• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Net Profit Margin Perusahaan

Efisiensi dalam biaya produksi merupakan perbandingan antara output dan input, berkaitan dengan tercapainya output maksimum dengan sejumlah input jika rasio output besar maka efisiensi dikatakan semakin tinggi. Efisiensi adalah rasio keluaran terhadap masukan suatu pusat jawaban (biaya) dinamakan efisien jika pusat pertanggung-jawaban tersebut:

1. Sumber atau biaya masukan yang digunakan lebih kecil untuk menghasilkan keluaran dalam jumlah yang sama.

membuang sumber daya penilaian efisien terpisah dari penilaian efektivitas. Sebuah perusahaan dapat efisiensi melalui pencapaian tujuan atau sasaran yang disusun untuk operasinya tetapi belum efisien, dan perusahaan yang efisien mungkin belum efektif jika gagal mencapai tujuan operasi.

Pabrik gula Camming salah satu pabrik yang beroperasi di daerah wilayah Bone dengan aktivitas operasional dalam pembuatan gula dan pendistribusian gula serta menghasilkan bahan baku sendiri dengan cara melakukan penanaman tebuh, dalam hasil penelitian peneliti akan memaparkan NPM (Net Profit Margin )

pada tahun 2010 sampai tahun 2014 dengan penentuan NPM seperti berikut :

Sebelum menganalisis Net profit Margin maka akan dipaparkan keadaan penjualan pabrik gula Camming antara tahun 2011 sampai dengan tahun 2015 :

Laba Bersih

NPM = x 100%

Penjualan

Tahun Biaya Penjualan

Sumber: Laporan Keuangan PT. Perkebunan Nusantara XIV (persero) pabrik gula Camming kabupaten Bone

Berdasarkan tabel 5.5 diatas dapat dilihat bahwa penjualan tahun 2011 sampai tahun 2015 mengalami fluktuasi. Pada tahun 2011 mengalami peningkatan sebesar 78.749.556.073 dan pada tahun 2012 mengalami penusrunan sebesar 70.198.141.000 dan pada tahun 2013 mengalami peningkatan hingga 75.284.500.683 pada tahun 2014 meningkat hingga 103.884.951.629 dan pada tahun 2015 mengalami peningkatan drastis hingga 202.595.577.797 Hal fluktuasi ini terjadi dikarenakan beberapa faktor yang dinilai ada kaitannya dengan pangsa pasar serta permintaan. Setiap pendapatan akan dikaitkan dengan laba, dikarenakan laba adalah hasil dari total pendapatan di kurangi beberapa biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan .

(Rp) %

Sumber: Laporan Keuangan PT. Perkebunan Nusantara XIV (persero) pabrik gula Camming kabupaten Bone

Berdasarkan tabel 5.5 diatas dapat dilihat bahwa laba dari tahun 2011 sampai tahun 2015, mengalami fluktuasi. Pada tahun 2011 mengalami penurunan sebesar 28.593.418.977 atau persentase sebesar 30,55%. Sedangkan tahun 2012 laba rugi di pabrik gula Camming mengalami peningkatan laba sebesar 12.027.962.070 atau persentase 12,84%. ditahun 2013 kembali mengalami peningkatan sebesar 8.807.963.097 atau persentase 9,52%. Untuk tahun 2014 pabrik gula Camming mengalami penurunan laba yang sangat drastis sebesar 39.916.881.921 atau persentase 42,66%. Dan tahun 2015 kembali mengalami penurunan laba sebesar 4.122.674.632 atau persentase 4,40%. Hal ini dapat terjadi dikarenakan dari hasil pendapatan yang bersifat fluktuasi sehingga pendapatan laba pun akan berdampak demikian juga. Net Profit Margin (NPM) adalah rasio yang digunakan untuk menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan bersih, Net Profit Margin adalah perbandingan antara laba bersih dengan penjualan. Rasio ini sangat penting bagi manajer operasi karena mencerminkan strategi penetapan harga penjualan yang diterapkan perusahaan dan kemampuannya untuk mengendalikan beban usaha. semakin besar Net Profit Margin berarti

