• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penilaian Risiko Keselamatan Pada Unit Kerja Coal Crushing dan Barging di PT Kaltim Jaya Bara

2. Metode Penelitian 1. Pengumpulan Data

Pusat Studi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (PS-K3), Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta

Email: 1[email protected] Intisari

PT Kaltim Jaya Bara merupakan industri pertambangan batu bara dengan permasalahan aspek K3. Penelitian dilakukan pada unit kerja Coal Crushing dan Barging karena rawan terjadi kecelakaan dan belum pernah dilakukan penilaian risiko sebelumnya. Proses analisis dilakukan dengan metode Hazard Identification, Risk Assesment, and Determining Control (HIRADC). Tahap-tahap yang dilakukan: (1) identifikasi potensi bahaya, (2) penilaian risiko, dan (3) evaluasi risiko, dan (4) pengendalian risiko. Berdasarkan proses identifikasi didapatkan 27 jenis temuan bahaya yang dinilai risikonya, sehingga didapat 11% bahaya pada kategori rendah (low), 48% bahaya dalam kategori sedang (medium), 4% bahaya dalam kategori tinggi (high), dan 37% bahaya dalam kategori sangat tinggi (extreme). Berdasarkan nilai tersebut, diberikan evaluasi terhadap bahaya tersebut, 11% dapat diterima dengan pengawasan, 52% dibutuhkan upaya tindak lanjut, 37% dibutuhkan penerapan program pengendalian. Kata kunci: penilaian, risiko, keselamatan kerja, pertambangan.

1. Pendahuluan

Seiring dengan berkembangnya teknologi, interaksi yang terjadi antara manusia dan mesin semakin meningkat. Hal tersebut, menurut Pitasari dkk (2014), dapat mengakibatkan potensi bahaya yang sangat besar pada kegiatan produksi, karena mesin memiliki kemampuan berbeda-beda dalam setiap operasi dan keterbatasan operator saat bekerja. Terkait target produksi, waktu produksi dan penghematan biaya mendorong perusahaan mengabaikan risiko dan keselamatan kerja (Gunawan, 2013). Kegiatan penambangan dianggap memiliki potensi bahaya tinggi karena dalam kegiatan tersebut melibatkan peralatan yang sangat kompleks termasuk penggunaan bahan-bahan peledak untuk membongkar lapisan tanah sehingga sudah semestinya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) bagi pekerja menjadi aspek yang harus diperhatikan (Sukandarrumidi, 2010).

PT Kaltim Jaya Bara (KJB) merupakan perusahaan yang bergerak pada bidang usaha pertambangan batu bara. Penelitian Arif (2014) menyebutkan bahwa unit kerja coal crushing dan barging merupakan unit kerja dengan kejadian kecelakaan paling tinggi yaitu sebesar 44% dibanding pada unit kerja coal hauling sebesar 31% dan coal getting sebesar 25% di kegiatan pertambangan PT. MBM. Pada unit kerja coal crushing dan barging menggunakan mesin-mesin dalam skala yang besar seperti mesin crusher dan conveyor sehingga perlu dilakukan penerapan prinsip-prinsip K3 (Sidabutar, 2015). Belum adanya peraturan dan dokumen keselamatan secara tertulis, dan masih banyaknya tindakan dan kondisi tidak aman. Berdasarkan hal itu, dianggap perlu untuk melakukan penilaian risiko untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja.

2. Metode Penelitian 2.1. Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan adalah data kualitatif hasil observasi peneliti dan wawancara dengan Supervisor, Officer, dan Helper HSE Department PT. Kaltim Jaya Bara Site Long Lanuk-Labanan, Kalimantan Timur. Tahap pengumpulan data dimulai dengan (a) melakukan orientasi, (b) menetapkan batasan kajian, (c) menetapkan titik pengamatan, (d) melakukan

observasi awal, (e) melakukan wawancara, (f) melakukan observasi lanjutan, dan (g) melakukan telaah dokumen pendukung.

2.2. Pengolahan Data

Data diolah menggunakan risk management worksheet (formulir HIRADC). Pengolahan data dimulai dengan (1) Mengurutkan langkah kerja dalam pelaksanaan kegitan, (2) Melakukan identifikasi bahaya pada setiap langkah kerja, (3) Melakukan penilaian risiko dari pekerjaan tersebut, (4) Evaluasi terhadap risiko yang didapatkan, (5) Menetapkan tindakan perbaikan. Skala evaluasi risiko pada Tabel 1.

