BAB I : PENDAHULUAN
1.5 Metode Penelitian
Metode sejarah bertujuan untuk memastikan dan menganalisis serta mengungkapkan kembali fakta-fakta masa lampau. Sejumlah sistematika penulisan yang terangkum didalam metode sejarah sangat membntu setiap penelitian didalam merekonstruksi kejadian pada masa lampau. Adapun prosedural dalam pengumpulan data penelitian ini tidak terlepas dari empat tahapan penelitian yaitu tahap pencarian atau pengumpulan data, tahap kritik terhadap data (kritik intern dan kritik ekstern), tahap menginerpretasikan data, dan tahap penulisan atau historiografi.9
Sebagai tahapan pertama, heuristik yaitu mengumpulkan sumber-sumber yang memiliki keterkaitan dengan apa yang diteliti. Metode yang dilakukan dalam heuristik ini adalah studi pustaka. Studi ini dilakukan dengan mengumpulkan sejumlah data primer berupa arsip dan catatan perjalanan terkait dengan proses masuk serta maksud, dan tujuan masuknya kristenisasi di tanah karo. Dalam hal ini, penulis
9 Louis Gottschalk,”Mengerti Sejarah (terj. Nugroho Notosusanto”, Jakarta: UI Press, 1985.
Hal. 8-9.
mengunjungi gedung Arsip Nasional Republik Indonesia dan gedung arsip yang berada di Moderamen GBKP. Selain studi arsip, penulis juga melakukan studi pustaka, yaitu dengan mengumpulkan buku buku yang berkaitan dengan proses masuknya kristen ke tanah karo, baik buku terbitan lama, maupun buku terbitan baru yang merupakan perkembangan dari temuan sebelumnya. Dalam hal ini, penulis mendatangi perpustakaan yang dianggap memiliki buku yang berkaitan dengan judul skripsi ini. Seperti, perpustakaan Daerah Karo perpustakaan Tengku Luckman Sinar, perpustakaan Museum Pustaka Karo dan perpustakaan Museum Retreat Centre GBKP yang berada di Komplek Retreat Centre GBKP yang berada di Desa Suka Makmur.
Akan tetapi, pada pengerjaan skripsi ini penulis mengalami peristiwa kecurian yang mengakibatkan beberapa sumber hilang, seperti laptop dan tas yang berisi beberapa sumber arsip. Untuk mengatasi hal ini, penulis berkoordinasi dengan pihak Perpustakaan Museum Retreat Centre GBKP untuk mendapatkan bahan tambahan berupa salinan surat menyurat dari wilayah zending yang juga sangat membantu penulis untuk menutupi dan melengkapi bahan yang hilang.
Setelah sumber-sumber tersebut telah terkumpul, maka tahapan selanjutnya adalah kritik sumber, baik itu merupakan kritik intern maupun kritik ekstern. Kritik ekstern dilakukan dengan memilah apakah dokumen itu diperlukan atau tidak, serta menganalisis apakah dokumen yang telah dikumpulkan asli atau tidak dengan mengamati tulisan, ejaan, jenis kertas, serta melihat apakah dokumen itu masih lengkap atau sudah diubah sebahagian. Kritik intern yaitu suatu langkah untuk
menilai isi dari sumber sumber yang telah dikumpulkan. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan kredibilitas sumber atau kebenaran isi dari sumber tersebut.
Tahapan selanjutnya adalah interpretasi yang memuat analisis dan sintetis terhadap data yang telah diverivikasi. Pada tahapan ini, penulis melakukasn penafsiran fakta lalu kemudian membandingkannya sebelum menceritakan kejadian itu kembali dalam bentuk tulisan
Tahapan akhir dari tahapan metode ini adalah bermuara pada bentuk tulisan atau historiografi. Tahapan ini bertujuan agar fakta-fakta yang telah ditafsirkan dan didapat baik secara tematis ataupun kronologis dapat dirangkai untuk menjadi sebuah tulisan yang kritis analitis, objektif, serta bersifat ilmiah.
