4 HASIL
4.2 Unit Penangkapan Ikan
4.2.4 metode pengoperasian bubu
1) Bubu kawat
Pengoperasian bubu kawat bersifat pasif berada di dasar perairan.
Pengopersian bubu kawat di bagi menjadi 4 tahap, yaitu : persiapan, setting,
soaking dan hauling.
Tahapan pertama yaitu persiapan perlengkapan alat dan pembekalan. Persiapan yang dilakukan dimulai dari mempersiapkan bubu kawat yang akan digunakan, pembekalan bagi nelayan, mesin kompresor serta mesin kapal yang akan digunakan. Satu trip pengoperasian unit penangkapan bubu kawat biasanya dilakukan satu trip dalam 1-2 hari, yaitu pagi hari pada pukul 06.00 –
09.00 WIB. Setelah semua persiapan selesai, lalu nelayan segera menuju fishing
ground atau daerah penangkapan ikan (Lampiran 1). Jarak dari fishing ground sekitar 1-2 mil, ditempuh selama kurang lebih 30 menit - 1 jam.
Setelah tiba di fishing ground mesin dimatikan dan jangkar diturunkan,
kemudian segera mencari daerah pengoperasian. Nelayan memulai pencarian
dengan cara menyelam atau snorkling. Penyelaman dilakukan nelayan bubu
untuk melihat gerombolan ikan dan pencarian gorong-gorong karang atau biasa
disebut gosong. Setelah menemukan daerah yang cocok, kemudian nelayan
menurunkan selang kompresor sebagai alat bantu pernafasan serta bubu kawat yang akan dipasang sebanyak 4 buah untuk 1 kali proses penyelaman. Pengoperasian bubu kawat dimulai dengan pemasangan bubu di dasar perairan
dengan posisi mulut bubu menghadap kearah tempat ikan berlindung. Kemudian bubu kawat ditutupi dengan tumpukan batuan karang yang sudah mati, kecuali
bagian mulut bubu. Peletakan bubu diletakkan di sekitar artificial coral reef.
Peletakan harus diusahakan sedemikian rupa, agar bubu tersebut tidak terbalik. Gelombang dan arus laut yang besar akan berpengaruh terhadap kestabilan bubu karena dapat menyebabkan posisi bubu bergeser dan akhirnya terbalik. Selanjutnya setelah pemasangan bubu I selesai diikuti pemasangan bubu kawat yang lainya, dengan jarak 15-100 m antar bubu. Waktu yang dibutuhkan dalam pemasangan bubu kawat sekitar 3-5 jam.
Umpan yang digunakan adalah jenis ikan hidup seperti ikan-ikan yang berukuran kecil yang telah disediakan yang tertangkap pada pemasangan sebelumnya ataupun hewan karang yang biasa melalui bagian dalam bubu kawat tersebut dan menjadi target ikan utama. Gambaran pengoperasian bubu kawat dan tahapan pengoperasian bubu kawat dapat dilihat pada Gambar 9.
Gambar 9 Tahap operasional alat tangkap bubu kawat
Setelah pemasangan bubu kawat selesai seluruhnya, nelayan mulai
membereskan perlengkapan dan menaikkan jangkar, serta kembali ke fishing
base. Bubu kawat yang telah terpasang akan direndam selama 3-5 hari.
(c) ABK pada saat hauling (d) Hasil tangkapan bubu kawat
Hauling dilakukan di atas perahu pada pada pagi hari. Hasil tangkapan dimasukan ke dalam bak penampung ikan. Biasanya setelah proses pengangkatan, nelayan akan mencari dan memasang bubu kawat kembali jika kondisinya masih baik dan masih ada waktu untuk beropersi. Apabila bubu kawat
mengalami kerusakan, maka nelayan akan kembali ke fishing base untuk
memperbaiki bubu tersebut. 2 ) Bubu jaring
Pengoperasian bubu jaring bersifat pasif berada di dasar perairan. Setelah
kapal berlayar selama 1,5-3 jam dan tiba di fishing ground (Lampiran 2) yang
berjarak antara 7-14 mil, maka setting dimulai dengan menununggu aba-aba dari
nahkoda kapal (sambil merekam posisi bubu pada GPS), setelah aba-aba diberikan, maka ABK siap menjatuhkan bubu pertama diawali dengan mengulurkan tali utama dilanjutkan dengan tali cabang kemudian bubu I tanpa perlu melakukan penyelaman ke dasar perairan guna membantu proses peletakannya, kemudian menjatuhkan bubu kedua juga setelah ada aba-aba dari nahkoda kapal (sambil merekam posisi bubu pada GPS juga), untuk satu rangkaian bubu. Tahapan pengoperasian bubu jaring dapat dilihat pada Gambar 10.