Tabel 1. Evaluasi Tingkat Risiko

Tingkat Risiko Keterangan

Extreme Dibutuhkan penerapan program pengendalian High Diperlukan Pengendalian lebih lanjut

Medium Diperlukan Pengendalian lebih lanjut Low Dapat Diterima dengan pemantauan berkala Very Low Dapat Diterima

Sumber: Andarini (2014) 3. Hasil dan Pembahasan

3.1. Identifikasi Bahaya dan Penilaian Risiko

Tahapan dalam manajemen risiko meliputi perencanaan, penilaian (identifikasi dan analisa), penanganan, serta pengawasan risiko. Penilaian risiko merupakan tahapan awal dalam program manajemen risiko serta merupakan tahapan paling penting karena mempengaruhi keseluruhan program dalam manajemen risiko (Sucita dan Broto, 2011). Identifikasi bahaya menurut William dkk (2014) adalah suatu tindakan untuk mengetahui bahaya yang mungkin terjadi di dalam suatu lingkungan kerja . Identifikasi bahaya disebutkan oleh Tarwaka (2008), dilakukan menggunakan prinsip (a) kontak dengan, (b) membentur, (c) terbentur oleh, (d) jatuh ke bawah, (e) jatuh ke lantai, (f) terjepit di antara, dan (g) overstress. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan informan maka diperoleh hasil identifikasi bahaya dan penilaian risiko sebagai berikut:

Tabel 2. Identifikasi Bahaya dan Penilaian Risiko pada Unit Kerja Coal Crushing No. Aktivitas Aspek Bahaya (Hazard) Potensial

Dampak P C R

Tingkat Risiko

1 Dumping ke

Hooper

Kurang pencahayaan saat malam hari, DT terperosok ke dalam hooper

Kerusakan unit, memar/cedera ringan

2 2 4 Low

Dumpman berdiri di tepi tanggul, dapat jatuh

Fatality 3 4 12 High

2 Loading

batu bara ke Hooper

Kurang pencahayaan, Loader terperosok ke dalam hooper.

Kerusakan unit, cedera

1 3 3 Low

Batu bara Terlempar ke bawah Kerusakan Alat Crusher, fatality

4 4 16 Extreme

Menabrak/ditabrak Kerusakan unit,

cedera

2 3 6 Medium

Vessel gagal terbuka, DT Terbalik

Kerusakan unit, cedera

Tabel 2. Identifikasi Bahaya dan Penilaian Risiko pada Unit Kerja Coal Crushing (lanjutan) No. Aktivitas Aspek Bahaya (Hazard) Potensial

Dampak P C R

Tingkat Risiko

3 Pengawasan Conveyor

T-Belt Crusher Terputus Memukul Petugas

Cedera berat 2 3 6 Medium

Terpeleset di Walkway Memar 3 2 6 Medium

4 Sampling Petugas Terkena Lontaran

Batu Bara

Cedera, wajah memar

3 3 9 Medium

Terpeleset di walkway Memar 3 2 6 Medium

Keterangan: P = Probability, C = Consecuency, R = Risk

Pada tabel di atas dapat dilihat bahwa pada kegiatan di Unit Kerja Coal Crushing mengandung bahaya (Hazard). Hazard digolongkan oleh Andarini (2014) menjadi Natural Hazard, Sosietal Hazard, dan Technological Hazard. Teridentifikasi sebanyak 10 Hazard yang terdapat pada 4 kegiatan. Hazard tersebut yaitu terperosok, terlempar batu bara, menabrak/ditabrak, terbalik, terpukul, dan terpeleset. Pada penelitian ini Hazard yang ditemukan tergolong dalam Technological Hazard karena hazard yang timbul banyak diakibatkan pengunaan teknologi-teknologi dalam kegiatan produksi.

