• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Grobogan. Pemilihan lokasi dilakukan dengan pertimbangan bahwa Kabupaten Grobogan merupakan daerah sentra penghasil kedelai sebagai bahan baku pembuatan tempe di Jawa Tengah. Pengambilan data lapang dilakukan pada bulan Februari dan Maret 2014.

Rancangan Penelitian

Penelitian ini berusaha menganalisis tentang perilaku wirausaha pengrajin tempe di Kabupaten Grobogan dan hubungannya terhadap kinerja usaha yang dijalankannya. Maka dari itu, metode yang digunakan adalah deskriptif metode survei. Nazir (2003) menyebutkan bahwa metode survei adalah penyelidikan yang diadakan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala yang ada dan mencari keterangan secara faktual, baik tentang institusi sosial, ekonomi, atau politik dari suatu kelompok ataupun suatu daerah. Survei dilakukan dengan mendatangi langsung para pengrajin tempe ke tempat berproduksi kemudian mewawancarai pengrajin dengan kuesioner yang telah disiapkan.

15

Gambar 2 Kerangka pemikiran operasional Populasi dan Sampel

Populasi adalah jumlah keseluruhan dari unit analisis yang akan diduga. Dalam hal ini maka yang menjadi populasi penelitian adalah seluruh pengrajin tempe yang berada di Kabupaten Grobogan. Sedangkan sampel adalah bagian suatu subjek atau objek yang mewakili populasi. Pada penelitian ini jumlah sampel yang diambil sebanyak 31 orang pengrajin tempe.

Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah Purposive Sampling

yaitu pengambilan sampel dengan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah seluruh pengrajin tempe yang berada di Dusun Pedak Desa Menduran Kecamatan Brati. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa Dusun Pedak adalah salah satu daerah sentra

Kabupaten Grobogan sebagai kabupaten pemasok kedelai di Jawa Tengah

Keterampilan Wirausaha 1. Berproduksi

2. Memasarkan produk 3. Mengelola keuangan Perilaku Wirausaha

Pengrajin tempe mampu menguasai pesar di kabupaten/kota sekitar Pengetahuan Wirausaha 1. Pengetahuan Teknis 2. Pengetahuan manajerial Kinerja Usaha 1. Pertumbuhan usaha 2. Penerimaan usaha Kesejahteraan pengusaha Sikap Wirausaha 1. Disiplin 2. Komitmen tinggi 3. Jujur

4. Kreatif dan inovatif 5. Mandiri

16

pengrajin tempe yang ada di Kabupaten Grobogan. Selain itu juga dipilih satu orang sampel yang memiliki usaha tempe percontohan yaitu ketua PRIMKOPTI Kabupaten Grobogan.

Instrumen Pengukuran Peubah

Instrumen penelitian merupakan suatu alat yang digunakan untuk mengukur dan memperoleh data terhadap variabel penelitian yang dipermasalahkan. Dalam ilmu sosial instrumen penelitian berupa pertanyaan yang disertai jawaban alternatif atau tanpa jawaban alternatif (Tika 2006). Secara ringkas instrumen yang digunakan pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel 4.

Tabel 4 Kisi-kisi instrumen penelitian

Variabel Sub variable Indikator Jumlah

Item Perilaku wirausaha (X) 1. Pengetahuan a. Pengetahuan teknis b. Pengetahuan manajerial 10 10 2. Sikap a. Disiplin b. komitmen tinggi c. jujur

d. kreatif dan inovatif e. mandiri f. realistis 5 5 4 5 5 4 3. Keterampilan a. produksi b. memasarkan produk c. mengatur keuangan 4 5 4 Kinerja usaha (Y) 1. Pertumbuhan usaha a. Peningkatan pelanggan b. Loyalitas pelanggan c. Perluasan pangsa pasar d. Peningkatan keuntungan 2 1 3 2 2. Penerimaan usaha a. Jumlah

