Penulis dilahirkan di Palembang pada tanggal 4 Desember 1988. Penulis adalah anak pertama dari dua bersaudara, dari pasangan Bapak Budiman Ginting dan Ibu Magdalena Tarigan.
Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SD Maria Goretti Sungailiat- Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada tahun 2000 dan pendidikan menengah pertama diselesaikan pada tahun 2003 di SLTP Santa Theresia Pangkalpinang Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pendidikan menengah atas di SMA Negeri 1 Sungailiat-Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung diselesaikan pada tahun 2006. Penulis diterima pada Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) pada tahun 2006, dan lulus sebagai Sarjana Ekonomi pada tahun 2010. Tahun 2011, penulis mendapat kesempatan untuk melanjutkan pendidikan magister di Program Studi Agribisnis Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor dengan mendapatkan beasiswa dari Beasiswa Unggulan Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri Kementerian Pendidikan Nasional (BUPKLN KEMENDIKNAS).
1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Rempah-rempah (spices) memainkan peranan yang penting dalam sejarah peradaban, penjelajahan, dan perdagangan di dunia, yang mana salah satu komoditi nya adalah lada. International Pepper Community (IPC) dan Food and Agriculture Organization of The United Nations (FAO) (2005) mencatat bahwa lada memiliki tempat yang penting dalam perdagangan rempah-rempah dunia karena menjadi komoditi pertama yang diperdagangkan secara internasional dan membuka rute-rute perdagangan antara “Dunia Barat” dan “Dunia Timur”. Saat ini, aktivitas perdagangan lada di dunia direpresentasikan oleh ekspor dan impor yang terjadi antar negara-negara.
Selama periode tahun 2004-2011, negara produsen yang merupakan pengekspor lada paling besar adalah Vietnam. Indonesia menjadi negara pengekspor lada terbesar yang kedua. Negara produsen lain yang termasuk dalam lima besar pengekspor lada terbesar adalah Brazil, India, dan Malaysia. Jumlah ekspor negara-negara produsen tersebut selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1 Total ekspor lada oleh beberapa negara produsen tahun 2004-2011 dalam ton No Negara 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 Total 1 Vietnam 98 494 109 565 116 670 82 904 89 705 134 264 116 861 123 808 872 271 2 Indonesia 44 191 35 055 35 663 38 446 52 407 50 642 62 599 36 487 355 490 3 Brazil 40 529 33 977 42 187 38 665 36 585 35 746 30 786 32 641 291 116 4 India 14 049 15 751 26 376 43 941 26 665 21 267 18 486 23 750 190 285 5 Malaysia 18 984 16 799 16 605 15 064 13 396 13 124 14 077 14 324 122 373 6 Srilanka 5 353 8 130 8 190 9 009 6 242 6 584 12 219 5 056 60 783 7 Cina 3 479 2 530 10 185 4 801 6 620 2 100 4 569 4 450 38 734 8 Lainnya 6 332 5 560 4 377 5 481 5 843 9 950 9 600 10 450 57 593 Total 231 411 227 367 260 253 238 311 237 463 273 677 269 197 250 966 1 988 645
Sumber: IPC (2012)1 (Diolah)
Sisi impor dapat dilihat dari impor yang dilakukan oleh negara-negara produsen dan juga oleh negara-negara nonprodusen lada (yang hanya mengkonsumsi, tidak memproduksi lada). Jumlah impor lada yang dilakukan oleh beberapa negara produsen lada, dapat dilihat pada Tabel 2.
1a
InternationalPepperCommunity [IPC]. 2012. Total Export of Pepper from Producing Countries, 2001-2010 in MT [Internet]. [diunduh tanggal 14 November 2012]. Tersedia pada: http://www.ipcnet.org/n/statpdf/pdf/1.08.pdf; b
International PepperCommunity [IPC]. 2012. Pepper News and Market Review January 2012 [Internet]. [diunduh tanggal 14 November 2012]. Tersedia pada: http://www.ipcnet.org/admin/data/news/1332295452pdf.pdf; c
InternationalPepperCommunity [IPC]. 2013. Market Review 2012 2012-The Outstanding Year [Internet]. [diunduh tanggal 28 April 2013]. Tersedia pada: http://www.ipcnet.org/index.php?p=ndetail&id=697&act=guide.
