• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis penelitian dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Tujuan dari penelitian kualitatif ini adalah agar lebih dapat memahami masalah yang akan diteliti, sehingga lebih mudah untuk mendapatkan gambaran serta penjelasan mengenai permasalahan yang diteliti. Penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif ini dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang diamati serta digambarkan dan dijelaskan dengan maksud untuk mengetahui hasil dari masalah yang diteliti. Dalam masalah ini, yang dijelaskan adalah persepsi keluarga pemulung terhadap pendidikan formal anak, yang terlihat dengan pemanfaatan akses pendidikan oleh komunitas keluarga pemulung tersebut.

3.2 Lokasi Penelitian

Penelitian dilaksanakan di daerah Pinang Baris Kelurahan Lalang, Kecamatan Medan Sunggal. Pemilihan lokasi tersebut dipilih secara sengaja (purposive) berdasarkan pertimbangan kemudahan akses penelitian, keterbatasan biaya, tenaga, dan waktu peneliti (Singarimbun, 1989). Selain itu, daerah Pinang Baris yang merupakan salah satu lokasi terminal di Kota Medan yang menyumbang banyak sampah, sehingga jumlah pemulung di daerah ini juga tidak sedikit.

3.3Unit Analisis Data dan Informan 3.3.1Unit Analisis Data

Unit analisis data adalah satuan tertentu yang diperhitungkan sebagai subjek dari penelitian (Arikunto.1999:22). Adapun yang menjadi unit analisis ataupun objek kajian dalam penelitian ini

adalah 25 keluarga yang terdiri dari berbagai etnis dan agama serta tinggal menetap di Daerah Pinang Baris Kelurahan Lalang Kecamatan Medan Sunggal.

3.3.2 Informan

Yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah:

1. Keluarga pemulung yang tinggal menetap di daerah Pinang Baris Kelurahan Lalang, Kecamatan Medan Sunggal. Yang mana jumlah informan dari keluarga pemulung yakni 5 orangtua yang bekerja sebagai pemulung dan 4 anak pemulung. Pemilihan informan dilakukan secara sengaja (purposive) berdasarkan lamanya orangtua tersebut bekerja sebagai pemulung, serta dengan melihat jumlah anak yang dimiliki. Sedangkan anak pemulung yang juga dipilih secara sengaja, berdasarkan tingkatan pendidikannya.

2. Tokoh masyarakat di daerah ini.

3. Pengurus dari pihak Dinas Kebersihan Kota Medan.

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan informasi yang dapat menjelaskan dan menjawab permasalahan-permasalahan yang bersangkutan. Di dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder, yang dapat digolongkan sebagai berikut:

1. Data primer yaitu data yang didapat dengan cara melakukan penelitian lapangan, yaitu pengumpulan data dengan langsung terjun ke lokasi penelitian yang dapat digunakan melalui:

1.1Participant observer/ observasi partisipasi, adalah kegiatan keseharian manusia dengan menggunakan panca indra sebagai alat bantu utamanya. Observasi partisipasi

yang dimaksud adalah pengumpulan data melalui observasi terhadap objek pengamatan dengan langsung hidup bersama, merasakan serta berada dalam aktivitas kehidupan objek pengamatan. Dengan demikian pengamat betul-betul menyelami kehidupan objek pengamatan dan bahkan tidak jarang pengamat kemudian mengambil bagian dalam kehidupan budaya mereka (Burhan.2007:115-116).

1.2Wawancara mendalam (depth interview), yaitu proses tanya jawab yang dilakukan peneliti kepada informan untuk lebih dapat menggali data secara lebih lengkap.

2. Data sekunder yaitu sumber data yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, misalnya lewat orang lain atau lewat dokumen (Sugiyono, 2010: 137). Data sekunder ini diperoleh dari studi kepustakaan dengan mengumpulkan data dari buku, artikel, surat kabar, internet, maupun media lainnya yang berhubungan dengan permasalahan yang diteliti. Data sekunder antara lain disajikan dalam bentuk data-data, tabel-tabel, diagram-diagram, dokumentasi (berupa dokumen-dokumen dan foto-foto) atau mengenai topik penelitian. Data ini merupakan data yang berhubungan secara langsung dengan penelitian yang dilaksanakan.

