• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peranan perayaan ekaristi online terhadap karya pelayanan (Diakonia) mahasiswa Program Studi Pendidikan Keagamaan Katolik angkatan 2019 Universitas Sanata Dharma Yogyakarta di masa pandemi covid-19

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Peranan perayaan ekaristi online terhadap karya pelayanan (Diakonia) mahasiswa Program Studi Pendidikan Keagamaan Katolik angkatan 2019 Universitas Sanata Dharma Yogyakarta di masa pandemi covid-19"

Copied!
99
0
0

Teks penuh

(1)

PERANAN PERAYAAN EKARISTI ONLINE TERHADAP KARYA PELAYANAN (DIAKONIA) MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN

KEAGAMAAN KATOLIK ANGKATAN 2019 UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

DI MASA PANDEMI COVID-19

S K R I P S I Diajukan Sebagai Salah

Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Keagamaan Katolik

Disusun Oleh:

YOSUA PURBA 171124014

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KEAGAMAAN KATOLIK JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2022

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

vi MOTTO

“Kami tidak ingin menceritakan impian kami, Kami ingin menunjukkannya”

(Cristiano Ronaldo)

(7)

vii

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kepada Allah Bapa karena dengan kasih-Nya Penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul PERANAN PERAYAAN EKARISTI ONLINE TERHADAP KARYA PELAYANAN (DIAKONIA) MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KEAGAMAAN KATOLIK ANGKATAN 2019 UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA DI MASA PANDEMI COVID-19.

Penulisan skripsi ini lahir dari rasa keprihatinan penulis selama masa pandemi Covid-19 yang mengancam semua aktivitas manusia. Salah satunya perayaan Ekaristi dan kegiatan pelayanan Gereja yang dilakukan oleh mahasiswa PENDIKKAT khususnya angkatan 2019. Terlebih situasi pandemi Covid-19 yang menimbulkan rasa jenuh dan takut sehingga tidak jarang mereka tidak memiliki niat untuk melakukan pelayanan bahkan tidak mengikuti perayaan Ekaristi yang dilaksanakan secara online. Berdasarkan keprihatinan penulis timbul rasa tertarik meneliti bagaimana peranan perayaan Ekaristi online ini terhadap pelayanan mahasiswa PENDIKKAT angkatan 2019. Skripsi ini ditulis selain sebagai upaya penulis kepada sesama mahasiswa PENDIKKAT juga sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Pada kesempatan ini penulis dengan setulus hati mengucapkan banyak terimakasih kepada:

1. Dr. Bernardus Agus Rukiyanto, SJ selaku dosen pembimbing utama dan kepala prodi Pendidikan Keagamaan Katolik yang telah

(8)

viii

memberikan perhatian, serta meluangkan waktu dan membimbing penulis dengan penuh kesabaran, serta memberikan masukan dan kritikan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan lancar.

2. P. Banyu Dewa HS, S.Ag., M.Si selaku dosen pembimbing akademik yang senantiasa mendampingi penulis pada saat mengalami kesulitan dari awal semester hingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini.

3. C. Paulina Sianipar, S.Pd., M.Si., M.Hum selaku dosen penguji ke III yang dengan tulus hati memberikan dukungan kepada penulis, terlebih melalui kritik dan saran yang membangun dalam penyususnan skripsi ini

4. Segenap para dosen dan karyawan Prodi PENDIKKAT, Fakultas keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, yang telah mengajar dan mendidik selama penulis menempuh pendidikan hingga dapat menyelesaikan skripsi ini.

5. Keluarga besar terkhususnya kedua orang tua yang sudah berjuang, bersusah payah dan bekerja keras demi kesuksesan penulis serta memberikan dukungan baik dari segi doa, materi maupun moral sehingga penulis dapat menyelesaikan pendidikan Sarjana Pendidikan Keagamaan Katolik.

6. Teman-teman PENDIKKAT angkatan 2019 yang telah bersedia menjadi subjek penelitian ini yang senantiasa mendukung secara aktif dalam proses penulisan skripsi ini.

(9)
(10)

x ABSTRAK

Judul Skripsi ini: PERANAN PERAYAAN EKARISTI ONLINE TERHADAP KARYA PELAYANAN (DIAKONIA) MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KEAGAMAAN KATOLIK ANGKATAN 2019 UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA DI MASA PANDEMI COVID-19. Judul ini lahir dari rasa keprihatinan penulis selama masa pandemi Covid-19 yang menghambat semua aktivitas manusia termasuk perayaan Ekaristi. Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui pemahaman mahasiswa PENDIKKAT angkatan 2019 terhadap perayaan Ekaristi online dan bagaimana keterlibatan mereka dalam karya pelayanan (Diakonia) serta peranan antara perayaan Ekaristi online terhadap keterlibatan mahasiswa dalm karya pelayanan (Diakonia). Oleh karena itu, penulis merumuskan dua fokus permasalahan yang akan dijawab dalam penelitian ini yaitu: (1) Bagaimana peranan Ekaristi online terhadap karya pelayanan Gereja (Diakonia) mahasiswa PENDIKKAT angkatan 2019 di masa pandemi. (2) Bagaimana bentuk keterlibatan mahasiswa PENDIKKAT angkatan 2019 dalam mewujudkan tugas pelayanan Gereja (Diakonia) selama masa pandemi. Untuk menjawab dua permasalahan pokok ini, penulis melakukan kegiatan wawancara terstruktur kepada mahasiswa PENDIKKAT angkatan 2019, ketua lingkungan dan beberapa mahasiswa PENDIKKAT atau keluarga yang tinggal bersama dengan mahasiswa PENDIKKAT angkatan 2019. Penulisan skripsi ini dibantu dengan metode penelitian kualitatif melalui kegiatan wawancara terstruktur dan kegiatan observasi langsung. Semua hasil yang diperoleh divalidasi dengan teknik trianggulasi sumber, yakni wawancara dan observasi. Berdasarkan hasil data yang diperoleh, penulis menyimpulkan bahwa perayaan Ekaristi online ini mampu dimaknai dengan baik oleh mahasiswa PENDIKKAT angkatan 2019 dan dapat menggerakkan mereka dalam karya pelayanan. Meskipun beberapa di antara mereka ada yang masih merasa belum bisa menjawab kerinduan hatinya secara keseluruhan.

Kata-kata Kunci: Perayaan Ekaristi Online, Pandemi Covid-19, Pelayanan (Diakonia), Mahasiswa PENDIKKAT 2019

(11)

xi ABSTRACT

The Title of the thesis: THE ROLE OF ONLINE EUCHARIST CELEBRATION ON THE MINISTRY WORK (DIAKONIA) OF THE BATCH 2019 STUDENTS OF THE CATHOLIC RELIGIOUS EDUCATION STUDY PROGRAM SANATA DHARMA UNIVERSITY, YOGYAKARTA DURING THE COVID-19 PANDEMIC. This title was emerged from the researcher's concern during the Covid-19 pandemic which hampered all human activities, including the celebration of the Eucharist. This thesis aims to find out the understanding of batch 2019 Catholic Religious Education students regarding online Eucharistic celebrations and how they are involved in ministry work (Diakonia), as well as the role of online Eucharistic celebrations on student involvement in ministry work. Therefore, the researcher formulated two focus problems that will be answered in this study, namely: (1) What is the role of the online Eucharist in the ministry of the Church of the batch 2019 Catholic Religious Education students during the pandemic. (2) What is the form of involvement of the batch 2019 Catholic Religious Education students in realizing Church ministry works during the pandemic. To answer these two main problems, the researcher conducted structured interviews with the batch 2019 Catholic Religious Education students, the head of the ward and several Catholic Religious Education students or families living with the batch 2019 Catholic Religious Education students. The writing of this thesis was made using qualitative research methods through structured interviews and direct observation. All the results obtained were validated by triangulation techniques, namely interviews and observations. Based on the results of the data obtained, the authors conclude that this online Eucharistic celebration can be interpreted well by batch 2019 Catholic Religious Education students and can move them in ministry work. Although, some of them still feel unable to answer the longing of their heart as a whole.

Key Words: Online Eucharistic Celebration, Covid-19 Pandemic, Ministry, Batch 2019 Catholic Religious Education students.

