• Tidak ada hasil yang ditemukan

KRISTEN DI DATARAN TINGGI KARO TAHUN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KRISTEN DI DATARAN TINGGI KARO TAHUN"

Copied!
97
0
0

Teks penuh

(1)

KRISTEN DI DATARAN TINGGI KARO TAHUN 1890-1906 SKRIPSI SARJANA

DIKERJAKAN O

L E H

NAMA : RAY BREMA GINTING NIM: 120706043

DEPARTEMEN SEJARAH FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2016

(2)

LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING SKRIPSI SKRIPSI SARJANA

DIKERJAKAN OLEH:

NAMA : RAY BREMA GIINTING NIM : 120706043

PEMBIMBING

Drs. Timbun

NIP. 195901281984031001

Skripsi ini diajukan kepada panitia ujian Fakultas Ilmu Budaya USU Medan, untuk melengkapi salah satu syarat ujian Sarjana Fakultas Ilmu Budaya dalam Bidang Ilmu Sejarah

DEPARTEMEN SEJARAH FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2017

(3)

LEMBAR PERSETUJUAN UJIAN SKRRIPSI

KRISTEN DI DATARAN TINGGI KARO TAHUN 1890-1906 Yang Diajukan Oleh :

Nama: RAY BREMA GINTING Nim: 120706043

Telah Disetujui Untuk Diajukan Dalam Ujian Skripsi Oleh : Pembimbing:

Drs. Timbun Tanggal, Desember 2016 NIP. 195901281984031001

Ketua Departemen:

Drs. Edi Sumarno, M.Hum. Tanggal, Desember 2016 NIP : 196409221989031001

PROGRAM STUDI ILMU SEJARAH DEPARTEMEN SEJARAH FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2016

LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING SKRIPSI

(4)

KRISTEN DI DATARAN TINGGI KARO TAHUN 1890-1906

SKRIPSI SARJANA DIKERJAKAN OLEH

NAMA : RAY BREMA GINTING NIM : 120706043

PEMBIMBING

Drs. Timbun

NIP. 195901281984031001

Skripsi ini diajukan kepada panitia ujian Fakultas Ilmu Budaya USU Medan, untuk melengkapi salah satu syarat ujian Sarjana Fakultas Ilmu Budaya dalam Bidang Ilmu Sejarah

DEPARTEMEN SEJARAH FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2016

(5)

LEMBAR PERSETUJUAN KETUA DEPARTEMEN SEJARAH

DISETUJUI OLEH :

FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

Ketua Departemen:

Drs. Edi Sumarno, M.Hum.

NIP : 196409221989031001

(6)

LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI OLEH DEKAN DAN PANITIA UJIAN PENGESAHAN

Diterima oleh :

Panitia Ujian Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Untuk melengkapi salah satu syarat ujian Sarjana Fakultas Ilmu Budaya Dalam Ilmu Sejarah pada Fakultas Ilmu Budaya USU Medan

Pada

Hari : Rabu

Tanggal : 11 Januari 2017

Fakultas Ilmu Budaya USU Dekan,

Dr. Budi Agustono.M.S.

NIP. 1960080519870310001

Panitia Ujian :

No. Nama Tanda Tangan

1. Drs. Edi Sumarno, M.hum (...) 2. Dra. Nurhabsyah, M.Si (...) 3. Drs. Timbun (...) 4. Drs. Wara Sinuhaji, M.Hum (...) 5. Dra. Junita Setiana Ginting, M.Si (...)

(7)

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah, Bapa yang maha kuasa, khalik langit dan bumi.

Karena telah memberikan rahmat, nikmat serta berkat-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelasaikan seluruh proses dalam penulisan skripsi ini. Tidak lupa penulis haturkan puji dan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus. Semoga kasihnya tidak berkesudahan hingga sepanjang masa.

Penulisan skripsi adalah salah satu syarat yang wajib dipenuhi untuk memperoleh gelar sarjana di Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara. Dalam hal ini penulis mengkaji tentang penginjilan yang terjadi di Dataran Tinggi Karo. Skripsi ini berjudul “Kristen di Dataran Tinggi Karo 1890- 1906”.

Penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan disana-sini dalam penulisan skripsi ini, maka dari itu penulis akan membuka pintu selebar-lebarnya apabila ada kritik dan saran yang konstruktif untuk perbaikan skripsi ini nantinya.

Akhir kata, semoga skripsi ini dapat memberikan khasanah pengetahuan yang bermanfaat bagi pembangunan bangsa.

Medan, September 2016 Penulis

Ray Brema Ginting

(8)

NIM. 120706043 UCAPAN TERIMA KASIH

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan karunia kesehatan, kekuatan serta kasih saying sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini.

Dalam kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada orang-orang yang telah memberi bantuan berupa tenaga, pikiran, arahan dan bimbingan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

Terima kasih penulis ucapkan kepada yang penulis kasihi dan penulis hormati:

1. Kepada bapak DR. Budi Agustono selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya, beserta jajarannya, atas fasilitas yang penulis peroleh di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara sampai penulis menyelesaikan studi.

2. Kepada Bapak Drs. Edi Sumarno, M.Hum sebagai Ketua Departemen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya yang banyak memberi saran dan nasehat kepada penulis.

3. Kepada Ibu Dra. Nurhabsyah, M.Si sebagai Sekretaris Departemen Ilmu Sejarah yang sekaligus menjadi dosen Penasehat Akademik dari penulis. Terima kasih atas segala arahan dan nasehat yang diberikan kepada penulis.

4. Terima kasih juga penulis haturkan kepada bapak Drs. Timbun Ritonga selaku Pembimbing Skripsi penulis atas segala arahan, kritik, nasehat dan bantuannya pada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Bapak adalah guru sekaligus ayah yang berperan dalam membentuk mental yang kuat kepada penulis.

(9)

5. Kepada seluruh Bapak dan Ibu Dosen Departemen Ilmu Sejarah yang bersedia untuk membagi ilmunya kepada penulis selama mengikuti studi di kampus USU.

Semoga ilmu yang diberikan dapat penulis manfaatkan dengan baik. Terima kasih juga buat Bang Ampera selaku Tata Usaha Departemen Ilmu Sejarah atas segala bantuannya dalam urusan di kampus.

6. Kepada ibunda tercinta, Rinawati br Sitepu, S.Kep yang sudah melahirkan, membersarkan serta mendidik penulis dengan penuh cinta dan kasih sayang, terima kasih atas segalanya. Kepada mendiang ayahanda yang tersayang, Alm.

Dana Ginting yang telah mendidik penulis hingga akhir hayatnya dan semua kenangan indah yang sudah diberikan kepada penulis. Kepada kakak tersayang, Thasia Paulina Ginting, SE yang banyak memberi saran dan kritik yang membangun bagi penulis, kepada sepupu penulis yakni Haga Septian Sembiring yang mau untuk membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Tak lupa penulis ucapkan rasa terima kasih kepada seluruh keluarga besar Ginting ras Sitepu mergana yang juga ikut untuk menyemangati penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

7. Kepada Pendeta DR. Jadiaman Perangin-Angin, M.Th yang telah banyak memberi bantuan kepada penulis berupa buku yang sangat membantu didalam proses penulisan skripsi ini.

8. Kepada seluruh lembaga maupun badan, yakni Moderamen GBKP, Arsip Nasional Republik Indonesia, Perpustakaan Republik Indonesia yang telah menyediakan bahan-bahan yang sangat berguna dalam proses penulisan skripsi ini.

(10)

9. Kepada seluruh rekan-rekan mahasiswa Ilmu Sejarah, khususnya stambuk 2012.

Terkhusus kepada Rinaldi B.P. Simamora, Junita F. Sihombing, Maria Simatupang, Mariana Simanjuntak, M.Iqbal Hafidz, Tirta Utama Sinuhaji, Ellel Lilis Manulang, M. Hilmy Fauzan, Roy Hariyanto Sitorus, Jacob Panjaitan, Ridho Abidin, Harapan Simanihuruk, Maria Casuarina Manik, Andri Ismayantri, Iqram Fauzan, Agung Roy Fanri Girsang, Jefri Simbolon, Rugeri Bama Sinurat, Utari Mahara, Weni Vivi Areka Kaban, Genhard Marpaung, Arif Ilhadi, M. Sofi Anwar. Terima kasih atas semua pengalaman suka maupun duka dan kekonyolan yang kita lakukan selama mengenyam studi di kampus tercinta, tidak akan pernah penulis lupakan atas semuanya.

10. Kepada sahabat-sahabatku: Nugraha Doanta Sebayang, Agriva Suranta Sebayang, Jeremia Dinata Perangin-Angin dan Agustinus Ginting atas segala bantuan, motivasi dan ejekannya. Walaupun pada akhirnya penulis yang menjadi sarjana pertama diantara kita berlima.

