• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Dan Analisis Data Wawancara

1. Menurut anda apa yang dimaksud dengan perayaan Ekaristi?

Melalui sepuluh (10) mahasiswa PENDIKKAT angkatan 2019 yang menjadi informan dan yang diwawancarai, penulis mendapatkan data sebagai berikut. Mereka memaknai perayaan Ekaristi sebagai tanda penyelamatan Allah kepada umat-Nya yang patut disyukuri dalam wujud Roti dan Anggur yang menjadi simbol Tubuh dan Darah Yesus itu sendiri. Seperti yang diungkapkan I1, bagi saya perayaan Ekaristi adalah: “Sebagai sebuah ritus yang sakral sekaligus sebagai tanda dan sarana dimana menghadirkan Yesus Kristus sebagai puncak dari sumber keselamatan dalam Tubuh dan Darah-Nya”. Kemudian jawaban ini divalidasi lagi dengan jawaban I2, yang mengatakan bahwa: “Perayaan Ekaristi sebagai puncak iman dan sumber keselamatan umat kristiani. [Lampiran 2:(2-3)].

Selain dua informan di atas, penulis juga memperhatikan jawaban dari I3 dan I4 yang tidak kalah menarik. Dua informan ini menjelaskan perayaan Ekaristi adalah Yesus yang hadir untuk kita. Jawaban yang singkat namun penuh dengan makna. Penulis menangkap bahwa perayaan Ekaristi bagi mereka tidak hanya sekedar perayaan syukur, melainkan perjumpaan yang mendalam dengan Yesus

sendiri yang menyelamatkan, menguatkan dan menemaninya dalam suka dan duka yang mereka alami.

Begitu juga dengan I5-I10 menyadari dan memahami perayaan Ekaristi sebagai ucapan syukur atas karya penyelamatan Allah kepada umat-Nya. Dari hasil jawaban informan terkait pertanyaan nomor satu ini, penulis dapat menyimpulkan bahwa informan memahami dengan baik perayaan Ekaristi.

Mereka tidak hanya memberikan jawaban yang teoritis, melainkan mereka juga memberikan jawaban yang sangat reflektif yang dapat dipahami.

2. Apa makna dari setiap ritus-ritus perayaan Ekaristi?

Melalui soal nomor dua ini, penulis menemukan data sebagai berikut.

Sepuluh informan yang penulis wawancarai mengenai soal nomor dua ini, tujuh (7) di antaranya merefleksikan ritus-ritus yang terdapat dalam perayaan Ekaristi sebagai sebuah proses memantaskan diri dalam menyambut Tubuh dan Darah Kristis sendiri yang menjadi forma utama dalam perayaan Ekaristi. Hal ini dapat dilihat dari jawaban I1, saya memahami: “Ritus Pembuka sebagai tanda kegembiraan yang mengajak umat menuju perayaan ekaristi”. Begitu juga dengan I2, bagi saya: “Ritus sabda adalah Allah sendiri hadir dalam bacaan sabda, mazmur dan Injil dan ritus ekaristi menjadi puncak keselamatan yang di tandai dengan doa syukur agung, yesus hadir melalui iman. Ritus penutup ritus perutusan dimana gereja kembali ke kehidupan masing-masing untuk melakukan perutusan”.

I3, saya memahami: “Ritus pembuka sebagai langkah membuka hati untuk mengikuti perayaan ekaristi sedangkan ritus lainnya sebagai lanjutan dalam perayaan ekaristi, seperti: ritus sabda, mendengarkan bacaan dan merenungkan

pesan-pesan dari bacaan, ritus ekaristi, tahap konsekrasi dan yang terakhir ritus penutup: perutusan untuk mewartakan Injil”. [Lampiran 2:(2-3)].

Selain tiga informan di atas I5 juga memberikan pendapai sebagai berikut.

Bagi saya ritus-ritus dalam misa membantu saya mengingat bagaimana Yesus Kristus mengorbankan dirinya demi manusia dan mengenang perjamuan bersama pada murid Yesus. Pendapat ini kurang lebih juga disampaikan oleh I6 dan I8.

Berdasarkan keseluruhan jawaban informan mengenai pertanyaan nomor dua ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa informan memaknai setiap ritus-ritus dalam perayaan Ekaristi sebagai sbuah tahapan untuk mengenang akan karya Allah yang besar dalam hidup manusia.

3. Apakah perayaan Ekaristi online berperan penting bagi anda dalam memberikan semangat untuk melakukan tugas pelayanan Gereja di masa pandemi?

