Phenacoccus manihoti Matile-Ferrero (HEMIPTERA: PSEUDOCOCCIDAE)
METODE PENELITIAN
Kegiatan penelitian dilaksanakan di Ruang Pembiakan Serangga dan Laboratorium Bionomi dan Ekologi Serangga, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Penelitian berlangsung sejak bulan Agustus 2014 sampai Agustus 2015. Selama penelitian berlangsung, rata-rata suhu ruangan ±27oC dengan kelembaban relatif ±60%, dan dengan 12 jam terang dan 12 jam gelap.
Penyiapan Bibit Singkong M. esculenta
Bibit singkong yang diperoleh dari pertanaman singkong milik petani di Kecamatan Dramaga dan Sukaraja, Kabupaten Bogor, Jawa Barat digunakan untuk membiakkan P. manihoti. Stek singkong dengan panjang sekitar 17 cm dimasukkan dengan posisi tegak ke dalam ember plastik (t=14 cm, d=11.5 cm), kemudian dimasukkan air sebanyak 250 ml ke dalam ember. Setiap tiga hari ditambahkan air sebanyak 100 ml. Bibit singkong dibiarkan tumbuh selama 3 minggu hingga muncul daun.
Perbanyakan Kutu Putih P. manihoti
P. manihoti yang digunakan dalam percobaan ini berasal dari hasil pembiakan massal di laboratorium. Nimfa instar-1 P. manihoti diinfestasikan pada bibit singkong yang berumur tiga minggu. Dua minggu setelah itu, kutu putih sudah mencapai instar-3 dan siap digunakan untuk pembiakan parasitoid A. lopezi. Sebagian dari nimfa instar-3 tersebut dibiarkan berkembang hingga menjadi imago dan bertelur. Daun yang terserang P. manihoti dipotong-potong dan diinfestasikan pada bibit singkong yang masih sehat. Dengan cara ini, nimfa kutu putih akan berpindah dan berkembang biak pada bibit singkong yang baru.
Selama pembiakan dan penelitian berlangsung, nimfa instar-1 atau crawlers kutu putih berkeliaran pada permukaan rak maupun kurungan. Agar instar-1 ini dapat digunakan untuk pembiakan massal, helaian daun singkong diletakkan tersebar pada rak dan kurungan. Hal ini menyebabkan instar-1 kutu putih akan berkumpul pada daun untuk makan. Sehari kemudian, daun yang telah dipenuhi instar-1 dipindahkan pada bibit singkong yang baru.
Perbanyakan Parasitoid A. lopezi
Bibit singkong dengan sekitar 300 ekor nimfa instar-3 dan imago P. manihoti dimasukkan ke dalam wadah plastik (t= 12.5cm, d=9 cm). Wadah kemudian diisi air secukupnya hingga merendam bagian bawah stek singkong. Bagian atas wadah ditutup dengan stirofom yang telah dilubangi sesuai diameter stek singkong. Wadah yang telah berisi bibit singkong beserta kutu putih, lalu dimasukkan ke dalam kurungan pembiakan (p=75 cm, l=46 cm, t=50cm). Kurungan tersebut terbuat dari kerangka kayu dengan bagian bawah terbuat dari
14
papan, bagian atas dari lembaran plastik, dan bagian samping terbuat dari kain kasa. Pada bagian depan terdapat pintu berukuran (p=15 cm, l=15 cm). Pintu tersebut digunakan untuk memasukkan bibit singkong. Pada permukaan dalam dari atap kurungan digantungkan kapas yang telah diresapi larutan madu 10% sebagai makanan imago parasitoid.