BAB II
DATARAN TINGGI KARO SEBELUM MASUKNYA KRISTEN
2.1 Geografi
Secara geografis wilayah yang didiami oleh suku Karo sangat lah luas.
Adapun tempat-tempat yang didiami oleh suku Karo membentang dari Sipispis disekitar Tebing Tinggi sebelah utara menyelusuri pantai sampai di Langkat, kemudian daerah selatan kearah Tanah Karo sekarang dan Tiga Lingga (Kabupaten Dairi sekarang) terus ke Simalungun atas dan menyambung lagi ke Sipispis.10
Gambaran tentang daerah domisili masyarakat Karo dapat pula dilihat seperti apa yang digambarkan oleh J.H.Neumann berikut ini.
“…Wilayah yang didiami oleh suku Karo dibatasi sebelah Timur oleh pinggir jalan yang memisahkan dataran tinggi dari Serdang. Disebelah Selatan kira-kira dibatasi oleh Sungai Biang (yang diberi nama Sungai Wampu apabila memasuki wilayah Langkat), disebelah Barat dibatasi oleh Gunung Sunabung dan disebelah Utara wilayah itu meluas sampai ke dataran rendah Deli dan Serdang.11”
Berdasarkan gambaran diatas dapat disimpulkan bahwa wilayah yang didiami oleh suku Karo terdapat hampir diseluruh wilayah pantai timur Sumatera Timur. Pada perkembangannya, wilayah ini kemudian terbagi menjadi lima wilayah yakni:
1. Wilayah dataran tinggi (Karo Gugung), yaitu Tanah Tinggi Karo, meliputi wilayah Kabupaten Karo sekarang ini. Daerah Karo Gugung terbagi lagi
10 Sarjani Tarigan, Dinamika Orang Karo, Budaya dan Modernisme, Medan: BNB Press, 2008. Hal. 2.
11 J.H. Neumann, Mededeelingen van het Nederlandsche Zendeling Genootshap, 1902
dengan beberapa daerah, yaitu Taneh Urung Julu, Taneh Urung Gunung-Gunung (Singalor Lao) dan Taneh Urung Melas.
2. Wilayah Karo Timur yaitu Serdang Hulu.
3. Wilayah Karo Baluren, yaitu Taneh Pinem dan Pamah, masing-masing disepanjang Sungai Renun dan Tiga Lingga.
4. Wilayah Karo Jahe yaitu Deli Hulu dan Deli Hilir.
5. Wilayah Karo Binge, yaitu Karo Selapian, Karo Buah Orok yang sekarang semuanya disebut dengan Karo Langkat.12
Pembagian wilayah ini disebabkan oleh beberapa factor yang berlatar belakang historis, antara lain:
1. Perselisihan akibat wilayah tanah, dan
2. Budaya memperlebar wilayah kekuasaan oleh para raja yang mengakibatkan penyebaran orang Karo.
Pada pembahasan ini dan berikutnya, wilayah yang dibahas adalah wilayah Dataran Tinggi Karo atau Karo Gugung dan sebagian wilayah Karo Jahe yakni Deli Hulu. Wilayah Dataran Tinggi Karo bisa digambarkan seperti sebuah kuali besar karena dikelilingi oleh pegunungan dengan ketinggian 140-1400m diatas permukaan laut, antara lain Gunung Barus, Pinto, Sibayak dan Sinabung di sebelah Utara dan
12 Brahma Putro, Karo Dari Jaman ke Jaman, Medan: Yayasan Massa, 1981. Hal.31.
Gunung Sibuaten di sebelah Selatan, terhampar di punggung Bukit Barisan serta terletak pada koordinat 98° dan 99° BT dan 2° sampai 3,2° LU.13
Secara administratif, wilayah ini berbatasan langsung dengan wilayah administratif lainnya, antara lain:
1. Sebelah Utara dengan wilayah Langkat, 2. Sebelah Timur dengan wilayah Simalungun,
3. Sebelah Selatan dengan wilayah Tapanuli Utara dan Dairi, 4. Sebelah Barat dengan wilayah Aceh Tenggara
2.2 Sistem Ekonomi
Keadaan geografis yang terletak di kawasan pegunungan dan dekat dengan dua gunung api mengakibatkan tanah di Dataran Tinggi Karo menjadi subur.
