• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode Penyajian Hasil Analisis Data

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

3.6 Metode Penyajian Hasil Analisis Data

Metode penyajian hasil nanalisis data ada dua macam yaitu bersifal informal dan bersifat formal dalam penelitian ini digunakan metode penyajian hasil analisis data secara informal. Metode penyajian informal adalah perumusan dengan kata-kata biasa walaupun dengan temiologi dan teknis sifatnya. (Sudaryanto, 1993:114)

Hasil analisis data akan berwujud penjelasan yang berkaitan dengan karasteristik pemakaian bahasa, fungsi bahasa dalam makna ornamen pada bangunan Vihara serta istilah khusus dalam bangunan Vihara Buddha Loka Sibolangit, Brastagi. Penjelasan akan berbentuk uraian yang berwujud uraian yang berwujud kalimat-kaimat yang diikuti secara rinci. Penyajian model ini dikenal dengan penyajian informal.

BAB IV

GAMBARAN UMUM

4.1. Desa Suka Makmur Sibolangit

Desa Suka Makmur adalah sebuah desa yang terletak di daerah dataran tinggi, yang berada di lereng Gunung Sibayak, dengan hawa yang sejuk dan nyaman. Konon katanya Desa ini dinamai Desa Suka Makmur adalah agar nantinya penduduk yang bertempat tinggal dan Desa ini dalam keadaan makmur dan sejahtra, serta hidup damai maka disebut menjadi Desa Suka Makmur. Sehingga semua masyarakat menjadikan nama Desa ini menjadi Desa Suka Makmur.

Pada tahun 1948 Desa Suka Makmur, diresmikan oleh Asisten Wedana Kec.

Sibolangit yakni Dame Gurusinga. Selanjutnya Desa Suka Makmur adalah merupakan gabungan 6 (enam) Desa yaitu Desa Lau Purba, Desa Bangun Seribu, Desa Tinembuk, Desa Beranti, Desa Jambu dan Desa Batu Seri. Ke-6 Desa ini digabung menjadi satu Desa yaitu Desa Suka Makmur karena dikarenakan ke-6 desa ini memiliki wilayah yang berdekatan dan berbatasan dan masih memiliki jumlah penduduk yang sedikit dan saling mengenal satu dengan yang lainya.

Desa Suka Makmur Kecamatan Sibolangit memiliki lusa wilayah sekitar 252 ha dan berbatasan dengan:

- Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Rumah Pil-Pil dan Desa Betimus Mbaru - Sebalah Selatan berbatasan dengan Desa Bandar Baru

- Sebelah Timur berbatasab dengan Sungai Petani/Desa Sikeben

- Sebelah Barat berbatasan Dengan Sungai Betimus

Desa Suka Makmur Kecamatan Sibolangit ini memiliki jarak tempuh 48 km dan sekitar 60 menit dari Propinsi Sumatera Utara. Jarak tempuh Desa ke kabupaten 78 km dan sekitar 2,5 jam, dan jarak desa ke kecamatan Sibolangit 03 km dan sekitar 10 menit. Desa Suka Makmur kecamatan Sibolangit kabupaten Deli Serdang yang terdiri dari 5 buah dusun, dengan jumlah penduduk sebanyak 2.010 jiwa, yang terdiri dari jumlah laki-laki sebanyak 635 jiwa, dan perempuan sebanyak 1.375 jiwa, serta jumlah kepala keluarga sebanyak 565 kepala keluarga.

Tabel 4.1

Kepala Kampung/ Kepala Desa Suka Makmur yang pernah menjabat:

NO NAMA KETERANGAN

1. Payung Sembiring Kepala Desa I Saleh Tarigan Kepala Desa II

3. Manik Kepala Desa III

4. Natap Gurusinga Kepala Desa IV 5. Berani Sembiring Kepala Desa V 6. Persadaan Bangun Kepala Desa VI 7. Tuah Tarigan Kepala Desa VII 8. Nempel Tarigan Kepala Desa VIII 9. Lor Gurusinga Kepala Desa IX 10. Selamat Sembiring Kepala Desa X 11. Ngadap Tarigan Kepala Desa XI