Dengan model rumus seperti berikut:

a. Berdasarkan pendapatan diatas maka Net Profit Margin per 31 Desember 2011 dengan melihat pendapatan dan laba adalah sebagai berikut :

b. Berdasarkan pendapatan diatas maka Net Profit Margin per 31 Desember 2012 dengan melihat pendapatan dan laba adalah sebagai berikut :

c. Berdasarkan pendapatan diatas maka Net Profit Margin per 31 Desember 2013 dengan melihat pendapatan dan laba adalah sebagai berikut :

Laba Bersih

NPM = x 100%

Pendapatan

(28.593.418.977)

NPM = x 100%

78.749.556.973 NPM = (36.30%)

12.027.962.070

NPM = x 100%

70.198.141.000 NPM = 17,13 %

8.907.963.097

NPM = x 100%

75.284.500.683 NPM = 11,83 %

dengan melihat pendapatan dan laba adalah sebagai berikut :

e. Berdasarkan pendapatan diatas maka Net Profit Margin per 31 Desember 2015 dengan melihat pendapatan dan laba adalah sebagai berikut :

C. Analisis Beban Pendapatan dan Laba Net Profit Margin

Semakin tinggi nilai NPM menandakan bahwa perusahaan tersebut semakin efisien operasionalnya. Perusahaan dapat menekan biaya-biaya yang tidak perlu, sehingga perusahaan mampu memaksimalkan laba bersih yang didapatkan. Sebagai antisipasi melonjaknya bahan baku, biaya operasional seperti kenaikan gaji pegawai, ataupun melonjaknya beban keuangan seperti pembayaran bunga. Jika NPM perusahaan lebih tebal angkanya, maka ketika hal-hal diatas terjadi, laba bersih perusahaan tidak turun signifikan.

Dengan melihat perhitungan NPM ( Net Profit margin ) diatas bahwa dan hasil analisis diatas bahwa pada tahun 2011 pendapatan laba dinilai efektif dikarenakan jumlah total NPM dari tahun 2011 sampai tahun 2015 yang dinilai paling tinggi adalah pada tahun

(39.916.881.921)

NPM = x 100%

103.884.951.629 NPM = (38,42 %)

(4.122.674.632)

NPM = X 100%

202.595.577.797 NPM = (2,03%)

Tabel 5.6 Hasil perhitungan Net Profit Margin Tahun 2011 sampai 2015

Keterangan 2011 2012 2013 2014 2015

Laba Bersih (28.593.418.977) 12.027.962.070 8.907.963.097 (39.916.881.921) (4.122.674.632) Pendapatan 78.749.556.973 70.198.141.000 75.284.500.683 103.884.951.629 202.595.577.797

NPM (%) (36,30) 17,13 11,83 (38,42) (2,03)

Sumber: Laporan keuangan PT. Perkebunan Nusantara (Persero) pabrik gula Camming kabupaten Bone

Berdasarkan data diatas, dapat diketahui bahwa laba pada perusahaan setiap tahunnya mengalami fluktuas, pada tahun 2011 sampai dengan tahun 2015. Pada tahun 2011 mengalami penurunan sebesar 36,30%, pada tahun 2012 mengalami peningkatan sebesar 17,13%, pada tahun 2013 mengalami penurunan sebesar 11,83%, pada tahun 2014 mengalami penurunan drastis yaitu sebesar 38,42%, dan pada tahun 2015 kembali mengalami penurunan sebesar 2,03%. Dari analisis tersebut dapat diketahui bahwa efisiensi biaya terhadap peningkatan laba pada PT. Perkebunan Nusantara XIV (Persero) pabrik gula Camming kabupaten Bone mengalami fluktuasi setiap tahunnya.

D. Manfaat Hasil Analisis

Berikut ini terdapat 2 manfaat hasil analisis, yaitu:

1. Manfaat hasil analisis biaya

Manfaat yang diperoleh dari peningkatan laba:

b. Untuk dapat mengetahui rincian pengeluaran-pengeluaran kegiatan produksi sehingga dapat melakukan pengendalian yang baik

c. Dapat menentukan keputusan strategi harga dan merencanakan laba.