Medan, September 2016 Penulis,

Ray Brema Ginting NIM. 120706043

(11)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ……… i

UCAPAN TERIMAKASIH …... ii

DAFTAR ISI …... v

DAFTAR TABEL ……….. viii

GLOSARY ………. ix

ABSTRACT …... xi

BAB I : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ………. 1

1.2 Rumusan Masalah ………... 6

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian ……… 7

1.4 Tinjauan Pustaka ………. 8

1.5 Metode Penelitian ……….. 10

BAB II: DATARAN TINGGI KARO SEBELUM MASUKNYA KRISTEN 2.1 Geografi ………. 13

2.2 Sistem Ekonomi ………. 15

2.3 Sistem Pemerintahan ………. 17

2.4 Sistem Politik ………. 19

2.5 Sistem Sosial ……….. 20

2.6 Sistem Kepercayaan ………... 23

(12)

BAB III: PROSES MASUKNYA KRISTEN DI DATARAN TINGGI KARO 3.1 Pendeta

3.1.1 Pendeta H.C.Kruyt ………... 25

3.1.2 Pendeta J.K.Wijngaarden ………. 34

3.1.3 Pendeta Meint Joustra ………... 35

3.1.4 Pendeta Hendrik Guilaume ………... 39

3.1.5 Pendeta J.H.Neumann ……….. 43

3.2 Guru Injil ………. 46

BAB IV: PERKEMBANGAN PENGINJILAN SELAMA 1890-1906 4.1 Pembabtisan Pada Masyarakat Karo ……….. 50

4.2 Pembangunan Pos Injil dan Gereja ………. 52

4.3 Konferensi Zending di Buluh Awar ……… 57

BAB V: PENGARUH MASUKNYA KRISTEN DI DATARAN TINGGI KARO 5.1 Bidang Politik ………. 60

5.2 Pendidikan ……….. 64

5.3 Kesehatan ……….... 66

BAB VI: KESIMPULAN 6.1 Simpulan ………. 70

6.2 Saran ……… 73

DAFTAR PUSTAKA ………. xii

(13)

LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1: Jumlah pembaptisan selama periode 1890-1906

Tabel 3.2: Daftar rumah injil ditahbiskan sebelum kekalahan pasukan urung

(14)

GLOSARY

Mededeelingen van het Nederlandsche Zendeling Genootshap: Lapotan dari wilayah zending

Maandbericht van het Nederlansche Zendeling Genootschap: Laporan bulanan dari wilayah zending

Nederlandsch Zending Genootschap: Yayasan zending yang menginjil di Dataran Tinggi Karo

Rheineische Mission Gesselschaft: Yayasan zending dari Jerman yang menginjil di Tapanuli

Kuta: Kampung

Pengulu: Kepala kampong

Urung: Kumpulan dari beberapa kuta Sibayak: Orang yang memimpin urung Karben: sejenis senjata api

Jambur: tempat berkumpul bagi Orang Karo, biasanya digunakan untuk acara adat Pancoren: Kamar mandi umum

Kuburen: Kuburan

Merga/Marga: Nama keluarga bagi Orang Karo Senbuyak: Mereka yang memiliki bere yang sama Puang Kalimbubu: kalimbubu dari kalimbubu seseorang Senina: Hubungan kekerabatan berdasarkan marga yang sama Sipemeren: Orang yang ibu mereka merupakan saudara kandung

(15)

Siparibanen: Orang yang mempunyai istri yang bersaudara

Sipengalon: Orang yang bersaudara karena mempunyai anak yang memperisteri dari beru yang sama

Anak Beru: Pihak yang mengambil istri dari suatu keluarga untuk di peristri Anak Beru Menteri: Anak beru dari anak beru

Dibata: Tuhan

Contreleur: Posisi pejabat kolonial yang bertugas untuk mengawasi suatu wilayah Residen: Orang yang memimpin suatu keresidenan

Erbulang: memakai ikat kepala khas Karo Eruis: Memakai sarung tenun khas Karo Ercabin: Memakai Selendang khas Karo Aron: Gotong royong

Mengket Rumah Mbaru: Acara masuk rumah baru

(16)

ABSTRAK

Skripsi yang berjudul “Kristen Di Dataran Tinggi Karo 1890-1906”ini merupakan sebuah kajian sejarah daerah yang dikaitkan dengan kehidupan sosial, realigi dan politik baik bagi Masyarakat Karo, pihak perkebunan Deli Mij dan Pemerintah Hindia Belanda di Keresidenan Sumatera Timur, tepatnya di daerah Dataran Tinggi Karo. Dalam pelaksanaan penelitian, skripsi ini menggunakan metode sejarah yang terdiri dari heuristik, verifikasi (kritik), interpretasi, dan historiografi.

Dalam penelitian ini dapat di simpulkan bahwa, masuknya Kristen ke Dataran Tinggi Karo awalnya merupakan proses politik antara pihak perkebunan dan pemerintah untuk menaklukkan Orang Karo yang ada di Dataran Tinggi Karo. Pada perkembangannya, penginjilan dilakukan melalui Yayasan Nederlandsche Zending Genootshap (NZG) yang berasal dari Rotterdam, Belanda. NZG memilih Kuta Buluh Awar sebagai sentra penginjilan bagi Orang Karo di Dataran Tinggi Karo. Selama periode ini, terdapat 6 pendeta dan 5 guru injil yang mencoba untuk menginjili di Dataran Tinggi Karo. Didalam misinya, NZG memfokuskan bidang pendidikan dan kesehatan untuk menarik perhatian Orang Karo.

Penginjilan ke Dataran Tinggi Karo ini memiliki dampak terhadap pembangunan beberapa infrastruktur modern pada masa itu, antara lain pembangunan sekolah dan rumah sakit. Disamping itu, penginjilan ini juga memiliki dampak yang tidak langsung bagi penaklukan Orang-Orang Karo yang berada di Dataran Tinggi Karo oleh Pemerintah Hindia Belanda

Kata Kunci: Buluh Awar, NZG, penginjilan

(17)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Mengenai pengabaran injil ke kawasan Sumatera bagian utara sudah dimulai sejak awal abad ke 19 yang dibawa oleh Badan Badan Zending seperti Zending Babtist (1824) yang mencoba merintis penginjilan di daerah Tapanuli Utara dan Zending Ermelo (1851) yang mencoba merintis penghinjilan di daerah Tapanuli Selatan.1 Akan tetapi misi ini baru dianggap berhasil setelah Rheinisch Mission Gesellschaft (RMG) yang berhasil menyebarkan Injil ke pedalaman Toba pada tahun 1861. RMG telah menetapkan wilayah pelayanannya meliputi seluruh Tapanuli, Nias, dan Simalungun. Dengan demikian hanya wilayah pedalaman Karo (Karo Gugung), dan Melayu saja yang belum tersentuh oleh Injil.

Awal masuknya Injil ke dataran tinggi Karo dapat dikatakan sebagai sebuah proses politik yang dilakukan antara pihak “Penguasa dan Pengusaha”, dalam hal ini antara Pemerintah Hindia-Belanda, dengan perusahaan perkebunan di Pesisir Timur Sumatera. Semua ini bisa dikatakan bermula setelah berakhirnya Perang Sunggal (1872-1890).2 Perang ini mempunyai dampak yang besar bagi pihak penguasa dan pengusaha maupun bagi orang Karo sendiri, yaitu

Bagi pihak penguasa menimbulkan kerugian yang sangat besar karena bangsal-bangsal tembakau mereka banyak yang dibakar oleh Orang Karo. Bagi pihak

1 http://komunitasmarancar.blogspot.co.id/2009/06/sekilas-perkembangan-masuknya- kristen.html, diunduhnya tanggal 14 Oktober 2016, pkl. 16.00

2 Orang Belanda menyebutnya dengan “Batak Oorlog”, Orang Melayu menyebutnya dengan

“Perang Sunggal”, sedangkan Orang Karo menyebutnya dengan “Musuh Berngi”.

(18)

Penguasa, perang yang lama menimbulkan banyaknya korban dari militer pemerintah disamping itu, mengurangi minat dari pengusaha swasta untuk berinvestasi di Sumatera Timur sehingga akan menimbulkan kerugian yang besar bagi pemerintah.Sedangkan bagi Orang Karo, perang ini selain menimbulkan korban yang banyak dari pejuang Orang Karo, selain itu perang ini menimbulkan rasa benci yang sangat mendalam kepada pihak penguasa maupun pengusaha.

Perlawanan Masyarakat Karo dalam Perang Sunggal tersebut, membuat perkebunan perkebunan Belanda mengalami kerugian yang sangat besar. Untuk mengatasi masalah ini, J. Th. Cremers, yang merupakan seorang pemimpin perkebunan Deli Mij., mengambil inisiatif dan membiayai sebuah yayasan misionaris dari Rotterdam yang bernama Nederlandsch Zending Genootschap (NZG).3 Alasan Cremers mau membiayai yayasan ini adalah karena dia menganggap bahwa jalan paling baik supaya penduduk asli karo tidak menentang dan mengganggu usaha perkebunan adalah dengan mengabarkan injil dan mengkristenkan mereka.

Akan tetapi situasi pasca Perang Sunggal yang masih labil membuat misi penyebaran Injil ini lebih sulit daripada misi misi yang sudah pernah dijalankan oleh NZG. Untuk itu, NZG yang sebelumnya mencapai kesepakatan dengan pihak pemerintah di Sumatera Timur kemudian mengkonfirmasikan keadaan ini kepada calon pendeta yang akan diutus ke tempat ini. Maka dari itu, pada akhir abad ke 19, tepatnya pada tahun 1889, NZG bergerak ke dataran tinggi karo dan melakukan aksi

3 Frank Cooley. Benih yang Tumbuh IV, Semarang: Percetakan Universitas Kristen Satya Wacana, 1976. Hal. 1-2.

(19)

misionaris disana.4 NZG adalah yayasan misionaris beraliran calvinisme5 yang berpusat di Rotterdam Belanda, dan sudah melakukan aksi misionaris di Kawasan Timur Hindia.

