• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

B. Metode Pengumpulan Data

Adapun metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Pustaka yaitu pengumpulan data dengan Melalui Arsip Perusahaan yang relevan dan studi pustaka.

2. Obseravasi yaitu kegiatan yang di lakukan sebelum penelitian di laksanakan.

3. Wawancara yaitu mengadakan tanya jawab dengan para karyawan yang dianggap mampu dalam memberikan informasi data yang dibutuhkan.

C. Jenis dan Sumber Data 1. Jenis Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

41

a. Data kuantitatif, yaitu data berupa angka-angka laporan keuangan pada perusahaan khususnya laporan laba rugi.

b. Data kualitatif, yaitu data yang diperoleh dari objek penelitian dalam bentuk informasi baik secara lisan maupun secara tulisan seperti struktur organisasi, pembagian tugas, serta peralatan atau perlengkapan yang digunakan.

2. Sumber Data

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini:

a. Data primer, yaitu data yang diperoleh dari objek penelitian. Data jenis ini diperoleh dari wawancara, dan konsultasi terhadap pihak-pihak yang bersangkutan. Seperti pimpinan perusahaan dan bagian keuangan.

b. Data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari sumber-sumber tertulis berupa data laporan keuangan perusahaan khususnya laporan laba rugi serta data pendukung lainnya yang berkaitan dengan masalah yang dibahas dalam penelitian ini.

D. Metode Analisis Data

Metode yang digunakan adalah metode penelitian deskriktif kuantitatif, yaitu analisis yang berdasarkan keputusan pada penilaian objek yang didasarkan pada model matematika yang dibuat untuk mendapatkan suatu kesimpulan yang tepat. Adapun data yang dianalisis adalah data-data dari tahun 2010 sampai tahun 2014 yang berhubungan dengan pelaksanaan audit manajemen dan anggaran pendapatan, khususnya pengelolaan efisiensi biaya terhadap pendapatan laba data

yang di analisis diperoleh dari hasil wawancara, dan pengelolaan data sekunder.

Langkah yang digunakan dalam menganalisis data, yaitu:

Rasio Net Profit Margin (NPM) merupakan rasio antara laba bersih setelah pajak (Earning After Tax) terhadap total penjualan (sales) dimana menunjukkan kinerja keuangan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih atas total penjualan bersih yang telah dicapai oleh perusahaan.

Rasio Net Profit Margin (NPM) ini dapat dirumuskan sebagai berikut : profit margin menjumlahkan hasil dari total biaya dan penjualan atau pendapatan

EAT

Pendapatan kotor = Total pendapatan - Beban

sehingga dapat terlihat berap jumlah net profit margin atau pendpatan yang diinginkan.

E. Defenisi Operasional

Adapun defenisi operasional yang dikemukakan sebagai berikut :

1. Efisiensi biaya adalah perbandingan antara output dan input, berkaitan dengan tercapainya output maksimum dengan sejumlah input jika rasio output besar maka efisiensi dikatakan semakin tinggi. Dapat dikatakan bahwa efisiensi adalah penggunaan input terbaik dalam memproduksi output.

2. Biaya merupakan sesuatu yang diukur dalam satuan uang yang dapat digunakan untuk memperoleh barang atau jasayang bermanfaat dan digunakan untuk mencapai tujuan.

3. Laba merupakan Laba merupakan jumlah residual yang tertinggal setelah semua beban (termasuk penyesuaian pemeliharaan modal, kalau ada) dikurangkan pada penghasilan. Kalau beban melebihi penghasilan, maka jumlah residualnya merupakan kerugian bersih.

BAB IV

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

A. Sejarah Singkat Perusahaan

PTP XX (Persero) bekerja sama dengan PT. Tanindo Jakarta dan Victorias Milling Company, inc, Philippines, melakukan studi kelaikan Proyek Gula Camming Sulawesi Selatan. Penguasaan lahan bukan merupakan problem setelah Bupati KDH Tk.II Bone mengeluarkan SK No 84/DnY/Kpts/V/1981 tertanggal 18 Mei 1981 yang memutuskan alokasi untuk perkebunan tebu seluas 9.000 Hektar.

