BAB III DESKRIPSI KITAB “AL MANDZUMAH AD DALIYAH FI
B. Metode penentuan awal bulan qamariyah yang digunakan
Kumpulan Nadzam yang menunjukkan (penentuan) awal bulan-bulan qamariah menurut metode ulama Sunni yang didasarkan pada hadits Nabi karya al-Faqir ila-Allah Ta’ala Muhammad Faqih bin Abdul Jabbar al-Maskumambangi. (Semoga) Allah memberi kecukupan bagi keduanya Amin Amin Amin
Bismillahirrahmanirrahim
1. Aku memulai (menyusun bait ini) dengan mengucap basmalah dan
hamdalah. Shalawat dan salam (semoga) terlimpahkan pada (Nabi
Muhammad) sebaik-baiknya orang yang bersujud.
2. Dan para sahabatnya serta keluarganya selama pelaksanaan puasa Masih berkaitan dengan melihat hilal tanpa keraguan.
3. Selanjutnya,
adalah huruf-huruf untuk merumuskan bilangan.
Setelah mengucapkan basmalah dan hamdalah dalam nadzam pertama dan kedua, kemudian Syeikh Faqih menjelaskan angka-angka rumus dengan huruf abjadiyah pada nadzam ketiga, yakni:
ن ل ك ي ط ح ز و ه د ج أ
50 40 30 20 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1
غ ظ ض خ ث ت ش ق ص ف ع س
1000 900 800 700 600 500 400 300 200 100 90 80 70 60
4. (Jumlah hari) tahun Bashithah ialah (354 hari) dan tahun kabisat Ialah (355 hari). (Jumlah hari) pada bulan ganjil (30) dan bulan pada genap adalah (29).
Pada bait keempat ini menjelaskan tentang jumlah hari, jumlah hari dalam tahun Basithah penanggalan Arab ialah 354 hari, dengan rumus karena = 300, = 50, dan + = 2+2 = 4, sehingga menjadi
354 hari. Adapun jumlah hari tahun kabisat ialah 355 hari dengan rumus karena = 1, = 300, = 50, dan + = 2+2 = 4, sehingga menjadi 355 hari.
Bulan-bulan ganjil dalam setahun (1. Muharram, 3. Rabiul Awwal, 5. Jumadil Awwal, 7. Rajab, 9. Ramadhan, dan 11. Dzulqa’dah) jumlah
harinya ialah 30 hari sehingga dirumuskan oleh Syeikh menjadi , yakni
ك = 20 + ي = 10. Bulan-bulan genap dalam setahun (2. Safar, 4. Rabiu
Tsani, 6. Jumadil Tsani, 8. Sya’ban, 10. Syawal, dan 12. Dzulhijjah)
jumlah harinya ialah 29 hari sehingga dirumuskan oleh syeikh menjadi , yakni ه = 5 + ك = 20 + د = 4.
5. Kecuali bulan Dzulhijjah, maka (jumlah harinya) ialah : + ي )01 (= (
01 )
ك (30) pada tahun kabisat. Selanjutnya, tahun kabisat adalah (tahun ke-) (2), ه (5), ز (7), ي (10), ْجي:ي (10) + ج) 3( =(13), يْه :ي (10) +ه (5)
=(15), ْحي :ي )01( + ح )8( =(18), كْأ :ك)20( +ء) 0( =(21), ْوك :ك)20) 6( = + و(26), ْطك: ك )01( + ط) 9( =(29) dan ْك : ك )01( + د )4( =(24).
6. Adalah tahun-tahun kabisat pada setiap ل (30) tahun, dan selainnya adalah tahun-tahun Basithah. Pada tahun yang sempurna, maka tidak dianggap (gugur). Dan ambillah أْد (5)
Dalam bulan hijriyah mempunyai siklus 30 tahunan, dari 30 tahun tersebut terdapat 11 tahun kabisat dan 19 tahun basithah. Tahun kabisat adalah tahun yang ada pada urutan ke : 2, 5, 7, 10, 13, 15, 18, 21, 24, 26, dan 29. Dan selain tahun-tahun tersebut adalah tahun basithah.
