BAB I : PENDAHULUAN
G. Metode Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitis, yaitu suatu penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan dan menganalisis data yang diperoleh secara sistematis, faktual dan akurat tentang tinjauan yuridis terhadap kelemahan sistem publikasi negatif yang bertendensi positif dalam pendaptaran tanah. Penelitian ini akan dilakukan
56 Pasal 1 angka 7 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah
57 Pasal 1 angka 24 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah
58 Bachsan Mustafa dalam Y.W. Sumindo dan Ninik Widyanti, op. cit, hal. 136.
59 Ibid., hal. 136.
melalui pendekatan yuridis normatif yaitu pendekatan hukum dengan melihat peraturan-peraturan yang berlaku yaitu Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan pokok-pokok agraria (UUPA)
2. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah mempergunakan penelitian dengan menggunakan penelusuran kepustakaan yang berupa literatur dan dokumen-dokumen yang ada dibantu dengan data yang diperoleh di lapangan yang berkaitan dengan objek penelitian ini
Sumber-sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa:
a. Data Primer, yaitu data yang diperoleh langsung dari nara sumber, yaitu pihak pegawai Badan Pertanahan Nasional Medan dan pihak-pihak yang berkaitan dengan penelitian tesis ini.
b. Data Sekunder, Dalam penelitian ini yang dijadikan sebagai data sekunder adalah berupa bahan-bahan kepustakaan hukum, peraturan perundang-undangan yang berlaku, serta dokumen-dokumen dan bahan-bahan kepustakaan yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti.
3. Alat Pengumpulan Data
Agar dapat diperoleh hasil yang baik yang bersifat objektif ilmiah maka dibutuhkan data-data yang akurat dan dapat dipertanggung jawabkan kebenaran akan hasilnya, maka dalam hal ini peneliti memperoleh data dalam penelitian tesis ini dengan menggunakan alat penggumpulan data, yaitu:
1. Studi Dokumentasi, yaitu berupa penelitian yang mempelajari dan memahami bahan-bahan kepustakaan yang berkaitan dengan objek
penelitian ini. Studi dokumen dari literatur yang berasal dari kepustakaan ataupun yang diperoleh dari lapangan yang berkaitan dengan masalah kelemahan sistem publikasi negatif yang bertendensi positif dalam pendaftaran tanah.
2. Studi Lapangan, yang dilakukan dengan pedoman wawancara terhadap informan, yaitu:
a. Kepala Badan Pertanahan Nasional Medan
b. Pegawai Pengadilan Negeri Medan 1 (satu) orang.
c. Pejabat PPAT Kota Medan 1 (satu) orang.
4. Analisis Data
Analisis data yang digunakan dalam penelitian tesis ini adalah analisis data kualitatif yaitu analisis data yang tidak mempergunakan angka-angka tetapi berdasarkan atas peraturan perundang-undangan, pandangan-pandangan informan hingga dapat menjawab permasalahan dari penulisan tesis ini.
Semua data yang diperoleh disusun secara sistematis, diolah dan diteliti serta dievaluasi. Kemudian data dikelompokkan atas data yang sejenis, untuk kepentingan analisis, sedangkan evaluasi dan penafsiran dilakukan secara kualitatif yang dicatat satu persatu untuk dinilai kemungkinan persamaan jawaban. Oleh karena itu data yang telah dikumpulkan kemudian diolah, dianalisis secara kualitatif dan diterjemahkan secara logis sistematis untuk selanjutnya ditarik kesimpulan dengan menggunakan metode pendekatan induktif. Kesimpulan adalah merupakan jawaban khusus atas permasalahan yang diteliti, sehingga diharapkan akan memberikan solusi atas permasalahan dalam penelitian tesis ini.
40
A. Asas, Tujuan dan Objek Pendaftaran Tanah
Pengaturan kegiatan pendaftaran tanah terdapat dalam UU No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok Agraria (UUPA), tepatnya dalam Pasal 19 yang berbunyi:
(1) Untuk menjamin kepastian hukum oleh Pemerintah diadakan pendaftaran tanah di seluruh wilayah Republik Indonesia menurut ketentuan-ketentuan yang diatur dengan peraturan pemerintah.