2. Manfaat hasil Net Profit Margin

Manfaat yang diperoleh dari hasil net profit margin:

a. Untuk menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan bersih setelah dipotong pajak.

b. Untuk dapat mengetahui jika semakin besar net profit margin maka dianggap semakin baik kemampuan perusahaan untuk mendapatkan laba yang tinggi.

c. Dapat menentukan perbandingan antara laba bersih dengan penjualan.

A. SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang penulis lakukan pada PT. Perkebunan Nusantara XIV Pabrik gula Camming pada kabupaten Bone dengan menilai Net Profit Margin (NPM) pada tahun 2011 sampai dengan tahun 2015, meskipun terjadi fluktuasi pada perusahaan ini dapat kita ketahui bahwa menurunnya tingkat laba pada tahun 2011, 2014 dan 2015 disebabkan oleh beberapa faktor, yakni terjadinya musim kemarau sehingga tanaman tebuh tidak tumbuh subur dan menyebabkan berkurangnya jumlah tetesan gula, kurangnya persediaan pupuk, dll. Dan peningkatan laba yang baik terdapat pada tahun 2012 sebesar 12.027.962.070 hal ini terjadi dikarenakan pabrik gula Camming pada tahun 2012 telah mengefektifkan pengaturan pemakaian biaya dan berhasil meminimalisir biaya yang di anggap tidak perlu dalam memproduksi gula dan menjadi persentase yang tinggi diantara tahun-tahun yang lain. Dengan hal tersebut bahwa di tahun 2012 efektivitas dan efisiensi penggunaan biaya perusahaaan telah berhasil dilakukan.

B. SARAN

72

yang dianggap tidak perlu baik itu biaya bahan baku, beban, dan biaya lain - lain sehingga dpat meningkatkan peresentase Net profit Margin (NPM) dari tahun ke tahun.

2. Dengan sistem NPM ini dapat menjadi patokan buat pabrik gula Camming dalam menentukan profit yang diharapkan oleh perusahaan sehingga pengalokasian sumber daya lebih bisa di kelola dengan sehingga tercapai profit yang diharapkan oleh perusahaan.

DAFTAR PUSTAKA

Amin, Nur Fitri Yuliana, 2008. Analisis Biaya Bahan Baku dan Biaya Overhead Pabrik yang Berpengaruh Terhadap Efisiensi Biaya ProduksiPada PT. Autokorindo Pratama Gresik.Skripsi.FakultasEkonomi.

Universitas Muhammadiyah Gresik. Tidak Dipublikasikan.

Alexandri, Moh. Benny. 2008. Manajemen Keuangan Bisnis. Cetakan Kesatu.

Bandung: Alfabeta.

Bastian, Indra dan Suhardjono. 2006. Akuntansi Perbankan. Edisi 1. Jakarta: Salemba Empat.

Blocher, E.J., Chen. K.H., dan Lin, T.W., 2001. Manajemen Biaya:

DenganTekanan Stratejik, Jilid Kedua, EdisiPertama, Penerjemah: A.

SustyAmbarriani, Salemba Empat, Jakarta.

Carter, W.K., and Usry, M. F., 2006. Akuntansi Biaya, Buku Satu, EdisiKetiga

Krisnandi, Cepi 2008,PerananAnggaran Biaya Produksi Dalam Menunjang EfektifitasPengendalian Biaya Produksi (Studi Kasus Pada PT.Bineatama Kayone Lestari Tasikmalaya), Jurnal Akuntansi FE Unsil, Vol 3 No.1, h.8-20, Universitas Siliwangi Tasikmalaya. [4] Putra 2012, Manfaat dan Nilai Barang, Diakses 23 September 2013, dari http://ekonomikelasx.blogspot.co Mulyadi 2009, Akuntansi Biaya, Edisi ke-5, Salemba Empat, Jakarta.

Makridakis, Spyros, Wheelwright, Steven C dan McGee, Victor E. 1999.

Metodedan Aplikasi Peramalan, Binarupa Aksara, Jakarta.