produksi/hari (kg) x harga per Kg

17

Uji Validitas dan Reliabilitas

Validitas menunjukkan sejauh mana alat pengukuran yang digunakan mampu mengukur apa yang ingin diukur. Selanjutnya reliabilitas menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran yang digunakan relatif konsisten jika pengukuran diulang beberapa kali. Uji validitas dan reliabilitas merupakan suatu yang penting dalam penelitian sosial untuk menunjukkan ketepatan dan kekonsistenan dari kuesioner yang dipakai sehingga dapat meyakinkan bagi pembacanya dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Uji validitas pada penelitian ini diukur dengan menggunakan Product momen person yang dijalankan melalui software SPSS 16.0. Instrumen dikatakan valid jika jika r hitung > 0.361 dengan responden 30 orang. Dari hasil tersebut terdapat pertanyaan yang ternyata tidak valid, sehingga beberapa pertanyaan dalam kuesioner perlu dihilangkan. Sedangkan uji reliabilitas menggunakan

Cronbach’s Alpha dimana instrument dikatakan reliabel jika nilai Cronbach's Alpha > 0.6. kedua jenis pengujian tersebut dijalankan dengan menggunakan

software SPSS 16.0. Hasil dari uji reliabilitas dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5 Hasil uji reliabilitas kuesioner

Instrumen Cronbach's Alpha Keterangan

Sikap wirausaha 0.867 Reliabel

Keterampilan wirausaha 0.680 Reliabel

Kinerja usaha 0.857 Reliabel

Keseluruhan 0.918 Reliabel

Pengumpulan Data

Data adalah sekumpulan bukti atau fakta yang dikumpulkan dan disajikan untuk tujuan tertentu. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dengan cara menyebarkan kuesioner serta wawancara langsung kepada pengrajin tempe yang ada di Kabupaten Grobogan. Wawancara dilakukan dengan langsung menemui responden yang sedang di rumah dan membuat janji terlebih dulu dengan para responden yang sedang tidak di tempat. Wawancara dilakukan dengan berpedoman pada kuesioner yang telah dibuat sebelumnya. Pertanyaan meliputi pertanyaan terbuka dan pertanyaan tertutup. Sedangkan data sekunder diperoleh dari berbagai instansi pemerintahan Kabupaten Grobogan seperti BPS, Dinas Perdagangan dan Perindustrian, dan Primkopti Kabupaten Grobogan serta instansi lain yang diperlukan untuk data penelitian.

18

Metode Analisis Data

Metode pengolahan data dilakukan dengan dua pendekatan yaitu analisis statistik deskriptif dan analisis korelasi Pearson. Analisis statistik deskriptif merupakan analisis yang digunakan untuk menjelaskan keseluruhan data yang telah diperoleh sehingga dapat lebih mudah untuk dipahami. Analisis mampu menjelaskan berbagai karakteristik data seperti rata-rata (mean), jumlah (sum) simpangan baku (standard deviation), varians (variance), rentang (range), nilai minimum dan maksimum dan sebagainya. Pada penelitian ini Analisis Deskriftif digunakan untuk menjelaskan karakteristik pengrajin tempe termasuk perilaku dan kinerja usahanya. Analisis dijalankan dengan menggunakan software Microsoft Exel 2010.

Korelasi merupakan angka yang menunjukkan arah dan kuatnya hubungan antara dua peubah atau lebih, arah dinyatakan dalam bentuk hubungan positif atau negatif. Kuatnya hubungan dinyatakan dalam besarnya koefisien korelasi (Sugiyono 2007). Analisis Korelasi Person digunakan untuk melihat hubungan antara dua variabel yang kedua variabel tersebut memiliki jenis data berbentuk interval/rasio. Selain itu Nugroho juga menjelaskan bahwa jika sample data lebih dari 30 dan kondisi normal sebaiknya menggunakan korelasi person (karena memenuhi asumsi parametrik). Formula perhitungan korelasi ini ditemukan pertama kali oleh Karl Pearson dan sering disebut juga sebagai Moment Coefficient Correlation (Koefisien Korelasi Produk Moment). Teknik korelasi ini paling banyak digunakan pada penelitian sosial dengan angka korelasi yang disebut sebagai koefisien korelasi dinyatakan dalam lambang r. Model yang digunakan dalam analisis ini adalah sebagai berikut :