(2) Pendaftaran tersebut dalam ayat (1) pasal ini meliputi:
a. Pengukuran, perpetaan dan pembukuan tanah.
b. Pendaftaran hak-hak atas tanah dan peralihan hak atas tanah
c. Pemberian surat-surat tanda bukti hak, yang berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat.
(3) Pendaftaran tanah diselenggarakan dengan mengingat keadaan negara dan masyarakat, keperluan lalu lintas sosial ekonomis serta kemungkinan penyelenggaraannya, menurut pertimbangan Menteri Agraria.
(4) Dalam peraturan pemerintah diatur biaya-biaya yang bersangkutan dengan pendaftaran termaksud dalam ayat (1) di atas dengan ketentuan bahwa rakyat yang tidak mampu dibebaskan dari pembayaran biaya-biaya tersebut.
Ketentuan pendaftaran tanah sebagaimana diatur dalam Pasal 19 di atas ialah meletakkan kewajiban untuk menyelenggarakan pendaftaran tanah pada pemerintah, cara ini disebut juga pendaftaran tanah secara sistematik atau atas prakarsa pemerintah. Lawannya adalah pendaftaran tanah dengan cara sporadik yakni atas permintaan pemilik tanah sendiri.
Kewajiban subjek hak atas tanah untuk melakukan pendaftaran tanah secara sporadik tersebut diatur dalam UUPA, yaitu pasal-pasal.
Pasal 23:
(1) Hak milik demikian pula setiap peralihan, hapusnya dan pembebanannya dengan hak-hak lain harus didaftarkan menurut ketentuan-ketentuan yang dimaksud Pasal 19.
(2) Pendaftaran termaksud dalam ayat (1) merupakan alat pembuktian yang kuat mengenai hapusnya hak milik serta sahnya peralihan dan pembebanan hak tersebut.
Pasal 32:
(1) Hak Guna Usaha termasuk syarat-syarat pemberiannya, demikian juga setiap peralihan dan penghapusan hak tersebut harus didaftarkan menurut ketentuan-ketentuan yang dimaksud dalam Pasal 19
(2) Pendaftaran termaksud dalam ayat (1) merupakan alat pembuktian yang kuat mengenai hapusnya hak guna usaha, kecuali dalam hal hak itu hapus karena jangka waktunya berakhir.
Pasal 38:
(1) Hak Guna Bangunan, termasuk syarat-syarat pemberiannya demikian juga setiap peralihan dan hapusnya hak tersebut harus didaftarkan menurut ketentuan-ketentuan yang dimaksud dalam Pasal 19.
(2) Pendaftaran termaksud dalam ayat (1) merupakan alat pembuktian yang kuat mengenai hapusnya hak guna bangunan serta sahnya peralihan hak tersebut kecuali dalam hal hak itu hapus karena jangka waktunya berakhir.
Selanjutnya sebagai landasan operasional guna merealisir instruksi Pasal 19 UUPA di atas, maka dikeluarkan peraturan pelaksanaan UUPA yakni PP No. 10 Tahun 1961 tentang Pendaftaran Tanah, yang dimuat dalam LN 1961 No. 28 tanggal 23 Januari 1961, yang sejak tanggal 8 Juli 1997 telah diganti dengan PP No. 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah (LN 1997-57). Dalam ketentuan peralihan Pasal 64 dinyatakan, bahwa semua peraturan perundang-undangan pelaksanaan PP No. 10 Tahun 1961 yang telah ada, tetap berlaku, sepanjang tidak bertentangan atau diubah ataupun diganti berdasarkan peraturan pemerintah yang baru. Juga dinyatakan, bahwa hak-hak yang didaftar serta hal-hal lain yang dihasilkan dalam kegiatan pendaftaran tanah berdasarkan ketentuan PP No. 10 Tahun 1961 tetap sah sebagai hasil pendaftaran tanah menurut peraturan pemerintah yang baru. Ketentuan peralihan tersebut memungkinkan
pendaftaran tanah tetap dilaksanakan tanpa ditunda menunggu tersedianya secara lengkap peraturan-peraturan pelaksanaannya yang baru.60
Unsur terus menerus, berkesinambungan dan teratur maksudnya, bahwa penyelenggaraan pendaftaran tanah itu mengarah pada terpeliharanya tertib administrasi pendaftaran tanah, sehingga data fisik dan yuridis selalu tetap Pendaftaran tanah adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah secara terus menerus, berkesinambungan dan teratur, meliputi pengumpulan data fisik dan data yuridis, dalam bentuk peta dan daftar, mengenai bidang-bidang tanah dan satuan-satuan rumah susun, termasuk pemberian surat tanda bukti haknya dan hak milik atas satuan rumah susun serta hak-hak tertentu yang membebaninya (Pasal 1 butir 1).
