• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa jarong (A. aspera L.) merupakan tumbuhan yang paling sering dimakan oleh merak dengan nilai palatabilitas 34.568%. Kemudian diikuti oleh othok-othok (Flemingia lineata Roxb.) dengan nilai 13.580% dan rayutan labu hutan (Passiflora sp.) dengan nilai 11.523% (tabel 16). Ketiga jenis ini banyak ditemukan di savana, dan juga ditemukan di tipe ekosistem lain yang diamati. Jarong memiliki nilai frekuensi yang cukup tinggi, namun othok-othok dan labu hutan memiliki nilai frekuensi kecil. Hal ini menunjukkan bahwa, meskipun penyebarannya tidak meluas di semua tipe vegetasi, namun kedua jenis ini tetap merupakan pilihan pakan merak yang utama. Jarong, othok-othok, dan daun labu hutan yang memiliki palatabilitas tinggi ini banyak ditemui di savana, terutama savana Bekol. Pernyataan ini mendukung pernyataan bahwa merak hijau lebih memilih makan di areal savana.

Gambar 21. Daun labu hutan (Passiflora sp.) (Doc.: Septania 2006)

Gambar 22. Daun mengkuduan (Morinda tinctoria) (Doc.: Septania 2006)

Selain jenis tumbuhan di atas, merak juga makan mengkuduan (M.

tinctoria), sangkep (A. indica), tarum (I. sumatrana), sidaguri (S. acuta Burm.

F)., gebang (C. utan), widuri (C. gigantea), bukol (Z. rotundifolia), B. prionitis L., liana daun kupu-kupu (B. angulata Roxb), pathikan kebo (E. hirta), kacang beneh (T. pumila Persl), Achyranthes sp, jerukan (C. separia L.), aseman (C. mimosoides Bl.), serut (S. asper), sokdoy (A. sarmentosa), rayutan bulu (I. obscura (L.) Kor), meniran (Phyllanthus sp.), melati hutan (P.

zeylanica L.), rayutan kacang (C. ternatea L.), rayutan kangkung (W.

acidula), santiet (P. foetida), dan M. tomentosa Roth. Dalam pengamatan di lingkungan sekitar bangunan penginapan, terlihat merak juga makan cabai rawit (Capsicum sp)., jenis rumput lulangan (E. indica), bayem ri (Amaranthus sp), dan jenis legum C. obtusifolia L.

Jarong merupakan tumbuhan bawah bukan rumput yang dominan dari empat tipe vegetasi yang diamati. Nilai penting paling tinggi terdapat di vegetasi savana, namun sebenarnya tumbuhan ini bukan asli savana. Sejak adanya invasi akasia di savana Baluran, jarong menjadi tumbuhan pionir yang dapat bertahan hidup bersama dengan beberapa jenis tumbuhan lain. Jarong menjadi pilihan utama makanan merak karena jarong memiliki kandungan gizi yang cukup baik serta memiliki penyebaran yang luas sesuai dengan daya jelajah merak, dan dapat hidup sepanjang musim. Selain itu, jarong memiliki buah dengan bentuk seperti padi yang mudah dimakan

merak sebagai granivor. Pada pengamatan, jika buah jarong sudah tidak ada maka daun jarong menjadi pilihan berikutnya.

Selain jarong, othok-othok juga merupakan tumbuhan pionir di savana yang mampu bertahan hidup. Meskipun populasinya tidak sebanyak jarong, namun ternyata tumbuhan ini merupakan pilihan makanan merak juga. Tekstur daun yang kasar dan agak tebal tidak mengurangi kelebihannya sebagai pakan merak. Dari beberapa pengamatan yang dilakukan, tidak pernah terlihat merak makan bunga othok-othok, yang dimakan hanya bagian daunnya saja. Selain di savana, tumbuhan ini juga terdapat di vegetasi hutan pantai. Populasinya mengelompok berpencar, tidak merata seperti jarong.