12. Ismail Sembiring,SH Kepala Desa XII

13. Tuah Malem Tarigan, SH Pelaksanaan Kepala Desa Sejak Bulan September 2013 s/d Februari 2013

14. Robinson Barus Kepala Desa Suka Makmur Sampai Sekarang

Sumber: Profil Desa Suka Makmur September, 2018

4.1.1 Topografi Desa Suka Makmur Sibolangit

Secara topografi Desa Suka Makmur terdiri dari wilayah dengan dataran tinggi. Tanah di Desa Suka Makmur merupakan tanah yang kering dan tanah sawah. Desa ini berada pada ketinggian sekitar 800 M diatas permukaan laut. Suhu di Desa Suka Makmur berkisar antara 290

- Musim Penghujan terjadi disekitar Bulan September s/d Maret.

C. Curah hujan rata-rata 2.500mm s/d 3.000mm/tahun. Iklim di Wilayah Desa Suka Makmur pada umumnya berhawa sejuk dan terdiri dari 2 (dua) musim yaiti:

- Musim Kemarau terjadi disekitar Bulan April s/d Agustus.

Tabel 4.2

Komposisi Menurut Agama

NO Komposisi Menurut Agama Jumlah

1. Islam 181 Orang

2. Katolik 18 Orang

3. Kristen 1.782 Orang

4. Buddha 29 Orang

5. Hindu -

Jumlah 2.010 Orang

Sumber: Profil Desa Suka Makmur September,2018

Pada Desa Suka Makmur, mayoritas masyarakat beragama Kristen yaitu sebesar 1.782 orang. Masyarakat beragama Islam sebanyak 181 orang.

Masyarakat yang beragama Katolik sebanyak 18 orang. Masyrakat yang beragama Budha sebanyak 29 orang. Tidak ada masyarakat yang menganut agama Hindu di Desa Suka Makmur.

Tabel 4.3

Sumber: Profil Desa Suka Makmur September, 2018

Desa Suka Makmur lebih banyak memiliki bangunan Gereja Kristen

sebanyak 2 buak. Masjid 1 buah dan Musholla 1 buah. Sedangkan Gereja Katolik beradadi desa lain, 1 Vihara dan Pura tidak ada.

Tabel 4.4

Komposisi Penduduk Berdasarkan Etnis NO Komposisi Penduduk Berdasarkan

Etnis

Jumlah 2.010 orang

Sumber: Profil Desa Suka Makmur September, 2018

Masyarakat pada Desa Suka Makmur secara mayoritas berasal dari etnis Batak Karo dengan jumlah 1.708 orang. Masyarakat yang berasal dari entis Batak Toba dengan jumlah 61 orang. Masyarakat yang berasal dari etnis Jawa dengan jumlah 201 orang. Dan masyarakat yang berasal dari etnis Tionghoa, berjumlah 40 orang.

Secara mayoritas, Masyarakat Desa Suka Makmur memiliki pekerjaan sebagai petani/buruh tani sebanyak 476 orang yang sebagian besar adalah perempuan. Pada pedagang/pengusaha sebanyak 376 orang. Dan masyarakat yang bekerja sebagai pengrajin/industri rumah tangga sebanyak 247 orang.

Kariawan swasta 236 orang. Sebagai tukang bangunan sebanyak 103 orang.

Sebagai pensiunan PNS sebesar 87 orang. Sebagai PNS sebanyak 23 orang.

Sebagai TNI sebanyak 14 orang, sebagai POLRI sebanyak 9 orang. Sebagai tukang keranjang sebanyak 8 orang. Dan masyarakat yang bekerja pada pekerjaan lainya berjumlah 431 orang.

4.2 Buddhisme

Agama Buddha ialah agama dan falsafah yang berasaskan ajaran Buddha Śākyamuni (Siddhārtha Gautama) yang mungkin lahir pada kurun ke-5 sebelum masehi. Agama Buddha menyebar ke benua India dalam kurun waktu selepas Baginda meninggal dunia. Dalam 2.000 tahun seterusnya, agama Buddha telah menyebar ke tengah, tenggara dan timur Asia. Agama Buddha terus menarik orang ramai, bahkan penganutnya di seluruh dunia dan mempunyai lebih kurang 350 juta penganut. Agama Budddha dikenal sebagai salah satu agama yang paling besar di dunia. Masyarakat Tionghoa yang ada di Indonesia maupun masyarakat Tionghoa yang ada di kota Binjai, kebanyakan menganut kepercayaan Budha (Safitri, 2014: 44)