Tabel 2 Total impor lada oleh beberapa negara produsen tahun 2004-2011 dalam ton No Negara 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 Total 1 India 15 695 18 858 16 897 11 395 14 808 16 022 17 180 13 548 124 403 2 Vietnam 325 60 1 500 3 500 6 800 7 700 17 870 10 000 47 755 3 Malaysia 4 606 4 969 7 512 3 914 3 133 5 759 5 958 4 682 40 533 4 Cina 4 259 4 777 5 331 4 972 4 891 6 213 3 356 3 276 37 075 5 Indonesia 343 844 1 042 1 393 1 255 3 327 3 312 4 101 15 617 6 Brazil 202 363 249 550 753 469 501 558 3 645 7 Srilanka 34 44 50 47 96 62 62 35 430 8 Lainnya 159 202 321 688 476 584 2 133 2 255 6 818 Total 25 623 30 117 32 902 26 459 32 212 40 136 50 372 38 455 276 276
Sumber: IPC (2012)2 (Diolah)
Pada rentang tahun 2004-2011, negara produsen lada yang melakukan impor lada paling banyak adalah India. Kemudian diikuti, berturut-turut, oleh Vietnam, Malaysia, Cina, Indonesia, Brazil, dan Srilanka. Jumlah ekspor lada yang dilakukan oleh Vietnam, Indonesia, Brazil, India, Malaysia, dan Srilanka lebih banyak dari pada jumlah impor nya. Khusus untuk Cina, jumlah impor lada yang dilakukan oleh negara tersebut hampir menyamai jumlah ekspor nya (bandingkan data pada Tabel 1 dan 2). Sementara itu, beberapa negara nonprodusen lada (consuming countries) yang melakukan impor dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3 Impor lada oleh beberapa negara nonprodusen (consuming countries) selama tahun 2004-2010 dalam ton
No Negara 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Total 1 USA 65 990 66 895 70 539 63 941 64 789 65 855 70 470 468 479 2 Jerman 27 459 22 731 26 031 31 460 28 084 26 221 28 950 190 936 3 Belanda 14 226 13 183 15 409 14 745 13 090 15 765 15 000 101 418 4 Singapura 10 316 12 936 15 847 13 154 13 144 12 437 13 300 91 134 5 Rusia 7 698 9 356 10 099 7 473 9 589 9 358 9 070 62 643 6 Perancis 8 693 9 210 9 469 8 732 8 780 8 359 8 880 62 123 7 Jepang 8 146 8 993 9 208 9 108 7 781 8 784 8 908 60 928 8 Spanyol 9 232 7 991 8 503 7 663 7 727 8 659 6 862 56 637 9 United Kingdom 5 464 6 840 9 105 7 201 8 066 7 761 7 900 52 337 10 Uni Emirat Arab 1 514 510 3 422 10 071 10 782 10 782 10 860 47 941 11 Lainnya 100 945 100 782 98 887 94 648 99 449 105 575 101 082 701 368
Total 259 683 259 427 276 519 268 196 271 281 279 556 281 282 1 895 944
Sumber: IPC (2012)3 (Diolah)
Pada periode tahun 2004 sampai 2010, negara nonprodusen yang melakukan impor lada yang paling banyak adalah Amerika (USA). Sepuluh besar negara pengimpor lainnya, secara berturut-turut, yaitu Jerman, Belanda, Singapura, Rusia, Perancis, Jepang, Spanyol, United Kingdom, dan Uni Emirat Arab. Negara-negara nonprodusen pengimpor juga ada yang melakukan ekspor
2a
InternationalPepperCommunity [IPC]. 2012. Import of Pepper by Producing Countries, 2001-2010, Quantity in Metric Tons [Internet]. [diunduh tanggal 14 November 2012]. Tersedia pada: http://www.ipcnet.org/n/statpdf/pdf/1.11.b.pdf;
b
InternationalPepperCommunity [IPC]. 2012. Pepper News and Market Review January 2012 [Internet]. [diunduh tanggal 14 November 2012]. Tersedia pada: http://www.ipcnet.org/admin/data/news/1332295452pdf.pdf; c
International PepperCommunity [IPC]. 2013. Market Review 2012-The Outstanding Year [Internet]. [diunduh tanggal 28 April 2013]. Tersedia pada: http://www.ipcnet.org/index.php?p=ndetail&id=697&act=guide.
