Pesta Bunga dan Buah Masyarakat Karo di Berastagi (1988-1998)
SKRIPSI DIKERJAKAN O
L E H
NAMA : SIMON SURANA BRAMANA
NIM : 140706046
PROGRAM STUDI ILMU SEJARAH
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2020
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan kasih-Nya kepada penulis. Hingga saat ini, penulis masih diberikan kesehatan sehingga dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini dengan baik.
Banyaknya tantangan dalam proses penulisan tidak mematahkan semangat, kesabaran sehingga penulis sampai pada akhir penulisan. Adapun skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan program Sarjana pada Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara. Skripsi ini berjudul PESTA BUNGA DAN BUAH MASYARAKAT KARO DI BERASTAGI (1988-1998).
Penulis menyadari skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu dengan rendah hati penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca untuk penyempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca, khususnya bagi penulis sendiri.
Medan, Februari 2020
Penulis
Simon Surana Brahmana
UCAPAN TERIMA KASIH
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat, karunia, kesehatan, kesempatan, kekuatan dan kasih sayang sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih atas bantuan tenaga, pikiran, serta bimbingan yang telah diberikan dalam menyelesaikan skripsi ini, kepada yang terhormat:
1. Bapak Dr. Budi Agustono, M.S., selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara dan juga Dosen Penasihat Akademik saya begitu juga para Wakil Dekan serta seluruh staf dan pegawai di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya USU, berkat bantuan dan fasilitas yang penulis peroleh di Fakultas Ilmu Budaya USU maka penulis dapat menyelesaikan studi.
2. Bapak Drs. Edi Sumarno, M.Hum., selaku Ketua Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya USU dan juga kepada Ibu Dra. Nina Karina, M.SP.
selaku Sekretaris Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya USU yang telah banyak memberikan nasihat dan motivasi selama penulis menjalani kuliah.
3. Ibu Dra. Lila Pelita Hati, M.Si. selaku dosen pembimbing penulis yang telah banyak memberi nasihat, arahan, dukungan, dan membimbing penulis hingga penulisan skripsi ini selesai.
4. Bapak/Ibu dosen Fakultas Ilmu Budaya USU khususnya di Program Studi Ilmu Sejarah, terima kasih banyak atas ilmu yang diberikan semoga dapat penulis amalkan dan juga kepada Abang Amperawira selaku Tata Usaha Program Studi Ilmu Sejarah terima kasih atas arahannya.
5. Bapak/Ibu dosen penguji yang memberikan masukan dan arahan sehingga penulisan skripsi ini menjadi lebih baik dari yang saya tulis sebelumnya.
6. Kepada orangtua penulis yaitu Sahprikuten Brahmana dan Nora Br Sinaga yang sangat disayangi, karena tidak pernah kenal lelah untuk mendidik dan menyayangi hingga sampai saat ini yang tidak akan pernah mengharapkan balasan. Semoga orang tua tercinta selalu diberikan kesehatan.
7. Kepada semua pihak yang telah membantu penulis, kepada seluruh informan yang telah meluangkan waktu untuk berbagi informasi dengan penulis yang tidak bisa disebutkan satu-persatu. Terima kasih banyak saya ucapkan kepada bapak dan ibu sekalian.
8. Kepada teman-teman seangkatan 2014 yang sejak awal perkuliahan hingga saat ini tetap menjadi bagian yang sudah sangat banyak membantu penulis.
9. Kepada seluruh Keluarga Besar Himpunan Mahasiswa Ilmu Sejarah (HIMIS) USU.
10. Kepada teman-teman dari game Mobile Legend yang telah memberikan semangat untuk menyelesaikan penulisan skripsi ini.
Dengan rasa suka cita penulis mengucap syukur dan mohon doa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar selalu diberkahi dalam melakukan pekerjaan maupun aktivitas sehari-hari. Sekali lagi penulis ucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
Penulis menyadari skripsi ini tidak luput dari kekurangan maupun kesalahan, karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan skripsi ini dan semoga skripsi ini dapat menjadi referensi dalam penulisan sejarah dan menjadi kenangan yang tak terlupakan.
Medan, Februari 2020 Penulis
Simon Surana Brahmana
ABSTRAK
Skripsi ini berjudul “Pesta Bunga dan Buah Masyarakat Karo di Berastagi”
yang bertujuan untuk menjelaskan bagaimana pesta tersebut, pelaksanaan, perkembangan dan dampaknya bagi masyarakat Karo. Pesta Bunga dan Buah adalah sebuah pesta yang pada awalnya dilaksanakan untuk mengucap syukur kepada Tuhan karena telah memberikan masyarakat Karo tanah yang subur. Masyarakat Karo sebagaimana masyarakat pedesaan Indonesia yang kehidupannya berdasarkan nilai- nilai agraris yang dipengaruhi oleh hal-hal ritual. Selain sebagai ungkapan syukur pesta ini juga untuk mempromosikan hasil-hasil panen masyarakat Karo. Pesta Bunga dan Buah juga juga digunakan sebagai sarana untuk menarik wisatawan agar mau datang dan berkunjung ke Kabupaten Karo untuk melihat hasil panen dari pertanian masyarakat Karo. Selain itu pesta ini juga sebagai sarana untuk mempromosikan tempat-tempat wisata lain yang ada di Kabupaten Karo kepada para wisatawan. Pada tahun 1998 terjadi krisis moneter di Indonesia yang berdampak terhadap pelaksanaan Pesta Bunga dan Buah. Pemerintah tidak memiliki dana untuk melaksanakan pesta ini sehingga pesta ini tidak jadi dilaksanakan. Akan tetapi antusias masyarakat untuk melaksanakan pesta ini masih kuat. Hal ini bisa dilihat pada saat pesta ini dilaksanakan kembali setelah krisis moneter selesai. Pesta ini harus terus dilaksanakan setiap tahunnya untuk dapat menarik wisatawan baik dari dalam maupun luar negri agar mau berkunjung ke Kabupaten Karo untuk melihat Pesta Bunga dan Buah serta tempat-tempat wisata lainnya. Dalam penelitian ini digunakan metode sejarah yaitu Heuristik (dalam pengumpulan data), Verifikasi (kritik), Interpretasi (penafsiran) dan Historiografi (penulisan).
Kata kunci : Pesta Bunga dan Buah, Tradisi, Masyarakat Karo.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... . ... i
UCAPAN TERIMA KASIH... …..ii
ABSTRAK...v
DAFTAR ISI...vi
BAB I PENDAHULUAN...1
1.1 Latar Belakang Masalah...1
1.2 Rumusan Masalah...5
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian...5
1.4 Tinjauan Pustaka...6
1.5 Metode Penelitian...8
BAB II TERLAKSANANYA PESTA BUNGA DAN BUAH DI KECAMATAN BERASTAGI TAHUN 1988 ...11
2.1 Sejarah Pesta Bunga dan Buah di Berastagi...11
2.2 Penyelenggaraan Pesta Bunga dan Buah di Berastagi...12
2.3 Berastagi Sebagai Tempat Pelaksanaan Pesta Bunga dan Buah...14
2.4 Kegiatan Promosi...21
2.5 Kegiatan Pesta Bunga dan Buah...27
BAB III PELAKSANAAN PESTA BUNGA DAN BUAH DI KECAMATAN
BERASTAGI (TAHUN 1988-1998)... 32
3.1 Konsep dan Fungsi Pesta Bunga dan Buah...32
3.1.1 Konsep Pesta Bunga dan Buah...32
3.1.2 Fungsi Pesta Bunga dan Buah...36
3.2 Pelaksanaan Pesta Bunga dan Buah...39
3.2.1 Orang yang Terlibat dalam Pelaksanaan Pesta Bunga dan Buah...40
3.2.2 Perkembangan Pelaksanaan Pesta Bunga dan Buah...43
3.3 Tertundanya Pelaksanaan Pesta Bunga dan Buah Tahun 1998...49
BAB IV DAMPAK PESTA BUNGA DAN BUAH TERHADAP MASYARAKAT KABUPATEN KARO...52
4.1 Dampak Positif...52
4.1.1 Terhadap Kepariwisataan...52
4.1.2 Terhadap Masyarakat...54
4.2 Dampak Negatif...56
4.2.1 Sampah...56
4.2.2 Kriminalitas...57
4.2.3 Kemacetan Lalu Lintas...58
BAB V KESMPULAN DAN SARAN...60
5.1 Kesimpulan...60
5.2 Saran...;...62
DAFTAR PUSTAKA...63
DAFTAR INFORMAN...64
LAMPIRAN...67
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pesta menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah perjamuan makan minum (bersuka ria dan sebagainya); perayaan: panen bagi mereka merupakan suatu pesta.Pesta atau upacara merupakan suatu acara sosial yang dimaksudkan sebagai perayaan dengan perjamuan makan dan minum dengan suasana dan acara yang sangat meriah, bertujuan untuk merayakan atau memperingati suatu hal ataupun hanya sebagai bentuk hiburan semata.1
Suatu pesta tidak selalu berupa acara perayaan dengan sajian makanan dan minuman, namun bisa saja dengan acara perayaan yang melibatkan banyak orang.