Selama periode 1890 sampai 1906 terdapat lima orang Pendeta dari NZG dan lima orang guru injil dari Minahasa yang melayani di dataran tinggi Karo.6 Disamping itu juga terdapat seorang pendeta yang berasal dari Yayasan Zending RMG yang pada pembahasan berikutnya akan ikut membantu dalam penginjilan di dataran tinggi Karo.

Pendeta pertama yang dikirim oleh NZG adalah Pendeta H. Kruiyt. Pendeta ini menginjil di Dataran Tinggi Karo antara tahun 1890 sampai 1892. Selama masa penginjilannya, Kruiyt berhasil menetapkan pusat penginjilan bagi Orang Karo yang berada di Desa Buluh Awar. Disamping itu, Pendeta Kruiyt juga berhasil mendapatkan tenaga bantuan guru injil dari Minahasa untuk ikut menginjil di Dtaran Tinggi Karo. Akibat tekanan yang besar dari pihak pemerintah maupun pengusaha perkebunan, pada tahun 1892 Kruiyt memutuskan untuk meninggalkan Desa Buluh Awar.

Posisi pendeta yang kosong kemudian diambil alih oleh Pendeta J.K.

Wijngaarden. Pendeta Wijngaarden menginjil di Dataran Tinggi Karo antara tahun 1892-1894. Selama masa penginjilannya Pendeta Wijngaarden berhasil melakukan

4 Tengku Luckman Sinar Basarshah II, SH, Bangun dan Runtuhnya Kerajaan Melayu di Sumatera Timur, Medan, Yayasan Tuanku Luckman Sinar, 2005. Hal. 421.

5 Calvinisme adalah sebuah sistem teologis dan pendekatan kepada kehidupan Kristen yang menekankan kedaulatan pemerintahan Allah atas segala sesuatu. Gerakan ini dinamai sesuai dengan reformator Perancis Yohanes Calvin, sehingga kadang-kadang varian dari Kekristenan Protestan ini disebut teologi Reformed. (https://id.wikipedia.org/wiki/Calvinisme)

6 P.Sinuraya, “Sejarah Gereja Batak Karo Protestan”, Medan: Percetakan Endo. 2004. Hal.

48-49.

(20)

baptisan pertama bagi Orang Karo, yakni terhadap 6 orang pada tahun 1893 dan 4 orang pada tahun 1894. Pada tahun 1894, Pendeta Wijngaarden menderita penyakit disentri dan meninggal pada 8 September 1894.

Sepeninggal Pendeta Wijngaarden, tugas kependetaan kemudian diserahkan kepada Pendeta M. Joustra. Pendeta Joustra menginjl di Dtaran tinggi Karo antara tahun 1895 sampai tahun 1905. Selama masa penginjilannya Pendeta Joustra memberikan beasiswa untuk mengikuti Pendidikan Materi terhadap salah seorang yang sudah di baptis, disamping itu, Pendeta Joustra juga melakukan studi banding ke daerah Tapanuli untuk meninjau kerja sama yang akan dilakukan oleh NZG dengan RMG (yayasan zending di tapanuli). Setelah kontraknya dengan NZG berakhir, pada tahun 1905 Pendeta Joustra kembali ke Belanda.

Menyusul kerja sama antara NZG dengan RMG, maka pada tahun 1899 RMG mengirimkan seorang Pendeta untuk ikut membantu proses penginjilan di Dataran Tinggi Karo. Pendeta itu bernama Hendrik Guillaume. Selama menginjil di Dataran Tinggi Karo, Guillaume berhasil membuka pos penginjilan di Kabanjahe. Setelah kontraknya berakhir pada tahun 1904, Guillaume kembali menginjil ke daerah Simalungun tepatnya di Desa Purba.

Pada Oktober 1900, NZG kembali mengirimkan Pendeta sebagai tenaga bantuan untuk mendukung proses penginjilan di Dataran Tinggi Karo. Pendeta yang dikirim kali ini adalah Pendeta J.H. Neumann. Selama menginjil di Dataran Tinggi Karo Pendeta Neumann bertugas menjadi pendeta resort di Desa Sibolangit.

Disamping pendeta, misi penginjilan di Dataran Tinggi Karo juga dibantu oleh guru injil dari minahasa. Pada perkembangannya terdapat 5 guru injil yang ikut

(21)

membantu proses penginjilan di Dataran Tinggi Karo. Mereka adalah Guru Injil Benyamin Wenas, Guru Injil Richard Tampenawas, Guru Injil Jonan Pinontoan, Guru Injil Hendrik pesik dan Guru Injil Nicolas Pontoh.

Akan tetapi selama periode ini tercatat hanya 24 orang saja yang mau dibaptis dan masuk Kristen.7 Dan selama periode ini terdapat pula perang yang disebut dengan

“Perang Karo” yang diduga akibat penolakan terhadap masuknya Kristen untuk masuk lebih jauh lagi ke dataran tinggi Karo.8

Berdasarkan uraian yang sudah disebutkan diatas, penulis merasa bahwa proses masuknya kristen di dataran tinggi Karo, selain dijadikan sebagai misi penyebaran injil, juga memiliki aspek politik yang dilakukan pihak penguasa (pemerintah), dan pihak pengusaha (Deli Mij) yaitu untuk mengendalikan masyarakat Karo. Memang sudah cukup banyak orang yang menulis mengenai masuknya agama Kristen di Dataran Tinggi Karo, seperti, Dk. Em. P. Sinuraya dalam bukunya Sejarah Gereja Batak Karo Protestn Jilid 1 1890-1941, juga Pdt. DR. E.P.Gintings dalam bukunya yang berjudul “Sejarah Gereja Batak Karo Protestan (GBKP)” atau penulis lainnya.

Namun tulisan tulisan tersebut hanya memandang kristenisasi di Tanah Karo merupakan misi penyebaran injil saja, tanpa memandang aspek politik yang terkandung didalamnya.

Atas dasar pemikiran di atas, maka penulis tertarik untuk mengulas proses kristenisasi ditanah karo secara lebih objektif yang dipandang dari aspek historis yang

7 Ibid., Hlm. 49

8 Masri Singarimbun (ed), Garamata Perjuangannya Melawan Penjajahan Belanda, Jakarta:Balai Pustaka. 1992. Hlm. 51.

(22)

objektif dan merangkumnya kedalam sebuah skripsi yang berjudul “Kristen di Dataran Tinggi Karo Tahun 1890-1906”. Alasan pembatasan periodesasi penelitian ini berawal pada tahun 1890, dikarenakan pada kisaran waktu tersebut merupakan awal dilaksanakan misi penyebaran agama Kristen di dataran tinggi karo. Dan berakhir pada tahun 1906 dikarenakan pada kisaran waktu tersebut merupakan akhir dari periode permulaan injil menurut GBKP.

1.2 Rumusan Masalah

Dalam sebuah penulisan karya ilmiah, dibutuhkan sebuah rumusan masalah, hal ini dimaksudkan agar penulisan yang dilakukan menjadi lebih terarah dan tepat sasaran sesuai dengan objek yang telah ditentukan. Sesuai dengan latar belakang diatas, maka ditentuka beberapa rumusan masalah, yaitu sebagai berikut:

1. Bagaimana proses penginjilan kristen di Dataran Tinggi Karo?

2. Siapa saja yang melakukan proses penginjlan kristen di Dataran Tinggi Karo selama periode 1890-1906?

3. Bagaimana perkembangan penginjilan kristen di Dataran Tinggi Karo selama periode 1890-1906?

4. Bagaimana dampak masuknya penginjilan kristen di Dataran Tinggi Karo terhadap situasi ekonomi dan politik di Sumatera Timur?

1.3 Tujuan dan Manfaat

(23)

Sebuah penelitian tentunya memiliki tujuan dan manfaat dari penelitian yang dilakukan tersebut. Tujuan dari penelitian ini untuk menjawab permasalahan yang sudah terlebih dahulu dirumuskan kedalam rumusan masalah. Dengan demikian penelitian ini bertujuan sebagai berikut:

1. Memahami proses penginjilan kristen di Dataran Tinggi Karo.

2. Memahami tokoh-tokoh dibalik penginjilan Kristen di Dataran Tinggi Karo selama periode 1890-1906.

3. Memahami perkembangan penginjilan kristen di Dataran Tinggi Karo selama periode 1890-1906.

4. Memahami dampak masuknya penginjilan kristen di Dataran Tinggi Karo terhadap situasi ekonomi dan politik di Sumatera Timur.

Selanjutnya, adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk menambah pembendaharaan referensi khazanah penelitian sejarah lokal Sumatera Timur.

2. Untuk mengetahui proses kristenisasi di tanah karo secara lebih objektif.

3. Membantu pihak Moderamen GBKP dalam upaya penyempurnaan arsip mengenai tahun-tahun awal penginjilan di tanah karo.

1.4 Tinjauan Pustaka

(24)

Dalam penulisan karya ilmiah memerlukan pembahasan dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan dengan tujuan untuk mendukung penelitian tersebut. Dalam hal ini penulis memakai beberapa buku dari disiplin ilmu yang menurut penulis yang berkaitan langsung dengan permasalahan

Adapun buku yang dipakai penulis dalam penulisan skripsi ini adalah buku karya P. Sinuraya, Sejarah Gereja Batak Karo Protestan Jilid 1 tahun 1890-1941.