Berdasarkan hasil penilaian risiko pada Unit Kerja Coal Crushing, didapatkan hasil yaitu tidak ditemukan hazard pada tingkatan sangat rendah (very low), namun ditemukan hazard pada tingkatan rendah (low), sedang (medium), tinggi (high), dan sangat tinggi (extreme). Hazard tersebut yaitu (a) Hazard dengan tingkatan rendah (low) yaitu terperosoknya loader maupun dump truck ke dalam hooper pada malam hari akibat pencahayaan yang kurang, (b) Hazard dengan tingkatan sedang (medium) yaitu menabrak/ditabrak, terguling, terpukul T-Belt crusher, terpeleset, dan terkena lontaran batu bara, (c) Hazard dengan tingkatan tinggi (high) yaitu terjatuh dari atas tanggul, dan (d) Hazard dengan tingkatan sangat tinggi (extreme) yaitu tertimpa bongkahan batu bara dari hooper yang terlempar keluar.

Tabel 3. Identifikasi Bahaya dan Penilaian Risiko pada Unit Kerja Barging No. Aktivitas Aspek Bahaya (Hazard) Potensial

Dampak P C R

Tingkat Risiko

1 Barge tie up Petugas di tongkang menggunakan sendal, terpeleset tenggelam

Fatality 4 5 20 Extreme

Petugas di tongkang dan dermaga tidak pakai work vest, tenggelam

Fatality 4 5 20 Extreme

Petugas di dermaga terpukul tali dari tongkang

Cedera ringan 3 2 6 Medium

Petugas d atas dek tertarik tambang ke sungai

Fatality 3 5 15 Extreme

Petugas di dermaga terjepit tambang saat mengikat tambang di bounder

Luka terjepit 3 2 6 Medium

2 Pengawasan Barge Loading Conveyor (BLC)

Petugas berteduh di bawah counter weight, tertimpa

Fatality 3 5 15 Extreme

Petugas tersandung kabel Counter Weight

Cedera ringan 4 2 8 Medium

Terpeleset di walkway Cedera ringan 2 2 4 Low

Petugas terjepit roda-roda pembalik conveyor

Cedera berat 3 3 9 Medium

3 Sampling Terkena lontaran batu bara Cedera, memar 3 3 9 Medium

Tabel 3. Identifikasi Bahaya dan Penilaian Risiko pada Unit Kerja Barging (lanjutan) No. Aktivitas Aspek Bahaya (Hazard) Potensial

Dampak P C R Tingkat Risiko 4 Barge case off Petugas di tongkang menggunakan sendal, terpeleset tenggelam Fatality 4 5 20 Extreme

Petugas di tongkang dan dermaga tidak pakai work vest, tenggelam

Fatality 4 5 20 Extreme

Petugas di dermaga terbelit tambang saat melepas tambang di bounder Cedera 3 3 9 Medium 5 Perawatan Belt Conveyor Pekerja melakukan perbaikan di ketinggian tidak pakai harness

Fatality 4 4 16 Extreme

Petugas berdiri di atas belt conveyor di ketinggian, terpeleset

Fatality 4 4 16 Extreme

6 Pemotongan metal

Tabung Bertekanan tinggi diletakkan dekat dengan fuel station, terjadi ledakan

Luka bakar, fatal, kerusakan fasilitas

4 5 20 Extreme

Keterangan: P = Probability, C = Consecuency, R = Risk

Pada tabel di atas dapat dilihat bahwa pada kegiatan di Unit Kerja Barging mengandung bahaya (Hazard). Teridentifikasi sebanyak 17 Hazard yang terdapat pada 6 kegiatan. Hazard tersebut yaitu Tenggelam, terpukul, tertarik, terjepit, tertimpa, tersandung, terpeleset, terkena lontaran, terjatuh, terbelit, terpeleset, dan ledakan. Berdasarkan hasil penilaian risiko pada Unit Barging mendapatkan hasil yaitu tidak ditemukan hazard pada tingkatan sangat rendah (very low) dan tinggi (high), tetapi ditemukan hazard pada tingkatan rendah (low), sedang (medium), tinggi (high), dan sangat tinggi (extreme). Hazard tersebut yaitu (a) Hazard dengan tingkatan rendah (low) yaitu terpeleset di walkway akibat ceceran batu bara dan peralatan lainnya yang tidak dikembalikan ke tempatnya, (b) Hazard dengan tingkatan sedang (medium) yaitu terpukul tali, terjepit tambang, dan roda-roda pembalik conveyor, tersandung kabel, terkena lontaran batu bara, terjatuh dari walkway, dan terbelit tambang, dan (c) Hazard dengan tingkatan sangat tinggi (extreme) yaitu tenggelam, tertarik tambang, tertimpa Counter weight, jatuh dari ketinggian, terpeleset di ketinggian, dan ledakan tanki bahan bakar.

