Jenis dan Sumber Data
Jenis data utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder tahunan deret waktu (time series), dari tahun 1985 hingga 2011. Adapun sumber- sumber data dalam penelitian ini antara lain: (1) International Pepper Community, (2) Badan Pusat Statistik (BPS) Republik Indonesia (1991-2012), (3) Bappebti, (4) World Bank, (5) penelitian terdahulu, dan (6) sumber-sumber lain yang relevan. Selain itu, sebagai informasi kualitatif (hanya sebagai tambahan saja), dilakukan wawancara dengan beberapa pelaku agribisnis lada, diantaranya petani lada, pedagang pengumpul lada putih, pengusaha olahan lada putih, eksportir lada putih, dan BP3L (Badan Pengelolaan, Pengembangan, dan Pemasaran Lada) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Data lada putih dunia didekati berdasarkan data penawaran ekspor lada putih negara-negara produsen lada, khususnya negara-negara produsen lada sekaligus pengekspor lada putih terbesar. Negara-negara tersebut yaitu Brazil, India, Indonesia, Malaysia, Vietnam, dan Cina. Jumlah keseluruhan penawaran ekspor lada putih dari negara-negara tersebut dianggap sebagai jumlah permintaan lada putih dunia. Hal ini didasarkan atas pertimbangan bahwa sebagian besar penawaran lada putih masih bergantung pada permintaannya di pasar impor dunia atau pasar internasional. Jumlah keseluruhan penawaran ekspor lada putih dari negara-negara tersebut, yang dianggap sama dengan jumlah permintaan lada putih dunia, juga disebut sebagai sebagai volume perdagangan lada putih dunia.
Metode Pengolahan dan Analisis Data
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan kuantitatif. Metode deskriptif digunakan untuk menjelaskan data-data yang diperoleh dan hasil analisis yang dilakukan secara kuantitatif. Metode kuantitatif digunakan untuk menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi volume perdagangan lada putih di dunia dan melakukan analisis permintaan impor lada putih dunia yang bersumber dari Indonesia dan Vietnam. Untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi volume perdagangan lada putih dunia digunakan model regresi linear berganda logaritmik. Penggunaan model regresi linear berganda logaritmik dimaksudkan agar langsung diperoleh nilai elastisitas setelah dilakukan pendugaan model, yaitu berdasarkan nilai koefisien variabel-variabel independennya. Pada Model regresi linear berganda logaritmik tersebut tidak dipertimbangkan negara pengekspor (asal) lada putih nya atau negara yang menjadi sumber impornya.
Analisis permintaan impor lada putih dunia yang bersumber dari Indonesia dan Vietnam dilakukan dengan mengadopsi model AIDS (Almost Ideal Demand System). Model AIDS dipilih karena model ini dapat melihat kompetisi diantara negara-negara pengekspor atau sumber impor dari komoditi tertentu, melalui
share masing-masing negara tersebut atau pangsa pasar nya. Selain itu pada model AIDS, secara teknis, persamaan dari negara-negara pengekspor tersebut di-
pengekspor. Dengan kata lain bukan dua model yang terpisah. Model AIDS pada penelitian ini juga dimodifikasi dengan menambahkan variabel-variabel independen lain yang terkait, selain yang memang sudah menjadi variabel- variabel independen umum di dalam model AIDS.
Analisis model regresi linear berganda logaritmik dan model AIDS dimaksudkan untuk menentukan posisi atau daya saing lada putih Indonesia di pasar lada putih dunia, khususnya terhadap Vietnam, yang pada akhirnya menjadi sumber informasi dalam penetapan strategi-kebijakan bagi pemasaran lada putih Indonesia di pasar lada putih dunia. Program (software) komputer yang digunakan untuk melakukan analisis-analisis ini adalah Minitab 14, Eviews 4.1, dan STATA 11.