Labu hutan merupakan liana yang juga banyak ditemui di beberapa tipe vegetasi yang diamati, terutama savana. Bagian yang terlihat dimakan oleh merak hanya daun saja. Penyebaran labu hutan terutama dibantu oleh mamalia besar seperti kerbau dan banteng yang memakan buahnya kemudian menyebarkan bijinya.

Pemilihan tumbuhan sebagai pakan merak kurang bisa diperkirakan jika tanpa pengamatan. Pada saat pengamatan, dilihat jenis tumbuhan tertentu yang kira-kira dapat menjadi pakan merak. Namun ternyata tidak pernah terlihat merak makan tumbuhan tersebut, dan sebaliknya. Widuri (Calotropis gigantea) yang ditemukan berada di savana dan hutan pantai, memiliki daun yang tebal dan berdaging, serta memiliki getah berwarna putih. Merak memakan daun dan buahnya. Tumbuhan berduri banyak (Barleria prionitis L.) juga tidak menyulitkan merak untuk memakan daun yang terdapat di sela-sela duri.

Tumbuhan bawah dan liana menduduki peringkat paling tinggi sebagai pakan merak. Seperti yang terlihat pada tabel 17, hampir 80% tumbuhan bawah dan liana menjadi pilihan pakan bagi merak hijau. Hal ini mendukung teori bahwa merak makan sambil berjalan (Hernowo 1996). Merak lebih memilih tumbuhan bawah karena merak melakukan strategi makan sambil berjalan. Tumbuhan bawah lebih mudah diperoleh sebagai pakan pada saat merak berjalan. Merak makan daun atau buah pada pohon atau tihang hanya pada saat istirahat atau akan naik ke pohon tidur. Tetapi ada juga yang dengan sengaja naik ke pohon untuk memakan daun dan buah, seperti pada pohon mengkuduan (Morinda tinctoria) dan gebang.

Diduga, kesengajaan ini dilakukan untuk memperoleh nilai gizi atau nutrisi lain yang tidak ada pada tumbuhan bawah.

Bahan makanan yang masuk ke dalam saluran pencernaan akan dipecah menjadi senyawa-senyawa kecil untuk dapat diserap melalui dinding saluran pencernaan. Proses utama pencernaan adalah secara mekanik, enzimatik, maupun mikrobial. Merak masih satu suku dengan ayam yaitu Phasianidae (Faaborg 1988), oleh karena itu sistem pencernaannya bisa melalui pendekatan sistem pencernaan ayam. Merak sama seperti ayam, sering terlihat mematuk kerikil. Kerikil ini akan digunakan untuk membantu dalam pencernaan mekaniknya.

Seperti yang terlihat pada tabel hasil analisis proksimat (tabel 19), nilai gizi dari empat jenis pakan merak ternyata tidak jauh berbeda. Jarong memiliki palatabilias tertinggi, namun ternyata kandungan gizinya, terutama protein masih berada di bawah jenis pakan lainnya. Merak merupakan hewan pejalan yang kuat, oleh karena itu diperlukan asupan makanan dengan kandungan energi yang tinggi. Untuk memenuhi kebutuhan proteinnya, merak makan serangga di sekitar habitat pakannya. Protein merupakan zat penyusun struktur jaringan lunak sedangkan lemak adalah cadangan energi. Daun biasanya memiliki banyak kandungan lemak, dan biji paling banyak mengandung lemak. Oleh karena itu merak banyak makan jarong untuk memenuhi konsumsi biji bagi tubuhnya.

Nilai kandungan serat kasar tertinggi terdapat pada jarong (29,69%). Semakin tinggi kandungan serat kasar, maka pencernaan enzimatis akan semakin sulit. Biji-bijian juga merupakan sumber serat kasar, sebagai bagian dari karbohidrat, yang tinggi. Namun merak tetap memilih jarong sebagai sumber pakan utamanya. Jika dilihat dari empat bahan yang sudah dilakukan analisis, sebenarnya kandungan serat kasarnya tidak terlalu jauh berbeda.

