandung wewenang mewakili. Wewenang ini dapat dicabut setiap waktu dan dapat berakhir karena meninggalnya orang yang melakukan pengangkatan.

Direksi suatu perseroan adalah pemegang kuasa dari badan hukum tersebut, sehingga berlaku ketentuan pemberian kuasa yang diatur dalam Kitab

Undang-49R. Subekti, Aneka Perjanjian, (Bandung: Alumni, 1994), hal. 142

50Komar Andasasmita, Op.Cit., hal. 471

51H. Asrori, Wakil Ketua Pengadilan Agama Dumai, Disampakan pada acara diskusi rutin hakim dan pegawai, di ruang sidang utama PA Dumai pada hari Kamis, tanggal 28 Juni 2012.

Undang Hukum Perdata. Direksi wajib mematuhi semua ketentuan Anggaran Dasar, Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), dan semua peraturan perundang-undangan yang terkait.52

Pemberian kuasa merupakan perjanjian timbal balik karena menimbulkan hak dan kewajiban bagi pemberi dan penerima kuasa, tetapi apabila pemberian kuasa hanya mengandung kewajiban pada salah satu pihak saja, misalnya pemberian kuasa tanpa upah, maka hal ini merupakan perjanjian timbal balik tak sempurna dan digolongkan kepada perjanjian sepihak.53Pemberian kuasa diatur dalam Pasal 1792 sampai dengan Pasal 1819 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata).

Pasal 1792 KUH Perdata menyebutkan pengertian pemberian kuasa sebagai suatu perjanjian dimana seseorang memberikan kuasa kepada orang lain yang menerimanya, untuk dan atas namanya menyelenggarakan suatu urusan.

Menyelenggarakan urusan berarti melaksanakan perbuatan hukum tertentu sesuai isi kuasa yang melahirkan akibat hukum.

Pasal 1793 KUH Perdata menyatakan bahwa kuasa dapat diberikan dan dalam diterima dalam bentuk suatu akta umum, dalam suatu tulisan di bawah tangan, bahkan dalam sepucuk surat ataupun dengan lisan. Penerima suatu kuasa dapat pula terjadi secara diam-diam dan disimpulkan dari pelaksanaan kuasa itu oleh yang diberi kuasa. Rumusan Pasal 1793 KUH Perdata ini memberikan arti dan makna yang sangat mendalam, yaitu bahwa:

52Ibid., hal. 490

53J. Satrio, Hukum Perikatan, Perikatan Yang Lahir Dari Perjanjian, Buku Satu, Citra (Bandung: Aditya Bakti, 2001), hal. 45

1. Lastgeving atau pemberian kuasa adalah suatu perjanjian konsensuil, yang tidak terikat dengan suatu bentuk formil tertentu;

2. Sebagaimana suatu perjanjian pada umumnya, kuasa juga memerlukan penawaran dan penerimaan. Suatu pemberian kuasa baru berlaku dan mengikat manakala telah ada penerimaan oleh penerima kuasa atas suatu kuasa yang ditawarkan oleh pemberi kuasa;

3. Penerimaan kuasa dapat terjadi dengan suatu bukti penerimaan yang secara tegas menyatakan kehendaknya untuk menerima kuasa tersebut dan melaksanakan kuasa yang diberikan; maupun secara langsung melaksanakan kuasa yang ditawarkan tersebut. Konteks yang terakhir ini oleh KUH Perdata dinyatakan sebagai penerima kuasa secara diam-diam.54

Menurut Algra, pemberian kuasa adalah suatu persetujuan dengan mana pihak yang satu memberikan kuasa kepada pihak yang lain yaitu penerima kuasa (lasthebber) yang menerimanya untuk atas namanya sendiri atau untuk menyelenggarakan satu perbuatan hukum atau lebih untuk yang memberi kuasa itu.55

Selanjutnya Algra mengemukakan ciri-ciri dari perjanjian pemberian kuasa yaitu:

1. Bebas bentuk, artinya dapat dibuat dalam bentuk lisan atau tertulis; dan 2. Persetujuan timbal balik para pihak telah mencukupi.56

Menurut Herlien Budiono, unsur pemberian kuasa adalah:

1. Persetujuan, yaitu sesuai dengan syarat sahnya perjanjian.

2. Memberi kekuasaan kepada penerima kuasa yaitu pemberi kuasa dan penerima kuasa telah menyetujui tentang pemberian kuasa tersebut.

