Program Studi Teknik Industri, Jurusan Teknik Mesin dan Industri, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Email: [email protected]
Intisari
Penelitian-penelitian terdahulu menunjukkan bahwa perbedaan jenis kelamin tidak membuat adanya perbedaan hasil analisis kenyamanan termal yang signifikan. Akan tetapi perempuan lebih sensitif terhadap penyimpangan suhu optimal dan sering mengungkapkan ketidakpuasan terhadap suhu sekitar. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui seberapa besar perbedaan pengaruh perubahan suhu terhadap kenyamanan termal antara laki-laki dan perempuan pada lingkungan dengan suhu yang rendah. Penelitian dilakukan melalui eksperimen di dalam ruangan yang terkondisi dengan total 12 orang responden laki-laki (22.5±1.6 tahun) dan 12 orang responden perempuan (210,79 tahun). Masing-masing responden mengalami perlakuan sebanyak tiga kali dengan waktu setiap perlakuan selama 30 menit di dalam ruangan yang dikontrol pada suhu udara yang dijaga tetap rendah pada kisaran 22°C dengan kelembaban udara yang diatur pada kisaran 40%, 50%, dan 70%. Selama eksperimen responden menggunakan pakaian dengan tingkat insulasi 0.31 clo untuk perempuan dan 0.2 clo untuk laki-laki dan responden hanya diminta untuk duduk santai (1 Met). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan kelembaban udara tidak mempunyai pengaruh yang cukup signifikan terhadap respon subjektif dari responden, khususnya untuk sensasi termal dan preferensi termal baik pada responden laki-laki maupun perempuan, dan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antar kedua kelompok. Sedangkan pada kenyamanan termal, menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara laki-laki dan perempuan, di mana responden laki-laki-laki-laki merasakan kenyamanan termal pada kondisi lingkungan dengan suhu yang rendah (22°C) pada kelembaban berapapun, sedangkan perempuan merasakan ketidaknyamanan termal pada kondisi yang sama. Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan terkait dengan kenyamanan termal pada laki-laki dan perempuan ketika mereka terpapar pada lingkungan yang dingin dengan suhu rendah.
Kata kunci: Suhu rendah, Kelembaban udara, Laki-laki dan perempuan, Kenyamanan termal.
1 Pendahuluan
Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian masyarakat pada masalah kenyamanan termal penghuni bangunan telah menghasilkan banyak studi termal pada berbagai jenis bangunan. Penelitian dilakukan di berbagai negara dengan kondisi iklim yang berbeda-beda, di antaranya studi tentang sistem ventilasi yang dilakukan oleh Nugraha (2010). Dari penelitian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa manusia sangat memerlukan kenyamanan termal dalam kegiatan sehari-harinya, terlebih pada umumnya orang menghabiskan waktunya lebih dari 90% di dalam ruangan, sehingga mereka membutuhkan udara yang nyaman dalam ruang tempat mereka beraktivitas. Salah satu langkah untuk mencapai kenyamanan termal adalah dengan menggunakan pendingin udara atau air conditioner (AC) (Stoecker,1996). Penggunaan AC yang meningkat akibat perubahan iklim membuat konsumsi energi negara juga meningkat tiap tahunnya. Menurut Outlook Energi Nasional, pada tahun 2000-2009 konsumsi energi Indonesia mengalami peningkatan rata-rata sebesar 2,2% per tahun. Gambar 1 menunjukkan peningkatan konsumsi energi dari tahun 2000-2009.