Sebagian besar tanah di dataran tinggi Karo terdiri dari tanah debu hitam andosol yang merupakan hasil dari letusan Gunung Api Sinabung dan Sibayak. Tanah ini sangat cocok untuk tanaman tani. Disamping itu, keadaan kontur tanah yang berbukit serta diselingi oleh lembah dan padang rumput yang luas sangat memungkinkan untuk menernakkan hewan. Oleh karena itu, mayoritas penduduk yang tinggal di dataran tinggi Karo berprofesi sebagai petani dan peternak.
13 Miharza, dkk, Adat Istiadat Daerah Sumatera Utara, Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Tahun 1976-1977. Hal. 56.
Sehingga sebelum masuknya kristen di dataran tinggi Karo, masyarakat Karo sudah tergolong masyarakat mandiri walaupun masih bersifat substansional. Hal ini dibuktikan dengan mereka hanya mengkonsumsi hasil pertanian dan peternakan mereka saja. Pakaian ditenun sendiri walaupun sebagian diimpor dari Penang. Alat alat dapur dibuat sendiri dari tanah liat, bambu, atau kayu. Dan mereka juga sudah mulai melakukan hubungan dagang dengan beberapa daerah.14
Barang-barang yang mereka impor dari luar merupakan barang yang jumlahnya sangat terbatas dan penting saja. John Anderson juga mencatat beberapa komoditi yang di impor oleh orang Karo, yaitu garam dari dataran rendah, sarung dari Bugis, Songket dari Batu Bara, Sutra dari Aceh. Disamping untuk kebutuhan sehari-hari, masyarakat Karo juga mengimpor barang yang akan digunakan untuk kepentingan adat yaitu berupa mangkuk porselin yang diimpor dari Cina. Mangkuk ini digunakan untuk menyambut tamu terhormat dan jamuan makan. Sedangkan untuk keperluan ritual, orang Karo biasanya menggunakan Mangkuk yang berwarna putih15. Barang-barang yang diimpor ini kemudian diangkat menggunakan tenaga manusia, maupun tenaga hewan.
J.A.M van Cats Baron de Reat, seorang Kontrelir pertama di Tanah Deli dalam laporannya perjalanannya ke Barusjahe pada tahun 1867 mengatakan bahwa mereka menemukan orang Karo yang sudah sering berdagang ke luar negeri, yaitu Penang. Dari sana mereka membeli barang dagangan, senjata seperti karben dan
14 John Anderson, Mission to te East Coast Of Sumatra in 1823, London: Oxford University Press, 1971. Hal. 33-70.
15 Ibid., hlm. 266
pistol. Dia menambahkan bahwa pada saat itu karben dan pistol sangat banyak digunakan oleh masyarakat. Bahkan setibanya di Daulu, rombongan disambut dengan salvo tembakan senjata ke udara, mereka juga dikawal oleh masyarakat dengan pasukan berkuda dan bersenjata karben.16
Dari sini dapat disimpulkan bahwa sebelum masuknya Kristen ke dataran tinggi Karo, masyarakat sudah melakukan hubungan dagang dengan daerah lain. Dan Penang dapat dikatakan sebagai tempat utama bagi orang Karo untuk mengimpor barang ke dataran tinggi karo.
2.3 Sistem Pemerintahan
Leluhur masyarakat Karo membanggakan keluarga besar. Dengan kata lain, semakin besar sebuah keluarga maka semakin besar pula kebanggaan tersebut. Untuk mencapai hal tersebut, diupayakan agar setiap orang, khususnya laki laki untuk mempunyai anak. Pada perkembangannya, keluarga ini kemudian akan membentuk sebuah pemukiman yang akan dikepalai oleh seorang kepala suku dari keluarga tersebut17. Untuk membangun suatu pemukiman maka dibutuhkanlah beberapa fasilitas yang dibutuhkan, seperti balai desa (Jambur) dan kamar mandi umum (Tapin).
