• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

1.5 Metode Penelitian

Tujuan dari penulisan ini adalah untuk merekonstruksi sejarah dan menghasilkan sebuah karya sejarah yang bernilai ilmiah, sehingga tahapan demi tahapan harus dilalui untuk mencapai suatu hasil yang maksimal.5 Untuk itu dalam merekonsturksi masa lampau pada objek yang ditulis tersebut dipakai metode sejarah dengan mempergunakan sumber sejarah sebagai bahan penelitian. Metode sejarah adalah proses menguji dan menganalisa secara kritis rekaman dan peninggalan pada masa lampau. Metode penelitian sejarah juga merupakan proses kerja yang melibatkan tahap-tahap, mulai dari yang teoritis sampai pada pelaksanaan teknis yang dilakukan pada masa penelitian. Tahap-tahap yang telah dilakukan berkaitan dengan metode sejarah adalah:

Langkah pertama yang dilakukan adalah heuristik, yaitu mencari dan mengumpulkan sumber-sumber yang relevan dan menjadi bahan penelitian. Sumber-sumber penelitian dapat berupa tulisan maupun lisan yang diperoleh dilapangan/tempat berlangsungnya penelitian. Sumber yang berbentuk tulisan biasanya berupa dokumen, buku, dan sebagainya yang tersaji dalam tulisan.

Sedangkan sumber lisan dapat diperoleh melalui proses wawancara dengan narasumber yang mengetahui tentang permasalahan yang diteliti oleh penulis.

Wawancara sangat penting dilakukan apalagi bila sumber tertulis sangat minim dilapangan. Penulis melakukan wawancara kepada masyarakat yang bekerja sebagai petani di Kabupaten Karo, pengunjung yang datang ke Pesta Bunga dan Buah, panitia

5Louis Gottschalk, Mengerti Sejarah, diterjemahkan oleh Nugroho Notosutanto, Jakarta: UI Press. 1985 hal. 32.

pelaksanaan Pesta Bunga dan Buah, Dinas Pariwisata dan Pemerintah Daerah Kabupaten Karo yang mengadakan kegiatan Pesta Bunga dan Buah tersebut. Penulis juga melakukan observasi berupa pengamatan dilapangan atau objek penelitian di Berastagi di Kabupaten Karo yang merupakan tempat dilaksanakannya Pesta Bunga dan Buah.

Langkah kedua yang dilakukan adalah kritik sumber. Kritik sumber merupakan kegiatan yang mempertanyakan, menilai bahan-bahan yang sudah terkumpul dapat dipercaya, dari segi materi maupun isi dan memang dapat dipercaya kebenarannya.6 Kritik sumber dapat dilakukan dengan dua cara yaitu:

1. Kritik ekstern dilakukan untuk mengetahui apakah sumber benar-benar asli atau palsu dengan meneliti jenis kertas, tinta, bentuk huruf, bahasa, dan susunan kata, memperhatikan tanggal dan sebagainya. Kritik ekstern merupakan kritik yang dilakukan terhadap tampilan luar sumber.

2. Kritik intern dilakukan setelah kritik ekstern, dimana penulis mempertanyakan kebenaran isi dari sumber, apakah dapat diterima sebagai kenyataan. Membandingkan kesaksian narasumber dengan sumber-sumber tertulis. Sebaliknya mencermati narasumber, apakah masih layak didengan kesaksiannya. Melalui kritik sumber akan mendapati fakta sejarah.

Langkah ketiga adalah interpretasi. Disini, penulis menafsirkan dengan menguraikan (menganalisa) fakta-fakta yang telah diperoleh dari tahap sebelumnya dengan tujuan untuk memperoleh fakta yang memiliki arti. Penulis dapat memahami

6Kuntowijoyo. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya. 1995. Hlm 100.

situasi pada masa penelitian dengan berdasarkan pada fakta-fakta yang telah disimpulkan. Pada tahap ini penulis dihadapkan pada pemahaman terhadap sumber yang telah ada sekaligus merangkainya dalam uraian yang kronologis.

Langkah keempat adalah historiografi, yakni penyusunan kesaksian atau sumber-sumber yang dapat dipercaya menjadi suatu kisah atau kajian yang menarik dan berarti secara kronologis dan rasional. Di mana setelah penelitian lalu dituliskan kedalam skripsi, dan menghasilkan sebuah tulisan dengan judul Pesta Bunga dan Buah Masyarakat Karo di Berastagi (1988-1998).