(12)

xii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING…..………ii

HALAMAN PENGESAHAN………iii

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ……..……….iv

HALAMAN PESETUJUAN PUBLIKASI ………v

HALAMAN MOTTO……….vi

HALAMAN KATA PENGANTAR……….vii

ABSTRAK………...x

ABSTRACT………..xi

DAFTAR ISI………..xii

DAFTAR TABEL……….xiii

DAFTAR SINGKATAN.……….xiv

DAFTAR LAMPIRAN….……….xv

BAB I PENDAHULUAN………...1

A. Latar Belakang………...5

B. Identifikasi Masalah………...5

C. Batasan Masalah……….5

D. Rumusan Masalah………..6

E. Manfaat Penulisan………..6

F. Metode Penulisan………7

G. Sistematika Penulisan……….7

(13)

xiii

BAB II TINJAUAN PUSTAKA……….9

A. Landasan Pustaka………...9

1. Perayaan Ekaristi………9

a. Sakramen………...9

b. Tujuh Sakramen Dalam Gereja………...11

c. Pengertian Ekaristi………..13

d. Liturgi Sakramen Ekaristi………...15

e. Tata Perayaan Ekaristi……….16

2. Pandemi Virus Covid-19………..18

3. Ekaristi di Masa Pandemi Virus Covid-19………..20

a. Makna Ekaristi Selama Pandemi………...21

b. Komuni Spiritual………...22

4. Keterlibatan Mahasiswa Dalam Tugas Pelayanan………...23

a. Keterlibatan………...23

b. Pelayanan (Diakonia)………23

c. Diakonia Dalam Gereja………25

d. Keterlibatan Mahasiswa………26

B. Kerangka Berfikir……….27

BAB III METODE PENELITIAN……….28

A. Jenis Penelitian………29

B. Tempat Dan Waktu Penelitian……….29

C. Metode Penelitian………30

D. Teknik Pengumupulan Data………30

(14)

xiv

1. Observasi………30

2. Wawancara Mendalam………...31

E. Instrumen Penelitian……….32

F. Teknik Analisis Data………34

G. Rencana Pengujian Keabsahan Data………...36

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN..……….35

A. Gambaran Umum Mahasiswa PENDIKKAT Angkatan 2019…………37

B. Hasil Dan Analisis Data Wawancara………...38

C. Analisis Wawancara Ketua Lingkungan Dan Teman Dekat…………...46

D. Analisis Hasil Observasi………..50

E. Validasi Data………51

F. Pembahasan………..54

BAB V KESIMPULAN……….58

A. Kesimpulan………..58

B. Saran………59

DAFTAR PUSTAKA………61

LAMPIRAN………...63

(15)

xv

DAFTAR TABEL

Tabel 1 : Kisi-kisi Wawancara ... 30

Tabel 2 : Pedoman Observasi ... 30

Tabel 3 : Wawancara Mahasiswa ... 31

Tabel 4 : Wawancara Teman Dekat/Keluarga dan Ketua Linkungan ... 31

(16)

xvi

DAFTAR SINGKATAN

A. Singkatan Kitab Suci

Seluruh singkatan Kitab Suci dalam skripsi ini mengikuti Kitab Suci yang diselenggarakan oleh Lembaga Alkitab Indonesia.

Mrk : Markus

1Ptr : Surat Petrus Pertama

B. Singkatan Dokumen Gereja

KGK : Katekismus Gereja Katolik, dikeluarkan oleh Paus Yohanes Paulus II pada 11 Oktober 1992

KHK : Kitab Hukum Kanonik (Codex Iuris Caninici), diundangkan oleh Paus Paulus II pada 25 Januari 1983

SC : Sacrosanctum Concilium, Konsili Suci, Konstitusi Dogmatis Konsili Vatikan II tentang Liturgi Kudus, 8 Desember 1965

C. Singkatan-Singkatan Lain

Covid-19 : Corona Virus Disease 2019

KWI : Konferensi Waligereja Indonesia PENDIKKAT : Pendidikan Keagamaan Katolik

PIA : Pendidikan Iman Anak PRODI : Program Studi

SCP : Shared Christian Praxis

(17)

xvii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1: Surat Penelitian………(1) Lampiran 2: Hasil Wawancara Mahasiswa………..(2) Lampiran 3: Hasil Wawancara Teman Dekat dan Ketua Lingkungan…..(13) Lampiran 4: Dokumentasi Wawancara………..(19)

(18)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sejak dahulu, Gereja selalu berupaya memaknai Ekaristi dalam kehidupan dan pelayanan Gereja di tengah dunia. Perayaan Ekaristi dimaknai sebagai sebuah perjumpaan antara Allah dan manusia melalui Yesus Kristus dalam ikatan Roh Kudus yang merupakan penghayatan iman dalam hidup manusia (Martasudjita, 2005:9). Banyak upaya dalam memaknai perayaan Ekaristi sebagai ungkapan syukur umat atas berkat yang dirasakan di dalam kehidupan sehari-hari.

Selama kira-kira 2000 tahun, Gereja Katolik selalu mengajarkan bahwa Yesus Kristus sungguh hadir, secara riil/nyata dalam Ekaristi, yaitu Tubuh, Darah, Jiwa dan ke-Allahan-Nya di dalam rupa roti dan anggur (KGK 1374). Pada saat imam selesai mengkonsekrasikan “Inilah Tubuh-Ku” dan “Inilah darah-Ku”, Tuhan secara ajaib mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah-Nya.

Kejadian ini disebut sebagai “transubstansiasi“, yang mengakibatkan substansi dari roti dan anggur berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus (KGK 1376). Jadi yang tinggal hanyalah rupa roti dan anggur, tetapi substansi roti dan anggur sudah lenyap, digantikan dengan kehadiran Yesus.

Kristus hadir seutuhnya di dalam roti itu, Pemecahan roti berarti Kehadiran Kristus utuh, tak berubah dan tak berkurang di dalam setiap aspek kehidupan. Kehadiran Kristus utuh, tak berubah dan tak berkurang di dalam

(19)

setiap aspek kehidupan. Dengan demikian kita dapat menerima Kristus di dalam rupa roti saja, atau anggur saja, atau kedua bersama-sama (KGK 1390). Dalam setiap hal ini, kita menerima Yesus yang utuh di dalam sakramen, karena Yesus sungguh-sungguh hadir di dalam Ekaristi, maka kita memberi hormat di depan tabernakel, kita berlutut dan menundukkan diri sebagai tanda penyembahan kepada Tuhan. Itulah sebabnya Gereja memperlakukan Hosti Kudus dengan hormat, dan melakukan prosesi untuk menghormati Hosti suci yang disebut Sakramen Maha Kudus, dan mengadakan adorasi di hadapan-Nya dengan meriah (KGK 1378).

Pada perayaan Ekaristi pasti memerlukan pelayan tertahbis dan umat. Di antara umat dipilih para petugas perayaan Ekaristi yang ambil bagian sebagai lektor, misdinar, prodiakon, koor, petugas musik, serta keterlibatan umat lainnya.

Umat yang hadir dalam Perayaan Ekaristi perlu secara sadar dan aktif. Sadar berarti tahu apa yang diperbuat sedangkan aktif berarti terlibat yang sepenuhnya dan seutuhnya. Sadar dan aktif itu mencakup pemahaman akan seluruh misteri yang dirayakan dan sekaligus keterlibatan yang penuh, utuh, dan aktif sejak persiapan, pelaksanaan, hingga sesudah perayaan, yakni dengan ikut memaknai Perayaan Ekaristi. Partisipasi aktif dari umat dalam perayaan Ekaristi sulit untuk dinilai.

Pada masa ini dunia menghadapi sebuah musibah yakni virus covid-19 yang menyebabkan banyak korban akibat dari serang virus mematikan ini. Hal ini menghambat berbagai tempat-tempat yang biasanya menjadi sarana bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan seperti tempat bekerja serta tempat

(20)

pariwisata dan termasuk tempat ibadah terkhususnya Gereja. Tetapi pada saat ini, keadaan mulai seperti biasanya dikarenakan telah banyak umat yang melakukan vaksinasi walaupun demikian umat harus mengikuti berbagai macam protokol kesehatan serta menerapkan social distancing.

Perayaan Ekaristi online membuat dilema beberapa pihak, terkhususnya Gereja Katolik. Dengan banyaknya tuntutan dan peraturan, umat pun dihadapkan dalam kebimbangan. Aktivitas sehari-hari membuat orang sulit untuk ambil bagian dalam tugas gereja dan membagi waktu yang begitu padat karena semuanya dilakukan di dalam rumah. Persoalan ini sangat terlihat pada para mahasiswa prodi PENDIKKAT terkhususnya angkatan 2019 yang mencoba untuk tetap terlibat dalam perayaan Ekaristi online, mereka kesulitan dalam menciptakan keheningan batin apalagi tidak adanya penerimaan Tubuh dan Darah Kristus membuat para mahasiswa merasa ada yang hilang.

Penulis melihat sebagian para mahasiswa tampak kurang memahami peranan perayaan Ekaristi online dalam keterlibatan untuk karya pelayanan (diakonia). Ada yang hanya mengikuti perayaan Ekaristi online hanya sebagai rutinitas saja. Banyak kesibukan dalam perkuliahan atau kesibukan lainnya yang membuat mahasiswa tidak bisa berkonsentrasi dalam mengikuti perayaan Ekaristi online karena tidak terbiasa mengikuti perayaan Ekaristi melalui TV, Youtube dan lain sebagainya. Hidup orang beriman Katolik yang Ekaristis tentu mengandaikan bahwa seseorang pernah dan mempunyai kebiasaan untuk merayakan Ekaristi walaupun dilaksanakan secara online. Pemahaman inilah yang perlu diketahui untuk semakin mengembangkan diri umat dalam perayaan Ekaristi online.

(21)

Sebagai mahasiswa program studi Pendidikan Keagamaan Katolik, Universitas Sanata Dharma melihat bahwa pelayanan terhadap Gereja dan Masyarakat menjadi sesuatu yang penting apalagi di masa pandemi ini. Yesus datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani (Mrk 10:45), inilah yang mendasari Gereja untuk melakukan pelayanan yang tidak hanya ditunjukan ke dalam Gereja saja namun terlebih ditujukan untuk masyarakat luar. Mahasiswa harus punya kesadaran dalam melaksanakan pelayanan (diakonia).

