Daerah penelitian ditentukan secara purposive yaitu di Desa Banuaji IV, Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Peneliti menentukan daerah penelitian tersebut secara sengaja karena daerah ini merupakan sentra produksi kacang tanah di kabupaten Tapanuli Utara ditinjau dari luas panen dan produksi yang paling tinggi diantara kecamatan yang ada di Kabupaten Tapanuli Utara seperti yang ditunjukkan pada tabel berikut: Tabel 3: Luas Panen, Produksi, Produktivitas kacang tanah kabupaten Tapanuli Utara
tahun 2010
No Kecamatan Luas Panen
(Ha) Produksi (Ton) Produktivitas (Kw/Ha)) 1 PARMONANGAN 120 214.40 17.70 2 ADIANKOTING 421 745.17 17.70 3 SIPOHOLON 335 589.60 17.60 4 TARUTUNG 113 199.45 17.65 5 SIATAS BARITA 65 114.40 17.60 6 PAHAE JULU 15 26.18 17.45 7 PAHAE JAE 66 115.17 17.45 8 PURBATUA 26 45.63 17.55 9 SIMANGUMBAN 18 31.59 17.55 10 PANGARIBUAN 111 195. 92 17.65 11 GAROGA 61 109.50 17.95 12 SIPAHUTAR 54 96.39 17.85 13 SIBORONG-BORONG 409 730.07 17.85 14 PAGARAN 235 415.95 17.70 15 MUARA 202 358.55 17.75 JUMLAH 2.143 3.891,28 17,71
Sumber: Tapanuli Utara Dalam Angka, BPS Sumatera Utara, 2011
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa Kecamatan Adiankoting merupakan kecamatan yang memiliki luas lahan dan produksi kacang tanah yang lebih tinggi dibandingkan kecamatan yang lainnya. Tabel berikut ini menunjukkan produksi dan luas lahan kacang tanah setiap desa di kecamatan Adiankoting.
Tabel 4: Luas Lahan, Produksi dan Produktivitas Kacang Tanah di kecamatan AdiankotingTahun 2010 No Desa Luas Lahan (Ha) Produksi (Ton) Produktivitas (Kw/Ha) 1 Dolok nauli 45 80.10 17.70 2 Banuaji I 75 141.75 18.90 3 Banuaji II 40 68.00 17.00 4 Banuaji IV 95 161.50 17.00 5 Pansurbatu 80 142.40 17.80 6 Pagaran Lambung I 35 59.50 17.00 7 Pagaran Lambung II 20 35.60 17.80
8 Pagaran Lambung III 21 37.38 17.80
9 Pagaran Lambung IV 10 17.78 17.78
Sumber: PPL kecamatan Adiankoting Tahun 2011
Tabel di atas menunjukkan bahwa desa Banuaji IV sebagai daerah sentra produksi dari seluruh desa yang terdapat di Kecamatan Adiankoting.
Metode Penentuan Sampel
Menurut BPS kecamatan Adiankoting dalam angka tahun 2011 desa Banuaji IV dihuni oleh 225 KK dimana semua penduduknya menanam kacang tanah. Dari sejumlah kepala keluarga ini, ditarik sampel penelitian. Penarikan sampel dilakukan secara simple random sampling.
Beberapa ahli percaya bahwa 30 subjek per kelompok dapat dipertimbangkan sebagai ukuran minimum (Sevilla, dkk, 1993).
Berdasarkan pertimbangan di atas, maka dalam hal ini jumlah sampel ditetapkan sebesar 30 KK.
Metode Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini ada dua jenis yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan melakukan wawancara langsung dengan responden di
daerah penelitian sementara data sekunder diperoleh dari berbagai lembaga seperti BPS, PPL Kecamatan Adiankoting, dan kantor camat Kecamatan Adiankoting.