Buku ini berisi tentang bagaimana proses penginjilan di Dataran Tinggi Karo. Buku ini membantu penulis untuk mengulas tentang masuk, dan berkembangnya kristen di tanah karo sampai pada tahun 1941.

Selanjutnya adalah buku karya P. Sinuraya yang berjudul Diakonia GBKP:

Jilid 6. Buku ini membantu penulis dalam mengetahui profil para pendeta yang menginjil di Dataran Tinggi Karo.

Selanjutnya adalah buku karya Rita Smith Kipp, The Early Years of Dutch Colonial Mission The Karo Field. Buku ini membantu penulis untuk mengetahui apa saja yang dilakukan oleh para pendeta dalam menginjili orang Karo di Buluh Awar.

Selanjutnya adalah tulisan yang dibuat oleh Tengku Luckman Sinar, yang berjudul “Sumatera Utara Dibawah Kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda sampai dengan Awal Abad ke XX”. Buku ini menggambarkan bagaimana situasi kawasan Sumatera Utara sampai pada adab ke 20. Didalam tulisan tersebut terdapat satu ulasan khusus mengenai Tanah Karo.

(25)

Terakhir adalah buku karya P.Tamboen, dalam bukunya Adat Istiadat Karo.

Buku ini membantu penulis untuk mengetahui bagaimana situasi dan pola kehidupan Orang-Orang Karo sebelum masuknya Kristen ke Dataran Tinggi Karo.

Dalam mencari data melalui literatur, penulis akan merasa sanggup untuk mendapatkannya, karena penulis memiliki hubungan dengan yayasan GBKP maupun moderamen GBKP.

1.5 Metode Penelitian

Metode sejarah bertujuan untuk memastikan dan menganalisis serta mengungkapkan kembali fakta-fakta masa lampau. Sejumlah sistematika penulisan yang terangkum didalam metode sejarah sangat membntu setiap penelitian didalam merekonstruksi kejadian pada masa lampau. Adapun prosedural dalam pengumpulan data penelitian ini tidak terlepas dari empat tahapan penelitian yaitu tahap pencarian atau pengumpulan data, tahap kritik terhadap data (kritik intern dan kritik ekstern), tahap menginerpretasikan data, dan tahap penulisan atau historiografi.9

Sebagai tahapan pertama, heuristik yaitu mengumpulkan sumber-sumber yang memiliki keterkaitan dengan apa yang diteliti. Metode yang dilakukan dalam heuristik ini adalah studi pustaka. Studi ini dilakukan dengan mengumpulkan sejumlah data primer berupa arsip dan catatan perjalanan terkait dengan proses masuk serta maksud, dan tujuan masuknya kristenisasi di tanah karo. Dalam hal ini, penulis

9 Louis Gottschalk,”Mengerti Sejarah (terj. Nugroho Notosusanto”, Jakarta: UI Press, 1985.

Hal. 8-9.

(26)

mengunjungi gedung Arsip Nasional Republik Indonesia dan gedung arsip yang berada di Moderamen GBKP. Selain studi arsip, penulis juga melakukan studi pustaka, yaitu dengan mengumpulkan buku buku yang berkaitan dengan proses masuknya kristen ke tanah karo, baik buku terbitan lama, maupun buku terbitan baru yang merupakan perkembangan dari temuan sebelumnya. Dalam hal ini, penulis mendatangi perpustakaan yang dianggap memiliki buku yang berkaitan dengan judul skripsi ini. Seperti, perpustakaan Daerah Karo perpustakaan Tengku Luckman Sinar, perpustakaan Museum Pustaka Karo dan perpustakaan Museum Retreat Centre GBKP yang berada di Komplek Retreat Centre GBKP yang berada di Desa Suka Makmur.

Akan tetapi, pada pengerjaan skripsi ini penulis mengalami peristiwa kecurian yang mengakibatkan beberapa sumber hilang, seperti laptop dan tas yang berisi beberapa sumber arsip. Untuk mengatasi hal ini, penulis berkoordinasi dengan pihak Perpustakaan Museum Retreat Centre GBKP untuk mendapatkan bahan tambahan berupa salinan surat menyurat dari wilayah zending yang juga sangat membantu penulis untuk menutupi dan melengkapi bahan yang hilang.

Setelah sumber-sumber tersebut telah terkumpul, maka tahapan selanjutnya adalah kritik sumber, baik itu merupakan kritik intern maupun kritik ekstern. Kritik ekstern dilakukan dengan memilah apakah dokumen itu diperlukan atau tidak, serta menganalisis apakah dokumen yang telah dikumpulkan asli atau tidak dengan mengamati tulisan, ejaan, jenis kertas, serta melihat apakah dokumen itu masih lengkap atau sudah diubah sebahagian. Kritik intern yaitu suatu langkah untuk

(27)

menilai isi dari sumber sumber yang telah dikumpulkan. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan kredibilitas sumber atau kebenaran isi dari sumber tersebut.

Tahapan selanjutnya adalah interpretasi yang memuat analisis dan sintetis terhadap data yang telah diverivikasi. Pada tahapan ini, penulis melakukasn penafsiran fakta lalu kemudian membandingkannya sebelum menceritakan kejadian itu kembali dalam bentuk tulisan

Tahapan akhir dari tahapan metode ini adalah bermuara pada bentuk tulisan atau historiografi. Tahapan ini bertujuan agar fakta-fakta yang telah ditafsirkan dan didapat baik secara tematis ataupun kronologis dapat dirangkai untuk menjadi sebuah tulisan yang kritis analitis, objektif, serta bersifat ilmiah.

BAB II

(28)

DATARAN TINGGI KARO SEBELUM MASUKNYA KRISTEN

2.1 Geografi

Secara geografis wilayah yang didiami oleh suku Karo sangat lah luas.

Adapun tempat-tempat yang didiami oleh suku Karo membentang dari Sipispis disekitar Tebing Tinggi sebelah utara menyelusuri pantai sampai di Langkat, kemudian daerah selatan kearah Tanah Karo sekarang dan Tiga Lingga (Kabupaten Dairi sekarang) terus ke Simalungun atas dan menyambung lagi ke Sipispis.10

Gambaran tentang daerah domisili masyarakat Karo dapat pula dilihat seperti apa yang digambarkan oleh J.H.Neumann berikut ini.

“…Wilayah yang didiami oleh suku Karo dibatasi sebelah Timur oleh pinggir jalan yang memisahkan dataran tinggi dari Serdang. Disebelah Selatan kira-kira dibatasi oleh Sungai Biang (yang diberi nama Sungai Wampu apabila memasuki wilayah Langkat), disebelah Barat dibatasi oleh Gunung Sunabung dan disebelah Utara wilayah itu meluas sampai ke dataran rendah Deli dan Serdang.11

Berdasarkan gambaran diatas dapat disimpulkan bahwa wilayah yang didiami oleh suku Karo terdapat hampir diseluruh wilayah pantai timur Sumatera Timur. Pada perkembangannya, wilayah ini kemudian terbagi menjadi lima wilayah yakni:

1. Wilayah dataran tinggi (Karo Gugung), yaitu Tanah Tinggi Karo, meliputi wilayah Kabupaten Karo sekarang ini. Daerah Karo Gugung terbagi lagi

10 Sarjani Tarigan, Dinamika Orang Karo, Budaya dan Modernisme, Medan: BNB Press, 2008. Hal. 2.

11 J.H. Neumann, Mededeelingen van het Nederlandsche Zendeling Genootshap, 1902

(29)

dengan beberapa daerah, yaitu Taneh Urung Julu, Taneh Urung Gunung- Gunung (Singalor Lao) dan Taneh Urung Melas.

2. Wilayah Karo Timur yaitu Serdang Hulu.

3. Wilayah Karo Baluren, yaitu Taneh Pinem dan Pamah, masing-masing disepanjang Sungai Renun dan Tiga Lingga.

4. Wilayah Karo Jahe yaitu Deli Hulu dan Deli Hilir.

5. Wilayah Karo Binge, yaitu Karo Selapian, Karo Buah Orok yang sekarang semuanya disebut dengan Karo Langkat.12

Pembagian wilayah ini disebabkan oleh beberapa factor yang berlatar belakang historis, antara lain:

1. Perselisihan akibat wilayah tanah, dan

2. Budaya memperlebar wilayah kekuasaan oleh para raja yang mengakibatkan penyebaran orang Karo.

Pada pembahasan ini dan berikutnya, wilayah yang dibahas adalah wilayah Dataran Tinggi Karo atau Karo Gugung dan sebagian wilayah Karo Jahe yakni Deli Hulu. Wilayah Dataran Tinggi Karo bisa digambarkan seperti sebuah kuali besar karena dikelilingi oleh pegunungan dengan ketinggian 140-1400m diatas permukaan laut, antara lain Gunung Barus, Pinto, Sibayak dan Sinabung di sebelah Utara dan

12 Brahma Putro, Karo Dari Jaman ke Jaman, Medan: Yayasan Massa, 1981. Hal.31.

(30)

Gunung Sibuaten di sebelah Selatan, terhampar di punggung Bukit Barisan serta terletak pada koordinat 98° dan 99° BT dan 2° sampai 3,2° LU.13

Secara administratif, wilayah ini berbatasan langsung dengan wilayah administratif lainnya, antara lain:

1. Sebelah Utara dengan wilayah Langkat, 2. Sebelah Timur dengan wilayah Simalungun,

3. Sebelah Selatan dengan wilayah Tapanuli Utara dan Dairi, 4. Sebelah Barat dengan wilayah Aceh Tenggara

2.2 Sistem Ekonomi

Keadaan geografis yang terletak di kawasan pegunungan dan dekat dengan dua gunung api mengakibatkan tanah di Dataran Tinggi Karo menjadi subur.