Bahan kering dari empat bahan pakan merak memiliki nilai hampir sama, artinya kandungan air yang terdapat dalam empat bahan tersebut juga hampir sama. Air merupakan zat makanan yang penting karena menyusun kira-kira 75% jaringan bebas lemak dalam tubuh. Oleh karena itu kebutuhan air sebagai zat makanan adalah tinggi. Untuk memenuhi kebutuhan air, merak minum dari sumber-sumber air yang ada, seperti sumber air bekol, kubangan bama, dan sumber air manting.

Analisis proksimat terhadap feses merak diperoleh hasil protein kasar rata-rata 18,60 dan serat kasar rata-rata 23,19. Hasil tersebut tidak jauh berbeda dengan hasil analisis proksimat terhadap masing-masing bahan pakan merak. Analisis proksimat dilakukan hanya pada protein dan lemak karena kedua zat ini paling penting dalam menghasilkan energi. Dari kisaran hasil analisis proksimat jenis pakan merak dan feses, terlihat merak lebih memanfaatkan protein dibandingkan serat kasar. Merak memiliki tembolok dan ampela yang membantu proses pencernaan agar semakin baik, dapat dilihat dari feses merak yang halus hampir tidak terlihat seratnya. Penyerapan zat makanan pada saluran pencernaan merak harus efisien, karena sebagai burung besar, merak harus memiliki energi cukup banyak untuk dapat terbang pada saat menghindari musuh atau saat naik/turun pohon tidur, bahkan saat mencoba memetik buah yang diinginkan sebagai pakan. Pemanfaatan energi yang paling utama pada waktu pengamatan adalah untuk melakukan tarian pemikat bagi merak jantan terhadap merak betina (display).

Gambar 23. Merak hijau sedang display di hutan musim (Doc.: Septania 2006)

Daun serut diketahui dimakan merak hijau pada saat menghindar dari predator dengan hinggap di atas pohon ini. Pada saat ajag (Cuon alpinus) mengejar, merak terbang dan hinggap di atas pohon serut untuk kemudian naik ke pohon asam, lalu setelah ajag pergi, merak makan daun serut. Daun serut kasar dan tebal, hampir seperti othok-othok namun memiliki pertulangan daun dan warna yang berbeda. Daun jerukan (Capparis separia

L.) lebih halus dan lunak. Merak tidak pernah terlihat makan daun jerukan dengan hinggap di atas pohon, yang dipilih hanya anakannya.

Gambar 24. Merak di atas pohon serut (Streblus asper) di Hutan Pantai (Doc.: Septania 2006)

Gambar 25. Ajag (Cuon alpinus) sebagai predator merak hijau (Doc.: Septania 2006)

D. Aktivitas makan

Pengamatan yang dilakukan pada cara makan merak hijau memberikan hasil yang bervariasi. Untuk pakan yang ada di atas kepalanya, merak bisa meloncat-loncat untuk mendapatkannya, setelah mendapatkan biasanya daun disobek atau buah dipatuk. Sedangkan untuk jenis tumbuhan seperti widuri, merak mematuk-matuk daun yang ada di bawah, dan demi mendapatkan buah maka merak meloncat-loncat untuk memotong tangkai

buah hingga buah jatuh. Setelah terjatuh maka dengan mudah merak membuka kulit buah dengan paruh, lalu mematuk biji-biji di dalam buah.