3.5 Interpretasi Data

Interpretasi data merupakan upaya yang dilakukan dengan jalan memilah dan mengelompokkan data yang telah dikumpulkan dari lapangan melalui pengamatan maupun wawancara, dan maupun dari studi kepustakaan yang ada. Setelah semua data dikumpul dan dikelompokkan, lalu data dipisahkan dan dikategorikan sehingga pada akhirnya dapat menghasilkan kesimpulan yang baik.

3.6 Keterbatasan Penelitian

Adapun yang menjadi keterbatasan penulis dalam penelitian ini adalah karena penulis masih belum menguasai secara penuh teknik dan metode penelitian sehingga dapat menjadi keterbatasan dalam mengumpulkan dan menyajikan data. Kendala tersebut dapat diatasi melalui proses bimbingan dengan dosen pembimbing, serta penulis juga berusaha mencari informasi dari berbagai sumber yang dapat mendukung proses penelitian ini. Selain itu terbatasnya waktu yang dimiliki oleh informan juga mempengaruhi pengerjaan tulisan ini.

3.7 Jadwal Penelitian

No Kegiatan Bulan ke

1 2 3 4 5 6 7 8 9

1 Pra Proposal 

2 ACC Penelitian 

3 Penyusunan Proposal penelitian  

4 Seminar Proposal Penelitian 

5 Revisi Proposal Penelitian 

6 Penelitian Lapangan    

7 Pengumpulan dan Analisa Data    

8 Bimbingan Skripsi  

9 Penulisan Laporan Akhir  

BAB 4

DESKRIPSI WILAYAH DAN PROFIL INFORMAN

4.1 Deskripsi Wilayah

Kota Medan memiliki luas 26.510 hektar (265,10 km²) atau 3,6% dari keseluruhan wilayah Sumatera Utara. Dengan demikian, dibandingkan dengan kota/kabupaten lainya, Medan memiliki luas wilayah yang relatif kecil dengan jumlah penduduk yang relatif besar. Medan memiliki posisi strategis sebagai gerbang (pintu masuk) kegiatan perdagangan barang dan jasa, baik perdagangan domestik maupun luar negeri (ekspor-impor). Posisi geografis Medan ini telah mendorong perkembangan kota dalam dua kutub pertumbuhan secara fisik, yaitu daerah Belawan dan pusat Kota Medan saat ini.

Kotamadya Medan merupakan kota terbesar ketiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya. Kota ini merupakan wilayah yang subur di wilayah dataran rendah timur dari propinsi Sumatera Utara dengan ketinggian berada di 22,5 meter di bawah permukaan laut. Kota ini dilalui oleh dua sungai yaitu Sungai Deli dan Sungai Babura yang bermuara di Selat Malaka. Kotamadya Medan memiliki 21 Kecamatan dan 158 Kelurahan.

Sumber: Pemko Medan. Profil Kota Medan, (Medan : Pemerintah Kotamadya Medan, 2004) hal.36

Penduduk Kota Medan yang terdiri dari berbagai etnis, menunjukkan keberagaman etnis namun belum pernah ada konflik antar etnis di Kota Medan. Terbentuknya komunitas berdasarkan etnis memiliki tujuan masing-masing yang tidak mengganggu tujuan komunitas lainnya. Dengan perbedaan tujuan yang tidak saling mengganggu, menciptakan hubungan sosial

yang baik dan terjadi kerjasama antar etnis. Hal ini dapat terlihat dari bentuk kerjasama di bidang perekonomian. Tidak jarang terlihat banyaknya etnis yang berbeda-beda mampu bekerjasama dalam sector formal maupun informal.