3
International Pepper Community [IPC]. Import of Pepper by Consuming Countries, 2001-2010, Quantity in Metric Tons [Internet]. [diunduh tanggal 14 November 2012]. Tersedia pada: http://www.ipcnet.org/n/statpdf/pdf/1.12.a.pdf.
dan reekspor (reexport) lada. Singapura merupakan negara yang paling banyak melakukan ekspor dan reekspor selama periode tahun 2004-2010, yaitu sebesar 96 020 ton. Jumlah yang diekspor dan direekspor oleh Singapura, dalam periode tersebut, lebih besar dari pada impornya (91 134 ton). Bahkan, Singapura mampu melampaui jumlah ekspor Srilanka dan Cina, yang termasuk dalam sepuluh besar negara produsen lada di dunia, pada selang tahun 2004-2010. Jumlah lada yang diekspor dan direekspor oleh beberapa negara nonprodusen yang melakukan impor, selama tahun 2004-2010, selengkapnya, dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4 Ekspor dan reekspor lada oleh beberapa negara nonprodusen (consuming countries) selama tahun 2004-2010 dalam ton
No Negara 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Total 1 Singapura 17 659 12 190 15 231 16 007 12 363 9 570 13 000 96 020 2 Belanda 10 357 10 417 11 655 11 342 9 705 9 974 10 900 74 350 3 Jerman 8 736 8 372 9 801 9 385 14 349 11 503 11 129 73 275 4 Meksiko 5 785 4 485 6 593 4 081 5 376 6 175 5 470 37 965 5 USA 4 414 4 620 5 349 5 329 5 364 5 467 5 590 36 133 6 Uni Emirat Arab 1 864 5 083 843 6 268 5 901 5 901 6 325 32 185 7 Perancis 942 1 301 1 375 1 711 2 449 2 966 2 500 13 244 8 Belgia 1 326 1 470 1 782 1 890 1 578 1 424 1 890 11 360 9 Ghana 1 500 2 005 1 500 1 522 1 372 1 372 1 500 10 771 10 Polandia 474 1 128 1 274 1 444 1 519 1 400 1 525 8 764 11 Lainnya 13 138 12 194 11 550 12 380 13 702 15 115 15 444 93 523 Total 66 195 63 265 66 953 71 359 73 678 70 867 75 273 487 590
Sumber: IPC (2012)4 (Diolah)
Lada yang diperdagangkan atau diekspor-diimpor ini umumnya adalah lada putih (white pepper), lada hitam (black pepper), ground pepper, green pepper, dan oleoresin. Akan tetapi, dua jenis komoditi lada yang utama atau paling besar jumlah yang diperdagangkannya adalah lada putih dan lada hitam. Jumlah ekspor lada putih dan lada hitam atas jumlah keseluruhan lada yang diekspor oleh negara-negara produsennya mencapai lebih dari 95 persen. Untuk harga, lada putih memiliki kecenderungan lebih mahal dibandingkan dengan lada hitam.
