Waktu dan Tempat Penelitian.
Penelitian dilaksanakan mulai bulan Pebruari-Mei 2007 di areal perkebunan sawit Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur.
Kecamatan Muara Wahau menjadi lokasi penelitian tersebut karena wilayah ini merupakan kecamatan pertama yang penduduknya lebih awal menanam sawit (3 – 6 tahun umur sawit), milik rakyat yang dapat dijadikan model pemeliharaan sapi secara terintegrasi dengan sawit di Kutai Timur.
Bahan Penelitian
Penelitian ini menggunakan sapi Bali yang dipelihara di areal perkebunan sawit milik rakyat, dan hijauan makanan ternak yang tumbuh di areal perkebunan tersebut.
Metode Pengambilan Data dan Responden
Untuk pengambilan data primer dilakukan langsung kepetani untuk memperoleh data kualitatitf/informasi integrasi sawit-ternak sapi, dari hasil pengukuran yang dilakukan berdasarkan masing-masing peubah dalam penelitian tersebut, sedangkan data sekunder diperoleh dari instansi dalam lingkup pemerintah Kabupaten Kutai Timur dan provinsi Kalimantan Timur.
Peubah yang diamati
Dalam penelitian ini, peubah yang diamati adalah : (1) komposisi dan populasi ternak ruminansia khususnya sapi, (2) komposisi botani dan produktifitas HMT di areal kebun sawit, (3) kapasitas daya tampung dan peningkatan populasi ternak ruminansia serta tingkat kepadatan ternak.
Prosedur Penelitian
Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan prosedur sebagai berikut : 1. Data-data populasi ternak, pemanfaatan lahan, pemotongan ternak, iklim
lingkup pemerintah kabupaten Kutai Timur dan provinsi Kalimantan Timur.
2. Identifikasi jenis HMT yang ada di areal kebun sawit dilakukan dengan pengamatan dibeberapa areal kebun sawit secara langsung dengan teknis dalam areal dibuat cluster ± 10 x 10 m2 kemudian diamati HMT yang terdapat didalam cluster tersebut hal ini dilakukan dengan 16 lokasi secara acak dengan tempat yang berbeda-beda dilokasi penelitian
3. Untuk menghitung produktivitas hijauan makanan ternak (HMT) di areal kebun sawit dengan membuat Cluster (M2), dimulai dengan mengukur tinggi HMT yang terdapat didalam cluster tersebut, kemudian mengukur seberapa tinggi yang direnggut ternak, dan mengukur sisa renggutan ternak dengan memotong rata dengan tanah dan menimbangnya yang dilakukan secara acak dengan lokasi yang berbeda-beda. Kemudian pada
Cluster yang lain dilakukan juga pengukuran tinggi, pemotongan HMT
kemudian ditimbang beratnya, guna mengetahui berapa banyak (kg) produksi HMT di areal perkebunan sawit, demikian juga dilakukan secara acak pada lokasi lahan yang berbeda-beda.
4. Melakukan pengamatan sosial melalui pendekatan wawancara/qusioner untuk memperoleh informasi/data penerapan koefiesien tekhnis yang riil meliputi tatalaksana pemeliharaan, kelahiran anak, kematian anak, kematian pedet, kematian jantan, induk, luas lahan, dan pemanfaatan sumberdaya ternak serta lahan dalam usaha tani.
Analisa Data Populasi Ternak Ruminansia
Untuk perhitungan persentase jumlah populasi ternak ruminansia berdasarkan umur dan jenis ternak sapi, kerbau, kambing dan domba digunakan nilai konversi (persentase) masing-masing ternak anak, muda dan dewasa. Nilai persentase yang digunakan terlihat pada Tabel 6. Untuk jumlah satuan ternak (ST) ruminansia untuk setiap jenis ternak, maka dihitung berdasarkan persentase struktur populasi (ekor) dikalikan dengan nilai standar satuan ternak.
Tabel 6 Standar konversi populasi ternak berdasarkan jenis ternak dan umur.
Prosentase (%) Standar Satuan Ternak (ST) Jenis Ternak
Anak Muda Dewasa Anak Muda Dewasa
Sapi 16.99 26.68 56.33 0.25 0.60 1.00
Kerbau 11.14 25.15 63.71 0.29 0.69 1.15
Sapi Perah 14.12 26.92 58.96 0,25 0.60 1.00
Domba 3.19 14.28 82.53 0.04 0.07 0.14
Kambing 10.92 14.23 74.85 0.04 0.08 0.16
Sumber : Dinas Peternakan Sulawesi Selatan (2004).
Komposisi Botani dan Produktivitas Hijauan Makanan Ternak
Hasil pengamatan komposisi botani yang diperoleh di areal kebun sawit, diolah melalui pendekatan Sofware exel.