Seorang Buddha ialah seseorang yang mendapati alam semesta yang benar melalui pelajarannya yang bertahun-tahun, penyiasatan dengan pengamalan agama pada masanya dan pertapaan. Penemuannya dikenali sebagai Bodhi atau

"Pemahaman". Siapa yang bangun dari "Ketiduran Kejahilan" secara langsung yang mengenali alam semesta jadi nyata yang sebenarnya dikenal sebagai Buddha.

Mengikuti ajaran Buddha, siapa yang dapat mempelajarinya dan juga memahami alam semesta akan jadi nyata yang sebenarnya dan mempraktikkannya dengan

mengamalkan kehidupan yang bermoral dan pemikiran yang bersih. Secara keseluruhan, tujuan seorang menganut agama Buddha adalah untuk mengamati segala kesusahan dalam kehidupan (Safitri, 2014:44).

BAB V

JENIS ORNAMEN PADA VIHARA BUDDHA LOKA

Dalam bab v peneliti membahas jenis ornamen pada bangunan Vihara Buddha Loka. Untuk membahas jenis peneliti menggunakan teori Semiotik yang dipelopori oleh Ferdinand de Sausure. Sebelum ke makna berikut sejarah agama Buddha di tanah karo Sibolangit dan pada berikut merupakan makna ornamen pada bangunan Vihara Buddha Loka Sibolangit.

5.1 Sejarah Agama Buddha di Tanah Karo Sibolangit

Umumnya orang di Sumatera menganggap agama Buddha miliknya etnis Tionghoa saja, dan takakan menyangka orang Karo ada yang beragama Buddha. Bahkan kini banyak guru agama Buddha yang bermerga Sembiring, Sitepu, ataupun Ginting. Saat ini, kesan bahwa ajaran Buddha hanya dipelajari suku tertentu, ternyata tidak berlaku lagi.Bhante Jinadhammo lah yang telah bersusah payah mendatangi, menaklukkan, serta menabur benih Dhamma di Tanah Karo. Tak banyak yang tahu, bahkan umat Buddhis di Sumatera Utara sekalipun, jasa Bhikkhu Jinadhammo dalam merintis masuknya Agama Buddha di Tanah Karo sangat besar.

Selain Tionghoa, Tamil dan Jawa, ternyata Agama Buddha banyak dipeluk oleh masyarakat Karo. Tercatat nama-nama tokoh Buddhis yang berasal dari Karo, diantaranya : Bhikkhu Kanthadhammo, Channa Surbakti, Ndriken Sitepu, Gancih Sitepu (alm), Densi Ginting, Nenteng Barus, dan banyak lagi. Upaya ini telah mulai

dirintis oleh Bhikkhu Jinadhammo sejak tahun 1984. Dan, saat ini, jumlah orang Karo yang memeluk Agama Buddha semakin meningkat. Bahkan diantara mereka ada yang telah fasih dalam melafalkan Paritta dan menjadi Tokoh Agama Buddha.

Untuk inilah, Bhikkhu Jinadhammo juga merintis pembangunan vihara dan cetiya untuk Suku Karo, antara lain Cetiya Sakya Kirti (Parangguam Male), Vihara Kassapa (Desa Turangi), Vihara Sangha Ramsi (Sibiru-biru), Vihara Sriwijaya (Desa Parangguam Baru), Vihara Buddha Sikhi (Besadi) dan Vihara Buddha Loka (Desa Suka Makmur,Sibolangit).

Dimulai dari Desa Parangguam. Sebelum memeluk agama Buddha, orang Karo menganut kepercayaan Pemena dan berpegang teguh pada Adat. Atas inisiatif Dirjen Sitepu, Johan Sitepu dan Gandih Sitepu, mereka pun mencari Bhikkhu Jinadhammo di Vihara Borobudur Medan untuk memohon kepada beliau agar melakukan pembinaan secara Buddhis terhadap masyarakat Karo yang ada di Desa Parangguam.

