BAB III METODOLOGI KAJIAN
3.1 METODE PENGUMPULAN DATA
3.1 METODE PENGUMPULAN DATA
Mitra kerja utama dalam Kajian Definisi Kemiskinan ini adalah BPS. Dalam hal ini, sesuai dengan amanat Undang‐Undang bahwa BPS berperan dalam seluruh mekanisme penghitungan secara statistik terhadap penetapan garis kemiskinan berdasarkan nilai konsumsi calory trehshold dari sisi moneter dan standar deprivasi dari sisi kemiskinan multidimensi.
Sementara itu, Bappenas lebih berperan pada sisi perencanaan, yaitu mulai dari desain awal kajian yang ditujukan untuk mengakomodasi berbagai masukan dari berbagai pihak untuk segera dilakukan tinjauan ulang terhadap standar penghitungan kemiskinan yang selama ini berlaku. Selanjutnya, berdasarkan pertimbangan pencapaian target dan efektivitas pelaksanaan program‐program penanggulangan kemiskinan, Bappenas juga berperan penting dalam hal menilai sejauh mana definisi dan metode perhitungan kemiskinan yang digunakan dapat menjawab persoalan‐ persoalan kemiskinan yang berkembang. Dalam hal ini, penetapan target penurunan kemiskinan, baik dalam konteks perencanaan pembangunan jangka menengah (RPJMN) maupun jangka pendek (RKP) sangat terkait erat dengan stabilitas ekonomi global dan nasional, kondisi politik nasional, dinamika perubahan di daerah, serta metode pengukuran kemiskinan yang sesuai dengan kondisi sosial budaya masyarakat Indonesia yang beragam. Oleh karena itu, dalam rangka mendapatkan data dan informasi yang komprehensif untuk memenuhi kebutuhan di atas, metode pengumpulan data yang dilakukan dalam kajian ini antara lain:
3.1.1 Kajian Pustaka
Meliputi segala aktivitas yang terkait dengan desk study (tinjauan pustaka), analisis terhadap dokumen‐dokumen penunjang dan hasil‐hasil riset, data BPS, dan data institusi lain yang mengkaji definisi dan pengukuran kemiskinan. Kajian pustaka ini juga dimaksudkan untuk meperdalam pemahaman terhadap teori, konsep, lessons learned, dan best practices penerapan definisi dan metode pengukuran kemiskinan yang ada.
Laporan Akhir Kajian Definisi Kemiskinan 2014 33 Kajian pustaka ini dilakukan sebagai basis data awal untuk menilai sekaligus membandingkan sejauh man definisi dan metode penghitungan kemiskinan yang diterapkan di Indonesia mampu menjawab permasalahan kemiskinan jika dibandingkan dengan negara‐negara lain.
3.1.2 Seminar dan Diskusi Terbatas
Seminar dan diskusi terbatas ini dilakukan bersama‐sam dengan BPS melibatkan kementerian/lembaga, para ahli dari universitas dan lembaga penelitian yang secara aktif terlibat dalam berbagai upaya terkait isu‐isu kemiskinan, serta unit‐unit kerja pemerintah terkait di tingkat pusat yang secara langsung menangani isu‐isu kemiskinan. Seminar dan diskusi terbatas difokuskan pada eksplorasi dan identifikasi beberapa hal, antara lain:
a. Komparasi antara definisi dan pengukuran kemiskinan yang selama ini dilakukan dengan penerapan metode baru; b. Kerangka konseptual mengenai alternatif metode pengukuran kemiskinan yang baru; c. Metode perhitungan kemiskinan multidimensi; d. Hasil kajian dan dampak dari penerapan metode perhitungan kemiskinan baru terhadap kondisi kemiskinan di berbagai provinsi di Indonesia.
Selain itu, dalam rangka diseminasi hasil kegiatan, di akhir periode kajian dilakukan lokakarya terbatas untuk membahas:
a. Hasil evaluasi terhadap berbagai alternatif pendekatan definisi/pengukuran kemiskinan;
b. Alternatif metode pengukuran kemiskinan, baik di daerah yang mewakili Kawasan Barat Indonesia maupun Kawasan Timur Indonesia; dan
c. Keterkaitan dan manfaat kajian terhadap penentuan target penurunan kemiskinan dan strategi penanggulangan kemiskinan yang kemudian dituangkan kedalam dokumen RPJMN 2015‐2019.