Sebagian besar tanah di dataran tinggi Karo terdiri dari tanah debu hitam andosol yang merupakan hasil dari letusan Gunung Api Sinabung dan Sibayak. Tanah ini sangat cocok untuk tanaman tani. Disamping itu, keadaan kontur tanah yang berbukit serta diselingi oleh lembah dan padang rumput yang luas sangat memungkinkan untuk menernakkan hewan. Oleh karena itu, mayoritas penduduk yang tinggal di dataran tinggi Karo berprofesi sebagai petani dan peternak.

13 Miharza, dkk, Adat Istiadat Daerah Sumatera Utara, Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Tahun 1976-1977. Hal. 56.

(31)

Sehingga sebelum masuknya kristen di dataran tinggi Karo, masyarakat Karo sudah tergolong masyarakat mandiri walaupun masih bersifat substansional. Hal ini dibuktikan dengan mereka hanya mengkonsumsi hasil pertanian dan peternakan mereka saja. Pakaian ditenun sendiri walaupun sebagian diimpor dari Penang. Alat alat dapur dibuat sendiri dari tanah liat, bambu, atau kayu. Dan mereka juga sudah mulai melakukan hubungan dagang dengan beberapa daerah.14

Barang-barang yang mereka impor dari luar merupakan barang yang jumlahnya sangat terbatas dan penting saja. John Anderson juga mencatat beberapa komoditi yang di impor oleh orang Karo, yaitu garam dari dataran rendah, sarung dari Bugis, Songket dari Batu Bara, Sutra dari Aceh. Disamping untuk kebutuhan sehari- hari, masyarakat Karo juga mengimpor barang yang akan digunakan untuk kepentingan adat yaitu berupa mangkuk porselin yang diimpor dari Cina. Mangkuk ini digunakan untuk menyambut tamu terhormat dan jamuan makan. Sedangkan untuk keperluan ritual, orang Karo biasanya menggunakan Mangkuk yang berwarna putih15. Barang-barang yang diimpor ini kemudian diangkat menggunakan tenaga manusia, maupun tenaga hewan.

J.A.M van Cats Baron de Reat, seorang Kontrelir pertama di Tanah Deli dalam laporannya perjalanannya ke Barusjahe pada tahun 1867 mengatakan bahwa mereka menemukan orang Karo yang sudah sering berdagang ke luar negeri, yaitu Penang. Dari sana mereka membeli barang dagangan, senjata seperti karben dan

14 John Anderson, Mission to te East Coast Of Sumatra in 1823, London: Oxford University Press, 1971. Hal. 33-70.

15 Ibid., hlm. 266

(32)

pistol. Dia menambahkan bahwa pada saat itu karben dan pistol sangat banyak digunakan oleh masyarakat. Bahkan setibanya di Daulu, rombongan disambut dengan salvo tembakan senjata ke udara, mereka juga dikawal oleh masyarakat dengan pasukan berkuda dan bersenjata karben.16

Dari sini dapat disimpulkan bahwa sebelum masuknya Kristen ke dataran tinggi Karo, masyarakat sudah melakukan hubungan dagang dengan daerah lain. Dan Penang dapat dikatakan sebagai tempat utama bagi orang Karo untuk mengimpor barang ke dataran tinggi karo.

2.3 Sistem Pemerintahan

Leluhur masyarakat Karo membanggakan keluarga besar. Dengan kata lain, semakin besar sebuah keluarga maka semakin besar pula kebanggaan tersebut. Untuk mencapai hal tersebut, diupayakan agar setiap orang, khususnya laki laki untuk mempunyai anak. Pada perkembangannya, keluarga ini kemudian akan membentuk sebuah pemukiman yang akan dikepalai oleh seorang kepala suku dari keluarga tersebut17. Untuk membangun suatu pemukiman maka dibutuhkanlah beberapa fasilitas yang dibutuhkan, seperti balai desa (Jambur) dan kamar mandi umum (Tapin).

Disamping membangun pemukiman, pertambahan penduduk sebagai potensi sumber daya manusia juga diusahakan melalui perkawinan antar desa bahkan perkawinan dengan latar belakang politik. Mereka juga menampung beberapa

16 J.A.M van Cats Baron de Reat, Reize in de Batak Landen.

17 Bujur Sitepu, Mengenal Kebudayaan Karo, 1979. Hlm. 26.

(33)

keluarga dari suku lain yang mencari tanah dengan syarat masuk ke suku Karo.

Setelah adanya pemukiman dengan segala fasilitas yang ada didalamnya, selanjutnya diperlukan aspek lain yang menunjang kehidupan politik masyarakat Karo pada saat itu., antara lain pemerintahan desa, dan penduduk.

Sebelum mengenal pemerintahan modern, masyarakat Karo awalnya hanya mengenal system pemerintahan adat. Didalam sistem pemerintahan adat Karo, roda pemerintahan dijalankan oleh seorang pengulu , yakni seorang dari marga tertentu yang didalam sistem kekerabatan berpangkat sebagai kalimbubu. Pengulu tersebut dibantu oleh dua orang anggotanya yaitu anak beru dan senina . Sistem ini dalam masyarakat karo disebut juga dengan rakut sitelu (rakut = ikat, sitelu = tiga) yang artinya tiga sejalan menjadi satu badan pemerintahan, yang kuasanya adalah sebagai pemerintahan kaum keluarga.18 Melalui sistem pemerintahan adat inilah berkembang budaya dan adat istiadat Karo yang saat ini dikenal dengan Merga Silima, Tutur Siwaluh, Rakut Sitelu, dan perkade-kaden sepuluh dua.

18 P.Tamboen, Adat Istiadat Karo, Jakarta:Balai Pustaka, 1949. Hal.168.

(34)

2.4 Sistem Politik

Untuk melindungi hak kepemilikan tanah adat yang ada disuatu desa, masyarakat Karo membagi kelompok masyarakat menjadi tiga golongan, antara lain:

bangsa taneh, bangsa rakyat dan bangsa derip;

A. Bangsa Taneh

Bangsa Taneh merupakan keluarga besar dari pendiri kampong tersebut. Bangsa Taneh memiliki hak atas tanah dan hutan yang masuk didalam wilayah kampong itu.

Hak ini akan diwariskan ke generasi berikutnya.

B. Bangsa Rakyat

Bangsa Rakyat merupakan masyarakat yang datang ke daerah itu untuk bermukim. Bangsa rakyat mendapatkan hak dari Bangsa Taneh berupa hak pakai ataupun hak sewa tanah yang tidak dapat diwariskan ke generasi berikutnya.

C. Bangsa Derip (Budak)

Bangsa Derip merupakan tawanan perang atau orang yang tergadai dalam perjudian. Mereka dapat bermukim di daerah tersebut dengan status budak yang mengerjakan pekerjaan ladang/sawah tuannya. Mereka tidak memiliki hak tanah sama sekali.

2.5 Sistem Sosial

Kehidupan social masyarakat Karo memiliki pranata social sendiri yang disebut “Merga Silima, Tutur Siwaluh, dan Rakut Sitelu”. Sifat dari pranata social ini adalah terbatas dalam lingkungan merga silima saja. Sesama warga merga silima juga

(35)

dibatsai oleh hubungan darah yang terdapat pada tutur siwaluh saja. Berikut akan dijelaskan mengenai “Merga Silima, Tutur Siwaluh, dan Rakut Sitelu”.

2.5.1 Merga Silima

P. Tamboen dalam bukunya “Adat Budaya Karo” mengatakan bahwa marga berasal dari kata meherga yang berarti berharga ataupun berdaulat.19 Terdapat lima marga pokok dalam masyarakat Karo antara lain Karo-Karo, Ginting, Tarigan, Sembiring, dan Perangin-angin. Kelima marga ini akan diwariskan ke keturunan berikutnya yang mengikut kepada ayah (Patrilinear).

Kelima marga ini kemudian memiliki cabang-cabang yang disebut dengan submarga, dan mendiami berbagai daerah di tanah karo. Submarga ini diatur sedemikian tunggal sehingga sesama marga tidak dapat menikah. Berikut adalah marga dengan jumlah submarganya menurut budaya Karo.

a. Karo-Karo dengan jumlah 18 submarga b. Ginting dengan jumlah 15 submarga c. Tarigan dengan jumlah 12 submarga d. Sembiring dengan jumlah 18 submarga e. Perangin-angin dengan jumlah 18 submarga 2.5.2 Tutur Siwaluh

Tutur Siwaluh merupakan konsep kekerabatan masyarakat karo yang berhubungan dengan penuturan. Penuturan setiap orang memiliki jalur tersendiri dalam tuturnya. Tutur ini ini berfungsi untuk menempatkan seseorang dalam suatu

19 Ibid., Hal. 139.

(36)

posisi dalam sebuah pesta adat. Pada perekmbangannya, tutur diuntai menjadi delapan bagian, antara lain:

 Sembuyak

 Senina

 Sipemeren/Siparibanen

 Sipengalon

 Kalimbubu

 Puang Kalimbubu

 Anak Beru

 Anak Beru Menteri

(37)

2.3.3 Rakut Sitelu

Rakut sitelu secara harafiah berarti ikatan yang tiga. Rakut sitelu memiliki arti setiap individu Karo tidak lepas dari keluarganya.20 Rakut Sitelu juga merupakan sistem pemerintahan yang berlaku didalam masyarakat tradisional Karo Adapun unsur dan fungsi dalam rakut sitelu, antara lain:

a. Kalimbubu adalah kelompok pihak pemberi perempuan dan sangat dihormati dalam system kekerabatan orang karo

b. Anak Beru adalah pihak pengambil perempuan untuk diperistri. Anak Beru berfungsi sebagai hakim moral karena bila terjadi perselisihan dalam keluarga kalimbubunya, maka yang bertugas untuk mendamaikan perselisihan itu adalah Anak Beru.

c. Senina adalah hubungan kekrabatan berdasarkan marga yang sama. Dan Sembuyak adalah mereka yang satu bere. Sembuyak hanya berlaku untuk laki- laki karena perempuan yang mengikut kepada suaminya.

