Penelitian ini dilaksanakan di desa-desa yang berada di Kecamatan Lembang dan merupakan Wilayah Kerja KPSBU Lembang Kabupaten Bandung pada bulan Juli hingga September tahun 2007. Kecamatan Lembang ini ditetapkan karena memiliki populasi sapi perah terbanyak di tingkat Jawa Barat dan sebagian besar masyarakatnya melakukan usaha peternakan sapi perah.
Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini berjumlah 5.894 peternak yang tersebar di Kecamatan Lembang dan merupakan anggota Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU) yang masih aktif sebagai anggota. Metode pengambilan sampel menggunakan metode Cluster Random Sampling. Penentuan jumlah sampel diperoleh dengan menggunakan rumus Slovin.
Keterangan :
n = Jumlah sampel N = Jumlah populasi e = Taraf eror
Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan rumus Slovin (taraf eror 6,5%) diperoleh jumlah sampel untuk dianalisis berjumlah 229 sampel. Sampel yang dianalisis terbagi ke dalam 20 Tempat Pelayanan Koperasi (TPK), 20 TPK tersebut dibagi kembali menjadi tiga wilayah kerja, yakni Wilayah Kerja Barat, Tengah dan Timur. Responden Wilayah Kerja Barat berjumlah 62 peternak tersebar pada TPK Manoko, Citespong, Pojok, Pasar Kemis, Barunagri, Pamecelan, Keramat dan Nagrak. Responden Wilayah Kerja Tengah berjumlah 99 peternak tersebar pada TPK Genteng, Pasir Ipis, Pencut, Bukanagara, Pagerwangi, Cibodas dan Suntenjaya.
Responden Wilayah Kerja Timur berjumlah 68 peternak tersebar pada TPK Gunung Putri, Cilumber, Cibogo, Cikawari dan Cibedug.
Desain Penelitian
Penelitian ini dirancang sebagai suatu penelitian survey yaitu penyelidikan yang diadakan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan
n =
(
1+NNe2)
mencari keterangan-keterangan secara faktual, baik tentang institusi sosial, ekonomi, dan politik dari suatu kelompok ataupun suatu daerah. Penyelidikan dilakukan dalam waktu yang bersamaan terhadap sejumlah individu atau unit, baik secara sensus atau dengan menggunakan sampel (Nazir, 1999)
Data dan Instrumentasi
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder meliputi data kualitatif dan data kuantitatif. Data primer adalah data yang diperoleh dari hasil pengamatan di lapangan dan diperoleh melalui wawancara dengan peternak yang terpilih menjadi responden dan juga dengan pihak-pihak yang terlibat dalam penelitian. Wawancara dilakukan dengan berpedoman pada daftar pertanyaan yang telah disusun secara terstruktur dan dipersiapkan terlebih dahulu, untuk memperoleh gambaran tentang masukan, keluaran, serta besarnya kegiatan usaha peternakan sapi perah, kegiatan usaha ternak non sapi perah, kegiatan usaha tani, dan kegiatan diluar usaha tani dan usaha ternak.
Data sekunder adalah data yang diperoleh melalui pengumpulan dari bahan tertulis atau pustaka yang dapat dipercaya dan berhubungan dengan penelitian berupa hasil penelitian, dan data-data pendukung lainnya yang diperoleh dari instansi yang terkait seperti Dinas Peternakan Kabupaten Bandung, Kantor Kecamatan Lembang, Kantor KPSBU Lembang dan literatur yang relevan dengan penelitian yang dilakukan.
Pengumpulan Data
Pengumpulan data primer dilakukan di Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung selama tiga bulan yaitu dari bulan Juli hingga September 2007. Data yang mendukung penelitian yang berasal dari dinas-dinas terkait dikumpulkan secara bersamaan sehingga mencukupi kebutuhan penelitian.
Analisis Data
Secara keseluruhan penelitian ini menggunakan analisis deskriptif untuk menggambarkan objek penelitian secara lengkap. Analisis ini meliputi gambaran kondisi usaha peternakan sapi perah di Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung, berupa deskripsi karakteristik peternak, tatalaksana usaha peternakan sapi perah, pendapatan peternak dari usahaternak sapi perah, pendapatan usahatani selain
usahaternak sapi perah, pendapatan usahaternak selain ternak sapi perah, pendapatan di luar usahatani, pendapatan rumah tangga peternak, dan kontribusi pendapatan usahaternak sapi perah terhadap pendapatan rumah tangga peternak.
Analisis Pendapatan Usahaternak Sapi Perah
Pendapatan usahaternak sapi perah merupakan hasil pengurangan dari penerimaan yang diperoleh dengan biaya yang dikeluarkan dalam usahaternak sapi perah tersebut. Penerimaan yang diperoleh dari usahaternak sapi perah dibedakan atas peneriamaan tunai dan tidak tunai. Penerimaan tunai meliputi nilai penjualan susu, ternak sapi perah dan hasil sampingan, sedangkan penerimaan tidak tunai meliputi nilai susu yang dikonsumsi oleh keluarga peternak serta perubahan nilai ternak.
Biaya yang digunakan dalam usaha ternak sapi perah juga dibedakan atas biaya tunai dan tidak tunai. Biaya tunai dibedakan lagi menjadi biaya tetap tunai dan biaya variabel tunai. Biaya tetap tunai meliputi biaya air, listrik (untuk usahaternak sapi perah), telepon (untuk usahaternak sapi perah), sewa dan pajak lahan, serta perawatan kandang, selanjutnya biaya variabel tunai meliputi biaya pakan (hijauan dan penguat), vaselin dan minyak tanah, perlengkapan dan tenaga kerja upahan.