Gambar 1. Konsumsi energi di Indonesia (Outlook Energi Nasional, 2011)
Pada Gambar 1 dapat dilihat konsumsi energi dikuasai sektor rumah tangga. Hasil survei Wonorahardjo (2009) mencatat konsumsi energi sektor rumah tangga didominasi oleh peralatan pengkondisian udara seperti AC dan kipas angin sebesar 20%. Berdasarkan konsumsi listrik per jam, dapat diketahui konsumsi listrik AC mencapai 400-600 watt, sedangkan kipas angin hanya 15-50 watt. Sehingga dapat disimpulkan bahwa AC penyebab utama tingginya konsumsi energi sektor rumah tangga. BPS (2014) juga mencatat pengguna AC di 33 provinsi mengatur suhu di bawah 25°C pada tahun 2013 yang dengan demikian menghasilkan kelembaban yang cukup rendah. Atau dengan kata lain kenyamanan termal orang Indonesia berada pada kisaran suhu dan kelembaban yang cukup rendah.
Dewasa ini, penelitian tentang kenyamanan termal yang berfokus pada perbedaan jenis kelamin menunjukkan peningkatan cukup pesat (Karjalainen, 2012). Perbedaan jenis kelamin membuat perbedaan yang tidak signifikan. Akan tetapi, lebih dari 50% penelitian dengan tingkat kepercayaan 95% menyebutkan bahwa perempuan lebih sensitif terhadap penyimpangan suhu optimal dan sering mengungkapkan ketidakpuasan terhadap suhu sekitar (Fanger, 1973) Oleh karena itu, perlu diadakan penelitian lebih lanjut terkait pengaruh perubahan suhu udara, khususnya pada suhu rendah di dalam ruangan terhadap respon subjektif dan kenyamanan termal antara laki-laki dan perempuan.
2 Metode Penelitian
Penelitian dilakukan melalui eksperimen di dalam ruangan yang terkondisi di Laboratorium Ergonomika Universitas Gadjah Mada dengan total 12 orang responden laki-laki (22.5±1.6 tahun) dan 12 orang responden perempuan (210,79 tahun). Masing-masing responden mengalami perlakuan sebanyak tiga kali dengan waktu setiap perlakuan selama 30 menit di dalam ruangan yang dikontrol pada suhu udara dijaga tetap rendah pada kisaran 22°C dengan kelembaban udara yang dikontrol pada tiga kondisi dengan kisaran 40%, 50%, dan 70%. Mayoritas responden melakukan eksperimen pada hari yang berbeda menyesuaikan dengan jadwal mereka, yang pasti durasi untuk setiap eksperimen adalah sama. Selama eksperimen responden menggunakan pakaian dengan tingkat insulasi 0.31 clo untuk perempuan dan 0.2 clo untuk laki-laki. Responden hanya diminta untuk duduk santai (1 Met) dan setiap interval 10 menit responden diminta untuk mengisi kuesioner terkait respon subjektif responden yang terdiri dari 7 skala thermal comfort vote (TCV) dari “sangat tidak nyaman” hingga “sangat nyaman”, 9 skala thermal sensation vote (TSV) dari “sangat dingin” sampai “sangat panas”, dan 3 skala thermal preference vote (TPV) dari “lebih sejuk” sampai “lebih hangat”.
Alat dan bahan yang digunakan selama penelitian antara lain air conditioner, humidifier, dan dehumidifier yang disusun seperti pada Gambar 2, dan ketiganya berfungsi untuk
mengontrol suhu dan kelembaban agar sesuai kondisi yang diharapkan. Lalu sensor suhu Thermorecorder Espec RS 14, pakaian untuk responden, stopwatch, kuesioner untuk responden, dan terakhir IBM SPSS Statistics 16 untuk pengolahan statistik.
Gambar 2. Denah lokasi penelitian 3 Hasil Dan Pembahasan
3.1. Thermal Sensation Votes (TSV)
Gambar 3. Nilai rata-rata Thermal Sensation Vote (TSV)
Dari kedua grafik TSV pada Gambar 3, dapat dilihat bahwa perubahan kelembaban tidak terlalu memberi pengaruh baik untuk responden laki-laki maupun perempuan. Uji statistika dengan menggunakan uji Mann-whitney untuk perbandingan kedua gender menunjukkan adanya perbedaan, namun tidak signifikan baik pada kelembaban 40% (P=0,09), kelembaban 50% (P=0,09) dan kelembaban 70% (P=0,05).