Munawir, 2001. Analisa Laporan Keuangan, Liberty, Yogyakarta.

Pinasih, 2005. Pengaruh Efisiensi Biaya Bahan Baku dan Efisiensi Biaya

Sanusi, Anwar 2012, Metodologi Penelitian Bisnis, Edisi ke-2, Salemba Empat, Jakarta.

Sarwono, Jonathan dan Martadiredja Tutty 2008, Riset Bisnis Untuk Pengambilan Keputusan, Andi, Yogyakarta.

S, Bambang dan Kartasapoetra, G., 1998. Kalkulasi Pengendalian Biaya Produksi,

PT. Bina Aksara, Jakarta.

Slamet, Achmad dan Sumarli 2002, Pengaruh Perkiraan Biaya Produksi dan Laba Yang Diinginkan Terhadap Harga Jual Pada Industri Kecil Genteng Pres, Widilestariningtyas, Ony, dkk 2012, Akuntansi Biaya, Edisi ke-1, Graha Ilmu,

Yogyakarta.

Zaini, Achmad 2010, Pengaruh Biaya Produksi dan Penerimaan Terhadap Pendapatan Petani Padi sawah di Loa Gagak Kabupaten Kutai Kartanegara, Vol 1 No.1,h.1-7, Universitas Mulawarman, Samarinda.

- Penjualan Gula SHS 9,005.95 ton Rp7,664,103 = 69,022,529,089

- Penjualan Tetes 12,700.00 ton Rp765,908 = 9,727,027,884

Total Penjualan = 78,749,556,973

2. Persediaan Awal

- Gula (Persediaan Awal+Produksi 2011) 158.89 ton Rp410,395,227 65,207,697,632 - Tetes (Persediaan Awal+Produksi 2011) 13,948.46 ton Rp988,826 13,792,605,131 79,000,302,763

- Pimpinan & Tata Usaha 3,720,111,191 786,870,670 4,506,981,861

- Pembibitan 3,308,035,344 699,709,189 4,007,744,533

- Tebu Giling 33,183,467,460 7,018,902,371 40,202,369,831

- Tebang & Angkut Tebu 16,468,489,652 3,483,382,838 19,951,872,490

- P a b r i k 16,946,821,883 3,584,558,740 20,531,380,623

- Pengolahan 4,122,699,949 872,025,459 4,994,725,408

- Penjualan Gula SHS 7,315.39 ton Rp8,816,774 = 64,498,141,000

- Penjualan Tetes 8.10 ton Rp703,703,704 = 5,700,000,000

Total Penjualan = 70,198,141,000

2. Persediaan Awal

- Gula (Persediaan Awal+Produksi 2012) 12,624.97 ton 8,793,916.42 111,022,931,031 - Tetes (Persediaan Awal+Produksi 2012) 9,466.06 ton Rp711,908 6,738,961,058

- Pimpinan & Tata Usaha 4,681,048,835 287,401,572 4,968,450,407

- Pembibitan 3,636,030,349 223,240,747 3,859,271,096

- Tebu Giling 30,430,044,975 1,868,308,379 32,298,353,354

- Tebang & Angkut Tebu 23,055,797,274 1,415,552,927 24,471,350,201

- P a b r i k 14,652,297,339 899,604,648 15,551,901,987

- Pengolahan 5,905,721,052 362,592,567 6,268,313,619

- Biaya Diluar Usaha 4,702,594,455 288,724,405 4,991,318,860

- Penyusutan 3,860,842,870 237,043,524 4,097,886,394

- Biaya administrasi & Umum 2,230,155,780 136,924,501 2,367,080,281

Jumlah 93,154,532,930 5,719,393,269 98,873,926,199

- Penjualan Gula SHS 7,682.68 ton Rp8,750,221 = 67,225,150,455

- Penjualan Tetes 11,007.29 ton Rp732,183 = 8,059,350,228

Total Penjualan = 75,284,500,683

2. Persediaan Awal

- Gula (Persediaan Awal+Produksi 2013) 17,639.08 ton 8,402,165.45 148,206,468,614 - Tetes (Persediaan Awal+Produksi 2013) 10,368.24 ton Rp723,204 7,498,351,478