Dalam hal pendidikan, Kota Medan memiliki sarana pendidikan yang lengkap dalam berbagai tingkatan. Universitas ternama juga ada di Kota Medan ini, yang menunjukkan bahwa pendidikan merupakan salah satu kebutuhan yang harus dicapai dan mudah diakses oleh masyarakat yang tinggal di Kota Medan. Dan pendidikan yang ditawarkan bebas dinikmati oleh siapa saja tanpa memandang etnis maupun agama yang dimiliki.

Namun Kota Medan sebagai salah satu kota strategis mengundang perhatian masyarakat untuk datang ke kota ini. Sehingga banyaknya masyarakat pendatang menimbulkan kekurangan lapangan pekerjaan demi pemenuhan perekonomian masyarakat. Hal inilah yang menimbulkan munculnya pekerjaan di sektor informal dan kemiskinan di perkotaan.

4.2 Kelurahan Lalang

Kelurahan Lalang adalah salah satu kelurahan di dalam Kecamatan Medan Sunggal, Medan, Sumatera Utara. Kelurahan ini adalah pintu gerbang sebelah barat Kota Medan, dilintasi oleh Jalan Raya Lintas Sumatera menjadikan daerah ini sebagai sebuah daerah yang pesat perkembangannya di Kota Medan. Namun kepesatan perkembangan tersebut tidak diimbangi oleh tata ruang kota yang baik sehingga terkesan semrawut. Adanya terminal pinang baris di daerah Kelurahan Kampung Lalang ini menyebabkan banyaknya angkutan umum yang semakin mempersempit tata ruang kota. Kelurahan Lalang ini memiliki luas wilayah 125 Ha dan terdiri

atas 13 (tiga belas) lingkungan yang wilayahnya terdiri dari pemukiman masyarakat, perkantoran, taman dan sebagainya.

Batas-batas wilayah Kelurahan Lalang adalah:

Sebelah Timur: Kelurahan Sei Sikambing Kecamatan Medan Sunggal.

Sebelah Barat: Kabupaten Deli Serdang

Sebelah Selatan: Kelurahan Sunggal Kecamatan Medan Sunggal.

Sebelah Utara: Kelurahan Cinta Damai Kecamatan Medan Helvetia.

Dan komposisi luas wilayah Kelurahan Lalang adalah:

Tabel 1

Penggunaan Tanah di Kelurahan Lalang No Jenis Penggunaan Tanah Luas (Ha) %

1. Pemukiman 80 64 2. Pekarangan 1,5 1,2 3. Taman 1,5 1,2 4. Perkantoran 20 16 5. Lain-lain 22 17,6 Jumlah 125 Ha 100%

Sumber: Kantor Kelurahan Lalang, 2011, dan data diolah kembali oleh peneliti.

Melihat luasnya penggunaan tanah terhadap pemukiman penduduk, menunjukan jumlah penduduk yang sejajar dengan luas pemukiman di kelurahan ini. Dengan banyaknya jumlah penduduk, maka volume sampah di kelurahan ini juga sangat tinggi. Kelurahan Lalang yang memiliki terminal sebagai tempat persinggahan bagi masyarakat pendatang, menjadi daya tarik

bagi masyarakat pendatang untuk berdomisili di daerah ini. Ketersediaan sarana dan prasarana menimbulkan keinginan untuk bertahan didaerah ini. Meskipun harus bekerja di sector informal, namun dengan segala kemudahan sarana pemerintah yang diberikan menjadi salah satu daya tarik bagi masyarakat.

4.2.1 Komposisi Jumlah Penduduk

Dari komposisi wilayah, terlihat bahwa lebih dari setengah luas wilayah kelurahan lalang merupakan daerah pemukiman masyarakat. Agar lebih mengetahui komposisi penduduk di Kelurahan Lalang ini, penulis memaparkan jumlah penduduk di kelurahan ini.