Pesta merupakan kesempatan untuk dapat melakukan berbagai interaksi sosial antara satu orang dengan orang lain, atau antara satu kelompok dengan kelompok lain.
Masyarakat Indonesia identik dengan pesta tradisional, salah satunya adalah pesta perayaan yang berkaitan dengan adat istiadat.2 Adat istiadat adalah himpunan dari kaidah-kaidah sosial, yang sejak lama diikuti secara turun-temurun dalam suatu masyarakat suku bangsa, dengan maksud mengatur tata hidup dalam pergaulan bermasyarakat. Pesta tradisional adalah suatu acara tradisional yang diatur menurut tata adat atau hukum yang berlaku pada masyarakat dalam rangka memperingati peristiwa-peristiwa penting dengan ketentuan adat yang bersangkutan. Sedangkan
1https//kbbi.web.id/perayaanpestabungadanbuah, diakses tanggal 20 Juli 2019 pukul 14.30 WIB.
2Ariyono Suyono dalam Kamus Antropologi, penerbit Graha Media, hal 72.
pesta rakyat adalah suatu acara atau acara yang dilaksanakan oleh rakyat dan biasanya pesta tersebut akan dirayakan secara bersama-sama oleh semua masyarakat yang ada di daerah tersebut sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat yang diwujudkan dengan pesta rakyat3
Di Kabupaten Karo, masyarakat setempat mengadakan pesta rakyat sebagai rasa ucapan syukur kepada pencipta dengan mengadakan beberapa kegiatan pesta, seperti merdang merdem, kerja tahun, pesta hari jadi kabupaten Karo, dan pesta budaya mejuah-juah.Selain pesta rakyat tersebut, masyarakat Karo juga menyelenggarakan pesta rakyat dengan event nasional seperti pesta bunga dan buah. 4
Dari berbagai jenis pesta rakyat yang diperingati di Kabupaten Karo, penulis memfokuskan penelitian pada Pesta Bunga dan Buah yang diadakan di Kecamatan Berastagi, Kabupaten Karo karena pesta rakyat ini berbeda dengan pesta rakyat lainnya karena diselenggarakan melalui event nasional.
Dikatakan sebagai event nasional karena Pesta Bunga dan Buah ini merupakan kegiatan yang dilakukan setiap tahun oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Karo untuk menyelenggarakan berbagai pertunjukkan dan perlombaan yang diikuti oleh semua masyarakat dari semua kecamatan di Kabupaten Karo bahkan ditahun 1998 diikuti pula oleh peserta-peserta dari luar kabupaten Karo seperti Kabupaten Langkat, Simalungun, dan lain-lain.
3Baal, dalam Sejarah dan Pertumbuhan Teori Antropologi Budaya, Penerbit Gramedia Jakarta, 2007 hal 71.
4Sempa Sitepu, dkk. Pilar Budaya Karo. Medan: percetakan bali.1996. hal. 30.
Pada awalnya konsep Pesta Bunga dan Buah ini dibuat oleh Bupati Kabupaten Karo yang pertama yaitu Tampak Sebayang sebagai penyampaian rasa terimakasih ataupun rasa syukur yang ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan anugerah berupa tanah yang subur dan hasil panen yang melimpah.
Selain daripada sebagai ucapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, tujuan dan manfaat lain setiap tahunnya yaitu sebagai sarana hiburan, pariwisata, pelestarian budaya Karo dan menjadi sarana untuk dapat mempromosikan hasil-hasil pertanian yang ada di Kabupaten Karo. Hal ini dapat menggiatkan para petani untuk menanam bunga-bunga yang mulai kurang diproduksi oleh para petani di daerah Kabupaten Karo yang tidak menanam lagi beberapa jenis tanaman bunga-bunga yang laku dipasaran. Sedangkan masyarakat Karo sendiri pun senantiasa menggunakan bunga-bunga tersebut misalnya untuk upacara adat pada pesta pernikahan dan pesta kematian serta acara-acara penting lainnya. Oleh sebab itu dengan adanya pesta Bunga dan Buah ini, maka diharapkan petani juga meningkatkan minatnya untuk menanam jenis-jenis bunga yang sering digunakan pada pesta tradisional dan pesta rakyat tersebut.
Pesta Bunga dan Buah ini juga diharapkan dapat menarik wisatawan lokal dan mancanegara untuk datang berkunjung ke Kabupaten Karo. Sehingga dapat dikenal dunia luas dan menambah devisa terhadap Kabupaten Karo. Dan oleh sebab itu Pesta Bunga dan Buah ini menjadi agenda kegiatan yang dirancang pemerintah melalui APBD Kabupaten Karo dengan tujuan akan dapat membantu sektor kepariwisataan di daerah ini. Pemerintah juga menyatakan bahwa Pesta Bunga dan Buah ini sebagai
pesta event nasional karena pesta ini diadakan setiap tahun oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Karo.
Pesta Bunga dan Buah ini disebut juga sebagai sebuah festival artinya sebuah pesta yang besar dan menyelenggarakan berbagai perlombaan. Adapun jenis perlombaan yang akan memeriahkan Pesta Bunga dan Buah yaitu: festival kendaraan hias, festival penataan stand pameran, festival putri bunga, festival sado hias, festival kuliner khas Karo, festival merangkai bunga, buah, dan sayur, dan festival lampion hand made (kreasi). Melalui Pesta Bunga dan Bunga ini pemerintah menjadikannya sebagai salah satu alat untuk meningkatkan pendapatan daerah dengan menarik para wisatawan agar datang berkunjung ke daerah ini serta dapat memperkenalkan adat istiadat, budaya dan lain sebagainya. Pesta Bunga dan Buah yang diselenggarakan di Berastagi sejak tahun 1988 sempat terhenti karena krisis moneter. Alasannya karena keuangan pemerintah saat itu merosot tajam. Hal ini terjadi akibat sebagian dunia internasional dilanda krisis moneter yang juga menimpa Indonesia diawali sejak tahun 1998. Oleh karena itu, Pesta Bunga dan Buah tidak dapat dilaksanakan karena tidak mendapatkan dana dari pemerintah.
Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pesta Bunga dan Buah Masyarakat Karo di Berastagi (1988-1998)“.
Dalam penelitian ini penulis membatasi waktu penelitian dari tahun 1988 – 1998 dikarenakan pada tahun 1988 merupakan tahun pertama diadakannya pesta bunga dan buah di Berastagi oleh Bupati Tampak Sebayang. Pada tahun 1998 merupakan tahun dimana Pesta Bunga dan Buah pernah tidak dilaksanakan karena terjadi krisis
moneter di Indonesia sehingga pemerintah tidak memiliki dana untuk mengadakan pesta Bunga dan Buah yang berdampak kepada pelaksanaan Pesta Bunga dan Buah di Berastagi. Karena pada saat krisis moneter perekonomian di Indonesia mengalami kehancuran yang berdampak kepada pelaksanaan Pesta Bunga dan Buah di Berastagi.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis mencoba untuk merumuskan beberapa permasalahan dalam penelitian ini yakni mendeskripsikan secara kronologis sejarah dan proses pelaksanaan Pesta Bunga dan Buah Pada Masyarakat Karo di Berastagi tahun 1988-1998. Adapun yang menjadi rumusan masalah yang akan dikaji sebagai berikut:
1. Bagaimana latar belakang terlaksananya Pesta Bunga dan Buah di Berastagi pada tahun 1988?
2. Bagaimana pelaksanaan Pesta Bunga dan Buah di Berastagi pada tahun 1988- 1998?
3. Apa dampak Pesta Bunga dan Buah terhadap masyarakat Karo?
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian
Adapun tujuan dan manfaat dari penelitian ini akan dipaparkan oleh penulis yaitu sebagai berikut:
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memaparkan tentang:
1. Menjelaskan latar belakang terlaksananya Pesta Bunga dan Buah di Berastagi pada tahun 1988.
2. Menjelaskan pelaksanaan Pesta Bunga dan Buah di Berastagi pada tahun 1988-1998.
3. Menjelaskan dampak Pesta Bunga dan Buah terhadap masyarakat Karo.
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah untuk:
1. Memberikan informasi, menambah bahan bacaan, serta menambah historiografi mengenai sejarah kebudayaan di Sumatera Utara khususnya.
2. Aspek praktis dari penelitian ini bagi masyarakat umum terkhusus masyarakat Berastagi, penelitian ini dapat memberikan informasi mengenai pengaruh pesta bunga dan buah bagi masyarakat luas ataupun masyarakat di Kecamatan Berastagi itu sendiri.
3. Aspek akademis dari penelitian ini adalah dapat dijadikan sebagai bahan acuan serta referensi bagi penelitian lanjutan untuk peneliti, mahasiswa, instansi/lembaga, serta pembaca pada umumnya.