Untuk jenis tumbuhan seperti jarong, merak makan sambil berjalan, biasanya pada saat menuju ke arah sumber air. Cara memakan daunnya seperti biasa yaitu dipatuk. Namun memakan buahnya dengan cara yang agak lain, karena buahnya menempel pada satu tangkai panjang, maka merak menjepitkan paruhnya pada ujung paling bawah kemudian menariknya hingga ujung atas (Jawa:diplurut). Sedangkan untuk tumbuhan tingkat tihang atau pohon, merak biasanya hinggap di atas dahan, baik disengaja maupun tidak disengaja, dan memakan daun dengan memotong dan menariknya. Hal ini terlihat pada saat merak hijau sedang makan daun mengkuduan dengan hinggap di atas dahan. Selain mengkuduan, pohon yang dengan sengaja dihinggapi merak adalah gebang Untuk memperoleh buah gebang, merak akan terbang hinggap di atas pohon gebang di pagi hari. Bisa juga pada saat merak akan tidur di sore hari, dimana merak akan langsung tidur di pohon tersebut. Merak memakan isi dalam buah gebang yang berbentuk seperti agar-agar. Jika terlalu matang, isi gebang akan keras dan tidak mudah dimakan. Jika hal ini terjadi, biasanya merak memakan kulit luar buah yang manis. Kemanisan kulit buah ini juga tergantung dari umur buah.

Maryanti (2007) menyatakan bahwa merak hijau di TNB melakukan aktifitas makan antara pukul 05.12 WIB – 09.13 WIB dan antara 13.55 WIB – 17.18 WIB. Aktifitas makan ini disebut aktifitas makan primer. Sedangkan aktifitas makan sekunder dilakukan pada saat berteduh di siang hari maupun pada saat berlindung. Aktifitas makan sekunder dilakukan karena kebutuhan makan merak waktu pagi belum cukup.

Merak jarang melakukan kaisan kaki, namun untuk makan serangga, merak melakukannya. Merak melakukan sedikit kaisan agar rayap dan semut di tanah dapat terlihat, kemudian merak mematuk dengan paruhnya.

Telah dibahas sebelumnya bahwa merak lebih menyukai savana sebagai tempat makan dibandingkan tipe ekosistem yang lain. Maryanti (2007) juga menyatakan bahwa durasi merak untuk makan di savana lebih lama dibandingkan yang lain.

E. Strategi Mencari Pakan (Foraging Strategy)

Merak hijau makan sambil berjalan menuju tempat minum, berteduh, tidur, dan aktivitas lainnya. Merak berjalan secara berkelompok yaitu 2-6 individu tiap kelompoknya, tapi merak jantan dewasa biasanya berjalan sendiri.

Gambar 26.Merak berteduh di pohon mimba (Azadirachta indica) (Doc.: Septania 2006)

Merak akan langsung makan setelah turun dari pohon tidurnya. Kemudian merak akan berjalan menuju sumber air sambil tetap melakukan aktivitas makan. Setelah berteduh di siang hari, merak akan menuju pohon tidurnya sambil makan juga. Pada saat berteduh, sulit dilakukan pengamatan terhadap aktivitas makan sekunder karena tempat berteduh biasanya berada di semak-semak.

Merak hijau melakukan aktivitas makan sambil memperhatikan keadaan lingkungannya, yaitu dengan menegakkan kepalanya. Sikap waspada ini juga dilakukan saat merak sedang minum. Sumber air minum merak bisa berupa sumber air tawar maupun air payau.

Gambar 27. Merak minum di kubangan Bama (Doc.: Septania 2006)

Sumber air payau terbentuk secara alami. Air yang payau disebabkan lokasinya yang sangat dekat dengan pantai sehingga sumber air tawar bercampur dengan infiltrasi air laut. Bahkan di sumber air Kalitopo, air laut ikut menggenangi sumber air jika terjadi pasang air laut. Sumber air tawar di savana Bekol dibuat oleh petugas Taman Nasional Baluran. Tempat air dibuat dari semen dan batu bata yang berbentuk bak penampung air, pengisian air dilakukan melalui pemompaan air tanah dari sumur bor secara rutin. Dalam penelitian ini telah teramati 25 ekor merak hijau yang melakukan aktivitas minum secara bersamaan di bak penampung air bekol.

Melakukan pengamatan tumbuhan sebagai pakan merak tidak mudah karena merak termasuk hewan yang sangat awas dan waspada. Sebagian besar merak waspada (kepala tegak dan berbunyi tak..tak..tak..) pada jarak 20 meter. Namun beberapa merak bisa teramati sampai jarak 7 meter jika tidak menyadari kejanggalan atau kehadiran pengamat. Jika pengamat melakukan gerakan sedikit saja, merak akan terbang menjauh. Ketinggian pohon sebagai titik pengamatan bervariasi, dari 3 meter sampai 7 meter dari permukaan tanah.