Setelah disurvey hanya 7.200 Hektar yang layak ditanamai tebu sisanya dapat digunakan sebagai pemukiman penduduk, infrastruktur, kompleks pabrik dan lain sebgainya.Pabrik Gula Camming secara resmi dibangun dengan ditandai keluarnya SK Mentan No. 668/Kpta/org/1981 tanggal 11 Agustus 1981 yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan gula dalam negeri.

Untuk mencapainya maka PTP XX (Persero) selaku pengemban SK melakukan penanaman tebu di wilayah Camming.Pada awal tahun 1985 PTP XX (Persero) bekerja sama dengan The Triveni E.W India melakukan pembangunan Pabrik Gula berkapasitas 3000 TCD dan pada tanggal 2 Agustus 1986 dilakukan giling perdana Pabrik Gula Camming. Berdasarkan peraturan pemerintah No. 5 thn 1991 dan SK Menteri Keuangan RI No.950/KMK-013/1991 dan No.

951/KMK-013/1991.

Dibentuk PTP XXXII (Persero) yang berkedudukan di Ujung Pandang untuk mengelola Pabrik-Pabrik Gula di Sulawesi Selatan, yang terdiri Pabrik Gula

45

Bone, Pabrik Gula Takalar dan Pabrik Gula Camming. Berdasarkan SK Menteri Pertanian RI No. 361/KPTS/07.210/5/1994 tanggal 9 Mei 1994 dilakukan Restrukturisasi BUMN sector Pertanian. Kemudian PTP XXXII (Persero) merupakan Badan Usaha Group Sulawesi-Maluku-NTT-Irian yang terdiri dari 3 kelompok usaha di Kawasan Timur Indonesia yaitu :

PTP XXXII (Persero), PTP XXVIII (Persero) & Bina Mulya Ternak. Pada tanggal 11 Maret 1996 dibentuk PTP Nusantara XIV (Persero) dengan Akta Notaris Harun Kamil SH No. 47 tanggal 11 maret 1996 yang didasari Surat Keputusan :

1. Peraturan Pemerintah RI No. 19 tahun 1996 tanggal 4 Februari 1996 2. Menteri Keuangan RI No. 173/KMK.016/1996 tanggal 11 Maret 1996 3. Menteri Pertanian RI No. 334/Kpts/KP.510/94 tanggal 3 Mei 1994

4. Hingga saat ini Pabrik Gula Camming merupakan salah satu unit produksi PTP Nusantara XIV (Persero).

Pabrik Gula Camming secara resmi dibangun dengan di tandai keluarnya Mentan No. 668/Kpta/org/1981 tanggal 11 Agustus 1981 yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan Gula dalam negeri. Untuk mencapainya maka PTP XX (persero) selaku pengemban SK melakukan penanaman tebuh di wilayah camming. Pada awal tahun 1985 PTP XX (persero) bekerja sama dengan The Triveni E.W India melakukan pembagunan pabrik gula berkapasitas 3.000 TCD dan pada tanggal 2 Agustus 1986 dilakukan giling perdana Pabrik Gula Camming.

Berdasarka peraturan pemerintah No. 5 Thn 1991 dan SK Mentri Keuangan RI No. 950/KMK-013/1991 dan No. 951/KMK-013/1991. Dibentuk PTP XXXII

(persero) yang berkedudukan di ujung pandang untuk mengelola pabrik-pabrik gula di sulawesi selatan, yang terdiri dari Pabrik gula Bone, Pabrik gula Takalar dan Pabrik gula Camming. Berdasarkan SK Mentri Pertanian RI No.

361/KPTS/07.210/5/1994 tanggal 9 Mei 1994 dilakukan Restrukturisasi BUMN sector Pertanian. Kemudian PTP XXXII (persero) merupakan badan usaha Group Sulawesi-Maluku-NTT-Irian yang terdiri dari tiga kelompok usaha di kawasan Indonesia timur yaitu : PTP XXXII (persero), PTP XXVIII (persero) dan Bina Mulya Ternak.