Tabel 2

Komposisi Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin

No Jenis Kelamin Jumlah/Orang %

1. Laki-laki 9112 48,84

2. Perempuan 9543 51,15

Jumlah 18.655 Jiwa 100%

Sumber: Kantor Kelurahan Lalang, 2011, dan data diolah kembali oleh peneliti.

Jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin di atas menunjukkan kesetaraan jumlah penduduk di daerah ini. Perbedaan jumlah penduduk laki-laki dan perempuan yang hanya sedikit, ternyata tidak mempengaruhi perbedaan kesempatan dalam mendapatkan pekerjaan. Kesetaraan dalam hal kepemilikan pekerjaan antara laki-laki dan perempuan, terlihat dari banyaknya pekerjaan yang tidak memberi batasan berdasarkan jenis kelamin. Contohnya pekerjaan pemulung yang dikerjakan oleh perempuan dan laki menunjukkan kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam mencari pekerjaan di daerah ini.

Tabel 3

Komposisi Penduduk Menurut Agama

No Agama Jumlah Penduduk %

1. Islam 10265 55,02

2. Kristen 7926 42,48

3. Hindu 307 1,64

4. Budha 157 0,84

Jumlah 18.655 Jiwa 100%

Sumber: Kantor Kelurahan Lalang, 2011, dan data diolah kembali oleh peneliti.

Keberagaman agama yang dianut oleh masyarakat di Kelurahan Lalang ini menunjukkan harmonisasi sistem sosial di daerah ini. Berbagai kegiatan maupun pekerjaan yang dilaksanakan oleh masyarakat dari berbagai agama, menunjukkan toleransi yang sangat baik antar sesama masyarakat. Solidaritas yang terjalin dalam kegiatan yang disponsori oleh kelurahan, dilaksanakan oleh masyarakat tanpa memandang agama. Komunitas pemulung yang menjadi objek penelitian ini, juga terdiri dari masyarakat yang menganut agama yang berbeda-beda namun tidak saling mengganggu, bahkan sering bekerja bersama.

4.2.2 Pola Pemukiman

Kelurahan Lalang yang dilintasi Jalan Raya Lintas Sumatera, dibatasi oleh jalan-jalan raya besar, gang-gang kecil, bangunan pertokoan dan rumah-rumah penduduk. Di pinggiran jalan pada umumnya yang terlihat adalah bangunan-bangunan perkantoran dan jejeran bangunan berbentuk Rumah Toko (RUKO) yang memakai corak bangunan pertokoan modern. Deretan

rumah yang berada di pinggiran jalan, sebagian besar digunakan pemiliknya untuk membuka usaha.

Rumah-rumah pemukiman penduduk lainnya biasanya terlihat apabila kita sudah masuk ke dalam gang. Hal ini dikarenakan perumahan penduduk sudah banyak tertutup oleh jejeran bangunan ruko yang ada di depannya. Di belakang bangunan ruko yang bertingkat ini barulah kita dapati rumah-rumah penduduk yang berkelompok cukup padat dan dihubungkan oleh gang-gang kecil.

Rumah-rumah penduduk ini memiliki pola pemukiman yang berupa perumahan dan saling berhadap-hadapan serta lurus ke belakang gang dengan kontur tanah yang cukup datar. Rumah-rumah penduduk ini masing-masing memiliki pekarangan yang tidak terlalu besar, cenderung sempit, tetapi mereka mengupayakan menanam berbagai jenis tanaman di sekitar pekarangan mereka dengan jarak yang cukup rapat.

Masyarakat di kawasan Kelurahan Lalang pada umumnya tidak kesulitan tidak pernah memiliki kesulitan dalam mencari air bersih, namun pada masyarakat yang bermukim dengan membentuk gang- gang kecil sudah memiliki kamar mandi sendiri di setiap rumah. Jika pada masyarakat yang mendirikan rumah mereka di dekat jalanan lebih memiliki kesadaran tentang rumah sehat dan sanitasi yang bagus.

