• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejarah Agama Buddha di Tanah Karo Sibolangit

BAB V JENIS ORNAMEN PADA VIHARA BUDDHALOKA

5.1 Sejarah Agama Buddha di Tanah Karo Sibolangit

Umumnya orang di Sumatera menganggap agama Buddha miliknya etnis Tionghoa saja, dan takakan menyangka orang Karo ada yang beragama Buddha. Bahkan kini banyak guru agama Buddha yang bermerga Sembiring, Sitepu, ataupun Ginting. Saat ini, kesan bahwa ajaran Buddha hanya dipelajari suku tertentu, ternyata tidak berlaku lagi.Bhante Jinadhammo lah yang telah bersusah payah mendatangi, menaklukkan, serta menabur benih Dhamma di Tanah Karo. Tak banyak yang tahu, bahkan umat Buddhis di Sumatera Utara sekalipun, jasa Bhikkhu Jinadhammo dalam merintis masuknya Agama Buddha di Tanah Karo sangat besar.

Selain Tionghoa, Tamil dan Jawa, ternyata Agama Buddha banyak dipeluk oleh masyarakat Karo. Tercatat nama-nama tokoh Buddhis yang berasal dari Karo, diantaranya : Bhikkhu Kanthadhammo, Channa Surbakti, Ndriken Sitepu, Gancih Sitepu (alm), Densi Ginting, Nenteng Barus, dan banyak lagi. Upaya ini telah mulai

dirintis oleh Bhikkhu Jinadhammo sejak tahun 1984. Dan, saat ini, jumlah orang Karo yang memeluk Agama Buddha semakin meningkat. Bahkan diantara mereka ada yang telah fasih dalam melafalkan Paritta dan menjadi Tokoh Agama Buddha.

Untuk inilah, Bhikkhu Jinadhammo juga merintis pembangunan vihara dan cetiya untuk Suku Karo, antara lain Cetiya Sakya Kirti (Parangguam Male), Vihara Kassapa (Desa Turangi), Vihara Sangha Ramsi (Sibiru-biru), Vihara Sriwijaya (Desa Parangguam Baru), Vihara Buddha Sikhi (Besadi) dan Vihara Buddha Loka (Desa Suka Makmur,Sibolangit).

Dimulai dari Desa Parangguam. Sebelum memeluk agama Buddha, orang Karo menganut kepercayaan Pemena dan berpegang teguh pada Adat. Atas inisiatif Dirjen Sitepu, Johan Sitepu dan Gandih Sitepu, mereka pun mencari Bhikkhu Jinadhammo di Vihara Borobudur Medan untuk memohon kepada beliau agar melakukan pembinaan secara Buddhis terhadap masyarakat Karo yang ada di Desa Parangguam.

Maka sejak tahun 1984 sebagian penduduk Parangguam sudah beragama Buddha dan langsung di Trisarana-kan dan dibina oleh Bhikkhu Jinadhammo. Dalam rentang 9 kali kunjungan beliau ke sana, mereka sudah cukup memahami Buddha Dhamma yang diajarkan pada mereka, karena tidak terlalu jauh berbeda dengan kepercayaan lama mereka. Kendala yang ada bagi mereka adalah untuk membaca dan memahami paritta-paritta yang berbahasa Pali yang masih sangat asing bagi lidah dan telinga mereka. Tapi hal tersebut dapat diatasi, karena di antara pemuda Karo yang telah mengecap pendidikan di Institut Ilmu Agama Buddha telah mulai menyadur paritta-paritta tersebut ke dalam bahasa Karo.

Pada tahun yang sama pula, atas rintisan dari Bhante Jinadhammo, Upa Giriputra dan Ibu Marianiwaty, dimulailah pembangunan Cetiya Sakya Kirti di atas setapak Tanah di Parangguam Male, disumbangkan oleh penduduk setempat. Lalu berlanjut hingga kini pembangunan Cetiya Sakya Kirti yang terdapat di Kabupaten Karo, Vihara Kassapa yang terletak di Simpang Glugur, Desa Turangi, dan Vihara Sriwijaya yang terletak di desa Parangguam Baru, Kecamatan Salapian, Kabupaten Langkat. Di Sibiru-biru juga ada vihara dan cetiya milik umat Buddha Suku Karo, yaitu Vihara Sangha Ramsi dan Cetiya Vanara Seta. Bhikkhu Jinadhammo merupakan salah satu dari lima bhikkhu yang pertama kali ditahbiskan setelah Bhikkhu Ashin Jinarakkhita, di Candi Borobudur pada tahun 1970. Beliau juga termasuk sebagai bhikkhu dengan vassa tertua di Indonesia yang masih tetap lincah dan bersemangat dalam mengembangkan Buddha Dharma, khususnya di Indonesia.