1.4 Tinjauan Pustaka
Sebuah penelitian ilmiah tidak terlepas dari tinjauan pustaka yang berguna sebagai informasi dan menentukan sumber-sumber yang relevan dengan objek penelitian. Sumber- sumber ini bisa berupa karya ilmiah, buku-buku, ataupun dokumen-dokumen yang berkaitan dengan judul penelitian.
James J. Spillane dalam Ekonomi Pariwisata Sejarah dan Prospeknya (1991), yang menyatakan tujuan dari pengembangan pariwisata adalah untuk memperkenalkan kebudayaan, keindahan alam, dan kepribadian Indonesia kepada masyarakat wisatawan mancanegara sekaligus membantu meningkatkan pendapatan
masyarakat. Pariwisata dipromosikan sebagai bagian penting dari strategi ekonomi dan pembangunan jangka panjang dimana penerimaan devisa dari pariwisata penting untuk membayar biaya impor. Buku ini digunakan penulis sebagai acuan untuk mengetahui apa saja yang menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke Kabupaten Karo serta memperkenalkan kebudayaan, adat istiadat maupun tradisi masyarakat Indonesia kepada wisatawan lokal dan mancanegara yang hanya ditemukan di daerah Kabupaten Karo.
Nurlisa Ginting, dalam Pariwisata Berbasis Masyarakat Pasar Buah Berastagi (2016) menjelaskan bahwa pariwisata di Pasar buah mampu membuka peluang usaha bagi masyarakat di Kota Berastagi. Peluang usaha yang muncul dari adanya aktivitas pariwisata di Pasar buah seperti usaha makanan, usaha produksi dan penjualan oleh-oleh serta penyediaan jasa atraksi wisata. Buku ini dapat digunakan penulis sebagai acuan untuk mengetahui seberapa besar potensi Buah hasil pertanian menjadi sumber mata pencaharian masyarakat di Kecamatan Berastagi.
Edy Rianto, dalam Potensi dan Strategi Pengembangan Pariwisata di Kota Berastagi Kabupaten Karo (2019), menjelaskan bahwa Kabupaten Karo sangat Kaya akan potensi pariwisata yang tersebar di berbagai wilayah atau kecamatan yang terbagi dalam beberapa sektor diantaranya wisata bahari, religi atau budaya, ekowisata dan event wisata. Buku ini dapat membantu penulis untuk mengetahui potensi pariwisata di Kota Berastagi Kabupaten Karo dimana memiliki daya tarik tersendiri sehingga ramai dikunjungi wisatawan baik domestik maupun mancanegara.
1.5 Metode Penelitian
Tujuan dari penulisan ini adalah untuk merekonstruksi sejarah dan menghasilkan sebuah karya sejarah yang bernilai ilmiah, sehingga tahapan demi tahapan harus dilalui untuk mencapai suatu hasil yang maksimal.5 Untuk itu dalam merekonsturksi masa lampau pada objek yang ditulis tersebut dipakai metode sejarah dengan mempergunakan sumber sejarah sebagai bahan penelitian. Metode sejarah adalah proses menguji dan menganalisa secara kritis rekaman dan peninggalan pada masa lampau. Metode penelitian sejarah juga merupakan proses kerja yang melibatkan tahap-tahap, mulai dari yang teoritis sampai pada pelaksanaan teknis yang dilakukan pada masa penelitian. Tahap-tahap yang telah dilakukan berkaitan dengan metode sejarah adalah:
Langkah pertama yang dilakukan adalah heuristik, yaitu mencari dan mengumpulkan sumber-sumber yang relevan dan menjadi bahan penelitian. Sumber- sumber penelitian dapat berupa tulisan maupun lisan yang diperoleh dilapangan/tempat berlangsungnya penelitian. Sumber yang berbentuk tulisan biasanya berupa dokumen, buku, dan sebagainya yang tersaji dalam tulisan.
Sedangkan sumber lisan dapat diperoleh melalui proses wawancara dengan narasumber yang mengetahui tentang permasalahan yang diteliti oleh penulis.
Wawancara sangat penting dilakukan apalagi bila sumber tertulis sangat minim dilapangan. Penulis melakukan wawancara kepada masyarakat yang bekerja sebagai petani di Kabupaten Karo, pengunjung yang datang ke Pesta Bunga dan Buah, panitia
5Louis Gottschalk, Mengerti Sejarah, diterjemahkan oleh Nugroho Notosutanto, Jakarta: UI Press. 1985 hal. 32.
pelaksanaan Pesta Bunga dan Buah, Dinas Pariwisata dan Pemerintah Daerah Kabupaten Karo yang mengadakan kegiatan Pesta Bunga dan Buah tersebut. Penulis juga melakukan observasi berupa pengamatan dilapangan atau objek penelitian di Berastagi di Kabupaten Karo yang merupakan tempat dilaksanakannya Pesta Bunga dan Buah.
Langkah kedua yang dilakukan adalah kritik sumber. Kritik sumber merupakan kegiatan yang mempertanyakan, menilai bahan-bahan yang sudah terkumpul dapat dipercaya, dari segi materi maupun isi dan memang dapat dipercaya kebenarannya.6 Kritik sumber dapat dilakukan dengan dua cara yaitu:
1. Kritik ekstern dilakukan untuk mengetahui apakah sumber benar-benar asli atau palsu dengan meneliti jenis kertas, tinta, bentuk huruf, bahasa, dan susunan kata, memperhatikan tanggal dan sebagainya. Kritik ekstern merupakan kritik yang dilakukan terhadap tampilan luar sumber.
2. Kritik intern dilakukan setelah kritik ekstern, dimana penulis mempertanyakan kebenaran isi dari sumber, apakah dapat diterima sebagai kenyataan. Membandingkan kesaksian narasumber dengan sumber-sumber tertulis. Sebaliknya mencermati narasumber, apakah masih layak didengan kesaksiannya. Melalui kritik sumber akan mendapati fakta sejarah.
Langkah ketiga adalah interpretasi. Disini, penulis menafsirkan dengan menguraikan (menganalisa) fakta-fakta yang telah diperoleh dari tahap sebelumnya dengan tujuan untuk memperoleh fakta yang memiliki arti. Penulis dapat memahami
6Kuntowijoyo. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya. 1995. Hlm 100.
situasi pada masa penelitian dengan berdasarkan pada fakta-fakta yang telah disimpulkan. Pada tahap ini penulis dihadapkan pada pemahaman terhadap sumber yang telah ada sekaligus merangkainya dalam uraian yang kronologis.
Langkah keempat adalah historiografi, yakni penyusunan kesaksian atau sumber-sumber yang dapat dipercaya menjadi suatu kisah atau kajian yang menarik dan berarti secara kronologis dan rasional. Di mana setelah penelitian lalu dituliskan kedalam skripsi, dan menghasilkan sebuah tulisan dengan judul Pesta Bunga dan Buah Masyarakat Karo di Berastagi (1988-1998).
BAB II
TERLAKSANANYA PESTA BUNGA DAN BUAH DI KECAMATAN BERASTAGI TAHUN 1988
2.1 Sejarah Pesta Bunga dan Buah di Berastagi
Pesta Bunga dan Buah Kabupaten Karo merupakan kegiatan pesta rakyat yang dilaksanakan sekali setahun. Awalnya perayaan pesta Bunga dan Buah ini dilakukan karena masyarakat Karo mensyukuri karunia Tuhan berupa lahan yang subur dengan hasil pertaniannya yang melimpah. Perayaan ini telah membudaya dan sudah terlaksana setiap tahunnya. Kabupaten Karo dikenal sebagai Bumi Turang7 yang dihuni masyarakat Karo yang berbudaya pertanian (agriculture) memiliki alam pegunungan yang subur penghasil bunga, buah dan sayur yang memenuhi kebutuhan produk pertanian Sumatera Utara.
Masyarakat Karo menyebut Pesta Bunga dan Buah di kecamatan Berastagi sebagai “Pesta Thanks Giving” yaitu penyampaian terima kasih ataupun rasa syukur yang ditujukan kepada oknum yang dipercayai mempunyai kekuatan memberikan hasil panen melimpah. Dengan demikian, kegiatan Pesta Bunga dan Buah yang diselenggarakan sejak tahun 1988 ini dulunya merupakan bagian dari ritual kepercayaan disertai kegiatan sukacita dalam bentuk menyiapkan makanan enak, berhias diri dan menyelenggarakan pentas seni tradisi. Sesudah masyarakat Karo memeluk salah satu agama yang ada sekarang ini, pelaksanaan Pesta Bunga dan Buah mengalami beberapa perubahan pada acara ritual kepercayaan (meniadakan bagian
7Bumi Turang adalah bumi Karo, bumi berbudaya, bumi yang dihuni masyarakat Karo yang berbudaya penghasil bunga, buah, sayur.
acara penyembahan roh-roh leluhur) menggantinya dengan ibadah rasa syukur ditunjukkan kepada Tuhannya, sedangkan pentas seni tradisi diperkaya dengan alat musik elektronik (keyboard).