3.2. Thermal Preference Votes (TPV)
Gambar 4. Nilai rata-rata Thermal Preference Vote (TPV)
Seperti yang terlihat pada Gambar 4, terlihat pengaruh perubahan kelembaban cukup signifikan untuk responden laki-laki terutama dari kelembaban 50% menuju 70% terhadap TPV. Pada kelembaban 70% laki-laki sudah merasa tidak lagi perlu ada perubahan suhu dan kelembaban sedangkan responden perempuan masih menginginkan perubahan termal menjadi lebih hangat. Dengan menggunakan uji Mann-whitney terbukti tidak ada perbedaan yang signifikan antara responden laki-laki dan perempuan (P>0,05) kecuali pada kelembaban 70% terdapat perbedaan yang cukup signifikan antara laki-laki dan perempuan (P=0,02).
3.3. Thermal Comfort Votes (TCV)
Gambar 5. Nilai rata-rata Thermal Comfort Vote (TCV)
Pada nilai TCV terdapat perbedaan yang cukup signifikan antara responden laki-laki dan perempuan (Gambar 5). Pada responden laki-laki, baik pada nilai kelembaban berapapun responden sudah merasa nyaman sedangkan pada responden perempuan justru sebaliknya yaitu merasa tidak nyaman. Hasil pengujian statistik Mann-Whitney antara laki-laki dan perempuan juga menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan nilai TCV pada semua kondisi (P<0,05).
*
4 Kesimpulan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan kelembaban udara tidak mempunyai pengaruh yang cukup signifikan terhadap respon subjektif dari responden, khususnya untuk sensasi termal dan preferensi termal baik pada responden laki-laki maupun perempuan, dan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antar kedua kelompok kecuali pada preferensi termal pada kelembaban 70%. Sedangkan pada kenyamanan termal, menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara laki-laki dan perempuan, di mana responden laki-laki merasakan kenyamanan termal pada kondisi lingkungan dengan suhu yang rendah (22°C) dan kelembaban berapapun (40%,50%,dan 70%), sedangkan perempuan merasakan ketidaknyamanan termal pada kondisi yang sama. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan terkait dengan kenyamanan termal pada laki-laki dan perempuan ketika mereka terpapar pada lingkungan dengan suhu rendah.
Daftar Pustaka
Badan Pusat Statistik, 2014, Persentase Rumah Tangga yang Memiliki AC Menurut Provinsi dan Perilaku Menyalakan AC Di bawah 250C, 2013, http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?kat=1&tabel=1&daftar=1&id_subjek=
152¬ab=3., online. diakses 15 November 2014
Fanger, P.O., 1973, Assessment of Man's Thermal Comfort in Practice, British Journal of Industrial Medicine, Vol. 30, No. 4, pp. 313-324.
Karjalainen, 2012, Thermal Comfort and Gender: A Literature Review, Indoor Air, Vol. 22, pp. 96–109.
Nugraha, D.T., 2010, Pengukuran Kondisi Termal Tempat Kerja yang Mendukung Kenyamanan Operator untuk Meningkatkan Produktivitas Kerja di Lantai Produksi PT. Sinar Sosro, Skripsi, Universitas Sumatera Utara, Medan.
Outlook Energi Nasional, 2011, BPPT-Outlook Energi Nasional 2011, akses online 15 November 2014, URL: http://perpustakaan.bappenas.go.id/lontar/file.
Stoecker, Wilbert, F., and Jones, J.W, 1996, Refrigerasi dan pengkondisian udara, Edisi Kedua, Penerbit Erlangga, Jakarta.
Wonorahardjo, S., 2009, New CoSncepts in Districts Planning, Based on Heat Island Investigation, Journal of Procedia - Social and Behavioral Sciences, Vol. 36, 235-242.