Pada tanggal 11 Maret 1996 dibentuk PTP Nusantara XIV (Persero) dengan akta notaris Harun Kamil SH No. 47 tanggal 11 Maret 1996 yang didasari Surat Keputusan :

1. Peraturan Pemerintah RI No. 19 tahun 1996 tanggal 4 Februari 1996 2. Mentri Keuangan RI No. 173/KMK.016/1996 tanggal 11 Maret 1996 3. Mentri Pertanian RI No. 334/Kpts/KP.510/1994 tanggal 3 Mei 1994

Pabrik gula Camming merupakan salah satu unit produksi PTP Nusantara XIV (persero), namun berdasarkan surat Mentri BUMN No. s-702/MBU/2007 sejak 1 Oktober 2007 PTPN XIV (persero) bekerja sama dengan PT. Rajawali Nusantara Indonesia (persero) dalam rangka peningkatan kinerja pabrik gula dengan membentuk suatu badan pengelola 3 unit pabrik gula milik PTPN XIV (persero) yang disebut BPPG – PTPN XIV.

B. Struktur Organisasi dan Job Description Pabrik Gula Camming 1. General Meneger

Bagian administrator pabrik gula Camming bertugas :

a. Merencanakan dan menetapkan kebijaksanaan dalam pengelolaan perusahaan sesuai yang ditetapkan direksi.

b. Memimpin, mengendalikan dan mengkoordinir secara fisik pelaksanaan tugas bagian tata usaha dan keuangan, pengolahan, instalasi dan tanaman agar tercapai kesatuan.

2. Kepala Bagian Tata Usaha dan Keuangan

Kepala bagian tata usaha dan keuangan pabrik gula Camming bertugas : a. Menjalankan kebijaksanaan dan rencana kerja yang telah ditetapkan

general manager dalam bidang tata usaha dan keuangan sesuai dengan yang telah ditetapkan oleh Direksi.

b. Menjalankan kebijaksanaan dan rencana kerja yang ditetapkan administratur dalam bidang tata usaha dan keuangan sesuai yang ditetapkan Direksi.

c. Membantu administratur secara aktif dalam menyusun dan mengendalikan rencana kerja dan rencana anggaran belanja perusahaan dibidang tata usaha dan keuangan perusahaan.

3. Kepala Bagian Tanaman

Kepala bagian tanaman bertugas Melaksanakan kebijaksanaan dan rencana kerja yang ditetapkan oleh administratur dibidang tanaman dan sesuai yang dirtetapkan oleh Direksi.

a. Membantu general manager dalam menyusun rencana kerja dan rencana anggaran belanja pada bagian tanaman.

b. Bertanggung jawab penuh atas kelancaran tanaman dari segi produksi dan produktivitas tanaman.

4. Kepala Bagian Instalasi

Kepala bagian instalasi bertugas :

a. Melaksanakan kebijaksanaan dan rencana kerja yang telah ditetapkan oleh administrator dibidang instalasi pabrik gula, sesuai yang telah ditetapkan oleh direksi dengan berdaya guna dan berhasil guna.

b. Bertanggung jawab penuh atas kelancaran instalasi secara tepat.

c. Membantu secara aktif general manager dalam menyusun rencana kerja dan rencana anggaran belanja di bidang instalasi pabrik gula.

5. Kepala Bagian Pabrikasi/Pengolahan

Kepala bagian pabrikasi/pengolahan bertugas :

a. Memimpin, merencanakan, mengkoordinir serta mengawasi pelaksanaan semua kegiatan bidang pengolahan sesuai kebijaksanaan dan rencana kerja yang telah ditetapkan oleh general manager dan direksi.

b. Bertanggung jawab atas pelaksanaan fungsi pengolahan dan tertimbang sampai menjadi gula ditimbang agar dapat mencapai mutu produksi secara efektif dan efisien.

6. Kepala Bagian SDM Umum

Kepala bagian SDM umum bertugas :

a. Melaksanakan kebijaksanaan dan rencana kerja yang telah ditetapkan oleh general manager dibidang SDM pabrik gula, sesuai yang telah ditetapkan oleh direksi dengan berdaya guna dan berhasil guna.

b. Bertanggung jawab penuh atas kelancaran SDM secara tepat.

c. Membantu secara aktif general manager dalam menyusun rencana kerja dan rencana anggaran belanja dibidang SDM pabrik gula.

C. Visi Dan Misi Perusahaan 1. Visi

“Menjadi perusahaan agroindustri terkemuka yang berwawasan lingkungan”.