Hipotesis yang digunakan adalah sebagai berikut :

H0 : Korelasi antara dua variabel adalah sama dengan 0 H1 : Korelasi antara dua variabel adalah tidak sama dengan 0

Menurut Nugroho (2005) hasil dari perhitungan r tersebut kemudian dapat diinterpretasikan dengan pengelompokan keeratan sebagaimana yang terdapat dalam Tabel 6 sebagai berikut:

Tabel 6 Interpretasi keeratan nilai r

R Interpretasi

0.00-0.20 Sangat lemah

0.21-0.40 Lemah

0.41-0.70 Kuat

0.71-0.90 Sangat kuat 0.91-0.99 Sangat kuat sekali

19

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

Keadaan Geografis

Kabupaten Grobogan adalah salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah dengan lahan pertanian yang luas. Ibu kota kabupaten berada di Kelurahan Purwodadi Kecamatan Purwodadi. Secara geografis, wilayah Kabupaten Grobogan terletak di antara 110o15’ BT – 111o25’ BT dan 7o

LS - 7o30’ LS dengan kondisi tanah berupa daerah pegunungan kapur, perbukitan, dan dataran di bagian tengahnya. Wilayah Kabupaten Grobogan terletak di antara dua pegunungan Kendeng yang membujur dari arah barat ke timur, dan berbatasan dengan :

Sebelah Barat :Kabupaten Semarang dan Demak. Sebelah Utara :Kabupaten Kudus, Pati dan Blora. Sebelah Timur :Kabupaten Blora.

Sebelah Selatan :Kabupaten Ngawi, Sragen, Boyolali, dan Kabupaten Semarang.

Berdasarkan hasil Evaluasi Penggunaan Tanah (EPT) tahun 1983 Kabupaten Grobogan mempunyai luas 1975.86 Ha dan merupakan kabupaten terluas nomor 2 di Jawa Tengah setelah Kabupaten Cilacap. Jarak dari utara ke selatan ± 37 km dan jarak dari barat ke timur ± 83 km.

Secara administratif Kabupaten Grobogan terdiri dari 273 desa dan 7 kelurahan yang tersebar di 19 kecamatan yaitu Kedungjati, Karangrayung, Penawangan, Toroh, Geyer, Pulokulon, Kradenan, Gabus, Ngaringan, Wirosari, Tawangharjo, Grobogan, Purwodadi, Brati, Klambu, Godong, Gubug, Tegowanu, Tanggungharjo. Kecamatan terbesar adalah Kecamatan Geyer dengan luas 196.19 Km² (9.9%), sedangkan yang terkecil Kecamatan Klambu dengan luas 46.56 Km² (2.2%) dengan Ibukota kabupaten terletak di Kecamatan Purwodadi.

Keadaan Demografis

Penduduk Kabupaten Grobogan pada akhir tahun 2012 menurut data dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil berjumlah 1.433.361 jiwa. Dibandingkan dengan kondisi akhir tahun 2011 (yang tercatat sebesar 1.423.261 jiwa) terdapat penambahan penduduk sebanyak 10.100 jiwa atau 0.71% (BPS 2013). Dari hasil angka registrasi diperoleh rasio jenis kelamin penduduk Kabupaten Grobogan sebesar 98.60. Hal ini menggambarkan bahwa jumlah penduduk wanita lebih banyak dari pada penduduk laki-laki.

Penduduk Kabupaten Grobogan, sebagian besar tinggal di daerah pedesaan. Sesuai potensi daerah yang agraris maka mata pencaharian penduduk Kabupaten Grobogan sebagian besar bekerja di bidang pertanian, baik sebagai buruh tani atau petani penggarap. Sedangkan sebagian lainnya bekerja sebagai Pegawai, pedagang, dan lain‐lain. Adapun komposisi jenis pekerjaan penduduk Kabupaten Grobogan menurut BPS 2013 tercatat bahwa yang bekerja di bidang pertanian mencapai 52.5%, diikuti bidang perdagangan 17.4%, angkutan 8.6%, dan sisanya berada pada sector jasa, perkebunan, industry, perikanan, dan sebagainya.