Sekitar 50 pasang imago parasitoid A. lopezi dimasukkan ke dalam kurungan pembiakan. Setelah sekitar dua minggu, tanaman yang telah kering dan juga terdapat mumi P. manihoti (Gambar 3.1) dikumpulkan dengan cara memotong daun dengan menggunakan gunting dan dimasukkan ke dalam kurungan plastik (p=25 cm, l=20 cm, t=20 cm). Kurungan plastik ini digunakan untuk mendapat-kan imago A. lopezi. Sebagian dari imago parasitoid yang muncul digunakan untuk pengujian dan sebagian lainnya digunakan untuk pembiakan massal seperti prosedur di atas. Pemindahan imago parasitoid, baik untuk keperluan pengujian maupun untuk pembiakan massal dilakukan dengan bantuan aspirator. (Lampiran 3)
Gambar 3.1 Mumi kutu P. manihoti
Penyiapan Instar P. manihoti
Nimfa instar-1 diperoleh dari telur P. manihoti yang baru menetas. Instar-1 yang digunakan dalam pengujian yaitu yang telah berumur sekitar satu hari. Instar-2, -3, dan imago diperoleh dengan melakukan prosedur sebagai berikut. Nimfa instar-1 (p=0.41 mm, l=0.17 mm) yang diperoleh dari pembiakan P. manihoti dimasukkan ke dalam kurungan kecil berbentuk tabung (t=47 cm, d=14 cm). Kurungan tersebut terbuat dari mika yang berisi bibit singkong berumur tiga minggu. Lima hari kemudian, nimfa instar-1 (p=0.41 mm, l=0.17 mm) telah menjadi instar-2 (p=0,60 mm, l=0.26 mm) yang siap digunakan untuk pengujian. Prosedur yang sama dilakukan untuk mendapatkan nimfa instar-3 (p=0.86 mm, l=0.39 mm) dan imago (p= 1.25 mm, l=0,63 mm) (Gambar 3.2), yaitu masing- masing 10 dan 15 hari setelah infestasi instar-1. Acuan masa perkembangan setiap instar ini didasarkan pada hasil penelitian Saputro (2013) dan Wardani (2015).
15
Gambar 3.2 Stadium inang kutu putih P. manihoti;(a) imago, (b) nimfa-3, (c) nimfa-1, (d) nimfa-2
Pengujian Kerentanan Instar Inang (Uji Tanpa Pilihan)
Masing-masing 10 ekor nimfa-1, -2, -3, dan imago P. manihoti secara terpisah diinfestasikan pada setiap helai daun singkong dengan menggunakan kuas halus. Selanjutnya, setiap helai daun dimasukkan ke dalam kurungan mika berbentuk silinder (t=7 cm, d=10 cm). Bagian atas kurungan yang juga terbuat dari mika, diberi lubang berbentuk persegi (p=4cm, l=4cm), kemudian ditutupi dengan kain organdi (Lampiran 1). Selanjutnya, seekor imago betina A. lopezi umur 1-2 hari yang telah kawin dimasukkan ke dalam setiap kurungan (Gambar 3.3). Pada dinding kurungan bagian dalam dioleskan setetes madu takaran 0.25 ml tanpa pengenceran dengan menggunakan jarum, madu tersebut berfungsi sebagai makanan parasitoid. Kurungan selanjutnya diberi label yang berisi informasi sesuai keperluan.
Setelah 24 jam, parasitoid dikeluarkan dan kutu putih dipelihara hingga 24 jam berikutnya. Selanjutnya, dilakukan pemeriksaan banyaknya telur parasitoid yang diletakkan di dalam tubuh kutu putih. Untuk maksud tersebut, setiap kutu putih diambil dari daun, kemudian diletakkan di atas gelas objek. Selanjutnya, kutu diberi setetes larutan fisiologis (NaCl) untuk kemudian dibedah. Pembedahan menggunakan jarum mikro dan dilakukan di bawah mikroskop stereo Olympus tipe SZ51 dengan tipe lensa WHSZ10X-H/22 dan perbesaran 4x. Banyaknya telur yang ditemukan pada masing-masing instar inang dicatat. Untuk memastikan bahwa semua telur telah terhitung, kutu putih yang telah dibedah kemudian diamati lagi di bawah mikroskop compound Olympus NEA dengan perbesaran 10x/0.25. Banyaknya inang yang terparasit per parasitoid, banyaknya telur parasitoid yang diletakkan per ulangan, dan banyaknya telur parasitoid yang diletakkan per inang digunakan sebagai kriteria untuk menentukan kerentanan instar inang. Pada percobaan ini digunakan 20 ulangan untuk setiap perlakuan instar inang, atau total sebanyak 800 ekor P. manihoti dan 80 ekor imago betina A. lopezi. d a c a a b a 1.25 mm 0.86 mm 0.41 mm 0.60 mm
16
Gambar 3.3 Imago A. lopezi; (a) betina, (b) jantan
Pengujian Preferensi Instar Inang (Uji Dua-Pilihan)
Sepuluh ekor P. manihoti dari setiap instar secara terpisah diinfestasikan pada sehelai daun singkong dengan menggunakan kuas halus. Daun kemudian dimasukkan ke dalam kurungan mika berbentuk silinder, seperti yang digunakan pada pengujian kerentanan instar inang. Seekor imago betina A. lopezi berumur 1- 2 hari dimasukkan ke dalam kurungan. Dengan menggunakan jarum bertangkai, dinding kurungan diolesi madu dengan takaran 0.25 ml sebagai makanan parasitoid. Percobaan ini menggunakan enam perlakuan yang masing-masing terdiri dari dua instar kutu putih yang berbeda. Kombinasi pasangan instar inang yang digunakan yaitu nimfa-1 dengan nimfa-2, nimfa-1 dengan nimfa-3, nimfa-1 dengan imago, nimfa -2 dengan instar-3, instar-2 dengan imago, dan nimfa-3 dengan imago.