2. Misi

a. Berkomitmen menghasilkan produk berbasis bahan baku tebuh dan ttembakau yang berdaya saing tinggi untuk pasar domestic dan internasional dan berwawasan lingkungan.

b. Berkomitmen menjaga pertumbuhan dan kelangsungan usaha melalui optimalisasi dan efisiensi di segala bidang.

c. Mendedikasikan diri untuk selalu meningkatkan nilai-nilai perusahaan bagi kepuasan stakeholder melalui kepemimpinan, inovasi dan kerjasama team serta organisasi yang professional.

D. Letak Perusahaan

1. Alamat Pabrik

a. Desa : Wanuawaru

b. Kecamatan : Libureng c. Kabupaten : Bone

d. Provinsi : Sulawesi Selatan e. Kode Pos : 92766

f. Terletak di : 120⁰-120,28 BT dan 4,71⁰-5,03⁰ LS g. Telepon / Fax : 062-482-2425015

h. Alamat Email : [email protected] 2. Jarak dan Kondisi Jalan

a. Dari Pabrik ke kota Kecamatan 5 Km, kondisi jalan Aspal b. Dari Pabrik ke kota Kabupaten 86 Km, kondisi jalan Aspal c. Dari Pabrik ke kota Provinsi 100 Km, kondisi jalan Aspal

3. Wilayah kerja meliputi areal ha, meliputi 1 (satu) kabupaten dan 5 (lima) Kecamatan, berupa lahan basah 10 % dan lahan kering 90%

4. Pemilikan lahan : HGU 9.837,04 ha, HGB 173,00 ha, dan kerjasama dengan petani 1.000 ha.

5. Topografi :

a. Kondisi topografi wilayah kerja : bergelombang sampai dengan 30®

b. Tnggi 127 m di atas permukaan laut.

c. Jenis Tanaman : Tebu

6. Iklim:

Tabel 4.1 Iklim

Tahun Curah Hujan Jumlah Hari Bulan

(mm) Hujan Kering

2006 1.576 110 4

2007 2.454 168 3

2008 2.464 200 3

2009 1.417 138 2

2010 3.090 225 6

2011 1.157 137 2

2012 1.722 145 6

2013 2.231 188 3

2014 2.266 149 6

2015 1.239 137 6

Sumber: PT. Perkebunan Nusantara XIV (Persero) pabrik gula Camming kabupaten Bone

7. Jumlah Tenaga Kerja :

a. Karyawan Tetap : Pimpinan 1 Orang

Staf 19 Orang

Non staf 322 Orang b. Karyawan :Bulanan 40 Orang

Harian 225 Orang Musiman 525 Orang

(Tenaga kerja musiman berasal dari penduduk setempat atau dari luar daerah)

8. Pengairan

a. Teknis : 0.0 % b. Pompa : 10 % c. Tadah Hujan : 90%

d. Lainnya : 0 %

E. Prasarana Pendukung

Adapun prasarana pendukung yang ada pada Pabrik Gula Camming adalah sebagai berikut:

1. Sumber Air untuk Pabrik/Tanaman : Sungai Walanae.

2. Sumber Bahan Baku Pendukung : TS + TR 3. Kelas Jalan :

Kelas I : 60 Km Kelas II : 150 Km Kelas III : 310 Km Jalan Desa : 40 Km 4. Fasilitas Sosial : Masjid = 2 unit

Gereja = 1 unit

Musholla = 1 unit

Mess = 1 unit

Poliklinik = 1 unit

Balai Pertemuan = 1 unit

Lap. Tennes = 2 unit Lap. Bulutangkis = 8 unit Lap. Sepak bola = 2 unit Sekolah Dasar = 1 unit Taman Kanak-kanak = 1 unit

Posyandu = 2 unit

F. Kondisi Pabrik

Tahun Pembuatan : 1985

Kepemilikan : BUMN

Jenis Prosessing : Sulfitasi Jenis gula yang dihasilkan : SHS I 1. Sistem pemberian Gaji.

Pemberian gaji pada PTP Nusantara XIV (persero) Pabrik Gula Camming di sesuaikan dengan status karyawan yang ada, maka untuk pemberian gaji adalah sebagai berikut :

a. Pegawai tetap, gaji setiap bulan

b. Pegawai harian tetap, gaji setiap bulan c. Pegawai harian lepas, gaji setiap 2 minggu 2. Kesejahteraan Masyarakat.