Cara mengetahui tahun kabisat atau basithah, tahun yang sdang berjalan dibagi 30 dan sisa dari pembagian tersebut dicocokkan dengan
bait nadzam ke 5, apabila terdapat angka yang sama maka tahun tersebut merupakan tahun kabisat. Apabila angkanya tidak terdapat seperti angka-angka dalam bait ke-5 maka tahun tersebut basithah.
Contoh : 1437 : 30 = 47, sisa 27. Karena 27 itu tidak terdapat dalam angka bait nadzam ke-5, maka tahun 1437 merupakan tahun basithah.
7. Bagi masing-masing كو (30) dari yang tersisa, dan tahun kabisat dengan serendahnya. Adapun tahun Basithah maka cukup.
Satu bulan pada kalender Hijriyah ditetapkan berdasarkan periode bulan mengelilingi bumi atau dikatakan periode revolusi bulan dan waktu yang diperlukan bulan untuk mengelilingi bumi 1 kali putaran adalah 29,5 hari, atau tepatnya 29 hari 44 menit 3 detik. Di samping berevolusi terhadap bumi, bulan juga berotasi terhadap porosnya dan waktu yang dibutuhkan untuk satu kali putar juga 29,5 hari.
Jumlah hari pada setiap bulan 29 hari atau 30 hari dengan berselang-seling, maka setiap tahun akan terbuang waktu 12 x 44 menit 3 detik = 8 jam 48 menit 36 detik. Waktu yang terbuang tiap tahun ini akan dikumpulkan sehingga menjadi bilangan bulat dengan satuan hari. Waktu yang terbuang selama 30 tahun = 11 hari (30 x 8 jam 48 menit 36 detik = 11 hari). 11 hari ini akan ditambahkan pada tahun-tahun dalam setiap periode 30 tahun. Jadi terdapat tahun kabisat sebanyak 11 tahun kali dalam setiap interval 30 tahun.
8. Telah ditunjukkan. Ambillah dari masing-masing dan apa yang kau Ambil kumpulkanlah keseluruhannya, maka kau akan mendapatkan petunjuk.
Cara mengetahui permulaan hari dalam awal bulan hijriyah yaitu sebagai berikut :
a. Tahun tam yakni tahun yang telah sempurna (sebelum tahun yang akan diketahui nama hari di awal tahunnya) dibagi 30
b. Hasil dari pembagian tersebut dikalikan 5 (ْدا( lalu simpan*
c. Sisa pembagian 30 tadi (hasilnya adalah angka 30 ke bawah) hitunglah berapa tahun kabisat dan basithahnya (lihat dan sesuaikan dengan keterangan bait nomor 6), maka:
1) Jumlah tahun kabisatnya dikalikan 5 (ْدا( lalu simpan**
2) Jumlah tahun basithahnya dikalikan 4 (ْن خلا ف) lalu simpan***
3) Jumlahkan semua angka hasil perkalian yang disimpan tersebut dengan ditambahkan angka 5 (دا(
9. Bagilah dari keseluruhannya, ز (7) supaya Kamu melihat angka ز (7) atau serendahnya, dan hitunglah mulai dari ahad, maka akan ditemukan nama hari awal tahun yang diinginkan.
Urutan nama-nama hari dalam al-Mandzumah ad-Daliyah fi Awaili
al-Asyhuri al-Qamariyah untuk mengetahui awal hari pada permulaan
tahun (bulan Muharam) : a. Ahad
b. Senin c. Selasa d. Rabu
e. Kamis f. Jumat g. Sabtu
Misalkan ingin mengetahui tanggal satu muharam pada tahun 1437 1437-1=1436 (tahun tam)
1436: 30 = 47 (angka sesudah koma tidak dihitung) 47 X 5 = 235*
Pada tahun tam (1436) siklus 30 tahunan hijriyah sedang berada pada tahun ke 26 yaitu sudah 10 tahun mengalami tahun kabisat dan 16 tahun basithah). Mengetahui tahun tam dalam siklus 30 tahunan sedang berada pada tahun ke berapa, yaitu terlebih dahulu dicari tahun siklusnya. Setelah itu tahun tam dikurangi tahun siklus, maka hasilnya adalah urutan tahun dalam siklus 30 tahunan. Seperti berikut: 1436 - 1410 = 26.