3. Atas nama pemberi kuasa menyelenggarakan suatu urusan yaitu penerima kuasa melakukan tindakan hukum demi kepentingan dari pemberi kuasa baik yang dirumuskan secara umum maupun yang dinyatakan dengan kata-kata secara tegas.57

54Gunawan Widjaja, Aspek Hukum Dalam Bisnis: Pemilikan, Perwakilan & Pemberian Kuasa Dalam Sudut Pandang KUH Perdata, (Jakarta: Kencana, 2006), hal. 174-175

55Salim, H.S., Op. Cit., hal. 84

56Ibid.

57Herlien Budiono, Pengikatan Jual Beli Dan Kuasa Mutlak, Majalah Renvoi, Edisi Tahun I No. 10, Bulan Maret 2004, Hal. 57

Sedangkan menurut I. G. Rai Widjaya, berdasarkan Pasal 1972 KUH Perdata, unsur-unsur dari pemberian kuasa adalah sebagai berikut:

1. Adanya persetujuan

2. Memberikan kuasa kepada penerima kuasa

3. Atas nama pemberi kuasa menyelenggarakan suatu urusan. Pemberian kuasa adalah suatu perjanjian, dimana seseorang memberi kekuasaan atau wewenang (lastgeving) kepada orang lain yang menerimanya (velimacht lasthebber) untuk dan atas namanya (lastgever) menyelenggarakan suatu urusan).58

Kemudian makna kata “untuk atas namanya”, berarti bahwa yang diberi kuasa bertindak untuk dan atas nama pemberi kuasa, sehingga segala sebab dan akibat dari perjanjian itu menjadi tanggung jawab sepenuhnya dari pemberi kuasa dalam batas-batas yang diberikan. Hal ini dapat dilihat dalam Pasal 1807 KUH Perdata.59

Tiada perselisihan paham tentang arti dari kata “atas nama’, yaitu bahwa pihak yang diberi kuasa, bertindak secara mewakili pihak yang memberi kuasa (vertegenwoordiging). Juga ada kata sepakat bahwa soal pemberian kuasa dan soal perwakilan adalah dua hal tersendiri yang tidak selalu berada bersama-sama pada suatu perbuatan hukum. Yang menjadi perselisihan paham ialah bahwa suatu pendapat berpegang teguh pada adanya kata-kata tersebut, artinya bahwa yang dinamakan oleh BW “pemberian kuasa” (lastgeving) itu adalah pemberian kuasa yang disertai perwakilan (Van Brakel). Sedangkan pendapat kedua menganggap seolah-olah kata-kata “atas nama” itu tidak termuat dalam Pasal 1792 BW dan menganggap bahwa yang dimaksud oleh BW dinamakan dan diatur selaku

58I. G. Rai Widjaya, Merancang Suatu Kontrak, (Jakarta: Megamaspion, 2003), hal. 85

59Djaja S. Meliala, Op.Cit., hal. 3

“lastgeving” itu adalah pemberian kuasa pada umumnya, jadi apabila tidak disertai perwakilan.60

Perwakilan berarti bahwa dalam hubungan antara si kuasa (lasthebber) dan seorang ketiga yang diikat bukan si kuasa melainkan orang yang diwakilinya, jadi si pemberi kuasa. Perwakilan ini tidak ada apabila si kuasa bertindak terhadap seorang ketiga itu seolah-olah untuk kepentingan dan si kuasa. Sedangkan perwakilan merupakan hubungan eksternal antara si pemberi kuasa dan seorang ketiga.61

2. Sifat Kuasa

Menurut Salim, HS, jika dilihat dari cara terjadinya, perjanjian pemberian kuasa dapat dibedakan menjadi tujuh macam, yaitu:

1. Akta umum

2. Surat di bawah tangan 3. Lisan

4. Diam-diam 5. Cuma-Cuma 6. Kuasa khusus 7. Kuasa umum62

Pemberian kuasa dengan akta umum adalah suatu pemberian kuasa yang dilakukan antara pemberi kuasa dan penerima kuasa dengan menggunakan akta notariel. Artinya pemberian kuasa itu dilakukan di hadapan atau di muka Notaris.

