3. 1. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel 3.1.1. Definisi Operasional Variabel
a. Perataan Laba (Y)
Perataan laba dapat didefinisikan sebagai suatu cara yang dipakai oleh manajemen untuk mengurangi variabilitas laba
diantara deretan jumlah laba yang dilaporkan. Untuk
mengelompokkan perusahaan sebagai perata laba atau bukan dengan menggunakan indeks Eckel dengan rumus :
Indeks Perataan Laba =
S CV CV ∆ ∆Ι (Bestivano, 2013:14) Dengan kriteria, perusahaan dianggap telah melakuakan tindakan perataan laba bila :
CV ∆S > CV ∆I Dimana :
∆S = Perubahan penjualan dalam satu periode
∆I = Perubahan penghasilan bersih / laba dalam satu periode CV= Koefisien variabel dari variabel, yaitu standar deviasi dibagi
dengan nilai yang diharapkan. Batasan Perataan Laba :
- Jika nilai Indeks Eckel ≥ 1, maka perusahaan tidak melakukan perataan laba dan diberi simbol 0.
- Jika nilai Indeks Eckel < 1, maka perusahaan melakukan praktik perataan laba dan diberi simbol 1. Menurut (Suwito dan Arleen,2005).
b. Profitabilitas (X1)
Profitabilitas diukur dengan rasio antara laba bersih sebelum pajak dengan Profitabilitas (Bestivano, 2013:14).
Profitabilitas = Laba Sebelum Pajak x 100 % Total Aktiva
c. Leverage (X2)
leverage diukur dengan rasio antara total utang dengan Profitabilitas.
Financial leverage diproksikan dengan Debt to total Assets dengan
rumus:
Debt to Total Assets = Total Utang x 100 % Total Aktiva
d. Profitabilitas (X3)
Dalam penelitian ini, Profitabilitas meliputi total aktiva, satuan pengukuran dinyatakan dalam rupiah.
3.2. Teknik Penentuan Sampel
3.2.1. Populasi
Populasi adalah kumpulan dan individu dengan kualitas serta ciri – ciri yang tidak ditetapkan, sedangkan sampel adalah bagian dari populasi. Populasi penelitian ini adalah perusahaan - perusahaan Properti dan Real
Estate yang telah go publik dan telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) antara tahun 2009-2011, yang berjumlah 39 perusahaan.
3.2.2. Sampel
Pengambilan sampel merupakan bagian dalam melaksanakan suatu penelitian, untuk itu teknik pengambilan sampel yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu menggunakan teknik non probability sampling dengan metode purposive sampling artinya teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu (Sumarsono, 2002 : 52).
Adapun kriteria dalam pengambilan sampel tersebut yaitu antara lain :
1) Perusahaan sampel adalah perusahaan Properti dan Real Estate, yang telah go publik di PT. Bursa Efek Indonesia (BEI), serta yang masih aktif dalam melakukan perdagangan saham tahun 2009-2011.
2) Perusahaan sampel adalah perusahaan Properti dan Real Estates, yang mempunyai laporan keuangan yang lengkap, Valid dan telah di audit serta seluruh prospektusnya terdapat di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan yang melakukan perataan laba.
Berdasarkan kriteria dalam pengambilan sampel tersebut di atas, maka jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 15 perusahaan.