3.1.3 Serial Focused Group Discussion (FGD)
Bersama dengan BPS, serial diskusi terfokus (FGD) dilakukan di beberapa daerah dengan mengundang para pakar atau ahli kemiskinan, praktisi di bidang statistik, ekonomi pembangunan, dan pemberdayaan masyarakat dari universitas, lembaga penelitian, dan LSM, serta dengan para pelaku dan pelaksana program‐program penanggulangan kemiskinan di daerah.
Serial FGD ini secara umum dimaksudkan untuk membahas substansi sesuai dengan kebutuhan kajian secara lebih mendalam. Peserta FGD diambil secara purposive, dengan pertimbangan bahwa calon peserta FGD adalah mereka yang memiliki kompetensi khusus, sesuai dengan isu yang didiskusikan. Selain ahli kemiskinan dari universitas atau lembaga penelitian, nara sumber lain yang selalu dihadirkan di semua lokasi FGD adalah pihak pemerintah daerah yang secara langsung menangani program‐program penanggulangan kemiksinan. Ketiga daerah yang menjadi lokasi FGD tersebut antara lain: Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Provinsi Jawa Barat, dan Provinsi Sulawesi Selatan.
3.1.4 Serial Konsinyering
Kegiatan ini bertujuan untuk membahas perkembangan pelaksanaan kegiatan secara internal, yaitu meliputi persiapan awal proses pengumpulan data, analisis data, serta penyusunan, baik laporan awal, laporan pertengahan, dan laporan akhir kajian. Selain itu, kegiatan ini juga dilakukan dalam rangka melakukan sinkronisasi dengan kegiatan lain, seperti kegiatan koordinasi, kegiatan evaluasi pemanfaatan lahan pertanian untuk optimalisasi penanggulangan kemiskinan, dan kegiatan pemantauan kesiapan PNPM Mandiri untuk pelaksanaan program Sustainable Livelihood yang kesemuanya bermuara pada penyusunan dan penyempurnaan dokumen RPJMN 2015‐2019 bidang penanggulangan kemiskinan.
3.1.5 Kunjungan Daerah untuk Observasi Lapangan
Kunjungan lapangan ke beberapa daerah dilakukan untuk observasi lapangan dan berdialog dengan pelaku kebijakan di daerah untuk mengetahui sejauh mana perhitungan kemiskinan dengan konteks lokal dilakukan. Lokasi kunjungan lapangan yang menjadi pusat kajian disesuaikan dengan lokasi FGD antara lain; (i) Kota
Laporan Akhir Kajian Definisi Kemiskinan 2014 35 Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta; (ii) Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat; dan (iii) Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan. Ketiga daerah tersebut dipilih berdasarakan pertimbangan keterwakilan wilayah Indonesia bagian barat, tengah, dan timur serta mempertimbangkan telah adanya berbagai upaya dan langkah kebijakan penurunan kemiskinan oleh pemerintah daerah. Selain ketiga daerah tersebut, daerah lain yang dijadikan lokasi kunjungan lapangan dalam rangka memperkaya informasi terkait upaya pemerintah daerah dalam hal perbaikan penghitungan kemiskinan di daerah antara lain dilakukan di: Provinsi Kalimantan Timur, Bali, dan Jawa Tengah. Untuk memberikan gambaran lebih rinci tentang metode pengumpulan data yang dilakukan dalam Kajian Definisi Kemiskinan ini, gambar 5 berikut mengilustrasikan proses kajian yang telah dilakukan, terutama serial FGD dan workshop, seminar atau rapat terbatas, pihak‐pihak yang dilibatkan, serta output yang dihasilkan. Gambar 5. Proses Penyusunan Metodologi Perhitungan Kemiskinan Serial FGD Evaluasi data kemiskinan yang ada BPS, Bappenas, LIPI, SMERU, WB, Akademisi Pihak yang terlibat • Evaluasi data kemiskinan moneter • Usulan untuk menghitung variabel
Output Workshop Terbatas Exercise alternatif konsep moneter dan deprivasi BPS, Bappenas, dan SMERU Pihak yang terlibat
Rekomendasi alternatif perhitungan moneter dan variabel deprivasi.
Output
Workshop Interdep terbatas
Pembahasan dengan
K/L dan pihak terkait K/L terkait, Bappenas, BPS, pihak lainnya
Pihak yang terlibat
Rencana perbaikan perhitungan kemiskinan.
Output
3.2 METODE ANALISIS DATA