Spesifikasi Model dan Definisi Variabel Volume Perdagangan Lada Putih Dunia
Volume perdagangan lada putih dunia merupakan jumlah penawaran ekspor lada putih dunia, yang mana sama dengan jumlah permintaan impor nya. Dengan kata lain, volume perdagangan lada putih dunia merupakan jumlah lada putih yang diperdagangkan di pasar lada putih dunia pada kondisi ekuilibrium nya. Oleh sebab itu, faktor-faktor yang mempengaruhi volume perdagangan lada putih dunia juga merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran ekspor dan/atau permintaan impor lada putih dunia. Volume perdagangan yang dianalisis tidak membedakan asal impor (negara pengekspor) lada putih nya. Persamaan volume perdagangan tersebut adalah sebagai berikut:
LnVPWDt=α0+α1LnPPt+α2LnPHt+α3LnGDPPCWDt+α4LnWPt ... (11)
Dimana: VPWD : Volume perdagangan lada putih dunia (ton)
PP : Harga lada putih di pasar impor lada putih dunia (USD/ton) PH : Harga lada hitam di pasar impor lada hitam dunia (USD/ton) GDPPCWD : GDP per kapita dunia (USD/kapita)
WP : Jumlah penduduk dunia (orang)
Ukuran-ukuran elastisitas dan artinya, dari model ini, dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8 Ukuran-ukuran elastisitas model regresi logaritmik
No Besar Elastisitas Istilah Keterangan
1. Elastisitas Harga Sendiri
a.Ep= 0 Inelastis sempurna Volume perdagangan lada putih dunia tidak berubah (tetap/konstan) dengan adanya perubahan harga lada putih dunia.
b.0 < Ep < 1 Inelastis Volume perdagangan lada putih dunia berubah dengan persentase yang lebih kecil dari pada perubahan harga lada putih dunia. c.Ep = 1 Elastisitas unit Volume perdagangan lada putih
dunia berubah dengan persentase yang sama dengan perubahan harga lada putih dunia.
d.1 < Ep < Elastis Volume perdagangan lada putih dunia berubah dengan persentase yang lebih besar dari pada perubahan harga lada putih dunia. e.Ep = Elastis sempurna Berapapun volume perdagangan
lada putih dunia, harga lada putih dunia tidak berubah (tetap/konstan).
2. Elastisitas Silang
a.Ec > 0 (positif) Barang substitusi Kenaikan harga barang substitusi lada putih di dunia berakibat meningkatnya volume perdagangan lada putih dunia.
b.Ec < 0 (negatif) Barang komplemen Kenaikan harga barang komplemen lada putih di dunia berakibat turunnya volume perdagangan lada putih dunia.
3. Elastisitas Pendapatan
a.Ei > 0 (positif) Barang normal Volume perdagangan lada putih dunia naik, saat pendapatan per kapita dunia naik.
b.Ei < 0 (negatif) Barang inferior Volume perdagangan lada putih dunia turun, saat pendapatan per kapita dunia naik.
c.0 < Ei < 1 Barang kebutuhan pokok (essential
goods)
Volume perdagangan lada putih dunia berubah dengan persentase yang lebih kecil dari pada perubahan pendapatan per kapita dunia.
d.Ei > 1 Barang mewah Volume perdagangan lada putih dunia naik, saat pendapatan per kapita dunia naik.
Permintaan Impor Lada Putih Dunia yang Bersumber dari Indonesia dan Vietnam
Model AIDS pertama kali diperkenalkan oleh Deaton dan Muellbauer pada tahun 1980 (Karo-karo Sitepu dan Sinaga 2006). Bentuk umum model AIDS yang dikembangkan oleh Deaton dan Muellbauer adalah:
wi=αi+ ij j
log pj+ ilog Y P …….……….…………..……… (12)
dimana P adalah indeks harga yang didefinisikan oleh:
log P =α0+ αilog pi+ 1 2 ij j log pilog pj i ...…….……..………… (13)
dan parameter ij didefinisikan oleh:
ij= 1 2 ij *+ ji * = ji …………..……….…………..……… (14)
Dari persamaan (12) dapat diketahui bahwa model AIDS merupakan model nonlinear akibat adanya penggunaan indeks harga P. Agar dapat diduga secara linear maka perlu dilakukan pendekatan terhadap nilai indeks harga P dengan mengeksploitasi hubungan antara, salah satunya melalui penggunaan indeks harga Stone (log P*=Σwk log pk), sehingga model AIDS menjadi:
wi=αi*+ ij j
log pj+ ilog x P*
………...…………..……… (15)
Dengan catatan: i*= i- i log . Jika P .P*. Fungsi di atas dikenal sebagai
aproksimasi linear dari AIDS (LA/AIDS).
