JUMLAH TOTAL 528 717 549 100 555 581 590 317 590 314 590 380 590 352 Perahu Tanpa Motor 250 469 256 830 244 471 249 955 241 889 238 970 193
2.6 Metode Pengukuran Gross Tonnage (GT) Kapal Perikanan
Definisi GT kapal menurut pengukuran dalam negeri adalah ukuran isi dari ruangan di bawah geladak atas, ditambah dengan ukuran isi dari semua ruangan di geladak atas yang tertutup secara sempurna dan yang dapat digunakan
untuk muatan, atau pengangkutan penumpang. Jika ruangan demikian di geladak atas mempunyai ukuran isi kurang dari satu meter kubik, maka ukuran isi ruangan tersebut tidak ikut diperhitungkan. Untuk pengukuran dalam negeri, GT kapal diperoleh dan ditentukan dengan rumus sebagai berikut (Surat Keputusan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Nomor: PY.67/1/16-2002 tentang cara pengukuran dalam negeri untuk menghitung gross tonase kapal.
Keterangan:
V : adalah jumlah isi dari ruangan di bawah geladak atas ditambah dengan ruangan di bawah geladak atas ditambah dengan ruangan-ruanagn di atas geladak atas yang tertutup sempurna yang berukuran tidak kurang dari 1 m³.
Untuk pengukuran ruangan di atas geladak kapal yang umumnya berbentuk empat persegi tidak berbeda dengan cara pengukuran internasional. Perbedaan terletak dalam pengukuran ruangan di bawah geladak kapal. Perhitungan ruangan di bawah geladak kapal mengasumsikan bahwa semua ruangan di bawah dek utama kapal adalah ruang tertutup yang kedap air. Ruangan tertutup menurut cara dalam negeri ini tidak berbeda jauh dengan cara pengukuran internasional yaitu ruang mesin, ruang sistem kemudi, tangki air tawar, palka, ruang alat tangkap, ruang ABK, gudang, dapur, whell house, dan tangki BBM.
Adapun rumus yang digunakan dalam cara pengukuran dalam negeri adalah hasil perkalian antara panjang (L), lebar (B), dalm (D), dan factor (f).
Isi ruangan di bawah geladak utama
Keterangan :
L : Panjang kapal, yang diukur mulai dari geladak yang terdapat di belakang linggi haluan sampai geladak yang terdapat di depan linggi buritan secara mendatar. Perbedaannya untuk panjang dalam negeri ini sekaligus dicantumkan pada surat ukur, hal ini berbeda dengan cara pengukuran
GT = 0,25 x V
yang pertama panjang geladak utama hanya digunakan dalam perhitungan tidak dalam surat ukur kapal (Gambar 3).
B : Lebar kapal, adalah jarak mendatar diukur antara kedua sisi luar kulit lambung kapal pada tempat yang terbesar, tidak termasuk pisang-pisang. Berdasarkan hasil analisa pustaka didapat bahwa lebar dalam negeri ini adalah bagian dari lebar cara internasional untuk kapal-kapal kulit non logam. Hal ini karena dalam penyusunan cara dalam negeri ini mengasumsikan bahwa kapal-kapal di Indonesia secara umum terbuat dari kayu (Gambar 3).
D : Dalam kapal, adalah jarak tegak lurus di tempat yang terlebar, diukur dari sisi bawah gading dasar sampai sisi bawah geladak atau sampai pada ketinggian garis khayal yang melintang melalui sisi atas dari lambung tetap; dan cara pengukuran dalam kapal pada Gambar 4
f : factor, ditentukan menurut bentuk penampang melintang dan atau jenis kapal yaitu :
1) 0,85 bagi kapal-kapal dengan bentuk penampang penuh atau bagi kapal-kapal dengan dasar rata, secara umum digunakan bagi kapal tongkang
2) 0,70 bagi kapal-kapal dengan bentuk penampang hampir penuh atau dengan dasar agak miring dari tengah-tengah ke sisi kapal, secara umum digunakan bagi kapal motor.
3) 0,50 bagi kapal-kapal yang tidak termasuk golongan (1) atau (2) secara umum digunakan bagi kapal layar atau kapal layar dibantu motor.