Pada Pesta Bunga dan Buah yang dilakukan masyarakat Karo apapun agamanya akan menyiapkan makanan enak khas daerah, misalnya gulai daging, lemang ketan, cimpa, tape, buah-buahan, dll untuk dinikmati bersama seluruh anggota keluarga dan tamu undangan, memakai pakaian yang paling indah, menghiasai rumah dan lingkungannya dengan bunga-bungaan serta lambai-lambai (daun aren muda) dan secara bersama-sama menyelanggarakan pertunjukkan guro- guro aron.
2.2 Penyelenggaraan Pesta Bunga dan Buah di Berastagi
Pemerintah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karo berusaha untuk meningkatkan kunjungan wisatawan. Untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karo gencar melaksanakan berbagai kegiatan atau event di dalam dan luar daerah. Salah satunya adalah Pesta Bunga dan Buah. Penyelenggaraan Pesta Bunga dan Buah di Kecamatan Berastagi pertama kali diusulkan oleh Bupati Tampak Sebayang. Kegiatan atau event tersebut ada yang dilakukan oleh pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karo, maupun bekerja sama dengan pihak luar, event organizer, maupun masyarakat.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karo mempunyai peranan penting dalam penyelenggaraan pesta Bunga dan Buah di Kecamatan Berastagi.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karo tersebut mempunyai tugas pokok
yaitu membantu Bupati dalam melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan di bidang pembangunan pariwisata dan kebudayaan. Adapun tugas pokok Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karo adalah:
1. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata adalah merupakan unsur pelaksana otonomi daerah.
2. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata mempunyai tugas melaksanakan urusan pemerintah daerah di bidang kebudayaan dan kepariwisataan berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan.
3. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dalam melaksanakan tugas menyelanggarakan fungsi:
a. Perumusan kebijaksanaan teknis sesuai dengan lingkup tugasnya dalam rangka perencanaan, pembinaan dan pengembangan bidang kebudayaan, seni dan pariwisata.
b. Penyelanggaraan urusan pemerintahan di bidang pengelolaan kebudayaan seni dan kepariwisataan serta pelayanan umum sesuai dengan lingkup tugasnya.
c. Pembinaan dan pelaksanaan tugas dibidang pengelolaan kebudayaan seni dan kepariwisataan dengan lingkup tugasnya.
d. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati sesuai dengan bidang tugas dan fungsinya.
4. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dipimpin oleh seorang Kepala Dinas
5. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata berkedudukan dibawah dan bertanggung jawab kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah.
2.3 Berastagi Sebagai Tempat Pelaksanaan Pesta Bunga dan Buah
Berastagi adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Karo, Sumatera Utara.
Berastagi merupakan kota terbesar kedua di dataran tinggi karo setelah kota Kabanjahe. Berastagi berjarak sekitar 66 kilometer dari Kota Medan. Berastagi diapit oleh 2 gunung berapi yaitu Gunung Sibayak dan Gunung Sinabung. Berastagi berada diketinggian lebih dari 1300 mdpl, dengan temperatur 19o–26oC, sehingga menjadikan kota ini menjadi salah satu kota terdingin yang ada di Indonesia. Luas wilayah kecamatan Berastagi sebesar 3050 Ha, dengan jumlah penduduk sebanyak 48.043 jiwa. Secara administratif Kecamatan Berastagi terdiri dari 5 desa swasembada yakni Desa Doulu, Desa Sempa Jaya, Desa Rumah Berastagi, Desa Guru Singa dan Desa Raya serta 4 daerah kelurahan yakni Kelurahan Gundaling I, Kelurahan Gundaling II, Kelurahan Tambak Lau Mulgap I dan Kelurahan Tambak Lau Mulgap II. Serta mempunyai batas-batas wilayah sebagai berikut:
1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang.
2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Kabanjahe.
3. Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Simpang Empat.
4. Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Tiga Panah.8
8https://id.wikipedia.org/wiki/Berastagi,_Karo, diakses tanggal 12 September 2019 pukul 12.30 WIB.
Topografi Kecamatan Berastagi datar sampai dengan berombak adalah 65%, berombak sampai dengan berbukit 22%, berbukit sampai dengan bergunung 13%
dengan tingkat kesuburan tanahnya sedang sampai dengan tinggi, didukunga lagi dengan curah hujan rata-rata 2.100 sampai dengan 3.200 mm pertahun.. Dihitung berdasarkan jumlah Kepala Keluarga (KK), Kecamatan Berastagi terdiri 10.887 kepala keluarga. Mayoritas penduduknya adalah suku Karo sebanyak 75% dan selebihnya adalah suku Batak Toba, Nias, Jawa, Aceh, Simalungun, Keturunan Cina, Pakp ak, Dairi dan lain-lain9. Kondisi geografis Kabupaten Karo juga berpotensi untuk wisata alam, misalnya kawasan hutan sebagai objek bagi ekowisata. Kabupaten karo yang sudah lama dikenal sebagai sentra produksi komoditi sayur-sayuran, buah- buahan dan tanaman bunga juga akan dikelola dan dikembangkan menjadi objek wisata agrowisata. Dalam pengembangan kawasan pariwisata berupa kawasan cagar budaya ini, direncanakan di Kecamatan Berastagi (Desa Peceren/ Sempajaya), Pasar Buah Berastagi, Pasar Bunga Berastagi, Pasar Tradisional Berastagi di Kecamatan Berastagi. Melalui potensi yang dimiliki oleh kecamatan Berastagi, maka panitia penyelenggara memilih KecamatanBerastagi sebagai tempat pelaksanaan pesta bunga dan buah dibandingkan dengan kecamatan-kecamatan lainnya yang ada di Kabupaten Karo.
9https://id.wikipedia.org/wiki/Berastagi,_Karo, diakses tanggal 12 September 2019 pukul 12.45 WIB.
Gambar 1: Peta Kecamatan di Kabupaten Karo Mata Pencaharian
Perekonomian di kecamatan Berastagi Kabupaten Karo terus mengalami pertumbuhan sebesar 4,55 persen setiap tahunnya. Tiga lapangan usaha yang memberi peran dominan dalam mata pencaharian masyarakat yaitu pertanian, kehutanan dan perikanan. Adapun lapangan usaha masyarakat kecamatan Berastagi adalah sebagai berikut:
Tabel Lapangan Usaha Masyarakat Kecamatan Berastagi
No Lapangan Usaha Persen
(%)
1 Pertanian, Kehutanan dan Perikanan 54,14
2 Pertambangan dan Penggalian 0,22
3 Industri Pengolahan 3,63
4 Pengadaan air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur ulang 0,08
5 Konstruksi 7,37
6 Perdagangan Besar dan Eceran 10,90
7 Reparasi mobil dan Sepeda motor 3,8
8 Transportasi dan Pergudangan 4,52
9 Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 2,54
10 Informasi dan Komunikasi 0,74
11 Jasa Keuangan dan Asuransi 1,29
12 Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial 5,81
13 Jasa Pendidikan 2,32
14 Jasa Kesehatan 1,28
15 Jasa lainnya 1,36
Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Karo tahun 1998
Religi
Agama merupakan suatu pedoman bagi kehidupan umat manusia dalam menjalani hari-harinya, dengan beragama manusia menjadi memiliki tujuan hidup dan dengan beragama pula kehidupan manusia menjadi lebih nyaman dan terarahserta teratur. Agama menjadikan kita mengetahui segala hal yang baik maupun segala hal yang buruk bagi kehidupan manusia. Kehidupan kita menjadi lebih baiksebab banyak tuntunan yang kita dapatkan dan banyak larangan yang menjadikan kita mengetahui apa yang harus di kerjakan dan apa yang tidak boleh di kerjakan dalam kehidupan sehari-hari.
Kota Berastagi masyarakatnya mayoritas beragama Kristen, berbeda dengan daerah lain di Indonesia yang umumnya mayoritas beragama Islam.
Namun perbandingan jumlah antara masyarakat yang beragama Kristen dengan masyarakat yang beragama Islam tidak terlalu jauh. Berikut data jumlah setiap penganut agama di Kecamatan Berastagi:
Tabel Jumlah Penganut Agama di Kecamatan Berastagi (1998)
Agama Jumlah
Islam 20.192
Kristen Protestan 21.429
Katolik 5.640
Hindu 8
Budha 774
Lainnya -
Total 48.043
Sumber: Badan Pusat Statistik Kab Karo tahun 1998
Pada saat merayakan satu kegiatan keagamaan tidak jarang masyarakat Berastagi ikut berpartisipasi dalam membantu, baik itu berupa dana maupun tenaga.