Setelah 24 jam, parasitoid dikeluarkan dari kurungan dan kutu putih dibiarkan hidup selama 24 jam berikutnya. Selanjutnya, setiap kutu putih diambil dari daun dan diletakkan di atas gelas objek dan diberi setetes larutan fisiologis (NaCl) untuk dibedah seperti yang dilakukan pada pengujian kerentanan instar inang di atas. Kriteria yang digunakan untuk menentukan preferensi yaitu banyaknya inang yang diparasit dan banyaknya telur yang diletakkan pada setiap instar inang. Percobaan ini menggunakan 20 ulangan untuk setiap perlakuan instar inang, dengan total sebanyak 2600 ekor P. manihoti dan 120 ekor parasitoid yang digunakan dalam pengujian.
Pengujian Kesesuaian Instar Inang
Masing-masing 20 ekor nimfa-1, -2, -3, dan imago P. manihoti secara terpisah diinfestasikan pada tunas kentang G3 yang diperoleh dari Pangalengan, Bandung, Jawa Barat. Selanjutnya, kentang dimasukkan ke dalam kurungan mika berbentuk silinder (t=20 cm, d=12 cm) yang bagian atas kurungan atau tutupnya diberi lubang berukuran 4 cm x 4 cm dan ditutup kain organdi (Lampiran 2). Dua ekor imago betina parasitoid dimasukkan ke dalam tabung selama 24 jam agar meletakkan telur pada kutu putih. Kutu putih dan larva parasitoid yang ada di dalam tubuh inang dibiarkan berkembang.
Pengamatan banyaknya imago parasitoid yang muncul dilakukan setiap hari, dan dibedakan berdasarkan jenis kelaminnya. Parasitoid yang muncul dikumpulkan ke dalam tabung eppendorf ukuran 1 ml yang berisi alkohol 70% sebanyak 0.5 ml. Pengukuran panjang tibia tungkai belakang sebelah kiri dari imago betina dilakukan dengan menggunakan mini tool di bawah mikroskop stereo Olympus tipe SZ51 dengan tipe lensa WHSZ10X-H/22. Kriteria yang
17 digunakan untuk menentukan kesesuaian instar inang adalah banyaknya parasitoid yang muncul per inang, nisbah kelamin, masa perkembangan, dan ukuran parasitoid. Percobaan dilakukan sebanyak 5 ulangan.
Analisis Data
Analisis ragam dilakukan untuk memeriksa pengaruh instar inang terhadap rataan banyaknya inang yang terparasit, banyaknya telur yang diletakkan per inang, masa perkembangan pradewasa parasitoid, banyaknya parasitoid yang muncul, nisbah kelamin, dan ukuran parasitoid, yang dilanjutkan dengan uji Tukey pada taraf 5%. Preferensi parasitoid terhadap pasangan instar inang diperiksa melalui uji t. Seluruh pengolahan data dilakukan dengan bantuan program SPSS 16.
HASIL
Kerentanan Instar Inang (Uji Tanpa Pilihan)
Pada uji tanpa pilihan, semua instar inang mampu diparasit oleh A. lopezi (Tabel 3.1). Perbedaan instar inang berpengaruh sangat nyata (F=50.63; db=3, 79; P<0.001) terhadap banyaknya inang yang diparasit. Parasitisasi pada nimfa-2, nimfa-3, dan imago berkisar 7-8 ekor, yang berbeda sangat nyata (P<0.001) dengan pada nimfa-1 (3.25 ekor). Banyaknya telur yang diletakkan oleh parasitoid juga dipengaruhi oleh instar inang (F=18.79; db=3, 79; P<0.001) (Gambar 3.4). Pada inang nimfa-1, rataan banyaknya telur parasitoid yang diletakkan yaitu 3.70 butir, jauh lebih sedikit dibandingkan pada instar lainnya yang berkisar 9-10 butir (Tabel 3.1, Lampiran 4).