Pengadaan listrik di daerah Kelurahan Lalang juga cukup baik, yang diusahakan oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN). Walaupun akhir–akhir ini sering sekali PLN melakukan pemadaman listrik yang cukup meresahkan warga, sehingga untuk mengatasinya banyak dari warga masyarakat yang menggunakan generator atau genset untuk sumber daya rumah tangga atau keperluan bisnis mereka apabila sedang terjadi pemadaman listrik tersebut Masyarakat

setempat (host population) Kelurahan Lalang terdiri dari berbagai macam etnis tinggal berdampingan dengan masyarakat etnis tionghoa, etnis batak dan beberapa masyarakat lainnya. Mereka yang tinggal di Kelurahan Lalang ini hidup rukun dan jarang terdengar masalah diantara masyarakat yang berbeda etnis. Walaupun ada sedikit jarak diantara masyarakat etnis Tionghoa dengan masyarakat pribumi tetapi tidak nampak secara jelas di Kelurahan Lalang ini.

Pemukiman pemulung yang tidak membentuk kelompok atau perkampungan pemulung, namun terpisah dan tetap berada dalam satu lingkungan. Alasan mereka tidak membentuk kelompok karena kebanyakan masyarakat yang menjadi pemulung merupakan masyarakat pendatang yang ingin mendapatkan tempat tinggal dengan sewa yang murah meskipun harus terpisah dengan teman seprofesinya.

4.2.3 Sarana dan Prasarana

Lingkungan Lalang merupakan daerah yang memiliki cukup banyak sarana kehidupan masyarakat, bisa dibilang cukup lengkap, terutama di daerah pasarnya. Di daerah ini terdapat berbagai macam toko yang menjual bermacam–macam peralatan, pusat–pusat perbelanjaan seperti supermarket, bank-bank swasta dan bank-bank pemerintah. Terdapat pula banyak apotik, bengkel sepeda motor dan mobil, kantor Lurah Lalang, dan sebagainya. Toko–toko yang terdapat di daerah pasar Kelurahan Lalang ini pun bervariasi, ada toko yang menjual peralatan rumah tangga seperti furniture, toko yang menjual spare part sepeda motor, toko yang menjual barang– barang elektronik yang jumlahnya cukup banyak, cafee dan restoran elit, toko kelontong, dan banyak lainnya.

Di bidang sarana komunikasi, masyarakat Kelurahan Lalang bisa dibilang sudah sangat baik dalam hal penggunaan sarana komunikasi tersebut. Jika disurvey, maka sudah hampir

seluruh rumah tangga memiliki alat komunikasi seperti handphone. Di samping itu, media massa pun dapat dengan mudah mereka dapatkan seperti koran, ataupun media elektronik seperti internet yang ditawarkan oleh masyarakat setempat yang membuka usaha dalam bidang internet.

Dalam bidang kesehatan, di daerah Kelurahan Lalang ini sudah banyak dokter spesialis yang membuka praktek sendiri demi memudahkan masyarakat setempat dalam berobat. Serta ada 9 posyandu dan banyak apotik yang beradah di wilayah ini. Sedangkan dalam bidang keagamaan, pemerintah menyediakan fasilitas bangunan bagi penganut agama Islam yakni mesjid sebanyak 8 buah, gereja bagi agama Kristen yakni 8 buah, Klenteng bagi agama Hindu sebanyak 1 buah, namun wihara bagi agama Buddha tidak ada karena kebanyakan masyarakat yang beragama Buddha di daerah ini beribadah ke pusat Kota Medan.

Dalam bidang pendidikan, sarana yang diberikan kepada masyarakat Keluruhan Lalang bisa terbilang baik. Adapun sarana yang diberikan adalah:

Tabel 4

Sarana Pendidikan yang Terdapat di Kelurahan Lalang

No Jenis Jumlah 1. Play Group 6 2. TK 4 3. SD 6 4. SMP 6 5. SMA 5 Jumlah 26

Sumber: Kantor Kelurahan Lalang, 2011, dan data diolah kembali oleh peneliti.