Contohnya, ketika Idul Adha ada masyarakat non Islam yang ikut memberikan hewan Kurban. Berdasarkan pernyataan di atas, narasumber bernama David Chen mengatakan:
“Di Kecamatan Berastagi apabila saat satu agama merayakan hari besar maka umat dari agama lain turut mengucapkan selamat kepada masyarakat yang sedang merayakannya. Saya sebagai pemeluk agama Budha sering mengucapkan langsung kepada orang yang sedang merayakan hari besar
agamanya. Bahkan pada saat perayaan hari Natal saya sering ikut merayakan Natal ke Gereja dan pada saat hari Raya Idul Adha saya beberapa kali juga memberikan hewan kurban ke Masjid terdekat. Tidak jarang tetangga datang bertamu kerumah saya pada saat agama saya merayakan hari besar, begitu pun sebaliknya saya sering berkunjung kerumah teman ataupun yang sedang merayakan hari besarnya seperti Idul Fitri dan Tahun baru.”10
Orang Karo merupakan penduduk asli yang tinggal di Kota Berastagi. Sebagai etnis yang mayoritas di Berastagi, orang Karo tidak terlalu mempermasalahkan perbedaan agama. Orang Karo di Berastagi adalah mayoritas Kristen Protestan, namun perbandingan dengan yang beragama Islam juga tidak terlalu jauh. Orang Karo umumnya tidak terlalu mempermasalahkan agama, selama orang Karo tersebut di hargai dan di hormati maka orang Karo juga akan melakukan hal yang sama dan hal tersebut berlaku kepada pendatang baik dari suku apapun itu. Bagi masyarakat Karo semua agama mengajarkan kebaikan, sehingga menurutnya beragama itu adalah pilihan dan tidak paksaan. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya keluarga Karo yang di dalam keluarganya itu berbeda keyakinan, misalnya bapa dan ibunya Kristen namun anaknya ada yang Islam, Katolik, bahkan Budha dan semuanya itu tetap akur satu dengan yang lainnya.
Dikarenakan kondisi ini, para pendatang akan menghargai kondisi ini dan menjaga hubungannya tetap baik dengan masyarakat Karo baik yang beragama Kristen maupun Islam. Pernyataan di atas didukung lagi dengan pernyataan dari bapak Robert Bangun yang mengatakan:
“Etnis Karo itu adalah salah satu etnis yang sangat menjunjung tinggi adat istiadatnya, dan etnis Karo tersebut tidak pernah mempermasalahkan perbedaan agama. Adat istiadat tersebut masih melekat di setiap kehidupan masyarakat Karo dalam kesehariannya, dan dalam kehidupannya adat istiadat
10Wawancara, David Chen, Berastagi, tanggal 20 September 2019 pukul 14.10 WIB.
tersebut sangat berpengaruh di dalam kehidupan orang Karo. Bagi orang Karo semua agama membawa kebaikan dan tidak ada yang mengajarkan kejahatan.
Jadi, bagi orang Karo semua agama itu sama saja dan merupakan hak setiap orang untuk bebas memeluk suatu agama. Salah satu contoh nyata orang Karo tidak terlalu mempermasalahkan agama adalah di dalam satu keluarga Karo itu dapat memiliki kepercayaan yang berbeda. Contohnya keluarga saya, ada yang beragama Budha ikut istrinya, ada yang beragama islam, dan ada juga yang beragama Kristen. Walaupun kami berbeda agama, tetapi kami tidak pernah sekalipun berkonflik yang datangnya dari perbedaan agama. Kami bisa saling menghargai dan hidup berdampingan di tengah perbedaan tersebut.
Pada saat hari besar agama tertentu, kami dapat merayakannya secara bersama-sama dan menghadiri rumah keluarga kami serta hal ini menjadi satu wadah untuk kami dapat berkumpul sebagai satu keluarga. Hal ini tidak hanya terjadi pada keluarga saya, melainkan kita dapat melihat hal yang sama pada keluarga-keluarga Karo yang lain di Berastagi.”11
Begitu juga dalam perayaan pesta bunga dan buah soal pebedaan agama tidak menjadi halangan untuk terselenggaranya acara tesebut bahkan mempererat hubungan antar agama karena pesta bunga dan buah tersebut tidak menyalahi aturan agama.
Berastagi merupakan tujuan utama wisata di Kabupaten Karo. Berastagi terletak di Kecamatan Berastagi, Kabupaten Karo, yang juga terkenal dengan nama Tanah Karo dan beribukotakan Kabanjahe. Sejak zaman Belanda, Kabupaten Karo sudah terkenal sebagai tempat peristirahatan. Setelah kemerdekaan Republik Indonesia kemudian dikembangkan menjadi daerah tujuan wisata di Provinsi Sumatera Utara. Objek-objek pariwisata di Kabupaten Karo adalah panorama yang indah di daerah pegunungan, air terjun, air panas, dan kebudayaannya yang unik.
Daerah Berastagi sangat lekat dengan budaya Karo. Warisan budaya di Tanah Karo dapat kita lihat dari mulai potensi alam lingkungan, adat istiadat, upacara ritual, sakral dan sekuler, peninggalan sejarah, sistem pengetahuan tradisional, senjata tradisional, tempat-tempat bersejarah, serta seni dan budaya yang semuanya itu
11Wawancara, Robert Bangun, Berastagi, tanggal 21 September 2019 pukul 13.20 WIB.
merupakan sumber daya dan modal yang besar bagi usaha pengembangan, peningkatan, dan pemanfaatan secara optimal untuk berbagai kepentingan, salah satunya adalah kepariwisataan. Pemanfaatan warisan budaya sebagai modal harus dilaksanakan secara optimal melalui penyelenggaraan kepariwisataan yang baik, cerdas dan tepat, yang secara umum bertujuan untuk meningkatkan ekonomi atau pendapatan masyarakat Karo khususnya. Tanah Karo juga terkenal dengan potensi alam lingkungan melalui komoditas sayurmayur, buah-buahan, serta bunga-bunga indah yang dihasilkan dari ladang penduduk lokal Tanah Karo.
Karena potensi alam yang cukup besar maka setiap tahunnya Kota Berastagi dipilih sebagai tempat perayaan Pesta Bunga dan Buah. Selain itu Kota Berastagi juga memiliki letak yang strategis dan kota yang sudah lama dikenal masyarakat lokal maupun mancanegara.
2.4 Kegiatan Promosi
Promosi yang merupakan kreativitas mengkomunikasikan keunggulan produk/ jasa serta membujuk sasaran. Menurut Kotler dan Amstrong (2007:74), kepariwisataan yang merupakan keseluruhan jaringan dan gejala-gejala yang berkaitan dengan tinggalnya orang-orang asing disuatu tempat dengan syarat bahwa mereka tidak tinggal untuk melakukan suatu pekerjaan yang penting yang memberikan keuntungan yang bersifat permanen maupun sementara. Promosi yang baik akan menarik wisatawan untuk berkunjung, sebaliknya promosi yang kurang akan berdampak pada menurunnya wisatawan yang datang berkunjung. Sasaran promosi kepariwisataan meliputi dua hal yaitu:
1. Publik Intern
Publik intern adalah semua orang yang bekerja pada organisasi atau kelompok tertentu, beberapa diantaranya adalah pegawai dari tingkatan atas sampai terendah, penyelenggara kegiatan, pemegang saham atau serikat kerja.
Misalnya pemerintah, staff dan pegawai yang bekerja di pemerintahan Kabupaten Karo, Dinas Pariwisata Kabupaten Karo dan lain-lain
2. Publik Ekstern
Publik ekstern adalah orang-orang diluar organisasi yang ada kaitannya dengan kegiatan yang diadakan, termasuk lingkungan disekitar kegiatan.
Misalnya masyarakat Karo atau wisatawan dalam negri maupun luar negri.
Untuk mencapai sasaran kepariwisataan berbagai kegiatan media promosi dilakukan antara lain sebagai berikut:
1. Periklanan
Merupakan bentuk presentasi dan promosi non pribadi tentang ide atau objek yang akan dibayarkan oleh sponsor tertentu. Peranan periklanan dalam pemasaran objek wisata adalah untuk membangun kesadaran terhadap keberadaan objek wisata/ kegiatan yang ditawarkan, membujuk konsumen untuk menggunakan jasa/ mengikuti kegiatan kepariwisataan.
Pada metode periklanan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karo melakukan beberapa kegiatan yang tujuannya untuk mengiklankan atau mengenalkan produk wisata kepada Wisatawan. Periklanan ini pertama kali dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Karo pada tahun 1994. Adapun bentuk
iklan yang dibuat oleh Dinas Pariwisata dan Kabupaten Karo untuk mempromosikan daerah pariwisata Kabupaten Karo adalah membuat brosur dan kepingan CD. untuk brosur memberikan informasi kepada calon wisatawan yang akan berkunjung mengenai daerah wisata yang ada di Kabupaten Karo. Ini bisa berupa informasi akses, kondisi alam dan fasilitas yang terdapat didaerah tersebut. Metode periklanan ini rutin dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karo, artinya mereka sepakat bahwa aspek periklanan dengan mencetak brosur cukup efektif dilakukan.
Selanjutnya adalah pembuatan CD profil tempat wisata di Kabupaten Karo.
Program ini hanya berjalan sekali dan tidak dilanjutkan dikarenakan menyedot biaya yang cukup besar dalam proses pembuatannya.
