• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

D. Teknik Pengumpulan Data

2. Metode Pengumpulan Data

Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data di lapangan dalam penelitian ini adalah skala sikap dengan model Skala Likert untuk mengungkap konformitas teman sebaya, Skala Diferensi Semantik untuk mengungkap persepsi remaja terhadap keharmonisan keluarga dan Kuesioner untuk mengungkap kenakalan remaja.

commit to user

54

a. Skala Persepsi Remaja terhadap Keharmonisan Keluarga

Skala Persepsi Remaja terhadap Keharmonisan Keluarga disusun sendiri oleh peneliti berdasarkan gabungan dari aspek-aspek persepsi dan aspek-aspek keharmonisan keluarga. Adapun aspek-aspek persepsi dikemukan oleh Sobur (2003) yaitu aspek kognitif, afektif dan konatif, sedangkan aspek-aspek keharmonisan keluarga dikemukakan oleh Hawari (1997) yaitu:

1) Menciptakan kehidupan beragama dalam keluarga.

Sebuah keluarga yang harmonis ditandai dengan terciptanya kehidupan beragama dalam rumah tersebut. Hal ini penting karena dalam agama terdapat nilai-nilai moral dan etika kehidupan. Berdasarkan beberapa penelitian ditemukan bahwa keluarga yang tidak religius yang penanaman komitmennya rendah atau tanpa nilai agama sama sekali cenderung terjadi pertentangan konflik dan percekcokan dalam keluarga, dengan suasana yang seperti ini, maka anak akan merasa tidak betah di rumah dan kemungkinan besar anak akan mencari lingkungan lain yang dapat menerimanya.

2) Mempunyai waktu bersama keluarga.

Keluarga yang harmonis selalu menyediakan waktu untuk bersama keluarganya, baik itu hanya sekedar berkumpul, makan bersama, menemani anak bermain dan mendengarkan masalah dan keluhan-keluhan anak, dalam kebersamaan ini anak akan merasa dirinya dibutuhkan dan diperhatikan oleh orangtuanya, sehingga anak akan betah tinggal di rumah.

commit to user

3) Mempunyai komunikasi yang baik antar anggota keluarga.

Komunikasi merupakan dasar bagi terciptanya keharmonisan dalam keluarga. Orang tua yang bijaksana selalu tepat mempergunakan kesempatan yang baik untuk berkomunikasi dengan anak-anaknya. Sebaliknya merupakan saat yang kurang tepat jika anak-anak sedang menghadapi tamu atau orang-orang lain yang dihormatinya, sedang makan, sedang akan istirahat, sedang belajar menghadapi setumpuk tugas sekolah atau PR, atau mungkin jika anak sedang tergesa-gesa akan berangkat ke sekolah, dan sebagainya. Dalam kondisi yang demikian biasanya hasil komunikasi yang dilakukan kurang mampu memberikan hasil yang memuaskan semua pihak.

4) Saling menghargai antar sesama anggota keluarga

Keluarga yang harmonis adalah keluarga yang memberikan tempat bagi setiap anggota keluarga menghargai perubahan yang terjadi dan mengajarkan ketrampilan berinteraksi sedini mungkin pada anak dengan lingkungan yang lebih luas.

5) Kualitas dan kuantitas konflik yang minim.

Faktor lain yang tidak kalah pentingnya dalam menciptakan keharmonisan keluarga adalah kualitas dan kuantitas konflik yang minim, jika dalam keluarga sering terjadi perselisihan dan pertengkaran maka suasana dalam keluarga tidak lagi menyenangkan. Dalam keluarga harmonis setiap anggota keluarga berusaha menyelesaikan masalah dengan kepala dingin dan mencari penyelesaian terbaik dari setiap permasalahan.

commit to user

56

6) Adanya hubungan atau ikatan yang erat antar anggota keluarga.

Hubungan yang erat antar anggota keluarga juga menentukan harmonisnya sebuah keluarga, apabila dalam suatu keluarga tidak memiliki hubungan yang erat maka antar anggota keluarga tidak ada lagi rasa saling memiliki dan rasa kebersamaan akan kurang. Hubungan yang erat antar anggota keluarga ini dapat diwujudkan dengan adanya kebersamaan, komunikasi yang baik antar anggota keluarga dan saling menghargai.