Secara menyeluruh baik pada Unit Kerja Coal Crushing maupun Barging, ditemukan sebanyak 27 hazard dengan besaran risiko sebagai berikut:

Tabel 4. Tingkat Risiko di unit kerja Coal Crushing dan Barging

No. Tingkat Risiko Jumlah Persentase

1 Very Low 0 0% 2 Low 3 11% 3 Medium 13 48% 4 High 1 4% 5 Extreme 10 37% Total 27 100%

Tabel tersebut menunjukkan bahwa pada unit kerja Coal Crushing dan Barging terdapat risiko low sebesar 11%, medium 48%, high 4%, dan urgent sebesar 37%. Tingkat risiko didominasi oleh risiko dalam tingkatan sedang (medium) namun juga ditemukan risiko pada tingkatan tinggi (high) dan sangat tinggi (extreme). UNSW Health and Safety dalam Kurniawati dkk (2013), menyebutkan bahwa risiko-risiko yang memiliki predikat “ekstrim” pada penilaian risiko harus mendapatkan prioritas untuk segera dilakukan perbaikan.

3.2. Evaluasi Risiko

Evaluasi risiko dilakukan untuk mengentahui bahaya yang perlu dikendalikan. Hazard yang dievaluasi ke dalam beberapa kategori yaitu (a) dapat diterima, (b) dapat diterima dengan pemantauan berkala, (c) dibutuhkan tindakan lebih lanjut, (d) diperlukan penerapan program pengendalian. Hazard dengan tingkat risiko extreame, high, dan medium disebutkan oleh Afandi dkk (2014), merupakan tingkatan risiko yang tidak dapat ditolerir dan harus dilakukan upaya pengendalian sedangkan tingakt risiko low masih dapat ditolerir. Dilakukan evaluasi terhadap risiko berdasarkan kategori yang dibuat oleh Andarini (2014) yaitu (a) risiko sangat rendah (very low) dapat diterima, (b) risiko rendah (low) dapat diterima dengan pemantauan berkala, (c) risiko sedang (medium) hingga tinggi (high) membutuhkan upaya pengendalian risiko, dan (d) risiko sangat tinggi (extreme) membutuhkan penerapan program pengendalian.

Tabel 5. Evaluasi Risiko di Unit Kerja Coal Crushing dan Barging

Evaluasi Jumlah Persentase

Diterima 0 0%

Diterima dengan pemantauan berkala 3 11%

Dibutuhkan upaya pengendalian 14 52%

Dibutuhkan penerapan program pengendalian 10 37%

Total 27 100%

Hasil evaluasi risiko menunjukkan bahwa pada kegiatan di unit kerja Coal Crushing dan Barging tidak ditemukan risiko yang dapat diterima, tetapi ditemukan risiko dengan: (a) diterima dengan pemantauan berkala sebanyak 11%, (b) dibutuhkan upaya pengendalian sebanyak 52%, dan (c) dibutuhkan penerapan program pengendalian sebanyak 37%. Risiko keselamatan yang dapat diterima, tetapi membutuhkan pemantauan berkala ialah terperosoknya unit ke dalam hooper dan terpeleset di walkway. Risiko keselamatan yang dibutuhkan upaya pengendalian yaitu menabrak/ditabrak, terguling, terpukul T-Belt crusher, terpeleset di atas belt conveyor, dan terkena lontaran batu bara, terpukul tali, terjepit tambang, dan roda-roda pembalik conveyor, tersandung kabel, terjatuh dari walkway, terbelit tambang, dan terjatuh dari atas tanggul. Risiko keselamatan yang membutuhkan penerapan program pengendalian ialah tertimpa bongkahan batu bara dari hooper, tenggelam, tertarik tambang, tertimpa counter weight, jatuh dari atas conveyor, terpeleset di ketinggian, dan ledakan tanki bahan bakar.