Program dalam bentuk periklanan yang dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata hanya mencakup dua program tersebut, yakni brosur dan CD. namun kegiatan priklanan yang lain biasanya disandingkan oleh kegiatan-kegiatan lain yang dilakukan di daerah Kabupaten Karo Seperti Pesta Budaya Karo dan Festival Danau Toba. Namun ini bukanlah kegiatan periklanan yang direncanakan, melainkan kegiatan periklanan yang bertujuan untuk memberi informasi tentang kegiatan yang berlangsung atau lebih tepatnya bagian dari publikasi dari kegiatan tersebut.
2. Personal Selling
Dalam metode ini pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karo melakukan presentasi dengan calon pembeli saat melakukan promosi penjualan di stan/booth milik Dinas Kebudayaan dan Pariwisata agar barang ataupun souvenir khas Kabupaten Karo yang ada di booth tersebut terjual.
Selain itu promosi yang dilakukan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karo adalah hubungan public (public relation) dan penjualan langsung (direct selling). Hubungan publik Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karo dalam setiap aktivitas promosinya pasti menyertakan metode ini. Metode hubungan publik dalam promosi pariwisata Kabupaten karo dilakukan pada setiap kegiatan yang bertemakan promosi. Hal ini terlihat hampir semua program promosi yang dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karo pasti menyertakan masyarakat sebagai elemen penting kegiatannya.
Hal ini dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten karo untuk menjaga hubungan baik kepada masyarakat, baik itu masyarakat sebagai pelaku usaha Pariwisata maupun masyarakat sebagai pelaku wisata atau wisatawan. Contoh kegiatan yang menyertakan masyarakat sebagai elemennya adalah Pesta Budaya Karo dan Festival Danau Toba. Hal ini dikarenakan tugas dan kewajiban Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karo untuk membina hubungan ke setiap stakeholder masyarakat.
Sehingga setiap program promosi yang dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan
Pariwisata Kabupaten Karo menyertakan masyarakat. Seperti Pesta Budaya Karo yang memberikan kesempatan kepada pelaku usaha
3. Promosi Penjualan
metode promosi penjualan, yaitu metode yang memberikan perhatian khusus kepada barang dan jawa yang hendak ditawarkan. Hal ini dilakukan untuk menarik minat wisatawan, baik lokal maupun internasional untuk mengubah keputusannya untuk membeli suatu produk wisata. Dalam aktivitas promosi pemasaran yang dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karo memuat konten promosi penjualan. Hal ini terlihat di ajang Pekan Raya Sumatera Utara. Pada kegiatan tersebut promosi yang dilakukan adalah dengan menampilkan miniatur Pariwisata dan Kebudayaan Karo yang akan menarik perhatian calon wisatawan yang berkunjung. Miniatur tersebut berupa rumah adat, senjata tradisional dan pakaian tradisional. Miniatur ini dibuat sedemikian rupa agar pembeli ataupun wisatawan tertarik untuk melakukan perjalanan wisata ke Kabupaten Karo. Juga pada kegiatan Festival Bunga Tomohon, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karo juga mambawa sampel bunga yang dipamerkan pada acara tersebut sehingga diharapkan dapat menarik perhatian wisatawan
4. Informasi dari mulut kemulut (word of mouth)
Dalam hal ini peranan oranglah yang sangat penting dalam mempromosikan objek wisata. Calon wisatawan akan berbicara kepada calon wisatawan lainnya yang berpotensial tentang pengalamannya dalam mengunjungi objek wisata tersebut, sehingga informasi dari mulut kemulut ini sangat besar pengaruhnya terhadap promosi kepariwisataan dibandingkan dengan aktivitas komunikasi lainnya.Media promosi informasi mulut ke mulut (word of mouth) yang dapat dianisis dalam promosi yang dilakukan pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karo adalah peran pihak yang bertugas di divisi public relation dalam mempromosikan acara-acara akan digelar, agar berlangsung meriah dan dapat menarik minat wisatawan.
5. Pemasaran langsung
Kegiatan ini terdiri dari periklanan, personal selling, promosi penjualan dan publikasi yang semuanya direncanakan untuk mencapai tujuan promosi kepariwisataan.Metode penjualan langsung (direct selling) yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Karo dalam hal ini adalah dengan mengikuti program event yang diselenggarakan diluar. Adapun tujuan mengikuti event tersebut adalah berusaha menjual secara langsung produk barang dan jasa Pariwisata di Kabupaten Karo kepada pihak yang bersangkutan dengan skala yang lebih besar. Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karo adalah seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, melakukan kegiatan/event di dalam
dan luar daerah seperti Pekan Raya Sumatera Utara. Festival Bunga dan Buah, Pesta Mejuah-Juah, Festival Bunga Tomohon, dsb
2.5 Kegiatan Pesta Bunga dan Buah
Pesta Bunga dan Buah merupakan kegiatan yang dirancang Pemerintah melalui APBD Pemerintah Kabupaten Karo, yang dilaksanakan oleh Panitia yang diangkat melalui Keputusan Bupati Karo dengan melibatkan tenaga ahli mewakili seluruh komponen yang berkaitan. Pesta Bunga dan Buah dirancang sebagai gabungan Pesta Kerja Tahun masing-masing kecamatan untuk merayakan rasa syukur masyarakat atas hasil bumi yang melimpah menjadi satu event Pariwisata berskala Nasional, dengan penekanan pada sisi pemanfaatan Bunga, Buah dan Sayur sebagai daya tarik wisata. Pesta Bunga dan Buah memadukan peran serta Kecamatan se Kabupaten Karo dalam pawai kontingen dan karnaval kendaraan hias.
Pada pesta bunga dan buah masyarakat Karo juga menampilkan berbagai atraksi Wisata, Pentas Hiburan, Pameran Produk Unggulan juga tak ketinggalan tari, musik dan seni rupa dengan ciri khasnya masing-masing. Masyarakat Karo menjadikan kesenian sebagai upaya dalam mewujudkan keinginan, penghormatan pada yang diyakininya termasuk didalamnya adalah seni tari. Tari yang menjadi khas budaya Karo adalah landek. Darwin Tarigan menyatakan:
“Dalam budaya Karo penyajian landek erat hubungannya dengan kontekstual kegiatan yang dilaksanakan. Tarian landek terbagi menjadi tiga konteks yaitu penyajian dalam kepercayaan, penyajian dalam hiburan dan penyajian dalam adat. Dalam perayaan pesta bunga dan buah yang ditampilkan adalah tarian landek untuk hiburan. Selain tari landek, pertunjukan tari yang ditampilkan adalah guro-guro aron dan tari perkolong-kolong, dimana pertunjukan seni tari dan musiknya dilaksanakan oleh muda mudi. Tari perkolong-kolong asal mulanya terjadi ialah orang yang pandai menari dan menyanyi sehingga setiap
pelaksanaan pesta gendang, maka orang ini diminta selalu untuk menari.
Selain itu ditampilkan juga tari pencak silat dimana tarian ini memiliki pola gerakan seluruh tubuh, kepala, tangan, kaki, mata dan sebagainya harus seirama dengan irama musik.”12
Kawasan wisata Berastagi direncanakan menjadi kawasan wisata budaya Karo yang terdiri dari jambur, museum, open stage, taman festival, hingga sarana pendukung lainnya. Jambur dibuat untuk komersil yang dapat disewa masyarakat secara umum. Jambur selain berfungsi sebagai tempat pesta dan pertemuan, jambur ini juga difungsikan sebagai jambur wisata, yang mana para wisatawan dapat menyaksikan secara langsung acara atau tradisi yang dibuat oleh orang Karo. Selain jambur, terdapat galeri yang memuat tentang sejarah budaya Karo hingga setting-an tempat yang menyerupai Tanah Karo yang menjadi wisata bagi para wisatawan.
Adapun ragam kegiatan pada perayaan pesta Bunga dan Buah di Kecamatan Berastagi antara lain:
1. Pawai
Kegiatan pawai dalam rangka pesta Bunga dan Buah mengawali acara pembukaan. Kegiatan pawai pertama kali diadakan untuk memeriahkan acara Pesta Bunga dan Buah pada tahun 1994. Pawai ini diikuti oleh Kontingen Kecamatan, Pelajar, Instansi Pemerintah, Mitra Kerja dan Kelompok masyarakat yang diundang panitia. Dalam pawai tersebut, masing-masing Kontingen kecamatan menunjukkan semarak budaya Karo dengan pakaian, atraksi dan produk-produk unggulan yang menjadi ciri khas daerahnya.
12Wawancara, Darwin Tarigan, Berastagi, tanggal 27 September 2019 pukul 12.30 WIB.
Kontingen sekolah menunjukkan ciri khas pakaian Generasi Muda Karo/
Pakaian Penari Karo atau pakaian sekolah beratribut budaya.
2. Pembukaan
Acara pembukaan perayaan pesta Bunga dan Buah dilakukan di Kecamatan Berastagi dan dilaksanakan diatas pentas utama yang dibuka oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karo dan disambut oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara maupun Menteri Pariwisata RI.