BAB II

TERLAKSANANYA PESTA BUNGA DAN BUAH DI KECAMATAN BERASTAGI TAHUN 1988

2.1 Sejarah Pesta Bunga dan Buah di Berastagi

Pesta Bunga dan Buah Kabupaten Karo merupakan kegiatan pesta rakyat yang dilaksanakan sekali setahun. Awalnya perayaan pesta Bunga dan Buah ini dilakukan karena masyarakat Karo mensyukuri karunia Tuhan berupa lahan yang subur dengan hasil pertaniannya yang melimpah. Perayaan ini telah membudaya dan sudah terlaksana setiap tahunnya. Kabupaten Karo dikenal sebagai Bumi Turang7 yang dihuni masyarakat Karo yang berbudaya pertanian (agriculture) memiliki alam pegunungan yang subur penghasil bunga, buah dan sayur yang memenuhi kebutuhan produk pertanian Sumatera Utara.

Masyarakat Karo menyebut Pesta Bunga dan Buah di kecamatan Berastagi sebagai “Pesta Thanks Giving” yaitu penyampaian terima kasih ataupun rasa syukur yang ditujukan kepada oknum yang dipercayai mempunyai kekuatan memberikan hasil panen melimpah. Dengan demikian, kegiatan Pesta Bunga dan Buah yang diselenggarakan sejak tahun 1988 ini dulunya merupakan bagian dari ritual kepercayaan disertai kegiatan sukacita dalam bentuk menyiapkan makanan enak, berhias diri dan menyelenggarakan pentas seni tradisi. Sesudah masyarakat Karo memeluk salah satu agama yang ada sekarang ini, pelaksanaan Pesta Bunga dan Buah mengalami beberapa perubahan pada acara ritual kepercayaan (meniadakan bagian

7Bumi Turang adalah bumi Karo, bumi berbudaya, bumi yang dihuni masyarakat Karo yang berbudaya penghasil bunga, buah, sayur.

acara penyembahan roh-roh leluhur) menggantinya dengan ibadah rasa syukur ditunjukkan kepada Tuhannya, sedangkan pentas seni tradisi diperkaya dengan alat musik elektronik (keyboard).

Pada Pesta Bunga dan Buah yang dilakukan masyarakat Karo apapun agamanya akan menyiapkan makanan enak khas daerah, misalnya gulai daging, lemang ketan, cimpa, tape, buah-buahan, dll untuk dinikmati bersama seluruh anggota keluarga dan tamu undangan, memakai pakaian yang paling indah, menghiasai rumah dan lingkungannya dengan bunga-bungaan serta lambai-lambai (daun aren muda) dan secara bersama-sama menyelanggarakan pertunjukkan guro-guro aron.

2.2 Penyelenggaraan Pesta Bunga dan Buah di Berastagi

Pemerintah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karo berusaha untuk meningkatkan kunjungan wisatawan. Untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karo gencar melaksanakan berbagai kegiatan atau event di dalam dan luar daerah. Salah satunya adalah Pesta Bunga dan Buah. Penyelenggaraan Pesta Bunga dan Buah di Kecamatan Berastagi pertama kali diusulkan oleh Bupati Tampak Sebayang. Kegiatan atau event tersebut ada yang dilakukan oleh pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karo, maupun bekerja sama dengan pihak luar, event organizer, maupun masyarakat.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karo mempunyai peranan penting dalam penyelenggaraan pesta Bunga dan Buah di Kecamatan Berastagi.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karo tersebut mempunyai tugas pokok

yaitu membantu Bupati dalam melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan di bidang pembangunan pariwisata dan kebudayaan. Adapun tugas pokok Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karo adalah:

1. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata adalah merupakan unsur pelaksana otonomi daerah.

2. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata mempunyai tugas melaksanakan urusan pemerintah daerah di bidang kebudayaan dan kepariwisataan berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan.

3. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dalam melaksanakan tugas menyelanggarakan fungsi:

a. Perumusan kebijaksanaan teknis sesuai dengan lingkup tugasnya dalam rangka perencanaan, pembinaan dan pengembangan bidang kebudayaan, seni dan pariwisata.

b. Penyelanggaraan urusan pemerintahan di bidang pengelolaan kebudayaan seni dan kepariwisataan serta pelayanan umum sesuai dengan lingkup tugasnya.

c. Pembinaan dan pelaksanaan tugas dibidang pengelolaan kebudayaan seni dan kepariwisataan dengan lingkup tugasnya.

d. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati sesuai dengan bidang tugas dan fungsinya.

4. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dipimpin oleh seorang Kepala Dinas

5. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata berkedudukan dibawah dan bertanggung jawab kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah.

2.3 Berastagi Sebagai Tempat Pelaksanaan Pesta Bunga dan Buah

Berastagi adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Karo, Sumatera Utara.

Berastagi merupakan kota terbesar kedua di dataran tinggi karo setelah kota Kabanjahe. Berastagi berjarak sekitar 66 kilometer dari Kota Medan. Berastagi diapit oleh 2 gunung berapi yaitu Gunung Sibayak dan Gunung Sinabung. Berastagi berada diketinggian lebih dari 1300 mdpl, dengan temperatur 19o–26oC, sehingga menjadikan kota ini menjadi salah satu kota terdingin yang ada di Indonesia. Luas wilayah kecamatan Berastagi sebesar 3050 Ha, dengan jumlah penduduk sebanyak 48.043 jiwa. Secara administratif Kecamatan Berastagi terdiri dari 5 desa swasembada yakni Desa Doulu, Desa Sempa Jaya, Desa Rumah Berastagi, Desa Guru Singa dan Desa Raya serta 4 daerah kelurahan yakni Kelurahan Gundaling I, Kelurahan Gundaling II, Kelurahan Tambak Lau Mulgap I dan Kelurahan Tambak Lau Mulgap II. Serta mempunyai batas-batas wilayah sebagai berikut:

1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang.

2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Kabanjahe.

3. Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Simpang Empat.

4. Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Tiga Panah.8

8https://id.wikipedia.org/wiki/Berastagi,_Karo, diakses tanggal 12 September 2019 pukul 12.30 WIB.

Topografi Kecamatan Berastagi datar sampai dengan berombak adalah 65%, berombak sampai dengan berbukit 22%, berbukit sampai dengan bergunung 13%

dengan tingkat kesuburan tanahnya sedang sampai dengan tinggi, didukunga lagi dengan curah hujan rata-rata 2.100 sampai dengan 3.200 mm pertahun.. Dihitung berdasarkan jumlah Kepala Keluarga (KK), Kecamatan Berastagi terdiri 10.887 kepala keluarga. Mayoritas penduduknya adalah suku Karo sebanyak 75% dan selebihnya adalah suku Batak Toba, Nias, Jawa, Aceh, Simalungun, Keturunan Cina, Pakp ak, Dairi dan lain-lain9. Kondisi geografis Kabupaten Karo juga berpotensi untuk wisata alam, misalnya kawasan hutan sebagai objek bagi ekowisata. Kabupaten karo yang sudah lama dikenal sebagai sentra produksi komoditi sayur-sayuran, buah-buahan dan tanaman bunga juga akan dikelola dan dikembangkan menjadi objek wisata agrowisata. Dalam pengembangan kawasan pariwisata berupa kawasan cagar budaya ini, direncanakan di Kecamatan Berastagi (Desa Peceren/ Sempajaya), Pasar Buah Berastagi, Pasar Bunga Berastagi, Pasar Tradisional Berastagi di Kecamatan Berastagi. Melalui potensi yang dimiliki oleh kecamatan Berastagi, maka panitia penyelenggara memilih KecamatanBerastagi sebagai tempat pelaksanaan pesta bunga dan buah dibandingkan dengan kecamatan-kecamatan lainnya yang ada di Kabupaten Karo.

9https://id.wikipedia.org/wiki/Berastagi,_Karo, diakses tanggal 12 September 2019 pukul 12.45 WIB.

Gambar 1: Peta Kecamatan di Kabupaten Karo Mata Pencaharian

Perekonomian di kecamatan Berastagi Kabupaten Karo terus mengalami pertumbuhan sebesar 4,55 persen setiap tahunnya. Tiga lapangan usaha yang memberi peran dominan dalam mata pencaharian masyarakat yaitu pertanian, kehutanan dan perikanan. Adapun lapangan usaha masyarakat kecamatan Berastagi adalah sebagai berikut:

Tabel Lapangan Usaha Masyarakat Kecamatan Berastagi

No Lapangan Usaha Persen

(%)