Disamping membangun pemukiman, pertambahan penduduk sebagai potensi sumber daya manusia juga diusahakan melalui perkawinan antar desa bahkan perkawinan dengan latar belakang politik. Mereka juga menampung beberapa
16 J.A.M van Cats Baron de Reat, Reize in de Batak Landen.
17 Bujur Sitepu, Mengenal Kebudayaan Karo, 1979. Hlm. 26.
keluarga dari suku lain yang mencari tanah dengan syarat masuk ke suku Karo.
Setelah adanya pemukiman dengan segala fasilitas yang ada didalamnya, selanjutnya diperlukan aspek lain yang menunjang kehidupan politik masyarakat Karo pada saat itu., antara lain pemerintahan desa, dan penduduk.
Sebelum mengenal pemerintahan modern, masyarakat Karo awalnya hanya mengenal system pemerintahan adat. Didalam sistem pemerintahan adat Karo, roda pemerintahan dijalankan oleh seorang pengulu , yakni seorang dari marga tertentu yang didalam sistem kekerabatan berpangkat sebagai kalimbubu. Pengulu tersebut dibantu oleh dua orang anggotanya yaitu anak beru dan senina . Sistem ini dalam masyarakat karo disebut juga dengan rakut sitelu (rakut = ikat, sitelu = tiga) yang artinya tiga sejalan menjadi satu badan pemerintahan, yang kuasanya adalah sebagai pemerintahan kaum keluarga.18 Melalui sistem pemerintahan adat inilah berkembang budaya dan adat istiadat Karo yang saat ini dikenal dengan Merga Silima, Tutur Siwaluh, Rakut Sitelu, dan perkade-kaden sepuluh dua.
18 P.Tamboen, Adat Istiadat Karo, Jakarta:Balai Pustaka, 1949. Hal.168.
2.4 Sistem Politik
Untuk melindungi hak kepemilikan tanah adat yang ada disuatu desa, masyarakat Karo membagi kelompok masyarakat menjadi tiga golongan, antara lain:
bangsa taneh, bangsa rakyat dan bangsa derip;
A. Bangsa Taneh
Bangsa Taneh merupakan keluarga besar dari pendiri kampong tersebut. Bangsa Taneh memiliki hak atas tanah dan hutan yang masuk didalam wilayah kampong itu.
Hak ini akan diwariskan ke generasi berikutnya.
B. Bangsa Rakyat
Bangsa Rakyat merupakan masyarakat yang datang ke daerah itu untuk bermukim. Bangsa rakyat mendapatkan hak dari Bangsa Taneh berupa hak pakai ataupun hak sewa tanah yang tidak dapat diwariskan ke generasi berikutnya.
C. Bangsa Derip (Budak)
Bangsa Derip merupakan tawanan perang atau orang yang tergadai dalam perjudian. Mereka dapat bermukim di daerah tersebut dengan status budak yang mengerjakan pekerjaan ladang/sawah tuannya. Mereka tidak memiliki hak tanah sama sekali.
2.5 Sistem Sosial
Kehidupan social masyarakat Karo memiliki pranata social sendiri yang disebut “Merga Silima, Tutur Siwaluh, dan Rakut Sitelu”. Sifat dari pranata social ini adalah terbatas dalam lingkungan merga silima saja. Sesama warga merga silima juga
dibatsai oleh hubungan darah yang terdapat pada tutur siwaluh saja. Berikut akan dijelaskan mengenai “Merga Silima, Tutur Siwaluh, dan Rakut Sitelu”.
2.5.1 Merga Silima
P. Tamboen dalam bukunya “Adat Budaya Karo” mengatakan bahwa marga berasal dari kata meherga yang berarti berharga ataupun berdaulat.19 Terdapat lima marga pokok dalam masyarakat Karo antara lain Karo-Karo, Ginting, Tarigan, Sembiring, dan Perangin-angin. Kelima marga ini akan diwariskan ke keturunan berikutnya yang mengikut kepada ayah (Patrilinear).