Indonesia adalah salah satu penghasil dan pengekspor utama lada putih di dunia. Komoditi ini (di Indonesia), diantaranya, diusahakan di daerah Kalimantan Barat; Kalimantan Timur; dan Bangka Belitung. Data menunjukkan bahwa Bangka Belitung merupakan produsen lada putih yang paling besar di Indonesia. Produksi lada putih Bangka Belitung mencapai sekitar 80-97 persen dari total produksi lada putih Indonesia. Bahkan, jika melihat sedikit ke belakang, sampai akhir tahun 90-an, pasokan lada putih Bangka Belitung di pasar dunia mencapai 60-80 persen (Kurniawati et al. 2009). Lada putih dari Bangka Belitung sendiri telah dikenal luas di pasar lada dunia dengan nama Muntok White Pepper. Sebagai komoditi ekspor, komoditi lada putih ini memberikan kontribusi devisa bagi Indonesia. Pada tahun 2010, nilai ekspor lada putih Indonesia mencapai US$ 73 701 0005. Sementara, pada tahun yang sama, di triwulan pertama, nilai ekspor
4
International Pepper Community [IPC]. Export and Re-export of Pepper by Consuming Countries, 2001-2010, Quantity in Metric Tons [Internet]. [diunduh tanggal 14 November 2012]. Tersedia pada: http://www.ipcnet.org/n/statpdf/pdf/1.13.a.pdf.
5
International Pepper Community [IPC]. 2012. Indonesia: Annual Export of Black and White Pepper 2001-2010 [Internet]. [diunduh tanggal 14 November 2012]. Tersedia pada: http://www.ipcnet.org/n/statpdf/pdf/2.17.pdf.
lada bagi Bangka Belitung mencapai US $ 5 885 143.436; triwulan kedua sebesar US $ 7 527 867.307; dan triwulan ketiga sebesar US $ 13 085 128.278.
Beberapa tahun terakhir, jumlah ekspor lada putih Indonesia mengalami tren penurunan, seperti yang terlihat pada Gambar 1. Ekspor terendah terjadi pada tahun 2011 (dibandingkan tahun 2002), dan hingga tahun 2011, jumlah ekspor lada putih belum pernah lagi mencapai kondisi seperti pada tahun 2002. Penurunan ekspor lada putih Indonesia tersebut sejalan dengan penurunan produksi lada putih di Indonesia dan Bangka Belitung (tren produksi lada putih Indonesia dan Bangka Belitung dapat dilihat pada Lampiran 1). Penurunan produksi lada putih ini mencerminkan adanya permasalahan pada pengusahaannya. Sebagai produsen lada putih terbesar di Indonesia, adanya permasalahan pengusahaan komoditi lada putih di Bangka Belitung tentunya memberi dampak yang signifikan terhadap keragaan komoditi lada putih di Indonesia.
Gambar 1 Ekspor lada putih oleh Indonesia (IPC dan FAO 2005; BPS RI 2012; dan IPC9 [Diolah])
Penurunan produksi lada putih, seperti yang terjadi di Bangka Belitung, antara lain disebabkan oleh: produktivitas tanaman lada yang rendah akibat teknik budidaya yang masih tradisional; berkurangnya luas areal tanam lada yang diantaranya disebabkan oleh alih fungsi lahan untuk penambangan timah dan penanaman kebun kelapa sawit; serangan hama dan penyakit pada tanaman lada, terutama yang paling banyak ditemui adalah penyakit busuk pangkal batang; harga input dan sarana produksi pertanian yang mahal, seperti junjung dan pupuk; masalah permodalan yang dihadapi oleh sebagian besar petani lada; serta
6Anonim. 2011.
Realisasi Ekspor Diperkirakan Meningkat [Internet]. [diunduh tanggal 26 November 2012]. Tersedia pada: http://cetak.bangkapos.com/bisnis/read/38824/Realisasi+Ekspor+Diperkirakan+Meningkat.html.
7
Ibid
8Anonim. 2011.
Harga Lada Terus Naik [Internet]. [diunduh tanggal 25 November 2012]. Tersedia pada: http://bangka.tribunnews.com/mobile/index.php/2011/01/08/harga-lada-terus-naik.
9
International PepperCommunity [IPC]. 2012. Indonesia: Annual Export of Black and White Pepper 2001-2010 [Internet]. [diunduh tanggal 14 November 2012]. Tersedia pada: http://www.ipcnet.org/n/statpdf/pdf/2.17.pdf.