Pertanyaan dari nomor tiga ini menghasilkan data sebagai berikut. Ada 7 informan yang betul-betul mengikuti perayaan Ekaristi online untuk pelayanan selama masa pandemi. Seperti I1 yang tetap aktif melaksanakan perayaan Ekaristi dan selalu melakukan pelayanan di tengah pandemi, dengan spontan dan penuh semangat mengatakan “Walaupun keadaan kurang mendukung tapi saya tetap mengikuti perayaan Ekaristi secara online dan melakukan pelayanan, baik doa lingkungan, berkatekese, dan memberikan sumbangan kepada orang yang membutuhkan”. Berbeda dengan I2 yang tetap mengikuti perayaan Ekaristi tapi harus meyakinkan dirinya sendiri dan melawan sifat egonya untuk melakukan pelayanan “saya mengikuti perayaan Ekaristi dimasa pandemi tapi terkadang harus melawan sifat egois dalam diri saya untuk bisa melakukan pelayanan.”

Penjelasan dari 3 informan lainnya tidak terlalu bahkan jarang mengikuti perayaan ekaristi secara online untuk pandemi. Hal tersebut bisa dilihat dari I9

“Tidak terlalu mengikuti perayaan ekaristi, karena masih merasa takut dengan kondisi lingkungan akibat pandemi. Tapi melayani juga melalui video untuk anak-anak PIA.” Sedangkan I8 mengikuti perayaan ekaristi secara offline di asramanya dengan mematuhi protokol kesehatan. I10 jarang mengikuti perayaan Ekaristi secara online “Jarang, karena tidak tertarik dan tidak khusyuk, tidak fokus dan kurang menghayati, tetapi tetap melakukan pelayanan dalam berkatekese”.

Walaupun begitu, penulis menyimpulkan beberapa informan masih sangat aktif mengikuti perayaan ekaristi online untuk pelayanan walaupun harus melawan rasa takut dan mempunyai niat yang kuat.

4. Hal-hal apa saja yang anda rasakan selama mengikuti perayaan Ekaristi online selama masa pandemic Covid-19?

Melalui pertanyaan yang ke empat ini penulis mendapatkan data sebagai berikut. Hampir semua informan menyatakan perasaan sedih harus merayakan misa dari rumah dan tidak bisa menyambut tubuh dan darah Kristus secara langsung. Namun disisi lain mereka juga merasa bahwa situasi ini menjadi tantangan bagi mereka dalam mengimani Yesus Kristus sebagai juru selamat.

Gambaran ini dapat dilihat dari jawaban I4 dan I9 merasa sangat merindukan suasana perayaan ekaristi secara luring/offline “Suasanannya sangat berbeda.

Sikap liturginya, penyesuaian dengan media menjadi sulit. Dan merasakan kerinduan untuk misa secara offline”.

Tetapi ada juga yang sangat bersemangat melaksanakan perayaan ekaristi online ini, karena baginya kabar sukacita Allah harus disebarkan bukan untuk diri sendiri namun untuk orang lain “Semakin tergerak dalam mewartakan kabar sukacita di masa pandemi ini dan apa yang saya rasakan harus juga di rasakan orang lain”. Seperti I3 yang merasa hal tersebut sebagai tantangan untuk dirinya

“Saya merasa tertantang membuat niat saya antara mengikuti ekaristi online atau tidak. Semua dilaksanakan secara online. Saya tetap mengikuti perayaan ekaristi karena hanya Yesus penolong di saat pandemi ini”.

Kesimpulan yang bisa penulis ambil dari pertanyaan ini ialah perayaan ekaristi online rata-rata membuat infoman merasa sedih karena tidak bisa merayakan perayaan ekaristi di dalam gereja, rindu akan Tubuh dan Darah Kristus, tidak fokus dan tidak khusyuk akibat perayaan ekaristi yang di siarkan melalui media, baik TV maupun live stream. Walaupun demikian masih ada yang bersemangat untuk mengikuti perayaan ekaristi malahan ada juga yang tertantang.

5. Kesulitan apa yang anda rasakan saat melakukan pelayanan pada masa pandemi?

Pada pertanyaan nomor lima ini, penulis memperoleh data sebagai berikut.

Ketakutan merupakan kesulitan terbesar dalam melakukan pelayanan di masa pandemic ini. I1, I3, I5, dan I10 merasakan hal serupa. “Tidak bisa bertatap muka dan banyaknya keterbatasan, takut untuk keluar rumah karena pandemi, lebih menjaga diri dan pelayanan menjadi tertunda”. I2 merasa pelayanannya terhambat karena factor ekonomi yang menghimpit dirinya. I6 dan I9 merasa melayani harus menggunakan media dan mereka kurang tertarik karena tidak terbiasa atau tidak

menarik. Ada yang harus menguatkan niat dan imannya untuk melakukan pelayanan dimasa pandemi, hal ini dirasakan oleh I4 “Tergantung niat dalam diri intinya kesulitan dalam diri sendiri yang terkadang masih egois”.