Kelima marga ini kemudian memiliki cabang-cabang yang disebut dengan submarga, dan mendiami berbagai daerah di tanah karo. Submarga ini diatur sedemikian tunggal sehingga sesama marga tidak dapat menikah. Berikut adalah marga dengan jumlah submarganya menurut budaya Karo.
a. Karo-Karo dengan jumlah 18 submarga b. Ginting dengan jumlah 15 submarga c. Tarigan dengan jumlah 12 submarga d. Sembiring dengan jumlah 18 submarga e. Perangin-angin dengan jumlah 18 submarga 2.5.2 Tutur Siwaluh
Tutur Siwaluh merupakan konsep kekerabatan masyarakat karo yang berhubungan dengan penuturan. Penuturan setiap orang memiliki jalur tersendiri dalam tuturnya. Tutur ini ini berfungsi untuk menempatkan seseorang dalam suatu
19 Ibid., Hal. 139.
posisi dalam sebuah pesta adat. Pada perekmbangannya, tutur diuntai menjadi delapan bagian, antara lain:
Sembuyak
Senina
Sipemeren/Siparibanen
Sipengalon
Kalimbubu
Puang Kalimbubu
Anak Beru
Anak Beru Menteri
2.3.3 Rakut Sitelu
Rakut sitelu secara harafiah berarti ikatan yang tiga. Rakut sitelu memiliki arti setiap individu Karo tidak lepas dari keluarganya.20 Rakut Sitelu juga merupakan sistem pemerintahan yang berlaku didalam masyarakat tradisional Karo Adapun unsur dan fungsi dalam rakut sitelu, antara lain:
a. Kalimbubu adalah kelompok pihak pemberi perempuan dan sangat dihormati dalam system kekerabatan orang karo
b. Anak Beru adalah pihak pengambil perempuan untuk diperistri. Anak Beru berfungsi sebagai hakim moral karena bila terjadi perselisihan dalam keluarga kalimbubunya, maka yang bertugas untuk mendamaikan perselisihan itu adalah Anak Beru.
c. Senina adalah hubungan kekrabatan berdasarkan marga yang sama. Dan Sembuyak adalah mereka yang satu bere. Sembuyak hanya berlaku untuk laki-laki karena perempuan yang mengikut kepada suaminya.
20 Henry Guntur Tarigan, Bahasa Karo, Jakarta:Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1979. Hal.45.
2.6 Sistem Kepercayaan
Leluhur masyarakat Karo percaya bahwa segala yang ada di dunia ini baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan adalah ciptaan “Dibata”. Mereka percaya adanya suatu kekuatan gaib yang dianggapnya lebih tinggi daripadanya.
Mereka mau melakukan berbagai hal untuk berkomunikasi dan mecari hubungan dengan kekuatan gaib tersebut.21 Untuk mengatur komunikasi dengan kekuatan gaib tersebut, orang Karo dipimpin oleh “Guru Mbelin”atau juga sering disebut “Guru Sibaso”. Para guru ini lah yang mengatur tata ritual masyarakat kepada roh-roh tersebut.
Menurut orang Karo, terdapat tiga Dibata yang berkontribusi untuk memberi kehidupan kepada mereka. Tiga Dibata itu antara lain:
a. Dibata i datas adalah Tuhan yang menguasai alam angkasa (dunia atas), b. Dibata i tengah adalah Tuhan menguasai dunia manusia,
c. Dibata i teruh adalah Tuhan yang menguasai dunia bawah (neraka).22
Jika kita menelisik mengenai ketiga Dibata ini, maka akan mengingatkan kita kepada sistem ketuhanan pada kepercayaan Hindu dengan tiga Dewa utamanya, yakni Dewa Brahma, Dewa Wisnu, dan Dewa Syiwa. Maka tidaklah salah jika kita mengambil kesimpulan yang mengatakan bahwa sebelum masuknya Kristen ke dataran tinggi Karo, Suku Karo pernah dipengaruhi oleh budaya Hindu yang berasal dari India.