Jumlah aitem dalam skala ini sebanyak 54 butir, yang terdiri atas 18 untuk tiap aspeknya. Distribusi aitem Skala Persepsi Terhadap Keharmonisan Keluarga sebelum uji coba dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1

Blueprint Skala Persepsi Terhadap Keharmonisan Keluarga Pernyataan

No Aspek

Afektif Kognitif Konatif Total 1. Menciptakan kehidupan

beragama dalam keluarga.

•Tercipta kehidupan beragama •Penanaman komitmen berdasarkan nilai-nilai agama. 2,8,14 3,9,15 1,7,13 9 2. Mempunyai waktu bersama keluarga. •Menyediakan waktu untuk bersama keluarga.

•Berkumpul, makan bersama, menemani anak bermain dan mendengarkan masalah serta keluhan-keluhan anak. 6,20,27 4,19,25 5,21,26 9 3. Mempunyai komunikasi yang baik antar keluarga.

•Berkomunikasi dengan baik antar anggota keluarga

commit to user

Pernyataan

No Aspek

Afektif Kognitif Konatif Total

•Terbuka atas segala hal yang terjadi dalam keluarga

•Saling berdiskusi dan bertukar pikiran 4. Saling menghargai antar

sesama anggota keluarga

•Menghargai perbedaan pendapat yang terjadi

•Mengajarkan keterampilan berinteraksi sedini mungkin pada anak

30,36,42 28,34,41 29,35,40 9

5. Hubungan, ikatan yang erat antar anggota keluarga

•Terciptanya

keharmonisan keluarga

•Merasa betah berada di dalam rumah

•Antar anggota keluarga saling mendukung dan membantu satu sama lain

33,46,54 32,47,52 31,48,53 9

6. Kuantitas dan kualitas konflik yang minim

•Sabar dan tenang dalam menghadapi masalah

•Jarang terjadi pertengkaran

•Anak menuruti perintah orang tua

38,44,50 39,45,51 37,43,49 9

Total 18 18 18 54

Model skala yang digunakan pada Skala Persepsi terhadap Keharmonisan Keluarga merupakan Skala Diferensi Semantik, sebagai salah satu sarana pengukuran psikologis dalam berbagai aspek kontinum (Azwar, 2005). Skala Persepsi terhadap Keharmonisan Keluarga terdiri atas beberapa aitem yang diikuti beberapa kontinum kata sifat yang berbeda. Skor responden pada skala secara keseluruhan diperoleh dengan cara menjumlahkan skor pada masing-masing

commit to user

58

kontinum (Azwar, 2005). Nilai skala pada Skala Persepsi terhadap Keharmonisan Keluarga dibagi atas tujuh bagian yang diberi nilai satu sampai dengan tujuh. Skala Persepsi terhadap Keharmonisan Keluarga dalam penelitian ini mengandung kontinum favorable (mendukung) dan unfavorable (tidak mendukung). Pemberian skor untuk kontinum favorable bergerak dari tujuh sampai satu, sedangkan skor untuk kontinum unfavorable bergerak dari satu sampai tujuh.

b. Skala Konformitas Teman Sebaya

Skala Konformitas Teman Sebaya yang disusun sendiri oleh peneliti berdasarkan aspek-aspek konformitas yang dikemukakan Sears, dkk (1994) meliputi:

1) Kekompakan

Kekuatan yang dimiliki kelompok acuan menyebabkan remaja tertarik dan ingin tetap menjadi anggota kelompok. Eratnya hubungan remaja dengan kelompok acuan disebabkan perasaan suka antara anggota kelompok serta harapan memperoleh manfaat dari keanggotaannya. Semakin besar rasa suka anggota yang satu terhadap anggota yang lain, dan semakin besar harapan untuk memperoleh manfaat dari keanggotaan kelompok serta semakin besar kesetiaan mereka, maka akan semakin kompak kelompok tersebut.

2) Kesepakatan

Pendapat kelompok acuan yang sudah dibuat memiliki tekanan kuat sehingga remaja harus loyal dan menyesuaikan pendapatnya dengan pendapat kelompok.

commit to user

3) Ketaatan

Tekanan atau tuntutan kelompok acuan pada remaja membuatnya rela melakukan tindakan walaupun remaja tidak menginginkannya. Bila ketaatannya tinggi maka konformitasnya akan tinggi juga.