20

Keadaan Ekonomi

Sebagai daerah pertanian terluas ke dua di Jawa Tengah ternyata tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pendapatan penduduknya. Minimnya lapangan kerja serta kurang berpihaknya pemerintah terhadap pertanian menjadikan keadaan ekonomi masyarakat di Kabupaten Grobogan sebagian besar masih berada pada golongan menengah ke bawah. Hal ini terlihat dari jumlah penduduk miskin yang berada di Grobogan (Tabel 7). Namun tingkat kemiskinan yang terjadi di Kabupaten Grobogan setiap tahun mengalami penurunan. Pada tahun 2010 penduduk miskin sebesar 17.86 % kemudian menurun pada tahun 2012 menjadi 16.13 % dari total penduduk sebesar 1.433.361 jiwa. Hal ini disebabkan oleh pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah daerah telah berjalan dengan baik sehingga masyarakat dapat merasakan langsung dampak dari adanya program tersebut.

Tabel 7 Perkembangan penduduk miskin di Kabupaten Grobogan tahun 2010-2012

URAIAN 2010 2011 2012 2013*)

Penduduk Miskin (%) 17.86 17.38 16.13

Penduduk Miskin (jiwa) 252.422 247.363 231.201 Total Penduduk (jiwa) 1.413.336 1.423.261 1.433.361

Sumber : Bappeda Kabupaten Grobogan 2013

Berdasarkan pertumbuhan PDRB Kabupaten Grobogan Tahun 2010-2013 dapat dikatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Kabupaten Grobogan Tahun 2013 mengalami pertumbuhan positif. Hal ini ditunjukkan dari pertumbuhan PDRB atas dasar harga berlaku sebesar 11.04 dan atas dasar harga konstan sebesar 4.59. Hal ini ditunjukkan dari angka pertumbuhan PDRB dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2013 sebagaimana terlihat dalam Tabel 8.

Tabel 8 Pertumbuhan PDRB Kabupaten Grobogan tahun 2010-2013

PDRB Tahun 2010 Tahun 2011 Tahun 2012 Tahun 2013 Atas Dasar Harga Berlaku 12.75 9.88 12.66 11.04 Atas Dasar Harga Konstan 5.05 3.59 6.16 4.59

Sumber : Grobogan.co.id (data tahun 2013 merupakan angka sementara)

Potensi Daerah

Pertanian lekat dengan Kabupaten Grobogan, kabupaten ini pun dikenal sebagai lumbung padi nasional, bahkan sebagai tempat lahirnya varietas tanaman jenis baru. Sebagian besar penduduknya (±53%) menggantungkan hidupnya pada

21 bidang pertanian ini dan kontribusi terbesar terhadap PDRB Kabupaten Grobogan juga berasal dari lapangan usaha tersebut. Namun sayangnya, petani di Kabupaten cenderung terfokus pada produksi pertanian saja. Hampir seluruh hasil pertaniannya berlarian ke luar wilayah masih dalam bentuk hasil produksi.

Produk unggulan adalah produk yang mempunyai keunggulan dari segi produksi, kontinuitas dan daya saing sehingga diterima oleh masyarakat dan menarik investor. Sesuai kondisi geografis/potensi wilayah yang ada, produk unggulan di Kabupaten Grobogan adalah padi, jagung, kedelai, dan batu kapur, mebel serta genteng press.

Salah satu potensi yang dapat dikejar dari Grobogan adalah menjadi pemasok kedelai di Jawa Tengah. Hal ini dikarenakan produktivitas kedelai di Kabupaten Grobogan sangatlah tinggi dibanding kota/kabupaten lain di Jawa Tengah. Produksi kedelai di Kabupaten Grobogan dari tahun ke tahun dapat dilihat dalam Tabel 9 berikut.