Dalam perkuliahan, mahasiswa PENDIKKAT diarahkan serta diajarkan oleh dosen di kampus untuk melayani bukan hanya di kampus ataupun Gereja saja tetapi dalam masyarakat. Bukan hanya menjadi katekis saja tetapi juga menjadi tenaga pengajar atau guru dengan harapan mahasiswa dapat menjadi sosok yang bisa dicontoh umat sebagai tempat untuk lebih mengenal Kristus dan ajaran- ajaran-Nya terkhususnya ajaran untuk saling melayani.

Mahasiswa juga diberi kesempatan untuk menjadi pelayan bukan hanya di kampus saja tapi juga di luar kampus misalnya di paroki, lingkungan, dan lainnya.

Mahasiswa diharap dapat memaknai serta terlibat langsung dalam perayaan Ekaristi terutama dalam bidang pelayanan (diakonia). Untuk itu, mahasiswa harus semakin tersadar, di masa pandemi ini banyak orang yang membutuhkan, baik masyarakat maupun teman sebaya yang kurang mampu di masa pandemi ini.

Disitulah mahasiswa menunjukkan pelayanannya sebagai mana yang sudah diajarkan di kampus PENDIKKAT. Keterlibatan Mahasiswa PENDIKKAT khususnya angkatan 2019 dalam tugas pelayanan di dalam Gereja dan masyarakat

(22)

belum terlihat jelas. Mahasiswa hanya terlibat ketika diberikan tugas dari kampus.

Niat dan kesadaran diri masih kurang, apalagi di masa pademi yang sulit ini.

Dunia mungkin sedang berada dalam situasi yang sulit, di sinilah Gereja bertindak sebagai penolong serta mencari solusi yang baik untuk umat dan tetap menyadarkan umat untuk selalu menjadi pelayan Gereja dan juga masyarakat.

Maka penulis mencoba untuk mendalami penulisan ini dengan judul: PERANAN PERAYAAN EKARISTI ONLINE TERHADAP KARYA PELAYANAN (DIAKONIA) MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KEAGAMAAN KATOLIK ANGKATAN 2019 UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA DI MASA PANDEMI COVID-19. Tulisan ini ditulis untuk membantu mahasiswa angkatan 2019 prodi PENDIKKAT semakin terlibat, sadar, dan mampu menghayati makna perayaan Ekaristi daring dalam tugas pelayanan (diakonia) baik itu di dalam maupun di luar Gereja.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, penulis merumuskan dua pokok permasalahan yang akan dijawab dalam penelitian ini, di antaranya:

1. Bagaimana peranan perayaan Ekaristi online terhadap karya pelayanan Gereja (diakonia) mahasiswa PENDIKKAT angkatan 2019 di masa pandemi ?

2. Bagaimana bentuk keterlibatan mahasiswa PENDIKKAT angkatan 2019 dalam mewujudkan tugas pelayanan Gereja (diakonia) selama masa pandemi?

(23)

C. Batasan Masalah

Penelitian ini dibatasi pada Peranan Perayaan Ekaristi Online Terhadap Karya Pelayanan (diakonia) Mahasiswa Program Studi Pendidikan Keagamaan Katolik Angkatan 2019 Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Di Masa Pandemi Covid-19. Sampel penelitian pun dibatasi yaitu mahasiswa perantau terkhusunya di luar pulau Jawa.

D. Tujuan Penulisan

1. Mengetahui kesadaran mahasiswa angkatan 2019 prodi PENDIKKAT dalam tugas pelayanan (diakonia).

2. Mengetahui keterlibatan mahasiswa angkatan 2019 prodi PENDIKKAT dalam tugas pelayanan (diakonia)

E. Manfaat Penulisan 1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat membantu mahasiswa untuk menambah wawasan dan pengetahuan mengenai sakramen Ekaristi khususnya perayaan Ekaristi selama masa pandemi sehingga lebih terlibat dan aktif dalam tugas pelayanan (diakonia).

2. Manfaat Praktis

a. Menambah wawasan dan pengetahuan bagi penulis dan mahasiswa tentang keterlibatan dalam pelayanan Ekaristi selama masa pandemi Covid-19 demi mengembangkan iman melalui tugas pelayanan (diakonia)

(24)

b. Memberikan data mengenai keterlibatan mahasiswa dalam mengikuti perayaan Ekaristi selama masa pandemi Covid-19 dan keterlibatan mahasiswa dalam tugas pelayanan (diakonia) sertai pengaruh perayaan Ekaristi selama masa pandemi Covid-19 dalam tugas pelayanan (diakonia) terhadap mahasiswa program studi pendidikan keagamaan Katolik angkatan 2019 di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

F. Metode Penulisan

Metode penulisan yang dipakai adalah deskriptif analisis. Metode tersebut merupakan cara penulisan penelitian dengan analisis tentang permasalahan yang sedang dibahas dalam penulisan ini. Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, dan wawancara. Metode penulisan ini didukung dengan penelitian kualitatif. Data diperoleh dengan wawancara terhadap para mahasiswa.

G. Sistematika Penulisan

Skripsi yang berjudul “PERAYAAN EKARISTI ONLINE TERHADAP KARYA PELAYANAN (DIAKONIA) MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KEAGAMAAN KATOLIK UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA ANGKATAN 2019 DI MASA PANDEMI COVID- 19” Ditulis dengan sistematika sebagai berikut:

Bab I: Berisi latar belakang, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penetilian, metode penelitian dan sistematika penulisan.

(25)

Bab II: Berisi teori-teori yang berkaitan dengan judul skripsi untuk membantu kerangka pikiran dan mengembangkan pemikiran mengenai permasalahan yang diteliti seperti membahas sakramen, ekaristi, pelayanan (diakonia) dan pandemi.

Bab III: Berisi tentang penguraian metode penelitian yang terdiri dari jenis penelitian, desain penelitian, teman dan waktu penelitian, informan penelitian, instrumen penelitian, teknik analisis data dan keabsahan data.

Bab IV: Berisi kesimpulan atas hasil penelitian yang dilakukan, validasi data dan pembahasan yang merupakan jawaban dari rumusan masalah.

Bab V: Berisi bagian penutup yang berisikan kesimpulan atas hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis dan juga memberikan saran yang ditunjukkan kepada mahasiswa Pendikkat angkatan 2019.

(26)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA A. Landasan Pustaka

Di dalam bab dua ini penulis akan memberikan diskripsi secara teoritis terkait judul yang sudah ditentukan. Secara rinci penulis memaparkan definisi perayaan Ekaristi dan pelayanan (diakonia). Adapun rincian definisi dalam bab ini, sebagai berikut.

1. Perayaan Ekaristi a. Sakramen

Konferensi Waligereja Indonesia (KWI, 1996:400) mendefinisikan pengertian sakramen sebagai berikut: “sakramen sebagai konkret duniawi yang menandai, menampakkan, dan melaksanakan atau menyampaikan keselamatan Allah atau dengan lebih tepat Allah yang menyelamatkan”. Sakramen itu sungguh-sungguh nyata yang datang dan hadir dari Allah sendiri untuk menyelamatkan umat-Nya. Keselamatan yang datang melalui sakramen-sakramen bisa dirasakan dengan penghayatan dalam hidup sehari-hari.

KHK § 840 “sakramen merupakan tanda dan sarana yang mengungkapkan dan menguatkan iman”. Sakramen yang telah kita terima bukan sekedar tanda, tetapi tanda yang menyangkut hubungan kita dengan Allah sebagai tanda yang mendatangkan rahmat. Menerima suatu sakramen juga diartikan sebagai sarana untuk menyelamatkan kita melalui rahmat yang diterima. Di dalam SC 59 menyatakan pengertian sakramen sebagai berikut : “Sakramen dimaksud sebagai

(27)

tanda untuk mendidik”. Sakramen memberi tanda dengan memperoleh rahmat secara nyata. Melalui rahmat Allah secara nyata, membuahkan hasil nyata, yaitu untuk menyembah Allah secara benar, dan mengamalkan cinta kasih, menjadi salah satu tanda mendidik iman. Maka dari itu umat kristiani dapat memahami arti lambang-lambang Sakramen, yang kita terima untuk memupuk hidup iman kristiani.

KGK 1118 “Sakramen merupakan kekuatan-kekuatan yang datang dari Tubuh Kristus yang tetap hidup dan menghidupkan”. Kekuatan yang kita terima melalui sakramen, memberikan kehidupan baru melalui rahmat Allah. Rahmat yang kita rasakan yakni persaudaraan, kasih sesama yang saling menghidupkan suatu kesatuan di dalam diri Allah. Bagi umat yang menerimanya dengan sikap batin yang terbuka akan menghasilkan buah yang baik.

Kata sakramen dalam bahasa Indonesia berasal dari kata Latin,

“Sacramentum berakar pada kata sacr, sacer yang berarti: kudus, suci, lingkungan orang kudus atau bidang yang suci. Bahasa latin sacrare berarti menyucikan, menguduskan”. Kata sacramentum menunjuk tindakan penyucian ataupun menguduskan. Kata sacramentum menunjuk “sumpah” prajurit yang digunakan untuk menyatakan kesediaan diri seseorang untuk mengabdikan diri atau menguduskan diri.

