A. Pendekatan Penelitian
Dalam penelitian tentang keterampilan siswa dalam menghitung perkalian siswa di SD Kanisius Ganjuran menggunakan pendekatan action research (penelitian tindakan)
Pengertian dasar penelitian tindakan adalah:
1. Penelitian tindakan adalah penelitian tentang, untuk, oleh masyarakat/kelompok sasaran dengan memanfaatkan interaksi, partisipasi, dan kolaborasi antara peneliti dengan kelompok sasaran. 2. Penelitian tindakan adalah salah satu strategi pemecahan masalah yang
memanfaatkan tindakan nyata dan proses pengembangan kemampuan dalam mendeteksi dan memecahkan masalah. Dalam prosesnya, pihak-pihak yang terlibat saling mendukung satu sama lain, dilengkapi dengan fakta-fakta dan mengembangkan kemampuan analisis.
Dalam prakteknya penelitian tindakan, menggabungkan tindakan bermakna dengan prosedur penelitian. Ini adalah upaya memecahkan masalah sekaligus mencari dukungan ilmiahnya. Pihak yang terlibat (guru, kepala sekolah, dan warga masyarakat) mencoba dengan sendiri, merumuskan suatu tindakan /intervensi yang diperhitungkan dapat
memecahkan masalah/memperbaiki situasi, dan kemudian secara cermat mengamati pelaksanaannya untuk memahami tingkat keberhasilannya.
Penelitian tindakan merupakan salah satu cara untuk melakukan peningkatan praktek, yang dalam kesempatan ini dibatasi pada praktek persekolahan. Dalam penyelenggaraannya sekolah ini termasuk didalamnya dan yang menjadi kegiatan utama adalah praktek instruksional kelas.
Dalam penelitian tindakan (action research) ada dua aktivitas yang dilakukan secara simultan, yaitu aktivitas tindakan (action) dan aktivitas penelitan (research). Kedua aktivitas tersebut dapat dilakukan oleh orang yang sama atau oleh orang yang berbeda, di mana mereka bekerjasama secara kolaboratif. Penelitian tindakan dapat dilakukan secara kolaboratif antara guru kelas, guru keterampilan, dan peneliti.
Adapun penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan baru/pendekatan baru, dan untuk memecahkan masalah dengan penerapan langsung. Dan tujuan penelitan menggunakan pendekatan action
research adalah ingin meningkatkan keterampilan perkalian.
B. Setting Penelitian
Setting penelitian adalah tempat/lokasi yang digunakan untuk penelitian. Adapun setting penelitian ini adalah: kelas IV SD Kanisius Ganjuran, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, semester I tahun ajaran
2010/2011. Subyek penelitian adalah siswa kelas IV SD, yang dilaksanakan pada tanggal 31 September 2010 sampai 14 Oktober 2010
C. Model Penelitian atau Rancangan Penelitian Tindakan
Bentuk penelitian tindakan dalam penelitian ini adalah kolaborasi yaitu di mana peneliti bekerjasama dengan guru kelas dalam meningkatkan perkalian dengan menggunakan media matriks. Model penelitian yang digunakan adalah model Kemmis dan Mc Taggart (dalam Suwarsih Madya, 1994:27), adapun model tindakannya dapat digambarkan sebagai berikut:
1
2
3
4
5
6
7
Keterangan gambar: 1. Refleksi awal 2. Perencanaan
3. Tindakan dan observasi 4. Refleksi
5. Perencanaan yang telah direvisi 6. Tindakan dan observasi
7. Refleksi
Keterangan pelaksanaan dari gambar adalah sebagai berikut: 1. Rencana
Pengertian rencana di sini adalah rencana tindakan yang akan dilakukan untuk memperbaiki, meningkatkan/perubahan pelaku. Rencana penelitian tindakan merupakan tindakan yang terencana, yaitu tindakan yang telah direncanakan untuk mendapatkan perbaikkan, peningkatan diri siswa. Adapun rencana tindakan dalam penelitan ini adalah berupa persiapan yang meliputi:
a. Pengertian perkalian
b. Waktu yang digunakan
Penelitian ini akan dilaksanakan selama 2 Minggu dengan menggunakan 2 siklus, di mana setiap siklus diadakan 2 pertemuan, dan setiap pertemuan selama 2 JP.
c. Strategi pembelajaran
Agar siswa tidak bosan dan takut dengan perkalian maka akan menggunakan media matriks.
d. Monitoring e. Evaluasi
2. Tindakan dan observasi a. Tindakan
Tindakan adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru/peneliti sebagai upaya perbaikan, peningkatan/perubahan yang diinginkan. Tindakan dalam penelitian ini adalah penggunaan media matriks. b. Observasi
Observasi yaitu mengamati siswa dalam menggunakan alat yang meliputi kekurangan, hambatan dalam pelaksanaan keterampilan perkalian.