Unsur-unsur pengertian pendaftaran tanah di atas meliputi (a) rangkaian kegiatan (b) dilakukan oleh pemerintah (c) terus menerus, berkesinambungan dan teratur. Rangkaian kegiatan, maksudnya bahwa pendaftaran tanah itu dilakukan secara sistematis baik kegiatan yang bersifat administrasi maupun kegiatan operasional yang meliputi pengukuran, perpetaan dan pembukuan tanah, serta pemberian sertifikat sebagai alat pembuktian yang kuat.
Dilakukan oleh pemerintah, maksudnya bahwa urusan pendaftaran tanah dimonopoli oleh satu lembaga pemerintah secara sentralistik. Hal ini sesuai dengan instruksi UUPA pada ketentuan Pasal 19 ayat (1) yang memerintahkan agar pemerintah mengadakan pendaftaran tanah di seluruh wilayah Republik Indonesia.
60 M. Yamani Qamar, dkk., Hukum Agraria Indonesia, Buku Panduan Mahasiswa, LEMLIT UNIB Press, Bengkulu, 2000, hal. 77-78.
terpelihara secara akurat. Pada akhirnya dengan tertib administrasi itu fungsi pendaftaran tanah sebagai alat kontrol penguasaan tanah (present land tenure) dan penggunaan tanah (present land use) dalam konteks land information system and geographic information system dapat dijalankan secara optimal. Artinya setiap persil tanah yang terdapat dalam suatu wilayah dapat dimonitor kondisi penguasaannya/pemilikannya apakah sudah beralih kepada subjek hak lain, jika beralih dengan cara bagaimana peralihan hak itu berlangsung dan lain sebagainya.
Demikian juga mengenai aspek penggunaan tanahnya itu sendiri, akan selalu dapat dimonitor, sehingga dapat diketahui apakah tanah itu digunakan atau justru diterlantarkan.61
Menurut A.P. Parlindungan, pendaftaran tanah berasal dari kata cadastre (bahasa Belanda kadaster) yaitu suatu istilah teknis untuk suatu rekaman, yang menunjukkan kepada luas, nilai, dan kepemilikan (atau lain-lain alas hak) terhadap suatu bidang tanah. Pengertian lebih tegas, cadastre berarti alat yang tepat untuk memberikan uraian dan identifikasi dari lahan dan juga sebagai continues recording dari hak atas tanah.62 Pendapat ini menjelaskan bahwa pendaftaran tanah itu adalah merupakan rekaman data fisik dan data yuridis yang dibuat dalam bentuk peta dan daftar bidang-bidang tanah tertentu, yang dilaksanakan secara objektif dan itikad baik, oleh pelaksana administrasi negara.63
Pendaftaran tanah di Indonesia hanya terfokus untuk pendaftaran tanah pada bidang tanah yang merupakan bagian dari permukaan bumi dalam satuan
61 Ibid., hal. 78-79.
62 A.P. Parlindungan, Pendaftaran Tanah di Indonesia (Berdasarkan PP 24 Tahun 1997 dilengkapi dengan Peraturan Jabatan Pembuat Akta Tanah PP 37 Tahun 1998), Mandar Maju, Bandung, 1999, hal. 18.