Dengan demikian pemberian kuasa mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurna.

60 Joko Prakoso dan Bambang Riyadi Lany, Dasar Hukum Persetujuan Tertentu Di Indonesia, (Jakarta: Bina Aksara, 1987), hal.191-192

61Ibid, hal. 192

62Salim, H.S, Op.Cit., Hal 84

Pemberian kuasa dengan di bawah tangan adalah suatu pemberian kuasa yang dilakukan antara pemberi kuasa dengan penerima kuasa. Artinya surat kuasa itu hanya dibuatkan oleh para pihak. Pemberian kuasa lisan adalah suatu kuasa yang dilakukan secara lisan oleh pemberi kuasa kepada penerima kuasa.

Pemberian kuasa secara diam-diam adalah suatu kuasa yang dilakukan secara diam-diam oleh pemberi kuasa kepada penerima kuasa. Sedangkan pemberian kuasa secara Cuma-Cuma adalah suatu pemberian kuasa yang dilakukan pemberi kuasa kepada penerima kuasa tanpa adanya penerimaan atau penggantian biaya dari pemberi kuasa kepada penerima kuasa.

Pemberian kuasa khusus yaitu suatu pemberian kuasa yang dilakukan antara pemberi kuasa dan penerima kuasa mengenai kepentingan tertentu atau lebih dari pemberi kuasa. Sedangkan pemberian kuasa umum adalah pemberian kuasa yang dilakukan oleh pemberi kuasa kepada penerima kuasa yang isi atau substansinya bersifat umum (segala kepentingan) dari pemberi kuasa.

Pasal 1795 KUH Perdata menentukan bahwa pemberian kuasa dapat dilakukan secara khusus, yaitu mengenai hanya satu kepentingan tertentu atau lebih, atau secara umum, yaitu meliputi segala kepentingan si pemberi kuasa. Selanjutnya Pasal 1796 KUH Perdata menetukan bahwa pemberian kuasa yang dirumsukan dalam kata-kata umum, hanya meliputi perbuatan-perbuatan pengurusan. Untuk memindahtanganan benda-benda atau untuk meletakkan hipotik di atasnya, atau lagi untuk membuat suatu perdamaian, ataupun sesuatu perbuatan lain yang hanya dapat

dilakukan oleh seorang pemilik, diperlukan suatu pemberian kuasa dengan kata-kata yang tegas.

Berdasarkan rumusan pasal tersebut diatas dapat diketahui bahwa ada dua jenis kuasa pemberian kuasa, yaitu:

1. Kuasa khusus 2. Kuasa umum

Kuasa khusus, yaitu kuasa untuk menyelenggarakan hal-hal sebagaimana dikecualikan dari tindakan pengurusan.63Dalam hal ini, bahkan rumusan Pasal 1797 KUH Perdata menentukan:

Si kuasa tidak diperbolehkan melakukan sesuatu apapun yang melampaui kuasanya; kekuasaan yang diberikan untuk menyelesaikan suatu urusan dengan jalan perdamaian, sekali-kali tidak mengandung kekuasaan untuk menyerahkan perkaranya kepada putusan wasit.