Untuk menambah motofasi dan menambah prestasi kerja maka perusahaan menyediakan fasilitas berupa:

a. Uang lembur diberikan kepada pegawai yang bekerja di luar jam kerja.

b. Perumahan dinas

c. Piliklinik untuk pemeliharaan kesehatan.

3. Tata tertib untuk kerja

Jam kerja yang digunakan pada PTP Nusantara XIV (persero) PG Camming sebagai berikut :

a. Pada masa giling :

1) Sift pagi : Pukul 06.00 - 14.00 2) Sift siang : Pukul 14.00 - 22.00 3) Sift malam : Pukul 22.00 - 06.00 b. Pada masa luar giling :

1) Senin s/d Kamis : Pukul 07.00 – 14.00 2) Jumat : Pukul 07.00 – 12.00 3) Sabtu : Pukul 07.00 – 13.00

c. Tidak diperbolehkan alfa/tanpa izin selama 6 hari berturut-turut

d. Setiap karyawan wajib melaksanakan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh dan memperhatikan segala pedoman dan intruksi dari atasan yang berwenang

e. Setiap karyawan wajib menjaga keselamatan dirinya dan teman kerjanya dalam menggunakan peralatan kerja sesuai dengan undang-undang yang berlaku di DEPNAKER RI.

4. Keuangan e. Permodalan

Dengan melihat badan usaha PTP Nusantara XIV (persero) PG Camming adalah persoalan terbatas (PT) yang sahamnya 49% dimiliki oleh

negara (Pemerintah) karena pengaturan keuangan PTP Nusantara XIV (persero) PG Camming hanya mengelola keuangannya untuk menghasilkan laba semaksimal mungkin.

f. Pajak

PTP Nusantara XIV (persero) pabrik gula Camming, ini dapat menunjukkan pembagunan. Karena perusahaan ini dapat memberikan devisa negara lewat pajak yang dibebankan pada perusahaan ini yaitu sebagai berikut:

1) Pajak karyawan

2) Pajak pertambahan nilai 3) Pajak kendaraan

4) Pajak / cukai gula

5. Fasilitas Pengolaan Daur ulang air untuk pengolahan (system biotray):

a. Komponen Utama Pabrik

Tabel 4.2 Komponen utama pabrik

No. Jenis Prosessing Negara Asal Rehab Terakhir Tahun

1 Pemerahan India 2000

2 Power India 2001

3 Pricessing India 2002

4 Finishing India 2004

Sumber : PT. Perkebunan Nusantara XIV (Persero) pabrik gula Camming kabupaten Bone

b. Lahan

Hak Guna Usaha : 9.837,04 Ha Hak Guna Bangunan : 173,00 Ha Lahan Rakyat :1.000,00 Ha

c. Performance Sepuluh Tahun Terakhir

Tabel: 4.3 Perfomance sepuluh tahun terakhir

Tahun

Kapasitas TCD Luas Tebu Rend. Produksi Hari

Inclusif Exclusif

Areal Digiling % Hablur Giling

(Ha) (Ton) (Ton)

2006 1.560,90 2.302,50 3.349,94 117.854,10 5,27 6.225,80 36,28 2007 1.487,50 2.491,20 2.947,20 139.064,30 7,41 6.377,00 134 2008 1.158,60 2.398,60 3.452,71 239.883,00 4,52 11.457,50 199 2009 1.520,70 2.351,00 4.652,02 177.753,50 6,12 10.797,00 116 2010 1.214,20 2.341,60 4.377,32 256.213,10 5,31 13.613,40 211 2011 1.480,47 2.180,66 4.914,99 128.525,30 5,43 6.946,30 92 2012 1.480,47 2.180,66 4.561,30 205.894,70 7,34 14.939,40 120 2013 1.610,40 2.409,70 4.768,22 194.202,00 7,54 14.650,60 121 2014 1.480,47 2.180,66 4.146,27 192.251,20 7,26 13.918,14 120 2015 1.214,20 2.341,60 4.132,77 192.251,20 7,26 13.918,14 120 Sumber: PT. Perkebunan Nusantara XIV (persero) pabrik gula Camming kab.