Tabel 9 Produksi kedelai di Kabupaten Grobogan tahun 2009-2012 No Tahun Produksi (ton) Luas lahan (ha)

1 2009 46341 18604

2 2010 78164 32893

3 2011 14899 7350

4 2012 65114 27170

Sumber : BPS Kab. Grobogan 2013

Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa produksi kedelai di Kabupaten Grobogan berfluktuasi dari tahun ke tahun. Produksi tertinggi terjadi pada tahun 2010 yang mencapai 78.160 ton. Fluktuasi tersebut dikarenakan bebagai hal diantaranya harga yang tidak stabil dan keadaan alam berupa hama dan penyakit. Harga yang rendah membuat petani kedelai beralih ke berbagai jenis produk hortikultura lain yang memiliki harga relatif lebih konstan seperti jagung dan padi. Selain produk unggulan Kabupaten Grobogan juga memiliki produk andalan yaitu produk yang dapat diandalkan oleh suatu daerah karena banyak diusahakan oleh masyarakat setempat dan mempunyai prospek pasar yang cerah, diantaranya adalah sapi bibit, sale pisang, melon merah, kecap, paha katak, sarang burung wallet, dan kerajinan alat pertanian.

Keadaan Pengrajin Tempe

Meskipun termasuk sentra penghasil kedelai, jumlah pengrajin tempe yang ada di Kabupaten Grobogan tidak terlalu banyak. Menurut data Dinas Perindustrian Kabupaten Grobogan setidaknya hanya terdapat 382 pengrajin tempe yang tersebar diberbagai Kecamatan diantaranya : Kecamatan Grobogan, Toroh, Geyer, Kradenan, Gabus, Ngaringan, Tawangharjo, Brati, Godong, Gubug, Karangrayung, Kedungjati, dan Tanggungharjo. Para pengrajin ini rata-rata termasuk ke dalam usaha kecil menengah dengan teknologi yang sederhana.

Pengrajin tempe Kabupaten Grobogan telah membentuk Primer Koperasi Tahu dan Tempe Indonesia (Primkopti) sejak tahun 1983. Pembentukan Primkopti tersebut ditujukan untuk membantu para pengrajin tempe dalam mendapatkan

22

bahan baku kedelai yang sebagian besar berasal dari kedelai impor. Primkopti kemudian menjadi satu-satunya tempat penampungan kedelai impor yang selanjutnya dikirim ke berbagai daerah di Grobogan.

Kendala terbesar yang dihadapi dalam pembuatan tempe menurut ketua Primkopti Grobogan adalah tenaga kerja dan pemasaran. Tenaga kerja dalam pembuatan tempe merupakan komponen yang sangat vital dalam menentukan kualitas dari tempe. Dijelaskan lebih lanjut bahwa pada saat perebusan tempe harus pas, jika terlalu lama maka hasilnya akan kurang bagus, begitu pula jika terlalu sebentar. Selain itu kebersihan dalam mencuci kedelai yang telah direbus juga ikut mempengaruhi rasa dan ketahanan dari tempe tersebut.

Pemasaran menjadi suatu hal yang penting karena permintaan serta persaingan yang terjadi begitu besar. Sangat mudah bagi pelanggan untuk beralih ke pedagang yang lain jika pelayanan yang diberikan tidak memuaskan. Meskipun tempe sendiri dapat bertahan selama 3 hari dengan penyimpanan yang baik, namun harus diusahakan dalam satu hari harus sudah habis agar tidak menanggung risiko produk menjadi busuk.

Penggunaan label pada plastik kemasan tempe pernah dilakukan oleh hampir seluruh pengrajin tempe dengan merek “Tempe Bersemi Grobogan”. Hal ini dilakukan karena kualitas dan rasa dari tempe produksi Grobogan sudah memiliki nama dipasar luar daerah. Namun belakangan nama tersebut dihapus oleh seluruh pengrajin lantaran terdapat oknum yang memproduksi tempe dengan hasil kurang baik.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dokumen terkait