1 Pertanian, Kehutanan dan Perikanan 54,14

2 Pertambangan dan Penggalian 0,22

3 Industri Pengolahan 3,63

4 Pengadaan air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur ulang 0,08

5 Konstruksi 7,37

6 Perdagangan Besar dan Eceran 10,90

7 Reparasi mobil dan Sepeda motor 3,8

8 Transportasi dan Pergudangan 4,52

9 Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 2,54

10 Informasi dan Komunikasi 0,74

11 Jasa Keuangan dan Asuransi 1,29

12 Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial 5,81

13 Jasa Pendidikan 2,32

14 Jasa Kesehatan 1,28

15 Jasa lainnya 1,36

Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Karo tahun 1998

Religi

Agama merupakan suatu pedoman bagi kehidupan umat manusia dalam menjalani hari-harinya, dengan beragama manusia menjadi memiliki tujuan hidup dan dengan beragama pula kehidupan manusia menjadi lebih nyaman dan terarahserta teratur. Agama menjadikan kita mengetahui segala hal yang baik maupun segala hal yang buruk bagi kehidupan manusia. Kehidupan kita menjadi lebih baiksebab banyak tuntunan yang kita dapatkan dan banyak larangan yang menjadikan kita mengetahui apa yang harus di kerjakan dan apa yang tidak boleh di kerjakan dalam kehidupan sehari-hari.

Kota Berastagi masyarakatnya mayoritas beragama Kristen, berbeda dengan daerah lain di Indonesia yang umumnya mayoritas beragama Islam.

Namun perbandingan jumlah antara masyarakat yang beragama Kristen dengan masyarakat yang beragama Islam tidak terlalu jauh. Berikut data jumlah setiap penganut agama di Kecamatan Berastagi:

Tabel Jumlah Penganut Agama di Kecamatan Berastagi (1998)

Agama Jumlah

Sumber: Badan Pusat Statistik Kab Karo tahun 1998

Pada saat merayakan satu kegiatan keagamaan tidak jarang masyarakat Berastagi ikut berpartisipasi dalam membantu, baik itu berupa dana maupun tenaga.

Contohnya, ketika Idul Adha ada masyarakat non Islam yang ikut memberikan hewan Kurban. Berdasarkan pernyataan di atas, narasumber bernama David Chen mengatakan:

“Di Kecamatan Berastagi apabila saat satu agama merayakan hari besar maka umat dari agama lain turut mengucapkan selamat kepada masyarakat yang sedang merayakannya. Saya sebagai pemeluk agama Budha sering mengucapkan langsung kepada orang yang sedang merayakan hari besar

agamanya. Bahkan pada saat perayaan hari Natal saya sering ikut merayakan Natal ke Gereja dan pada saat hari Raya Idul Adha saya beberapa kali juga memberikan hewan kurban ke Masjid terdekat. Tidak jarang tetangga datang bertamu kerumah saya pada saat agama saya merayakan hari besar, begitu pun sebaliknya saya sering berkunjung kerumah teman ataupun yang sedang merayakan hari besarnya seperti Idul Fitri dan Tahun baru.”10

Orang Karo merupakan penduduk asli yang tinggal di Kota Berastagi. Sebagai etnis yang mayoritas di Berastagi, orang Karo tidak terlalu mempermasalahkan perbedaan agama. Orang Karo di Berastagi adalah mayoritas Kristen Protestan, namun perbandingan dengan yang beragama Islam juga tidak terlalu jauh. Orang Karo umumnya tidak terlalu mempermasalahkan agama, selama orang Karo tersebut di hargai dan di hormati maka orang Karo juga akan melakukan hal yang sama dan hal tersebut berlaku kepada pendatang baik dari suku apapun itu. Bagi masyarakat Karo semua agama mengajarkan kebaikan, sehingga menurutnya beragama itu adalah pilihan dan tidak paksaan. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya keluarga Karo yang di dalam keluarganya itu berbeda keyakinan, misalnya bapa dan ibunya Kristen namun anaknya ada yang Islam, Katolik, bahkan Budha dan semuanya itu tetap akur satu dengan yang lainnya.

Dikarenakan kondisi ini, para pendatang akan menghargai kondisi ini dan menjaga hubungannya tetap baik dengan masyarakat Karo baik yang beragama Kristen maupun Islam. Pernyataan di atas didukung lagi dengan pernyataan dari bapak Robert Bangun yang mengatakan:

“Etnis Karo itu adalah salah satu etnis yang sangat menjunjung tinggi adat istiadatnya, dan etnis Karo tersebut tidak pernah mempermasalahkan perbedaan agama. Adat istiadat tersebut masih melekat di setiap kehidupan masyarakat Karo dalam kesehariannya, dan dalam kehidupannya adat istiadat

10Wawancara, David Chen, Berastagi, tanggal 20 September 2019 pukul 14.10 WIB.

tersebut sangat berpengaruh di dalam kehidupan orang Karo. Bagi orang Karo semua agama membawa kebaikan dan tidak ada yang mengajarkan kejahatan.

