Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala yang mewakili lahan pasang surut dan Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjar mewakili lahan Lebak. Analisis kimia dilaksanakan di laboratorium Teknologi Industri Pertanian Univeristas Lambung Mangkurat, pada bulan Agustus sampai dengan Oktober 2008
Bahan dan Alat
Bahan utama pada penelitian ini adalah buah jeruk varietas Siam Banjar yang diperoleh dari petani jeruk siam Banjar ( 4 petani) dari kedua lokasi,yaitu lahan pasang surut dan lahan lebak. Pemanenan buah jeruk di empat tipologi lahan dilakukan sesuai dengan kebiasaan petani setempat yaitu di lahan pasang surut A dan lahan Lebak dipanen pada umur 270 hari setelah bunga mekar, sedangkan di lahan pasang surut B dan C dipanen pada 240 hari setelah bunga mekar. Alat yang digunakan adalah timbangan mettler PM-4800 untuk mengukur susut bobot,
chromameter tipe CR-200 untuk mengukur warna, penetrometer untuk mengukur kekerasan, serta alat pendukung untuk analisis kimia seperti gelas ukur, tabung reaksi dan pipet.
Prosedur Penelitian
Penelitian dilakukan dengan pengambilan sampel buah jeruk Siam Banjar sebanyak 300 buah pada masing-masing tipologi lahan baik lahan pasang surut tipe A dan lahan Lebak dengan umur petik 270 hari setelah bunga mekar dan pada lahan pasang surut tipe B dan tipe C dengan umur petik 240 hari setelah bunga mekar. Kemudian dilakukan sortasi untuk membuang jeruk BS ( bad stock ) berdasarkan kriteria mutu SNI dan telah memenuhi ketentuan minimum mengenai mutu diantaranya utuh; padat; penampilan segar; layak konsumsi; bersih, bebas dari benda asing; bebas dari memar; bebas dari hama penyakit; bebas dari kerusakan akibat suhu rendah atau tinggi dan bebas dari aroma dan rasa asing. Tahap berikutnya dilakukan pengkelasan berdasarkan pengkelasan SNI yang terbagi 3 kelas : yaitu (1) kelas super yaitu jeruk siam bermutu paling baik yang
mencerminkan ciri varietas/tipe komersial, bebas dari kerusakan kecuali kerusakan sangat kecil yang tidak mempengaruhi mutu dan penampilan buah secara umum; (2) kelas A yaitu jeruk siam bermutu baik yang mencerminkan ciri varietas/tipe komersial dengan kerusakan kecil yang mengalami penyimpangan dan cacat maksimum 10% dari total luas permukaan buah dan tidak boleh mempengaruhi mutu daging buah; (3) kelas B yaitu jeruk siam bermutu baik yang mencerminkan ciri varietas/tipe komersial dengan kerusakan kecil yang mengalami penyimpangan dan cacat maksimum 15% dari total luas permukaan buah dan tidak boleh mempengaruhi mutu daging buah. Kemudian dilakukan pengamatan karakterisasi fisik dan kimia.
Setelah diperoleh pengkelasan buah jeruk Siam Banjar dari keempat tipologi lahan dilanjutkan penyimpanan buah jeruk Siam Banjar kelas A pada suhu kamar dan suhu 150C selama 40 hari penyimpanan dengan pengamatan sifat fisiko kimia setiap 10 hari penyimpanan.
Gambar 2.Diagram alir penelitian
Jeruk siam banjar
lahan pasang surut A dan lahan Lebak dipanen pada umur 270 hari setelah bunga mekar, sedangkan di lahan pasang surut B dan C dipanen pada 240 hari setelah
bunga mekar lahan rawa lebak
Sortasi dan pengkelasan
Karakterisasi fisik, kimia dan organoleptik
Penyimpanan jeruk siam kelas A dari lahan pasang surut A, B, C dan lahan lebak pada suhu 150C dan kamar
Rancangan Percobaan Penelitian tahap I
Penelitian tahap I bertujuan untuk menentukan karakterisasi mutu buah jeruk Siam Banjar berdasarkan SNI di keempat tipologi lahan rawa yaitu : tipologi pasang surut tipe A, tipologi pasang surut tipe B, tipologi pasang surut tipe C dan tipologi Lebak
Penelitian tahap II
Penelitian tahap II bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu dan lama penyimpanan terhadap mutu jeruk Siam Banjar kelas A di lahan pasang surut tipe A, B, C dan lahan lebak.