Sacramentum sendiri dipakai untuk menerjemahkan mysterion (dalam

bahasa Yunani) dalam Kitab Suci. Dalam Perjanjian Lama mysterion menggambarkan Allah sendiri yang mewahyukan diri baik dalam sejarah masa kini maupun masa yang akan datang (eskatologis). Atau rencana penyelamat-Nya

(28)

dalam sejarah manusia. Perjanjian Baru memahami mysterion sebagai rencana keselamatan Allah yang terlaksana dalam Yesus Kristus (Martasudjita 2003:61).

b. Tujuh Sakramen dalam Gereja

Gereja sebagai sakramen diwujudkan dalam tujuh sakramen Gereja. Yaitu Baptis, Ekaristi, Penguatan, Tobat, Pernikahan, Tahbisan dan Pengurapan Orang Sakit.

Martasudjita (2003:266) “Ekaristi adalah sakramen utama, dikatakan yang utama, karena Ekaristi adalah sumber dan puncak seluruh kehidupan Kristiani”.

Semua misteri hidup bersama Allah dan bersama Kristus yang mengalami kepenuhan-Nya.

Martasudjita (2003:245) melihat sakramen Kristus sebagai tanda karunia Roh Kudus dengan minyak urapan. Artinya, seseorang ikut atau ambil bagian dalam urapan Roh Allah di atas Kristus.” Roh Kudus pada orang-rang Kristiani benar-benar bekerja di dalam mereka, sama seperti Kristus yang diurapi.

Penguatan dihubungkan dengan karunia Roh Kudus yang memberi kekuatan untuk bertumbuh sebagai orang Kristiani dan memampukan orang beriman ikut ambil bagian dalam tugas pelayanan Gereja.

Konferensi Waligereja Indonesia (KWI 1996:430) menjelaskan pengertian sakramen tobat sebagai berikut:

“Sakramen Tobat adalah mengakui segala dosa melalui sakramen tobat, tidak hanya dosanya diampuni, tetapi Ia dapat lagi mengambil bagian secara penuh dalam kehidupan Gereja. Di imana kita memperoleh belas kasihan Allah berupa pengampunan atas dosa yang diakui dan disesali.

Tetapi bisa terjadi kejahatan yang besar terkena hukuman Gereja yaitu ekskomunikasi. Orang tersebut tetap menjadi anggota Gereja namun dilarang mengambil bagian dalam perayaan Ekaristi dan tugas gereja lainya.”

(29)

Martasudjita (2013: 370) “Sakramen tahbisan sering juga disebut sakramen Imamat. Istilah Imamat diungkapkan terutama aspek tugas-tugas menguduskan seperti pelayanan untuk Ekaristi, pemberian absolusi sakramen tobat, dan lain sebagainya, meskipun begitu, tugas Imamat meliputi bidang pengembalaan, pelayanan, dan pengudusan” sedangkan tahbisan lebih menekankan aspek peristiwa penuh rahmat yang mengubah dan menguduskan seseorang menjadi pemimpin gereja.

Konferensi Waligereja Indonesia (KWI 1996:435-436) menjelaskan pengertian Sakramen Perkawinan sebagai berikut: “sakramen perkawinan pada dasarnya juga menyangkut keanggotaan Gereja dalam arti Sakramen perkawinan adalah syarat dapat mengambil bagian dalam perayaan Ekaristi”. Konferensi Waligereja Indonesia (KWI, 1996: 414) “sakramen Pengurapan orang sakit adalah orang yang menerima sakramen perminyakan dan doa khusus ketika orang sungguh-sungguh menghadapi musuh yang terakhir ialah “maut”. Melalui perminyakan suci dan doa dari para imam dan seluruh Gereja menyerahkan orang yang sakit kepada Tuhan. Untuk itu ia perlu dikuatkan secara khusus, dengan mengoleskan minyak suci dan doa. Sakramen ini mengharapkan penyembuhan ataupun kekuatan untuk menghadapi maut.

c. Pengertian Ekaristi

Konferensi Waligereja Indonesia (KWI 1996:401-403) Sakramen Ekaristi adalah “sakramen utama”. Ini sesuai dengan ajaran Konsili Vatikan II, yang menyebut Ekaristi sumber dan puncak seluruh hidup Kristiani.

(30)

Konsili Vatikan kedua memakai istilah Yunani kuno untuk Ekaristi, yakni synaxiz. Kata yunani itu berarati “kumpulan” atau “pertemuan”, sama dengan

ekklesia (gereja). Tetapi itu tidak berarti bahwa perayaan Ekaristilah satu-satunya pertemuan Gereja. Di banyak tempat, bila tidak ada Imam, umat berkumpul untuk ibadat sabda atau doa bersama yang lain dan disitu pun terlaksana kesatuan umat dalam Kristus walaupun tidak dalam bentuk sakramen. Istilah sumber dan puncak yang dipakai Konsili Vatikan II dapat memberi kesan seolah-olah hanya umat yang merayakan Ekaristi sungguh umat Allah. Sabda Kristus dimana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, disitu Allah ada ditengah-tengah mereka.

Yang dimaksudkan Konsili ialah bahwa dalam Ekaristi misteri dan kebangkitan, yang merupakan sumber seluruh hidup Kristiani, dirayakan dengan paling meriah dan paling resmi (KWI 401-403).

Martasudjita (2005:292) ajaran mengenai Ekaristi ada di dalam berbagai dokumen Gereja, terutama konsititusi Lumen gentium, sacrosanctum concillium dan dekret presbyterorum ordinis. Secara singkat dan padat, Vatikan II merumuskan ajarannya mengenai Ekaristi SC 4:

Pada perjamuan terakhir, pada malam ia diserahkan, penyelamat kita mengadakan kurban Ekaristi tubuh dan darah-Nya. Dengan demikian Ia mengabdikan kurban salib untuk selamanya dan mempercayakan kepada Gereja, mempelai-Nya yang terkasih, kenangan wafat dan kebangkitan- Nya: sakramen cinta kasih, perjamuan paskah. Dalam perjamuan itu Kristus disambut, jiwa penuh rahmat, dan kita dikurniai jaminan kemulian yang akan datang.

Walupun Konsili Vatikan II tidak memberikan ajaran baru mengenai Ekaristi akan tetapi Konsili mengajarkan Ekaristi secara baru. Mengenai sakramen dan Ekaristi dalam konteks aspek Antropologis; adalah aspek yang berhubungan

(31)

dengan sifat manusiawi. Dalam setiap sakramen ada Materi (Tanda/Perbuatan) dan Forma (kata) yang dapat dipahami manusia. Aspek Kristologis adalah aspek yang bersumber pada Kristus sebagai asal dari semua sakramen, karena Kristus sendirilah disebut sebagai Sakramen Dasar. Aspek Eklesiologis ialah aspek yang berhubungan dengan Gereja sebagai pelaksana sakramen berdasarkan ajaran Kristus. Gereja adalah sakramen keselamatan karena Gereja adalah tanda persatuan antara Allah dengan manusia. Gereja menghadirkan Kristus, Kristus menghadirkan Allah. Konsili Vatikan II tetap menyampaikan berbagai ajaran tentang Ekaristi yang tersebar diberbagai dokumen.

Perayaan Ekaristi dibagi menjadi dua bagian yaitu Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi. Dalam liturgi Ekaristi ada dua unsur pokok; perayaan Syukur dan perjamuan. Ungkapan syukur laksanakan dalam bentuk perjamuan. Ekaristi sendiri berarti syukur. Karena kebaikan Allah yang telah kita alami dalam kehidupan sehari-hari. Ekaristi berarti syukur, berarti mengenangkan peristiwa yang kita alami. Dalam upacara ataupun tradisi dalam masyarakat, selalu membuat syukuran melalui berkat yang diterima dari Tuhan. Melalui perayaan syukur ini orang-orang menjadikan ini tanda persekutuan dan persaudaraan sekaligus ikut merasakan berkat Allah yang melimpah bagi hidup kita.

Dalam Ekaristi, kehadiran Kristus terjadi secara “Sacramental, artinya dalam tanda yang konkrit. Dalam hal ini Gereja mengajarkan mengenai kehadiran Kristus secara real dalam rupa roti dan anggur” (Madya Utama 2017:23-25).

Kehadiran Kristus dalam Ekaristi begitu nyata, dan bukan sekedar tanda dan simbol. Sungguh, nyata dalam arti tubuh dan darah Tuhan kita Yesus Kristus.

(32)

Kehadiran Kristus terjadi selama perayaan Ekaristi pada saat komuni, dan saat roti dan anggur disantap. Tetapi Gereja Katolik mengajarkan bahwa “kehadiran Tuhan dalam Ekaristi bukan hanya selama perayaan atau bila disantap”. Kehadiran Kristus dalam Ekaristi tetap ada dan tidak dibatasi pada saat perayaan saja.

d. Liturgi Sakramen Ekaristi

Dalam sejarah Gereja, Liturgi diartikan sebagai keikutsertaan umat dalam karya keselamatan Allah. Liturgi sebagai kultus (upacara) manusia untuk menyembah Allah sebagai karya penyelamatan Allah pada umatnya. Yang terlibat dalam Liturgi adalah “Kepala, dan anggota Mistik Kristus” (SC 7) itu berarti, subjek atau pelaku Liturgi adalah Kristus dan Gereja.

Maka Liturgi selalu merupakan tindakan Kristus dan Gereja. Sehingga di dalam Liturgi terwujudlah persatuan erat antara Kristus dengan Gereja sebagai

“Mempelai-Nya dan Tubuh-Nya sendiri”. Yang dimaksud dengan Liturgi adalah perayaan misteri keselamatan Allah dalam Kristus, yang dilaksanakan oleh Yesus Kristus bersama Gereja-Nya di dalam ikatan Roh Kudus (Martasudjita, 2011:22).

