Metode penelitian merupakan bagian yang penting dalam sebuah penelitian. Dalam metode penelitian terdapat uraian terkait tahapan penelitian maupun rancangan penelitian untuk menjawab permasalahan yang dibahas dalam sebuah penelitian66. Penelitian ini dilaksanakan oleh penulis di Indonesia secara makro dalam rentang waktu antara bulan Februari sampai September 2014. Jenis dan sumber data yang digunakan berupa data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data hasil dari wawancara mendalam (indepth interview) sedangkan data sekunder akan diperoleh melalui instansi-instansi yang berkaitan baik dengan mencari melalui internet maupun langsung mendatangi kantor instansi-instansi terkait. Apabila data terkumpul, maka akan dilakukan proses pengolahan dan analisis data melalui analisis deskriptif dengan menggunakan grafik maupun table. Berikut ini merupakan uraian secara detail mengenai rancangan penelitian yang akan penulis gunakan untuk menjawab permasalahan yang ada.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Indonesia secara makro dengan ruang lingkup pada jalan non tol (jalan nasional, jalan provinsi, dan jalan kabupaten/ kota). Penelitian lapang dilaksanakan bulan Februari – September 2014.
Jenis dan Sumber Data
Penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder. Data sekunder berupa kondisi jalan, panjang jalan, indeks persepsi korupsi, dan sebagainya. Selain itu terdapat data rent-seeking beserta korupsi dari setiap jenisnya, seperti penggelapan anggaran, mark up, mark down, gratifikasi, dan sebagainya pada proyek pembangunan jalan. Semua data yang diambil merupakan data yang rentang tahunnya dari tahun 2004 hingga 2013 atau selama dua periode kepemimpinan Presiden SBY. Data-data sekunder ini diperoleh dari data-data yang disediakan oleh BPS, Mahkamah Agung, BPK, Bina Marga/ DPU, KPK,
Transparency International – Indonesia, serta badan/ lembaga lain yang berkaitan dengan data tersebut, dan berbagai surat kabar yang mengabarkan berita-berita terkait topik penelitian ini.
Meskipun studi makro, terdapat data primer berupa wawancara mendalam (indepth interview)sebagai penguatan atas data sekunder yang ada pada penelitian ini. Wawancara tersebut dilakukan kepada para tokoh terkait di pembangunan jalan di Indonesia yang secara langsung maupun tidak langsung terlibat pada periode 2004 – 2013, yaitu spesialis penelitian dan pengembangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kanit. Tipikor Pidsus Mabes Polri, praktisi dan trainer pengadaan barang/ jasa pemerintah, dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Wawancara mendalam ini juga digunakan peneliti untuk melihat
66
26
perbandingan keadaan nyata atas fenomena yang terjadi dengan data sekunder yang diperoleh.
Tabel 3.1 Jenis dan sumber data
Data Primer Data Sekunder Sumber Data Sumber Data Spesialis Litbang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Deni R. Purwana Peran KPK; biaya transaksi; pola-pola rent-seeking; pola- pola korupsi; temuan KPK; dan strategi KPK Badan Pusat Statistik (BPS) Panjang jalan menurut tingkat kewenangan; PDB Indonesia; statistik konstruksi; dan jumlah kendaraan Kanit. Tipikor,
Pidsus Mabes Polri, AKBP Romylus
Peran kepolisian; biaya transaksi; pola-pola rent- seeking;pola-pola korupsi; dan temuan kepolisian Putusan Mahkamah Agung Putusan kasus-kasus korupsi pada pembangunan jalan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Termuan BPK atas pembangunan jalan Praktisi dan trainer
pengadaan barang/ jasa pemerintah, Samsul Ramli Sistem pengadaan; masalah-masalah dalam pengadaan; dan biaya transaksi
Pusat Layanan Informasi Kementerian Pekerjaan Umum
Gambaran umum jalan; kondisi jalan nasional; sistem pengadaan jalan; Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Peran BPK; dan temuan BPK Transparency International – Indonesia Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Anti Corruption Clearing House (ACCH) KPK Sejarah korupsi
Metode Analisis Data
Penelitian ini dianalisis secara kualitatif deskriptif dengan perspektif ekonomi politik. Penelitian kualitatif bukan berarti tidak memerlukan data-data berupa angka, namun data-data berupa angka tersebut digunakan sebagai penguatan atas pernyataan yang dikemukakan. Penelitian ini dilakukan dengan data-data yang disajikan secara relevan terhadap kasus korupsi yang sudah diproses di pengadilan dan keberadaan rent-seeking pada pembangunan jalan di Indonesia.