Selama pengamatan inang terparasit, sering dijumpai adanya kutu putih yang mati mengerut. Kematian ini diduga karena adanya kegiatan penusukan ovipositor yang dilanjutkan dengan pengisapan cairan inang oleh imago parasitoid (host-feeding). Besarnya kematian semacam ini berbeda di antara berbagai instar inang (F=20.59; db=3, 79; P<0.001), dengan yang terbanyak terjadi pada inang nimfa-1 yaitu 2.60 ekor dan terendah pada imago yaitu 0.20 ekor.
Tabel 3.1 Parasitisasi (
x
±SD) A. lopezi pada berbagai instar inang1 Instar Inang Banyaknya inang terparasit (ekor) Banyaknya telur parasitoid (butir) Banyaknya inang yang mati (ekor)Nimfa-1 3.25 ± 1.94 a 3.70 ± 2.30 a 2.60 ± 1.14 a
Nimfa-2 7.15 ± 1.04 b 9.95 ± 2.80 b 1.05 ± 1.05 b
Nimfa-3 7.05 ± 1.09 b 10.60 ± 4.89 b 0.70 ± 1.26 bc
Imago 8.15 ± 1.14 b 9.95 ± 2.80 b 0.20 ± 0.41 c
1Nilai pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak menunjukkan beda nyata (Uji Tukey α = 5%)
18
0.025 mm Gambar 3.4 Telur A. lopezi
Preferensi Instar Inang (Uji Dua-Pilihan)
Berdasarkan uji pilihan berpasangan, parasitoid A. lopezi lebih memilih nimfa-2, -3, dan imago dibandingkan nimfa-1 (P<0.001). Rataan banyaknya inang yang terparasit yaitu 0.90 hingga 2.30 ekor pada nimfa-1, jauh lebih rendah dibandingkan pada nimfa-2 (7.55 ekor) (t=-9.980; db=38 ; P<0.001), nimfa-3 (8.05 ekor) (t=-10.347; db=38 ; P<0.001), dan imago (7.40 ekor) (t=-9.810; db=38 ; P<0.001). Begitu pula banyaknya telur parasitoid yang diletakkan per inang pada nimfa-1 (0.75-0.99 butir) lebih rendah dibandingkan pada instar lainnya (1.20- 1.39 butir). Terdapat perbedaan nyata antara rataan banyaknya inang terparasit pada nimfa-2 (4.85 ekor) dengan nimfa-3 (7.45 ekor) (t=-5.186; db=38 ; P<0.001), serta banyaknya telur parasitoid yang diletakkan per inang yaitu 1.05 butir pada nimfa-2 dan 1.21 butir pada nimfa-3. Banyaknya inang yang terparasit dan banyaknya telur parasitoid yang diletakkan tidak berbeda pada pasangan perlakuan inang imago dengan nimfa-2 dan nimfa-3 (P<0.001) (Tabel 3.2, Lampiran 5).
Tabel 3.2 Preferensi (
x
±SD) parasitoid pada berbagai pasangan instar inang Pasangan instar inang Banyaknya inang terparasit (ekor) Banyaknya telur parasitoid/inang terparasit (butir) Nimfa-1 2.30 ± 1.89 a 0.83 ± 0.44 a Nimfa-2 7.55 ± 1.39 b 1.23 ± 0.28 b Nimfa-1 2.45 ± 1.73 a 0.99 ± 0.48 a Nimfa-3 8.05 ± 0.99 b 1.20 ± 0.21 a Nimfa-1 0.90 ± 0.97 a 0.75 ± 0.55a Imago 7.40 ± 1.82 b 1.39 ± 0.34 b Nimfa-2 4.85 ± 1.73 a 1.05 ± 0.11 a Nimfa-3 7.45 ± 1.43 b 1.21 ± 0.22 a Nimfa-2 6.35 ± 1.56 a 1.19 ± 0.23 a Imago 7.05 ± 1.79 a 1.64 ± 1.21 a Nimfa-3 6.30 ± 1.66 a 1.15 ± 0.16 a Imago 6.90 ± 1.86 a 1.18 ± 0.26 a19 Kesesuaian Instar Inang
Parasitoid A. lopezi mampu berkembang pada berbagai instar inang yang diujikan. Namun demikian, perbedaan instar inang berpengaruh sangat nyata terhadap masa perkembangan pradewasa parasitoid jantan (F=17.49; db=3, 107; P<0.001) maupun betina (F=41.66; db=3, 94; P<0.001). Masa perkembangan pradewasa parasitoid pada inang nimfa-1 yaitu 24.5 hari untuk jantan dan 32.0 hari untuk betina, lebih lama dibandingkan pada nimfa lainnya (P<0.001). Masa perkembangan pradewasa parasitoid yang paling singkat terjadi pada inang imago P. manihoti, yaitu berkisar 15-16 hari (Tabel 3.3).
