• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian ini dilakukan pada Kelompok Wanita Tani Teratai Indah, salah satu kelompok yang melakukan usaha pengolahan sirup sawo di Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau. Lokasi penelitian dipilih secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa usaha pengolahan sirup sawo ini merupakan pionir dan baru berjalan kurang dari satu tahun, sehingga dibutuhkan analisis kelayakan untuk melihat layak atau tidak bisnis dijalankan dan prospek usaha tersebut ke depan. Pengambilan data di lapangan dilaksanakan pada bulan Oktober-November 2014.

Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Rincian data yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3 Rincian jenis dan sumber data

No Jenis Data Sumber Informasi

1. Aspek pasar dan pemasaran

 Data tentang kesediaan masyarakat untuk

membeli produk sirup sawo yang dihasilkan KWT Teratai Indah.

 Strategi pemasaran produk sirup

Masyarakat sebagai pasar sasaran

2. Aspek teknis dan teknologi

 Faktor yang menjadi pertimbangan dalam

pemilihan lokasi usaha, yaitu ketersediaan bahan baku, letak pasar yang dituju, sumber listrik dan air, dan transportasi

 Hal-hal yang berkaitan dengan skala

produksi seperti: kapasitas produksi,

kapasitas mesin, dan jumlah tenaga kerja

 Proses produksi dan layout bangunan

Ketua KWT Teratai Indah dan Penyuluh Lapang

3. Aspek manajemen dan sumber daya manusia

 Struktur organisasi, rincian tugas dan

kewajiban setiap jabatan (job description)

 Jumlah tenaga kerja yang digunakan

Ketua KWT Teratai Indah

4. Aspek hukum dan perizinan

 Badan hukum usaha

 Perizinan produk dan usaha

Ketua KWT Teratai Indah

5. Aspek sosial dan lingkungan

 Penambahan kesempatan kerja

 Dampak limbah usaha terhadap lingkungan

Ketua KWT Teratai Indah

6. Aspek keuangan

 Sumber dana yang digunakan

 Jenis item dan biaya investasi

 Umur ekonomis setiap item investasi

 Rincian biaya operasional

Ketua KWT Teratai Indah

Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan metode wawancara dan survei. Kedua metode tersebut digunakan untuk mengumpul informasi yang berhubungan dengan data primer menggunakan bantuan kuesioner. Wawancara dilakukan pada ketua KWT Teratai Indah dan Penyuluh Lapang. Alasan memilih ketua KWT Teratai Indah dan Penyuluh Lapang karena dianggap lebih mengetahui tentang usaha pengolahan sirup sawo. Survei dilakukan pada calon

konsumen sirup sawo. Penentuan responden menggunakan metode non

probability sampling yaitu convinience sampling. Convinience sampling

digunakan untuk responden calon konsumen yang dipilih berdasarkan ketersedian dan kemudahan dalam mendapatkannya. Jumlah keseluruhan responden sebanyak 70 orang yang diambil pada beberapa tempat seperti perkantoran Pemerintah Daerah Kabupaten Kuantan Singingi, pasar swalayan dan perumahan. Penentuan sampel responden tersebut berdasarkan pada kemampuan peneliti dalam

pengambilan data di lokasi penelitian. Umar (2000) menyatakan bahwa ukuran

minimum sampel yang dapat diterima berdasarkan desain penelitian yang menggunakan metode deskriptif-korelasional minimal adalah 30 responden. Data sekunder diperoleh dari Dinas Tanaman Pangan, dan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kuantan Singingi yang diminta secara langsung dengan sebelumnya menyampaikan surat pengantar untuk pengambilan data.