Untuk menghitung elastisitas permintaan dari model LA/AIDS, digunakan formula seperti yang dilakukan oleh Chalfant (Karo-karo Sitepu dan Sinaga 2006; Jung dan Koo 2000; serta Taljaard, Alemu, dan van Schalkwyk 2004):
Elastisitas harga sendiri
εii= ii - iwi
wi -1 ….……..……… (16)
Elastisitas harga silang
εij= ij- iwj wi ;i≠j ….…………..……… ( 17) Elastisitas pengeluaran i= i wi +1 ……...…..………….. (18)
Persamaan umum model AIDS yang dibangun dalam penelitian ini diadopsi dari model AIDS yang digunakan oleh Rifin (2010), dan kemudian dimodifikasi atau disesuaikan, yaitu sebagai berikut:
Si= iln m
p* + ij
n
i=1
lnPj+Z+εt …….………….. (19)
Dimana: S : Pangsa pasar negara pengekspor tertentu di pasar impor P : Harga lada putih (USD/ton)
m : Pengeluaran
P* : Corrected stone price index
Z : Faktor-faktor lainnya
Analisis model AIDS dalam penelitian ini, mengabaikan/tidak menggunakan restriksi adding up, homogenity, dan symmetry, karena permintaan yang dianalisis adalah permintaan impor suatu negara ataupun beberapa negara (dikatakan dunia). Restriksi adding up, homogenity, dan symmetry digunakan ketika menganalisis permintaan rumah tangga individu langsung yang tujuannya maksimisasi utilitas, sementara permintaan impor suatu negara ataupun beberapa negara terdiri atas permintaan input oleh produsen-produsen (industri), selain juga permintaan rumah tangga individu pada negara tersebut. Komoditi lada putih tidak dapat dikonsumsi langsung, melainkan harus diolah terlebih dahulu baru kemudian dapat dikonsumsi oleh konsumen pemakai akhir. Dengan demikian, permintaan impor lada putih dari suatu negara tertentu ataupun beberapa negara tidak langsung bersumber dari permintaan rumah tangga individu, akan tetapi bersumber dari permintaan para produsen pengolah lada putih, baru kemudian kepada permintaan rumah tangga individu.
Adapun model AIDS Indonesia dan Vietnam di pasar impor lada putih dunia adalah sebagai berikut:
Sindo=αindo+ indoLn mwd
p* + indo,indoLn PPindo + indo,vtnLn PPvtn +δindoLn PProw
+ indoLn PH+ indoLn WP+ indoLn NTindo+εt
... (20)
Svtn=αvtn+ vtnLn mwd
p* + vtn,indoLn PPindo + vtn,vtnLn PPvtn +δvtnLnPProw
+ vtnLnPH+ vtnLn WP+ vtnLn NTvtn+ε
t
... (21)
Dimana: Sindo : Pangsa pasar lada putih Indonesia di pasar impor lada putih dunia Svtn : Pangsa pasar lada putih Vietnam di pasar impor lada putih dunia PPindo : Harga lada putih (nilai ekspor per jumlah ekspor) Indonesia (USD/ton) PPvtn : Harga lada putih (nilai ekspor per jumlah ekspor) Vietnam (USD/ton) PProw : Harga lada putih (nilai ekspor per jumlah ekspor) sisa dunia/rest of world
(selain Indonesia dan Vietnam) (USD/ton)
mwd : Total pengeluaran dunia atas impor lada putih (USD)
p* : Corrected stone price index
PH : Harga lada hitam di pasar impor lada hitam dunia (USD/ton) WP : Jumlah penduduk dunia (orang)
NTindo : Nilai tukar nominal mata uang Indonesia (USD terhadap Rupiah) NTvtn : Nilai tukar nominal mata uang Vietnam (USD terhadap Dong) Dalam perhitungan, Ln (mwd/P*) ditulis sebagai LnMwdpPstone
Berdasarkan output pengolahan model AIDS, ditentukan nilai elastisitas- elastisitas untuk Indonesia dan Vietnam, yaitu: (1) elastisitas harga sendiri, (2) elastisitas harga silang, dan (3) elastisitas pengeluaran dunia atas impor lada putih atau dengan kata lain elastisitas nilai impor lada putih dunia. Elastisitas harga
sendiri dihitung dengan persamaan (16), elastisitas harga silang dengan persamaan (17), dan elastisitas nilai impor lada putih dunia dengan persamaan (18).