3. Refleksi
Refleksi adalah meneliti, mengkaji, melihat, dan mempertimbangkan atas hasil/dampak dari tindakan dan berbagai kriteria untuk mengadakan revisi/perencanaan berikutnya.
4. Revisi rancangan /revies plan
Revisi rancangan dalam penelitian akan dilakukan dengan cara melihat hasil refleksi yang telah dilakukan setelah penelitian tersebut dilaksanakan. Revisi rancangan ini dilakukan untuk melihat apakah kegiatan yang dilakukan sudah sesuai dengan rancangan tindakan, selanjutnya apabila hasil belum sesuai dengan yang diharapkan, maka dapat dilaksanakan siklus 2 dan 3 dengan melaksanakan tambahan tindakan di setiap siklus.
D. Teknik Monitoring dan Evaluasi 1. Monitoring
Monitoring merupakan upaya mengamati pelaksanaan tindakan/aktivitas yang dirancang dengan sengaja, untuk melihat adanya peningkatan dalam praktek kegiatan belajar mengajar dalam kondisi kelas tertentu.
Penelitian ini menggunakan teknik pengamatan partisipasif. Maksudnya adalah pengamatan yang dilakukan oleh orang yang terlibat
secara aktif dalam proses pelaksanaan tindakan. Orang tersebut adalah peneliti dan guru kelas yang langsung membantu secara langsung dalam proses pengumpulan data. Tujuan adalah untuk mengetahui kesesuaian antara pelaksanaan tindakan dengan rencana.
2. Evaluasi
Evaluasi adalah penilaian. Maksudnya adalah menilai tingkat keberhasilan/kemajuan terhadap program tindakan yang telah dilakukan. Adapun sasaran evaluasi penelitian ini adalah menemukan adanya peningkatan keterampilan perkalian yang terjadi setelah semua program terlaksana. Adapun indikasi keberhasilan terjadinya peningkatan keterampilan perkalian sebagai berikut: anak mampu menghitung hasil perkalian suatu bilangan dengan cepat dan tepat.
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan tes tertulis dan lembar pengamatan (observasi)
E. Prosedur Penelitian a. Rencana tindakan
Siklus I dengan menggunakan penggunaan media matriks. Siklus II dengan menggunakan perkalian bilangan model matriks tetapi memperbaiki penggunaan media matriks pada siklus I.
b. Pelaksanaan tindakan
Secara lebih rinci prosedur penelitian masing-masing akan diuraikan sebagai berikut:
1)Siklus I
Siklus I dilaksanakan selama 2 kali pertemuan, di mana setiap pertemuan selama 2 JP
Pertemuan I:
a) Siswa memperhatikan penjelasan guru media matriks.
b) Guru menerangkan cara penggunaan media matriks kepada siswa untuk mengerjakan soal perkalian.
c) Siswa diminta untuk membuat soal perkalian dua bilangan dengan menuliskan di papan tulis.
d) Dengan bimbingan guru siswa secara bergantian mengisi hasil perkalian ke dalam petak yang sesuai.
e) Dengan bimbingan guru, siswa secara bergantian mengisi hasil perkalian ke dalam petak yang sesuai.
f) Dengan bimbingan guru, siswa menjumlahkan hasil akhir pada petak yang dibagi menjadi dua menurut diagonal yang sesuai secara menyilang.
g) Guru menyuruh siswa untuk membuat soal kemudian bersama-sama dikerjakan dengan menggunakan media matriks.
h) Siswa mengerjakan LKS.
i) Siswa bersama guru membahas LKS. j) Siswa bersama guru membuat kesimpulan.
k) Guru (peneliti melakukan pengamatan keterlibatan siswa dengan menggunakan lembar pengamatan (terlampir).
l) Pada akhir kegiatan siswa melakukan refleksi dari kegiatan pembelajaran.
m) Mencatat kejadian-kejadian yang muncul.