Jumlah aitem dalam skala ini sebanyak 36 butir, yang terdiri atas 18 aitem favorable dan 18 aitem unfavorable. Distribusi aitem Skala Konformitas Teman Sebaya sebelum uji coba dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2

Blueprint Skala Konformitas Teman Sebaya

Skala Konformitas Teman Sebaya merupakan Model Likert yaitu merupakan metode penskalaan pernyataan sikap yang menggunakan distribusi respons sebagai dasar penentuan nilai skalanya yang telah dimodifikasi menjadi empat No Aspek Indikator Favorable Unfavorable Total

1. Kekompakan Berpartisipasi dalam kegiatan kelompok Mengutamakan kegiatan bersama kelompok Meniru perilaku teman 4,10,11,13,14, 15 1,9,12,30,31, 33 12

2. Kesepakatan Setuju dengan pendapat kelompok Berperilaku sesuai dengan identitas kelompok 2,7,16,32,35,3 6 5,17,28,29,33 ,34 12

3. Ketaatan Berperilaku atas pengaruh kelompok Berperilaku atas persetujuan kelompok 3,8,18,20,21,2 2 6,19,23,24,25 ,27 12 Total 18 18 36

commit to user

60

kategori jawaban yaitu Sangat Sesuai (SS), Sesuai (S), Ragu-ragu (R), Tidak Sesuai (TS), dan Sangat Tidak Sesuai (STS). Skala Konformitas dalam penelitian ini mengandung aitem favorable (mendukung) dan unfavorable (tidak mendukung). Pemberian skor untuk aitem favorable bergerak dari lima sampai satu untuk SS, S, R, TS dan STS, sedangkan skor untuk aitem unfavorable bergerak dari satu sampai lima untuk SS, S, R, TS dan STS.

c. Kuesioner Kenakalan Remaja

Kuesioner yang digunakan untuk mengungkap kenakalan remaja disusun sendiri oleh peneliti berdasarkan bentuk-bentuk kenakalan remaja yang dikemukakan oleh Santrock (2003) yang meliputi:

1) Tindakan yang tidak dapat diterima oleh lingkungan sosial karena bertentangan dengan nilai-nilai dan norma-norma masyarakat contoh : berkata kasar kepada guru dan orang tua dll.

2) Tindakan pelanggaran ringan seperti membolos sekolah, kabur pada jam mata pelajaran tertentu dll.

3) Tindakan pelanggaran berat yang merujuk pada semua tindakan kriminal yang dilakukan oleh remaja seperti : mencuri, seks pranikah, menggunakan obat-obatan terlarang dll.

Jumlah aitem dalam skala ini sebanyak 46 butir, yang terdiri atas perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Distribusi aitem Kuesioner Kenakalan Remaja sebelum uji coba dapat dilihat pada Tabel 3.

commit to user

Tabel 3

Blueprint Kuesioner Kenakalan Remaja Nomor Aitem No Aspek Indikator Pernyataan Jumlah 1 Tindakan yang tidak dapat diterima lingkungan sosial. •Berkata kasar kepada orang

tua dan guru

•Berbohong dengan orang tua •Tidak mendengarkan nasehat orang tua 14,16,17,21,24,25,23, 32,33,41,43,45 12 2 Tindakan pelanggaran ringan. •Melarikan diri dari rumah •Membolos sekolah

•Kabur pada jam mata pelajaran tertentu 1,2,3,5,6,7,8,10,12,13, 18,19,20,22,27,29,30, 44,34,35,36,42,46 23 3 Tindakan pelanggaran berat. •Menggunakan obat-obatan terlarang • Mabuk-mabukan •Seks pranikah 4,9,11,15,26,28,31,37, 38,39,40 11 Total 46

Kuesioner Kenakalan Remaja dalam penelitian ini mengandung pernyataan-pernyataan kenakalan remaja. Pemberian skor untuk setiap aitem berdasarkan frekuensi dilakukannya bergerak dari satu sampai nol untuk Pernah (P) dan Tidak Pernah (TP).

commit to user

62

Dokumen terkait