Adapun ukuran-ukuran elastisitas dan artinya, dapat dilihat pada Tabel 9 berikut.
Tabel 9 Ukuran-ukuran elastisitas model AIDS
No Besar Elastisitas Istilah Keterangan
1. Elastisitas Harga Sendiri
a. Ep= 0 Inelastis
sempurna
Pangsa pasar lada putih dunia suatu negara pengekspor (sumber impor) tidak berubah (tetap/konstan) dengan adanya perubahan harga lada putih negara pengekspor (sumber impor) tersebut. b. 0 < Ep < 1 Inelastis Pangsa pasar lada putih dunia suatu negara
pengekspor (sumber impor) berubah dengan persentase yang lebih kecil dari pada perubahan harga lada putih negara pengekspor (sumber impor) tersebut.
c. Ep = 1 Elastisitas unit
Pangsa pasar lada putih dunia suatu negara pengekspor (sumber impor) berubah dengan persentase yang sama dengan perubahan harga lada putih negara pengekspor (sumber impor) tersebut. d. 1 < Ep < Elastis Pangsa pasar lada putih dunia suatu negara
pengekspor (sumber impor) berubah dengan persentase yang lebih besar dari pada perubahan harga lada putih negara pengekspor (sumber impor) tersebut.
e. Ep = Elastis
sempurna
Berapapun pangsa pasar lada putih dunia suatu negara pengekspor (sumber impor), harga lada putih negara pengekspor (sumber impor) tersebut tidak berubah (tetap/konstan).
2. Elastisitas Silang
a. Ec > 0 (positif) Barang substitusi
Kenaikan harga barang substitusi lada putih dari suatu negara pengekspor (sumber impor) tertentu berakibat pada meningkatnya pangsa pasar lada putih dunia suatu negara pengekspor (sumber impor) tersebut.
b. Ec < 0 (negatif) Barang komplemen
Kenaikan harga barang komplemen lada putih dari suatu negara pengekspor (sumber impor) tertentu berakibat pada turunnya pangsa pasar lada putih dunia suatu negara pengekspor (sumber impor) tersebut.
3. Elastisitas Nilai Impor Lada Putih Dunia
a. Ei > 0 (positif) Pangsa pasar lada putih dunia suatu negara pengekspor (sumber impor) tertentu naik, sejalan dengan kenaikan nilai impor lada putih dunia (kenaikan nilai impor dunia mewakili perkembangan produksi olahan lada putih [kebutuhan input lada putih yang meningkat] dunia yang juga menggambarkan perkembangan negara-negara di dunia).
b. Ei < 0 (negatif) Pangsa pasar lada putih dunia suatu negara pengekspor (sumber impor) tertentu turun, sementara nilai impor lada putih dunia naik.