63 Safruddin Kalo, op. cit, hal. 8.
bidang yang terbatas, artinya tidak mencakup bumi, air, dan ruang angkasa.64 Penyelenggaraan pendaftaran tanah dilaksanakan melalui 2 (dua) cara: pertama, pendaftaran tanah secara sistematik, yaitu pendaftaran untuk pertama kali yang dilakukan secara serentak meliputi semua objek pendaftaran tanah yang belum didaftar dalam wilayah atau bagian wilayah suatu desa/kelurahan dan terutama kegiatan ini dilakukan atas prakarsa pemerintah. Kedua, pendaftaran tanah secara sporadik, yaitu kegiatan pendaftaran tanah untuk pertama sekali mengenai suatu atau beberapa objek pendaftaran tanah dalam wilayah atau bagian wilayah suatu desa/kelurahan secara individual atau massal.65
Pelaksanaan pendaftaran tanah harus memperhatikan bukan hanya pelaksanaan pendaftaran tanah untuk petama kalinya, tetapi juga harus memperhatikan pemeliharaan data fisik maupun data yuridis dari obyek pendaftaran tanah yang sudah terdaftar. Setiap perubahan terjadi baik data fisik maupun data yuridis pada objek pendaftaran tanah yang sudah terdaftar diwajibkan bagi pemegang hak untuk mendaftarkan perubahan tersebut.
Pendaftaran terhadap perubahan dan peralihan serta hapusnya dan pembebanan hak milik, hak guna usaha, dan hak guna bangunan juga harus didaftarkan sebagai alat bukti yang kuat. Dengan demikian maksud dari pemeliharaan data pendaftaran tanah, agar tetap terpelihara dan selalu sesuai dengan kenyataan di lapangan. Pemegang hak yang berkepentingan dapat membuktikan haknya kepada pihak ketiga, sehingga tercipta kepastian hukum dan perlindungan hukum atas pemegang hak-hak atas tanah yang merupakan salah satu unsur penting dari keadilan dan kesejahteraan rakyat.
Menurut Safruddin Kalo,
66
64 Sedangkan pendaftaran untuk hak-hak dari kehutanan atau pertambangan dilakukan sendiri oleh departemen yang bersangkutan dengan surat-surat keputusan tentang HPH atau HPHH atau KP. Dengan diaturnya secara sektoral mengenai hak pengelolaan hutan oleh pengaturan yang akan berdampak kepada pengelolaan pertanahan yang diatur dalam UUPA. Misalnya akan terjadi konflik antara pemberian hak guna usaha (HGU) dan Hak Pengelolaan Hutan (HPH) pada lokasi yang sama masing-masing menyatakan berhak untuk melakukan pengelolaan. Konflik akan merugikan pemegang hak yang bersangkutan. Ibid., hal. 9.
65 Lihat Pasal 1 angka 10 dan angka 11 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah.
66 Syafruddin Kalo, op. cit., hal. 9-10.
1. Asas pendaftaran tanah
Asas pendaftaran tanah dilaksanakan berdasarkan asas sederhana, aman, terjangkau, mutakhir dan terbuka:67
a. Asas sederhana, maksudnya agar ketentuan-ketentuan pokoknya maupun prosedurnya dengan mudah dapat dipahami oleh pihak-pihak yang berkepentingan, terutama para pemegang hak atas tanah.
b. Asas aman, dimaksudkan untuk menunjukkan, bahwa pendaftaran tanah perlu diselenggarakan secara teliti dan cermat, sehingga hasilnya dapat memberikan jaminan kepastian hukum sesuai dengan pendaftaran tanah itu sendiri.
c. Asas terjangkau dimaksudkan keterjangkauan bagi pihak-pihak yang memerlukan, khususnya dengan memperhatikan kebutuhan dan kemampuan golongan ekonomi lemah. Pelayanan yang diberikan dalam rangka penyelenggaraan pendaftaran tanah harus bisa terjangkau oleh para pihak yang memerlukannya.
d. Asas mutakhir, dimaksudkan kelengkapan yang memadai dalam pelaksanaannya dan keseimbangan dalam pemeliharaan data. Data yang tersedia harus menunjukkan keadaan yang mutakhir. Untuk itu perlu diikuti kewajiban mendaftar dan pencatatan perubahan-perubahan yang terjadi di kemudian hari. Asas mutakhir menuntut dipeliharanya data pendaftaran tanah secara terus menerus dan berkesinambungan, sehingga data yang tersimpan di kantor pertanahan selalu sesuai dengan keadaan nyata di lapangan, dan masyarakat dapat memperoleh keterangan mengenai data yang benar setiap saat.