Gambar 3 Cara pengukuran panjang dan lebar kapal
Gambar 4 Cara pengukuran dalam kapal
Faktor (f ) dalam bidang teknik perkapalan disebut juga sebagai koefisien balok (coefficient of block) atau Cb. Nilai Cb menunjukkan nilai perbandingan
L e b a r Tampak samping Tampak atas Palka Ikan Ruang Mesin Deck Line Base Line
antara volume displacement kapal dengan perkalian antara panjang, lebar, dan dalam kapal. Apabila nilai Cb ini semakin mendekati nilai satu maka bentuk badan kapal tersebut hampir menyerupai balok. Penetapan nilai f atau Cb akan mempengaruhi hasil dari perhitungan isi ruangan di bawah geladak. Hal ini dikarenakan nilai Cb sangatlah bervariasi, mulai dari bentuk kapal yang ramping, sedang hingga gemuk.
Nilai f atau Cb ini apabila diterapkan dalam pengukuran kapal ikan juga akan kurang sesuai karena menurut hasil penelitian Iskandar dan Pujiati (1995) menyebutkan bahwa kapal ikan yang mengoperasikan alat statis memiliki kisaran nilai Cb antara 0,39-0,70. Adapun kapal yang mengoperasikan alat yang ditarik memiliki kisaran nilai Cb antara 0,40-0,60. Kapal yang mengoperasikan alat yang dilingkarkan memiliki kisaran nilai Cb antara 0,56-0,67.
Pengukuran GT kapal menggunakan cara dalam negeri, tidak mengharuskan surveyor untuk melakukan pengukuran terhadap ruangan-ruangan yang ada di kapal secara satu persatu, hal ini sulit dilakukan karena membutuhkan waktu yang lebih lama. Namun demikian, untuk menghitung GT kapal, maka metode untuk menghitung volume ruang tertutup yang ada di atas kapal, dapat dilihat pada gambar berikut :
Definisi ruangan tertutup berdasarkan TMS 1969, peraturan 2 pasal 22 adalah ruang-ruang yang dibatasi oleh badan kapal, sekat-sekat dinding yang permanen atau semi permanen, oleh dek-dek ataupun penutup lainnya selain tenda-tenda tetap ataupun yang dapat dipindah. Tidak ada jalur terputus pada geladak, juga tidak terdapat buka-bukaan pada kulit kapal, pada geladak atau pada penutup suatu ruangan, atau pada dinding-dinding pemisah atau sekat-sekat dari ruangan.
Ruangan tertutup juga termasuk ruangan yang berada dalam sebuah ruangan walaupun ruangan tertutup tersebut tidak permanen. Selain ruangan tertutup yang termasuk dalam perhitungan, dalam mengukur GT kapal menurut pengukuran internasional juga memperhitungkan adanya ruangan yang dikecualikan seperti yang dimaksud pada peraturan 2 pasal 5 TMS 1969. Berdasarkan pasal tersebut yang dimaksud dengan ruang-ruang yang dikecualikan adalah ruang-ruang yang memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1) Ruang tersebut tidak dibatasi dengan papan atau bahan lain untuk mengamankan muatan atau persediaan barang;
2) Bagian-bagian terbukanya tidak dipasangi alat penutup; dan
3) Kontruksinya tidak memungkinkan untuk menutup bagian-bagian terbuka tersebut.
Ditinjau dari definisi ruangan tertutup diatas, khusus untuk pengukuran GT kapal ikan meliputi seluruh ruangan tertutup yang terdapat di atas maupun dibawah dek sebagai berikut:
1) Palkah ikan merupakan bagian terbesar dari kapal ikan berfungsi sebagai tempat penyimpanan es pada waktu kapal ikan akan berangkat menuju daerah penangkapan ikan (fishing ground) dan sebagai tempat penyimpanan ikan hasil tangkapan sewaktu kapal ikan kembali ke fishing base;
2) Gudang merupakan ruangan tertutup yang dapat digunakan sebagai tempat penyimpanan alat penangkapan ikan seperti jarring, pancing, dan peralatan operasi penangkapan ikan lainnya. Selain itu gudang juga berfungsi sebagai tempat menyimpan peralatan kapal lainnya seperti jangkar, tali, suku cadang kapal, dan lain sebagainya;
3) Ruang kemudi merupakan ruangan tertutup pada kapal ikan yang berada di atas geladak ukur yang berfungsi sebagai ruang untuk mengemudikan kapal ikan;
4) Ruang mesin merupakan ruangan tertutup pada kapal ikan yang berfungsi sebagai tempat mesin penggerak kapal;
5) Ruang Bahan bakar minyak merupakan ruangan tertutup pada kapal ikan yang berfungsi sebagai penyimpanan bahan bakar minyak (BBM) kapal;
6) Tangki air tawar merupakan ruangan tertutup pada kapal ikan yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan persediaan air tawar yang diperlukan para ABK untuk keperluan makan, minum, dan MCK. Biasanya tangki air tawar ini berbentuk silinder atau tabung.