Pendugaan Model dan Pengujian Hipotesis
Koefisien regresi pada model AIDS diduga dengan metode Seemingly Unrelated Regression (SUR). Sementara itu, untuk menduga koefisien regresi pada model volume perdagangan lada putih dunia digunakan metode OLS (Ordinary Least Square). Uji asumsi yang dilakukan untuk memenuhi syarat OLS adalah uji multikolineritas, uji normalitas, uji heteroskedastisitas, dan uji autokorelasi, yaitu sebagai berikut:
1. Uji normalitas
Untuk mengetahui normalitas residual (error atau gangguan), maka digunakan Uji Jarque-Bera. Hipotesis yang disusun, yaitu:
H0: Residual (error atau gangguan) berdistribusi normal. Ha: Residual (error atau gangguan) tidak berdistribusi normal.
Jika nilai probabilitas (Jarque-Bera) lebih besar dari taraf nyata (α) yang digunakan, maka disimpulkan terima H0. Sehingga dapat dikatakan residual (error atau gangguan) pada model terdistribusi dengan normal atau dengan kata lain asumsi normalitas terpenuhi.
2. Uji heteroskedastisitas
Uji yang digunakan untuk melihat ada atau tidaknya sifat heteroskedastisitas pada model adalah Uji Heteroskedastisitas Umum White. Hipotesis yang disusun yaitu:
H0: Tidak ada heteroskedastisitas. Ha: Ada heteroskedastisitas.
Jika nilai probabilitas Obs*R-squared (Uji White) lebih besar dari taraf nyata (α) yang digunakan, maka disimpulkan terima H0. Atau dengan kata lain, disimpulkan tidak terdapat heteroskedastisitas pada model.
3. Uji autokorelasi
Uji yang digunakan untuk melihat ada atau tidaknya autokorelasi pada model adalah Uji Breusch-Godfrey Serial Correlation Lagrange Multiplier. Hipotesis yang disusun yaitu:
H0: Tidak ada autokorelasi. Ha: Ada autokorelasi.
Jika nilai probabilitas Obs*R-squared (Uji Breusch-Godfrey Lagrange Multiplier) lebih besar dari taraf nyata (α) yang digunakan, maka disimpulkan terima H0. Atau dengan kata lain, disimpulkan tidak terdapat autokorelasi pada model.
4. Uji multikolinearitas
Menurut Mason dan Lind (1999), korelasi antara variabel-variabel independen yang berada pada selang -0.70 sampai dengan 0.70 tidak menyebabkan masalah. Adanya multikolinearitas juga dapat diuji berdasarkan nilai VIF (Variance Inflation Factors) nya. Menurut Lind, Marchal, dan Wathen (2007), VIF yang lebih besar dari sepuluh (10) dianggap tidak memuaskan, yang mengindikasikan sebaiknya variabel bebas tersebut dibuang. Pramesti (2009) menyebutkan, jika nilai VIF lebih kecil dari sepuluh, maka dapat dikatakan model terbebas dari masalah multikolinearitas. Oleh sebab itu, jika nilai korelasi antar variabel independen berada pada selang -0.7 sampai 0.7 dan nilai VIF setiap variabel tersebut lebih kecil dari
sepuluh, maka disimpulkan tidak terdapat multikolinearitas pada model regresi linear.
Uji-F digunakan untuk melihat kesesuaian model secara keseluruhan, sedangkan uji-t digunakan untuk melihat nyata atau tidaknya pengaruh suatu variabel independen (bebas) terhadap variabel dependen (tidak bebas) di dalam model. Pada uji dua arah dengan uji-t, mengharuskan taraf nyatanya dibagi dua (α/β) (Sugiyono 1λλλ). Ringkasan kriteria uji-t untuk thitung dan nilai probabilitas dapat dilihat pada Tabel 10.
