• Tidak ada hasil yang ditemukan

C. Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat

IV. METODE PENELITIAN

Penelitian dilakukan di dalam area Taman Nasional Baluran Jawa Timur, tepatnya di sekitar Resort Bekol. Waktu yang diperlukan untuk memperoleh data di lapangan adalah sekitar tiga bulan yaitu pada musim kemarau di bulan Juli sampai dengan bulan September 2006.

B. Alat dan Bahan

Peralatan dan bahan yang digunakan adalah peta lokasi wilayah penelitian, tambang plastik diameter 0,5 cm, meteran, golok, kompas, alat untuk membuat herbarium (koran, alkohol dan plastik), kamera, pengukur waktu, label, teropong, dan alat tulis lainnya.

C. Metode Pengumpulan Data 1. Studi Pustaka

Studi pustaka dilakukan terlebih dahulu untuk mempermudah dalam pengumpulan data mengenai bioekologi merak hijau serta kondisi umum Taman Nasional Baluran.

2. Pengamatan Pendahuluan

Pengamatan pendahuluan dilakukan untuk memperoleh data pendukung terhadap pengamatan selanjutnya. Pengamatan ini juga memiliki tujuan untuk membuktikan data dari studi pustaka terhadap kenyataan di alam.

Pengamatan pendahuluan dilakukan dengan mengamati aktifitas harian merak di empat tipe vegetasi (evergreen, hutan musim, hutan pantai, savana) yaitu dari pagi sebelum merak turun dari tempat tidurnya, sampai sore hingga merak naik lagi ke tempat tidurnya. Hal ini dilakukan terutama untuk mengetahui daerah tempat merak makan dan perilaku makan merak. Setelah itu, dari uji coba beberapa metode pengamatan yang efektif untuk mengetahui jenis pakan merak diperoleh metode titik pengamatan. Pada setiap tipe vegetasi diletakkan beberapa titik pengamatan berdasarkan sering terlihatnya merak makan di tempat tersebut.

3. Pengamatan terhadap pakan merak

Pengamatan terhadap pakan merak dilakukan dengan metode titik pengamatan. Pengamatan pada titik pengamatan (nyanggong: bahasa lokal) dilakukan bergantian kurang lebih selama satu minggu pada masing-masing tipe vegetasi, secara berulang dalam tiga bulan. Hal ini dilakukan hampir setiap hari dimana waktunya disesuaikan dengan pola makan merak (pola makan primer dan sekunder). Selanjutnya, setiap kali terlihat merak makan, dicatat jenis dan bagian tumbuhan yang dimakan serta jumlahnya. Jumlah dimakan adalah berdasarkan jumlah insiden/kejadian dimakan.

Gambar 8. Titik pengamatan di Hutan Pantai (Doc.: Septania 2006)

Gambar 9. Titik pengamatan di savana (Doc.: Septania 2006)

4. Analisis Vegetasi

Analisis vegetasi dilakukan untuk mengetahui dominasi tumbuhan pakan merak terhadap jenis tumbuhan lain. Peletakan plot dilakukan secara purposive, yaitu lokasi di mana terlihat merak sedang makan maka akan dilakukan analisis vegetasi. Analisis vegetasi dilakukan dengan metode kuadrat (Mueller 1974). Data yang dikumpulkan untuk tingkat pertumbuhan pohon dan tiang dengan ukuran petak contoh 20 m x 20 m dan 10 m x 10 m adalah diameter setinggi dada (pada 130 cm dari permukaan tanah), tinggi bebas cabang dan tinggi total. Untuk tingkat pertumbuhan pancang dan semai dengan ukuran petak contoh masing-masing 5 m x 5 m dan 2 m x 2 m, untuk tumbuhan bawah dengan petak contoh 2 m x 2 m. Data yang dikumpulkan adalah jenis pohon dan jumlah individu setiap jenis. Parameter yang diukur adalah tinggi total, diameter pohon setinggi dada (khusus untuk pohon dan tiang), jumlah individu setiap spesies dan jumlah plot terisi suatu spesies.

Masing-masing jalur/garis akan terdiri dari 5 atau 10 petak contoh. Karena tujuan utama dari analisis vegetasi ini adalah untuk mengidentifikasi pakan merak maka panjang dan arah jalur disesuaikan dengan kondisi habitat tempat makan merak hijau jawa.

Tabel 11. Lokasi plot contoh

No Tipe Ekosistem Banyak Titik Keterangan

1 Evergreen 4 HM 92, HM 93, HM 96, HM 97

2 Hutan Musim 4 HM 82, HM 83, HM 108, HM 109

3 Hutan Pantai 3 Sekitar kubangan bama sampai sumber air manting 4 Savana 5 Sekitar bukit bekol, HM 117, HM 120, HM 18

Gambar 10. Lokasi Penelitian dan Titik Peletakan Petak Contoh

Data yang diperoleh dicatat dan dihitung untuk mendapatkan nilai penting dengan rumus sebagai berikut (Mueller 1974, Setiadi 1989):

• Kerapatan Mutlak jenis i atau KM(i) jumlah individu jenis i

jumlah total luas area yang digunakan untuk penarikan contoh

• Kerapatan Relatif jenis i atau KR(i) kerapatan mutlak jenis i

kerapatan total seluruh jenis yang terambil dalam penarikan contoh yang digunakan KM(i) = KR(i) = × 100% Hutan Pantai Hutan Musim Evergreen Savana Bama Savana Bekol

• Frekuensi Mutlak jenis i atau FM(i)

jumlah satuan petak contoh yang diduduki jenis i jumlah banyaknya petak contoh yang dibuat dalam analisis vegetasi

• Frekuensi Relatif jenis i atau FR(i) frekuensi mutlak jenis i frekuensi total seluruh jenis • Dominasi Mutlak jenis i atau DM(i)

jumlah penutupan tajuk jenis i • Dominasi Relatif jenis i atau DR(i)

jumlah dominasi jenis i

jumlah dominasi seluruh seluruh jenis • Indeks Nilai Penting (INP) = KR(i) + FR(i) + DR(i)

Jenis tumbuhan yang memiliki INP tertinggi merupakan jenis yang dominan dari vegetasi yang dianalisis.

FM(i) =

FR(i) = × 100%

DM(i) =

DR(i) = × 100%

Gambar 11. Desain Metode Garis Petak 2 m

20 m

20 m 10 m

Identifikasi jenis-jenis tumbuhan dilakukan di Herbarium Bogoriense Bogor dengan membawa material yang telah didapat dari lapangan.

Setelah diketahui komposisi jenis dan struktur vegetasi pada tiap tipe vegetasi, dilakukan analisis tingkat pemanfaatan jenis tumbuhan pakan oleh merak hijau jawa berdasarkan pengamatan makan merak pada pagi dan sore hari, serta dari bagian atau sisa-sisa pakan yang ditinggalkan di tempat makannya, dan juga berdasarkan informasi dari penduduk lokal. Analisis tingkat pemanfaatan jenis tumbuhan pakan oleh merak hijau jawa dapat dikuantifikasikan sebagai berikut:

• Frekuensi pakan merak hijau jawa jenis i :

Studi terhadap kotoran merak hijau secara makroskopis dilakukan untuk mengetahui secara kasar jenis tumbuhan yang dimakan melalui biji-bijian maupun daun yang belum hancur oleh proses pencernaan.

Dari hasil tersebut juga diperoleh indikasi bahwa tingkat palatabilitas yaitu tingkat kesukaan suatu satwa liar terhadap jenis tumbuhan tertentu dapat dilihat dari seringnya tumbuhan tersebut dimakan (McIlroy 1976). Rumus yang digunakan adalah:

= , dimana:

P = tingkat palatabilitas suatu jenis x = insiden suatu jenis dimakan

y = jumlah insiden seluruh jenis yang ditemui dimakan Jumlah petak contoh yang diduduki pakan merak hijau jenis i Jumlah total petak contoh

=

x P

Tinggi rendahnya konsumsi pakan oleh satwa liar dipengaruhi oleh beberapa faktor, bisa eksternal atau internal. Palatabilitas merupakan salah satu faktor eksternal yang mempengaruhinya. Palatabilitas merupakan sifat yang dimiliki oleh bahan pakan sebagai wujud keadaan fisik dan kimiawi yang dicerminkan oleh organoleptiknya seperti kenampakan, bau, dan rasa (www.warintek.go.id). Palatabilitas bisa diartikan sebagai tingkat kesukaan satwa tertentu terhadap bahan pakan.

Setelah diketahui jenis-jenis pakan merak, diambil beberapa contoh pakan dengan nilai palatabilitas tinggi untuk dilakukan analisis proksimat. Analisis proksimat dilakukan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan, Departemen Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, IPB.

Untuk mengetahui tingkat kesukaan jenis pakan pada tingkat habitus dan jenis pakan yang disukai, dilakukan uji-t (T test), dimana:

Hipotesis: Ho = merak menyukai habitus tertentu H1 ≠ merak tidak menyukai habitus tertentu

Kriteria uji : Jika thitung > t tabel maka tolak Ho Jika thitung< t tabel maka terima Ho

x - µo thitung =

Dokumen terkait