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok pada suhu kamar dan suhu 15 oC dengan 3 kali ulangan.
Suhu Kamar, dengan :
Kelompok = K1 = tipologi pasang surut tipe A K2 = tipologi pasang surut tipe B K3 = tipologi pasang surut tipe C K4 = tipologi Lebak
Perlakuan = Lama penyimpanan L1 = 10 hari penyimpanan L2 = 20 hari penyimpanan Suhu 15 oC, dengan :
Kelompok = K1 = tipologi pasang surut tipe A K2 = tipologi pasang surut tipe B K3 = tipologi pasang surut tipe C K4 = tipologi Lebak
Perlakuan = Lama penyimpanan L1 = 10 hari penyimpanan L2 = 20 hari penyimpanan
L3 = 30 hari penyimpanan L4 = 40 hari penyimpanan Model matematikanya adalah :
Keterangan :
Yijk = Respon tiap parameter yang diamati µ = Nilai rata-rata umum
αi = Pengaruh kelompok ke-i
βj = Pengaruh perlakuan ke-j
εijk = Pengaruh acak pada kelompok ke-i dan perlakuan ke-j Dimana : i = 1,2,3,4
j = 1,2 k=1,2,3
Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis sidik ragam ( Steel and Torrie, 1980 ) pada tingkat kepercayaan 95 % menggunakan program SPSS. Jika terdapat pengaruh perlakuan, maka dilakukan pengujian lanjut dengan menggunakan
Duncan Multiple Range Test (DNMRT).
Pengamatan dan Pengukuran
a. Klasifikasi mutu Jeruk Siam Banjar berdasarkan SNI meliputi :
1. Pengkelasan Mutu 2. Pengkelasan Ukuran
b. Karakteristik Fisik
Karakteristik fisik yang di amati sesuai dengan standar mutu buah SNI buah jeruk siam, meliputi :
1. Bentuk buah
Pengamatan bentuk buah jeruk dilakukan secara pengamatan visual dan secara matematis bentuk buah yang diperoleh dari perhitungan perbandingan (rasio) diameter tranversal dengan diameter longitudinal.
2. Diameter buah.
Pengamatan diameter buah jeruk dengan menggunakann alat bantu jangka sorong.
3. Warna kulit
Warna kulit jeruk siam Banjar diukur dengan chromameter yang telah dikalibrasi. Alat ini mempunyai system notasi warna hunter ( sistem warna L, a dan b). Sistem warna L menyatakan parameter kecerahan (brightness) dengan nilai 0 (hitam) sampai 100 (putih). Sistem warna a dan b merupakan
koordinat kromatik campuran merah hijau dengan nilai +a dari 0 sampai +60 untuk warna merah dan –a dari 0 sampai -60 untuk warna hijau. Nilai b menyatakan warna kromatik campuran kuning biru dengan nilai +b dari 0 sampai +60 untuk warna kuning dan nilai –b dari 0 sampai -60 untuk warna biru.
4. Kekerasan
Kekerasan buah jeruk siam diukur dengan menggunakan rheometer. Pengukuran kekerasan buah jeruk siam meliputi kekerasan buah utuh dengan menggunakan alat rheometer yang di set dengan mode 20, beban maksimum 10 kg, dalam penekanan 3 mm, kecepatan penurunan beban 60 mm/menit dan diameter pluger jarum 2,5 mm. Bahan ditekan pada 3 tempat dan hasil pengukuran dari ketiga bagian rata-rata.
c. Karakteristik Kimia
Karakteristik kimia yang di amati adalah :
1. Laju Respirasi
Persamaan yang digunakan untuk menghitung laju respirasi adalah sebagai berikut :
R = dx x V dt W
Dimana :
R = Laju respirasi (ml/kg.jam) x = Konsentrasi gas CO2 ( % ) t = Waktu (jam)
V = Volume bebas “respiration chamber” (ml) W = Berat produk (kg)
2. Total Padatan Terlarut (0 Brix)
Total padatan terlarut (TPT) diukur dengan menggunakan hand refractometer. Filtrat dari perasan daging buah jeruk siam banjar yang diteteskan pada prisma refractometer, kemudian dapat dilihat skala angka yang menunjukkan kandungan total padatan terlarut buah.