Tabel 10 Kriteria uji hipotesis dua arah dengan uji-t
No Nilai Kriteria Uji Kesimpulan
1. Statistik t-student thitung >tα
2(n-k-1) Tolak H0 pada taraf nyata α
2. Probabilitas (Sig.) Sig.<α Tolak H0 pada taraf nyata α Keterangan: DFerror/Derajat bebas penyebut = (n-k-1) H0 = Hipotesis nol (penolakan)
k = banyaknya variabel independen α = Taraf nyata (signifikansi) n = jumlah pengamatan atau sampel
Kriteria uji Fhitung dan nilai probabilitas dapat dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11 Kriteria uji hipotesis dua arah dengan uji-F
No Nilai Kriteria Uji Kesimpulan
1. Statistik F Fhitung>tα(v1,v2) Tolak H0 pada taraf nyata α
2. Probabilitas (Sig.) Sig.<α Tolak H0 pada taraf nyata α Keterangan: H0= Hipotesis nol (penolakan) α= Taraf nyata (taraf signifikansi)
v1= Derajat bebas pembilang (DF regression) = k
n= Jumlah sampel (pengamatan) v2= Derajat bebas penyebut (DF error) = (n-
k-1)
k= Jumlah variabel independen
5
GAMBARAN UMUM
Produksi Lada di Dunia
Komoditi lada ditanam di banyak negara. Negara-negara tersebut antara lain Indonesia, Vietnam, Malaysia, Brazil, Cina, India, Srilanka, Madagaskar, Ekuador, Thailand, Kamboja, Meksiko, Brunai, Fiji, Samoa, Micronesia, Guatemala, Honduras, St. Lucia, Tanzania, Malawi, Zimbabwe, Benin, Kenya, Kamerun, Etiopia, Uganda, Zambia, dan Papua New Guinea. Dewasa ini, Indonesia, Vietnam, Malaysia, Brazil, Cina, India, dan Srilanka menjadi negara- negara produsen lada yang utama (terbesar/signifikan) di dunia. Dalam rentang waktu 1993-2011, negara-negara seperti Vietnam, Malaysia, Brazil, India, dan Srilanka, lebih dominan memproduksi lada hitam dibandingkan lada putih. Sementara itu, negara Cina lebih banyak memproduksi lada putih. Untuk
Indonesia, jumlah produksi lada putih dan lada hitam nya tidak jauh berbeda. Negara produsen lada hitam terbesar adalah India dan Vietnam. Sedangkan negara produsen lada putih yang terbesar adalah Indonesia dan Cina. Kecenderungan produksi lada negara-negara produsen utama ini beragam. Untuk lada putih, negara yang mengalami kecenderungan peningkatan produksi paling besar adalah Vietnam (slope tren nya 1 310.21t). Sebaliknya, Indonesia memiliki kecenderungan produksi lada putih yang menurun (slope tren nya -342.90t), bahkan pertumbuhannya negatif. Untuk lada hitam, negara yang mengalami kecenderungan peningkatan produksi paling besar adalah Vietnam (slope tren nya 5 397.63t); sedangkan India sebaliknya, bahkan pertumbuhannya negatif (slope
tren nya -553.77t). Produksi lada oleh beberapa negara produsen utama selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 6.
Konsumsi Lada di Dunia
Pemanfaatan lada semakin berkembang, tidak lagi hanya sebatas “penajam” rasa pada makanan saja. Saat ini lada digunakan sebagai bahan baku obat-obatan (tradisional dan modern), nutraceuticals, perfumes (wewangian), dan produk lainnya. Selain itu, lada juga digunakan dalam bentuk yang berbeda-beda. Beberapa produk bernilai tambah yang telah dikembangkan antara lain pepper oil
(minyak lada), pepper oleoresin, green pepper in brine, dehydrated green pepper, dan freeze dried pepper. Sebagian besar produk-produk tersebut menghasilkan nilai baru atas komoditi lada, dengan menciptakan kegunaan-kegunaan baru, baik untuk (diaplikasikan pada) makanan, maupun nonmakanan. Sebagai contoh
pepper oleoresin, yang banyak digunakan dalam industri pengolahan daging. Komoditi lada yang diperjualbelikan di pasar dunia tidak untuk konsumsi langsung (direct consumption). Komoditi lada tersebut memerlukan proses lebih lanjut, sebelum dapat dikonsumsi oleh masyarakat, yang merupakan konsumen akhir. Hal ini menunjukkan bahwa permintaan lada di pasar dunia (internasional) merupakan cerminan dari permintaan konsumen antara, yaitu antara lain industri pengolahan makanan dan minuman yang menggunakan lada sebagai bahan bakunya; retail yang membutuhkan produk lada yang telah dikemas dan di-
grading atau mengemas dan meng-grading sendiri lada sebelum dijual ke masyarakat; serta restoran dan usaha-usaha pembuatan kue atau catering yang membutuhkan lada sebagai bahan bakunya (Pascale dan van Opijnen 2010).
