BAB II: DATARAN TINGGI KARO SEBELUM MASUKNYA KRISTEN
2.6 Sistem Kepercayaan
3.1.3 Pendeta Meint Joustra
Sepeninggal Pendeta J.K.Wijngaarden, pelayanan di dataran tinggi Karo untuk sementara dilanjutkan oleh istrinya yang bernama Dina W. Guittart sampai Pendeta baru yang ditunjuk NZG sampai di Buluh Awar40. Sementara itu di kantor pusat NZG yang terletak di kota Rotterdam menunjuk Pendeta Meint Joustra. Meint Joustra yang ketika itu masih baru lulus dari sekolah kependetaannya ditunjuk untuk melanjutkan misi penginjilan di Dataran Tinggi Karo menggantikan Pendeta J.K. Wijngaarden.41
Pendeta ini berangkat dari Rotterdam pada 5 November 1894, dan sampai di Pelabuhan Belawan pada tanggal 21 November 1894. Sesampainya di Medan, Joustra langsung bergegas menuju Buluh Awar dan akhirnya sampai di Buluh Awar pada tanggal 27 November 1894. Sesampainya di Buluh Awar, Joustra disambut oleh para jemaat. Setelah upacara penyambutan, Dina Guittart yang selama ini menjadi pelayan sementara, menyerahkan tugas pelayanan kepada Pendeta Meint Joustra.
Setelah mendapat izin dari pemerintah yang ada di Medan, pada tanggal 13 Februari 1895, Joustra mulai menetap di Buluh Awar, dan mulai melakukan kunjungan ke pos-pos penginjilan yang ada. Pada tanggal 31 Juli, Dina Guittart meninggalkan Buluh Awar yang dilakukan dengan acara pelepasan oleh Joustra, Guru Injil, dan para jemaat. Pada tanggal 5 September 1895, Dina berangkat melalui Belawan menuju Belanda. Di Belanda, Dina ditugaskan oleh NZG menjadi manajer Sekolah Misi Rotterdam.
40 M. Joustra, Mededeelingen van Wegehet Nederlanschr Zendeling Genootshap, 1896 .
41 P. sinuraya, Op.cit., Hal. 68-69.
Misi Jousta disamping melanjutkan apa yang sudah dilakukan oleh Pendeta J.K.Wijngaarden dan Dina Guittart, Joustra juga melakukan berbagai kegiatan yang ditujukan untuk menyebarkan injil. Kegiatan itu seperti merintis peran pemuda dalam pelayanan, meningkatkan kegitan gerejawi, membuka pos zending yang baru (Bukum), membuka kembali hubungan ke dataran yang lebih tinggi dan mengadakan studi banding ke daerah Tapanuli.
Peningkatan peran pemuda dalam pelayanan dilakukan melalui pemberian beasiswa kepada pemuda yang sudah menjadi jemaat dan sudah dibabtis. Sebagai contoh, pada tahun ajaran 1895, Nuan (seorang yang ikut dalam babtisan tanggal 20 Agustus 1893) diberangkatkan menuju Medan untuk mengikuti pendidikan Manteri Cacar. Setelah lulus pada April 1897, Nuan kembali ke Buluh Awar, dan memberikan kepada jemaat, terutama pada bidang kesehatan.42
Pembenahan kegiatan gerejawi masyarakat Karo dilakukan dengan cara melakukan Jamuan Kudus (dalam Bahasa Karo Lakon persadaan Sibadia) yang pertama di Buluh Awar pada tanggal 3 April 1896. Jamuan Kudus ini dihadiri oleh seluruh warga jemaat dan Guru Injil. Selain melakukan Jamuan Kudus, Joustra juga melakukan pembabtisan. Joustra tercatat melakukan dua kali pembaptisan.
Pembaptisan pertama dilakukan di Buluh Awar pada tanggal 6 Desember 1896.
Pembaptisan ini dilakukan kepada dua orang, yakni Djahata dan Badjar Purba. Satu tahun berselang dilakukan pembaptisan yang kedua di Desa Tanjung Beringin pada
42 P.Sinuraya, Op. cit., Hlm. 64 ”Pada tahun 1930, Nuan mendapat bintang jasa Trouw en Verdinste mengingat jasanya melayani masayarakat dalam bidang kesehatan.”
tanggal 6 Desember 1898. Pada kesempatan ini pembaptisan dilakukan kepada empat orang, yakni Perang, Kelin, Koko dan Galangen.43
Tidak berselang lama setelah pembaptisan yang dilakukan di Tanjung Beringin, tepatnya pada tanggal 24 Desember 1899, dilaksanakan penahbisan gereja pertama untuk orang Karo di Buluh Awar. Penahbisan ini diikuti oleh Pendeta Meint Joustra, Guru Injil, anggota jemaat berjumlah 56 orang, yang 17 orang diantaranya sudah dibabtis, dan 93 murid yang berasal dari seluruh sekolah yang ada.