Gambar 28. Pohon Bukol sebagai titik pengamatan di tengah savana (Doc.: Septania 2006)

Taman Nasional Baluran Seksi Bekol, sebagian besar merupakan zona pemanfaatan. Pantai Bama yang merupakan bagian dari seksi Bekol juga merupakan tempat pariwisata. Gangguan sering terjadi pada saat pengamatan dilakukan, dan menyebabkan menyingkirnya merak dari jarak pandang. Merak takut terhadap benda asing, jika melihat manusia baik berjalan atau menggunakan kendaraan bermotor, merak akan berusaha bersembunyi dengan terbang maupun berlari ke balik semak-semak.

Gangguan terhadap pengamatan merak semakin meningkat di bulan terakhir penelitian yaitu bulan September. Pemeliharaan habitat savana dengan pembakaran dilakukan oleh petugas setempat. Tidak hanya cukup dengan pembakaran, pembabatan terhadap akasia dan pemeliharaan jalan setapak pun dilakukan. Kegiatan ini membutuhkan banyak tenaga manusia. Semakin banyak manusia di lokasi pengamatan, maka merak semakin sulit untuk diamati.

Selain gangguan tersebut, banyak terjadi eksploitasi terhadap hasil hutan, baik yang berupa kayu maupun bukan kayu. Gangguan ini juga menyebabkan berpindahnya lokasi aktivitas merak, baik pohon tidur, pohon berlindung, bahkan tempat makan. Selain perpindahan lokasi, pola konsumsi makan merak juga diduga dapat berubah. Dari hasil penelitian yang sudah pernah ada, jarong tidak pernah tercatat sebagai pakan merak di TNB, hingga kini menjadi pilihan utama pakan oleh merak. Hal ini berarti

merak menggunakan strategi foraging oportunis, dimana jika terjadi perubahan vegetasi pakan maka merak dapat melakukan penyesuaian secara cepat.

Catatan pertama mengenai populasi merak hijau jawa di TNB oleh Hernowo (1995) sebanyak 120 ekor di resort Bekol, ternyata sudah mengalami penurunan menjadi 61,8 ekor (Risnawati 2008). Gangguan yang terjadi diduga menjadi salah satu penyebab turunnya populasi satwa tertentu terutama merak hijau di TNB. Gangguan tersebut berupa eksploitasi hasil hutan terutama satwa tertentu seperti merak.

SIMPULAN

Merak hijau jawa (Pavo muticus muticus Linn.) di Taman Nasional Baluran lebih menyukai savana sebagai tempat mencari pakan dibandingkan evergreen, hutan musim, dan hutan pantai. Jumlah jenis tumbuhan yang dimakan oleh merak adalah 30 jenis.

Jenis tumbuhan yang paling disukai adalah jarong (Achyranthes

aspera L.) yang memiliki nilai INP di TNB 14.657%, othok-othok (Flemingia

lineata Roxb.) dengan INP 0.798%, dan rayutan labu hutan (Passiflora sp.) dengan INP 0.329%. Ketiganya banyak terdapat di savana. Selain jenis tumbuhan di atas, merak juga makan mengkuduan (M. tinctoria), sangkep (A. indica), tarum (I. sumatrana), sidaguri (S. acuta Burm. F)., gebang (C.

utan), widuri (C. gigantea), bukol (Z. rotundifolia), B. prionitis L., liana daun kupu-kupu (B. angulata Roxb), pathikan kebo (E. hirta), kacang beneh (T.

pumila Persl), Achyranthes sp, jerukan (C. separia L.), aseman (C.

mimosoides Bl.), serut (S. asper), sokdoy (A. sarmentosa), rayutan bulu (I.

obscura (L.) Kor), meniran (Phyllanthus sp.), melati hutan (P. zeylanica L.), rayutan kacang (C. ternatea L.), rayutan kangkung (W. acidula), santiet (P.

foetida), dan M. tomentosa Roth. Dalam pengamatan di lingkungan sekitar bangunan penginapan, terlihat merak juga makan cabai rawit (Capsicum

sp)., jenis rumput lulangan (E. indica), bayem ri (Amaranthus sp), dan jenis legum C. obtusifolia L.