0 5000 10000 15000 20000 25000 30000 35000 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 J u m la h e k sp o r la d a p u tih In d o n esia (to n ) Tahun
rendahnya inovasi pada produk pascapanen lada. Akan tetapi, permasalahan yang paling pasti adalah harga lada yang cenderung rendah dan berfluktuasi, sehingga tidak cukup menarik bagi para petani untuk merawat kebun dan meningkatkan produksi lada mereka. Senada dengan hal tersebut, International Pepper Community (IPC) dan Food and Agriculture Organization of The United Nations
(FAO) (2005) menyatakan bahwa isu utama yang mempengaruhi produksi dan pemasaran lada selama beberapa dekade terakhir adalah volatilitas harga. Siklus, dimana posisi harga lada rendah, terjadi cukup teratur, yaitu setiap delapan hingga sepuluh tahun. Hal ini sangat mempengaruhi pendapatan para petani, sehingga mengakibatkan kurangnya perawatan kebun, tingginya serangan hama dan penyakit, dan bahkan ditinggalkannya pengusahaan perkebunan lada (mengenai harga lada putih, selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 2).
Sementara Indonesia, yang sudah dikenal di dunia sebagai penghasil lada putih (yang terkenal adalah Muntok White Pepper, yang dihasilkan di Bangka Belitung) menghadapi kenyataan penurunan produksi lada putih dan juga ekspornya, muncul Vietnam, dengan tren peningkatan atas produksi dan ekspor lada putih nya. Situasi ini dapat menyebabkan “tekanan” bagi pangsa lada putih Indonesia di pasar lada putih dunia (internasional). Terlebih lagi karena pasar utama yang menyerap hasil produksi lada putih Indonesia dan Vietnam sama- sama pasar dunia. Sebenarnya, Cina juga merupakan negara utama penghasil lada putih di dunia, bersama Indonesia dan Vietnam. Akan tetapi, lada putih yang dihasilkan oleh Cina sebagian besar untuk pasar domestik mereka sendiri, yang disimpulkan dari perbandingan jumlah produksi dan ekspor lada putih nya (berdasarkan perbandingan data IPC pada Lampiran 3) dan hasil wawancara dengan pihak BP3L (Badan Pengelolaan, Pengembangan, dan Pemasaran Lada) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Desakan terhadap pangsa lada putih Indonesia di pasar lada putih dunia semakin mungkin terjadi karena dapat disubstitusinya lada putih dengan lada hitam (IPC dan FAO 2005). Kulit lada hitam dikupas dan kemudian dijadikan bahan obat-obatan, sedangkan isinya dikeringkan dan dijadikan bubuk yang berfungsi sama dengan lada putih (lada hitam diubah menjadi lada putih). Harga lada hitam yang lebih murah, serta jumlah ekspor (pasokan) nya yang lebih banyak dibandingkan lada putih menjadikannya alternatif pilihan. Ditambah lagi dengan fakta bahwa pertumbuhan ekspor lada hitam lebih besar dibandingkan dengan lada putih; terlihat dari besar slope (kemiringan) tren ekspor lada hitam yang lebih besar dari pada lada putih (Lampiran 5); yang juga berarti bahwa penyerapan atau permintaan komoditi lada hitam di pasar impor lada dunia lebih besar dari pada lada putih.
Adanya “tekanan/desakan pasar” ini, menuntut Indonesia untuk memiliki dan meningkatkan daya saing, khususnya daya saing ekspornya, agar mampu mempertahankan dan harapannya meningkatkan pangsa pasar lada putih nya. Peningkatan daya saing juga berguna untuk mendukung usaha peningkatan produksi lada putih yang dilakukan oleh pemerintah, seperti misalnya melalui program revitalisasi lada putih yang dilakukan di Bangka Belitung. Akan menjadi masalah baru nantinya, apabila peningkatan produksi lada putih tercapai, tetapi tidak tersedia pasar untuk menyerapnya, dalam hal ini pasar ekspor yang merupakan pasar utama lada putih Indonesia.