Pembukaan pos injil yang baru dilakukan di desa Bukum yang letaknya masih berada di sekitar pusat penyebaran injil yang berada di desa Buluh Awar. Pos penginjilan yang baru ini diperuntukkan sebagai pengganti pos di desa Salabulan yang ditutup karena suatu alasan pada tanggal 9 Juni 1896.44 Pada 15 November 1896, setelah dilakukan beberapa kali penjajakan, dibukalah pos penginjilan di desa Bukum yang dipimpin oleh Guru Injil Benyamin Wenas. Pada tanggal 1 Januari 1898, diadakan penahbisan rumah Guru Injil Benamin Wenas yang dihadiri sekitar 300 orang.45
Pembukaan hubungan kembali ke dataran yang lebih tinggi mulai dilakukan pada tanggal 26-31 Agustus 1897. Yang diutus kali ini Guru Injil Tampenawas dan
45 Semua penahbisan rumah baru yang dilakukan di dataran tinggi Karo dilakukan dengan adat “mengket rumah mbaru” sebagai penghormatan kepada orang dan adat Karo.
menuju ke wilayah Karo Gugung.46 Jalur yang dilewati adalah Buluh Awar - Bukum – Berastagi – Raya – Kabanjahe – Seberaya – Suka Julu – Barus Jahe – Bukit dan kembali ke Buluh Awar.
Dalam catatan perjalanannya, Pendeta Joustra menerangkan bahwa jumlah penduduk pada saat itu di Berastagi berjumlah ±800 orang, Suka Julu ±1320 orang dan Seberaya berpenduduk ±2000 orang. Dalam perjalanannya, Joustra dan rombongan bertemu dengan pemuka pemuka adat di setiap desa yang dikunjungi. Di Berastagi, mereka berjumpa dengan Sibayak Pa Serdung dan Jaksa Pa Tetap. Di Kabanjahe mereka bertemu dengan Sibayak Pa Landas. Di desa Seberaya mereka bertemu dengan Pa Ngendit. Di Barus Jahe mereka bertemu dengan Sibayak Pa Unjuken, dan di Bukit mereka bertemu dengan pengulu Suangmin. Pertemuan yang dilakukan Joustra beserta rombongan dengan para petinggi desa ini dimaksudkan untuk membuka kembali hubungan yang sudah pernah dirintis oleh Pendeta H.C.Kruyt, dan juga membujuk para petinggi desa agar mengizinkan mereka untuk menyebarkan injil di desa itu. Namun, belum mendapatkan jawaban dari para kepala kampung maupun sibayak tersebut.
Studi banding dilakukan oleh Pendeta Joustra pada bulan Desember 1896. Studi banding ini merupakan bentuk kerja sama antara NZG dengan Rheineische Mission Gesselschaft (RMG) yang selama ini melayani di daerah Tapanuli (Pantai Barat Sumatra). RMG kemudian menjawab kerjasama tersebut dengan mengirim dua orang guru injil dari Tapanuli yang bernama Nahum Tampubolon dan Martin L. Siregar
46 M. Joustra, Mededeelingen van het Nederlandsche Zendeling Genootshap, 1897.
pada tahun 1898. Kedatangan dua guru injil ini bertujuan untuk membantu pendeta dan para guru injil untuk menginjil di semua pos injil. Disamping itu, mereka ditugaskan untuk mempersiapkan segala kebutuhan untuk pendeta RMG yang akan diperbantukan ke Dataran Tinggi Karo.
Setelah kontraknya di Sumatera Timur berakhir, maka pada tahun 1905 Pendeta Meint Joustra kembali ke Belanda. Sesampainya di Belanda, Joustra melibatkan diri dalam menghubungkan tokoh-tokoh gerakan social etis di Leiden Belanda. Pada tahun 1908 terbentuklah Bataksche Institut di Leiden, dan menunjuk Joustra sebagai menejernya. Progam dari institute ini adalah untuk meningkatkan kesejhteraan rakyat yang berada di pedalaman Sumatera Timur.