1. Alam Sutera Realty Tbk 2. Bekasi Asri Pemula Tbk 3. Ciputra Property Tbk 4. Duta Anggada Realty Tbk 5. Duta Pertiwi Tbk
6. Jaya Real Property Tbk
7. Kawasan Industri Jababeka Tbk 8. Lamicitra Nusantara Tbk 9. Lippo Cikarang Tbk 10.Lippo Karawaci Tbk 11.Modernland Realty Tbk 12.Metropolitan Kentjana Tbk 13.Indonesia Prima Property Tbk 14.Pakuwon Jati Tbk
15.Danayasa Arthatama Tbk
3.3 Teknik Pengumpulan Data
3.3.1. J enis Data
Penelitian ini menggunakan data sekunder yaitu data – data yang ada hubungannya dengan permasalahan yang berasal dari luar perusahaan. Data diambil dari perusahaan Properti dan Real Estates yang go publik yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia meliputi data saham dan data
akuntansi. Data saham yang dipakai adalah nilai pasar saham, sedangkan data akuntansi yang dipakai adalah penjualan bersih dan Ukuran Perusahaan. Periodisasi data penelitian mencakup data tahun 2008-2011 yang cukup mewakili kondisi BEI yang relatif stabil dan normal.
3.3.2. Sumber Data
Sumber data yaitu tempat serta dasar pengambilan data. Adapun data dalam penelitian ini bersumber pada Indonesian Capital Market
Directory.
3.3.3. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan cara :
a. Dokumentasi
Dokumentasi yaitu menyalin data penelitian yang sesuai dengan pokok permasalahan yang terkait dengan data perusahaan yang ada.
b. Studi Kepustakaan
Studi kepustakaan adalah studi literatur yang digunakan untuk mencari dan mendapatkan data, informasi, dan teori yang relevan dengan pokok bahasan dari buku – buku literatur.
3.4. Teknik Analisis dan Uji Hipotesis 3.4.1 Analisis Regr esi Logistik
Metode regresi logistik digunakan untuk mencari pengaruh satu atau lebih variabel bebas (proporsi komisaris independen, ukuran dewan komisaris, keberadaan komite audit) terhadap variabel terikat (manajemen laba).(Ghozali, 2007).
Bentuk model regresi logistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Ln P = α + B 1 X1 + B2 X2 + B3 X3
1-P Keterangan :
P = perataan laba
Er ror! Refer ence source not found. =Konstanta
Er r or ! Refer ence sour ce not found. =Koefisien regresi
X1 = Proporsi Komisaris Independen
X2 = Ukuran Dewan Komisaris
X2 = Keberadaan Komite Audit
3.4.2 Uji Hipotesis
Analisis pengujian model regresi logistik memperhatikan hal - hal berikut:
a. Menilai kelayakan model regresi
Pengujian menggunakan Hosmer and Lemeshow’s Goodness of
Fit.Pengujian ini dilakukan untuk menilai model yang dihipotesiskan agar data empiris cocok atau sesuai dengan model. Jika nilai statistik Hosmer and Lemeshow’s Goodness of Fit sama dengan atau kurang dari 0.05 maka hipotesis nol (H0) ditolak. Sedangkan jika nilainya lebih besar dari 0,05 maka hipotesis nol (H0) tidak dapat ditolak, artinya model mampu memprediksi nilai observasinya atau cocok dengan data (Ghozali, 2007).
b. Menilai model fit
Statistik -2 Log Likelihood selain digunakan untuk menguji hipotesis nol dan alternatif, dapat juga digunakan untuk menentukan jika variabel bebas ditambahkan ke dalam model apakah secara signifikan memperbaiki model fit. Hipotesis untuk menilai model fit adalah :
H0 : model yang dihipotesiskan fit dengan data
H1 : model yang dihipotesiskan tidak fit dengan data
c. Menganalisis koefisien deter minasi
Koefisien determinasi digunakan untuk mengetahui seberapa besar variabilitas variabel-variabel independen mampu memperjelas variabilitas variabel dependen.Besarnya nilai koefesien determinasi pada model regresi logistik ditunjukkan oleh nilai Nagelkerke R
Square.Nilai Nagelkerke R Square dapat diinterpretasikan seperti
nilai R Square pada regresi berganda. Nilai ini didapat dengan cara membagi nilai Cox & Snell R Square dengan nilai maksimumnya.
d. Menguji koefisien regr esi dengan estimasi par ameter dan interpretasinya.