Bone

A. Komponen Biaya Perusahaan

Biaya biaya yang terjadi dalam perusahaan manufaktur

Adapun 3 komponen biaya produksi pada perusahaan, yaitu sebagai berikut:

1. Biaya bahan baku yaitu biaya untuk bahan bahan yang dapat dengan mudah dan langsung diidentifikasikan dengan barang jadi seperti tebu. Tebuh yang digunakan oleh PG. Camming kabupaten Bone merupakan 90% milik tebuh perusahaan dan 10% tebuh milik perusahaan.

Tabel 5.1 Biaya produksi Gula dan Tetesan

Tahun Biaya Produksi Persentase

2011 67.428.630.000 11,90%

2012 114.923.662.308 25,57%

2013 122.213.174.034 21,56%

2014 95.741.308.325 16,89%

2015 136.306.447.119 24,05%

Jumlah 566.613.221.786 100%

Sumber: PT. Perkebunan Nusantara XIV (Persero) Pabrik Gula Camming kabupaten Bone

Berdasarkan data tabel 5.1 dari biaya produksi untuk tahun 2011 sebesar Rp 67.428.630.000 dengan persentase sebesar 11,90% yang diproduksi oleh pabrik gula Camming, sedangkan pada tahun 2012 pabrik gula Camming memproduksi gula sebesar Rp 114.923.662.308 atau sekitar 25,57%, ditahun 2013 kembali memproduksi gula sebesar Rp 112.213.174.325 atau persentase 21,56%, produksi

60

2. Biaya tenaga kerja langsung yaitu biaya untuk tenaga kerja yang menangani secara langsung proses produksi atau langsung diidentifikasi dengan barang jadi. Adapun yang termasuk biaya tenaga kerja langsung, penetapan standar jam kerja dan standar pemberian gaji. Penetapan standar pemberian gaji disesuaikan dengan status karyawan. Sedangkan standar penetapan jam kerja disesuaikan pada masa penggilingan. Berikut ini penulis sajikan data dari jumlah kerja efektif, jumlah pekerja, jumlah standar jam kerja, dan standar pemberian gaji.

Tabel 5.2 Standar Kerja Dan Jumlah Karyawan Jumlah karyawan 1. Karyawan tetap 342 0rang

2. Karyawan bulanan 40 0rang, harian 225 orang dan dan musiman 525 orang

Pemberian gaji pada karyawan 1. Pegawai tetap, gaji setiap bulan 2. Pegawai harian tetap, gaji setiap bulan 3. Pegawai harian lepas, gaji setiap 2 minggu Sumber: PT. Perkebunan Nusantara XIV (Persero) Pabrik Gula Camming

kabupaten Bone

sampai dengan tahun 2015 1 Pimpinan & Tata Usaha 4.506.982 4.968.450 6.742.429 6.630.108 5.196.963 2 Pembibitan 4.007.745 3.859.271 4.134.441 3.493.934 15.092.944 3 Tebuh Giling 40.202.370 32.298.353 36.896.363 45.988.736 69.851.892 4 Tebang & Angkut Tebu 19.951.872 24.471.350 23.476.660 30.300.785 30.808.596 5 Pabrik 20.531.381 15.551.902 18.442.946 18.808.955 17.218.335 6 Pengelolahan 4.994.725 6.268.314 4.871.366 6.239.482 6.122.205 7 Penyusutan 3.683.327 4.097.886 4.384.404 5.870.181 832.256 8 Biaya Adm & Umum 0 2.367.080 3.495.588 5.231.099 4.136.221

Jumlah 97.878.399 93.828.606 102.444.197 122.560.280 149.259.412 Sumber: PT. Perkebunan Nusantara XIV (persero) Pabrik Gula Camming kabupaten Bone

B. Net Profit Margin Perusahaan

Efisiensi dalam biaya produksi merupakan perbandingan antara output dan input, berkaitan dengan tercapainya output maksimum dengan sejumlah input jika rasio output besar maka efisiensi dikatakan semakin tinggi. Efisiensi adalah rasio keluaran terhadap masukan suatu pusat jawaban (biaya) dinamakan efisien jika pusat pertanggung-jawaban tersebut:

1. Sumber atau biaya masukan yang digunakan lebih kecil untuk menghasilkan keluaran dalam jumlah yang sama.

membuang sumber daya penilaian efisien terpisah dari penilaian efektivitas. Sebuah perusahaan dapat efisiensi melalui pencapaian tujuan atau sasaran yang disusun untuk operasinya tetapi belum efisien, dan perusahaan yang efisien mungkin belum efektif jika gagal mencapai tujuan operasi.