Maka sejak tahun 1984 sebagian penduduk Parangguam sudah beragama Buddha dan langsung di Trisarana-kan dan dibina oleh Bhikkhu Jinadhammo. Dalam rentang 9 kali kunjungan beliau ke sana, mereka sudah cukup memahami Buddha Dhamma yang diajarkan pada mereka, karena tidak terlalu jauh berbeda dengan kepercayaan lama mereka. Kendala yang ada bagi mereka adalah untuk membaca dan memahami paritta-paritta yang berbahasa Pali yang masih sangat asing bagi lidah dan telinga mereka. Tapi hal tersebut dapat diatasi, karena di antara pemuda Karo yang telah mengecap pendidikan di Institut Ilmu Agama Buddha telah mulai menyadur paritta-paritta tersebut ke dalam bahasa Karo.

Pada tahun yang sama pula, atas rintisan dari Bhante Jinadhammo, Upa Giriputra dan Ibu Marianiwaty, dimulailah pembangunan Cetiya Sakya Kirti di atas setapak Tanah di Parangguam Male, disumbangkan oleh penduduk setempat. Lalu berlanjut hingga kini pembangunan Cetiya Sakya Kirti yang terdapat di Kabupaten Karo, Vihara Kassapa yang terletak di Simpang Glugur, Desa Turangi, dan Vihara Sriwijaya yang terletak di desa Parangguam Baru, Kecamatan Salapian, Kabupaten Langkat. Di Sibiru-biru juga ada vihara dan cetiya milik umat Buddha Suku Karo, yaitu Vihara Sangha Ramsi dan Cetiya Vanara Seta. Bhikkhu Jinadhammo merupakan salah satu dari lima bhikkhu yang pertama kali ditahbiskan setelah Bhikkhu Ashin Jinarakkhita, di Candi Borobudur pada tahun 1970. Beliau juga termasuk sebagai bhikkhu dengan vassa tertua di Indonesia yang masih tetap lincah dan bersemangat dalam mengembangkan Buddha Dharma, khususnya di Indonesia.

Ia dikagumi Umat Buddha bukan saja karena kesederhanaan hidupnya tetapi juga keteguhan prinsipnya.

Bhikkhu Jinadhammo dilahirkan di Desa Gempok. Kecamatan Simo (Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah), pada tanggal 3 September 1944, dengan nama kecil Sunardi. Saat remaja, Sunardi kerap mengunjungi tempat-tempat pertunjukkan wayang kulit. Ia betah menonton pagelaran wayang kulit berhari-hari dan hapal dengan lakon dan tokoh wayangnya. Agama Buddha mulai dikenal Sunardi saat ia bersama teman-temannya sering mengunjungi Candi Borobudur dan Prambanan.

Diam-diam ia penasaran dengan kemegahan candi tersebut. Akhirnya Sunardi bertemu dengan Bhikkhu Ashin Jinarakkhita di Bandung. Dari Bhikkhu Ashin,

Sunardi giat mempelajari Paritta-paritta suci dan Buddha Dharma secara mendalam.

Pada masa 1960 sampai 1970-an, Bhikkhu Indonesia masih sangat sedikit. Bhikkhu Ashin Jinarakkhita adalah putra Indonesia pertama yang menjadi Bhikkhu sejak 500 tahun terakhir setelah runtuhnya keprabuan Majapahit.

Setelah Sunardi ditahbiskan sebagai upasaka oleh Bhikkhu Ashin Jinarakkhita, ia kerap mendampingi Bhikkhu Ashin berkeliling Sumatera bahkan Indonesia.

Sunardi sering didesak oleh Bhikkhu Ashin untuk segera menjadi samanera. Saat itu ia belum bersedia. Sampai kurun 6 tahun lamanya. Suatu ketika, Bhikkhu Ashin berkata pada Sunardi : “Mengapa bukan Jenderal Gatot Subroto? Mengapa Jenderal Sumantri? Mengapa bukan Maha Upasaka Mangun Kawotjo yang menjadi Bhikkhu untuk membangkitkan agama Buddha? Mengapa saya yang menjadi Bhikkhu? Itu karena saya membayar hutang. ”Demikian pertanyaan yang dilontarkan Bhikkhu Ashin Jinarakkhita kepada Sunardi, dan yang kemudian dijawab oleh beliau sendiri.