Pembangunan di negara-negara sedang berkembang umumnya terjadi hal- hal yang negatif dalam prosesnya, di antaranya adalah fenomena rent-seeking dan korupsi. Begitu pula pembangunan di Indonesia, khususnya pada infrastruktur jalan, setiap tahunnya jumlah APBN/ APBD di Indonesia terus meningkat seiiring dengan semakin bertambahnya jumlah panjang jalan yang dibangun, namun tidak memberikan kontribusi terhadap kemajuan pembangunan secara signifikan, terkadang jalan yang sudah dibangun memiliki umur yang pendek. Hal tersebut
27 mengindikasikan bahwa dalam pembangunan jalan di Indonesia terdapat fenomena rent-seeking dan korupsi.
Pembuktikan adanya fenomena rent-seeking dan korupsi tidak hanya melalui penelusuran data-data yang ada, namun perlu dibutuhkan informasi yang akurat. Maka pada penelitian ini dilakukan wawancara mendalam (indepth interview) kepada para informan yang tidak hanya mengetahui masalah rent- seeking dan korupsi saja, namun juga menjadi perwakilan dari setiap bagian yang ada pada pembangunan jalan di Indonesia. Informan tersebut antara lain adalah spesialis penelitian dan pengembangan KPK (Litbang KPK), Kanit. Tipikor Pidsus Mabes Polri, serta praktisi dan trainer pengadaan barang/ jasa pemerintah.
Perkembangan Pembangunan Jalan Terhadap Keberadaan Rent-Seeking
dan Korupsi
Pembangunan jalan yang sudah dipersiapkan dengan pemilihan pemenang tender yang tepat, pengawasan yang ketat, dan penggunaan APBN/ APBD secara maksimal, maka akan diperoleh hasil pembangunan jalan yang baik dan berumur panjang. Selain itu, dampak dari pembangunan jalan tersebut juga dinikmati oleh masyarakat yang berada di sekitar dan yang melintasi jalan tersebut. Apabila hal tersebut tidak terpenuhi, maka ada keganjalan di beberapa lini dalam proyek pembangunan jalan tersebut. Sehingga perlu diteli letak kejanggalan tersebut, karena kejanggalan tersebut mengindikasikan adanya fenomena rent-seeking
maupun korupsi.
Informasi tersebut diperoleh melalui data sekunder perkembangan pembangunan jalan dari BPS maupun instansi terkait lainnya. Kemudian informasi tersebut ditambahkan dengan hasil wawancara mendalam (indepth interview) kepada informan-informan yang terkait, sehingga akan diperoleh informasi yang kuat atas keberadaan fenomena rent-seeking dan korupsi dalam pembangunan jalan di Indonesia.
Hubungan Biaya Transaksi Terhadap Keberadaan Rent-seeking dan Korupsi dalam Pembangunan Jalan
Sebuah perusahaan dalam mengikuti proyek pemerintah, khususnya pembangunan jalan, perlu mengeluarkan biaya transaksi akibat informasi yang tidak sempurna. Biaya transaksi tersebut dimasukkan pada biaya proyek yang hampir serupa dengan biaya produksi, sehingga proyek tersebut berbiaya tinggi dan inefisien. Biaya transaksi tersebut dapat berupa biaya pengadaan dokumen, biaya pembebasan lahan, lobi, dan sebagainya. Jika biaya tersebut dimaksudkan untuk menguntungkan pribadi perusahaan tersebut dengan memanfaatkan kebijakan pemerintah, maka hal tersebut mengindikasikan adanya fenomena rent- seeking. Kemudian, keterkaitan biaya tersebut terhadap indikasi korupsi dapat dianalisis melalui Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001.