20 Henry Guntur Tarigan, Bahasa Karo, Jakarta:Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1979. Hal.45.

(38)

2.6 Sistem Kepercayaan

Leluhur masyarakat Karo percaya bahwa segala yang ada di dunia ini baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan adalah ciptaan “Dibata”. Mereka percaya adanya suatu kekuatan gaib yang dianggapnya lebih tinggi daripadanya.

Mereka mau melakukan berbagai hal untuk berkomunikasi dan mecari hubungan dengan kekuatan gaib tersebut.21 Untuk mengatur komunikasi dengan kekuatan gaib tersebut, orang Karo dipimpin oleh “Guru Mbelin”atau juga sering disebut “Guru Sibaso”. Para guru ini lah yang mengatur tata ritual masyarakat kepada roh-roh tersebut.

Menurut orang Karo, terdapat tiga Dibata yang berkontribusi untuk memberi kehidupan kepada mereka. Tiga Dibata itu antara lain:

a. Dibata i datas adalah Tuhan yang menguasai alam angkasa (dunia atas), b. Dibata i tengah adalah Tuhan menguasai dunia manusia,

c. Dibata i teruh adalah Tuhan yang menguasai dunia bawah (neraka).22

Jika kita menelisik mengenai ketiga Dibata ini, maka akan mengingatkan kita kepada sistem ketuhanan pada kepercayaan Hindu dengan tiga Dewa utamanya, yakni Dewa Brahma, Dewa Wisnu, dan Dewa Syiwa. Maka tidaklah salah jika kita mengambil kesimpulan yang mengatakan bahwa sebelum masuknya Kristen ke dataran tinggi Karo, Suku Karo pernah dipengaruhi oleh budaya Hindu yang berasal dari India.

21 Koenjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, Jakarta:Aksara Baru. 1985. Hal 376.

22 Op. Cit., Hlm 82-84.

(39)

Disamping menganut kepercayaan dengan konsep Dibata, orang Karo juga menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Kepercayaan animisme yang dimaksud adalah kepercayaan kepada makhluk lain yang memiliki kekuatan gaib.

Dalam bahasa masyarakat Karo sering disebut umang. Sedangkan kepercayaan dinamisme yang dimaksud adalah kepercayaan terhadap benda yang dianggap memiliki kekuatan gaib. Benda-benda yang sering dianggap memiliki kekuatan gaib antara lain pohon besar, batu besar, dan air terjun. J.H.Neumann mengatakan dalam surat yang ditulisnya, bahwa bertahun-tahun dia melakukan penelitian pada lebih dari 30 tempat persembahan di Tanah Karo. Dia juga menjelaskan bahwa benda yang dianggap mempunyai kekuatan gaib (sering disebut keramat) tersebut harus diimbangi dengan pengorbanan materi dengan cara melepaskan ayam putih, kambing putih, dan sesajian berbagai rupa. Semua persembahan itu harus dipersembahkan melalui tata penyembahan yang dipimpin oleh seorang dukun. Walaupun demikian masyarakat tidak merasa damai tapi merasa cemas terhadap kemurkaan keramat tersebut.23

23 J.H.Neumann, Karo-Bataksche Offerlaasten, Hlm. 2.

(40)

BAB III

PROSES KRISTENISASI DI DATARAN TINGGI KARO

3.1 Pendeta yang Melakukan Penginjilan

Seperti yang sudah disebutkan pada bab sebelumnya, bahwa masuknya misi injil ke dataran tinggi Karo dibawa oleh sebuah Yayasan Zending yang bernama Nederlandsch Zending Genootschap pada akhir abad ke 19, tepatnya pada tahun 1890.24 Disebutkan pula bahwa terdapat lima Pendeta dan lima Guru Injil yang melayani di dataran tinggi Karo selama periode 1890-1906. Berikut akan dijelaskan mengenai tokoh Misionaris yang dianggap berjasa untuk melayani di dataran tinggi Karo.

3.1.1 Pendeta H.C.Kruyt

Setelah dicapainya kesepakatan antara pihak pemerintah Hindia Belanda di Sumatera Timur dan NZG selaku yayasan zending yang diminta untuk menyebarkan Injil di tanah Karo, maka pada kesempatan pertama NZG mengutus seorang Pendeta yang sebelumnya diutus di Minahasa, Manado yang bernama H.C.Kruyt.25 H.C.Kruiyt adalah putera Pdt. Jan Kruyt yang melayani di wilayah Jawa Timur. Pada usia 11 tahun ia memasuki sekolah Misi NZG di Rotterdam. Pada tahun 1884 dalam

24 F.D. Wellem, Kamus Sejarah Gereja, Jakarta : BPK-GM, 2006, hal. 300 ” NZG didirikan pada 19 Nopember 1797 oleh orang-orang Kristen Belanda anggota gereja Hervormd yang dipengaruhi oleh semangat pietisme”.

25 Graaf van Randwijck, Oegstgeest, Jakarta : BPK-GM, 1989. Hal. 561

(41)

umur 22 tahun ia lulus dan segera ditempatkan di Tomohon Sulawesi Utara. Setelah 5 tahun melayani di Sulawesi Utara, pada awal tahun 1889 Kruiyt diutus oleh NZG untuk melayani ke daerrah Sumatera Timur, tepatnya di Karo.26

Kruiyt dipasangkan dengan Nicolas Pontoh yang berasal dari Manado. Mereka berangkat dari pelabuhan Manado dan sampai di Pelabuhan Belawan pada pertengahan tahun 1889. Selanjutnya Kruiyt melakukan pendekatan kepada para penguasa yang ada di Medan, antara lain kepada Residen W.J.M. Michielson, dan kepada Contreleur Carel Westenberg agar diberi izin untuk melakukan penginjilan ditengah masyarakat Karo.27

Setelah mendapatkan izin dari para pemimpin tersebut, maka pada akhir tahun yang sama, Kruiyt melakukan survey ke beberapa desa disepanjang kaki Bukit Barisan. Survey dilakukan dengan cara menyusuri aliran Sungai Deli dan Sungai Babura yang ada di daerah Medan menuju kearah hulu. Survey yang dilakukan oleh Kruyt dilakukan sebanyak tiga kali dengan tujuan untuk menentukan tempat yang dianggap sesuai untuk melakukan pelayanan Injil.28 Survey itu dilakukan melalui:

 Survey I: Medan - Namo Rindang - Buluh Awar – Cingkam - Medan,

 Survey II: Medan -Lau Cih- Bingkawan – Sembahe – Sibolangit – Betimus - Batu Mbelin – Delitua - Medan,

 Survey III: Medan - Buluh Awar – Sibolangit – Tamburen - Tanjung Beringin - Lau Mulgap - Namo Ukur – Binjai - Medan.

26 P. Sinuraya, Diakonia GBKP: Jilid 6, Medan: Merga Silima,1980. Hal.23-24.

27 E.P. Gintings, Sejarah Gereja Batak Karo Protestan (GBKP), Medan: Gerafindo, 2015.

Hal. 18.

28 J.H.Neumann, En Korte Beschrijving van Het Terrein van de Karo Bataksche Zending, Hievoor maakte drie verkeningareizen. Hlm. 3.

(42)

Melalui hasil survey yang dilakukan oleh H.C.Kruiyt, maka dipilihlah Buluh Awar sebagai pusat penginjilan ditanah Karo sekaligus tempat dari Kruiyt pada tanggal 1 Juli 1890. H.C.Kruiyt memilih Buluh Awar karena dinggap lebih strategis daripada tempat-tempat lain yang dikunjungi. Hal ini dikarenakan Buluh Awar merupakan rute yang selalu dilalui oleh Perlanja Sira (Pedagang Garam) yang membawa garam dari kawasan pesisir (Deli), dan membawanya ke dataran tinggi karo. Perlanja sira juga memiliki peran lain yaitu sebagai pembawa pesan dari pesisir menuju dataran tinggi karo dan sebaliknya. Hal ini akan memudahkan akses informasi pada masyarakat karo baik yang berada di pesisir maupun yang berada di dataran tinggi karo. Inilah yang dimanfaatkan oleh Kruiyt untuk melakukan misi penyebaran agama kristen. Disamping itu, Desa Buluh Awar merupakan desa dengan jumlah penduduk paling banyak diantara desa lain yang ada di sepanjang kaki Bukit Barisan, yakni dengan jumlah penduduk sebanyak 200 orang.