Pengujian keofisien regresi dilakukan untuk menguji seberapa jauh semua variabel bebas dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh terhadap variabel terikat.Koefisien regresi dapat ditentukan dengan menggunakan Wald statistic dan nilai probabilitas (Sig.) dengan caraWald statistic dibandingkan dengan
Chi-Square tabel, sedangkan nilai probabilitas (Sig.) dibandingkan
dengan tingkat signifikansi (α).
Untuk menentukan penerimaan atau penolakan H0 dapat
didasarkan pada tingkat signifikansi (α) 5% dengan kriteria :
1. H0 tidak dapat ditolak apabila Wald hitung <Chi-Square tabel, dan nilai asymptotic significance > tingkat signifikansi (α). Hal
ini berarti bahwa H alternatif ditolak atau hipotesis yang menyatakan variabel bebas berpengaruh terhadap variabel terikat ditolak.
2. H0 ditolak apabila Wald hitung>Chi-Square tabel, dan nilai
asymptotic significance< tingkat signifikansi (α). Hal ini berarti
H alternatif diterima atau hipotesis yang menyatakan variabel bebas berpengaruh terhadap variabel terikat diterima (Ghozali, 2007 : 268).
Tahap pengujian yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Menentukan hipotesis (H0)
H0 = tidak terdapat pengaruh antara Ukuran perusahaan (X1),Net Profit
Margin (X2) dan Profitabilitas (X3) terhadap perataan laba(Y).
H1 = terdapat pengaruh antara Ukuran perusahaan (X1),NetProfit
Margin (X2) dan Profitabilitas (X3) terhadapperataan laba(Y).
2. Menentukan signifikansi (α) dimana akan digunakan α = 5% (0,05).
3. Menentukan kriteria penerimaan atau penolakan H0dimana akan didasarkan pada signifikansi (probabilitas).
ii. Jika probabilitas < 0,05 H0 ditolak.
DAFTAR PUSTAKA
Text Book :
Belkaoui, 2006. Teori Akuntansi. Buku 1.Edisi 5. Terjemahan. Jakarta: Salemba Empat.
Gima Sugiama. 2008. Metode Riset Bisnis dan Managemen. Edisi Pertama. Bandung: Guardaya Intimarta.
Gitosudarmo, Indriyo., & Basri. 2002. Manajemen Keuangan. Yogyakarta: Penerbit BPFE-Yogyakarta
Igan Budiasih. 2009. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Praktik Perataan
Laba.Jurnal Akuntansi Bisnis, Vol. 4 No. 1.Januari.hal: 44-50.
Iman Pirman Hidayat. 2007. Dampak Financial Number games.Jurnal Akuntansi FE UNSIL ISSN: 1907-9558.
Indriyo Gitosudarmo dan H. Basri., Manajemen Keuangan Edisi.2000: BPFE-Yogyakarta
Juniarti dan Caroline.Analisis Faktor-Faktor yang Berpengaruh terhadap Praktek
Income Prataan Laba (Income Smoothing) pada Perusahaan-Perusahaan Go Public.Jurnal Akuntansi dan Keuangan, Vol.7, No.@, Nopember
2005:148-162.
Kieso, Donald e., Weygand., Warfield. 2010. Akuntansi Intermediate Edisi 12
Jilid 3 .Jakarta: Erlangga
Moeljadi. 2006. Manajemen Keuangan Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif
Jilid 1. Maang: Bayumedia Publishing.
PSAK No.1. Revisi 2009.(Online). http://www.google.com
Scott, William R, 2003. Financial Accounting Theory, New Jersey: Prentice Hall Inc.
Sumarsono, 2002. Metode Penelitian Akuntansi. Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur
Sutrisno. 2005. Managemen keuangan “Teori, Konsep dan Aplikasi”. Yogyakarta: Ekonisia
Weston, J. Fred dan Thomas E. Copeland. 2002. Manajemen Keuangan Edisi
kesembilan Jilid 2. Jakarta: Binapura Aksara
J ur nal :
Assih, Prihat dan M. Gudono.2000. hubungan Tindakan Perataan Laba dengan Reaksi pasar atas Pengumuman Informasi Laba Perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Jurnal Riset Akuntansi. Vol. 3. No. 1. Januari : 35-53.
Bestivano , 2013, Pengaruh Profitabilitas, Umur Perusahaan, Profitabilitas, Dan
Leverage Terhadap Perataan Laba Pada Perusahaan Yang Terdaftar Di
BEI ( Studi Empiris pada Perusahaan Perbankan di BEI )
Edy Suwito dan Arleen Herawaty.Analisis Pengaruh Karakteristik Perusahaan
Terhadap Tindakan Perataan Laba Yang Dilakukan Oleh Perusahaan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Jakarta. SNA VIII Solo, 15-16 September
2005.
Ernawati, 2010, Pengaruh Profitabilitas, Profitabilitas, Dan Financial Leverage Terhadap Praktek Income Smoothing
(Survey pada Perusahaan Manufaktur Sektor Aneka Industri yang Listing di Bursa Efek Indonesia)Nani, Marlina.,Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Income Smoothing Pada Perusahaan Go Public Di Bursa Efek Jakarta (Sektor Manufaktur). Tesis S2, Program Pascasarjana Universitas
Diponogoro, Semarang, 2001.
Suwito, Edy dan Arleen Herawaty. 2005 Analisis Pengaruh Karakteristik Perusahaan terhadap Tindakan Perataan Laba yang dilakukan oleh Perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Solo : Simposium
Nasional Akuntansi X.
Tuty dan Indrawati.Faktor-Faktor Penentu Indeks Perataan Laba Selama Periode
Krisis Ekonomi. Integrity-Jurnal Akuntansi dan Keuangan- Vol. 1 No.
2-Agustus 2007: 155-170.
Ujiyantho, M. Arief dan Bambang Agus P. 2007. Mekanisme Corporate Governance, Manajemen Laba, dan Kinerja Keuangan. Makassar :
Simposium Nasional Akuntansi X.
Yosika, 2011, Analisis Pengaruh Npm, Roa, Company Size, Financial Leverage Dan Der Terhadap Praktek Perataan Laba Pada Perusahaan Property Dan
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Deskr ipsi Perusahaan
4.1.1. Gambaran Umum Bur sa Efek Indonesia
Perkembangan Bursa di Indonesia dimulai dari pendirian Badan Pelaksana Pasar Modal (Bapepam) sebagai pengelola Bursa pada tahun 1977. Pada saat itu merupakan masa paling sulit bagi Bapepam untuk memperkenalkan dan mengembangkan Bursa di Indonesia. Dengan usaha yang begitu besar baik dari tenaga SDM maupun dari dana yang dikeluarkan oleh Pemerintah melalui Bapepam, untuk pengembangan Bursa di Indonesia nilainya cukup besar yang tidak mungkin dilakukan oleh pihak swasta/SRO seperti dewasa ini.
Pengembangan Bursa membutuhkan waktu kurang lebih 15 tahun untuk dapat menghasilkan 162 emiten. Baru setelah Bapepam berhasil mengembangkan Bursa di Indonesia dan Bursa sudah menjadi kebutuhan masyarakat Indonesia khususnya emiten dan investor, kemudian Bursa diswastanisasikan (tahun 1992).
Dalam perjalanan penswastanisasian Bursa, untuk mendorong percepatan pencatatan emiten dan perdagangan saham di Indonesia khususnya di wilayah timur, Pemerintah melalui Bapepam mempelopori pendirian BES pada tahun 1989. BES merupakan Bursa swasta pertama kali
dengan pendirian BEJ pada tanggal 13 Juli 1992. Pendirian BEJ adalah seiring dengan penswastanisasian Bursa Efek Indonesia. Pada tahun 1992, Pemerintah mengalihkan peran Bapepam sebagai penyelenggara Bursa kepada BEJ melalui swastanisasi Bursa. Selanjutnya, pada tahun 1993 Pemerintah melalui Perserikatan Perdagangan Uang dan Efek (PPUE) mendirikan Bursa Paralel Indonesia (BPI) untuk mengakomodasi transaksi di luar Bursa (over the counter). Perkembangan berikutnya, pada tahun 1995 BPI digabungkan dengan BES dan setelah penggabungan BES telah mampu mengembangkan fasilitas pencatatan dan perdagangan bagi perusahaan menengah kecil serta obligasi/ surat utang.
Setelah Bursa Efek Indonesia diswastanisasikan menjadi BEJ dan BPI digabungkan dengan BES, perkembangan percepatan emiten saham, emiten obligasi mengalami kenaikan. Namun, lima tahun terakhir (sejak 2002 hingga sekarang) emiten saham dan obligasi mengalami perlambatan, dan di bidang instrumen lainnya seperti derivatif dapat dikatakan belum mengalami kemajuan berarti. Kondisi ini mendorong perlunya perhatian Pemerintah, dalam hal ini Bapepam dan LK, SRO, dan pelaku pasar, untuk melakukan sesuatu yang strategis untuk mencapai percepatan pertumbuhan jumlah emiten saham dan obligasi serta perkembangan produk-produk yang dapat diperdagangakan di Bursa. Salah satu pendekatan yang direncanakan oleh Pemerintah sebagaimana dituangkan dalam Master Plan Pasar Modal 2005-2009 yaitu penggabungan BES dan BEJ. Penggabungan kedua Bursa ini
tercapai. Bursa Efek Indonesia (BEI) didirikan oleh pemerintah Indonesia pada tanggal 1 Desember 2007 yang merupakan penggabungan antara Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan Bursa Efek Surabaya (BES).
4.1.2. Visi dan Misi PT. Bur sa Efek Indonesia a. Visi
Visi Bursa Efek Indonesia tidak terlepas dari latar belakang dilakukannya penggabungan BES-BEJ sebagaimana dituangkan dalam Master Plan Pasar Modal 2005-2009 yaitu adanya suatu keinginan untuk memiliki suatu Bursa yang kuat, bernilai, kredibel, kompetitif dan berdaya saing global. Bertitik tolak pada keinginan tersebut, maka visi Bursa Efek Indonesia dapat dinyatakan:
“To be a Strong, Valuable, Credible and World Wide Competitive
Bourse”.
b. Misi
Dalam usaha mencapai visi tersebut, Bursa Efek Indonesia perlu menetapkan misi yang harus diemban setidaknya mencakup hal-hal sebagai berikut:
1. to produce variety of sellable high standard capital market product.
2. to provide high technology infrastructures.
5. to create market integrity and transparency.
6. to create high competencies and favorable choice for human resource.
4.2. Hasil Pengujian koefisien Regresi
Hasil analisis mengenai koefisien model regresi adalah seperti yang tercantum dalam Tabel 4.1 berikut ini.
Tabel 4.1 Koefisien Regresi
Sumber : Lampiran
Berdasarkan Tabel 4.1 tersebut, maka model regresi yang diperoleh adalah sebagai berikut :
Ln P = α – B 1 X1 + B2 X2 – B3 X3
1-P
Ln P = -5.849 + 0.607 X1 + 1.438 X2 + 2.133E-7 X3 + e 1-P
Dengan asumsi bahwa variabel X1, X2, X3 adalah nol atau konstan maka nilai Perataan Laba (Y) adalah sebesar -5.849
0.607, hal ini mempunyai koefisien regresi positif, hal ini menunjukkan terjadinya perubahan yang searah dengan variabel terikat. Jadi semakin besar nilai Profitabilitas (X1) akan menaikkan nilai Perataan Laba (Y) dengan asumsi bahwa variabel yang lainnya adalah konstan.
Koefisien regresi untuk variabel Leverage (X2) diperoleh nilai 1.438 mempunyai koefisien regresi positif, hal ini menunjukkan terjadinya perubahan yang searah dengan variabel terikat. Jadi semakin besar nilai Leverage (X2) akan menaikkan nilai Perataan Laba (Y) dengan asumsi bahwa variabel yang lainnya adalah konstan.
Koefisien regresi untuk variabel Ukuran Perusahaan (X3) diperoleh nilai 2.133E-7 mempunyai koefisien regresi positif, hal ini menunjukkan terjadinya perubahan yang searah dengan variabel terikat. Jadi semakin besar nilai Ukuran Perusahaan (X3) akan meningkatkan nilai Perataan Laba (Y) dengan asumsi bahwa variabel yang lainnya adalah konstan.
4.3. Analisis dan Pengujian Hipotesis 4.3.1. Analisis Regresi Logistik
Pengujian hipotesis menggunakan model regresi logistik untuk menguji pengaruh variabel profitabilitas, leverage dan ukuran perusahaan terhadap perataan laba. Pengujian hipotesis meliputi menilai kelayakan model regresi, menilai keseluruhan model, menilai koefisien determinasi, dan menguji koefisien regresi.
Pengujian kelayakan model regresi logistik dilakukan dengan menggunakan Goodness of Fit Test yang diukur dengan nilai Chi-square pada bagian uji Hosmer and Lemeshow. Jika nilai statistik Hosmer and
Lemeshow’s goodness of fit test lebih besar daripada 0,05 maka hipotesis
nol diterima dan model mampu memprediksi nilai observasinya. Tabel 4.2 : Hasil Pengujian Hosmer and Lemeshow
Hosmer and Lemeshow Test
Step Chi-square df Sig.
1 ,138 3 ,987
Sumber : Lampiran
Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa nilai Chi-square sebesar 0,138 dan tingkat signifikansi 0,987.Level signifikansi tersebut lebih besar dari 0.05, yang berartibahwa model mampu memprediksi nilai observasinya atau dapat dikatakanbahwa model dapat diterima karena sesuai dengan data observasinya.
4.3.1.2. Menilai Keselur uhan Model (Overall Model Fit)
Pengujian dilakukan dengan melihat nilai -2LogL pada awal (block
number = 0) dan nilai -2LogL pada akhir (block number = 1). Jika
terjadi penurunan nilai -2LogL (block number = 0 - block number = 1) maka model regresi semakin baik.
Tabel 4.3 : Hasil Uji Overall Model Fit Block 0
Iteration Historya,b,c
Iteration -2 Log likelihood Coefficients
Constant Step 0 1 18,668 1,500 2 18,095 1,885 3 18,085 1,945 4 18,085 1,946 5 18,085 1,946
a. Constant is included in the model.
b. Initial -2 Log Likelihood: 18,085
c. Estimation terminated at iteration number 5 because
parameter estimates changed by less than ,001.
Iteration Historya,b,c,d
Iteration -2 Log likelihood Coefficients
Constant X1 X2 X3 Step 1 1 17,093 2,722 -3,745 ,214 -,709 2 15,563 4,148 -7,331 ,495 -1,548 3 15,308 5,142 -9,422 ,697 -2,481 4 15,264 6,148 -9,812 ,735 -3,478 5 15,249 7,157 -9,822 ,736 -4,485 6 15,243 8,160 -9,822 ,736 -5,487 7 15,241 9,161 -9,822 ,736 -6,488 8 15,241 10,162 -9,822 ,736 -7,489 9 15,241 11,162 -9,822 ,736 -8,489 10 15,240 12,162 -9,822 ,736 -9,489 11 15,240 13,162 -9,822 ,736 -10,489 12 15,240 14,162 -9,822 ,736 -11,489 13 15,240 15,162 -9,822 ,736 -12,489 14 15,240 16,162 -9,822 ,736 -13,489 15 15,240 17,162 -9,822 ,736 -14,489 16 15,240 18,162 -9,822 ,736 -15,489 17 15,240 19,162 -9,822 ,736 -16,489 18 15,240 20,162 -9,822 ,736 -17,489 19 15,240 21,162 -9,822 ,736 -18,489 20 15,240 22,162 -9,822 ,736 -19,489 a. Method: Enter
b. Constant is included in the model. c. Initial -2 Log Likelihood: 18,085
d. Estimation terminated at iteration number 20 because maximum iterations has been reached.