Ketiga tokoh yang disebut Bhikkhu Ashin adalah umat Buddhis. Mendengar pertanyaan Bhikkhu Ashin tersebut, Sunardi yang asli pemuda berdarah Jawa seperti Jendral Gatot Subroto, Sumantri, dan M.U. Mangun Kawotjo, merasa tergugah batinnya. Ia pun membulatkan tekad untuk menjadi anggota Sangha.

Upasampada Sunardi kemudian ditabhiskan menjadi samanera oleh Bhante Ashin dengan nama Samanera Dhammasushiyo. Selang beberapa waktu kemudian, samanera Dhammasushiyo mengambil keputusan untuk menjadi Bhikkhu. Tepat pada Hari Waisak, tanggal 9 Mei 1970, pukul 14.00 WIB, bertempat di Candi Borobudur, bersama dengan 4 orang Samanera lainnya, Samanera Dhammasushiyo di

Upasampada. Samanera Dhammasushiyo berganti nama sebagai Bhikkhu Jinadhammo. 45 tahun telah menjadi Bhikkhu, karya Bhikkhu Jinadhammo Mahathera atau yang lebih akrab disapa Bhante “Jin” begitu terasa di Sumatera.

Bhikkhu Jinadhammo Mahathera mempunyai nasehat : “Sedikit sekali manusia yang tahu berterimakasih. Jadilah orang yang selalu berterimakasih kepada setiap hal yang datang dan kepada semua orang yang pernah menjadi guru.”

5.2 Jenis – jenis Ornamen yang terletak pada Vihara Buddha Loka

Adapun jenis-jenis ornamen yang terdapat pada Vihara Buddha Loka, jenis ornamen tersebut yaitu:

5.2.1 Ornamen Kaligrafi

Pada Vihara Buddha Loka terdapat ornamen kaligrafi yang terletak pada atas pintu Vihara, memasuki ruang ibadah terdapat tiga buah pintu yang masing-masing terdapat dua pintu yang terdiri dari pintu depan atau pintu utama dan dua lagi pintu samping yang berada di kiri dan kanan bangunan.

Menurut kepercayaan umat Tionghoa dianjurkan harus masuk ke dalam bangunan Vihara dari pintu kiri dan keluar dari pintu kanan. Dalam kebiasaan budaya Tionghoa mereka yang utamakan, dihormati ditempatkan di sisi kiri, yang sekunderdi daerah kanan. Ornamen pintu pada bangunan Vihara Buddha Loka hanya ada satu ornamen khas Tionghoa yaitu terdapat kaligrafi pada atas

pintu yang berbunyi 圆通宝殿(Yuántōng bǎodiàn) yaitu nama salah satu dewa perang yang di agungkan dan masyarakat Tionghoa sebagai dewa penolong danpelindung.

5.2.2 Ornamen Atap Vihara

Pada Vihara Buddha Loka di atas atap vihara pada umumnya ditempatkan sepasang naga yang dibentuk dari pecahan porselin dalam kedudukan saling berhadapan untuk berebut sebuah bola naga semesta. Pada bagian atap bangunan yang lain kadang dihiasi sepasang naga mengapit Houw Lou dalam bahasa Hokkian , yaitu buah labu yang telah kering sebagai tempat air/arak.

5.2.3 Ornamen Naga

Pada Vihara Buddha Loka terdapat ornamen naga yang terletak di tiang Vihara, di hiolo dan di atas atap Vihara. Naga dianggap makhluk langit memiliki dua alasan, yang pertama adalah segala yang berhubungan dengan air seperti ikan dan buaya kemudian dihubungkan dengan darat seperti babi, kuda, sapi, dan rusa serta langit seperti petir, pelangi, dan burung-burung yang digabungkan menjadi satu

5.2.4 Ornamen Singa

Pada Vihara Buddha Loka terdapat ornamen singa yang diletakkan pada sisi kanan kiri pintu masuk utama bangunan Vihara. Singa jantan disebelah kiri sedangkan singa betina disebelah kanan. Ini dikarenakan kiri dianggap sebagai letak yang lebih besar dari pada kanan di dalam kebudayaan Tionghoa, juga untuk memenuhi standar “nan zou nu you” sama dengan “ lelaki dikiri dan wanita dikanan”.

5.2.5 Ornamen Burung Hong

Pada Vihara Buddha Loka terdapat ornamen burung Hong yang terdapat pada tiang Vihara. Burung Hong menjadi lambang yang disukai, binatang mithologi. Burung dewata ini merupakan raja dari segala burung, bentuknya paduan dari berbagai burung, kepalanya adalah kepala ayam pegar, paruh burung layang-layang, ekor burung merak, jengger ayam jantan, dan lain-lain.

5.2.6 Ornamen Gajah

Pada Vihara Buddha Loka tedapat ornamen gajah terletak di depan Vihara yang berjejer menjadi bentuk sebuah pagar pada Vihara Buddha Loka.

Gajah merupakan lambang kebijaksanaan, kekuatan dan kecermatan. Sangat disukai oleh kaum Buddhisme. “Xiang” (象) yang berarti gajah mempunyai persamaan bunyi dengan “xiang” (祥), yang berarti “keberuntungan”

5.2.7 Onamen Bambu

Pada Vihara Buddha Loka terdapat ornamen bambu yang terletak pada pintu Vihara,bagi masyarakat Tionghoa bambu di percaya sebagai keidahan dan mempunyai nilai luhur dalam kehidupan manusia seperti Xiao, Di, Zhong, Xin, Li, Yi, Lian, Che atau Laku Bakti, Rendah Hati, Setia, Dapat Dipercaya, Susila, Benar atau Bajik, Tulus atau Suci Hati, dan Tahu Malu.

5.2.8 Ornamen Harimau

Pada Vihara Buddha Loka terdapat ornamen harimau yang terletak dududk didepan pintu dan dinding Vihara. Harimau merupakan pimpinan tertinggi dewa binatang dalam kebudayaan masyarakat Tionghoa.

5.2.9 Ornamen Ikan Koi Berkepala Naga

Pada Vihara Buddha Loka terdapat ornamen ikan Koi, yang terletak pada atap Vihara yang berkepala naga, masyarakat Tionghoa mempercayai makhluk mitologi ini memberi kemakmuran dan masyarakat Tionghoa biasanya mmelihara ikan mas koi.

5.2.10 Ornamen Burung Bangau

Pada bangunan Vihara Buddha Loka terdapat ornamen burung Bangau terletak pada pembatas tangga dan juga landasan pilar. Dikarenakan pada pembatas tangga bangunan Vihara ini terdapat berbagai jenis ornamen yaitu

ornamen tumbuhan juga binatang, sehingga sebagai pelengkap ornamen binatang, maka digunakanlah ornamen burung bangau.

5.2.11 Ornamen Bunga Peony

Pada Vihara Buddha Loka terdapat ornamen bunga Peony yang terletak pada altar Vihara. Bunga peony merupakan salah satu bunga yang paling sering digunakan dalam bidang seni ornamen. Sejak zaman dulu, gambar-gambar bunga peony sering ditemukan pada berbagai macam keramik dan lukisan-lukisan, bahkan hiasa pada altar di Tionghoa.

5.2.12 Ornamen Bunga Teratai

Pada Vihara Buddha Loka terdapat ornamen bunga teratai yang terletak pada altar Vihara. Bunga teratai dalam masyarakat Tionghoa dipercayai bahwa proses mekarnya bunga teratai merupakan lambang pencapaian kesempurnaan.

5.2.13 Ornamen Burung Phoenix

Pada Vihara Buddha Loka terdapat ornamen burung phoenix diletakkan pada bagian bawah pilar sebagai struktur penopang bangunan Vihara, bagi masyarakat Tionghoa burung phoenix merupakan makhluk mitologi berwujud burung.

5.2.14 Ornamen Qilin

Pada Vihara Buddha Loka terdapat ornamen qilin yang terdapat pada depan pintu ruang sembahyang Vihara. Qilin (pada bahasa China ditulis 麒麟;

terkadang juga ditulis Kilin atau Ch’i-lin, Chinese-Unicorn) merupakan salah satu makhluk mitos dari Tionghoa. Wujud yang dimilikinya bersifat chimeric (bersifat seperti chimaera; memiliki bentuk tubuh yang berupa campuran beberapa jenis makhluk hidup) atau dapat juga disebut hybrid.