Sarana pendidikan yang diberikan kepada masyarakat dipergunakan dengan baik serta dapat diakses dengan mudah karena sarana pendidikan yang letaknya strategis dan dekat dengan

pemukiman penduduk. Setiap keluarga di kelurahan ini tercatat pernah menggunakan sarana pendidikan yang tersedia di kelurahan ini.

4.2.4 Sistem Kemasyarakatan

4.2.4.1 Sistem Kekerabatan

Masyarakat Kelurahan Lalang adalah masyarakat yang heterogen, dikatakan demikian, karena terdiri dari berbagai etnis yang hidup dan bertempat tinggal di kelurahan ini sejak lama seperti etnis Batak, Jawa, Melayu, dan etnis Tionghoa. Mereka umumnya memiliki sistem kekerabatan patrilineal yaitu melihat garis keturunan menurut garis ayah. Dapat kita lihat pada kartu keluarga di setiap keluarga di Kelurahan Lalang yang menekankan ayah sebagai kepala keluarga. Jadi dalam artian masyarakat tetap mempertahankan ikatan-ikatan kultural. Masing-masing masyarakat beraneka suku dan etnis saling berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan dan masyarakat lainnya.

Bagi masyarakat pribumi di Kelurahan Lalang biasanya yang mengikat mereka adalah kesamaan agama. Mereka saling bantu-membantu apabila ada peristiwa-peristiwa penting seperti perkawinan, bencana, kematian, mendirikan rumah dan peristiwa-peristiwa lainnya. Masyarakat etnis tionghoa biasanya juga akan ikut membantu tetapi hanya sekedarnya saja atau misalnya datang ketika ada acara perkawinan atau kematian di masyarakat pribumi. Disini dijumpai kelompok kekerabatan yang berdasarkan etnis, seperti pada kelompok keluarga etnis batak, kelompok keluarga etnis Tionghoa dan lain-lain. Tetapi kelompok-kelompok ini hanya aktif apabila ada kejadian penting dalam kehidupan anggota-anggotanya.

Kelompok pemulung selalu ikut terlibat dalam kegiatan sistem sosial tanpa memandang status pekerjaan mereka. Kesamaan etnis ataupun agama menjadi perekat bagi pemulung untuk mengikuti suatu kegiatan yang berbau etnis maupun agama, sehingga status pekerjaan mereka tidak menjadi pemisah dengan anggota lainnya pada suatu kegiatan.

4.2.4.2 Sistem Kepemimpinan

Sistem kepemimpinan terdiri dari pemimpin formal dan pemimpin informal. Pemimpin informal adalah orang yang dituakan dan dianggap memiliki kemampuan agama yang lebih daripada penduduk Kelurahan Lalang lain, yang hanya berfungsi pada saat adanya acara-acara adat. Sedangkan pemimpin formal adalah lurah, kepala-kepala lingkungan dan perangkat pemerintahan lainnya.

Bagi pemulung yang kebanyakan merupakan masyarakat pendatang, menjadi anggota dalam kepemimpinan formal maupun informal dalam sistem sosial. Mereka tidak bisa menjadi pemimpin karena pendidikan yang mereka miliki masih rendah serta berdomisilinya di Kelurahan Lalang masih belum begitu lama.

4.3 Daerah Pinang Baris, Kelurahan Lalang

Lokasi penelitian ini merupakan salah satu lingkungan dari Kelurahan Lalang. Daerah ini termasuk dalam Lingkungan X Kelurahan Lalang yang memiliki luas wilayah 24 Ha dipimpin oleh seorang kepala lingkungan. Lingkungan ini terdiri dari 538 Keluarga. Pola pemukiman masyarakat di daerah ini yang sangat dekat dengan Jalan Raya Lintas Sumatera, semakin memudahkan masyarakat untuk melakukan kegiatan dalam membuka usaha.