Biaya tidak tunai juga dibedakan menjadi biaya tetap tidak tunai dan biaya variabel tidak tunai. Biaya tetap tidak tunai meliputi biaya penyusutan (kandang, peralatan dan ternak), sedangkan biaya variabel tidak tunai adalah biaya tenaga kerja keluarga.
Model analisis pendapatan yang akan digunakan dalam pengolahan data disajikan pada Tabel 1.
Analisis Pendapatan Rumah Tangga Peternak
Untuk mengetahui besarnya pendapatan rumah tangga peternak, dilakukan penjumlahan antara pendapatan dari usahaternak sapi perah, pendapatan usahatani selain usahaternak sapi perah, dan pendapatan di luar usahatani. Persamaan yang digunakan adalah sebagai berikut :
Y = X1 + X2 + X3 Keterangan :
Y = pendapatan rumah tangga peternak (Rp/peternak/tahun) X1 = pendapatan usaha ternak sapi perah (Rp/peternak/tahun)
X2 = pendapatan usahatani selain usahaternak sapi perah (Rp/keluarga/tahun) X3 = pendapatan diluar usahatani (Rp/keluarga/tahun).
Perhitungan pendapatan dari sumber lain selain usahaternak sapi perah dilakukan sebagai berikut :
1. Pendapatan dari usahatani selain usahaternak sapi perah diperoleh dengan mengurangkan penerimaan total usaha dengan biaya yang dikeluarkan untuk selain usahaternak sapi perah tersebut,
2. Pendapatan dari luar usahatani, meliputi pendapatan dari usaha dagang, wiraswasta, buruh tani, pegawai negeri, dsb :
a) Usaha dagang dan wiraswasta diperoleh dengan menilai besarnya pendapatan dalam sebulan sesuai dengan jawaban peternak.
b) Buruh tani dihitung dari jumlah hari kerja dalam sebulan dikalikan dengan upah perhari atau berdasarkan upah per bulan yang diperoleh (jika upah yang diperoleh adalah upah bulanan),
c) Pegawai negeri diperoleh dari pendapatan bersih yang dibawa pulang peternak sesuai dengan golongan kepegawaian atau jabatan yang bersangkutan.
Analisis Kontribusi Pendapatan Usahaternak Sapi perah terhadap Pendapatan Rumah Tangga Peternak
Kontribusi pendapatan usahaternak sapi perah terhadap pendapatan rumah tangga peternak dapat dihitung dengan menggunakan persamaan :
Keterangan :
KP =kontribusi pendapatan usahaternak sapi perah terhadap pendapatan rumah tangga peternak (%)
X = pendapatan bersih usahaternak sapi perah (Rp/peternak/tahun), dan Y = pendapatan rumah tangga peternak (Rp/peternak/tahun)
KP = Y
X x 100%
Tabel 1. Model Perhitungan Pendapatan Usahaternak Sapi Perah Wilayah Kerja Uraian
Tunai Tidak tunai Inventaris Total Penerimaan
1. Rumah tangga peternak adalah seorang atau sekelompok orang yaitu peternak, istrinya, dan anak-anaknya yang mendiami sebagian atau seluruh bangunan fisik dan tinggal bersama serta makan dari satu dapur.
2. Pendapatan usahaternak sapi perah adalah selisih antara penerimaan usahaternak sapi perah dengan total pengeluaran (biaya variabel dan biaya tetap) selama satu tahun meliputi penerimaan dan biaya yang bersifat tunai maupun non tunai.
3. Pendapatan rumah tangga peternak sapi perah adalah penjumlahan pendapatan dari berbagai usaha yang dijalankan, seperti usahaternak sapi perah, usahatani selain beternak, usahaternak selain sapi perah, dan usaha non pertanian selama satu tahun.
Sumber : Soekartawi et al. (1986)
4. Perubahan nilai ternak adalah selisih antara nilai ternak pada akhir tahun dengan nilai ternak pada awal tahun.
5. Penyusutan adalah penurunan nilai inventaris yang disebabkan oleh pemakaian selama tahun pembukuan, seperti penyusutan peralatan, kandang, dan ternak.
6. Usaha pokok adalah suatu usaha yang menghasilkan pendapatan lebih dari 70 persen dari pendapatan rumah tangga.
7. Cabang usaha adalah suatu usaha yang menghasilkan pendapatan lebih dari 30 persen hingga 70 persen dari pendapatan rumah tangga.
8. Usaha sambilan adalah suatu usaha yang menghasilkan pendapatan kurang dari atau sama dengan 30 persen dari pendapatan rumah tangga.
9. Biaya pakan hijauan merupakan biaya pembelian pakan hijauan ditambah dengan biaya tenaga kerja untuk mencari rumput serta ditambah biaya transportasi dan pembelian urea.
10. Perlengkapan merupakan input produksi yang digunakan sebagai alat bantu usaha dengan masa ekonomis penggunaannya antara satu bulan hingga satu tahun.
11. Peralatan merupakan input produksi yang digunakan sebagai alat bantu usaha dengan masa ekonomis penggunaannya lebih dari satu tahun.
12. Satuan Ternak adalah ukuran yang digunakan untuk menghubungkan berat badan ternak dengan jumlah pakan yang dimakan oleh ternak.
KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN