• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.1. Hasil Penelitian Ter dahulu

Penelitian dalam bentuk jurnal riset yang berhubungan dengan praktik perataan penghasilan bersih/laba pernah dilakukan. Berikut ini ditemukan hasil penelitian terdahulu dalam bentuk jurnal riset yang ada kaitannya dengan praktik perataan penghasilan bersih/laba.

1) Ernawati, 2010, Pengaruh Ukuran Perusahaan, Profitabilitas, Dan Financial Leverage Terhadap Praktek Income Smoothing

(Survey pada Perusahaan Manufaktur Sektor Aneka Industri yang Listing di Bursa Efek Indonesia)

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh ukuran perusahaan, profitabilitas, dan financial leverage terhadap tindakan perataan laba pada perusahaan manufaktur sektor aneka industri yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Sampel dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur sektor aneka industri yang terdaftar dalam Indonesia Stock

Exchange (IDX) dalam rentang tahun 2008-2010. Sampel penelitian

adalah sebanyak 15 perusahaan dengan 45 observasi. Analisis data menggunakan analisis regresi linear berganda untuk menguji pengaruh dari ukuran perusahaan, profitabilitas, financial leverage dan jenis

industri terhadap tindakan perataan laba. Hasil penelitian

menunjukkan, bahwa secara simultan ukuran perusahaan,

Profitabilitas, dan financial leverage tidak berpengaruh signifikan terhadap praktek income smoothing. Secara parsial hanya profitabilitas saja yang memberikan pengaruh yang signifikan terhadap praktek

income smoothing, sedangkan ukuran perusahaan dan financial leverage berpengaruh terhadap praktek income smoothing tetapi tidak

signifikan.

2) Bestivano , 2013, Pengaruh Ukuran Perusahaan, Umur Perusahaan, Profitabilitas, Dan Leverage Terhadap Perataan Laba Pada Perusahaan Yang Terdaftar Di BEI ( Studi Empiris pada

Perusahaan Perbankan di BEI )

Penelitian ini bertujuan untuk menguji : 1)Pengaruh ukuran perusahaan terhadap perataan laba. 2)Pengaruh umur perusahaan terhadap perataan laba. 3)Pengaruh profitabilitas terhadap perataan laba. 4)Pengaruh leverage terhadap perataan laba.

Jenis penelitian adalah penelitian kausatif. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Pemilihan sampel dengan metode purposive sampling. Analisis data dengan regresi logistik dan uji t untuk

profitabilitas dan leverage terhadap tindakan perataan laba pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Hasil pengujian menunjukkan bahwa: 1) semakin besar ukuran perusahaan maka semakin besar probabilitas untuk melakukan perataan, 2) Semakin lama umur perusahaan maka tidak semakin besar probabilitas untuk melakukan perataan laba, 3) Semakin besar tingkat profitabilitas maka tidak semakin besar probabilitas untuk melakukan perataan laba, 4) Semakin besar tingkat leverage, maka tidak semakin besar probabilitas untuk melakukan perataan laba

3) Yosika, 2011, Analisis Pengaruh Npm, Roa, Company Size,

Financial Leverage Dan Der Terhadap Praktek Perataan Laba Pada

Perusahaan Property Dan Real Estate Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya praktek perataan laba diantaranya yaitu

NPM, ROA, company size, financial leverage dan DER terhadap

praktek perataan laba. Perataan laba adalah cara yang digunakan manajemen untuk mengurangi fluktuasi yang dilaporkan agar sesuai dengan target yang diinginkan baik secara artificial melalui metode akuntansi maupun secara real melalui transaksi. Penelitian ini menggunakan 28 perusahaan property dan real estate; data

sekunder yang digunakan berupa laporan keuangan periode 2007-2009. Indeks Eckel digunakan untuk mengklasifikasikan perusahaan yang melakukan atau tidak melakukan praktek perataan laba. Data dianalisis menggunakan regresi linier berganda logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan kelima variabel berpengaruh terhadap praktek perataan laba. Secara parsial hanya NPM, financial leverage, dan DER yang memengaruhi praktek perataan laba. Variabel yang berpengaruh paling dominan adalah financial leverage

Penelitian yang dilakukan saat ini memiliki persamaan dengan penelitian terdahulu yaitu dalam hal permasalahan yaitu sama – sama meneliti tentang perataan laba, sekaligus juga memiliki persamaan dalam hal pengukuran variabel yakni sama – sama menggunakan metode analisis regresi linier berganda, meskipun sama – sama melakukan penelitian terhadap Bursa Efek Indonesia tetapi tahun penelitiannya tidak sama.

Tabel 2.1

Persamaan & Perbedaan Penelitian Ter dahulu dan Sekarang

Sumber : Peneliti

No

.

Peneliti Judul Variabel Obyek

1. Ernawati, 2010 Pengaruh Ukuran Perusahaan, Profitabilitas, Dan Financial Leverage Terhadap Praktek Income Smoothing

Ukuran Perusahaan, Profitabilitas, Financial Leverage dan Praktek Income Smoothing Perusahaan Manufaktur Sektor Aneka Industri yang Listing di Bursa Efek Indonesia 2. Wildham Bestivano, 2013

Pengaruh Ukuran Perusahaan, Umur Perusahaan, Profitabilitas, Dan Leverage Terhadap Perataan Laba Pada Perusahaan Yang Terdaftar Di BEI

Ukuran Perusahaan, Umur Perusahaan, Profitabilitas, Dan Leverage Terhadap Perataan Laba Perusahaan Perbankan di BEI 3. Yosika Tri S., 2011

Analisis Pengaruh Npm, Roa, Company Size, Financial Leverage Dan Der Terhadap Praktek Perataan Laba .

Npm, Roa, Company Size, Financial Leverage Dan Der Terhadap Praktek Perataan Laba

Perusahaan Property Dan Real Estate Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia

4. Ariawan Pradana, 2013

Pengaruh Persepsi Manajer Atas Penggunaan Informasi Akuntansi Keuangan Terhadap Keberhasilan Perusahaan kecil Di Wedoro Waru Sidoarjo.

Profitabilitas (X1), Leverage (X2), Total Aktiva (X3), Perataan Laba (Y) Perusahaan Properti dan Real Estate Yang Go Publik di Bursa Efek Indonesia

2.2. Landasan Teori 2.2.1. Laporan Keuangan

2.2.1.1. Pengertian Laporan Keuangan

Pada awalnya laporan keuangan bagi suatu perusahaan hanyalah sebagai “alat penguji” dari pekerjaan bagian pembukuan, tetapi untuk selanjutnya laporan keuangan tidak hanya sebagai alat penguji saja, tetapi juga sebagai dasar untuk dapat menentukan atau menilai posisi keuangan perusahaan.

Menurut Baridwan (1997 : 17) laporan keuangan merupakan ringkasan dari suatu proses pecatatan, merupakan ringkasan dari suatu proses pencatatan, merupakan suatu ringkasan dari transaksi – transaksi keuangan yang terjadi selama tahun buku bersangkutan.

Menurut Munawir (1997 : 2) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan laporan keuangan adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antara data keuangan atau aktivitas suatu perusahaan dengan pihak – pihak yang berkepentingan dengan data atau aktivitas perusahaan tersebut.

Menurut Standar Akuntansi Keuangan (1999 : 2), yaitu : “Laporan Keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan keuangan”. Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi neraca, laporan rugi laba, laporan perubahan posisi keuangan (yang dapat disajikan dalam berbagai cara misalnya, sebagai laporan arus kas, atau laporan arus dana), catatan dan laporan lain serta materi penjelasan merupakan bagian integral dari

laporan keuangan. Disamping itu juga termasuk skedul dan informasi yang berkaitan dengan laporan tersebut.

Berdasarkan beberapa pengertian diatas dapat disimpukan bahwa laporan keuangan merupakan suatu daftar informasi yang berisi laporan utama yang memuat tentang posisi keuangan dan hasil operasi perusahaan yang disajikan pada akhir periode akuntansi, yang merupakan alat bagi pihak – pihak yang berkepentingan dengan perusahaannya untuk mengetahui kondisi keuangan dan keberhasilan aktivitasnya.

2.2.1.2. Tujuan Lapor an Keuangan

Menurut Baridwan (1997 : 4) tujuan umum laporan keuangan sesuai dengan prinsip Akuntansi Indonesia dapat dinyatakan sebagai berikut :

a. Untuk memberikan informasi keuangan yang dapat dipercaya mengenai sumber – sumber ekonomi dan kewajiban serta modal perusahaan.

b. Untuk memberikan yang dapat dipercaya mengenai perubahan dalam sumber – su,ber ekonomi netto (sumber dikuangi kewajiban) suatu perusahaan yang timbul dari aktivitas – aktivitas usaha dalam rangka memperoleh laba.

c. Untuk memberikan informasi keuangan yang membantu para

pemakai laporan keuangan dalam mengestimasi potensi perusahaan dalam menghasilkan laba.

d. Untuk memberikan informasi penting lainnya mengenai perubahan dalam sumber – sumber ekonomi dan kewajiban, seperti informasi mengenai aktivitas pembelanjaan dan penanaman.

e. Untuk menyediakan informasi lain yang berhubungan dengan laporan keuangan yang relevan untuk kebutuhan pemakai laporan. f. Disamping itu laporan keuangan akan dapat digunakan oleh

manajemen untuk :

1) Mengukur tingkat biaya dari berbagai kegiatan perusahaan. 2) Untuk menentukan atau mengukur efisiensi tiap – tiap

bagian – bagian, proses atau produksi serta untuk menentukan derajat keuntungan yang dapat dicapai oleh perusahaan yang bersangkutan.

3) Untuk menilai dan mengukur hasil kerja tiap – tiap individu yang telah diserahkan wewenang dan tabggung jawab. 4) Untuk menentukan perlu tidaknya digunakan kebijaksanaan

atau prosedur yang baru untuk mencapai hasil yang lebih baik.

Tujuan Laporan Keuangan menurut Standar Akuntansi Keuangan (1999 : 3) yaitu :

a. Tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.

b. Laporan keuangan yang disusun untuk tujuan ini memenuhi kebutuhan bersama sebagai besar pemakai. Namun demikian, laporan keuangan tidak menyediakan semua informasi yang mungkin dibutuhkan pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi karena secara umum menggambarkan pengaruh keuangan dari kejadian masa lalu, dan tidak diwajibkan untuk menyediakan informasi non keuangan.

c. Laporan keuangan juga menunjukkan apa yang telah dilakukan manajemen, atau pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang diberdayakan kepadanya. Pemakai yang ingin menilai apa yang telah dilakukan atau pertanggungjawaban manajemen berbuat demikian agar mereka dapat membuat keputusan ekonomi, keputusan ini mungkin mencakup, misalnya keputusan untuk menahan atau menjual investasi dalam perusahaan atau keputusan untuk mengangkat kembali atau mengganti manajemen.

Dari beberapa tujuan di atas, dapat disimpulkan bahwa laporan

keuangan dibuat oleh manajemen dengan tujuan

mempertanggungjawabkan tugas – tugas yang dibebankan kepadanya oleh para pemilik perusahaan. Laporan keuangan juga digunakan oleh pihak – pihak di luar perusahaan guna menginformasikan posisi keuangan. Selain itu laporan keuangan bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai guna pengambilan keputusan ekonomi.

2.2.1.3. Karakteristik Kualitatif Lapor an Keuangan

Menurut Standar Akuntansi Keuangan (1999 : 5), karakteristik kualitatif merupakan ciri khas yang membuat informasi dalam laporan keuangan berguna bagi pemakai. Terdapat empat karakteristik kualitatif pokok yaitu :

a. Dapat dipahami

Karakteristik ini mengandung pengertian bahwa kualitas penting informasi yang ditampung dalam laporan keuangan adalah kemudahannya untuk segera dipahami oleh pemakai. Asumsi dasar dalam hal ini adalah para pemakai laporan keuangan mempunyai pengetahuan yang memadai tentang aktivitas ekonomi dan bisnis, akuntansi serta kemampuan untuk mempelajari informasi dengan ketekunan yang wajar.

b. Relevan

Informasi dikatakan relevan bila dapat memenuhi kebutuhan pemakai dalam proses pengambilan keputusan. Disamping itu informasi dikatakan memiliki relevan bila dapat mempengaruhi keputusan ekonomi pemakai dengan membantu pemakai mengevaluasi masa lalu, masa kini atau masa depan, menegaskan atau megoreksi hasil evaluasi di masa lalu.

c. Keandalan

Informasi memiliki kualitas andal (realible) jika bebas dari pengertian yang menyesatkan, kesalahan material dan dapat

diandalkan pemakainya sebagai penyajian yang tulus dan jujur (faithful representation) dari yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar diharapkan dapat disajikan.

d. Dapat dibandingkan

Pemakai harus dapat memperbandingkan laporan keuangan perusahaan antar periode untuk mengidentifikasi kecenderungan (trend) posisi dan kinerja keuangan. Pemakai juga harus dapat

memperbandingkan laporan keuangan antar perusahaan,

mengevaluasi posisi keuangan dan kinerja serta perubahan posisi keuangan secara relatif.

2.2.1.4. J enis – J enis Laporan Keuangan

Laporan keuangan perusahaan menurut beberapa pendapat yang lengkap meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan Ekuitas, laporan arus kas.

1) Neraca

Salah satu bentuk laporan yang paling utama adalah neraca. Beberapa ahli mengungkapkan definisi yang berbeda, tetapi pada hakikatnya mempunyai pengertian yang sama.

Menurut Prastowo (1995 : 16) Neraca adalah laporan keuangan yang memberikan informasi mengenai posisi keuangan (aktiva, kewajiban ekuitas) perusahaan pada saat tertentu.

Menurut Munandar (1979 : 1) Neraca ialah laporan yang disusun secara sistematis, tentang posisi finansial perusahaan pada suatu saat tertentu.

Menurut Niswonger et. al. (1996 : 25) Neraca adalah suatu daftar aktiva, kewajiban dan modal pemilik perusahaan pada tanggal yang biasanya pada tanggal terakhir suatu bulan atau tahun. Menurut Baridwan (1997 : 18) Neraca adalah laporan yang menunjukkan keandalan keuangan suatu unit usaha pada tanggal tertentu.

Sedangkan menurut Munawir ( 1997 : 13) Neraca adalah laporan sistematis tentang aktiva, hutang serta modal dari suatu perusahaan pada suatu saat tertentu.

Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa neraca merupakan daftar yang menggambarkan posisi keuangan suatu perusahaan yang meliputi aktiva, kewajiban dan ekuitas pada saat tertentu.

2) Laporan Laba Rugi (Income Statement)

Laporan Laba Rugi (Income Statement) merupakan salah satu komponen laporan keuangan yang sangat penting bagi pemakai informasi laporan keuangan. Laporan laba rugi menunjukkan pendapatan dari penjualan, berbagai biaya dan laba yang diperoleh selama periode tertentu.

Menurut Prastowo (1995 : 16) laporan laba rugi adalah laporan keuangan yang memberikan informasi mengenai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba selama periode tertentu.

Menurut Munandar (1979 : 16) laporan laba rugi ialah laporan yang disusun secara sistematis, tentang revenues (penghasilan) yang diperoleh dan tentang expenses (biaya) yang menjadi beban tanggungan perusahaan dalam usahanya selama satu periode tertentu.

Menurut Niswonger et. al. (1996 : 25) perhitungan rugi laba adalah ikhtisar dari pendapatan dan beban suatu perusahaan dalam periode tertentu misalnya sebulan atau setahun.

Menurut Baridwan (1997 : 30) laporan laba rugi adalah suatu laporan yang menunjukkan pendapatan – pendapatan dan biaya – biaya dari suatu unit usaha untuk suatu peride tertentu. Selisih antara penghasilan – penghasilan dan biaya merupakan laba yang diperoleh atau rugi yang diderita perusahaan.

Dari beberapa pendapat diatas, maka dapat disimpulkan bahwa laporan laba rugi adalah laporan yang menggambarkan hasil dari aktivitas operasional perusahaan yang berupa pendapatan – pendapatan dan biaya – biaya untuk suatu periode tertentu.

3) Laporan Perubahan Ekuitas (Owners Equity)

Menurut Niswonger et. al. (1996 : 25) mendefinisikan bahwa perubahan ekuitas pemilik adalah merupakan ikhtisar perubahan ekuitas pemilik suatu perusahaan yang telah terjadi dalam suatu periode tertentu.

Menurut Standar Akuntansi Keuangan (1999 : 1.12) Laporan perubahan ekuitas sebagai komponen utama yang menunjukkan :

1) Laba atau rugi bersih periode yang bersangkutan.

2) Setiap pos pendapatan dan beban, keuntungan atau kerugian diakui secara langsung dalam ekuitas.

3) Pengaruh kumulatif dari perubahan kebijakan akuntansi dan perbaikan terhadap kesalahan mendasar sebagaimana diatur dalam PSAK terkait.

4) Transaksi modal dengan pemilik dengan distribusi kepada pemilik.

5) Saldo akumulasi laba atau rugi pada awal dan akhir periode serta perubahannya.

6) Rekonsiliasi antara nilai tercatat dari masing – masing jenis modal saham, agio dan cadangan pada awal dan akhir periode yang mengungkapkan secara terpisah setiap perubahan.

4) Laporan Arus Kas (Statement of Cash Flow)

Menurut Niswonger et. al. (1996 : 25) Arus kas adalah suatu ikhtisar penerimaan dan pengeluaran kas dari sebuah kesatuan usaha untuk periode waktu tertentu, seperti sabulan atau setahun.

Menurut Baridwan (1997 : 43) tujuan laporan aliran kas adalah untuk menyajikan informasi relevan tentang penerimaan dan pengeluaran kas suatu perusahaan selama satu periode.

Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (1999 : 2.1) Laporan Arus Kas adalah salah satu laporan keuangan yang memberi informasi historis mengenai perubahan kas dan setara kas pada suatu periode tertentu, Setiap perusahaan diwajibkan untuk menyususn laporan arus kas sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan setiap periode penyajian laporan keuangan. Aliran kas dklafisikasikan dalam tiga kelompok yaitu penerimaan dan pengeluaran kas yang berasal dari aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan (financing).

Setelah membaca beberapa pendapat diatas, peneliti menarik kesimpulan bahwa laporan arus kas adalah laporan yang menggambarkan aliran kas baik penerimaan maupun pengeluaran kas untuk periode tertentu.

5) Catatan Atas Laporan Keuangan

Menurut Standar Akuntansi Keuangan (1999 : 1.12). Catatan atas laporan keuangan meliputi penjelasan naratif atau rincian jumlah yang tertera dalam neraca, laporan laba rugi, arus kas dan laporan perubahan ekuitas serta informasi tambahan seperti kewajiban kontinjensi dan komitmen. Catatan atas laporan keuangan juga mencakup informasi yang diharuskan dan dianjurkan untuk diungkapkan dalam Pernyataan Standar Akuntansi keuangan serta pengungkapan – pengungkapan lain yang diperlukan untuk menghasilka penyajian laporan keuangan secara wajar.