5.2.15 Ornamen Patung Dewi Kwan Im

Pada Vihara Buddha Loka terdapat ornamen patung Dewi Kwan Im terletak pada bagian luar Vihara dan di dalam Vihara. Kwan Im (Hanzi:觀音;

Pinyin: Guān Yīn) adalah translasi dari Avalokitesvara Bodhisattva, Dewi Welas Asih di Tiongkok. Kwan Im sendiri adalah dialek Hokkian dan Hakka yang digunakan masyarakat Tionghoa.

BAB VI

MAKNA ORNAMEN PADA VIHARA BUDDHA LOKA

Adapun makna ornamen pada Vihara Buddha Loka diyakini memiliki makna tertentu adapun makna ornamen tersebut akan dipaparkan penulis sebagai berikut :

6.1 Makna Ornamen Kaligrafi

Memasuki ruang ibadah terdapat tiga buah pintu yang masing-masing terdapat dua pintu yang terdiri dari pintu depan atau pintu utama dan dua lagi pintu samping yang berada di kiri dan kanan bangunan. Menurut kepercayaan umat Tionghoa dianjurkan harus masuk ke dalam bangunan Vihara dari pintu kiri dan keluar dari pintu kanan. Dalam kebiasaan budaya Tionghoa mereka yang utamakan, dihormati ditempatkan di sisi kiri. (Widiastuti, 2012:28).

Pada ornamen pintubangunan Vihara Buddha Lokaterdapat kaligrafi khas Tionghoa yaitu terdapat tulisan pada atas pintu yang berbunyi 圆通宝殿 (Yuántōng bǎodiàn) yaitu nama salah satu dewa perang yang agung yaitu dewa Guan Yu yang dikenal sebagai dewakesatria yang mempunyai rasa belas kasihan tinggi, penolong bagi masyarakat Tionghoa.

Gambar 6.1 Pintu Vihara Buddha Loka

Dokumentasi: Tessalonika, 2018

Dalam kebiasaan budaya Tionghoa mereka yang utamakan, dihormati ditempatkan di sisi kiri. Maka dari ritual tersebut adalah masuk menjalankan kebaikan dan keluar meninggalkan semua prilaku buruk. Selain pintu utama dari arah depan terdapat pula pintu samping yang menuju ruang ibadah makna adanya pintu samping adalah angin menghembus selaras dan hujan turun pada masanya, sehingga harapan agar ekonomi berlangsung tanpa terganggu bencana, negara sejahtera, rakyat sentosa, keamanan, dan kemakmuran bersama. makna ornamen pintu Vihara bagi masyarakat Tionghoa yaitu pintu Vihara bermakna sebagai penangkal roh jahat yang biasa menggaggu ketenangan dan kekhidmatan Vihara dan para umat yang sembahyang didalamnya.

6.2 Makna Ornamen Atap Vihara

Pada Vihara Buddha Loka di atas atap vihara ditempatkan sepasang naga yang dibentuk dari pecahan porselin dalam kedudukan saling berhadapan untuk berebut sebuah bola naga alam semesta. Naga yang mengapit Houw Lou dalam bahasa Hokkian , yaitu buah labu yang telah kering sebagai tempat air/arak. Houw Lou tidak dapat dipisahkan dari bekal para dewa, sehingga dianggap mempunyai kekuatan gaib untuk menjaga keseimbangan Hong Shui dan menangkal hawa jahat. Naga/Liong (bahasa Hokkian) adalah suatu makhluk mitologi yang melambangkan kekuatan,

Pada Vihara Buddha Loka di atas atap vihara ditempatkan sepasang naga yang dibentuk dari pecahan porselin dalam kedudukan saling berhadapan untuk berebut sebuah bola naga alam semesta. Naga yang mengapit Houw Lou dalam bahasa Hokkian , yaitu buah labu yang telah kering sebagai tempat air/arak. Houw Lou tidak dapat dipisahkan dari bekal para dewa, sehingga dianggap mempunyai kekuatan gaib untuk menjaga keseimbangan Hong Shui dan menangkal hawa jahat. Naga/Liong (bahasa Hokkian) adalah suatu makhluk mitologi yang melambangkan kekuatan,