Dari pertanyaan nomor lima ini saya menyimpulkan bahwa semua informan sangat kesulitan dalam melakukan pelayanan, ada yang merasa ketakutan agar tidak terkena virus Covid, ada yang merasa menggunakan media tidak menarik, ada juga yang harus melawan ego dalam dirinya untuk melayani sesame. Pada intinya semua harus mengikuti prokes agar bisa terhindar dari penularan virus dimasa pandemi covid-19 ini.

6. Apakah perayaan Ekaristi di masa pandemi ini mendorong teman-teman perkuliahan anda dalam Pelayanan (diakonia)?

Data yang diperoleh penulis dari 10 informan untuk nomer enam sebagai berikut. Tujuh dari sepuluh informan mengatakan bahwa teman-teman perkuliahan mereka terdorong untuk melakukan pelayanan dimasa pandemi.

Seperti I2 yang sangat yakin teman-temannya terdorong untuk melakukan pelayanan “Ya, terdorong. Iman mereka kuat dan juga sangat ikhlas dalam melakukan pelayanan terlebih pelayanan di masa pandemi ini”. I5 megatakan teman-temannya juga terdorong untuk melakukan pelayanan dibarengi dengan tugas dari kampus “Terdorong, karena disertai dengan tugas atau praktek dari kampus juga seperti berkatekese dan tetap melayani umat dengan sepenuh hati”.

Ada tiga informan yang melihat teman-teman perkuliahannya ada yang melayani ada yang tidak, misalnya angkatan 19 yang melihat teman-temannya yang aktif dan yang malas “Ada beberapa yang aktif ada yang tidak tergantung

diri sendiri. Ada yang bersemangat ada yang malas”. Kesimpulannya adalah rata-rata semua informan mengatakan bahwa teman-teman perkuliahan mereka terdorong untuk melakukan pelayanan dimasa pandemi. Antusias mereka dalam melayani sangatlah besar, walaupun ada yang terdorong karena tugas kuliah ataupun ajakan teman-teman mereka yang lain.

7. Apa perbedaan yang mencolok dari perayaan Ekaristi baik offline atau online?

Data hasil wawancara pertanyaan nomor tujuh sebagai berikut. Ada enam informan yang sama-sama menjawab penerimaan Tubuh dan Darah Kritus pada saat offline diganti menjadi komuni batin pada saat online merupakan perbedaan yang sangat mencolok. Hal ini di jelaskan oleh I4 “Online kita merayakan ekaristi di rumah dan menerima doa komuni batin, offline merayakan di gereja dan menerima Tubuh dan Darah Kristus”. I1 juga mejelaskan hal yang sama dan menambahkan media untuk menampilkan perayaan ekaristi “Pada saat menerima Tubuh dan Darah Kristus, diganti menjadi komuni spiritual lebih untuk berdoa dalam hati. Online wajib memakai media seperti HP, TV”.

Empat informan lainnya lebih melihat dari tata liturginya yang sekarang banyak menggunakan alat media seperti TV, Youtube dan median lain yang sangat jelas disampaikan oleh I8 “Online lebih fleksibel dan bisa meminimalis waktu.

Bisa juga memilih misa dimana saja. Online tidak menerima komuni tapi diganti menjadi komuni batin. Tidak bisa bertemu sesama umat beriman”. Penulis menyimpulkan hal-hal yang paling mencolok adalah pada saat konsekarasi dimana umat menerima Tubuh dan Darah Kristus dan diganti menjadi komuni batin. Hal mencolok lainnya pastinya tata perayaan ekaristi yang sangat berbeda

yakni dengan menggunakan alat media untuk menaati prokes pandemi dengan menampilkan perayaan ekaristi di TV, youtube, livestream lainnya.

8. Apa yang membuat anda tergerak dalam pelayanan di masa pandemi?

Pertanyaan terakhir ini penulis mendapatkan data sebagai berikut. Banyak hal menarik yang penulis perhatikan pada jawaban dari 10 informan. Ada dua informan yang sangat tergerak melakukan pelayanan dimasa pandemi ini. I4 misalnya, yang termotivasi karena pesan dari orang tuanya “Keadaan, karena masa pandemi banyak orang yang membutuhkan dan juga karena pesan dari orang tua untuk selalu memberi dan menolong orang”. Tiga informan lainnya tergerak karena motivasi mereka sebagai calon guru dan katekis yang wajib bertugas untuk mewartakan sabda Allah seperti I8 dengan tegas menjawab pertanyaan tersebut

“Karena prinsip saya sebagai calon katekis adalah untuk melayani.

Apapun situasinya tetap harus melayani”. Tergerak karena ajakan teman atau umat lingkungan untuk melayani dialami oleh dua informan seperti I3 yang diajak oleh umat untuk melakukan pelayanan di lingkungan gereja. Dari pertanyaan ini, penulis melihat banyak dari informan ini yang sangat tergerak untuk melakukan pelayanan dimasa pandemi, hampir semuanya baik karena motivasi, ajakan atau betul-betul niat dalam hati.

Dokumen terkait