Gambar 10 Tahap operasional alat tangkap bubu jaring (c) ABK bersiap untuk menjatuhkan
pengait pada saat hauling
(d) Hasil tangkapan bubu jaring
Umpan yang digunakan pada bubu jaring adalah jenis ikan hidup yang telah tertangkap pada pemasangan sebelumnya seperti ikan-ikan yang menjadi target ikan utama ikan karang. Selain itu juga, hewan karang dan tumbuhan laut seperti alga yang biasa melalui bagian dalam bubu jaring tersebut juga bisa menjadi umpan pada penangkapan dengan menggunakan alat tangkap bubu jaring.
Pada proses peletakan bubu ini diusahakan agar funnel saling
berhadapan. Hal ini dilakukan pada semua rangkaian bubu pada semua perlakuan (dua, tiga, empat dan lima hari).
Proses setting untuk satu rangkaian bubu berlangsung selama 5-10
menit. Setelah semua bubu diletakkan, bubu direndam selama 3-5 hari. Proses
hauling sama untuk semua perlakuan bubu, yaitu mula-mula dengan mempersiapkan gancu, yang digunakan untuk mengait tali antara bubu bambu dengan bubu jaring di dasar perairan.
Setelah tiba di lokasi peletakan bubu, maka nahkoda kapal memberikan aba-aba kepada ABK untuk menjatuhkan gancu. Alat bantu ini dijatuhkan antara bubu bambu dan bubu jaring, kemudian nahkoda kapal menjalankan kapal secara perlahan diantara bubu, sambil sesekali melihat ke GPS dan ABK. Apabila dirasa gancu telah tersangkut tali bubu, maka ABK memberikan aba-aba kepada nahkoda untuk menghentikan kapal (mesin kapal tetap hidup) dan proses
hauling pun dilakukan dengan menarik tali gancu tersebut.
Tarikan demi tarikan dilakukan oleh ABK hingga gancu sampai di atas
kapal, setelah itu maka giliran tali bubu (main line) diangkat dan diletakkan
melintang pada kapal. Kemudian kapal menyisir main line pada salah satu sisi
kapal untuk memperpendek jarak bubu.
Apabila diperkirakan jarak bubu hampir dekat dengan kapal, maka ABK
mulai menarik main line hingga bubu naik ke kapal. Apabila bubu jaring telah
terlihat, maka seluruh ABK membantu menaikkan bubu ke atas kapal secara bersamaan. Pada saat pengangkatan bubu, kapal mengalami ketidakstabilan dikarenakan beban yang ditimbulkan akibat proses pengangkatan bubu.
Setelah bubu naik ke kapal maka dilakukan proses pengeluaran hasil
tangkapan. Proses hauling ini dapat berlangsung selama 20-30 menit. Hauling
dilakukan sebanyak 5 (lima) kali dan dinyatakan sebagai 5 (lima) kali ulangan. Masing-masing perlakuan (lama perendaman tiga hari, empat hari dan lima hari) melakukan 5 (lima) kali ulangan.
Setelah proses hauling selesai dilakukan, maka kapal kembali menuju
fishing base. Hasil tangkapan tersebut diusahakan agar tetap hidup karena memiliki nilai ekonomis lebih tinggi dibandingkan dengan ikan hasil tangkapan yang telah mati. Hasil tangkapan langsung dimasukkan ke dalam palkah yang
telah diisi air laut. Pencatatan semua hasil tangkapan dilakukan setelah kapal
tiba di fishing base (pukul 16.00 WIB - 18.00 WIB), yang meliputi jenis, jumlah
(ekor), berat (kg) hasil tangkapan.