Tabel 3.3 Masa perkembangan pradewasa parasitoid (
x
±SD) pada berbagai instar inang1Instar inang Masa perkembangan pradewasa (hari)
Jantan Betina
Nimfa-1 24.50 ± 4.08 a 32.00 ± 1.41 a
Nimfa-2 19.09 ± 3.76 b 21.27 ± 3.12 b
Nimfa-3 18.08 ± 4.03 bc 19.50 ± 3.99 b
Imago 16.19 ± 0.66a c 15.90 ± 0.83 c
1Nilai pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak menunjukkan beda nyata (Uji Tukey α = 5%)
Selain terhadap masa perkembangan pradewasa, perbedaan instar inang berpengaruh nyata (F=12.13; db=3, 19; P<0.001) terhadap rataan banyaknya keturunan parasitoid yang muncul dan terhadap nisbah kelamin (F=7.00; db=3, 19; P=0.003). Pada inang nimfa-1, banyaknya imago parasitoid yang muncul 4.00 ekor, jauh lebih rendah dibandingkan pada instar lainnya yang berkisar 11-13 ekor (Tabel 3.4). Hal ini tampaknya terkait dengan perilaku imago parasitoid yang lebih sedikit meletakkan telur pada nimfa-1 seperti disebutkan terdahulu. Keturunan parasitoid yang muncul dari inang nimfa-1 lebih banyak jantan, yaitu dengan nisbah 0.87, berbeda nyata (P=0.002) dengan yang muncul dari inang imago yaitu dengan nisbah 0.27 (Tabel 3.4).
Tabel 3.4 Banyaknya keturunan dan nisbah kelamin parasitoid (
x
±SD) yang muncul dari berbagai instar inang1Instar inang Keturunan (ekor) Nisbah kelamin
(jantan/total keturunan)
Nimfa-1 4.00 ± 2.73 a 0.87 ± 0.22 a
Nimfa-2 12.80 ± 2.68 b 0.52 ± 0.29 ab
Nimfa-3 12.40 ± 1.34 b 0.64 ± 0.17 ab
Imago 11.40 ± 3.43 b 0.27 ± 0.13 b
1Nilai pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak menunjukkan beda nyata (Uji Tukey α = 5%)
Perbedaan instar inang memengaruhi panjang tubuh (F=6.00; db=3, 94; P=0.001) dan panjang tibia kiri (F=7.73; db=3, 94; P<0.001) imago parasitoid betina yang muncul. Panjang tubuh imago betina yang muncul dari nimfa-1 yaitu
20
1.30 mm, jauh lebih pendek dibandingkan yang muncul dari instar lainnya yang berkisar 1.65-1.89 mm (Tabel 3.5). Begitu pula ukuran panjang tibianya lebih pendek.