Kalsifikasi produktivitas HMT kategori 25-30% adalah ringan, 40-50% sedang, 60-70%, maka dihitung berdasarkan pendekatan rumus Proper use Ilroy dan Susetyo (1976) sebagai berikut :
a1 – b1
PUF = --- 100% a1
Dimana :
PUF = Profer Use Factor
a1 =
a/m
2 adalah hijauan sebelum direnggut b1 =b/m
2 adalah sisa hijauan setelah direnggutDaya dukung hijauan makanan ternak bahan segar (DDHMT-BS) digunakan rumus sebagai berikut :
) (ton/tahun ST 1 Kebutuhan r) (ton/hekta segar Produksi Segar Bahan DDHMT =
Kapasitas Peningkatan Populasi Ternak
Perhitungan kapasitas peningkatan populasi ternak ruminansia, dilakukan dengan menggunakan bentuk persamaan (Fakultas Peternakan, 1985) :
1. PMSL = a LG + b PR + c R + d KS ...(1) PMSL = Potensi maksimum(ST)berdasarkan sumberdaya lahan
yaitu :
a = Daya tampung ternak ruminansia (ST) lahan garapan. LG = Lahan garapan
b = Daya tampung ternak ruminansia (ST) lahan padang rumput.
b = 0.5 ST/hektar rumput alam, 1 ST/hektar alang-alang PR = Padang rumput/tegalan
c = Daya tampung ternak ruminansia (ST) lahan rawa c = rawa air tawar 2 ST/hektar
rawa pasang surut 1.2 ST/hektar R = Luas lahan rawa
d = Daya tampung ternak ruminansia (ST) di areal kebun sawit.
KS = Luas kebun sawit.
2. KPPTR (SL) = PMSL - POPRIL ...(2) KPPTR (SL) = Kapasitas peningkatan populasi ternak ruminansia
(ST) berdasarkan sumberdaya lahan. PMSL = Persamaan 1.
POPRIL Populasi riil ternak ruminansia
3. PMKK = a KK ... (3) PMKK = Potensi maksimum usaha ternak (ST) berdasarkan kepala
keluarga
KK = Kepala keluarga
a = Kemampuan rumah tangga untuk usaha ternak ruminansia tanpa kerja dari luar rumah tangga a = 3 ST/KK
Kepadatan ternak dibedakan dalam tiga tipe kepadatan yaitu kepadatan ekonomi dan kepadatan usaha tani (Ditjen Peternakan dan Balitnak, 1995) :
1. Kepadatan ekonomi ternak sapi potong di Kutai Timur, diukur dari jumlah populasi/1000 penduduk.
Populasi ternak ruminansia (ST)
Kepadatan Ekonomi : −−−−−−−−−−−−−−−−−−−−− x 1000.
Penduduk
Kriteria yaitu sangat padat >300, padat >100-300, sedang 50-100 dan jarang <50.
2. Kepadatan usaha tani diukur dari jumlah populasi ternak ruminansia per hektar
Populasi ternak ruminansia (ST)
Kepadatan Usaha Tani = −−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−− Luas lahan garapan (ha)
Luas lahan yang dimaksud adalah luas sawah dan luas kebun, kriteria yang digunakan yaitu kategori sangat padat >2, padat >1-2, sedang 0.25-1.0 dan jarang <0.25.
Analisis Ekonomi Produktifitas Lahan
Produktifitas lahan sawit dengan introduksi sapi potong, maka variabel yang diamati adalah sebagai berikut :
a. Lahan sawit/hektar tanpa introduksi sapi potong meliputi :
• Biaya produksi (pupuk, tenaga kerja babat, dan obat-obatan)
• Hasil produksi ; hasil penjualan buah sawit yang dipanen. b. Lahan sawit dengan introduksi sapi potong di areal kebun sawit :
• Biaya produksi (bibit, penanaman, pupuk, tenaga kerja babat, pembelian sapi bakalan dan angkutan buah sawit).
• Hasil produksi dan nilai ekonomi lainnya ; 1. Hasil penjualan buah kelapa sawit. 2. Penjualan sapi.
Pendapatan petani peternak dari usaha tani yang dilakukan, maka dihitung dengan analisis pada tabel sebagai berikut :
Tabel 7 Model analisis pendapatan usaha tani integrasi.
Usaha Ternak Sapi Potong Usaha Tani Tanaman
1. PENERIMAAN (GROSS OUTPUT) Penjualan Sapi = - A 2. BIAYA PRODUKSI Bakalan = - Hijauan = - Peralatan/obat = - B
3.PENDAPATAN BERSIH USAHA TERNAK POTONG (NET FARM INCOME) = A – B
1. PENERIMAAN (GROSS OUTPUT) - Perkebunan = - A 2. BIAYA VARIABEL - Bibit = - - Pupuk = - - Pestisida = - - Tk. Luar = - B 3. BIAYA TETAP - Penyusutan modal = - - Penyusutan bangunan = - C
4. PENDAPATAN BERSIH USAHA TANI TANAMAN = A - (B + C )
Sumber : Brown (1979).