21 Koenjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, Jakarta:Aksara Baru. 1985. Hal 376.
22 Op. Cit., Hlm 82-84.
Disamping menganut kepercayaan dengan konsep Dibata, orang Karo juga menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Kepercayaan animisme yang dimaksud adalah kepercayaan kepada makhluk lain yang memiliki kekuatan gaib.
Dalam bahasa masyarakat Karo sering disebut umang. Sedangkan kepercayaan dinamisme yang dimaksud adalah kepercayaan terhadap benda yang dianggap memiliki kekuatan gaib. Benda-benda yang sering dianggap memiliki kekuatan gaib antara lain pohon besar, batu besar, dan air terjun. J.H.Neumann mengatakan dalam surat yang ditulisnya, bahwa bertahun-tahun dia melakukan penelitian pada lebih dari 30 tempat persembahan di Tanah Karo. Dia juga menjelaskan bahwa benda yang dianggap mempunyai kekuatan gaib (sering disebut keramat) tersebut harus diimbangi dengan pengorbanan materi dengan cara melepaskan ayam putih, kambing putih, dan sesajian berbagai rupa. Semua persembahan itu harus dipersembahkan melalui tata penyembahan yang dipimpin oleh seorang dukun. Walaupun demikian masyarakat tidak merasa damai tapi merasa cemas terhadap kemurkaan keramat tersebut.23
23 J.H.Neumann, Karo-Bataksche Offerlaasten, Hlm. 2.
BAB III
PROSES KRISTENISASI DI DATARAN TINGGI KARO
3.1 Pendeta yang Melakukan Penginjilan
Seperti yang sudah disebutkan pada bab sebelumnya, bahwa masuknya misi injil ke dataran tinggi Karo dibawa oleh sebuah Yayasan Zending yang bernama Nederlandsch Zending Genootschap pada akhir abad ke 19, tepatnya pada tahun 1890.24 Disebutkan pula bahwa terdapat lima Pendeta dan lima Guru Injil yang melayani di dataran tinggi Karo selama periode 1890-1906. Berikut akan dijelaskan mengenai tokoh Misionaris yang dianggap berjasa untuk melayani di dataran tinggi Karo.
3.1.1 Pendeta H.C.Kruyt
Setelah dicapainya kesepakatan antara pihak pemerintah Hindia Belanda di Sumatera Timur dan NZG selaku yayasan zending yang diminta untuk menyebarkan Injil di tanah Karo, maka pada kesempatan pertama NZG mengutus seorang Pendeta yang sebelumnya diutus di Minahasa, Manado yang bernama H.C.Kruyt.25 H.C.Kruiyt adalah putera Pdt. Jan Kruyt yang melayani di wilayah Jawa Timur. Pada usia 11 tahun ia memasuki sekolah Misi NZG di Rotterdam. Pada tahun 1884 dalam
24 F.D. Wellem, Kamus Sejarah Gereja, Jakarta : BPK-GM, 2006, hal. 300 ” NZG didirikan pada 19 Nopember 1797 oleh orang-orang Kristen Belanda anggota gereja Hervormd yang dipengaruhi oleh semangat pietisme”.
25 Graaf van Randwijck, Oegstgeest, Jakarta : BPK-GM, 1989. Hal. 561
umur 22 tahun ia lulus dan segera ditempatkan di Tomohon Sulawesi Utara. Setelah 5 tahun melayani di Sulawesi Utara, pada awal tahun 1889 Kruiyt diutus oleh NZG untuk melayani ke daerrah Sumatera Timur, tepatnya di Karo.26
Kruiyt dipasangkan dengan Nicolas Pontoh yang berasal dari Manado. Mereka berangkat dari pelabuhan Manado dan sampai di Pelabuhan Belawan pada pertengahan tahun 1889. Selanjutnya Kruiyt melakukan pendekatan kepada para penguasa yang ada di Medan, antara lain kepada Residen W.J.M. Michielson, dan kepada Contreleur Carel Westenberg agar diberi izin untuk melakukan penginjilan ditengah masyarakat Karo.27
Setelah mendapatkan izin dari para pemimpin tersebut, maka pada akhir tahun yang sama, Kruiyt melakukan survey ke beberapa desa disepanjang kaki Bukit Barisan. Survey dilakukan dengan cara menyusuri aliran Sungai Deli dan Sungai Babura yang ada di daerah Medan menuju kearah hulu. Survey yang dilakukan oleh Kruyt dilakukan sebanyak tiga kali dengan tujuan untuk menentukan tempat yang dianggap sesuai untuk melakukan pelayanan Injil.28 Survey itu dilakukan melalui:
Survey I: Medan - Namo Rindang - Buluh Awar – Cingkam - Medan,
Survey II: Medan -Lau Cih- Bingkawan – Sembahe – Sibolangit – Betimus - Batu Mbelin – Delitua - Medan,
Survey III: Medan - Buluh Awar – Sibolangit – Tamburen - Tanjung Beringin - Lau Mulgap - Namo Ukur – Binjai - Medan.