2.2.2. Perataan Laba

2.2.2.1. Pengertian Perataan Laba

Sejalan dengan konsep manajemen laba, pembahasan konsep perataan laba / penghasilan ini juga menggunakan kerangka pikir teori keagenan, bahwa perataan penghasilan timbul ketika terjadi konflik kepentingan antara manajemen dan pemilik. Manajemen melakukan perataan laba untuk menciptakan suatu aliran laba yang stabil dan mengurangi fluktuasi dalam laba yang dilaporkan dan meningkatkan kemampuan investor untuk memprediksi aliran kas di masa yang akan datang.

Definisi perataan laba (Income Smoothing) menurut Jatiningrum, merupakan praktik yang umum dilakukan manajer untuk mengurangi perubahan naik turunnya (fluktuasi) laba, yang diharapkan mempunyai pengaruh yang bermanfaat bagi evaluasi kinerja manajemen.

Definisi perataan laba yang terbaik dikemukakan oleh Beidlmen sebagai berikut :

“Meratakan earnings yang dilaporkan dapat didefinisikan sebagai pengurangan secara sengaja fluktuasi disekitar tingkat earnings tertentu yang dianggap normal bagi sebuah perusahaan. Dalam pengertian ini perataan laba mempresentasi sebuah upaya yang dilakukan oleh manajemen perusahaan untuk mengurangi variasi tidak normal dalam earnings sepanjang diizinkan oleh prinsip akuntansi dan manajemen yang sehat”.

Menurut Assih dan Gudono (2000 : 37) Manajemen Laba diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan dengan sengaja, dalam batasan

general accepted accounting principles, untuk mengarah pada suatu

tingkat yang diinginkan atas laba yang dilaporkan. Perataan laba termasuk dalam pengertian manajemen laba tersebut, perataan laba dapat dipandang sebagai cara pengurangan dalam variabilitas laba selama sejumlah periode tertentu atau dalam satu periode, yang mengarah pada tingkat yang diharapkan atas laba yang dilaporkan. Bidlement (1973) percaya bahwa manajemen melakukan perataan laba untuk menciptakan suatu aliran laba yang stabil dan mengurangi covariance atas return dengan pasar. Borneo

et al (1976) menyatakan bahwa manajer melakukan perataan laba untuk

mengurangi fluktuasi dalam laba yang dilaporkan dan meningkatkan kemampuan investor untuk memprediksi aliran kas di masa yang akan datang.

2.2.2.2. Sifat dan Motivasi Perataan Laba

Tindakan perataan laba merupakan tindakan yang umum / rasional. Perataan laba sengaja dilakukan terhadap penghasilan dimaksudkan supaya sesuai dengan yang diharapkan atau standar yang diinginkan (Jatiningrum, 2000).

Perataan laba merupakan perilaku yang rasional didasarkan pada asumsi dalam positive accounting theory bahwa agent (dalam hal ini manajemen) adalah individual yang rasional yang memperhatikan kepentingan dirinya. Konsisten dengan asumsi tersebut maka motivasi yang mempengaruhi pilihan manajer atas kebijakan tertentu adalah memaksimumkan kepentingannya. Sedangkan kepentingan manajer tergantung pada nilai perusahaan. Dan manajer percaya bahwa pasar mendasarkan pada angka akuntansi. Fluktuasi atas laba dan tidak dapat diprediksinya laba yang akan datang merupakan sebab penentu risiko pasar atas saham. (Assih dan Gudono, 2000 : 38).

Topik perataan laba ( income smoothing ) terkait erat dengan konsep manajemen laba ( Salno dan Baridwan, 2000 : 19 ). Penjelasan konsep manajemen laba menggunakan pendekatan teori keagenan ( agency

theory ) yang menyatakan bahwa praktik manajemen laba dipengaruhi

oleh konflik kepentingan antara manajemen ( agent ) dan pemilik (

principal ) yang timbul ketika setiap pihak berusaha untuk mencapai atau

mempertahankan tingkat kemakmuran yang dikehendakinya dalam hubungan keagenan, manajer memiliki asimetri informasi terhadap pihak eksternal perusahaan, seperti kreditor dan investor. Asimetri informasi terjadi ketika manajer memiliki informasi internal perusahaan relatif lebih banyak dan mengetahui informasi tersebut relatif lebih cepat dibandingkan pihak eksternal tersebut. Dalam kondisi demikian manajer dapat menggunakan informasi yang diketahuinya untuk memanipulasi pelaporan keuangan dalam usaha memaksimalkan kemakmurannya.