- Pimpinan & Tata Usaha 6,416,086,426 326,342,924 6,742,429,350

- Pembibitan 3,934,328,305 200,112,673 4,134,440,978

- Tebu Giling 35,110,528,049 1,785,835,107 36,896,363,156

- Tebang & Angkut Tebu 22,340,357,009 1,136,302,872 23,476,659,881

- P a b r i k 17,550,281,427 892,664,123 18,442,945,550

- Pengolahan 4,635,585,580 235,780,888 4,871,366,468

- Penyusutan 4,172,192,924 212,211,237 4,384,404,161

- Biaya administrasi & Umum 3,326,396,367 169,191,287 3,495,587,654

Jumlah 97,485,756,088 4,958,441,110 102,444,197,198

- Penjualan Gula SHS 12,905.39 ton Rp7,296,496 = 94,164,131,174

- Penjualan Tetes 10,794.57 ton Rp900,529 = 9,720,820,455

Total Penjualan = 103,884,951,629

2. Persediaan Awal

- Gula (Persediaan Awal+Produksi 2013) 22,436.21 ton 7,655,916.72 171,769,735,344 - Tetes (Persediaan Awal+Produksi 2013) 11,215.64 ton Rp838,866 9,408,419,574

- Pimpinan & Tata Usaha 6,282,940,182 347,167,433 6,630,107,615

- Pembibitan 3,310,983,654 182,950,285 3,493,933,939

- Tebu Giling 43,580,662,129 2,408,074,271 45,988,736,400

- Tebang & Angkut Tebu 28,714,166,945 1,586,617,625 30,300,784,570

- P a b r i k 17,824,075,851 984,879,448 18,808,955,299

- Pengolahan 5,998,055,796 331,425,984 6,329,481,780

- Penyusutan 5,562,805,023 307,375,955 5,870,180,978

- Biaya administrasi & Umum 4,957,186,676 273,912,169 5,231,098,845

Jumlah 116,230,876,256 6,422,403,170 122,653,279,426

- Penjualan Gula SHS 22,050.02 ton Rp8,539,818 = 188,303,177,797

- Penjualan Tetes 13,506.00 ton Rp1,058,226 = 14,292,400,000

Total Penjualan = 202,595,577,797

2. Persediaan Awal

- Gula (Persediaan Awal+Produksi 2015) 23,639.56 ton 7,947,029.51 187,864,252,899 - Tetes (Persediaan Awal+Produksi 2015) 15,035.41 ton Rp993,560 14,938,575,662 202,802,828,561

- Pimpinan & Tata Usaha 4,750,739,762 446,223,219 5,196,962,981

- Pembibitan 13,797,029,203 1,295,914,973 15,092,944,176

- Tebu Giling 63,854,247,140 5,997,644,402 69,851,891,542

- Tebang & Angkut Tebu 28,163,299,286 2,645,297,092 30,808,596,378

- P a b r i k 15,739,929,497 1,478,405,968 17,218,335,465

- Pengolahan 5,596,538,676 525,666,661 6,122,205,337

- Biaya Diluar Usaha 760,797,262 71,459,482 832,256,744

- Penyusutan 3,781,075,099 355,145,428 4,136,220,527

135,682,858,663 12,744,297,743 148,427,156,406

- Biaya administrasi & Umum 4,423,038,223 415,443,164 4,838,481,387

Jumlah 140,105,896,887 13,159,740,906 153,265,637,793

LABA (RUGI) TAHUN BERJALAN

Laba Tahun lalu 9,632,125,977 (18,961,293,000) (6,933,330,930) 1,974,632,167 (37,942,249,754)

Laba Tahun ini (28,593,418,977) 12,027,962,070 8,907,963,097 (39,916,881,921) (4,122,674,632)

Total (18,961,293,000) (6,933,330,930) 1,974,632,167 (37,942,249,754) -42,064,924,386

#######################

Thursday, April 21, 2016 S.E & O.

Surabaya,

PTP NUSANTARA XIV PABRIK GULA CAMMING

Dokumen terkait