Metode Analisis Data Aspek Pasar dan Pemasaran

Analisis data yang digunakan pada aspek pasar dan pemasaran adalah analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis ini digunakan untuk mendeskripsikan potensi pasar, penilaian konsumen terhadap atribut produk dan strategi pemasaran yang akan dijalankan. Potensi pasar merupakan gambaran permintaan produk yang mungkin akan dibeli oleh calon konsumen. Untuk mengetahui potensi pasar dan kemungkinan permintaan dilakukan survei langsung dengan mengisi kuesioner yang terdiri dari karakteristik responden, perilaku konsumen dalam membeli dan keinginan konsumen untuk membeli sirup sawo.

Penilaian konsumen terhadap atribut produk dilakukan dengan metode

analisis Important and Performance Analysis (IPA). Metode ini digunakan untuk

menganalisis tingkat kepuasan konsumen dengan cara membandingkan kesesuaian antara tingkat kepentingan dan tingkat kinerja dari atribut produk sirup sawo. Atribut produk yang dijadikan dasar pengukuran tingkat kepentingan dan tingkat kinerja yaitu rasa manis, rasa khas buah sawo, aroma buah sawo, warna sirup sawo, volume produk, desain kemasan, bentuk kemasan, label halal MUI, izin Dinkes/BPOM, kejelasan tanggal kadaluarsa, dan informasi nilai gizi.

Dalam metode ini digunakan dua variabel, yaitu variabel X yang mewakili tingkat kinerja dan variabel Y yang mewakili tingkat kepentingan (harapan). Skor

penilaian terhadap kedua variabel tersebut menggunakan skala Likert (Tabel 4).

Pilihan jawaban disusun berjenjang dari pilihan sangat tidak penting (1) sampai pilihan sangat penting (5) untuk tingkat kepentingan dan pilihan sangat tidak baik (1) sampai pilihan sangat baik (5) untuk tingkat kinerja.

Tabel 4 Skor penilaian tingkat kinerja dan tingkat kepentingan

Skor Tingkat Kinerja (X) Tingkat Kepentingan (Y)

1 Sangat Tidak Baik Sangat Tidak Penting

2 Tidak Baik Tidak Penting

3 Cukup Baik Cukup Penting

4 Baik Penting

5 Sangat Baik Sangat Penting

Perhitungan nilai total tingkat kepentingan dan tingkat kinerja masing- masing atribut dilakukan dengan mengalikan skor dengan jumlah jawaban responden. Selanjutnya nilai total masing-masing atribut dirata-ratakan dengan membagi sebanyak jumlah responden. Nilai rata-rata atribut pada tingkat kepentingan dan tingkat kinerja digunakan untuk pemetaan pada diagram

cartesius berikut: Kepentingan (Y)

Kuadran I Kuadran II

Prioritas Utama Pertahankan Prestasi

Kuadran III Kuadran IV

Prioritas Rendah Berlebihan

Kinerja (X)

Gambar 3 Diagram cartesius Importance and Performance Analysis

Sumber : Umar (2000)

a. Kuadran I (prioritas utama) merupakan kuadran yang memuat atribut yang

dianggap penting oleh konsumen namun kinerja dari atribut tersebut belum sesuai dengan harapan konsumen sehingga konsumen tidak puas. Atribut pada kuadran ini menjadi prioritas utama untuk diperbaiki.

b. Kuadran II (pertahankan prestasi) merupakan kuadran yang memuat atribut

yang dianggap penting oleh konsumen dan kinerja dari atribut tersebut sudah sesuai dengan harapan sehingga konsumen merasa puas dan atribut tersebut harus dipertahankan.

c. Kuadran III (prioritas rendah) merupakan kuadran yang memuat atribut

yang dianggap kurang penting oleh konsumen dan kinerja dari atribut pun tidak begitu baik sehingga belum menjadi prioritas untuk diperbaiki.

d. Kuadran IV (berlebihan) merupakan kuadran yang memuat atribut yng

dianggap kurang penting oleh konsumen namun kinerja dari atribut tersebut sangat baik sehingga konsumen merasa puas.