Dalam pembaharuan dan pengembangan Liturgi suci keikutsertaan segenap umat secara penuh dan aktif perlu sangat diharapkan.

e. Tata Perayaan Ekaristi

Martasudjita (2005:116) perayaan Ekaristi terdiri dari dua bagian pokok yaitu Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi. Kedua bagian pokok itu diapit oleh ritus pembuka sebagai bagian yang mempersiapkan dan ritus penutup sebagai bagian penutup.

(33)

Perayaan Ekaristi merupakan perayaan kehadiran Kristus dan seluruh karya penebusan-Nya secara sacramental dalam persekutuan umat. Dari pengertian dasar Ekaristi sebagai perayaan kehadiran Tuhan ini, kita bisa memahami makna perbagian dari perayaan Ekaristi.

Suharyo (2011:15) menjelaskan ritus pembuka memiliki tujuan untuk

“mempersatukan umat yang berhimpun dan menyiapkan mereka supaya dapat mendengarkan sabda Allah dengan penuh perhatian dan merayakan Ekaristi dengan sebaik-baiknya”. Mempersatukan umat agar mereka dapat mendengarkan sabda Allah dan merayakan Ekaristi dengan layak. Bagian-bagian dalam Ritus Pembuka biasanya ada perarakan masuk, penghormatan altar, pendupaan, tanda salib, salam, pengantar, tobat, kyrie (Tuhan kasihanilah) Gloria (kemuliaan) dan doa pembuka (Martasudjita 2005:118).

Martasudjita (2005:133) menjelaskan Liturgi Sabda, menjadi bagian yang tak terpisahkan dari liturgi Ekaristi. Liturgi sabda merupakan dialog perjumpaan antara Allah yang bersabda dan umat yang menanggapi sabda Allah. Pewartaan Allah dilaksanakan dalam pembacaan Kitab Suci dan Homili yang memperdalam sabda Allah. Tanggapan umat atas sabda Allah melalui mazmur tanggapan dan bait pengantar Injil serta syahadat para rasul dan doa umat kepada Allah.

Liturgi Ekaristi merupakan pusat seluruh perayaan Ekaristi. Karena dalam Liturgi Ekaristi doa syukur Agung yang menjadi pusat dan puncak seluruh perayaan Ekaristi. Doa Syukur Agung terdiri dari dua bagian: “Puji-syukur dan permohonan” Yang pokok adalah puji-syukur, Maka jelaslah bahwa inti dari perayaan Ekaristi adalah puji-syukur”. Puji-syukur yang kita rayakan adalah salah

(34)

satu tanda keselamatan dan rahmat yang telah kita terima dari Allah. Puji-syukur juga menjadi salah satu pengungkapan iman kita kepada Allah. Selain itu, puji- syukur juga dapat kita sampaikan melalui permohonan, tanda kepercayaan akan kebaikan Allah.

Dengan selalu mengandalkan Tuhan di dalam hidup kita menandakan bahwa kita selalu mengimani dan percaya pada Allah. Konferensi Waligereja Indonesia (KWI 1996: 406). Melalui doa Syukur Agung, umat dapat menyampaikan “ucapan puji syukur kepada Allah Bapa atas seluruh karya penyelamatan-Nya melalui Kristus yang wafat dan bangkit kepada-Nya dipersembahkan roti dan anggur yang menjadi tubuh dan darah-Nya dan doa-doa permohonan”. Komuni merupakan kesatuan bagian dari Liturgi Ekaristi. Kesatuan umat beriman dengan Tuhan sudah terjadi dari awal hingga akhir perayaan Ekaristi, hanya saja kesatuan dan persatuan kita dengan Kristus terjadi secara singkat dan istimewa dalam bentuk tanda menyantap tubuh dan darah Kristus dalam rupa roti dan anggur. Menyambut tubuh Kristus kita juga berpartisipasi dalam seluruh karya penebusan Kristus yang dikenangkan dalam doa syukur Agung (Martasudjita, 2005:143).

Ritus penutup, mengakhiri seluruh rangkaian perayaan Ekaristi serta mengantar umat untuk kembali menjalankan kehidupannya sehari-hari dan menjalankan utusannya di dunia melalui berkat dan pengutusan yang kita terima dari Allah melalui tangan imam. Inti dari ritus penutup ini adalah berkat dan pengutusan, sebelumnya disampaikan pengumuman serta perarakan keluar. Berkat mengungkapkan bahwa Tuhan sungguh hadir dan menyertai umatnya, dengan

(35)

menerima berkat kita dianugrahi kesatuan hidup dengan persatuan Allah Tritunggal. Berkat memungkinkan kita untuk melaksanakan tugas perutusan.

Pengutusan mengharapkan kita untuk melaksanakan apa yang telah kita rayakan dalam misa kudus dalam hidup sehari-hari.

2. Pandemi Virus Covid-19

Corona Virus Disease 2019 atau disingkat Covid-19 merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh SARS-CoV-2, salah satu jenih Korona Virus.

Gejala yang ditimbulkan oleh Covid-19 seperti demam, batuk kering, dan kesultan bernafas. Virus Covid-19 dapat menyebar dari satu orang ke orang lainnya melalui percikan dari saluran pernafasan yang dihasilkan saat batuk dan bersin.

Waktu dari paparan virus Covid-19 sampai munculnya gejala klinis antara 1-14 hari dengan rata-rata 5 hari. Semua orang di wajibkan memakai masker terkuhususnya bagi yang sudah terpapar.

Penyebab dari Covid-19 hingga saat ini belum diketahui, tetapi virus ini kemungkinan disebarkan oleh hewan dan mampu menjangkit hingga ke manusia.

Awal kemunculan virus ini dari kota Wuhan, China dan muncul pada Desember 2019. Tindakan pencegahan untuk mengurangi penularan dari virus Covid-19 antara lain tetap berada di rumah, menghindari berpergian dan beraktivitas di tempat umum, sering mencuci tangan, tidak menyentuh bagian pada area wajah.

(COVID-19 Hotline, 2020)

Pada 2 Maret 2020 pemerintah Indonesia mengumumkan kasus pertama penyebaran virus Covid-19. Sejak saat itu juga, kasus Covid-19 terus meningkat.

Gelombang pertama kasus Covid-19 terjadi pada Januari-Februari 2020. Dilanjut

(36)

gelombang kedua kasus Covid-19 pada Juni-Juli 2021 akibat varian Delta. Lalu, pada gelombang ketiga yang dipicu oleh varian Omicron. Hingga pada 2 Maret 2022, total tercatat ada 5.589.176 kasus Covid-19 di Indonesia dengan rincian kasus sembuh berjumlah 4.944.237 dan kasus meninggal 149.036. (2 Tahun Pandemi Covid-19, Tempo, 2022)

Langkah yang dilakukan pemerintah yakni melakukan vaksinasi keseluruh rakyat Indonesia. Hingga maret 2022 vaksinasi dosis pertama, kedua dan terakhir booster sudah diberikan ke hampir seluruh masyarakat Indonesia. Vaksinasi dosis primer minimal tiga bulan sebelumnya. Pada saat ini, pemerintah Indonesia mulai menyiapkan scenario menuju endemi. Pemerintah saat ini berupaya membuat kondisi pandemi terkendali, sebelum masuk ke pra-endemi dan endemi.

Pemerintah menyebutkan salah satu jalan menuju endemic Covid-19 adalah lewat vaksinasi dan itu harus dipercepat denga harapan memberikan pertahanan dan imun yang tinggi bagi tubuh untuk melawan Covid-19.

Virus covid-19 yang menyebabkan banyak korban akibat dari serang virus mematikan ini. Hal ini menghambat berbagai tempat-tempat yang biasanya menjadi sarana bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan seperti tempat bekerja serta tempat pariwisata dan termasuk tempat ibadah terkhususnya Gereja.

Perayaan Ekaristi pun terpaksan diubah menjadi online yang membuat dilema beberapa pihak, terkhususnya Gereja Katolik. Kegiatan sehari-hari membuat orang sulit untuk ambil bagian dalam tugas gereja. Persoalan ini sangat terlihat pada para mahasiswa prodi PENDIKKAT terkhususnya angkatan 2019 yang mencoba untuk tetap terlibat dalam perayaan Ekaristi online, mereka kesulitan

(37)

dalam menciptakan keheningan batin apalagi tidak adanya penerimaan Tubuh dan Darah Kristus membuat para mahasiswa merasa ada yang hilang.

3. Ekaristi di Masa Pandemi Virus Covid-19

Pada masa ini, seluruh dunia mengalami situasi darurat di karenakan pandemi virus Covid-19 termasuk Gereja yang sekarang masih menerapkan perayaan Ekaristi secara online. Umat dihadapkan pada suatu yang berbeda dikarenakan perayaan Ekaristi online ini. Imam di Gereja merayakan Ekaristi hanya dengan beberapa petugas khusus gereja. Perayaan Ekaristi tersebut disiarkan secara langsung melalui berbagai media sosial, seperti Youtube, Zoom dan lain sebagainya.