3. Perlombaan
Beberapa perlombaan juga turut diikutsertakan dalam perayaan pesta Bunga dan Buah di Kecamatan Berastagi, yang terdiri dari:
1. Lomba merangkai bunga (bunga pilar)
2. Lomba merangkai bunga dipandu dengan buah dan atau sayuran 3. Lomba karnaval kendaraan hias
4. Lomba pawai kontingen
5. Lomba penataan hiasan stan pameran
6. Lomba paduan suara “Ingan Bunga Ertangke” ciptaan Junaedi Sinuhaji 7. Lomba lari marathon mini
Lomba lari marathon mini merupakan kegiatan yang di ikuti oleh para pelajar tingkat SMP sederajat, SMA sederajat dan umum se Kabupaten Karo, sebagai usaha pemerintah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karo untuk meningkatkan kepariwisataan di Kabupaten Karo.
Lomba lari marathon mini pertama kali diadakan untuk memeriahkan
acara Pesta Bunga dan Buah pada tahun 1996. Titik start nya dimulai dari Taman Hutan Raya (TAHURA) Bukit Barisan via Hutan Raya dan berakhir/ finish di Taman Mejuah-juah Berastagi. Para peserta memperebutkan piala bergilir dan uang pembinaan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karo.
Untuk semua perlombaan telah disediakan hadiah yang sifatnya sebagai perangsang atau pemberi semangat yang diserahkan pada acara penutupan.
4. Pentas Seni dan Hiburan
Dalam pesta Bunga dan Buah di Kecamatan Berastagi juga dipersiapkan berbagai hiburan yang mengakar pada budaya Karo seperti Tarian, Lagu Pop Karo, Atraksi Seni Panggung Gundala-gundala, Ndikkar dan Lawak/Komedi setiap harinya selama kegiatan berlangsung yang pelaksanaanya diselingi dengan kegiatan lomba. Juga turut dimeriahkan dengan hiburan Band/artis setempat, provinsi maupun ibukota.
5. Pameran
Kegiatan menarik lainnya pada perayaan pesta Bunga dan Buah di Kecamatan Berastagi adalah pameran. Pameran pertama kali diadakan untuk memeriahkan acara Pesta Bunga dan Buah pada tahun 1994. Potensi dan Produk Unggulan Daerah, Pameran Produk dan Pelayanan Mitra Kerja dan Dunia Usaha. Dalam stand khusus di lokasi pameran ini, dibuka posko Kesehatan Gratis dilayani oleh dokter umum yang dapat dimanfaatkan oleh
pengunjung untuk mendapatkan pengobatan yang sifatnya umum secara gratis.
6. Penutupan
Pada acara penutupan, akan dilaksanaan pengumuman dan penyerahan hadiah kepada pemenang perlombaan yang diselenggarakan dalam pesta Bunga dan Buah di Kecamatan Berastagi. Acara penutupan juga dilakukan di pentas utama dan ditutup oleh panitia pelaksana.
BAB III
PELAKSANAAN PESTA BUNGA DAN BUAH DI KECAMATAN BERASTAGI (TAHUN 1988-1998)
3.1 Konsep dan Fungsi Pesta Buah dan Bunga 3.1.1 Konsep Pesta Bunga dan Buah
Festival bunga dan buah kabupaten Karo merupakan kegiatan pesta rakyat yang dilaksanakan setahun sekali. Kabupaten Karo yang dikenal sebagai Bumi Turang dihuni masyarakat Karo yang berbudaya pertanian (agrikultur) memiliki alam pegunungan yang subur penghasil bunga, buah dan sayuran. Pada acara pesta bunga dan buah yang diselanggarakan oleh masyarakat Berastagi Kabupaten Karo, adapun jenis tanaman bunga yang ditampilkan harus memenuhi 5 persyaratan yaitu:
1. Warnanya indah, mulus, bersih, dan tidak bernoda, serta bau wanginya tidak menyengat.
2. Bunga dapat bertahan lama setelah dipotong.
3. Tangkai cukup panjang dan kuat.
4. Bunga tidak mudah rusak dalam pengepakan.
5. Bunga dihasilkan oleh tanaman yang subur dan mudah berbunga tanpa mengenal musim. 13
13https://www.romadecade.org/tanaman-hias/, pada tanggal 20 Desember 2019 pukul 12.40 WIB.
Bunga potong yang akan ditampilkan diacara pesta bunga dan buah diklasifikasikan dalam empat golongan besar, yaitu:
1. Jenis bermusiman, dari famili: compositae, schrophulariaceae, oenotheraceae, cruciferae, ranunculaceae, caryophyllaceae, malvaceae, papaveraceae, polemoniaceae, resedaceae.
2. Jenis berumur panjang, dari famili: compositae, palemoniaceae, rosaceae.
3. Jenis berumbi, dari famili: amarillidaceae, irridaceae, compositae, liliaceae.
4. Jenis anggrek (orchidaceae).14
Adapun jenis bunga potong yang dipakai dalam upacara pesta bunga dan buah adalah bunga aster, krisan, dahlia, garbera, mawar, anyelir, lili, asparagus, sedap malam, gladiol, anthurium, dan anggrek. Bunga yang paling banyak digunakan untuk acara tersebut adalah bunga aster, krisan, dan gladiol. 15
Bunga aster mempunyai keunggulan, karena bunga ini digunakan hampir di setiap kegiatan atau upacara pesta bunga dan buah. Dikatakan mempunyai keunggulan karena bunga ini mempunyai warna bermacam-macam bergantung jenisnya. Jenis aster dengan warna bunganya: aster chinensis tipe Princes, warna bunga merah muda, biru muda, biru tua, kuning muda, dan putih. Aster chinensis tipe Amerika, warna bunga biru, merah lembayung, merah muda, merah, dan putih. Aster chinensis tipe Liliput, warna bunga putih, merah muda, merah tua, dan biru. Aster chinensis tipe Giant Cornet, warna bunga merah muda, merah tua, dan putih. Aster
14https://romadecade.org/tanaman-hias/, diakses pada tanggal 20 Desember 2019 pukul 12.50 WIB.
15Wawancara, Dewi Ginting, Kabanjahe, tanggal 15 November 2019 pukul 13.30 WIB.
novae-angliae, warna bunga violet muda. Aster incisus, warna bunga violet dan kebiruan yang mirip dengan bunga krisan.16
Krisan merupakan tanaman bunga hias berupa perdu dengan sebutan lain seruni atau bunga emas (golden flower) berasal dari dataran Cina. Krisan kuning berasal dari dataran Cina yang dikenal dengan Chrysanthenum indicum. Bunga krisan memiliki keindahan yang digunakan masyarakat Karo sebagai tanaman hias dan juga dapat digunakan sebagai obat tradisional.
Gladiol merupakan tanaman bunga hias berupa tanaman semusim berbentuk herba termasuk dalam famili Iridaceae. Gladiol berasal dari bahasa latin Gladius yang berarti pedang kecil, seperti bentuk daunnya. Tiga varietas diantaranya memiliki penampilan yang paling indah, (warna dan bentuknya berbeda dengan gladiol lama), yaitu: White godness (putih), Tradehorn (merah jingga), dan Priscilla (putih).
Gambar 2: Jenis Bunga Yang Ditampilkan Pada Pesta Bunga dan Buah
Sumber: https://dinaspariwisatakabupatenkaro/pestabungadanbuah. Diakses tanggal 15 Oktober 2019 pukul 15.00 WIB.
16http://medanbisnisdaily.com/m/news/read/tekwa-krisan-bernilai-ekonomi-tinggi/, diakses pada tanggal 20 Oktober 2019 pukul 17.00 WIB.
Selain jenis-jenis bunga tersebut, pada pesta bunga dan buah juga digunakan berbagai jenis buah-buahan, Ada banyak jenis buah yang ditampilkan saat perayaan pesta bunga dan buah di Berastagi seperti jeruk, stoberi, alpukat, terong belanda, dan markisa. Selain bunga dan buah, beranekaragam jenis sayuran yang ditanam masyarakat karo juga turut di pamerkan dalam festival bunga dan buah ini misalnya sayur sawi, jipang, kol, terong, wartel, kentang dan sebagainya.
Gambar 3: Jenis Buah-buahan Yang Ditampilkan Pada Pesta Bunga dan Buah Berastagi
Sumber: https://dinaspariwisatakabupatenkaro/pestabungadanbuah. Diakses tanggal 15 Oktober 2019 pukul 15.00 WIB.
Komoditi bunga, buah, dan sayur-sayuran yang digunakan pada pesta bunga dan buah tersebut menunjukkan keunggulan hasil panen daerah Kabupaten Karo. Selain itu juga sebagai sarana promosi yang berkaitan dengan kekayaan pertanian di Kabupaten Karo. Hal ini menunjukkan bahwa konsep pada pesta bunga dan buah tidak hanya sebagai perayaan ritual agama tetapi telah berkembang untuk menjadikan Kabupaten Karo sebagai tujuan wisata yang harus dikunjungi wisatawan ketika mereka datang ke Sumatera Utara.