Metode Analisis Data
Untuk menguji hipotesis 1 yaitu sistem usahatani kacang tanah, dilakukan dengan cara mengetahui terlebih dahulu bagaimana proses usahatani kacang tanah yang dilakukan petani di daerah penelitian. Dengan demikian bisa diketahui apakah kegiatan yang dilakukan sesuai atau tidak sesuai dengan yang dianjurkan menurut Suprapto (2000). Dalam analisisnya, untuk kegiatan yang dilakukan sesuai teknis budidaya yang dianjurkan diberikan skor tertinggi = 1 sementara untuk teknis budidaya yang tidak sesuai diberikan skor =0.
Untuk menguji hipotesis 2 diperlukan data deskriptif. Jumlah produksi panen yang normal dalam satuan luas, misalnya untuk lahan seluas satu hektar
produksi normal berkisar antara 1,5-2,5 ton polong kering (Anonimous4, 2007).
Model analisis yang digunakan menguji hipotesis 3 adalah fungsi produksi Cobb- Douglas metode OLS. Fungsi produksi Cobb-Douglas ini adalah suatu fungsi yang melibatkan dua dan atau lebih variabel, dimana variabel satu disebut variabel dependen (Y) dan yang lainnya disebut variabel independen (X), penyelesaian hubungan antara X dan Y adalah dengan cara regresi, dimana variasi dari Y akan dipengaruhi variasi dari X (Soekartawi, 1995).
Fungsi produksi Cobb-Douglas dengan metode OLS (Ordinary Least Square)
dipergunakan untuk mengetahui hubungan antara input dan output serta mengukur pengaruh dari berbagai perubahan harga dari input terhadap produksi. Dalam menggunakan fungsi Cobb-Douglas ini dengan memasukkan input variabel dan input tetap. Adapun bentuk fungsi produksi Cobb-Douglas adalah sebagai berikut:
Y= A �1�1�2�2�3�3�4�4�5�5�6�6�7�7�8�8�9�9
Untuk memperoleh persamaan dalam bentuk linear, maka perlu dilakukan pengambilan logaritma dari persamaan di atas sehingga menjadi sebagai berikut:
Log Y= A+a1 log�1 +�2����2 +�3����3 +�4����4 +�5����5 +�6����6 +�7����7 +
�8����8 +�9����9 dimana : Y = produksi kacang tanah X1= Luas Lahan (Ha) X2 = Jumlah Benih (Kg) X3=Pupuk Urea (Kg) X4=Pupuk NPK (Kg) X5= Pupuk PHONSKA (Kg) X6=Pupuk SS (Kg) X7= Pupuk TSP (Kg) X8= Pupuk ZA (Kg) X9= Tenaga Kerja (HKP) a1...a9= koefisien input
Model yang sudah terbentuk adalah model persamaan regresi linear majemuk. Dalam regresi linear dikenal uji kesesuaian secara serempak maupun parsial dan juga uji asumsi klasik yang akan dibahas sebagai berikut.
Uji Kesesuaian (Test Goodness of Fit)
Untuk menguji pengaruh input terhadap output digunakan uji F dengan rumus sebagai berikut:
�ℎ����� = �2/�
(1− �)(� − � −1)
Dengan keterangan: r2= Koefisien determinasi n= Jumlah sampel
k= Derajat bebas pembilang; Jumlah parameter yang diamati n-k-1= Derajat bebas penyebut
Uji F ini bertujuan untuk mengetahui signifikansi koefisien secara serempak dengan kriteria uji hipotesis adalah:
Jika �ℎ����� > ������ maka terima Ho atau tolak H1
Jika �ℎ����� < ������ maka tolak Ho atau terima H1 (Sudjana, 2002)
Sementara untuk mengetahui apakah variabel berpengaruh secara parsial dilakukan dengan menggunakan uji t dengan kriteria uji hipotesisnya adalah:
t-hitung>t-tabel maka terima Ho atau tolak H1 t-hitung<t-tabel maka tolak Ho atau terima H1
Uji Asumsi Klasik
Dalam regresi linier majemuk ditemukan berbagai permasalahan. Digunakannya beberapa variabel bebas mengakibatkan berpeluangnya variabel bebas tersebut saling berkorelasi, atau yang dikenal dengan multikolinearitas diantara variabel bebas dan dikenal juga istilah heteroskedatisitasyaitu bila varian tidak konstan atau beruba-ubah. Bila kedua hal itu terjadi, maka akan mengganggu ketepatan model yang dibuat.