Metode lain yang juga digunakan untuk mengukur tingkat kepuasan

tingkat kepuasan konsumen secara keseluruhan dari atribut produk sirup sawo. Langkah-langkah dalam mengukur CSI sebagai berikut:

1. Menghitung Weighting Factor (WF), yaitu mengubah nilai rata-rata

kepentingan menjadi angka presentase dari total rata-rata tingkat kepentingan seluruh atribut yang diuji, sehingga diperoleh total WF 100 persen.

2. Menghitung Weighting Score (WS), yaitu perkalian antara nilai rata-rata

tingkat kinerja masing-masing atribut dengan WF masing-masing atribut.

3. Menghitung Weighting Total (WT), yaitu menjumlahkan WS dari semua

atribut.

4. Menghitung Satisfaction Index yaitu WT dibagi skala maksimal yang

digunakan dalam penelitian ini yaitu empat (5) kemudian dikalikan dengan 100 persen.

Tingkat kepuasan konsumen secara keseluruhan dapat dilihat dari kriteria tingkat kepuasan dalam rentang skala. Rentang skala yang digunakan pada penelitian ini berkisar antara 0-100 persen. Menurut Simamora (2010) yang diacu dalam Itradi (2013), rumus rentang skala yang digunakan adalah:

RS =m − nb

Keterangan : m = skor tertinggi n = skor terendah

b = jumlah kelas atau kategori yang dibuat Rentang skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

RS = % − %

5 = %

0 % - 20% = Sangat Tidak Puas

21% - 40% = Tidak Puas

41% - 60% = Cukup Puas

61% - 80% = Puas

81% - 100% = Sangat Puas

Strategi pemasaran terdiri dari tiga tahap, yaitu penetapan segmentasi pasar (segmenting), penetapan pasar sasaran (targeting), dan penetapan posisi pasar (positioning) (Kotler 1997 dalam Suliyanto 2010). Setelah mengetahui segmen pasar, target pasar dan posisi pasar maka selanjutkan dibuat strategi bauran pemasaran yang merupakan kombinasi dari empat variabel inti dari sistem

pemasaran yaitu (1) Product (produk), (2) Price (harga), (3) Promotion (promosi)

dan (4) Place (tempat/distibusi). Aspek pasar dan pemasaran dinyatakan layak

jika memenuhi kriteria sebagai berikut (Suliyanto 2010) :

 KWT Teratai Indah dapat menghasilkan produk yang dapat diterima pasar

(dibutuhkan dan diinginkan oleh calon konsumen) dengan tingkat penjualan yang menguntungkan.

 KWT Teratai Indah memiliki strategi pemasaran yang efektif untuk

mencapai penjualan yang lebih tinggi.

Aspek Teknis dan Teknologi

Analisis data yang digunakan pada aspek teknis dan teknologi adalah analisis kualitatif. Analisis kualitatif pada penilaian lokasi usaha, pemilihan

peralatan, mesin dan teknologi, proses produksi, skala produksi dan layout

bangunan didasarkan pada penilaian subjektif berdasarkan hasil wawancara di lapangan (Suliyanto 2010). Untuk membantu melakukan survei tentang kondisi teknis dan teknologi, digunakan pedoman survei (Tabel 5) dimana hasil survei disajikan dengan mendeskripsikan kondisi di lapangan.

Tabel 5 Pedoman observasi aspek teknis dan teknologi

No Objek Survei Hasil Wawancara

1. Kondisi ketersediaan bahan baku

2. Kondisi sumber air dan listrik

3. Kondisi ketersediaan tenaga kerja

4. Kondisi sarana transportasi

5. Kondisi mesin, peralatan, dan teknologi yang

digunakan

6. Skala produksi

7. Layout tempat usaha

Aspek teknis dan teknologi dinyatakan layak jika memenuhi kriteria sebagai berikut (Suliyanto 2010) :

 Lokasi usaha mampu mendukung kelancaran usaha seperti ketersediaan

bahan baku yang cukup, letak pasar dekat, tersedianya sumber air dan listrik, tersedianya sarana transportasi serta tersedianya tenaga kerja.