Kuasa umum, yaitu kuasa untuk melakukan pengurusan. Dalam kuasa yang demikian, terkadung di dalamnya setiap tindakan yang berhubungan dengan pengurusan layaknya seorang wali. Dengan demikian maka seorang penerima kuasa umum tidak diperkenankan untuk:

1. Meminjamkan uang;

2. Mengasingkan atau membebani benda-benda tak bergerak, termasuk menjual atau memindahtangankan surat-surat utang negara, piutang-piutang dan andil-andil;

3. Menyewa atau mengambil dalam hak usaha untuk diri sendiri;

4. Menerima warisan, selain dengan hak istimewa akan pendaftaran harta peninggalan tersebut.

5. Menolak warisan;

6. Menerima hibah;

7. Memajukan suatu gugatan di muka hakim;

63Gunawan Widjaja, Op. Cit., hal. 177-178

8. Memajukan suatu pembelaan atas suatu gugatan;

9. Meminta pembagian dan pemisahan harta peninggalan;

10. Mengadakan perdamaian di luar hakim;

11. Menyerahkan suatu perkara kepada suatu lembaga penyelesaian sengketa alternatif.64

Kuasa khusus digunakan hanya mengenai satu kepentingan tertentu atau lebih, sehingga jelas dan tegas dinyatakan perbuatan apa yang dapat dilakukan oleh penerima kuasa. Misalnya untuk mengalihkan hak atas barang bergerak atau tidak bergerak, memasang hipotek atau membebankan hak tanggungan, melakukan suatu perdamaian atau perbuatan lain yang hanya dapat dilakukan oleh seorang pemilik.65

Kuasa umum berdasarkan Pasal 1796 KUH Perdata adalah suatu pemberian kuasa secara umum yang meliputi perbuatan-perbuatan pengurusan yang mencakup segala kepentingan pemberi kuasa, kecuali perbuatan yang hanya dapat dilakukan oleh seorang pemilik. Misalnya melakukan tindakan pengurusan, penghunian atau pemeliharaan seperti membayar rekening listrik, telepon, dan rekening air serta tindakan lain yang merupakan tindakan pemilikan sementara terhadap sebuah rumah atau lebih yang terletak di kota tertentu atau jalan tertentu.

Untuk mengajukan suatu perkara gugatan di muka pengadilan menurut Pasal 123 H.I.R diperlukan suatu kuasa khusus tertulis. Sifat khusus itu ditujukan kepada keharusan menyebutkan nama pihak yang digugat dan mengenai perkara apa. Kuasa tersebut boleh diberikan secara lisan apabila penggugat membawa orang yang akan diberi kuasa itu ke depan sidang pengadilan, kemudian di depan sidang pengadilan itu

64Ibid., hal. 177

65Djaja S. Meliala, Op.Cit., hal. 5

menyatakan kehendaknya untuk memberikan kuasa kepada orang yang dibawanya itu untuk mengurus perkara yang akan diperiksa. Pemberian kuasa mana diterima oleh orang tersebut. Begitupula untuk minta banding dan kasasi diperlukan pula surat kuasa khusus, dimana disebutkan: putusan dari pengadilan mana dan tanggal berapa, nomor berapa, dan siapa phak lawannya.66

3. Kewajiban Penerima Kuasa

Pengaturan tentang kewajiban penerima kuasa dapat dilihat pada Pasal 1800 sampai dengan Pasal 1806 KUH Perdata. Pasal 1800 KUH Perdata menentukan bahwa dengan menerima kuasa maka penerima kuasa telah mengikatkan diri untuk menyelesaikan kuasa tersebut. Adapun Pasal 1800 berbunyi:

Si kuasa diwajibkan, selama ia belum dibebaskan, melaksanakan kuasanya, dan ia menanggung segala biaya, kerugian dan bunga yang sekiranya dapat timbul karena tidak dilaksanakannya kuasa itu.

Begitupula ia diwajibkan menyelesaikan urusan yang telah mulai dikerjakannya pada waktu si pemberi kuasa meninggal jika tidak segera menyelesaikannya dapat timbul suatu kerugian.