Gereja perlu membantu umat untuk menghayati serta mereflesikan atau merenungkan lebih mendalam lagi relasi Tuhan dengan manusia dimasa pandemi ini. Oleh karena itu Gereja memiliki tugas berat setelah pandemi covid-19 ini berakhir. Umat seperti ada jarak dengan Allah. Gereja memberikan solusi dengan menggunakan komuni batin sebagai pengganti dari Komuni sacramental, agar umat masih terikat dan lebih menghayati Allah dimasa Pandemi ini.

a. Makna Ekaristi Selama Pandemi

Pandemi ini seakan menyadarkan umat akan kehausan akan pelayanan Ekaristi di gereja. Situasi ini mendorong tumbuhnya rasa solidaritas dengan komunitas gereja lokal lainnya. Iman Katolik merayakan Ekaristi yang disiarkan secara live dan disaat yang sama umat berpartisipasi melalui media digital sejauh yang dijangkau. Partisipasi yang bukan hanya menonton sebuah film atau video

(38)

tentang perayaan Ekaristi tetapi memaknai perayaan Ekaristi seperti halnya ketika kita berada di dalam Gereja.

Communio spiritual atau persekutuan rohani menggantikan komuni,

meskipun Ekaristi tidak dapat dirayakan dalam bentuk kehadiran tubuh dan darah, Ekaristi tetap berlaku karena Communio Spiritual atau persekutuan Gereja yang merayakan Ekaristi tidak selalu bersifat fisik atau materi, tetapi juga spiritual dan batin. Tanpa menerima komuni Ekaristi, semua umat Katolik menyadari bahwa arti "tubuh dan darah" terbatas, tetapi kasih Tuhan tidak dibatasi oleh simbol. Kita adalah makhluk yang terbatas, tetapi Tuhan mencintai kita tanpa memandang ruang dan waktu (Atawolo, 2020).

b. Komuni Spiritual

Komuni Spiritual atau “Persekutuan Spiritual” merupakan tujuan umat untuk selalu bersatu terus-menerus dengan Yesus. Ketika seseorang tidak dapat menerima komuni sacramental (Tubuh dan Darah Kristus), juga dapat disebut

“Komuni Hasrat”: berhasrat agar kehidupannya sendiri dipersatukan dengan Yesus, dan Khususnya untuk pengorbanan-Nya bagi kita di kayu salib.

Selama misa online, penerimaan Tubuh dan darah Kristus tidak bisa dilaksanakan secara fisik, sehingga praktik penerimaan Tubuh dan Darah Kristus dilakukan secara spiritual melalui doa kumuni batin atau doa komuni spiritual.

Umat katolik belum bisa menyambut Komuni kudus secara langsung atau sacramental, doa komuni batin didaraskan sebagai bentuk penerimaan Tubuh dan Darah Kristus secara Rohani atau tidak langsung. Komuni spiritual secara umum

(39)

bertujuan untuk menyatukan diri secara mendalam dengan Yesus Kristus dalam ekaristi Kudus.

Dalam waktu puasa (tanpa menerima Tubuh dan Darah Kristus) Ekaristi yang berkepanjangan yang dipaksakan pada kita, banyak orang yang terbiasa dengan Komuni Sakramental yang semakin lama semakin merasakan kurangnya

“Roti harian” Ekaristi. Dengan cara yang benar-benar luar biasa, Gereja sendirilah yang menerima beban memaksakan puasa ini kepada umat beriman, sebagai tanda solidaritas dan partisipasi dalam kepedulian seluruh populasi yang dipaksa mengalami pembatasan, privasi, dan penderitaan karena pandemi. (Karya Kepausan Indonesia, 2020).

4. Keterlibatan Mahasiswa dalam Tugas Pelayanan (Diakonia) a. Keterlibatan

Katekismus Gereja Katolik (KGK, 1995) mendefinisikan partisipasi sebagai pengudusan sukarela dan mulia dari setiap individu. Partisipasi berasal dari dalam diri manusia dan tidak dipaksakan oleh salah satu pihak.

Partisipasi adalah ekspresi dan kesadaran diri akan persaudaraan sejati sebagai anggota gereja dan masyarakat. Partisipasi juga merupakan keputusan rasional individu berdasarkan kehendak rasional dan keinginan untuk melakukan sesuatu. Partisipasi bukan hanya sekedar bentuk partisipasi sosial, melainkan manifestasi dari keyakinan dalam kehidupan sehari-hari. Apa yang diwujudkan dalam Imani mencakup partisipasi aktif dalam masyarakat. (Dua Gate, 1975: 9).

(40)

b. Pelayanan (Diakonia)

Pelayanan (diakonia) adalah umat Kristiani yang menerima Penguatan, memiliki rasa partisipasi batin dalam pelayanan, memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan. Pelayanan ini secara khusus dalam Gereja, dan Yesus Kristus yang menjadi dasar dalam pelayanan tersebut “datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani” (Mrk 10:45)

Chen & Manfred Habur (2020:4-5) mengatakan bahwa diakonia adalah hal yang menjembatani Gereja dengan dunia. Melalui diakonia tampaklah perutusan Gereja untuk memberikan wajah manusiawi kepada dunia. Gereja mengulurkan tangan untuk menggapai dan menguatkan orang-orang yang berada dalam situasi kemelaratan dan menjadi harapan kepada semua orang yang mengalami kemiskinan dan penderitaan di tengah dunia ini.

Hidup menggereja bukan sekedar pergi atau aktif dalam gereja dan lingkungan saja. Bukan sekedar merayakan Ekaristi, rajin berdoa dan berziarah.

Tetapi hidup menggereja itu haruslah dengan keyakinan dengan tindakan yang nyata. Butuh penegasan keiklasan dan ketulusan untuk hati untuk hadir ditengah- tengah umat yang beragam dan disertai dengan pendampingan agar tampaklah apa yang dinamakan Pelayanan (diakonia).

Diakonia merupakan salah satu bentuk pewartaan tentang kebenaran iman

akan Yesus Kristus. Diakonia ibaratnya seperti khotbah tanpa kata-kata, yang mengubah dan membarui kehidupan (1Ptr. 3:1). Gereja yang terlibat dalam “suka dan duka” serta “kecemasan dan harapan” dunia yang terwujud dalam diakonia.

Sebaliknya diakonia Gereja yang sejati harus dapat menyentuh dan menjawab

(41)

suara penderitaan kemanusiaan. Diakonia Gereja mesti dapat menciptakan harapan pembebasan dari orang miskin, orang sakit, keluarga migran dan lain sebagainya.

Pelayanan diartikan juga sebagai perbuatan yang baik dan bahkan sangat baik. Dengan membantu orang lain itu sudah dihitung sebagai tindak pelayanan.

Melalui pelayanan diakonia ini, umat Kristiani yang sudah menerima sakramen penguatan, pastinya mempunyai kesadaran di dalam hati untuk ikut serta dalam pelayanan, memberikan pertolongan dan bantuan kepada orang yang membutuhkan dan menjadi berkat bagi semua orang. Dengan pelayanan ini, sakramen penguatan memberikan pengaruh yang besar dalam diri umat untuk saling melayani dan berbagi bukan hanya kepada umat Kristiani saya melainkan kepada seluruh umat manusia.

Diakonia dalam Gereja bukan hanya tugas dari seorang imam, diakon dan

lainnya, melainkan tugas seluruh umat karena diakonia merupakan tugas Gereja yang langsung diwartakan Allah melalui Yesus Kristus. Disini gereja wajib memperhatikan kehidupan orang-orang yang berada dalam kesusahan baik dari faktor ekonomi, maupun mental. Gereja dalam artian umat yang percaya akan Kristus harus menampakkan solidaritas antara umat manusia tanpa melihat perbedaan. Dari sinilah kita bisa melihat keindahan dalam karya nyata Kristus dalam melayani umatnnya.

Dalam kenyataan yang lebih konkret, pelayanan merupakan suatu kesadaran etis dari manusia yaitu bahwa dirinya secara langsung maupun tidak langsung hidup dari orang lain, dengan orang lain dan untuk orang lain. Oleh

(42)

sebab itu dalam pelayanan tersebut terkandung rasa tanggung jawab dan perhatian terhadap keberadaan dan kesejahteraan hidup orang lain. Secara harafiah kata

“diakonia” berarti “memberi pertolongan atau pelayanan”. (A. Noordegraaf:

2004).

Penutup dalam perayaan Ekaristi merupakan salah satu perutusan Allah kepada umat Kristiani dan mengantar umat untuk kembali ke perjuangan sehari- hari melalui berkat dan pengutusan yang tidak lain dan tidak bukan umat diutus untuk melayani kepada seluruh umat-Nya, serta mewartkan kabar sukacita dari Allah Yang Maha Kasih.

c. Keterlibatan Mahasiswa

Keterlibatan mahasiswa PENDIKKAT tak lepas dari adanya kegiatan untuk pelayanan. Bahkan mahasiswa dibekali dan diberikan kesempatan oleh kampus agar dapat menjadi sosok seorang katekis yang bisa menggembalakan umat dengan fokus utama adalah pelayan. Menjadi guru dan juga seorang katekis adalah bagian dari pelayanan, tentu mahasiswa diharapkan dapat menjadi sosok yang bisa dicontoh umat sebagai sarana untuk mengenal Kristus dan ajaran- ajaran-Nya untuk saling melayani. Banyak sekali kegiatan-kegiatan dan matakuliah mahasiswa yang melakukan pelayanan. Dikampus contohnya, mahasiswa diajarkan berkatekese dan sudah di fasilitasi oleh kampus untuk mendukung kegiatan berkateke terlebih untuk melayani.