 Skala produksi menguntungkan dan dapat menutupi seluruh biaya

 Proses produksi sesuai standar yang ditetapkan oleh Dinas Tanaman Pangan

Kabupaten Kuantan Singingi

 Pemilihan peralatan yang tepat

 Adanya penataan layout yang memperlancar alur produksi

Aspek Manajemen dan Sumber Daya Manusia

Analisis data yang digunakan pada aspek manajeman dan sumber daya manusia adalah analisis kualitatif. Analisis kualitatif digunakan untuk menganalisis bentuk struktur organisasi yang dijalankan KWT Teratai Indah, menganalisis kesesuaian jabatan dengan deskripsi kerja, serta ketersedian tenaga kerja untuk menjalankan usaha pengolahan sawo. Aspek manajemen dan sumber daya manusia dinyatakan layak jika KWT Teratai Indah memiliki struktur organisasi dengan pembagian tugas yang jelas, serta tersedianya tenaga kerja yang memadai untuk menjalankan usaha.

Aspek Hukum dan Perizinan

Analisis data yang digunakan pada aspek hukum dan perizinan adalah analisis kualitatif, yaitu membandingkan secara kualitatif antara ketentuan hukum dengan kemampuan pelaku bisnis dalam memenuhi ketentuan tersebut, dan persyaratan perizinan dan kemampuan memenuhi persyaratan perizinan tersebut. Aspek hukum dinyatakan layak jika KWT Teratai Indah mampu memenuhi ketentuan hukum dan perizinan yang berlaku seperti badan usaha dan perizinan usaha seperti SIUP, TDP, NPWP, izin Depkes dan sebagainya (Suliyanto 2010).

(Bt – Ct) > 0 (Bt – Ct) < 0 Aspek Sosial dan Lingkungan

Analisis data yang digunakan pada aspek sosial dan lingkungan adalah analisis kualitatif. Analisis ini digunakan untuk mendeskripsikan dampak usaha usaha terhadap lingkungan sosial maupun lingkungan ekologi. Aspek sosial dan lingkungan dinyatakan layak jika usaha mampu menambah kesempatan kerja atau pengurangan pengangguran dan adanya bisnis tidak memberikan dampak buruk

bagi lingkungan sekitar (Nurmalina et al. 2009).

Aspek Keuangan

Analisis data yang digunakan pada aspek keuangan adalah analisis kuantitatif dengan memperhitungkan seluruh biaya baik biaya investasi maupun biaya operasional selama menjalankan usaha pengolahan sirup sawo. Selanjutnya dari informasi biaya-biaya tersebut disusunlah cash flow dan laporan laba rugi yang akan dijadikan acuan dalam menentukan kelayakan berdasarkan kriteria

investasi. Menurut Nurmalina et al (2009), aspek keuangan dinyatakan layak jika

memenuhi kriteria kelayakan investasi sebagai berikut : 1. Net Present Value (NPV)

Net Present Value atau nilai kini manfaat bersih adalah selisih antara total

present value manfaat dengan total present value biaya, atau jumlah present value dari manfaat bersih tambahan selama umur bisnis. Secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut :

��� = ∑ � − �+ �

� �= Dimana :

Bt = Manfaat pada tahun t (Rp)

Ct = Biaya pada tahun t (Rp)

t = Tahun kegiatan bisnis (t =1,2,3,…,n) i = Tingkat suku bunga (%)

n = Umur proyek

Nilai yang dihasilkan oleh perhitungan NPV adalah dalam satuan mata uang (Rp). Suatu bisnis dinyatakan layak jika nilai NPV lebih besar dari 0 (NPV>0) yang artinya bisnis menguntungkan dan memberikan manfaat dan sebaliknya jika NPV lebih kecil dari 0 (NPV<0) maka bisnis tersebut tidak layak dijalankan.