Tabel 3.5 Ukuran panjang tubuh dan tibia (
x
±SD) imago betina parasitoid yang muncul dari berbagai instar inang1Instar inang Panjang (mm) n
Tubuh Tibia kiri
Nimfa-1 1.30 ± 0.00 a 0.35 ± 0.07 a 2
Nimfa-2 1.65 ± 0.28 ab 0.47 ± 0.07 a 30
Nimfa-3 1.89 ± 0.34 c 0.52 ± 0.07 c 22
Imago 1.79 ± 0.19 b 0.45 ± 0.05 ab 41
1
Nilai pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak menunjukkan beda nyata
(Uji Tukey α = 5%)
PEMBAHASAN
Penelitian mengungkapkan bahwa parasitoid A. lopezi meletakkan telur pada seluruh instar P. manihoti. Walaupun demikian, secara umum nimfa-3 dan imago paling banyak diparasit. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Chong dan Oeting (2007) yang mendapatkan bahwa parasitoid Anagyrus sp lebih memilih instar Phenacoccus sp yang berukuran lebih besar untuk peletakan telurnya. Bertschy et al. (2000) juga melaporkan bahwa tingkat parasitisasi Aenisius vexans pada inang Phenacocuccus herreni lebih tinggi pada nimfa-3 dan imago. Menurut Quicke (1997) perbedaan ukuran tubuh inang menentukan jumlah dan kualitas makanan yang tersedia bagi parasitoid. Dalam hal ini, tingginya tingkat parasitasi dari A. lopezi pada imago P. manihoti diperkirakan terkait dengan pemenuhan nutrisi yang lebih banyak dan baik bagi perkembangan keturunan parasitoid, dan agar keturunan tersebut mampu menjadi imago betina yang memiliki kebugaran yang baik (Godfray 1994). Berbeda dengan parasitisasi, kegiatan host-feeding lebih banyak terjadi pada nimfa-1. Menurut Neuenschwander dan Sullivan (1987) keefektifan parasitoid A. lopezi dalam mengendalikan P. manihoti salah satunya disebabkan oleh adanya perilaku host-feeding.
Dalam penelitian ini ditunjukkan bahwa parasitoid yang muncul dari instar lanjut (nimfa-2, -3, dan imago) memiliki masa perkembangan pradewasa yang lebih singkat, persentase betina di sekitar 50% atau lebih, serta ukuran tubuhnya lebih besar. Lebih singkatnya masa perkembangan pradewasa mungkin terkait dengan pemenuhan nutrisi yang lebih lengkap dan lebih cepat diperoleh pada instar lanjut, sehingga ketika penyerapan nutrisi telah cukup, maka parasitoid dapat semakin cepat berkembang menjadi imago. Hal serupa terjadi pula pada penelitian Sagarra dan Vincent (1999) yang mendapatkan bahwa masa perkembangan parasitoid A. kamali pada kutu putih nimfa-3 dan imago lebih cepat 9.5 hari dibandingkan pada nimfa-1 dan -2.
Nisbah kelamin yang bias jantan pada inang yang berukuran kecil merupakan fenomena umum pada parasitoid. Dalam penelitian ini keturunan parasitoid jantan yang muncul dari nimfa-1 mencapai 87%. Menurut Godfray
21 (1994) parasitoid memilih inang yang berukuran kecil untuk peletakan telur jantan, sementara inang yang berukuran besar untuk telur betina. Selain itu, parasitoid A. lopezi yang muncul dari instar lanjut berukuran lebih besar daripada yang muncul dari nimfa-1. Ukuran tubuh parasitoid, terutama betina, biasanya berkorelasi dengan kebugaran. Betina yang berukuran besar umumnya meletakkan telur yang lebih banyak selama hidupnya (van Dijken dan van Alphen 1991).
Hasil penelitian yang dilakukan menawarkan implikasi praktis bagi upaya pembiakan massal parasitoid A. lopezi. Berdasarkan pertimbangan preferensi imago parasitoid, masa perkembangan pradewasa yang lebih singkat, nisbah kelamin yang bias betina, ukuran tubuh yang lebih besar pada inang instar lanjut, kiranya instar P. manihoti nimfa-3 merupakan inang yang paling tepat untuk digunakan dalam pembiakan massal parasitoid.
KESIMPULAN
Parasitoid A. lopezi lebih banyak memarasit kutu P. manihoti nimfa-2 dan -3 serta imago yang belum membentuk ovisak. Hal ini ditunjukkan oleh banyaknya inang yang terparasit dan banyaknya telur yang diletakkan. Pada percobaan pilihan berpasangan, nimfa-2, -3 dan imago lebih dipilih oleh parasitoid untuk peletakan telur dibandingkan nimfa-1. Parasitoid yang muncul dari inang yang berukuran besar, masa perkembangan pradewasanya lebih singkat, jumlah keturunannya lebih banyak betina, dan ukuran tubuhnya lebih besar. Oleh karena itu, nimfa-3 lebih sesuai digunakan sebagai inang untuk keperluan pembiakan massal parasitoid.