Keragaan konsumsi lada di dunia didekati dari perkembangan impor oleh negara-negara produsen dan nonprodusen lada, serta konsumsi negara-negara produsen utamanya. Perkembangan impor lada dunia dapat dilihat pada Tabel 2 dan 3. Adapun konsumsi, khususnya oleh negara-negara produsen lada utama, yaitu Indonesia, Vietnam, Malaysia, Brazil, Cina, India, dan Srilanka, dapat dilihat pada Tabel 12.
Tabel 12 Total konsumsi lada oleh beberapa negara produsen tahun 1993-2011 dalam ton
Tahun Indonesia Vietnam Malaysia Brazil Cina India Srilanka
1993 7 500 2 500 800 4 000 10 500 15 000 1 200 1994 10 580 5 000 850 5 400 5 000 20 000 1 500 1995 12 420 4 000 900 4 400 8 000 25 000 800 1996 10 220 3 000 950 4 200 10 000 30 000 825 1997 12 432 1 500 1 000 4 000 10 000 25 000 825 1998 13 020 1 500 1 070 4 000 10 000 27 000 850 1999 12 530 1 500 1 200 4 000 10 000 30 000 800 2000 16 495 1 200 1 350 4 000 n.a. 35 000 800 2001 14 870 1 200 1 550 4 200 n.a. 50 624 4 680 2002 15 473 2 000 1 700 5 000 n.a. 52 000 4 800 2003 15 413 2 000 1 900 6 000 n.a. 58 000 4 800 2004 15 600 4 000 2 600 5 000 n.a. 60 000 5 764 2005 15 700 4 000 2 900 5 000 n.a. 61 000 5 946 2006 15 800 4 000 3 200 5 000 n.a. 61 000 6 129 2007 15 900 4 000 3 800 5 000 n.a. 58 000 6 313 2008 16 000 4 000 4 500 5 000 n.a. 55 000 6 389 2009 16 000 4 000 6 050 5 000 n.a. 50 000 6 608 2010 16 100 4 000 7 069 6 000 26 500 44 000 6 695 2011 16 000 4 700 7 828 6 000 29 000 42 000 7 000 Rataan 14 108 3 058 2 696 4 800 - 42 033 3 828 Trend 380.92t 95.09t 352.32t 83.51t - 2 125.22t 424.28t Keterangan: 1
Rata-rata dan trend Cina tidak dicari karena keterbatasan data; 2Analisis tren yang dilakukan adalah linear trend analysis; 3n.a: data tidak diketahui
Sumber: IPC (2012)14 (Diolah)
Selama tahun 1993 sampai 2011, tren peningkatan konsumsi lada domestik terbesar terjadi di India dengan rata-rata konsumsi 42 033 ton lada per tahun. Rata-rata dari total produksi lada (lada hitam dan lada putih) untuk Indonesia, Vietnam, Malaysia, Brazil, dan India selama periode 1993-2011, masing-masing, adalah 55 055; 68 043.16; 20 005; 33 804; dan 60 113.16 ton per tahun. Adapun Cina, dari tahun 2010 hingga 2011, memiliki rata-rata total produksi lada sebesar 24 050 ton per tahun. Ketika rata-rata total produksi lada negara-negara produsen utama yang disebutkan dibandingkan dengan rata-rata konsumsi nya (pada periode yang sama), maka dapat ditarik kesimpulan mengenai orientasi pasar dari masing-masing negara tersebut; apakah pasar domestik atau pasar dunia. Perbandingan ini diringkas pada Tabel 13.