Kampus mengharapkan mahasiswa mampu terlibat langsung dengan umat khususnya di Paroki dan Lingkungan mereka tinggal. Contoh katekese yang sering dilakukan mahasiswa sekaligus praktek lapangan untuk tugas perkuliahan

(43)

adalah SCP (Shared Christian Praxis). Model katekese ini menekankan keterlibatan umat untuk bisa menghubungkan kehidupan pribadi umat dengan kehidupan Kristiani. Ada juga melaksanakan PLP (Pengenalan Lingkungan Persekolahan) sebagai matakuliah wajib praktek mengenal dan menjadi seorang guru. Untuk diluar kampus, mahasiswa sering ambil bagian dalam kehidupan menggereja seperti menjadi lektor/lektris, putra putri Altar, PIA (Pembinaan Iman Anak) dan ada juga mengisi koor di beberapa gereja serta melakukan studi bandi ke kampus lain. Pada intinya mahasiswa sangat ditekankan untuk terlibat aktif dalam pelayanan baik di kampus, lingkungan, maupun Gereja.

B. Kerangka Berpikir

Perayaan Ekaristi pada masa pandemi merupakan suatu hal yang penting untuk dilaksanakan demi perkembangan umat terkhususnya mahasiswa PENDIKKAT angkatan 2019. Keterlibatan mahasiswa dalam pelayanan dimulai dari diri sendiri, ketika mengikuti perayaan Ekaristi online mahasiswa semakin sadar akan tanggung jawab sebagai orang Kristiani untuk menjadi pelayan bagi orang lain. Sabda Kristus, dimana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama- Ku, disitu Allah ada ditengah-tengah mereka. Walaupun mahasiswa hanya merayakan perayaan Ekaristi baik bersama teman, keluarga atau yang lainnya, tetap harus siap melayani umat Allah juga umat semakin sadar dan bertanggung jawab sebagai orang Kristiani.

Dari paparan di atas perayaan Ekaristi pada masa pandemi virus Covid-19 ini mempengaruhi pada keterlibatan mahasiswa dalam tugas pelayanan (diakonia).

Pada akhirnya perayaan Ekaristi daring akan mempengaruhi seluruh aspek

(44)

kehidupan umat terkhususnya mahasiswa sehingga mahasiswa semakin tersadar dan semakin terlibat dalam pelayanan (diakonia) serta melaksanakan pelayanan tersebut dengan sepenuh hati dan menjiwainya.

(45)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian

Penelitian yang penulis gunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif fenomenologis yang menekankan pada fokus pengalaman dan perspektif pada setiap topik dari subjek yang di teliti. Penelitian ini berusaha menemukan makna pengalaman ditinjau dari apa yang terjadi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan atau makna dalam hal-hal dasar dari pengalaman hidup (Moleong, 2012: 6). Penelitian ini bermaksud untuk menggali lebih dalam menggunakan fitur dan pengamatan penelitian kualitatif. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis, penulis mengeksplorasi pelayanan perayaan Ekaristi di masa pandemi Covid-19 terhadap mahasiswa prodi pendidikan agama Katolik di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta melalui pengalaman subyektif dari berbagai subyek yang ditemui.

B. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kampus V Universitas Sanata Dharma dalam kurun waktu satu bulan yakni pada Maret 2022.

C. Metode Penelitian

Penelitian kualitatif tidak mempersoalkan jumlah informan, melainkan kesesuaian pilihan informan. Oleh karena itu, informan diidentifikasi melalui teknik purposive sampling, yaitu peneliti memilih informan berdasarkan kriteria tertentu yang telah diterapkan. Kriteria ini harus konsisten dengan topik

(46)

penelitian. Kriterianya adalah informan yang memiliki pengalaman luas dan informan yang dipilih bersedia untuk berpartisipasi dalam penelitian.

Peran informan adalah memberi tanggapan dan sebagai sumber informasi utama terkait data yang dibutuhkan oleh peneliti serta memberi masukan kepada peneliti baik secara langsung maupun tidak langsung. Informan dalam penelitian ini adalah mahasiswa prodi pendidikan keagamaan Katolik angkatan 2019 di Universitas Sanata Dharma. Mereka dipilih sebagai informan karena dinilai mengetahui permasalahan, memiliki data dan bersedia memberikan informasi yang akurat dan terpercaya. Dengan demikian informan dalam penelitian ini adalah mahasiswa.

D. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini penulis menggunakan teknis observasi, dan wawancara. Penulis menjelaskan metode ini sebagai berikut:

1. Observasi

Observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses pengamatan dan ingatan. Penulis menggunakan Observasi Berperanserta. Penulis terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau digunakan sebagai sumber data penelitian. Dengan observasi partisipan ini, maka data yang diperoleh akan lebih lengkap dan sampai mengetahui pada tingkat makna dari setiap perilaku yang nampak (Sugiono 2019 : 238-239).

Disini penulis melakukan pengamatan tentang peranan perayaan Ekaristi terhadap keterlibatan mahasiswa PENDIKKAT angkatan 2019 dalam tugas

(47)

pelayanan, maka penulis dapat menilai setiap perilaku dan ucapan dengan menggunakan instrumen yang digunakan.

2. Wawancara Mendalam

Wawancara mendalam dan tertruktur merupakan proses menggali informasi secara mendalam, terbuka, bebas dengan masalah fokus penelitian diarahkan pada pusat penelitian. Wawancara mendalam ini dilaksanakan dengan adannya daftar pertanyaan yang telah disusun dengan hasil yang ingin dicapai.

Teknik wawancara ini bertujuan untuk memperoleh data atau informasi yang dibutuhkan secara mendalam dari narasumber yang bersangkutan sehingga mendapatkan informasi secara langsung dan mengetahui dengan jelas peristiwa tersebut. Saat mengumpulkan data di lapangan, peneliti dibantu dengan panduan wawancara (alat audio atau video call). Hal ini dilakukan untuk memudahkan pengumpulan dan pengumpulan data oleh peneliti.

E. Instrumen Penelitian

Penelitian ini menggunakan instrument penelitian berfokus pada pedoman wawancara dan didukung oleh observasi untuk memperkuat. Adapun pedoman yang digunakan peneliti sebagai berikut:

(48)

Kisi-kisi Instrumen Penelitian Tabel 1.1: Kisi-kisi Pertanyaan Wawancara

Fokus Penelitian Aspek Pertanyaan No

Peranan perayaan Ekaristi selama masa

pandemi terhadap dalam tugas

pelayanan (Diakonia)

Pengetahuan Sejauh mana anda memahami dan memaknai perayaan ekaristi?

1,2

Pengalaman

Bagaimana pengalaman anda mengikuti perayaan ekaristi selama masa pandemi?

3,4

Perasaan

Bagaimana perasaaan anda mengikuti perayaan Ekaristi selama masa pandemi?

5,6

Niat/Motivasi

Motivasi apa yang anda peroleh selama mengikuti perayaan ekaristi selama masa pandemic dalam melakukan pelayanan (diakonia)

7,8

Tabel 1: Pedoman Observasi

Tujuan Aspek yang diamati

Untuk memperoleh informasi dan data yang lebih akurat mengenai penghayatan mahasiswa PENDIKKAT angkatan 2019 dalam pelayanan Diakonia Gereja selama pandemi Covid-19.

1. Bagaimana penghayatan perayaan Ekaristi mahasiswa PENDIKKAT angkatan 2019 selama masa pandemi dalam mengupayakan tugas pelayanan Gereja (Diakonia)?

2. Bagaimana bentuk keterlibatan mahasiswa PENDIKKAT angkatan 2019 dalam mewujudkan tugas pelayanan Gereja (Diakonia) selama masa pandemi?

(49)

Tabel 2.1: Wawancara Mahasiswa

No. Pertanyaan

1 Menurut anda apa yang dimaksud dengan perayaan Ekaristi?

2 Apa makna dari setiap ritus-ritus perayaan Ekaristi?

3 Apakah perayaan Ekaristi online berperan penting bagi anda dalam memberikan semangat untuk melakukan tugas pelayanan Gereja di masa pandemi?

4 Apa perbedaan yang anda lihat dalam misa online dan offline, terutama yang hal-hal yang membuat ada perlu menyesuaikan diri?

5 Hal-hal apa saja yang anda rasakan dalam mengikuti perayaan Ekaristi selama masa pandemi?

6 Kesulitan apa saja yang anda alami selama melakukan pelayanan dimasa pandemi?

7 Apakah perayaan Ekaristi online mendorong anda semakin semangat dalam perkuliahan dan dalam melakukan pelayanan (diakonia)?

8 Apa yang membuat anda tergerak dalam melakukan pelayanan di masa pandemi?

Tabel 2.2: Wawancara Teman Dekat/Keluarga dan Ketua Lingkungan

No Pertanyaan

1 Berdasarkan pengamatan bapak/ibu, sejauh mana mahasiswa PENDIKKAT terlibat dalam kegiatan pelayan Gereja di masa Pandemi baik itu di lingkungan mau di Gereja secara terbatas?

2 Menurut pengalaman bapak/ibu, sejauh mana misa online berperan menyemangati bapak/ibu dalam melakukan kegiatan pelayanan Gereja (Diakonia) dimasa pandemi Covid-19?

3 Menurut bapak/ibu apa perbedaan yang paling berkesan dari perayaan Ekaristi online dan offline?

4 Apa usulan bapak/ibu kepada mahasiswa khususnya yang kuliah di PENDIKKAT untuk semakin terlibat dalam tugas pelayanan Gereja?