block 0 sebesar 18,085 menjadi 15,240 pada block 1 sehingga terjadi
penurunan sebesar 2,845. Dengan adanya penurunan nilai dari -2LogL, maka model regresi logistik yang digunakan semakin baik.
4.3.1.4. Uji Koefisien Regresi
Tahap akhir adalah uji koefisien regresi dengan menggunakan tingkat signifikansi 5%. Jumlah sampel penelitian sebanyak 24 data berupa proporsi profitabilitas, leverage, dan Ukuran Perusahaan serta manajemen laba pada perusahaan BUMN yang ada didalam BEI.
Tabel 4.5 : Hasil Uji Koefisien Regresi
Variables in the Equation
B S.E. Wald df Sig. Exp(B)
Step 1a
X1 -9,822 8,578 1,311 1 ,252 ,000
X2 ,736 1,436 ,263 1 ,608 2,088
X3 -19,489 27793,958 ,000 1 ,999 ,000
Constant 22,162 27793,959 ,000 1 ,999 4215015306,026
a. Variable(s) entered on step 1: X1, X2, X3.
Sumber : Lampiran
Berdasarkan hasil pengujian diatas maka dapat dihasilkan persamaan model regresi logistik sebagai berikut :
Ln P = 22.162 – 9.822X1 + 0.736X2 – 19.489X3
= Konstanta = 22,162
Apabila variabel proporsi profitabilitas (X1), leverage (X2), dan Ukuran Perusahaan (X3) adalah konstan atau sama dengan nol, maka nilai perataan laba(Y) adalah sebesar 22,162.
= Koefisien untuk X1 = -9,822
Apabila proporsi profitabilitas (X1) naik sebesar satu satuan, log probabilitas perusahaan melakukan perataan laba turun sebesar 9,822 satuan. Sebaliknya apabila terjadi penurunan pada proporsi profitabilitas sebesar satusatuan dapat meningkatkan perataan laba sebesar 9,822 satuan dengan asumsi bahwa variabel-variabel yang lain adalah konstan.
Secara statistik X1 tidak signifikan karena tingkat signifikansi sebesar 0,252 lebih besar dari 0,05, yang berarti tidak ada pengaruh proporsi profitabilitas terhadap perataan laba.
= Koefisien untuk X2 = 0,736
Apabila leverage(X2) naik sebesar satu satuan, log probabilitas perusahaan melakukan perataan laba naik sebesar 0,736 satuan. Sebaliknya apabila terjadi penurunan pada leverage sebesar satu satuan dapat menurunkan perataan laba sebesar 0,736 dengan asumsi bahwa variabel-variabel yang lain adalah konstan.
Secara statistik X2 tidak signifikan karena tingkat signifikansi sebesar 0,608 lebih besar dari 0,05, yang berarti tidak ada pengaruh leverage terhadap perataan laba.
Apabila keberadaan Ukuran Perusahaan(X3) naik sebesar satu satuan, log probabilitas perusahaan melakukan perataan laba turun sebesar 19,489 satuan. Sebaliknya apabila terjadi penurunan pada keberadaan Ukuran Perusahaan sebesar satusatuan dapat meningkatkan perataan laba sebesar 19,489 satuan dengan asumsi bahwa variabel-variabel yang lain adalah konstan.