Tugas yang telah disanggupi harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dalam waktu yang setepatnya; jika tidak si penerima kuasa dapat dianggap melalaikan kewajibannya, untuk mana ia dapat dituntut mengganti kerugian yang ditimbulkan karena kelalaian itu. Misalnya seorang juru kuasa diwajibkan membeli surat-surat sero (andil), tetapi karena ia tidak segera melakukannya, surat-surat sero itu telah naik

66R. Subekti, Op.Cit., hal.144

sekali harganya. Dalam hal ini si kuasa dapat dianggap sebagai telah melalaikan kewajibannya.67

Kerugian yang harus diganti hanyalah kerugian yang merupakan akibat langsung (onmiddellijk en dadelijk gevolg) dari tak melaksanakan janji.68Lazimnya yang diangap sebagai kerugian adalah hanya suatu kerugian yang bersifat harta benda, bukan kerugian berupa suatu kesedihan atau rasa malu.69

Tangung jawab dari si kuasa sangatlah luas karena tidak hanya meliputi perbuatan yang disengaja olehnya tetapi juga terhadap setiap kelalaian yang dilakukan olehnya (termasuk dalam hal tidak melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukannya sebagai pemegang kuasa).70Kemudian adalah wajar untuk memberikan keringanan kepada seorang juru kuasa yang sama sekali tidak menerima upah.71Hal diatur pada Pasal 1801 yang berbunyi:

Si kuasa tidak saja bertanggung jawab tentang perbuatan-perbuatan yang dilakukan dengan sengaja, tetapi juga tentang kelalaian-kelalaian yang dilakukan dalam menjalankan kuasanya.

Namun itu tanggung jawab tentang kelalaian-kelalaian bagi seorang yang cuma-cuma menerima kuasa adalah tidak sebegitu berat seperti yang dapat diminta dari seorang yang untuk itu menerima upah.

Pasal 1802 KUH Perdata mewajibkan penerima kuasa untuk memberikan laporan-laporan tentang segala sesuatu yang telah dilakukan oleh penerima kuasa tersebut, dan selanjutnya memberikan perhitungan kepada pemberi kuasa mengenai

67Ibid, hal. 146

68Wirjono Prodjodikoro, Azas-Azas Hukum Perjanjian, Cetakan IX, (Bandung: Mandar Maju, 2011), hal. 61

69Ibid, hal. 63

70Gunawan Widjaja, Op. Cit., hal. 181

71R. Subekti, Op. Cit., hal. 147

penerimaan yang telah dilakukan olehnya sesuai dengan kuasa yang telah diberikan kepadanya tersebut, termasuk segala sesuatu yang tidak seharusnya dibayar kepada pemberi kuasa.

Pasal 1805 KUH Perdata mengatur mengenai kewajiban penerima kuasa untuk membayar bunga atas uang-uang pokok yang diberikan oleh pemberi kausa untuk melaksanakan kuasanya, yang dipakai oleh penerima kuasa guna keperluannya sendiri. Bunga tersebut dihitung mulai saat penerima kuasa tersebut memakai uang-uang itu. Terhadap kewajiban pengembalian uang-uang dilakukan berdasarkan laporan berdasarkan pelaksanaan Pasal 1802 KUH Perdata. Penyerahan dilakukan pada pada penutupan perhitungan sehingga bunga dihitung sejak penerima kuasa dinyatakan lalai mengembalikan uang penutupan perhitungan tersebut.

Pasal 1803 KUH Perdata mengatur mengenai penunjukan kuasa oleh penerima kuasa lebih lanjut. Adapun bunyi Pasal 1803 KUH Perdata adalah:

Si kuasa bertanggung jawab untuk orang yang telah ditunjuk olehnya sebagai penggantinya dalam melaksanakan kuasanya:

1. Jika ia tidak diberikan kekuasaan untuk menunjuk seorang lain sebagai penggantinya.

2. Jika kekuasaan itu telah diberikan kepadanya tanpa penyebutan seorang tertentu, sedangkan orang yang dipilihnya ternyata seorang yang tak cukup atau tak mampu.

Si pemberi kuasa senantiasa dianggap telah memberikan kekuasaan kepada si kuasa untuk menunjuk seorang lain sebagai penggantinya untuk urusan benda-benda yang terletak di luar wilayah Indonesia atau di lain

Si pemberi kuasa senantiasa dianggap telah memberikan kekuasaan kepada si kuasa untuk menunjuk seorang lain sebagai penggantinya untuk urusan benda-benda yang terletak di luar wilayah Indonesia atau di lain

Dalam dokumen HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN (Halaman 37-0)