(50)

F. Teknik Analisis Data

Menurut Sugiyono (2014:334) analisis data merupakan proses mencari dan menyusun data secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan dilapangan dan bahan-bahan lain, sehingga mudah dipahami. Analisis data dilakukan dengan mengorganisasikan data, menyusun ke dalam pola, memilih nama yang penting dan yang akan dipelajari. Setelah itu membuat kesimpulan akhir sehingga mudah dipahami. Berikut langkah-langkah analisis yang digunakan penelitian kualitatif:

1. Reduksi data

Menurut Sugiono (2014:338), reduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, mencari tema dan pola, dan membuang hal-hal yang tidak perlu. Oleh karena itu, data yang direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, memudahkan peneliti untuk membuat gambaran yang lebih jelas, dan bagi peneliti untuk mengumpulkan lebih banyak data dan menemukannya pada saat dibutuhkan.

2. Penyajian data

Miles dan Hubermen menunjukkan bahwa "teks naratif paling sering digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif". Dengan menunjukkan data, akan lebih mudah untuk memahami apa yang sedang terjadi dan merencanakan pekerjaan lebih lanjut berdasarkan apa yang sudah diketahui (Sugiyono, 2014:341).

(51)

3. Verifikasi

Langkah ketiga dalam analisis data kualitatif menurut Miles and Huberman (Sugiyono, 2014: 345) adalah penarikan kesimpulan verifikasi.

Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yanga kuat yang mendukung pada tahap awal, didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data, kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel.

G. Pengujian Keabsahan Data

Validasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Triangulasi merupakan metode yang dilakukan peneliti pada saat mengumpulkan dan menganalisis data.

Fenomena yang diteliti dapat dipahami dengan baik sehingga data yang diperoleh akurat dan kebenaran yang pasti jika dilihat dari berbagai sudut pandang. Karena itu triangulasi ialah usaha mengecek keakuratan data dan informasi yang diperoleh peneliti dari berbagai sudut pandang yang berbeda dengan cara mengurangi sebanyak mungkin kesalahan yang terjadi pada saat pengumpulan dan analisis data (Moleong, 2008:330).

(52)

BAB IV

HASIL PENELITIAN

Pada bab IV ini, penulis menjelaskan hasil penelitian yang telah dilaksanan mulai 1-30 April 2022 kepada mahasiswa program studi Pendidikan Keagamaan Katolik angkatan 2019 Universitas Sanata Dharma. Penjelasan yang dimaksud adalah analisis data wawancara, analisis observasi, validasi data dan pembahasan. Selain itu penulis juga memaparkan usulan program kepada mahasiswa maupun prodi. Adapun hasil penelitian itu sebagai berikut:

A. Gambaran Umum Mahasiswa PENDIKKAT Angkatan 2019

Mahasiswa PENDIKKAT angkatan 2019 berasal dari daerah yang berbeda-beda. Di antaranya berasal dari Sumatera, Kalimantan, NTT dan tempat atau daerah lainnya. Mereka semua menempuh pendidikan di Universitas Santa Dharma Program Studi Pendidikan Keagaman Katolik Yogyakarta. Mereka semua dipersiapkan menjadi guru agama dan katekis dengan harapanya dapat kembali ke kampung halaman dan berkarya di tempat mereka masing-masning.

Di dalam proses perkulihan yang mereka jalani, ada banyak kegiatan yang mereka ikuti dengan tujuan untuk mengembangkan softskill mereka. Baik itu dalam lingkungan kampus maupun luar kampus. Seperti ambil bagian dalam organisasi kampus, kegiatan doa lingkungan, koor, lektor, pendamping PIA dan masih banyak kegiatan lainnya.

Semenjak adanya pandemi, aktifitas dan kegiatan mahasiswa angkatan 2019 terhenti sementara demi kebaikan dan kesehatan bersama.

(53)

Ada beberapa dari mereka yang sudah mulai tidak aktif dalam kegiatan kampus atau gereja karena masih takut dengan situasi pandemi yang belum usai. Di dalam penelitian ini, penulis hanya berfokus pada mahasiswa angkatan 2019 perantau yang datang dari luar pulau jawa. Dengan maksud mempermudah penulis dalam mencari tahu bagimana mereka memaknai perayaan Ekaristi dimasa pandemi sebagai kekuatan mereka dalam melakukan pelayanan Gereja.

B. Hasil dan Analisis Data Wawancara

1. Menurut anda apa yang dimaksud dengan perayaan Ekaristi?

Melalui sepuluh (10) mahasiswa PENDIKKAT angkatan 2019 yang menjadi informan dan yang diwawancarai, penulis mendapatkan data sebagai berikut. Mereka memaknai perayaan Ekaristi sebagai tanda penyelamatan Allah kepada umat-Nya yang patut disyukuri dalam wujud Roti dan Anggur yang menjadi simbol Tubuh dan Darah Yesus itu sendiri. Seperti yang diungkapkan I1, bagi saya perayaan Ekaristi adalah: “Sebagai sebuah ritus yang sakral sekaligus sebagai tanda dan sarana dimana menghadirkan Yesus Kristus sebagai puncak dari sumber keselamatan dalam Tubuh dan Darah-Nya”. Kemudian jawaban ini divalidasi lagi dengan jawaban I2, yang mengatakan bahwa: “Perayaan Ekaristi sebagai puncak iman dan sumber keselamatan umat kristiani. [Lampiran 2:(2-3)].

Selain dua informan di atas, penulis juga memperhatikan jawaban dari I3 dan I4 yang tidak kalah menarik. Dua informan ini menjelaskan perayaan Ekaristi adalah Yesus yang hadir untuk kita. Jawaban yang singkat namun penuh dengan makna. Penulis menangkap bahwa perayaan Ekaristi bagi mereka tidak hanya sekedar perayaan syukur, melainkan perjumpaan yang mendalam dengan Yesus

(54)

sendiri yang menyelamatkan, menguatkan dan menemaninya dalam suka dan duka yang mereka alami.

Begitu juga dengan I5-I10 menyadari dan memahami perayaan Ekaristi sebagai ucapan syukur atas karya penyelamatan Allah kepada umat-Nya. Dari hasil jawaban informan terkait pertanyaan nomor satu ini, penulis dapat menyimpulkan bahwa informan memahami dengan baik perayaan Ekaristi.

Mereka tidak hanya memberikan jawaban yang teoritis, melainkan mereka juga memberikan jawaban yang sangat reflektif yang dapat dipahami.

2. Apa makna dari setiap ritus-ritus perayaan Ekaristi?

Melalui soal nomor dua ini, penulis menemukan data sebagai berikut.

Sepuluh informan yang penulis wawancarai mengenai soal nomor dua ini, tujuh (7) di antaranya merefleksikan ritus-ritus yang terdapat dalam perayaan Ekaristi sebagai sebuah proses memantaskan diri dalam menyambut Tubuh dan Darah Kristis sendiri yang menjadi forma utama dalam perayaan Ekaristi. Hal ini dapat dilihat dari jawaban I1, saya memahami: “Ritus Pembuka sebagai tanda kegembiraan yang mengajak umat menuju perayaan ekaristi”. Begitu juga dengan I2, bagi saya: “Ritus sabda adalah Allah sendiri hadir dalam bacaan sabda, mazmur dan Injil dan ritus ekaristi menjadi puncak keselamatan yang di tandai dengan doa syukur agung, yesus hadir melalui iman. Ritus penutup ritus perutusan dimana gereja kembali ke kehidupan masing-masing untuk melakukan perutusan”.

I3, saya memahami: “Ritus pembuka sebagai langkah membuka hati untuk mengikuti perayaan ekaristi sedangkan ritus lainnya sebagai lanjutan dalam perayaan ekaristi, seperti: ritus sabda, mendengarkan bacaan dan merenungkan

Referensi

Dokumen terkait

Dikarnakan adanya pandemi covid-19, mata kuliah di Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dilakukan secara online

PENGARUH PENGELOLAAN UANG SAKU DAN MEDIA SOSIAL TERHADAP GAYA HIDUP MAHASISWA PENDIDIKAN EKONOMI UNIVERSITAS SANATA DHARMA DI TENGAH PANDEMI COVID-19 Dengan demikian saya

pendidikan di indonesia selama masa pandemi covid-19 dilakukan secara daring atau dari rumah (School From Home). Namun karena sekarang masa pandemi covid mulai

Mahasiswa menyatakan pembelajaran online dapat membantu dalam perkuliahan, dengan pendidikan online dan peluang untuk interaksi online pada mahasiswa dapat mengakses

24 Sementara itu, penulis akan melakukan penelitian tentang Peran Gereja Dalam Pelayanan Diakonia Terhadap Warga Ekonomi Lemah Masa Pandemi Covid-19 di GKI Jatibarang.. Bagaimana

Untuk sistem pelayanan sosial dari Program NHC di masa pandemi tidak jauh berbeda dengan sistem pelayanan Program NHC saat sebelum adanya pandemi covid-19, hanya

Terdapat berbagai istilah untuk mengemukakan gagasan tentang pembelajaran jarak jauh dengan memanfaatkan intenet, yaitu: online learning, e-learning (pembelajaran

Berdasarkan hasil wawancara terkait persepsi mahasiswa pendidikan matematika terhadap pembelajaran daring (online) pada masa pandemi covid-19 di STKIP Budidaya Binjai,