67 A.P. Parlindungan, 1999. Pendaftaran Tanah di Indonesia…, op. cit., hal. 76-78
e. Asas terbuka, dimana asas mutakhir menuntut dipeliharanya data pendaftaran tanah secara terus menerus dan berkesinambungan, sehingga data yang tersimpan di kantor pertanahan selalu sesuai dengan keadaan nyata di lapangan, dan masyarakat dapat memperoleh keterangan mengenai data yang benar setiap saat. Untuk itulah diberlakukan pula asas terbuka.
2. Tujuan pendaftaran tanah
Selanjutnya tujuan pendaftaran tanah, dalam PP Nomor 24 Tahun 1997 tetap mempertahankan tujuan diselenggarakan pendaftaran tanah seperti yang sudah ditetapkan dalam Pasal 19 UUPA, yaitu bahwa pendaftaran tanah diselenggarakan dalam rangka menjamin kepastian hukum di bidang pertanahan (suatu rechskadaster atau legal cadastre).68
Dengan demikian, kemajuan pranata hukum bidang pendaftaran tanah ini antara lain terletak pada, “perluasan tujuan pendaftaran tanah yaitu bukan hanya untuk kepastian hukum, tetapi juga untuk perlindungan hukum bagi para pemiliknya”.
Adapun secara rinci tujuan pendaftaran tanah ini diatur dalam Pasal 3 PP Nomor 24 Tahun 1997, yaitu:
Pendaftaran tanah bertujuan:
a. Untuk memberikan kepastian hukum dan perlindungan hukum kepada pemegang hak atas suatu bidang tanah, satuan rumah susun dan hak-hak lain yang terdaftar agar dengan mudah dapat membuktikan dirinya sebagai pemegang hak yang bersangkutan.
b. Untuk menyediakan informasi kepada pihak-pihak yang berkepentingan termasuk pemerintah agar dengan mudah dapat memperoleh data yang diperlukan dalam mengadakan perbuatan hukum mengenai bidang-bidang tanah dan satuan-satuan rumah susun yang sudah terdaftar.
c. Untuk terselenggaranya tertib administrasi pertanahan.
69
68 Boedi Harsono, Hukum Agraria Indonesia Sejarah…., op. cit., hal. 425
69 A.P. Parlindungan, Pendaftaran Tanah di Indonesia, Mandar Maju, Bandung, hal. 79
3. Objek pendaftaran tanah
Selanjutnya yang menjadi objek pendaftaran tanah adalah sesuai dengan Pasal 9 PP Nomor 24 Tahun 1997, yaitu:
(1) Objek pendaftaran tanah meliputi:
a. bidang-bidang tanah yang dipunyai dengan hak milik, hak guna usaha, hak guna bangunan dan hak pakai;
b. tanah hak pengelolaan;
c. tanah wakaf;
d. hak milik atas satuan rumah susun;
e. hak tanggungan;
f. tanah negara
(2) Dalam hal tanah negara sebagai objek pendaftaran tanah, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f, pendaftarannya dilakukan dengan cara membukukan bidang tanah yang merupakan tanah Negara dalam daftar tanah.