Jadi, bagi orang Karo semua agama itu sama saja dan merupakan hak setiap orang untuk bebas memeluk suatu agama. Salah satu contoh nyata orang Karo tidak terlalu mempermasalahkan agama adalah di dalam satu keluarga Karo itu dapat memiliki kepercayaan yang berbeda. Contohnya keluarga saya, ada yang beragama Budha ikut istrinya, ada yang beragama islam, dan ada juga yang beragama Kristen. Walaupun kami berbeda agama, tetapi kami tidak pernah sekalipun berkonflik yang datangnya dari perbedaan agama. Kami bisa saling menghargai dan hidup berdampingan di tengah perbedaan tersebut.

Pada saat hari besar agama tertentu, kami dapat merayakannya secara bersama-sama dan menghadiri rumah keluarga kami serta hal ini menjadi satu wadah untuk kami dapat berkumpul sebagai satu keluarga. Hal ini tidak hanya terjadi pada keluarga saya, melainkan kita dapat melihat hal yang sama pada keluarga-keluarga Karo yang lain di Berastagi.”11

Begitu juga dalam perayaan pesta bunga dan buah soal pebedaan agama tidak menjadi halangan untuk terselenggaranya acara tesebut bahkan mempererat hubungan antar agama karena pesta bunga dan buah tersebut tidak menyalahi aturan agama.

Berastagi merupakan tujuan utama wisata di Kabupaten Karo. Berastagi terletak di Kecamatan Berastagi, Kabupaten Karo, yang juga terkenal dengan nama Tanah Karo dan beribukotakan Kabanjahe. Sejak zaman Belanda, Kabupaten Karo sudah terkenal sebagai tempat peristirahatan. Setelah kemerdekaan Republik Indonesia kemudian dikembangkan menjadi daerah tujuan wisata di Provinsi Sumatera Utara. Objek-objek pariwisata di Kabupaten Karo adalah panorama yang indah di daerah pegunungan, air terjun, air panas, dan kebudayaannya yang unik.

Daerah Berastagi sangat lekat dengan budaya Karo. Warisan budaya di Tanah Karo dapat kita lihat dari mulai potensi alam lingkungan, adat istiadat, upacara ritual, sakral dan sekuler, peninggalan sejarah, sistem pengetahuan tradisional, senjata tradisional, tempat-tempat bersejarah, serta seni dan budaya yang semuanya itu

11Wawancara, Robert Bangun, Berastagi, tanggal 21 September 2019 pukul 13.20 WIB.

merupakan sumber daya dan modal yang besar bagi usaha pengembangan, peningkatan, dan pemanfaatan secara optimal untuk berbagai kepentingan, salah satunya adalah kepariwisataan. Pemanfaatan warisan budaya sebagai modal harus dilaksanakan secara optimal melalui penyelenggaraan kepariwisataan yang baik, cerdas dan tepat, yang secara umum bertujuan untuk meningkatkan ekonomi atau pendapatan masyarakat Karo khususnya. Tanah Karo juga terkenal dengan potensi alam lingkungan melalui komoditas sayurmayur, buah-buahan, serta bunga-bunga indah yang dihasilkan dari ladang penduduk lokal Tanah Karo.

Karena potensi alam yang cukup besar maka setiap tahunnya Kota Berastagi dipilih sebagai tempat perayaan Pesta Bunga dan Buah. Selain itu Kota Berastagi juga memiliki letak yang strategis dan kota yang sudah lama dikenal masyarakat lokal maupun mancanegara.

2.4 Kegiatan Promosi

Promosi yang merupakan kreativitas mengkomunikasikan keunggulan produk/ jasa serta membujuk sasaran. Menurut Kotler dan Amstrong (2007:74), kepariwisataan yang merupakan keseluruhan jaringan dan gejala-gejala yang berkaitan dengan tinggalnya orang-orang asing disuatu tempat dengan syarat bahwa mereka tidak tinggal untuk melakukan suatu pekerjaan yang penting yang memberikan keuntungan yang bersifat permanen maupun sementara. Promosi yang baik akan menarik wisatawan untuk berkunjung, sebaliknya promosi yang kurang akan berdampak pada menurunnya wisatawan yang datang berkunjung. Sasaran promosi kepariwisataan meliputi dua hal yaitu:

1. Publik Intern

Publik intern adalah semua orang yang bekerja pada organisasi atau kelompok tertentu, beberapa diantaranya adalah pegawai dari tingkatan atas sampai terendah, penyelenggara kegiatan, pemegang saham atau serikat kerja.