Pendeta H.C. Kruyt menetap tinggal di Buluhawar atas bantuan pengulu Buluhawar. Dia tinggal di rumah yang sederhana. Dalam catatan harian Pdt. H.C.

Kruyt rumah tersebut berada di antara 2 rumah dan tidak jauh dari kampung. Rumah tersebut disewa 16 dollar dubbeltje = 336 cent per bulan. Setelah mendapat tempat tinggal di Desa Buluh Awar, Kruiyt dan Pontoh mulai melakukan tindakan awal dengan cara melakukan komunikasi dengan penduduk sekitar. Cara yang dilakukan oleh Kruiyt dan Pontoh dalam membangun komunikasi dengan masyarakat Buluh Awar adalah dengan belajar bahasa Karo dan budaya Karo. Disamping itu, mereka juga ikut memakai pakaian yang dipakai oleh masyarakat Buluh Awar, yakni memakai ikat kepala (erbulang), memakai kain sarung tenunan khas Karo (eruis) dan

(43)

memakai selendang (cabin). Mereka juga ikut bergotong royong (aron) dengan masyarakat, serta merawat orang-orang sakit dengan menggunakan alat kesehatan dan obat yang sudah dibawa dari Medan. Ada sekitar 41 orang yang mereka rawat, misalnya ada yang keracunan darah dan ada yang sakit borok. Dia mengunjungi orang-orang sakit dan memberinya obat. Bayarannya biasanya berbentuk ayam, beras, dan lain-lain.29

Setelah dianggap memiliki komunikasi yang baik dengan penduduk sekitar, kemudian H.C.Kruiyt mulai memberikan pengarahan dan ceramah kepada mereka.

Kruiyt menyarankan Penduduk Desa Buluh Awar supaya tidak menggunakan candu lagi. Akan tetapi usaha Kruiyt ini tidak mendapat respon yang baik dari masyarakat.

Ada beberapa faktor yang dianggap menghambat jalannya komunikasi yang dilakukan oleh Kruiyt dengan masyarakat Buluh Awar, antara lain;

1. Cara yang dilakukan Kruiyt dianggap tidak kooperatif karena kurang mengenal budaya yang dianut oleh Masyarakat Karo.30 Dalam hal ini adalah mengenai pelaksanaan ritual adat. Masyarakat yang pada saat itu masih menganut kepercayaan pemena/perbegu sering melakukan ritual-ritual yang bertentangan dengan ajaran Kristen yang ingin disampaikan oleh Kruiyt dan Pontoh.31

2. Penduduk sekitar yang sudah merasa nyaman hidup dengan mengandalkan adat sebagai peraturan utama dengan pengulu sebagai kepala

29 H.C.Kruyt, Maanbericht van het Nederlandsche Zendeling Genootcchap. Hal. 43-44

”Berichten van Br. H.C. Kruijt, te Bulo-Haur”.

30 E.P.Gintings, Op. cit., Hlm. 20.

31 Masri Singarimbun, Kinship, Descent and Alliance among the Karo Batak, California:

University of California Press, 1975. Hal. 97.

(44)

pemerintahannya, serta seluruh status sosial yang ada (penguasa, rakyat dan budak). Kedatangan Kruiyt dan Pontoh yang membawa injil berusaha untuk menghapuskan status sosial ini. Karena didalam injil mengajarkan bahwa manusia adalah sama/sederajat, sehingga tidak memperbolehkan adanya system perbudakan.

3. Kenangan buruk dari Perang Sunggal membuat rasa benci terhadap orang asing tumbuh ditengah masyarakat Buluh Awar. Penduduk sekitar menganggap bahwa kedatangan Kruiyt dan Pontoh merupakan perpanjangan tangan dari Pemerintah Kolonial Belanda yang ingin merampas lahan dan harta mereka. Sehingga masyarakat tidak mudah untuk percaya terhadap apa yang diajarkan oleh Kruiyt dan Pontoh.

Melihat ketidakberhasilan yang dialami oleh Kruiyt, Pemerintah Belanda dan Pengusaha Perkebunan merasa bahwa Kruiyt tidak mampu untuk meluluhkan hati Penduduk Buluh Awar. Disamping itu, mereka juga tidak suka dengan materi yang dibawakan oleh Kruiyt, karena Kruiyt mengatakan kepada penduduk sekitar bahwa NZG bukan bagian dari Pemerintah maupun Pengusaha serta melarang masyarakat untuk menghisap candu.32 Padahal candu merupakan taktik pemerintah maupun pengusaha untuk tetap mengikat Orang Karo sebagai buruh di perkebunan mereka.

Kejadian ini berdampak ketika Kruiyt ingin meninjau penginjilan ke daerah yang lebih tinggi (Karo Gugung). Keinginan Kruiyt ini kemudian mendapat tentangan dari pemerintah yang ada di medan. Mereka menolak keinginan Kruiyt ini

32 P.Sinuraya, Op. Cit., Hal. 50.

(45)

dengan alasan keamanan, yakni karena Pasukan Musuh Berngi masih sangat banyak berkeliaran di dataran tinggi. Akan tetapi larangan ini tidak didengar oleh Kruiyt.

Pada tanggal 23 November 1890, Kruiyt melakukan perjalanan melalui Seberaya hingga ke Kabanjahe. Kruiyt dan Nicolas Pontoh berangkat bersama dengan Pengulu Desa Buluh Awar dan beberapa penduduk. Di Kabanjahe, Kruiyt bertemu dengan Sibayak setempat yang bernama Pa Pelita dan Pa Mbelgah. Mereka menyambut Kruiyt beserta rombongannya untuk beristirahat di rumah Pa Mbelgah. Di Kabanjahe, Kruiyt dan Nicolas Pontoh yang dibantu oleh Pengulu Desa Buluh Awar mencoba untuk menjalin komunikasi dengan Sibayak Kabanjahe tersebut. Setelah menyelesaikan tugas mereka, Kruiyt beserta rombongannya pun kembali dan sampai di Buluh Awar pada tanggal 3 Desember 1890.

Setelah hampir setahun menetap di Buluh Awar, Kruiyt menganggap tenaga penginjil yang dibutuhkan untuk menginjil di Buluh Awar masih kurang. Disamping itu, ada wacana untuk membangun pos injil oleh pemerintah di Buluh Awar. Maka dari itu Kruiyt berinisiatif untuk mencari tambahan tenaga dengan cara mendatangkan guru guru agama yang berasal dari Manado. Guru agama dipilih karena, Kruiyt merasa tidak mungkin untuk memanggil pendeta dari Belanda, disamping itu, guru agama Minahasa dianggap lebih tepat untuk menginji di Desa Buluh Awar. Untuk itu, pada tanggal 13 Januari 1891, dia ditemani Nicholas Pontoh berangkat dari Belawan Menuju Manado.

(46)

Setibanya di Manado, mereka kemudian membuat iklan untuk mencari guru agama baru. Setelah melalui beberapa prosedur, maka terpilihlah empat pasang suami istri. Mereka diantaranya:

1. Guru Injil Benyamin Wenas beserta istri 2. Guru Injil Johan Pinontoan beserta istri 3. Guru Injil Richard Tampenawas beserta istri 4. Guru Injil Hendrik Pesik beserta Istri

Setelah mendapat pemberkatan dan pemberangkatan dari Manado, maka berangkatlah mereka kembali ke Medan. Disepanjang perjalanan menuju Belawan, Kruiyt dan Pontoh memberikan pengarahan kepada keempat guru injil mengenai karakter dan adat Masyarakat Karo. Pendeta H.C.Kruiyt beserta rombongan sampai di medan pada Maret 1891.

Sesampainya di Buluh Awar, Pendeta H.C.Kruiyt yang dibantu oleh para pekerja langsung membangun pos injil yang juga berfungsi sebagai tempat tinggal, tempat menyimpan obat dan tempat untuk beribadah. Pembangunan ini selesai pada bulan Agustus 1891. Penahbisan pos injil ini dilaksanakan sesuai dengan adat Karo, yakni acara mengket rumah mbaru.

(47)

Disamping mendatangkan guru injil baru, Kruiyt yang dibantu pihak pemerintah juga ikut membangun pos pelayanan selain di Buluh Awar. Pos pos tersebut antara lain:

1. Desa Sala Bulan : Benyamin Wenas

2. Desa Buluh Awar : Pendeta H.C.Kruiyt dan Nicolas Pontoh 3. Desa Sibolangit : Johan Pinontoan

4. Desa Pernanganen : Richard Tampenawas 5. Desa Tanjung Beringin : Hendrik Pesik

Setelah pada kesempatan pertama dilakukan melalui bidang kesehatan, maka pada kesempatan kedua ini Kruiyt mencoba melakukan pendekatan dengan masyarakat sekitar melalui bidang pendidikan. Hal ini terbukti dengan dibangunnya sekolah pertama di Buluh Awar pada 19 Oktober 1891. Memang pada waktu itu sekolah, pengobatan, dan irigasi merupakan satu satunya pintu untuk membuka komunikasi dengan masyarakat sekitar.