Pertemuan II
a) Siswa diberi beberapa soal perkalian.
b) Siswa mengerjakan hitung perkalian dengan menggunakan media matriks.
c) Siswa mengerjakan LKS.
d) Siswa bersama guru membahas LKS. e) Siswa bersama guru membuat kesimpulan.
f) Guru (peneliti melakukan pengamatan keterlibatan siswa dengan menggunakan lembar pengamatan (terlampir).
g) Pada akhir kegiatan siswa melakukan refleksi dari kegiatan pembelajaran.
h) Mencatat kejadian-kejadian yang muncul.
2) Siklus II Pertemuan I
a) Guru memberikan soal perkalian bilangan.
b) Siswa diminta untuk membuat soal perkalian dua bilangan dengan menuliskan di papan tulis.
c) Beberapa siswa maju ke depan untuk mengerjakan soal di papan tulis.
d) Siswa bersama guru membahas soal yang telah dikerjakan oleh siswa
e) Siswa mengerjakan LKS.
f) Siswa bersama guru membahas LKS. g) Siswa bersama guru membuat kesimpulan.
h) Guru atau peneliti melakukan pengamatan keterlibatan siswa dengan menggunakan lembar pengamatan (terlampir).
i) Pada akhir kegiatan siswa melakukan refleksi dari kegiatan pembelajaran.
j) Mencatat kejadian-kejadian yang muncul.
Pertemuan II
a) Siswa dibagi ke dalam 9 kelompok. Setiap kelompok beranggotakan 4 siswa.
b) Setiap kelompok akan diadu kecepatan dalam mengerjakan soal perkalian.
c) Guru menyuruh salah satu anggota kelomppok untuk mengerjakan soal perkalian.
d) Siswa mengerjakan LKS.
e) Siswa bersama guru membahas LKS. f) Siswa bersama guru membuat kesimpulan.
g) Guru (peneliti melakukan pengamatan keterlibatan siswa dengan menggunakan lembar pengamatan (terlampir).
h) Pada akhir kegiatan siswa melakukan refleksi dari kegiatan pembelajaran.
i) Mencatat kejadian-kejadian yang muncul.
d. Refleksi (dilakukan pada setiap siklus setelah pembelajaran berakhir) 1) Mengidentifikasi kesulitan, hambatan dan kejadian-kejadian khusus
yang dialami siswa dalam menghitung hasil perkalian dua bilangan dengan dua angka dan hasil perkalian dua bilangan dengan dua angka dan bilangan yang lebih besar.
2) Membandingkan hasil analisis jumlah siswa yang menyatakan mudah memahami perkalian, menyatakan bahwa media matriks dapat membantu siswa membantu siswa memahami saat melakukan penghitungan hasil perkalian, dan menyatakan keterlibatan siswa dalam pembelajaran.
3) Menarik kesimpulan dari setiap kegiatan tentang keterlibatan, peningkatan prestasi belajar, dan efektifitas media pembelajaran.
F. Teknik Pengumpulan Data
Peneliti dalam penelitian kuantitatif adalah instrument utama ia harus berusaha sendiri dalam pengunpulan informasi melalui beberapa metode yang diantaranya:
1. Observasi
Observasi dilakukan dengan cara peneliti mengamati secara langsung tentang kegiatan subyek baik dalam proses kegiatan belajar keterampilan
perkalian, pada saat-saat tertentu peneliti mengambil peran/aktif langsung dalam kegiatan yang sedang atau dilakukan oleh subyek.
2. Wawancara
Wawancara dilakukan untuk mengetahui respon dari siswa, dimana peneliti dapat membina keakrapan dengan siswa sehingga pada waktu siswa diwawancarai siswa dapat merasa reflex dan terlihat santai. Klien/responden tidak merasa bahwa dirinya sebagai subyek penelitian sehingga dapat terjalin hubungan yang akrab antara peneliti dengan subyek peneliti. Dengan hubungan yang akrap ini diharapkan subyek peneliti dapat memberikan informasi yang wajar dan tidak mengada-ada.
Dengan demikian proses wawancara akan terkesan seperti halnya sebuah percakapan biasa sehingga tidak meninggalkan unsur-unsur pokok dalam fokus penelitian ini. Wawancara pada penelitian ini dilakukan oleh guru kelas dalam rangka memperoleh data pelaksanaan pembelajaran matematika dan juga pada tiga siswa untuk mengetahui keefektifan dari penggunaan media matriks dalam materi perkalian bilangan.
3. Tes
Tes digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan/bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. Dalam penelitian ini tes digunakan untuk mengukur keterampilan siswa dalam mengerjakan soal perkalian bilangan dua angka dengan bilangan dua angka, bilangan dua angka dengan bilangan tiga angka, maupun
bilangan tiga angka dengan bilangan tiga angka. Dalam mengerjakan soal perkalian ini siswa akan dibatasi oleh waktu.
G. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi untuk monitoring pelaksanaan tindakan dan tes keterampilan perkalian. Prosedur penyusunan tes dilakukan berdasarkan materi yang diambil.
Instrumen penelitian adalah alat/fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam pengumpulan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap, sistematis sehingga lebih mudah diolah (Suharsimi Arikunto, 2006:160)
Dalam penelitian ini, alat pengumpulan data tentang keterampilan perkalian yang akan digunakan adalah tes yang akan dibuat oleh peneliti dengan bimbingan dosen pembimbing (expert judgement).
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah: a. Soal tes tertulis
Setiap siklus dilaksanakan, maka pada akhir siklus I dan siklus II dilakukan evaluasi tertulis untuk mengetahui tingkat keterampilan siswa terhadap materi perkalian bilangan yang telah diajarkan.
Soal masing-masing siklus berupa tes tertulis yang secara rinci soal tes berupa isian yang dikembangkan sendiri oleh peneliti dan validitasi dibuat dengan cara konsultasi Dosen pembimbing. Adapun rinciannya: 1) Soal evaluasi pada akhir siklus I yang berjumlah 6 soal dengan
ketentuan:
a) Untuk soal nomor 1-3
• Setiap petak yang dibagi menjadi dua menurut diagonalnya benar skor 1, skor untuk 4 petak: 4 x 1 = 4
• Dalam menjumlahkan menyamping setiap petak benar skor 1, skor untuk 4 petak: 4 x 1 = 4
• Dalam menulis jawaban benar skor 1
Skor maksimal ideal setiap butir soal adalah 4 + 4 + 1 = 9
Jadi jumlah skor untuk 3 soal yaitu soal nomor 1, 2, 3 adalah 3x9=27 b)Untuk soal nomor 4-6
• Setiap petak yang dibagi menjadi dua menurut diagonalnya benar skor 1, skor untuk 6 petak adalah 6 x 1 = 6
• Dalam menjumlahkan menyamping setiap petak benar skor 1, skor untuk 5 petak adalah 5 x 1 = 5
• Dalam menulis jawaban benar skor 1
Skor maksimal ideal setiap butir soal adalah 6 + 5 + 1 = 12 Jadi jumlah skor untuk 3 soal yaitu nomor 4, 5, 6 adalah 3 x 12 = 36
Sehingga skor yang dapat diperoleh siswa jika jawaban sempurna adalah: jumlah dari skor nomor 1-3 dan skor 4-6 yaitu: 27 + 36 = 63 2) Soal evaluasi pada akhir siklus II yang berjumlah 6 soal dengan
ketentuan:
a) Untuk soal 1-3:
• Setiap petak yang dibagi menjadi dua menurut diagonalnya benar skor 1, skor untuk 6 petak adalah 6 x 1 = 6
• Dalam menjumlahkan menyamping setiap petak benar skor 1, skor untuk 5 petak adalah 5 x 1 = 5
• Dalam menulis jawaban benar skor 1
Skor maksimal ideal setiap butir soal adalah 6 + 5 + 1 = 12 Jadi jumlah skor untuk 3 soal yaitu nomor 1, 2, 3 adalah 3x12=36 b)Untuk soal 4 - 6:
• Setiap petak yang dibagi menjadi dua menurut diagonalnya benar skor 1, skor untuk 9 petak adalah 9 x 1 = 9
• Dalam menjumlahkan menyamping setiap petak benar skor 1, skor untuk 6 kotak adalah 6 x 1 = 6
• Dalam menulis jawaban benar skor 1
Skor maksimal ideal setiap butir soal adalah 9 + 6 + 1 = 16 Jadi jumlah skor untuk 3 soal yaitu nomor 4, 5, 6 adalah 3 x 16 = 48
Sehingga skor yang dapat diperoleh siswa jika jawaban sempurna adalah jumlah dari skor nomor 1-3 dan nomor 4-6 yaitu: 36+48=84
Untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan keterampilan siswa, langkah-langkah analisisnya adalah:
a) Nilai keterampilan siswa
Nilai =
skor yang didapat perserta didik
x 100 skor maksimum ideal
b)Nilai rata-rata tes keterampilan siswa
Nilai rata-rata =
Jumlah nilai seluruh siswa Jumlah siswa
c) Untuk menentukan persentase ketuntasan siswa (KKM)
Persentase KKM =
Jumlah siswa yang mencapai KKM
x 100% Jumlah siswa
Tabel 2.1. Rincian Soal Evaluasi Masing-masing Siklus I Bentuk soal Nomor soal Jumlah soal Bobot skor
Isian 1, 2, 3 3 9 27
Isian 4, 5, 6 3 12 36