Misalnya pemerintah, staff dan pegawai yang bekerja di pemerintahan Kabupaten Karo, Dinas Pariwisata Kabupaten Karo dan lain-lain

2. Publik Ekstern

Publik ekstern adalah orang-orang diluar organisasi yang ada kaitannya dengan kegiatan yang diadakan, termasuk lingkungan disekitar kegiatan.

Misalnya masyarakat Karo atau wisatawan dalam negri maupun luar negri.

Untuk mencapai sasaran kepariwisataan berbagai kegiatan media promosi dilakukan antara lain sebagai berikut:

1. Periklanan

Merupakan bentuk presentasi dan promosi non pribadi tentang ide atau objek yang akan dibayarkan oleh sponsor tertentu. Peranan periklanan dalam pemasaran objek wisata adalah untuk membangun kesadaran terhadap keberadaan objek wisata/ kegiatan yang ditawarkan, membujuk konsumen untuk menggunakan jasa/ mengikuti kegiatan kepariwisataan.

Pada metode periklanan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karo melakukan beberapa kegiatan yang tujuannya untuk mengiklankan atau mengenalkan produk wisata kepada Wisatawan. Periklanan ini pertama kali dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Karo pada tahun 1994. Adapun bentuk

iklan yang dibuat oleh Dinas Pariwisata dan Kabupaten Karo untuk mempromosikan daerah pariwisata Kabupaten Karo adalah membuat brosur dan kepingan CD. untuk brosur memberikan informasi kepada calon wisatawan yang akan berkunjung mengenai daerah wisata yang ada di Kabupaten Karo. Ini bisa berupa informasi akses, kondisi alam dan fasilitas yang terdapat didaerah tersebut. Metode periklanan ini rutin dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karo, artinya mereka sepakat bahwa aspek periklanan dengan mencetak brosur cukup efektif dilakukan.

Selanjutnya adalah pembuatan CD profil tempat wisata di Kabupaten Karo.

Program ini hanya berjalan sekali dan tidak dilanjutkan dikarenakan menyedot biaya yang cukup besar dalam proses pembuatannya.

Program dalam bentuk periklanan yang dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata hanya mencakup dua program tersebut, yakni brosur dan CD. namun kegiatan priklanan yang lain biasanya disandingkan oleh kegiatan-kegiatan lain yang dilakukan di daerah Kabupaten Karo Seperti Pesta Budaya Karo dan Festival Danau Toba. Namun ini bukanlah kegiatan periklanan yang direncanakan, melainkan kegiatan periklanan yang bertujuan untuk memberi informasi tentang kegiatan yang berlangsung atau lebih tepatnya bagian dari publikasi dari kegiatan tersebut.

2. Personal Selling

Dalam metode ini pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karo melakukan presentasi dengan calon pembeli saat melakukan promosi penjualan di stan/booth milik Dinas Kebudayaan dan Pariwisata agar barang ataupun souvenir khas Kabupaten Karo yang ada di booth tersebut terjual.

Selain itu promosi yang dilakukan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karo adalah hubungan public (public relation) dan penjualan langsung (direct selling). Hubungan publik Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karo dalam setiap aktivitas promosinya pasti menyertakan metode ini. Metode hubungan publik dalam promosi pariwisata Kabupaten karo dilakukan pada setiap kegiatan yang bertemakan promosi. Hal ini terlihat hampir semua program promosi yang dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karo pasti menyertakan masyarakat sebagai elemen penting kegiatannya.

Hal ini dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten karo untuk menjaga hubungan baik kepada masyarakat, baik itu masyarakat sebagai pelaku usaha Pariwisata maupun masyarakat sebagai pelaku wisata atau wisatawan. Contoh kegiatan yang menyertakan masyarakat sebagai elemennya adalah Pesta Budaya Karo dan Festival Danau Toba. Hal ini

Hal ini dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten karo untuk menjaga hubungan baik kepada masyarakat, baik itu masyarakat sebagai pelaku usaha Pariwisata maupun masyarakat sebagai pelaku wisata atau wisatawan. Contoh kegiatan yang menyertakan masyarakat sebagai elemennya adalah Pesta Budaya Karo dan Festival Danau Toba. Hal ini

Dokumen terkait