Potensi pakan merak di TNB mencukupi, ditambah sifat merak yang polifage dan oportunis maka pakan merak di TNB tidak merisaukan. Jika dilihat dari nilai penting, jenis tumbuhan sebagai pakan merak hijau jawa di Taman Nasional Baluran tidak mengalami masalah terutama pada jarong. Pada tipe vegetasi evergreen, jarong menduduki tingkat tiga dengan INP 22.884%, di hutan musim sebesar 11.083% (peringkat 5), di hutan pantai 9.507% (peringkat 7), dan di savana 42.745% (peringkat 1).

Potensi savana sebagai habitat pakan merak hijau jawa di TNB cukup mendukung kehidupan merak dari segi pakan. Potensi tumbuhan bawah dan anakan sebagai pakan sangat tinggi dalam mendukung pakan merak. Penurunan populasi merak di TNB bukan disebabkan oleh menurunnya jenis pakan merak.

SARAN

Diharapkan pengelolaan Taman Nasional Baluran dapat dilakukan untuk mendukung keutuhan salah satu habitat merak hijau di pulau Jawa yang dapat mendukung populasi merak hijau, misalnya mempertahankan keberadaan tumbuhan bawah agar dapat mendukung pakan merak yaitu dengan memberantas akasia, dan juga meminimalisir gangguan manusia terhadap merak dengan meningkatkan sistem keamanan hutan.

Tipe-tipe vegetasi dengan pakan merak yang tidak dominan, perlu diupayakan penanaman dan pengayaan jenis pakan merak sebagai usaha konservasi merak hijau.

Perlu adanya monitoring terhadap populasi merak dengan metode penandaan (tagging) agar dapat selalu diketahui perubahan populasi merak hijau di TNB.

Perlu adanya penelitian lanjutan mengenai potensi pakan merak hijau pada musim hujan agar dapat dibandingkan dengan hasil yang sudah ada.

VII. DAFTAR PUSTAKA

Alikodra HS. 2002. Pengelolaan Satwa Liar. Jilid ke-1. Soerianegara I, penelaah. Bogor: Yayasan Penerbit Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Anonim. 1995. Pheasant Action Plan. Dalam: Tragopan Newsletter of the

WPA/BirdLife/Species Survival Commission Pheasant Specialist Group. (2:11)

Balen van S, Prawiradilaga DM, Indrawan M. 1995. The distribution and status of green peafowl Pavo muticus in Java [abstrak]. http://www.science direct.com/science.htm. (8 Maret 2006).

BirdLife International. 2004. Pavo muticus. Dalam: IUCN 2004. IUCN Red List of

Threatened Species. http://www.iucnredlist.org/ (8 Maret 2006)

Brooks TM, Mittermeier RA, Mittermeier CG, Fonseca GAB de, Rylands AB, Konstant WR, Flick P, Pilgrim J, Oldfield S, Magin G, dan Taylor CH. 2002. Habitat loss and extinction in the hotspots of biodiversity. Cons Biol 16 (4): 909-923.

Departemen Kehutanan dan Perkebunan Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. 2000. Buku Saku Pengenalan Jenis Satwa Liar yang Dilindungi (Aves) . Jakarta.

Departemen Kehutanan Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. 2001. Buku Informasi Taman Nasional Baluran. Banyuwangi.

Djufri. 2006. Studi Autekologi dan Pengaruh Invasi Akasia (Acacia nilotica) (L.) Willd. ex. Del. Terhadap Eksistensi Savana dan Strategi Penanganannya di Taman Nasional Baluran Jawa Timur [disertasi]. Sekolah Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Grzimek B. 1975. Animal Life Encyclopedia (Volume 8: Birds). New York: Van Nostrand Reinhold Company.

Hernawan E. 2003. Studi Populasi dan Habitat Merak Hijau (Pavo muticus Linneaus 1766) di Hutan Jati Ciawitali, BKPH Buah Dua dan BKPH Songgom, KPH Sumedang [Skripsi]. Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.

Hernowo JB. 1995. Ecology and Behaviour of the Green Peafowl (Pavo muticus Linneaus 1766) in the Baluran National Park, East Java Indonesia [Thesis]. Faculty of Forestry Science. Georg August University Göttingen. Germany.

Klasing KC. 2005. Poultry Nutrition: A Comparative Approach. J. Appl. Poult. Res. 14:426-436

MacKinnon J. 1990. Panduan Lapangan Pengenalan Burung-burung di Jawa dan Bali. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

McIlroy RJ. 1976. Pengantar Budidaya Padang Rumput Tropika. Jakarta: Pradnya Paramita.

Mueller D, Ellenberg. 1974. Aims and Methods of Vegetation Ecology. New York: John Wiley and Sons, Inc.

Mulyana. 1988. Studi Habitat Merak Hijau (Pavo muticus Linneaus) di Resort Bekol, Taman Nasional Baluran, Jawa Timur [Skripsi]. Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.

Primack RB.. 1998. Biologi Konservasi. Supriatna J, Indrawan M, Kramadibrata P, penerjemah. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Terjemahan dari: A

Primer of Conservation Biology.

Red Data Book. 2005. Threatened Birds of Asia: Pavo muticus (Green Peafowl). http://www.rdb.or.id/detailbird.php.htm. (6 Maret 2006).

Rini IS. 2005. Studi Ekologi Pakan dan Perilaku Makan Merak Hijau (Pavo

muticus Linneaus 1766) di Taman Nasional Alas Purwo Jawa Timur [Skripsi]. Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.

Risnawati R. 2008. Analisis Populasi dan Habitat Merak Hijau (Pavo muticus Linneaus 1766) di Taman Nasional Alas Purwo dan Baluran Jawa Timur [Skripsi]. Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.

Setiadi D, Muhadiono I, Yusron A. 1989. Penuntun Praktikum Ekologi. Bogor: Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat, Institut Pertanian Bogor.

Sözer R, Saaroni Y, Nurwatha PF. 1999. Jenis-jenis Burung Dilindungi yang Sering Diperdagangkan. YPAL. Bandung.

Supratman A. 1998. Kajian Pola Penyebaran dan Karakteristik Habitat Merak Hijau (Pavo muticus Linneaus 1766) Pada Musim Tidak Berbiak di Resort Rowobendo Taman Nasional Alas Purwo Jawa Timur [Skripsi]. Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.

Tillman AH, Haritadi H, Reksohadiprodjo S, Prawirokusumo S, Lebdosoekojo S. 1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Wasono WT. 2005. Populasi dan Habitat Merak Hijau (Pavo muticus Linneaus 1766) di Taman Nasional Alas Purwo Jawa Timur [Skripsi]. Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.

Winarto R. 1993. Beberapa Apek Ekologi Merak Hijau (Pavo muticus Linneaus) Pada Musim Berbiak di Resort Bekol, Taman Nasional Baluran, Jawa Timur [Skripsi]. Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.

   

70

Lampiran 1. Jenis pakan merak pada tiap tipe ekosistem Evergreen

No Nama Ilmiah Suku Nama Lokal

1 Achyranthes aspera L. Maranthaceae jarong

2 Passiflora sp. Passifloraceae labu hutan

3 Acalypha indica L. Euphorbiaceae sangkep

4 Sida acuta Burm. F. Malvaceae sidaguri

5 Corypha utan Lam. Palmae gebang

6 Barleria prionitis L. Acanthaceae berduri banyak 7 Bauhinia angulata Roxb. Fabaceae liana daun kupu2

Dokumen terkait