Tabel 2. 2. Rincian Soal Evaluasi Masing-masing Siklus II Bentuk soal Nomor soal Jumlah soal Bobot skor
Isian 1, 2, 3 3 12 36
Isian 4, 5, 6 3 16 48
Jumlah 6 84
Tabel 3.1 Kisi-kisi Tes Tertulis Siklus I Kompetensi
yang diujikan
Materi Uraian materi
Indikator No. soal
Siswa mampu melakukan perkalian bilangan cacah Operasi hitung bilangan Operasi hitung perkalian
Siswa dapat menentukkan hasil perkalian bilangan dua angka dengan bilangan dua angka dengan menggunakan media matriks
1, 2, 3
Siswa dapat menentukan hasil perkalian hasil perkalian bilangan dua angka dengan bilangan tiga angka dengan menggunakan media matriks
4, 5, 6
Table 3.2. Kisi-kisi Tes Tertulis Siklus II Kompetensi
yang diujikan
Materi Uraian materi
Indikator No. soal
Siswa mampu melakukan perkalian bilangan cacah Operasi hitung bilangan Operasi hitung perkalian
Siswa dapat menentukan hasil perkalian bilangan dua angka dengan bilangan tiga angka dengan menggunakan media matriks
1, 2, 3
Siswa dapat menentukan hasil perkalian hasil perkalian bilangan tiga angka dengan bilangan tiga angka dengan menggunakan media matriks
b. Lembar Pengamatan (Observasi)
Lembar pengamatan ini dikembangkan sendiri oleh peneliti. Hasil dari lembar pengamatan berupa komentar/catatan dari guru kelas IV dengan menggunakan tehnik pengamatan partisipasif.
Pada penelitian ini, peneliti menetapkan target indikator pencapaian pada siklus I dan siklus II. Berikut ini tabel indikator ketercapaian pada siklus I dan siklus II:
Tabel 4. Indikator kondisi awal, siklus I, dan siklus II
Komponen Kondisi
awal Siklus I
Siklus II Persentase siswa yang mencapai KKM 25% 63 % 86 %
Berdasarkan tabel di atas diketahui kondisi awal siswa mencapai KKM 60, hanya 25%. Setelah diadakan tindakan pada siklus I diharapkan 63% siswa yang mencapai KKM. Pada siklus II diharapkan 86% siswa yang mencapai KKM.
H. Teknik Analisis Data
Data yang diperoleh dalam penelitian ini berupa data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif diperoleh dari hasil observasi dan wawancara. Sedangkan data kuantitatif diperoleh dari lembar jawaban tes siswa, selanjutnya akan dianalisis untuk dapat menarik kesimpulan.
1. Analisis Data Kualitatif
Pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan teknik yang dikemukakan oleh Miles dan Hubberman (1992:17). Pengolahan data tersebut terdiri dari tiga alur kegiatan sebagai berikut:
a. Reduksi data
Dilakukan untuk memilah data yang sesuai dengan tujuan penelitian agar data yang terkumpul lebih terarah dan lebih mudah dikelola.
b. Penyajian data
Penyajian data merupakan penyusunan informasi secara sistematis dari hasil reduksi data, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi dari masing-masing siklus agar data lebih mudah dibaca. c. Penarikan kesimpulan
Penarikan kesimpulan dilakukan untuk mengetahui hasil penelitian yang telah dilaksanakan serta untuk mengetahui keberhasilan penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan.Teknik analisis ini bermanfaat untuk rencana perbaikan pembelajaran pada siklus II.
2. Analisis Data Kuantitatif
Analisis data kuantitatif menggunakan teknik analisis deskriptif, dalam hal ini adalah menghitung nilai rata-rata siswa dan persentase siswa yang telah mencapai KKM. Dalam penelitian ini, keterampilan siswa dinyatakan dengan nilai hasil tes keterampilan siswa dari setiap siklus.
I. Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan dari penelitian ini adalah
1. Tercapainya nilai rata-rata keterampilan siswa dalam mengerjakan soal perkalian lebih dari atau sama dengan 75. Rentang nilai yang digunakan 1- 100.
2. Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) pembelajaran yang harus dicapai oleh setiap siswa adalah 60.
BAB IV