Data biaya transaksi merupakan jenis data sekunder yang diperoleh dari Dirjen Bina Marga maupun instansi terkait lainnya. Meskipun biaya tersebut tidak tersurat, namun dapat dianalisis secara tersirat jika dikaitkan dengan biaya normal. Jika biaya tersebut melambung dari biaya normal, maka diindikasikan terdapat tambahan biaya yang dimasukkan ke dalam biaya proyek tersebut. Tambahan biaya tersebut dapat termasuk biaya transaksi yang wajar atau dapat saja termasuk
28
biaya transaksi yang supernormal. Jika biaya transaksi tersebut termasuk
supernormal, maka dapat diindikasikan bahwa pada proyek tersebut dimungkinkan terdapat fenomena rent-seeking maupun korupsi.
Konsep biaya transaksi sangatlah kompleks, sehingga perlu disederhanakan melalui variabel-variabel agar mudah dalam perhitungan. Collins dan Fabozzi dalam Yustika membuat formulasi yang menjelaskan biaya transaksi menggunakan variable-variabel yang mudah diukur. Berikut formulasinya67:
• Biaya transaksi = biaya tetap + biaya variabel; • Biaya tetap = komisi + transfer fees + pajak;
• Biaya variabel = biaya eksekusi + biaya oportunitas; • Biaya eksekusi = price impact + market timing cost;
• Biaya oportunitas = hasil yang diinginkan – pendapatan actual – biaya eksekusi – biaya tetap
Wang dalam Yustika menjelaskan variabel-variabel yang dimaksud. Biaya oportunitas yang dimaksud merupakan perbedaan antara kinerja investasi aktual dan kinerja investasi yang diinginkan, lalu disesuaikan dengan biaya tetap dan biaya eksekusi. Sementara biaya eksekusi sendiri merupakan ongkos yang muncul akibat adanya permintaan eksekusi yang cepat, yang memencerminkan kebutuhan adanya likuiditas dan kegiatan perdagangan. Selanjutnya, dampak harga (price impact) yaitu biaya untuk menangkap pergerakan harga aset (perdagangan ditambah selisih harga pasar). Terakhir, biaya waktu pasar (market timing cost) adalah pergerakan harga aset pada saat dilakukan transaksi yang kemudian dapat dihubungkan dengan pelaku pasar lainnya68.
Informasi terkait biaya transaksi tersebut juga dapat diperoleh melalui wawancara mendalam dengan sejumlah informan yang kompeten di dalamnya. Informasi dari informan tersebut akan disesuaikan dengan data sekunder yang telah diolah, sehingga akan diperoleh informasi yang akurat.
Keberadaan Aktor yang Melakukan Rent-seeking dan Korupsi dalam Pembangunan Jalan
Keberadaan dari para pelaku rent-seeking dan korupsi merupakan kunci utama dalam pengungkapan fenomena rent-seeking dan korupsi dalam pembangunan jalan. Pihak yang memanfaatkan kebijakan pemerintah untuk kepentingan pribadi dan kelompok tertentu adalah mereka yang melakukan rent- seeking dan mereka yang menyalahgunakan wewenang adalah mereka yang melakukan korupsi.
Aktor rent-seeking diperoleh melalui aktivitas rent pada Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) dari Dirjen Bina Marga, kemudian ditelusuri kembali melalui wawancara mendalam untuk membuktikan ada dan tidaknya fenomena
rent-seeking.