Secara statistik X3 tidak signifikan karena tingkat signifikansi sebesar 0,999 lebih besar dari 0,05, yang berarti tidak ada pengaruh keberadaan Ukuran Perusahaan terhadap perataan laba.
Hasil pengujian koefisien regresi telah menunjukkan bahwa ketiga variabel independen dalam penelitian tidak berpengaruh signifikan terhadap perataan laba pada perusahaan BUMN yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
4.5. Pembahasan
4.5.1 Pengaruh Pr ofitabilitas terhadap Perataan Laba
Berdasarkan hasil pengujian untuk variabel profitabilitas tidak berpengaruh terhadap Perataan Laba, hal ini tidak sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa Return On Asset (ROA) merupakan ukuran penting untuk menilai sehat atau tidaknya perusahaan, yang mempengaruhi investor untuk membuat keputusan. Perusahaan yang memiliki ROA yang lebih tinggi
lebih rendah karena manajemen tahu akan kemampuan untuk mendapatkan laba pada masa yang akan datang, sehingga memudahkan dalam menunda atau mempercepat praktik perataan laba (Budiasih, 2007). Dari uraian diatas, penelitian menduga bahwa semakin besar profitabilitas, maka semakin besar pula dorongan perusahaan melakukan praktik perataan laba.
4.5.2 Pengaruh Leverage terhadap Perataan Laba
Berdasarkan hasil pengujian untuk variabel Leverage tidak berpengaruh terhadap Perataan Laba, hal ini tidak sesuai dengan teori Hutang yang besar mengakibatkan risiko semakin meningkat, jadi semakin besar resiko leverage maka resiko yang ditanggung oleh pemilik modal juga akan semakin meningkat. Rasio leverage yang besar menyebabkan turunnya minat investor untuk menurunkan modalnya pada perusahaan tersebut. Sehingga dapat memicu adanya tindakan perataan laba.
4.5.3 Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Perataan Laba
Berdasarkan hasil pengujian untuk variabel Ukuran Perusahaan tidak berpengaruh terhadap Perataan Laba, hal ini tidak sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa ukuran perusahaan merupakan suatu indikator yang dapat menunjukkan kondisi perusahaan. Disini terdapat beberapa parameter yang dapat digunakan untuk menentukan ukuran perusahaan, seperti banyaknya jumlah pegawai pada perusahaan untuk melakukan aktifitas operasi perusahaan, nilai penjualan pendapatan yang diperoleh dan jumlah aktiva
faktor yang berpengaruh terhadap praktik perataan laba. Perusahaan-perusahaan yang lebih besar memiliki dorongan yang lebih besar pula untuk melakukan perataan laba dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan yang lebih kecil. Untuk itu, perusahaan besar kemungkinan melakukan praktik perataan laba untuk mengurangi fluktuasi laba yang besar. Hal ini dilakukan karena fluktuasi laba yang besar menunjukkan risiko yang besar dalam investasi sehingga mempengaruhi kepercayaan investor terhadap perusahaan. Maka dari uraian diatas, peneliti menduga bahwa semakin besar ukuran perusahaan, maka semakin besar pula dorongan perusahaan melakukan praktek perataan laba
4.6. Implikasi Penelitian
Penelitian ini memberikan implikasi bagi perusahaan property yang go public di Bursa Efek Indonesia untuk memperhatikan motif dalam melakukan perataan laba. diandalkan. Penelitian selama ini lebih banyak memusatkan perhatian pada apakah perusahaan melakukan perataan laba atau tidak serta mengungkapkan alasan manajer melakukan perataan laba. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alasan manajer ternyata sangat bervariasi, misalnya mempengaruhi harga saham, , termasuk untuk mempengaruhi persepsi harga pasar saham. Hasil penelitian tersebut bagi pembuat standar akuntansi sekedar untuk mengkonfirmasikan intuisinya apakah perusahaan melakukan perataan laba atau tidak. Jadi, masih terbatas peranannya dalam member sumbangan pada pembuat standar untuk membuat standar pelaporan