14a
InternationalPepperCommunity [IPC]. 2012. Import of Pepper by Producing Countries, 2001-2010, Quantity in Metric Tons [Internet]. [diunduh tanggal 14 November 2012]. Tersedia pada: http://www.ipcnet.org/n/statpdf/pdf/1.11.b.pdf;
b
InternationalPepperCommunity [IPC]. 2012. Pepper News and Market Review January 2012 [Internet]. [diunduh tanggal 14 November 2012]. Tersedia pada: http://www.ipcnet.org/admin/data/news/1332295452pdf.pdf; c
International PepperCommunity [IPC]. 2013. Market Review 2012-The Outstanding Year [Internet]. [diunduh tanggal 28 April 2013]. Tersedia pada: http://www.ipcnet.org/index.php?p=ndetail&id=697&act=guide, dan Pepper Statistical Yearbook 1995-2003.
Tabel 13 Perbandingan konsumsi dan produksi lada beberapa negara produsen tahun 1993-2011 dalam ton
Periode Negara Produsen Rata-rata Persentase Lada Utama Total Produksi Lada1 (1) Konsumsi Lada2 (2) (2)/(1)
1993-2011 Indonesia 55 055 14 108 25.62 Vietnam 68 043.16 3 058 4.49 Malaysia 20 005 2 696 13.48 Brazil 33 804 4 800 14.20 India 60 113.16 42 033 69.92 2010-2011 Cina 24 050 27 750 115.38 Keterangan: 1
Lada putih dan lada hitam 2
Data yang diperoleh tidak memisahkan; apakah lada putih atau lada hitam
Jika dibandingkan, maka konsumsi lada domestik Indonesia, Vietnam, Malaysia, dan Brazil masih di bawah 30 persen dari total produksi lada mereka. Dengan demikian orientasi produksi lada dari negara-negara tersebut bukanlah untuk pasar domestik nya. Sementara itu, untuk India dan Cina, pasar domestik lada mereka lebih besar dari pada pasar ekspor nya. Hal ini tercermin dari konsumsi lada India yang hampir mencapai 70 persen dari pada total produksi nya. Bahkan Cina, konsumsi domestiknya lebih besar dari pada total jumlah produksi lada nya.
Ekspor Lada di Dunia
Telah diuraikan sebelumnya bahwa Indonesia, Vietnam, Malaysia, Brazil, Cina, India, dan Srilanka merupakan negara-negara produsen lada yang utama di dunia. Seperti hal nya dalam produksi, negara-negara tersebut pun memiliki kontribusi yang signifikan dalam hal ekspor di pasar impor lada dunia. Pada periode 1993-2011, India mengalami tren penurunan ekspor lada15 yang paling besar (slope tren nya -1 440.72t), sedangkan Vietnam mengalami pertumbuhan ekspor yang paling besar (slope tren nya 7 101.57t). Saat ditinjau spesifik per komoditi, Vietnam mengalami pertumbuhan ekspor lada putih yang paling besar (slope tren nya 1 337.65t), sementara Indonesia mengalami penurunan ekspor lada putih yang paling besar (slope tren nya -466.32t), dibandingkan negara-negara produsen lada utama lainnya: Malaysia, Brazil, Cina, dan India. Vietnam juga mengalami pertumbuhan ekspor yang paling besar untuk komoditi lada hitam (slope tren nya 5 763.92t), sementara India mengalami tren penurunan ekspor lada hitam yang paling besar (slope tren nya -1 531.94t), dibandingkan negara-negara produsen lada utama lainnya: Indonesia, Malaysia, Brazil, dan Cina. Malaysia mengalami tren penurunan ekspor, baik untuk lada putih, maupun lada hitam,