Adanya Terminal Pinang Baris di daerah ini menyebabkan padatnya penduduk di lingkungan ini. Namun dalam hal sarana transportasi sangat mudah dijangkau di daerah ini. Rumah penduduk yang berderet terlihat sempit karena banyaknya penduduk di daerah Pinang Baris ini, baik penduduk tetap maupun yang tidak tetap dan hanya menjadikan daerah Pinang Baris sebagai daerah persinggahan karena adanya terminal di daerah ini.

Begitu juga dengan sarana kesehatan yang dimana di daerah ini terdapat 2 posyandu, 4 apotik dan praktek dokter yang mudah dijumpai. Sarana pendidikan seperti sekolah negeri ataupun swasta, tidak sulit kita jumpai di daerah Pinang Baris ini. Sebab ada satu TK, dua Paud, satu sekolah dasar, satu SMP dan satu SMA. Dalam hal sarana peribadahan, terdapat 1 mesjid dan 1 gereja, maka daerah ini merupakan daerah yang lengkap untuk berbagai sarana.

Aktivitas yang dilakukan masyarakat yang tinggal di daerah Pinang Baris ini sangat beragam. Ada yang bekerja di perusahaan pemerintah ataupun swasta, dan ada yang membuka usaha di sector informal. Pemulung yang mudah dijumpai di daerah ini merupakan salah satu pekerjaan di sector informal dan menjadi salah satu pekerjaan yang sangat mudah dilakukan. Banyaknya sampah yang dihasilkan oleh masyarakat dengan rasio timbulan sampah 0,60kg/jiwa/hari di daerah ini semakin memberikan penghasilan bagi pemulung yang dapat memberdayaan pulungan yang didapatnya (Dinas Kebersihan Kota Medan, 2008).

4.4 Profil Informan

Profil informan merupakan biodata sumber pemberi informasi yang mendukung pemenuhan data penelitian. Pentingnya profil informan bertujuan untuk memfokuskan masalah

penelitian dan dengan adanya informan, maka membantu penggambaran masalah di lokasi penelitian. Dalam penelitian ini, profil informan disajikan dengan menggunakan inisial demi menjaga identitas si pemberi informasi atau informan.

4.4.1 Informan Pertama (Warga daerah Pinang Baris yang keduanya bekerja sebagai pemulung)

Nama: Dina Sitanggang

Nama Suami: Thomson Panjaitan Usia: 38 tahun

Jenis Kelamin: Perempuan Jumlah anak: 4 orang Pendidikan Terakhir: SMP Suku: Batak Toba

Agama: Kristen

Lamanya menekuni pekerjaannya: 3 tahun

Ibu DS merupakan salah satu pemulung yang mencari pulungan dekat dengan tempat tinggalnya yakni di daerah Pinang Baris. Memiliki empat orang anak yang terdiri dari satu laki-laki dan tiga perempuan. Anak pertamanya adalah perempuan dan sedang duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) kelas tiga, sedangkan anak kedua yang merupakan laki-laki, duduk di bangku sekolah dasar (SD) kelas 6, anak ketiga masih kelas 4 SD dan anak yang paling kecil masih berumur 4 tahun. Suami dari ibu DS ini memiliki pekerjaan yang sama dengannya yakni sebagai pemulung.

Pekerjaan pemulung yang mereka tekuni selama 3 tahun, merupakan pilihan terbaik untuk memenuhi kebutuhan mereka dikarenakan oleh pendidikan keduanya hanya tamat SMP. Keluarga ini merupakan salah satu keluarga migran yang berasal dari daerah Sidikalang, alasan

mereka melakukan migrasi ke kota Medan, karena adanya masalah keluarga, sehingga menyebabkan tanah mereka di daerah Sidikalang tersita. Ketiga anak mereka yang sedang bersekolah, hanya mampu mereka sekolahkan di sekolah inpres yang terbilang murah. Menurut

Dokumen terkait