Tahun kabisat 10 x 5 = 50** Tahun basithah 16 x 4 = 64***
Jumlah total angka-angka yang disimpan dan tambahkan 5 = 354 **** 354 : 7 = 50, sisa 4 (rabu)
Jadi awal hari pada tahun 1437 adalah hari Rabu.
10.Maka hasil dari perhitungan tersebut Adalah awal tahun sesudah sempurna (tahun sebelumnya) tanpa ada keraguan!
11.Untuk mengetahui awal bulan yang kau hitung selain muharram Dimulai dengan perhitungan
a. Muaharam : ا (1) b. Shafar : ج (3) c. Rabiul awal : د (4) d. Rabiul Tsani : و (6) e. Jumadil awal : ز (7) f. Jumadil Tsani : (2) g. Rajab : ج (3) h. Sya’ban : ه (5) i. Ramadhan : و (6) j. Syawal : ء (1) k. Dzulqa’dah : (2) l. Dzulhijjah : د (4)
12.Maka hasil dari perhitungan yang kau lakukan adalah Permulaan awal bulan yang kau cari. Ketahuilah nak!
Jadi misalkan untuk tahun 1437 H. seperti dicontohkan di atas yang awal muharamnya jatuh pada hari rabu maka bulan-bulan berikutnya pada tahun 1437 H. adalah sebagai berikut :
a. Muharam (1) Rabu b. Shafar (3) Jumat c. Rabiul Awal (4) Sabtu d. Rabiul Tsani (6) Senin e. Jumadil Awal (7) Selasa f. Jumadil Tsani (2) Kamis
g. Rajab (3) Jumat h. Sya’ban (5) Ahad i. Ramadhan (6) Senin j. Syawal (1) Rabu k. Dzulqa’dah (2) Kamis l. Dzulhijjah (4) Sabtu
13.Berpeganglah pada bait-bait ini selama di muka bumi ini terdapat manusia yang terkena taklif ketika hendak melaksanakan ibadah.
14.Asal dari isi bait-bait ini dari Sayid Ahmad yang dinisbatkan pada Marzuqi kemudian sampai Maad.
Kyai Faqih merupakan murid dari al-Marzuqi nama lengkapnya Ahmad bin Muhammad bin Ramadhan, Abu Fauz Husaini al-Marzuqi. Beliau merupakan ahli fiqih Maliki al-Makki. Beberapa karya beliau adalah (tahsilu naili al-maram) syarah nadzam aqidatul awam
(tauhid), nadzam “ismatu al-anbiyai”, dan bulughu al-maram, syarhi li
qishati maulidi an-nabawi. (kitab al-a’lamu li az-zarkali, juz 1, halaman
247).3
15.Maka percayalah bahwa pendapat ini adalah pendapat yang benar, menurut saya bait-bait ini tidak akan mendustakan kecuali bagi yang tidak suka dan hasud.
16.Apa yang disampaikan di dalam kitab washilah tidak ada perbedaan diantara keduanya.