Analisis Pengembangan Integrasi Sawit Ternak Sapi
Penetapan strategi pengembangan maka dilakukan analisis berdasarkan pendekatan SWOT berdasarkan prosedur pemaparan David (2002) yang meliputi faktor internal dengan menggunakan matrik Internal Factor Evaluation sebagai berikut :
1. Menentukan faktor kekuatan (Strengths) dan kelemahan (Weakness) dengan responden terbatas.
2. Menentukan derajat kepentingan relatif setiap faktor internal (bobot). Penentuan bobot faktor internal dilakukan dengan memeberikan penilaian atau pembobotan angka pada masing-masing faktor.
3. Memberikan skala rating 1-4 untuk setiap faktor untuk menunjukkan apakah faktor tersebut mewakili kelemahan utama (peringkat = 1), kelemahan kecil (peringkat = 2), kekuatan kecil (peringkat = 3), dan kekuatan utama (peringkat = 4). Pemberian peringkat didasarkan atas kondisi atau keadaan pengembangan agribisnis di Kabupaten Kutai Timur. 4. Mengalikan bobot dengan rating untuk mendapatkan skor tertimbang 5. Menjumlahkan semua skor untuk mendapatkan skor total. Nilai 1
menunjukkan bahwa kondisi internal yang sangat baik rata-rata nilai yang dibobotkan adalah 2.5. Nilai lebih kecil dari 2.5 menunjukkan bahwa
kondisi internal selama ini masih lemah. Sedangkan nilai lebih besar dari pada 2.5 menunjukkan kondisi internal kuat. Analisis faktor tersebut diatas dapat menggunakan matriks berikut :
Tabel 8 Matriks analisis faktor internal pengembangan sapi
No Faktor Internal Bobot Rating Bobot x Rating
1 2 3 Kekuatan (Strenghts) ... ... ... 1 2 3 Kelemahan (Weaknes) ... ... ... Total 1
Exsternal factor Evaluation untuk mengevaluasi masalah eksternal yang
meliputi politik, ekonomi, sosial budaya dan teknologi, hal ini menggunakan Matriks EFE (External Factor Evaluation) dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Menentukan faktor utama yang berpengaruh penting pada kesuksesan dan kegagalan usaha yang mencakup peluang (opportunities) dan ancaman
(threats) dengan melibatkan beberapa responden.
2. Menentukan derajat kepentingan relatif setiap faktor eksternal (bobot). Penentuan bobot dilakukan dengan memberikan penilaian atau pembobotan angka pada masing-masing faktor. Penilaian angka pembobotan adalah 2 jika faktor vertikal lebih penting dari faktor horizontal; 1 jika faktor vertikal sama dengan faktor horizontal ; dan 0 jika faktor vertikal kurang penting dari faktor horizontal.
3. Memberi peringkat (rating) 1-4 pada peluang dan ancaman untuk menunjukkan seberapa efektif strategi mampu merespon faktor-faktor eksternal yang berpengaruh tersebut. Nilai peringkat berkisar antara 1-4 jika jawaban rata-rata dari responden sangat baik dan 1 jika jawaban menyatakan buruk.
4. Menentukan skor tertimbang dengan cara mengalikan bobot dengan rating.
5. Menjumlahkan semua skor untuk mendapatkan skor total. Nilai 1 menunjukkan bahwa respon terhadap faktor eksternal sangat buruk dan nilai 4 menunjukkan sangat baik. Rata-ratya nilai yang dibobot adalah 2.5. Nilai lebih kecil dari pada 2.5 menunjukkan respon setempat terhadap eksternal masih lemah. Sedangkan nilai lebih besar dari pada 2.5 menunjukkan respon yang baik. Analisis faktor eksternal diatas dapat menggunakan matriks 2 berikut :
Tabel 9 Matriks analisis faktor eksternal pngembangan sapi
No Faktor Internal Bobot Rating Bobot x Rating
1 2 3 Peluang (Opportunities) ... ... ... 1 2 3 Ancaman(Threats) ... ... ... Total 1
Rangkuti (2006) untuk merumuskan strategi perlu dilakukan formulasi faktor eksternal dan internal (Eksternal Factory Analysis Summary dan Internal Factory Analysis Summary) dengan melalui pendekatan model analisis TOWS matrik, yakni SO strategi, ST strategi, WO strategi, dan WT strategi. Analisi tersebut matriknya sebagai berikut :
Tabel 10 Matrik analasis SWOT melalui pendekatan TOWS.
IFAS
EFAS STRENGTHS (S) WEAKNES (W)
OPPORTUNITIES (O) STRATEGI SO STRATEGI WO
THREATS (T) STRATEGI ST STRATEGI WT