Pabrik gula Camming salah satu pabrik yang beroperasi di daerah wilayah Bone dengan aktivitas operasional dalam pembuatan gula dan pendistribusian gula serta menghasilkan bahan baku sendiri dengan cara melakukan penanaman tebuh, dalam hasil penelitian peneliti akan memaparkan NPM (Net Profit Margin )

pada tahun 2010 sampai tahun 2014 dengan penentuan NPM seperti berikut :

Sebelum menganalisis Net profit Margin maka akan dipaparkan keadaan penjualan pabrik gula Camming antara tahun 2011 sampai dengan tahun 2015 :

Laba Bersih

NPM = x 100%

Penjualan

Tahun Biaya Penjualan

Sumber: Laporan Keuangan PT. Perkebunan Nusantara XIV (persero) pabrik gula Camming kabupaten Bone

Berdasarkan tabel 5.5 diatas dapat dilihat bahwa penjualan tahun 2011 sampai tahun 2015 mengalami fluktuasi. Pada tahun 2011 mengalami peningkatan sebesar 78.749.556.073 dan pada tahun 2012 mengalami penusrunan sebesar 70.198.141.000 dan pada tahun 2013 mengalami peningkatan hingga 75.284.500.683 pada tahun 2014 meningkat hingga 103.884.951.629 dan pada tahun 2015 mengalami peningkatan drastis hingga 202.595.577.797 Hal fluktuasi ini terjadi dikarenakan beberapa faktor yang dinilai ada kaitannya dengan pangsa pasar serta permintaan. Setiap pendapatan akan dikaitkan dengan laba, dikarenakan laba adalah hasil dari total pendapatan di kurangi beberapa biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan .

(Rp) %

Sumber: Laporan Keuangan PT. Perkebunan Nusantara XIV (persero) pabrik gula Camming kabupaten Bone

Berdasarkan tabel 5.5 diatas dapat dilihat bahwa laba dari tahun 2011 sampai tahun 2015, mengalami fluktuasi. Pada tahun 2011 mengalami penurunan sebesar 28.593.418.977 atau persentase sebesar 30,55%. Sedangkan tahun 2012 laba rugi di pabrik gula Camming mengalami peningkatan laba sebesar 12.027.962.070 atau persentase 12,84%. ditahun 2013 kembali mengalami peningkatan sebesar 8.807.963.097 atau persentase 9,52%. Untuk tahun 2014 pabrik gula Camming mengalami penurunan laba yang sangat drastis sebesar 39.916.881.921 atau persentase 42,66%. Dan tahun 2015 kembali mengalami penurunan laba sebesar 4.122.674.632 atau persentase 4,40%. Hal ini dapat terjadi dikarenakan dari hasil pendapatan yang bersifat fluktuasi sehingga pendapatan laba pun akan berdampak demikian juga. Net Profit Margin (NPM) adalah rasio yang digunakan untuk menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan bersih, Net Profit Margin adalah perbandingan antara laba bersih dengan penjualan. Rasio ini sangat penting bagi manajer operasi karena mencerminkan strategi penetapan harga penjualan yang diterapkan perusahaan dan kemampuannya untuk mengendalikan beban usaha. semakin besar Net Profit Margin berarti

Dengan model rumus seperti berikut:

a. Berdasarkan pendapatan diatas maka Net Profit Margin per 31 Desember 2011 dengan melihat pendapatan dan laba adalah sebagai berikut :

b. Berdasarkan pendapatan diatas maka Net Profit Margin per 31 Desember 2012 dengan melihat pendapatan dan laba adalah sebagai berikut :

c. Berdasarkan pendapatan diatas maka Net Profit Margin per 31 Desember 2013 dengan melihat pendapatan dan laba adalah sebagai berikut :