Menurut Chadidjah Dalimunthe, semua hak-hak atas tanah yang tercantum pada ayat (1) di atas dengan membukukan Tanah tersebut di Kantor Pertanahan akan diterbitkan sertifikat hak atas tanahnya yang merupakan salinan dari buku tanah. Sedangkan tanah negara tidak diterbitkan sertifikat. Sertifikat yang diterbitkan tersebut diserahkan kepada yang berhak sebagai alat bukti haknya.70
Dalam rangka memberikan kepastian hukum kepada para pemegang hak atas tanah, kepada para pemegang hak atas tanah diberikan penegasan tentang sejauh mana kekuatan pembuktian sertifikat, yang dinyatakan sebagai alat pembuktian yang kuat. Untuk itu dikatakan bahwa selama belum dibuktikan yang sebaliknya, data fisik dan data yuridis yang dicantumkan dalam sertifikat harus diterima sebagai data yang benar, baik dalam perbuatan hukum sehari-hari maupun dalam sengketa di Pengadilan sepanjang data tersebut sesuai dengan yang tercantum dalam surat ukur dan buku tanahnya. Seseorang tidak dapat menuntut
70 Chadidjah Dalimunthe, op. cit., hal. 173.
tanah yang sudah bersertifikat atas nama orang atau, badan hukum lain jika selama 5 tahun sejak dikeluarkannya sertifikat tersebut tidak diajukannya gugatan ke Pengadilan.71
B. Hak-hak Atas Tanah 1. Hak Milik
Hak milik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 berhubungan dengan Pasal 6 UUPA adalah hak turun-temurun, terkuat dan terpenuh yang dapat dipunyai orang atas tanah. Kata “turun temurun” menunjukkan bahwa hak tersebut dapat berlangsung terus selama pemiik masih hidup dan jika dia meninggal dunia, hak tersebut dapat dilanjutkan oleh ahli waris. “Terkuat”
menunjukkan bahwa kedudukan hak itu paling kuat jika dibandingkan dengan hak-hak atas tanah lainnya, karena terdaftar dan pemilik hak diberi tanda bukti hak (sertifikat), sehingga mudah dipertahankan terhadap pihak lain. Di samping itu, jangka waktu pemilikannya tidak terbatas. “Terpenuh”
menunjukkan bahwa hak itu memberikan kepada pemiliknya wewenang paling luas, jika dibandingkan dengan hak-hak atas tanah lainnya, tidak berinduk pada hak tanah lain, dan peruntukannya tidak terbatas selama tidak ada pembatasan dari pengusaha. Ini menunjukkan bahwa hak milik mempunyai fungsi sosial. Sifat-sifat seperti ini tidak ada pada hak-hak atas tanah lainnya.72
71 Ibid., hal. 173.
72 Suardi, op. cit., hal. 32-33.
Ciri-ciri hak milik, adalah sebagai beriku:73
1) Hak milik merupakan hak atas tanah yang paling kuat artinya tidak mudah hapus serta mudah dipertahankan terhadap gangguan dari pihak lain oleh karena itu maka Hak Milik termasuk salah satu hak yang wajib didaftarkan (Pasal 23 UUPA).
2) Hak milik mempunyai jangka waktu yang tidak terbatas
3) Terjadinya hak milik karena hukum adat diatur dengan Peraturan Pemerintah, selain itu juga bisa terjadi karena penetapan pemerintah atau ketentuan undang-undang (Pasal 22 UUPA)
4) Hak milik dapat dialihkan kepada pihak lain melalui jual beli hibah, tukar-menukar, pemberian dengan wasiat,k pemberian menurut hukum adat dan lain-lain pemindahan hak yang bermaksud memindahkan hak milik yang pelaksanaannya diatur oleh peraturan perundang-undangan (Pasal 20 ayat (2) UUPA).
5) Pengunaan hak milik oleh bukan pemiliknya dibatasi dan diatur dengan peraturan perundang-undangan (Pasal 24 UUPA).
6) Hak milik dapat dijadikan jaminan hutang dengan dibebani hak tanggungan (Pasal 25 UUPA).
Kewajiban pemegang hak milik diatur dalam Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 4 Tahun 1998 jo Nomor 6 Tahun 1998, penerima hak milik diwajibkan membayar uang pemasukan kepada negara yang besarnya dihitung menurut ketentuan dalam peraturan ini.
Dasar hukum hak milik diatur dalam peraturan berikut ini:
a. UUPA Pasal 20 sampai dengan 27 UUPA dan Pasal I, Pasal II dan Pasal III dari ketentuan-ketentuan konversi.
b. Undang-Undang No. 56 Tahun 1960 tentang Penetapan Luas Tanah Pertanian.
c. Peraturan Pemerintah No. 38 Tahun 1963 tentang Penunjukan Badan-Badan Hukum Yang Dapat Mempunyai Hak Milik.