Pada tahun 1892, Kruiyt kembali ingin melakukan perjalanan kembali ke Dataran Tinggi Karo. Bersama dengan para guru injil dan penduduk sekitar yang memiliki hubungan dengan Sibayak di Kabanjahe itu berangkat ke dataran tinggi pada Februari 1892. Namun kegiatan yang dilakukan Kruiyt ini mendapat tantangan

(48)

dari pihak pemerintah kolonial melalui Peraturan Pemerintah yang ada.33 Pemerintah Kolonial merasa apabila Kruiyt memang ingin meluaskan wilayah penginjilannya mereka lebih suka apabila Kruiyt menginjil di tengah Masyarakat Karo yang ada di wilayah Binge (Langkat) dari pada menginjil di Kabanjahe dan sekitarnya. Dengan cara itu, Pemerintah berpendapat dapat membendung pengaruh Aceh yang sedang bertempur dengan Belanda. Karena apabila hal ini terjadi maka perlawanan Masyarakat Karo di Dataran Rendah yang dibantu oleh Aceh dapat menimbulkan masalah yang lebih berat lagi bagi Pemerintah Kolonial. Dilain pihak, para pengusaha juga mendesak Kruiyt untuk membendung perlawanan dari pihak Masyarakat Karo di dataran tinggi yang masih tetap membakar bangsal tembakau milik mereka. Para pengusaha ini menyarankan agar Kruiyt tetap melakukan penginjilan di dataran tinggi, karena pihak penngusaha juga ingin mempekerjakan sebanyak mungkin Orang Karo yang ada di dataran tinggi (Karo Gugung).

Begitu banyak tekanan yang diberikan oleh pihak penguasa maupun pengusaha kepada Kruiyt. Sehingga pada Juli 1892 memutuskan untuk berhenti secara mendadak dari misi pelayanannya di dataran tinggi Karo. Kruiyt kemudian memutuskan untuk melanjutkan Sekolah Kedokteran di Swiss, dan meninggalkan Buluh Awar.34 Pada masa Penginjilan Kruiyt, belum ada Orang Karo yang dibabtis menjadi Kristen. Namun sudah terbangun keakraban diantara mereka. Hal ini terbukti

33 Rita Smith Kipp, The Early Years of Dutch Colonial Mission The Karo Field, The University of Medighen Press.1990. Hlm. 34.

34 P. Sinuraya, Cuplikan Sejarah Penginjilan kepada Masyarakat Karo, Medan: Berkat Jaya, 2002. Hal. 7

(49)

dengan sudah berdirinya sekolah pertama yang dibangun oleh Kruiyt dengan dibantu oleh para guru injil dan penduduk Buluh Awar.

3.1.2 Pendeta J.K.Wijngaarden

Kepergian Kruyt yang secara mendadak membuat NZG (Nederlandsch Zending Genootschap). Disaat seperti itu, NZG harus segera mengambil keputusan untuk mengisi pos yang ditinggalkan oleh Kruyt. Hal ini dikarenakan para Guru Injil dianggap belum mampu untuk menggantikan posisi Kruyt. Untuk itu NZG mengambil keputusan untuk mengutus Pendeta J.K.Wijngaarden pada tahun 1892.35

J.K. Wijngaarden bersama istrinya yang bernama Dina Guittart berangkat dari Batavia pada tanggal 28 November 1892, dan sampai di pelabuhan Belawan pada tanggal 3 Desember 1892. Sesampainya di Medan, Wijngaareden langsung berangkat ke dataran tinggi Karo, dan sampai di Buluh Awar pada tanggal 21 Desember 1892.

Sesampainya di Buluh Awar, Wijngaarden langsung menjalin komunikasi dengan penduduk Buluh Awar dan desa sekitarnya. Dalam setiap kesempatannya berkomunikasi dengan masyarakat, dia mengajak seluruh masyarakat (terutama anak- anak) untuk belajar membaca dan menulis disekolah yang sudah dibangun sebelumnya. Pada masa itu terdapat keengganan dari masyarakat Karo untuk belajar baca-tulis. Hal ini disebabkan jika mereka mengerti baca-tulis, maka mereka akan dipaksa untuk menjadi serdadu Belanda. Namun Pendeta ini tetap memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa kesehatan dan ilmu pengetahuan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk.

35 P. Sinuraya, Op. Cit., Hal. 42-43

(50)

Pada tahun 1893 dapat dikatakan bahwa usaha yang dilakukan oleh Wijngaarden dan para guru injil mulai membuahkan hasil. Hal ini dibuktikan dengan dibangun dan diremikannya rumah injil bagi para guru injil yang menginjil.36 Antara lain;

1. Pada tanggal 18 Maret 1893 dibangun rumah injil di Sala Bulan yang ditempati oleh Guru Injil Benyamin Wenas,

2. Pada tanggal 25 September 1893 dibangun rumah injil di Pernanganen yang ditempati oleh Guru Injil Johan Pinontoan,

3. Pada tanggal 27 September 1893 dibangun rumah injil di Sibolangit yang ditempati oleh Guru Injil Richard Tampenawas,

4. Pada tanggal 25 Oktober 1893 dibangun rumah injil di Tanjung Beringin yang ditempati oleh Guru Injil Hendrik Pesik.

Letak dari rumah-rumah injil ini berada sedikit diluar kampung dan sedikit diluar perbatasan antar kampong dengan alasan agar para guru injil dapat berkebun dihalaman rumah injil mereka. Jika mereka membangun di dalam kampung, mereka tidak akan diperbolehkan untuk berkebun karena terhalang oleh hukum adat yang berlaku. Rumah-rumah ini dibangun dengan bentuk hampir serupa satu sama lain, yakni dengan panjang 4 meter, lebar 3 meter. Rumah-rumah ini dibangun diatas tiang-tiang jauh diatas tanah sehingga bagian bawah rumah dapat berfungsi sebagai gereja dan sekolah.37

36 J.K. Wijngaarden, Maandbericht van het Nederlansche Zendeling Genootschap. Oktober 1893. Hal. 157

37 Ibid., hal. 159

(51)

Dengan adanya rumah-rumah injil ini agar memudahkan guru injil untuk mengakses daerah yang dilayaninya. Karena sebelum adanya rumah injil ini, para guru injil harus pergi dari Buluh Awar menuju tempat penginjilan mereka. Namun, karena tidak memiliki tempat tinggal di tempat penginjilannya, para guru injil ini pun harus kembali ke Buluh Awar yang merupakan pusat dari tempat penginjilan yang ada di sana.

Pada tahun 1893 ini juga dilakukan pembaptisan pertama bagi orang Karo.

Mereka antara lain: Ngurupi (Nd. Pengarapen), Pengarapen, Nuan, Tala, Tabar dan Sampai. Pembaptisan ini dilakukan pada tanggal 20 Agustus 1893. Berselang satu tahun, tepatnya pada tanggal 4 Agustus 1894 dilakukan pembaptisan kedua yang diberikan kepada: Negel, Lampo, Nesei dan sangap.38

Masa penginjilan Pendeta J.K. Wijngaarden di Buluh Awar tidak berlangsung lam. Pada tanggal 8 September 1894, dalam perjalanan dari Buluh Awar menuju pos- pos penginjilan, Wijngaarden menderita disentri, sehingga dia bermalam di desa Pernengenen karena tidak mampu meneruskan perjalanan. Pada tanggal 16 September, Wijngaarden dibawa untuk berobat ke RS Deli Mij. Pada tanggal 21 September kondisi kesehatannya semakin memburuk, akhirnya pada tanggal 22 September 1894 Wijngaarden meninggal dunia, dan dimakamkan di Medan.39 Pada 11 November 1972. Diakonia GBKP memindahkan makamnya ke Sibolangit sebagai

“Tanda Peringatan Pekabar Injil Pertama ke Tanah Karo.

38 J.K. Wijngaarden, Maandbericht van het Nederlansche Zendeling Genootschap, Desember 1893. Hal. 181-183

39 J.K. Wijngaarden, Maandbericht van het Nederlansche Zendeling Genootschap,Oktober 1894. Hal. 10.

Gambar

Tabel 1: Jumlah pembaptisan selama periode 1890-1906
Tabel 2: Daftar rumah injil diresmikan sebelum kekalahan pasukan urung
Foto Pendeta Hendrik Kruiyt  (Sumber: Retreat Centre GBKP)

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat di Kelurahan Dataran Tinggi itu tinggi, karena masyarakat ingin menyalurkan aspirasinya sebagai warga negara

Kondisi wilayah yang berbeda antara dataran tinggi dan dataran rendah, serta beberapa faktor lain seperti umur dan jenis kelamin dapat mempengaruhi nilai VO ₂ maks,

Latar Belakang Masalah : Kondisi wilayah tempat tinggal akan berpengaruh terhadap adaptasi fisiologis seseorang. Perbedaan PO ₂ antara dataran tinggi dan dataran

Telah dilakukan penangkapan tikus dengan perangkap di 22 daerah fokus keong yang tersebar di 6 desa di Dataran Tinggi Napu, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur tubuh anak usia 11-14 tahun yang bertempat tinggal di daerah dataran tinggi, perkotaan, dan pesisir pantai..

Penelitian ini menyarankan kepada petugas kesehatan terutama di Puskesmas di dataran tinggi untuk melakukan pendekatan secara psikologis pada pasien hipertensi agar pasien

Telah dilakukan penangkapan tikus dengan perangkap di 22 daerah fokus keong yang tersebar di 6 desa di Dataran Tinggi Napu, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah

Tujuan penelitian adalah mengetahui hubungan antara indeks massa tubuh dan lingkar pinggang dengan status hipertensi pada orang dewasa usia 40-60 tahun di Kelurahan Dataran Tinggi Kota