Perumusan Masalah
Indonesia, yang sudah dikenal di dunia sebagai penghasil lada putih10 menghadapi kenyataan penurunan produksi dan juga ekspor lada putih. Situasi ini diikuti oleh adanya desakan/tekanan terhadap pangsa pasar nya di pasar lada putih dunia atau internasional, yang berasal dari Vietnam11 dan dapat disubstitusinya komoditi lada putih dengan lada hitam. Dengan demikian perlu dilihat berada dimanakah posisi atau daya saing lada putih Indonesia saat ini, akibat adanya desakan-desakan tersebut, di pasar lada putih dunia. Hal ini berguna sebagai saran/informasi untuk menentukan strategi-kebijakan yang tepat dalam rangka menjaga pangsa pasar ekspor lada putih Indonesia yang sudah ada, serta harapannya untuk meningkatkan pangsa pasar lada putih Indonesia di pasar lada putih dunia.
Oleh sebab itu, penelitian ini melakukan analisis mengenai pasar ekspor lada putih Indonesia di pasar impor lada putih dunia, dengan rumusan masalah sebagai berikut:
1. Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi volume perdagangan lada putih di dunia?
2. Bagaimana posisi/daya saing lada putih Indonesia di pasar impor lada putih dunia?
3. Bagaimana alternatif strategi-kebijakan pemasaran lada putih Indonesia di pasar impor lada putih dunia?
Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk:
1. Menentukan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi volume perdagangan lada putih di dunia.
2. Menentukan posisi/daya saing lada putih Indonesia di pasar impor lada putih dunia.
3. Menentukan alternatif strategi-kebijakan yang tepat untuk pemasaran lada putih Indonesia di pasar impor lada putih dunia.
Manfaat
Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk:
1. Menambah pengetahuan dan wawasan tentang keilmuan agribisnis, khususnya mengenai pemasaran, juga daya saing, lada putih Indonesia.
2. Menjadi informasi dan pengetahuan bagi penelitian lanjutan.
3. Sebagai sumber informasi untuk pengembangan komoditi lada putih bagi pemerintah Indonesia dan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, serta pihak- pihak (para pelaku) yang terlibat di dalam sistem agribisnis komoditi lada putih Indonesia.
10Yang terkenal adalah
Muntok White Pepper, yang dihasilkan di Bangka Belitung.
Ruang Lingkup Penelitian
Dalam penelitian ini, yang dimaksud dengan pasar ekspor lada putih adalah pasar lada putih suatu negara pengekspor tertentu di suatu negara pengimpor tertentu, dilihat dari sudut pandang negara pengekspor tertentu tersebut. Sementara, yang dimaksudkan dengan pasar impor lada putih adalah pasar lada putih dari negara pengekspor tertentu di negara pengimpor tertentu, dilihat dari sisi negara pengimpor tertentu tersebut. Negara-negara pengekspor yang dianalisis dalam penelitian ini, terkait daya saing nya, adalah Indonesia dan Vietnam. Alasan pemilihan Vietnam adalah karena tren peningkatan produksi dan ekspor lada putihnya. Jika dibandingkan (data dari IPC, dapat dilihat pada Lampiran 3), maka terlihat bahwa jumlah ekspor lada putih Vietnam hampir menyamai jumlah produksi nya (pada tahun-tahun tertentu jumlah ekspor lebih besar dari pada jumlah produksi). Bahkan, baik jumlah ekspor, maupun produksi lada putih Vietnam mulai melampaui Indonesia. Berdasarkan hal-hal tersebut juga dapat disimpulkan bahwa pasar utama lada putih dari Vietnam adalah pasar ekspor/impor (dunia), sama hal nya dengan Indonesia.
2
TINJAUAN PUSTAKA
Komoditi Lada
Lada menjadi salah satu jenis rempah-rempah yang paling tua dan penting di dunia, sehingga lada juga seringkali disebut King of Spices. Pada abad pertengahan dan zaman Renaissance, dalam sejarah penjelajahan, rempah-rempah (termasuk di dalamnya lada) mempunyai kedudukan yang tinggi dan sangat spesial. Bahkan pada zaman kuno dan medieval, nilainya seringkali disetarakan dengan emas dan batu permata. Produk utama komoditi lada yang diperdagangkan di dunia (secara internasional) adalah lada putih (white pepper) dan lada hitam (black pepper). Lada putih dan lada hitam sebenarnya berasal dari buah lada yang sama. Lada putih merupakan olahan dari buah lada yang telah matang di pohon, dipanen, dan dikelupas kulitnya, serta dikeringkan. Sedangkan lada hitam merupakan buah tanaman lada yang dipanen sebelum buah matang dan masih berwarna hijau, serta langsung dikeringkan tanpa pengelupasan kulit.