3
Fatin Mashudi bahri, tahqiq Al-mandzumah ad-daliyah fi awaili asyhuri
Kitab falak yang diajarkan kepada Syeikh Faqih Maskumambang yaitu kitab wasilah at-thullab li yahya bin Muhammad bin Muhammad bin Abdurrahman al-Hithab (902-990 H. atau 1496-1587 M.) seorang Ulama Fiqih Maliki dari Mekah yang membidangi Ilmu Falak, beberapa karyanya
“washilah at-thullab fi ilmi al-falak bithariqi al-hisab, ujubah fi
al-waqfi, irsyadu as-salik al-muhtaji ila bayani al-mu’tamar wa al-hajji,
mukhtashar suluku ad-darain fi halli an-nayyirain fi al-miqat, dan syarhu
alfadzi al-waqifin wa al-qismah ala al-mustahiqqin.4
17.Dalam satu daerah hasil hisab bisa saja hasilnya sama seperti hasil rukyat. 18.Seperti halnya dimungkinkannya hasil hisab lebih awal 1 atau 2 hari, dan
tidak mungkin hasil dari perhitungan hisab lebih awal 3 hari dari hasil rukyat.
19.Rukyatul hilal tidaklah mungkin mendahului hasil hisab, apabila ada
persaksian dari seseorang yang mendahului hisab, maka persaksiannya tertolak.
20.Ketika bulan bisa dirukyat dan dengan mata bisa dilihat, maka boleh disiapkan penguat yang lain.
21.Di dalam bulan Ramadhan jumlah 30 hari itu jarang, sedangkan 29 hari itu sering (bahkan jarang terjadi hanya satu kali).
22.Jumlah 29 hari itu terjadi 2 kali atau sampai 4 kali berturut-turut, sebagaimana yang difatwakan Imam Nawawi.
Pendapat Imam Nawawi ini bersumber dari hadis Nabi yang berbunyi :
4
Fatin Mashudi bahri, tahqiq Al-mandzumah ad-daliyah fi awaili asyhuri
Artinya: Dari Ibnu Mas’ud, dia berkata : ketika saya berpuasa dengan
Nabi Saw jumlah 29 hari itu lebih sering dari pada jumlah 30 hari bersamanya (HR. Abu Daud)
Melihat bait ke 21 dan 22 nampak jelas bahwa jumlah hari pada bulan ramadhan bertentangan dengan bait keempat yang dalam urutan bulan jatuh pada urutan ke-9 (ganjil). Pada bait ke 21 dan 22 “usia 29 hari pada bulan ramadhan lebih sering dari pada usia 30 harinya. Sedangkan pada bait keempat disebutkan “pada bulan ganjil usia bulan berjumlah 30 hari dan pada bulan genap usia bulan 29 hari”. Akan tetapi pada bait ke-26 dijelaskan bahwa penentuan awal bulan Qamariyah yang berkaitan dengan pelaksanaan ibadah harus menggunakan metode rukyatul hilal bukan bukan dengan hisab.
23.Melihat hilal itu hukumnya fardlu kifayah, untuk mengetahui hukum yang terjadi di keesokan harinya.
24.Oleh karena itu, kita mencukupkan ketika dua hari pada akhir bulan mendung.
25.Maksudnya, ketika dua hari di akhir bulan itu tidak dapat dilakukan rukyat sejak matahari terbenam sampai matahari terbit maka sudah pasti hilal tidak terlihat.
5
Sulaiman Ibn Al-Asy’ats Abu Daud,Sunan Abu Daud, (Beirut, Darul Fikr, tth), Juz 1, h. 710
26.Istikmal (menggenapkan umur bulan menjadi 30 hari) itu sah. Ketertampakan hilal di awal bulan dihitung sejak keberhasilan rukyat), bukan dihitung sejak diketahui hasil hisab.
27.Terjadi istitar dalam dua malam berturut-turut di akhir bulan, meniscayakan terjadinya istikmal.
28.Jika pada malam 29 dan 30 terjadi istitar, maka tidak lagi diperlukan rukyat di sore harinya, karena umur bulan sudah genap 30 hari.
29.Maka harus berpuasa ketika harus tertutup di dua hari tersebut, karena satu bulan itu tidak mungkin melewati 30 hari.
30.Adapun hadis “shumu li rukyatihi….” Terkhusus bagi orang ketika terjadi
istitar pada tanggal 29 dan 30 (sejak hilal pertama kali muncul sampai
terbit fajar).
31.Orang yang terhalang rukyat di akhir hari (ashar sampai maghrib) ketika melihat hilal di waktu subuh maka dianggap.