3.1.2 Fungsi Pesta Bunga dan Buah
Festival dan pesta adalah sebuah acara sosial yang berfungsi sebagai ajang perayaan dan rekreasi, serta memberikan ruang kesempatan bagi terciptanya interaksi sosial yang dapat memperkuat standar karakteristik budaya lokal, sekaligus untuk mereduksi infiltrasi nilai-nilai kontra produktif budaya asing, maka festival bunga dan buah, maupun pesta budaya mejuah-juah ini adalah gelaran yang urgen dan bermanfaat bagi daerah ini maupun bagi masyarakatnya. Festival dan pesta yang meriah adalah pesta yang dirayakan bersama-sama, di dalamnya ada kegembiraan.
Bersama-sama dengan orang yang merayakannya, mereka yang berpesta sedang memperingati peristiwa penting atau sejarah pengenalan diri mereka dan lingkungannya, itu adalah sebuah pesta rakyat.
Festival bunga dan buah yang setiap tahun diselanggarakan masyarakat Karo bukan sekedar sebagai acara seremonial saja, tetapi diharapkan menjadi sarana promosi pariwisata kabupaten Karo dan meningkatkan kunjungan wisata lokal dan internasional. Dari kegiatan perayaan pesta bunga dan buah juga diharapkan dapat
meningkatan minat masyarakat untuk menanam buah-buahan seperti buah biwa dan markisah, diluar buah jeruk tentunya yang merupakan salah satu komoditi unggulan dari Kabupaten Karo. Sukur Sembiring menambahkan:
“ Tidak ada minat masyarakat untuk menanam buah jenis baru. Sejak jaman dulu, buah yang ditaman hanya itu-itu saja dari tahun ketahun. Demikian juga halnya dengan bunga, tidak pernah ada jenis baru yang dikembangkan, supaya tumbuh rasa hayat memiliki festival dilingkungan Karo. Anggaran dana dari pemerintah untuk pengembangan variasi bunga dan buah lebih baik dimanfaatkan untuk pengembangan sarana dan infrastruktur pariwisata saja.”17 Dengan pesta bunga dan buah, pengembangan pariwisata di Kabupaten Karo lebih direncanakan secara terarah dan berkesinambungan. Sektor ini memberi pengaruh yang sangat luas terhadap berbagai sasaran pembangunan, antara lain penambahan devisa daerah, peningkatan pendapatan masyarakat, perluasan lapangan kerja, memelihara kepribadian dan kebudayaan Karo serta melestarikan alam lingkungan. Dalam rangka pengembangannya, perlu ditingkatkan pendayagunaan sumber dan potensi kepariwisataan daerah menjadi kegiatan utama yang dapat diandalkan. Sektor pariwisata ditempatkan dalam prioritas setelah pertanian dan industri.
Ini disebabkan kurangnya perhatian Pemerintah kabupaten Karo dalam memberdayakan setiap obyek / panorama wisata yang ada tersedia disetiap desa yang mencakup 17 Kecamatan se Kabupaten Karo ini, diantaranya desa Pangambatan Kec.Merek terdapat Wisata Pemandangan Air Terjun Sipiso - Piso, Didesa Dokan Kec.Merek Wisata Budaya Rumah Adat Karo : Siwaluh Jabu , Didesa Daulu Pasar terdapat Wisata Air Terjun : Sikulikap , Desa Daulu Kuta dengan Pemandian air
17Wawancara, Sukur Sembiring, Berastagi, tanggal 28 September 2019 pukul 12.30 WIB.
panas : Lau Sidebuk - debuk , Desa Semangat Gunung Dengan Pemandian Air Panas dari Panas Bumi Gunung Sibayak dan banyak lagi panorama wisata ataupun wisata religi lainnya yang ada di Tanah Karo Simalem ini.
Melalui pesta bunga dan buah ini Dinas Pariwisata dapat mempromosikan objek-objek wisata tersebut melalui leaflet atau brosur yang bisa diambil atau dibaca secara gratis distand Dinas Pariwisata. Dengan datangnya wisatawan ke Kabupaten Karo untuk melihat pesta bunga dan buah diharapkan mereka juga mau mengunjungi objek wisata lain di Kabupaten Karo. Objek wisata tersebut yang antara lain: Bukit Gundaling, Gunung Sibayak, Gunung Sinabung, desa budaya Peceran, desa budaya Lingga, Taman hutan rakyat Berastagi, Air Terjun Sipiso-piso, Taman Simalem Resort, kawasan wisataTongging, pemandian air panas Lau Debuk-Debuk, Danau Lau Kawar, Air Terjun Sikulikap, pemandian air panas desa Semangat Gunung, kawasan wisata Sikodon-kodon, dan lain-lain. Kedepannya direncanakan potensi dan objek-objek wisata Kabupaten Karo akan terus digali, dikembangkan dan diberdayakan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pembangunan yang berwawasan lingkungan. Tidak hanya pengembangan di sektor pariwisata, diharapkan dengan adanya pesta bunga dan buah meningkatkan pengembangan di sektor pertanian pada masyarakat Karo, sehingga masyarakat Karo semakin berusaha untuk menanam jenis-jenis bunga, buah dan sayur yang memiliki kualitas yang bagus sehingga meningkatkan minat masyarakat untuk membeli hasil pertanian dari masyarakat Karo.
Selain itu, dengan adanya pesta bunga dan buah dihararapkan dapat meningkatkan nilai budaya dan adat istiadat masyarakat Karo dan masyarakat yang berkunjung ke Kabupaten Karo dapat melihat budaya dan adat istiadat masyarakat Karo. Budaya dan adat istiadat masyarakat sangat penting diusahakan untuk menjadi daya tarik bagi wisatawan baik dalam dan luar negeri. Hal ini diharapkan juga agar pemerintah Kabupaten Karo dapat merevitalisasi dan mengoptimalkan fungsi kawasan cagar budaya.Ini adalah kawasan di mana lokasi bangunan hasil budaya nenek moyang orang-orang yang mendiami kawasan Tanah Karo yang bernilai tinggi, maupun bentukan geologi alami khas yang berada di kawasan ini, dan sangat bermanfaat jika dikembangkan sebagai kawasan pariwisata.
Untuk mendukung rencana kegiatan-kegiatan pesta bunga dan buah tersebut, peningkatan pelayanan fasilitas umum dan penyediaan sarana, prasarana serta akomodasi akan menjadi prioritas dalam membangun perekonomian Kabupaten Karo.
Yang tidak kalah pentingnya adalah perlunya memacu pembangunan kepariwisataan secara holistik, sekaligus tematik, integral dan spasial melalui penyusunan rencana induk pariwisata daerah Kabupaten Karo.
3.2 Pelaksanaan Pesta Bunga dan Buah di Berastagi
Pesta bunga dan buah di kecamatan Berastagi Kabupaten Karo pada awalnya dilaksanakan setiap tahunnya pada bulan April. Pesta bunga dan buah diadakan selama 3 hari dan setiap tahunnya dihadiri oleh ribuan pengunjung/wisatawan yang ingin menyaksikan kegiatan pesta bunga dan buah tersebut. Hari pertama diisi dengan acara pembukaan pesta bunga dan buah yang berupa kata sambutan dari pemerintah
yang menghadiri perayaan misalnya dari Kabupaten Karo dan dari Gubernur Sumatera Utara, lalu dilanjutkan dengan kedatangan para stand dari setiap kecamatan yang akan mempromosikan hasil-hasil panen mereka yang berupa bunga, buah dan sayur. Hari kedua perayaan pesta bunga dan buah diisi dengan kegiatan mempromosikan hasil panen dari masing-masing stand dan mempromosikan tempat wisata lainnya, serta lomba-lomba dan kegiatan yang memeriahkan perayaan pesta bunga dan buah misalnya seperti lomba menghias kendaraan dengan menggunakan bunga, buah, dan sayur dari masing-masing kecamatan atau stand dan lomba-lomba lainnya. Hari ketiga diisi dengan acara lanjutan kegiatan dan lomba, pengumuman hasil pemenang lomba menghias kendaraan dan lomba lainnya, serta penutupan dari pemerintah Kabupaten Karo dan Gubernur Sumatera Utara.
3.2.1 Orang yang Terlibat dalam Pelaksanaan Pesta Bunga dan Buah
Diperingati setiap tahunnya dan berlokasi pada sekitar lapangan Open Stage Taman Mejuah - juah Berastagi Kab.Karo dengan satu hal yang wajib dilakukan pada awalnya mulai dengan tahap persiapan atau elektivitas positif terkait agenda rutin tersebut kita dituntut agar lebih bersinergi lagi melalui musyawarah (arih-arih muat simehuli) untuk capai kata mufakat dengan segala konsekuensi. Dan jika ada kekurangan sesuatu hal, harus segera dikoordinasikan dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Karo bersama Forum Komunikasi Pimpinan Daerah Kabupaten Karo (Forkompimda) dengan melibatkan warga masyarakat Karo yang peduli terhadap peningkatan kepariwisataan Tanah Karo.