Lada (Piper nigrum Linn) merupakan famili Piperaceae. Famili tersebut terdiri dari 10-12 genus dan 1 400 spesies, yang bentuknya beragam, seperti herba, semak, tanaman menjalar, hingga pohon-pohonan. Lada dari genus Piper merupakan spesies tanaman yang berasal dari Ghats, Malabar India (Rismunandar 2007). Ciri morfologi dari tanaman lada antara lain: 1) berakar tunggang (dikotil); 2) perakarannya terdiri atas dua jenis, yaitu akar yang tumbuh dari buku di atas tanah (untuk menopang batang pokok dan menjalar atau memanjat pada tiang panjat atau inangnya) dan akar yang tumbuh dari buku di dalam tanah (sebagai penghisap makanan atau feeding roots); 3) memiliki satu batang pokok dengan dua macam cabang (orthotropis atau vertikal dan plagiotropis atau horizontal), yang menyebabkan lada memiliki cabang yang banyak; 4) buku-buku batang agak membengkak, dimana dari buku-buku tersebut keluar daun, tunas, dan perbungaan; 5) berdaun tunggal, letaknya berselang-seling pada cabang, berwarna
hijau gelap, lembaran daun sebelah atas agak mengkilap dan sebelah bawahnya pucat dan berkelenjar; 6) perbungaannya berbentuk bulir yang tumbuh di seberang daun, bunganya berukuran kecil, dan tanpa perhiasan bunga; 7) buahnya buni tak bertangkai, berbiji satu, berkulit keras, dibalut oleh daging buah yang tebal; serta 8) memiliki tinggi antara 5-15 m.
Tanaman lada dikenal sebagai tanaman tahunan dan perkebunan, yang pada dasarnya merupakan tanaman tropis, serta membutuhkan curah hujan dan suhu yang tinggi, yang banyak dan merata. Lada dapat tumbuh pada daerah dengan ketinggian mencapai 1 500 m di atas permukaan laut (dpl), tetapi tumbuh lebih subur di daerah pada ketinggian 500 m dpl atau kurang, dengan curah hujan 2 200-5 000 mm dalam setahun, suhu antara 18°C-35°C, kelembaban udara berkisar antara 50-100 persen, serta perubahan musim yang cukup baik (musim kemarau yang cukup panjang, sekitar 2-3 bulan untuk menumbuhkan bunga dan buah).
Di Indonesia, budidaya lada sudah berlangsung sejak ratusan tahun yang lampau. Tanaman lada kemungkinan dibawa koloni Hindu ke Jawa antara tahun 100 SM (Sebelum Masehi) sampai 600 M (Masehi). Marcopolo dalam riwayat hidupnya pada tahun 1298, menguatkan hal tersebut dengan mengatakan bahwa pada tahun 1280 di Jawa telah terdapat pengusahaan tanaman lada. Pada tahun 1720 sepertiga bagian dari seluruh keuntungan yang diperoleh VOC, semasa menduduki Indonesia, berasal dari komoditi lada. Pada tahun 1772, kontribusi lada semakin besar terhadap seluruh keuntungan VOC tersebut, yaitu mencapai dua per tiga bagiannya (Ditjenbun Deptan 2009). Bahkan sebelum perang dunia kedua, Indonesia memasok 80 persen kebutuhan lada dunia (Edizal 1998). Tanaman lada di Indonesia memiliki banyak nama daerah, diantaranya lada (Aceh, Batak, Lampung, Buru, dan Nias), raro (Mentawai), lado (Minangkabau), merico (Jawa), maica (Bali), ngguru (Flores), malita lo dawa (Gorontalo), marica atau barica (Sulawesi Selatan), rica jawa (Halmahera, Ternate, Minahasa), leudeu pedih (Gayo), sahang (Bangka, Banjarmasin, Jawa Barat), sakang (Madura), saha (Bima), dan mboko saah (Ende).