73 Ibid., hal. 33.
d. Peraturan Pemerintah No. 4 Tahun 1988 tentang Rumah Susun
e. Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional No.
3 Tahun 1997 tentang Peraturan Pelaksanaan Pemerintah No. 24 Tahun 1997.
f. Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional No.2 Tahun 1998 tentang Pemberian Hak Milik Atas Tanah Untuk Rumah Tinggal yang Telah Dibeli oleh Pegawai Negeri dari Pemerintah.
g. Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional No.
4 Tahun 1998 tentang Pedoman Penetapan Uang Pemasukan dalam Pemberian Hak Atas Tanah jo No. 6 Tahun 1998 tentang Perubahan Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional No.
4 Tahun 1998 tentang Pedoman Penetapan Uang Pemasukan dalam Pemberian Hak Atas Tanah Negara.
h. Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional No.3 Tahun 1999 tentang Pelimpahan Kewenangan Pemberian dan Pembatalan Keputusan Hak Atas Tanah Negara.
i. Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional No.7 Tahun 1999 tentang Penghentian Pungutan-pungutan Tertentu di Bidang Pertanahan.
j. Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional No.
9 Tahun 1999 tentang Tata Cara Pemberian dan Pembatalan Hak Atas Tanah Negara dan Hak Pengelolaan.
Subjek hak milik sesuai dengan yang ditentukan dalam Pasal 21 UUPA:
(1) Hanya warganegara Indonesia dapat mempunyai hak milik
(2) Oleh Pemerintah ditetapkan badan-badan hukum yang dapat mempunyai hak milik dan syarat-syaratnya.
(3) Orang asing yang sesudah berlakunya Undang-undang ini memperoleh hak milik kaerna pewarisan tanpa wasiat atau percampuran harta karena perkawinan, demikian pula warga negara Indonesia yang mempunyai hak milik dan setelah berlakunya Undang-Undang ini kehilangan kewarganegaraannya wajib melepaskan hak itu di dalam jangka waktu satu tahun sejak diperolehnya hak tersebut atau hilangnya kewarganegaraan itu. Jika sesudah jangka waktu tersebut lampau hak milik itu tidak dilepaskan, maka hak tersebut hapus karena hukum dan tanahnya jatuh pada negara, dengan ketentuan bahwa hak-hak pihak lain yang membebaninya tetap berlangsung.
(4) Selain seorang di samping kewarganegaraan Indonesinya mempunyai kewarganegaraan asing maka ia tidak dapat mempunyai tanah dengan hak milik dan baginya berlaku ketentuan dalam ayat 3 pasal ini.
Pada asasnya hak milik hanya dapat dipunyai oleh orang yang berkewarganegaraan Indonesia (WNI) tunggal, baik secara sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain. Menurut hukum agraria yang lama setiap orang boleh mempunyai tanah dengan eigendom, baik ia warga negara maupun orang asing, demikian pula badan-badan hukum Indonesia atau Badan Hukum Asing. Badan-badan hukum pada asasnya diumungkinkan untuk mempunyai tanah dengan hak milik, atas pertimbangan karena untuk menyelenggarakan usahanya badan hukum itu secara mutlak memerlukan hak milik. Keperluan badan-badan hukum dianggap sudah dapat dipenuhi dengan
Pada asasnya hak milik hanya dapat dipunyai oleh orang yang berkewarganegaraan Indonesia (WNI) tunggal, baik secara sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain. Menurut hukum agraria yang lama setiap orang boleh mempunyai tanah dengan eigendom, baik ia warga negara maupun orang asing, demikian pula badan-badan hukum Indonesia atau Badan Hukum Asing. Badan-badan hukum pada asasnya diumungkinkan untuk mempunyai tanah dengan hak milik, atas pertimbangan karena untuk menyelenggarakan usahanya badan hukum itu secara mutlak memerlukan hak milik. Keperluan badan-badan hukum dianggap sudah dapat dipenuhi dengan