26 P. Sinuraya, Diakonia GBKP: Jilid 6, Medan: Merga Silima,1980. Hal.23-24.
27 E.P. Gintings, Sejarah Gereja Batak Karo Protestan (GBKP), Medan: Gerafindo, 2015.
Hal. 18.
28 J.H.Neumann, En Korte Beschrijving van Het Terrein van de Karo Bataksche Zending, Hievoor maakte drie verkeningareizen. Hlm. 3.
Melalui hasil survey yang dilakukan oleh H.C.Kruiyt, maka dipilihlah Buluh Awar sebagai pusat penginjilan ditanah Karo sekaligus tempat dari Kruiyt pada tanggal 1 Juli 1890. H.C.Kruiyt memilih Buluh Awar karena dinggap lebih strategis daripada tempat-tempat lain yang dikunjungi. Hal ini dikarenakan Buluh Awar merupakan rute yang selalu dilalui oleh Perlanja Sira (Pedagang Garam) yang membawa garam dari kawasan pesisir (Deli), dan membawanya ke dataran tinggi karo. Perlanja sira juga memiliki peran lain yaitu sebagai pembawa pesan dari pesisir menuju dataran tinggi karo dan sebaliknya. Hal ini akan memudahkan akses informasi pada masyarakat karo baik yang berada di pesisir maupun yang berada di dataran tinggi karo. Inilah yang dimanfaatkan oleh Kruiyt untuk melakukan misi penyebaran agama kristen. Disamping itu, Desa Buluh Awar merupakan desa dengan jumlah penduduk paling banyak diantara desa lain yang ada di sepanjang kaki Bukit Barisan, yakni dengan jumlah penduduk sebanyak 200 orang.
Pendeta H.C. Kruyt menetap tinggal di Buluhawar atas bantuan pengulu Buluhawar. Dia tinggal di rumah yang sederhana. Dalam catatan harian Pdt. H.C.
Kruyt rumah tersebut berada di antara 2 rumah dan tidak jauh dari kampung. Rumah tersebut disewa 16 dollar dubbeltje = 336 cent per bulan. Setelah mendapat tempat tinggal di Desa Buluh Awar, Kruiyt dan Pontoh mulai melakukan tindakan awal dengan cara melakukan komunikasi dengan penduduk sekitar. Cara yang dilakukan oleh Kruiyt dan Pontoh dalam membangun komunikasi dengan masyarakat Buluh Awar adalah dengan belajar bahasa Karo dan budaya Karo. Disamping itu, mereka juga ikut memakai pakaian yang dipakai oleh masyarakat Buluh Awar, yakni memakai ikat kepala (erbulang), memakai kain sarung tenunan khas Karo (eruis) dan
memakai selendang (cabin). Mereka juga ikut bergotong royong (aron) dengan masyarakat, serta merawat orang-orang sakit dengan menggunakan alat kesehatan dan obat yang sudah dibawa dari Medan. Ada sekitar 41 orang yang mereka rawat,
memakai selendang (cabin). Mereka juga ikut bergotong royong (aron) dengan masyarakat, serta merawat orang-orang sakit dengan menggunakan alat kesehatan dan obat yang sudah dibawa dari Medan. Ada sekitar 41 orang yang mereka rawat,