Multikolinearitas
Dalam membuat regresi berganda, variabel bebas yang baik adalah variabel bebas yang mempunyai hubungan dengan variabel terikat, tetapi tidak mempunyai hubungan dengan
variabel bebas lainnya sebab apabila ada variabel bebas yang memiliki hubungan dengan variabel bebas lainnya akan mengakibatan multikolinearitas. Adapun dampak dari multikolinearitas adalah sebagai berikut
1. Variasi dugaan OLS besar
2. Interval kepercayaan membesar (variasi yang besar menyebabkan standard eror besar, selanjutnya menyebabkan interval kepercayaan membesar)
3. Uji-t tidak signifikan
4. R2 tinggi, secara serempak pengaruh variabel bebas melalui uji F nyata, tetapi secara parsial tidak banyak variabel yang nyata dari uji-t.
5. Hasil dugaan parameter tidak sesuai dengan substansi, sehingga dapat menyesatkan interpretasi.
6. Hal lain yang terkadang terjadi adalah angka estimasi koefisien regresi yang didapat akan mempunyai nilai yang tidak sesuai dengan substansi, atau kondisi yang dapat diduga atau dirasakan dengan akal sehat, sehingga dapa menyesatkan interpretasi.
(Supriana, 2009) Heteroskedastisitas
Dalam praktiknya heterokesdastis banyak ditemui pada data cross-section karena pengamatan dilakukan pada individu-individu yang berbeda-beda pada saat yang sama akan tetapi bukan berarti tidak ada dalam data time series. Beberapa alasan mengapa heteroskesdastis menjadi begitu penting diperhatikan ketika mengestimasi koefisien regresi dengan OLS adalah karena ditemukan akibat dari varian koefisien regresi yang lebih besar, maka akan mengandung berbagai konsekuensi lain (Nachrowi dan Usman, 2006).
Uji hipotesis 4 yang menyatakan usahatani kacang tanah di lokasi penelitian adalah usaha yang layak dan menguntungkan diketahui dengan menggunakan metode analisis usahatani sebagai berikut:
Π= TR – TC Dimana Π= pendapatan
TR= Penerimaan total TC= Biaya total
Menurut (Soekartawi, 1995) bila R< TC maka usahatani tersebut rugi; sebalikya bila R>TC maka usahatani tersebut untung.
Defenisi dan Batasan Operasional
Supaya tidak terjadi perbedaan pengertian atau kekurangjelasan makna maka berikut dituliskan semua defenisi dari variabel dan batasan operasional.
Defenisi
1. Petani adalah yang mengusahakan kacang tanah mulai dari penanaman hingga panen
2. Usahatani adalah usaha untuk membudidayakan tanaman kacang tanah
3. Produksi adalah hasil yang diperoleh dari penanaman kacang tanah dan siap untuk dijual
4. Sarana produksi adalah komponen utama yang mutlak harus diperlukan dalam melakukan proses produksi pada usahatani kacang tanah yang terdiri dari bibit, pupuk, pestisida, dan alsintan.
5. Tenaga kerja adalah orang yang ikut melakukan usahatani kacang tanah mulai dari proses penanaman sehingga penjemuran dan pencucian.
6. Biaya adalah sejumlah rupiah yang dikorbankan oleh petani untuk usahatani kacang tanah.
7. Pendapatan bersih adalah pendapatan total setelah dikurangi dengan biaya.
8. Pendapatan usahatani adalah pendapatan bersih usahatani ditambah dengan nilai tenaga kerja dalam keluarga dan nilai input yang diusahakan sendiri oleh petani. 9. Penerimaan adalah harga jual komoditas kacang tanah dikali dengan jumlah
produksi.
Batasan Operasional
1. Daerah penelitian adalah desa Banuaji IV Kecamatan Adiankoting kabupaten Tapanuli Utara
2. Sampel penelitian adalah petani yang membudidayakan kacang tanah 3. Waktu penelitian dilakukan tahun 2012.