Adapun daerah-daerah di Indonesia yang memenuhi persyaratan untuk budidaya lada, antara lain: Lampung, Bangka Belitung, Kalimantan Timur, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, Sulawesi Tenggara, Bengkulu, Kalimantan Tengah, dan lainnya (selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 4). Lampung dan Bangka Belitung merupakan produsen lada terbesar di Indonesia, dimana Bangka Belitung sebagai produsen lada putih (Muntok White Pepper) dan Lampung sebagai produsen lada hitam (Lampong Black Pepper). Budidaya lada di Indonesia ini sebagian besar dilakukan oleh rakyat atau
smallholders, bukan oleh pemerintah ataupun swasta dalam skala yang besar. Sekitar 99,9 persen produksi lada Indonesia dihasilkan dari perkebunan lada yang dikelola oleh rakyat (petani) atau smallholders (lihat Tabel 5).
Tabel 5 Luas areal dan produksi perkebunan lada di Indonesia menurut pengusahaan tahun 2009
No Pengusahaan Produksi (ton) Luas Areal (ha)
1. Perkebunan Rakyat 82 833 185 937
2. Perkebunan Pemerintah (Negara) - -
3. Perkebunan Swasta 1 4
Total 82 834 185 941
Keterangan: -) Tidak mengusahakan
Sumber: Ditjenbun Deptan (2012)12 (Diolah)
Sampai dengan tahun 2011, luas areal tanaman lada perkebunan rakyat adalah seluas 179 034 ha, dengan keterlibatan petani sebanyak 322 294 KK (Kepala Keluarga). Total tanaman menghasilkan nya adalah seluas 110 896 ha. Sedangkan luas areal tanaman lada perkebunan besar swasta sampai dengan tahun 2011 adalah seluas 4 ha (Direktorat Jenderal Perkebunan 2011)13.
Lada putih dari Bangka Belitung sudah dikenal di pasar internasional. Bahkan komoditi ini memiliki brand, yaitu Muntok White Pepper. Penamaan
Muntok White Pepper, salah satunya, disebabkan karena lada putih dari Bangka Belitung, pertama kali diperdagangkan secara internasional (diekspor) melalui pelabuhan Muntok di Kecamatan Muntok, Kabupaten Bangka Barat (setelah pemekaran). Roosgandha (2003), menyebutkan bahwa petani lada di Kabupaten Bangka, melakukan panen lada saat buah lada sudah masak yang ditandai dengan warna kuning sampai merah. Panen umumnya dilakukan dengan pemetikan mempergunakan tangan. Kemudian diolah dengan cara memasukkan lada yang telah dipanen tersebut ke dalam karung plastik. Setelah itu direndam dalam air (umumnya air mengalir) selama 7-14 hari, setelah itu dicuci untuk menghilangkan kulitnya. Dilanjutkan dengan menjemurnya dibawah sinar matahari selama 2-3 hari. Dari hasil pengolahan tersebut akan diperoleh lada putih kering dengan rendemen berkisar antara 15-45 persen atau rata-rata 24 persen. Perilaku ini juga merupakan perilaku yang terjadi secara umum di Bangka Belitung. Oleh karena itu, jika berbicara mengenai produksi lada di Bangka Belitung, maka yang dimaksud adalah produksi lada putih.
Tinjauan Penelitian Terdahulu Kelayakan Pengusahaan Lada
Marwoto (2003) melakukan penelitian tentang perkebunan lada rakyat Kabupaten Bangka. Hasil penelitian menunjukan ketidakefisienan, yang tercermin dari kecenderungan penurunan nilai NPV menjadi Rp 2 148 648 dan B/C sebesar 1.13 pada skala usaha 5 tahunan dan tingkat suku bunga 12 persen, dengan PC