32.Ketika seorang adil bersaksi tentang awal bulan dengan hilal (pada tanggal 28) kemudian dia merukyat pada subuh tanggal 29, maka diragukan. 33.Tanggal 1 dan tanggal 29 (hari dilakukannya rukyat) cobalah dihitung,
maka engkau akan mendapatkan nama hari yang sama.
Ketika bulan Sya’ban dimulai pada hari senin, maka pada tanggal 29 (hari di mana dilakukannya rukyat) akan jatuh pada hari senin juga, seperti contoh :
Senin = 1 Selasa = 2 Rabu = 3 Kamis : 4 Jumat : 5 Sabtu : 6 Minggu = 7
Senin = 8 Selasa = 9 Rabu = 10 Kamis =11 Jumat = 12 Sabtu =13 Minggu =14
Senin = 15 Selasa = 16 Rabu = 17 Kamis = 18 Jumat = 19 Sabtu = 20 Minggu = 21 Senin = 22 Selasa = 23 Rabu = 24 Kamis = 25 Jumat = 26 Sabtu = 27 Minggu = 28 Senin = 29
34.Jika terjadi istitar satu kali, dan sore harinya ternyata tampak hilal, maka pada bulan berikutnya akan terjadi istikmal
35.Ketika tidak bisa rukyat di malam hari, maka hadis nabi melarang puasa di siang harinya.
36.Jika bisa melihat hilal maka perintah untuk berpuasa itu jelas, jadi bagaimana menurutmu dengan hadis ini. Dari manakah engkau bisa menolak?
37.Jika permulaan bulan dengan perantara hilal itu membingungkan maka ijtihadlah.
38.Wajib dengan metode yang dikehendaki dan memilih metode yang paling akurat karena perkiraannya lebih baik.
39.Hisab posisi bulan seperti yang digunakan dalam perhitungan kalender
hijriyah, menurut sebagian ulama boleh diamalkan bagi sang hasib dan
pengikut setianya (murid-muridnya)
40.Namun dalam masalah ini terdapat perbedaan pendapat. Sama halnya dengan metode perhitungan lainnya, seperti hisab yang menggunakan pedoman pada kemunculan bintang, buah-buahan, dan angin sebagai tanda-tanda yang dikenali.
41.Cara paling mudah untuk mengetahui awal bulan yaitu dengan cara melihat kalender, maka gunakanlah seperti yang sudah dilakukan orang-orang dahulu. Dan lihatlah kitab “hasyiyatu al-raudli”.
42.Benar! (terdapat perbedaan pendapat tentang penggunaan hisab manazil (posisi bulan) dan ketiga metode pendekatan di atas). Namun, sesungguhnya tidak seorang ulama pun berpendapat bahwa hilal penentu
awal bulan Syar’iyah bisa diprediksi dengan menggunakan ketiga metode pendekatan tersebut (bintang, angin, dan buah-buahan).
43.Barang siapa yang mampu untuk berijtihad maka menurut ulama fiqih tidak boleh taqlid.
44.Di sana (keterangan di atas) disertai pendapatku setelah saya mengulang-ulang lautan karya ulama yang diperhitungkan.
45.Dan hanya bagi Allah pemilik segala puji, dan shalawat dan salam kepada Nabi dengan tanpa meminta balasan.
46.Serta keluarga, sahabat, kemudian orang yang mengharapkan perbaikan yang salah pada secarik bait ini.
47.Dari saudara yang mempunyai sifat adil sesudah mengangan-angan, semoga mendapatkan faidah setelahnya.
48.Tarikh dibuatnya bait-bait ini adalah tahun 1342 ) غ ءْيش( bila dihitung dengan huruf jumal berjumlah 1342 seperti rincian berikut ini )ش( 300 + ي
(10) + ء (1) + غ (1000) + ل (30) + ا (1) = 1342. Namun, meskipun dengan susah payah selain Tuhan tidak akan member kesempatan itu (terselesaikannya tulisan ini).