Sementara koruptor diperoleh melalui informasi yang ada di KPK, Kepolisian, dan Putusan Mahkamah Agung. Informasi korupsi yang dilakukan koruptor tersebut sudah ada keputusan tentang perkaranya. Agar diperoleh
67
Ahmad Erani Yustika, Ekonomi Kelembagaan, Paradigma, Teori, dan Kebijakan, (Jakarta:
Penerbit Erlangga, 2013), h.74 68
29 informasi lebih luas terkait perilaku korupsinya, maka dilakukan wawancara mendalam kepada informan yang akurat.
Pola-Pola Rent-Seeking dan Korupsi dalam Pembangunan Jalan
Pola-pola rent-seeking dalam pembangunan jalan diperoleh melalui analisis literatur yang diperoleh dari instansi terkait, seperti hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Lalu ditambahkan wawancara mendalam untuk memperkuat data yang diperoleh.
Pola-pola korupsi yang terjadi dalam pembangunan jalan dianalis melalui perspektif hukum, yaitu analisis menggunakan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001. Data yang digunakan adalah data korupsi yang diperoleh dari KPK, Kepolisian, Putusan Mahkamah Agung, BPK, serta surat kabar.
Sebab-Sebab Munculnya Rent-Seeking dan Korupsi dalam Pembangunan Jalan
Tidak hanya dilihat dari aktor-aktor yang melakukan rent-seeking dan korupsi, namun hal penting lainnya untuk menelusuri fenomena tersebut adalah penyebab-penyebab terjadinya. Faktor-faktor penyebab munculnya rent-seeking
dan korupsi bermacam-macam, maka diperlukan informasi yang luas melalui buku, surat kabar, internet, tesis, serta wawancara mendalam kepada sejumlah informan yang kompeten.
Perkiraan Kebocoran Anggaran Akibat Adanya Rent-Seeking dan Korupsi dalam Pembangunan Jalan
Rent-seeking dan korupsi menyebabkan pembangunan jalan menjadi inefisien. Inefisiensi tersebut salah satunya akibat kebocoran APBN/ APBD. Adanya kebocoran APBN/ APBD artinya dapat dimungkinkan terdapat penyalahgunaan APBN/ APBD dalam pembangunan jalan, sehingga penggunaan APBN/ APBD yang seharusnya untuk kesejahteraan rakyat menjadi teralihkan untuk kepentingan individu atau kelompok tertentu. Kebocoran tersebut dapat dianalisis melalui hasil audit BPK dan data-data besaran korupsi yang ada di KPK, Kepolisian, maupun putusan Mahkamah Agung.
Pendekatan lain yang digunakan untuk mengidentifikasi kebocoran APBN/ APBD adalah teori ICOR (Harrod-Domar), yang dirumuskan sebagai berikut69:
ICOR = I / ΔY
dimana;
I=ΔK = Perubahan kapital ΔY = Perubahan output
Investasi (I) di sini adalah penanaman modal oleh pemerintah maupun swasta. Besarnya investasi fisik yang telah dikerjakan pada tahun tertentu dapat ditunjukkan oleh besarnya Pembentukan Modal Domestik Bruto (PMTB). Sehingga rumus selanjutnya adalah70:
ICOR = PMTBt – PMTBt-1 / PDRBt – PDRBt-1.
69
Airin Nuraini, Dampak Korupsi Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Regional di Indonesia: Studi
Kasus: Mekanisme Dugaan Korupsi APBD di Pemerintah Provinsi Banten Tahun 2011, Tesis,
Pasca Sarjana IPB, 2013, h. 173 70
30
Pihak-Pihak yang Diuntungkan dengan Adanya Pembangunan Jalan
Setiap pembangunan diperuntukkan untuk kesejahteraan sosial. Akan tetapi kesejahteraan sosial tidak akan tercukupi jika dalam proses pembangunan tersebut terjadi rent-seeking dan korupsi. Oleh karena, perlu ditelusuri pihak-pihak mana yang diuntungkan dengan adanya pembangunan jalan. Informasi tersebut diperoleh melalui wawancara mendalam dengan melibatkan informan dari berbagai kalangan, sehingga diperoleh informasi yang menyeluruh dan akurat.