3. Vitamin C ( Metode Titrasi, Ranggana, 1977)
Analisa kandungan vitamin C buah jeruk siam banjar dilakukan dengan menggunakan metode titrasi,2.6 diklorofenol-indofenol. Sampel sebanyak 10 g ditimbang, ditambahkan dengan HPO3 (Metaphosporic acid) 6 % sebanyak 50 ml, diaduk/diblender dan diencerkan sampai 100 ml, kemudian disaring. Bila hasil saringannya masih keruh, lakukan sentrifuge, diambil ± 5 ml dan ditambahkan dengan larutan dye (Dichlorofenol indofenol) ± 5 -10 ml (sampai berwarna merah) setengah menit dari penambahan larutan dye tersebut dimasukkan ke alat spektrofotometer dan nilainya dapat dibaca. Panjang gelombang absorban yang digunakan 518 nm. Selanjutnya kandungan vitamin C dapat dihitung dengan menggunakan rumus
Konsentrasi asam askorbat x Volume larutan yang (vit.C) dari kurva standar dibuat x 100 mg vit.C/100 g =
sampel ml larutan x 1000 yang x Berat/volume sampel diukur yang diambil
d. Uji Organoleptik
Penilaian sensoris dilakukan dengan uji kesukaan yang meliputi warna kulit buah, warna daging buah, rasa manis dan rasa masam buah jeruk siam banjar dengan menggunakan 15 orang panelis yang agak terlatih. Penilaian sensoris oleh panelis agak terlatih dilakukan dengan menggunakan skala hedonis 1 sampai 5. Skala yang digunakan adalah sebagai berikut : skala 5 untuk sangat suka, 4 suka, 3 biasa, 2 agak tidak suka, dan 1 untuk tidak suka.
Analisa statistik uji organoleptik menggunakan test nonparametric Kruskal Wallis test, yaitu suatu kriteria uji yang didasarkan pada pangkat (rank) yang layak digunakan pada rancangan acak lengkap. Prosedur ujinya adalah (1) gabungkan semua contoh dan urutkan dari yang terkecil sampai yang terbesar, (2) jumlahkan semua pangkat untuk masing-masing contoh dan hitunglah kriteria ujinya
Kriteria ujinya adalah H = 12 ∑ Ri2 n(n+1) I ni
Keterangan :
ni = banyaknya penagamatan dalam contoh ke-i i = 1,…, k
n = ∑ni
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada penelitian ini dilakukan pengamatan hasil budidaya jeruk untuk empat tipologi lahan rawa dari informasi petani lokal. Karakterisasi lahan dari keempat tipologi lahan rawa yaitu lahan pasang surut tipe A, pasang surut Tipe B ,lahan pasang surut Tipe C dan lahan lebak dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4.Karakteristik lahan jeruk di empat tipologi lahan rawa di Kalimantan Selatan
Tipologi lahan rawa
Pengertian lahan Pengolahan lahan Waktu panen Pasang surut A Daerah yg terluapi
air sepanjang tahun
Di lumpuri 2-3 bulan sekali untuk
menyuburkan unsur-unsur hara dalam tanah.
270 hari setelah bunga mekar.
Pasang surut B Daerah yg terluapi pada saat pasang besar Di beri pupuk kandang. 240 hari setelah bunga mekar. Pasang surut C Daerah yg terluapi
pada saat pasang kecil Di beri pupuk kandang. 240 hari setelah bunga mekar. Lebak Daerah yg luapan
airnya tergantung air hujan Tanpa melakukan pemberian pupuk 270 hari setelah bunga mekar.
Data karakteristik lahan pada Tabel.4 diperoleh berdasarkan kebiasaan yang dilakukan petani lokal jeruk di keempat lahan rawa. Perbedaan waktu panen pada keempat tipologi lahan rawa karena bedanya tujuan pemasaran buah jeruk siam. Jeruk siam yang lebih awal di panen pada lahan pasang surut tipe B dan tipe C mempunyai tujuan pemasaran ke luar daerah Kalimantan Selatan seperti pulau Jawa sedangkan petani lokal jeruk siam lahan pasang surut tipe A dan lebak yang memanen jeruk dengan waktu yang lebih lama dengan memasarkan jeruk siam ke pasar lokal di daerah-daerah Kalimantan Selatan.
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh karakteristik buah jeruk siam Banjar di keempat tipologi lahan rawa baik klasifikasi mutu buah, karakteristik fisik dan kimia buah yang dapat dilihat pada tabel 5 dibawah ini.