Intervensi manajemen yang mengandung kejahatan moral ( moral

hazard ), dengan memanfaatkan asimetri informasi disebut manajemen

laba. Salah satu bentuk manajemen laba yang banyak diteliti adalah perataan laba ( income smoothing ). Sejalan dengan konsep manajemen laba, pembahasan konsep perataan penghasilan ini juga menggunakan kerangka pikir teori keagenan, bahwa perataan penghasilan timbul ketika terjdi konflik kepentingan antara manajemen ( agent ) dan pemilik (

principal ). Kesenjangan informasi antara kedua pihak menimbulkan /

memicu munculnya perataan laba ( Salno dan Baridwan, 2000 ).

Masing – masing pihak dalam hubungan keagenan terdorong oleh motivasi yang berbeda sesuai dengan kepentingannya. Dipandang dari sisi manajemen, Salno dan Baridwan (2000 : 19) mengungkapkan bahwa

manajer termotivasi untuk melakukan perataan penghasilan pada dasarnya ingin mendapat berbagai keuntungan ekonomi dan psikologis, yaitu (1) mengurangi total pajak terutang, (2) meningkatkan kepercayaan diri manajer yang bersangkutan karena penghasilan yang stabil mendukung kebijakan deviden yang stabil pula, (3) meningkatkan hubungan antara manajer dan karyawan karena pelaporan penghasilan yang meningkat tajam memberi kemungkinan munculnya tuntutan kenaikan gaji dan upah, dan (4) siklus peningkatan dan penurunan penghasilan dapat ditandingkan dan gelombang optimisme dan pesimisme dapat diperlunak.

Di lain pihak, pemilik mendukung perataan penghasilan karena adanya motivasi internal dan motivasi eksternal. Motivasi internal menunjukkan maksud pemilik intuk meminimalisasi biaya kontrak manajer dengan membujuk manajer agar melakukan praktik manajemen laba. Motivasi eksternal ditunjukkan oleh usaha pemilik saat ini untuk mengubah persepsi investor / potensial mengenai nilai perusahaan.

Menurut Gordon (1964) serta Mousen dan Downs (1965) dalam Belkaoui (2000 : 38) bahwa manajer perusahaan mungkin termotivasi untuk melakukan perataan laba demi keamanan, dengan anggapan bahwa stabilitas dalam pendapatan dan untuk menyeimbangkan kecepatan pertumbuhan yang sangat tinggi melebihi aliran penghasilan rata – rata dengan batas kemampuan terbesar. Gordon mengemukakan tentang pemerataan laba sebagai berikut :

a) Sebagai standar seorang manajer perusahaan dalam menyeleksi

prinsip akuntansi adalah memaksimalkan kegunaan atau

kesejahteraan yang dicapai.

b) Kegunaan dan fungsi jaminan keamanan pekerjaan, tingkatan dan kecepatan pertumbuhan dalam suatu penghasilan.

c) Kepuasan pemegang saham atas tugas yang diberikan kepada manajer dalam penyelenggaraan kegiatan dalam perusahaan.

d) Kepuasan pemegang saham terlihat apabila perusahan berkembang

dengan penghasilan dengan kecepatan ertumbuhan yang merata. Berdasarkan dari keempat point diatas telah diterima oleh umum atau berdasarkan kenyataan, bahwa tindakan manajer yang berdasarkan kriteria diatas memperlihatkan batasan kekuatanperusahaan, ruang gerak akuntansi, pemerataan laporan penghasilan dan pemerataan kecepatan pertumbuhan pendapatan. Pemerataan kecepatan pertumbuhan pendapatan yang dimaksud adalah jika kecepatan pertumbuhan tinggi, jika terjadi

Dokumen terkait