2. Net Benefit-Cost Ratio (Net B/C)

Net B/C ratio adalah rasio antara manfaat bersih yang bernilai positif dengan

manfaat bersih bernilai negatif. Net B/C ratio menggambarkan manfaat bersih

yang menguntungkan bisnis yang dihasilkan setiap satu satuan kerugian dari bisnis tersebut. Secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut :

∑� �− �+� �=

NET B / C =

∑� �− �+� �=

Dimana :

Bt = Manfaat pada tahun t (Rp)

Ct = Biaya pada tahun t (Rp)

i = Tingkat suku bunga (%)

t = Tahun kegiatan bisnis (t = 1,2,3,…n)

n = Umur proyek

Apabila Net B/C lebih besar dari 1 maka bisnis layak untuk dijalankan,

sebaliknya apabila lebih kecil dari 1 maka bisnis tidak layak untuk dijalankan. 3. Internal Rate of Return (IRR)

Internal Rate of Return (IRR) adalah tingkat discount rate yang menghasilkan NPV sama dengan 0. Perhitungan IRR digunakan untuk mengetahui persentase keuntungan dari suatu bisnis tiap tahunnya dan menunjukkan kemampuan bisnis dalam mengembalikan investasi yang ditanamkan. Secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut :

��� = � +��� − ��� � ���� −�

Dimana :

i1 = Tingkat suku bunga yang menghasilkan NPV positif

i2 = Tingkat suku bunga yang menghasilkan NPV negatif

NPV1 = NPV positif

NPV2 = NPV negatif

Sebuah bisnis dikatakan layak jika nilai IRR yang diperoleh bisnis tersebut lebih besar dari tingkat diskonto. Sedangkan jika nilai IRR yang diperoleh lebih kecil dari tingkat diskonto, maka bisnis tersebut tidak layak untuk dilaksanakan.

4. Payback Period (PP)

Payback Period (PP) merupakan suatu periode yang diperlukan untuk menutup kembali pengeluaran investasi yang didanai dengan aliran kas. Semakin cepat investasi modal dapat kembali, maka semakin baik suatu bisnis diusahakan karena modal yang kembali dapat digunakan untuk membiayai kegiatan yang lainnya. Apabila selama bisnis dapat mengembalikan modal sebelum berakhimya umur bisnis, maka bisnis tersebut masih dapat dilaksanakan. Akan tetapi, jika sampai saat bisnis berakhir dan belum dapat mengembalikan modal yang digunakan, maka sebaiknya bisnis tersebut tidak dilaksanakan. Kelemahan utama metode ini yaitu metode ini tidak memperhatikan konsep nilai waktu dari uang di samping juga tidak

memperhatikan aliran kas masuk setelah payback. Metode Payback Period

merupakan metode pelengkap penilaian investasi. Secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut :

� � � � ��� = �

Dimana :

I = besarnya biaya investasi yang diperlukan

Analisis Nilai Pengganti ( Switching Value Analysis)

Analisis switching value digunakan untuk mengukur perubahan maksimum

dari perubahan suatu komponen inflow atau perubahan komponen outflow yang

masih dapat ditoleransi agar bisnis tetap layak. Analisis switching value

digunakan karenakan perubahan yang terjadi dalam usaha pengolahan sirup sawo belum terjadi, sehingga penentuan komponennya didasarkan pada hal-hal yang sangat mempengaruhi usaha seperti penurunan jumlah produksi dan peningkatan

harga bahan baku. Perhitungan pada analisis switching value dilakukan dengan

cara mengubah besarnya variabel dengan persentase tertentu sampai dengan nilai NPV sama dengan nol (NPV=0). Kemudian dinilai seberapa besar sensitivitas perubahan variabel-variabel tersebut berdampak pada kelayakan (NPV, IRR, Net

B/C) (Nurmalina et al. 2009).

Dokumen terkait