Laba Bersih

NPM = x 100%

Pendapatan

(28.593.418.977)

NPM = x 100%

78.749.556.973 NPM = (36.30%)

12.027.962.070

NPM = x 100%

70.198.141.000 NPM = 17,13 %

8.907.963.097

NPM = x 100%

75.284.500.683 NPM = 11,83 %

dengan melihat pendapatan dan laba adalah sebagai berikut :

e. Berdasarkan pendapatan diatas maka Net Profit Margin per 31 Desember 2015 dengan melihat pendapatan dan laba adalah sebagai berikut :

C. Analisis Beban Pendapatan dan Laba Net Profit Margin

Semakin tinggi nilai NPM menandakan bahwa perusahaan tersebut semakin efisien operasionalnya. Perusahaan dapat menekan biaya-biaya yang tidak perlu, sehingga perusahaan mampu memaksimalkan laba bersih yang didapatkan. Sebagai antisipasi melonjaknya bahan baku, biaya operasional seperti kenaikan gaji pegawai, ataupun melonjaknya beban keuangan seperti pembayaran bunga. Jika NPM perusahaan lebih tebal angkanya, maka ketika hal-hal diatas terjadi, laba bersih perusahaan tidak turun signifikan.

Dengan melihat perhitungan NPM ( Net Profit margin ) diatas bahwa dan hasil analisis diatas bahwa pada tahun 2011 pendapatan laba dinilai efektif dikarenakan jumlah total NPM dari tahun 2011 sampai tahun 2015 yang dinilai paling tinggi adalah pada tahun

(39.916.881.921)

NPM = x 100%

103.884.951.629 NPM = (38,42 %)

(4.122.674.632)

NPM = X 100%

202.595.577.797 NPM = (2,03%)

Tabel 5.6 Hasil perhitungan Net Profit Margin Tahun 2011 sampai 2015

Keterangan 2011 2012 2013 2014 2015

Laba Bersih (28.593.418.977) 12.027.962.070 8.907.963.097 (39.916.881.921) (4.122.674.632) Pendapatan 78.749.556.973 70.198.141.000 75.284.500.683 103.884.951.629 202.595.577.797

NPM (%) (36,30) 17,13 11,83 (38,42) (2,03)

Sumber: Laporan keuangan PT. Perkebunan Nusantara (Persero) pabrik gula Camming kabupaten Bone

Berdasarkan data diatas, dapat diketahui bahwa laba pada perusahaan setiap tahunnya mengalami fluktuas, pada tahun 2011 sampai dengan tahun 2015. Pada tahun 2011 mengalami penurunan sebesar 36,30%, pada tahun 2012 mengalami peningkatan sebesar 17,13%, pada tahun 2013 mengalami penurunan sebesar 11,83%, pada tahun 2014 mengalami penurunan drastis yaitu sebesar 38,42%, dan pada tahun 2015 kembali mengalami penurunan sebesar 2,03%. Dari analisis tersebut dapat diketahui bahwa efisiensi biaya terhadap peningkatan laba pada PT. Perkebunan Nusantara XIV (Persero) pabrik gula Camming kabupaten Bone mengalami fluktuasi setiap tahunnya.

D. Manfaat Hasil Analisis

Berikut ini terdapat 2 manfaat hasil analisis, yaitu:

1. Manfaat hasil analisis biaya

Manfaat yang diperoleh dari peningkatan laba:

b. Untuk dapat mengetahui rincian pengeluaran-pengeluaran kegiatan produksi sehingga dapat melakukan pengendalian yang baik

c. Dapat menentukan keputusan strategi harga dan merencanakan laba.

2. Manfaat hasil Net Profit Margin

Manfaat yang diperoleh dari hasil net profit margin:

a. Untuk menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan bersih setelah dipotong pajak.

b. Untuk dapat mengetahui jika semakin besar net profit margin maka dianggap semakin baik kemampuan perusahaan untuk mendapatkan laba yang tinggi.

c. Dapat menentukan perbandingan antara laba bersih dengan penjualan.

A. SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang penulis lakukan pada PT. Perkebunan

Berdasarkan hasil penelitian yang penulis lakukan pada PT. Perkebunan

Dokumen terkait