Ia dikagumi Umat Buddha bukan saja karena kesederhanaan hidupnya tetapi juga keteguhan prinsipnya.

Bhikkhu Jinadhammo dilahirkan di Desa Gempok. Kecamatan Simo (Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah), pada tanggal 3 September 1944, dengan nama kecil Sunardi. Saat remaja, Sunardi kerap mengunjungi tempat-tempat pertunjukkan wayang kulit. Ia betah menonton pagelaran wayang kulit berhari-hari dan hapal dengan lakon dan tokoh wayangnya. Agama Buddha mulai dikenal Sunardi saat ia bersama teman-temannya sering mengunjungi Candi Borobudur dan Prambanan.

Diam-diam ia penasaran dengan kemegahan candi tersebut. Akhirnya Sunardi bertemu dengan Bhikkhu Ashin Jinarakkhita di Bandung. Dari Bhikkhu Ashin,

Sunardi giat mempelajari Paritta-paritta suci dan Buddha Dharma secara mendalam.

Pada masa 1960 sampai 1970-an, Bhikkhu Indonesia masih sangat sedikit. Bhikkhu Ashin Jinarakkhita adalah putra Indonesia pertama yang menjadi Bhikkhu sejak 500 tahun terakhir setelah runtuhnya keprabuan Majapahit.

Setelah Sunardi ditahbiskan sebagai upasaka oleh Bhikkhu Ashin Jinarakkhita, ia kerap mendampingi Bhikkhu Ashin berkeliling Sumatera bahkan Indonesia.

Sunardi sering didesak oleh Bhikkhu Ashin untuk segera menjadi samanera. Saat itu ia belum bersedia. Sampai kurun 6 tahun lamanya. Suatu ketika, Bhikkhu Ashin berkata pada Sunardi : “Mengapa bukan Jenderal Gatot Subroto? Mengapa Jenderal Sumantri? Mengapa bukan Maha Upasaka Mangun Kawotjo yang menjadi Bhikkhu untuk membangkitkan agama Buddha? Mengapa saya yang menjadi Bhikkhu? Itu karena saya membayar hutang. ”Demikian pertanyaan yang dilontarkan Bhikkhu Ashin Jinarakkhita kepada Sunardi, dan yang kemudian dijawab oleh beliau sendiri.

Ketiga tokoh yang disebut Bhikkhu Ashin adalah umat Buddhis. Mendengar pertanyaan Bhikkhu Ashin tersebut, Sunardi yang asli pemuda berdarah Jawa seperti Jendral Gatot Subroto, Sumantri, dan M.U. Mangun Kawotjo, merasa tergugah batinnya. Ia pun membulatkan tekad untuk menjadi anggota Sangha.

Upasampada Sunardi kemudian ditabhiskan menjadi samanera oleh Bhante Ashin dengan nama Samanera Dhammasushiyo. Selang beberapa waktu kemudian, samanera Dhammasushiyo mengambil keputusan untuk menjadi Bhikkhu. Tepat pada Hari Waisak, tanggal 9 Mei 1970, pukul 14.00 WIB, bertempat di Candi Borobudur, bersama dengan 4 orang Samanera lainnya, Samanera Dhammasushiyo di

Upasampada. Samanera Dhammasushiyo berganti nama sebagai Bhikkhu Jinadhammo. 45 tahun telah menjadi Bhikkhu, karya Bhikkhu Jinadhammo Mahathera atau yang lebih akrab disapa Bhante “Jin” begitu terasa di Sumatera.

Bhikkhu Jinadhammo Mahathera mempunyai nasehat : “Sedikit sekali manusia yang tahu berterimakasih. Jadilah orang yang selalu berterimakasih kepada setiap hal yang datang dan kepada semua orang yang pernah menjadi guru.”

5.2 Jenis – jenis Ornamen yang terletak pada Vihara Buddha Loka

Adapun jenis-jenis ornamen yang terdapat pada Vihara Buddha Loka, jenis ornamen tersebut yaitu:

5.2.1 Ornamen Kaligrafi

Pada Vihara Buddha Loka terdapat ornamen kaligrafi yang terletak pada atas pintu Vihara, memasuki ruang ibadah terdapat tiga buah pintu yang masing-masing terdapat dua pintu yang terdiri dari pintu depan atau pintu utama dan dua lagi pintu samping yang berada di kiri dan kanan bangunan.

Menurut kepercayaan umat Tionghoa dianjurkan harus masuk ke dalam bangunan Vihara dari pintu kiri dan keluar dari pintu kanan. Dalam kebiasaan budaya Tionghoa mereka yang utamakan, dihormati ditempatkan di sisi kiri, yang sekunderdi daerah kanan. Ornamen pintu pada bangunan Vihara Buddha Loka hanya ada satu ornamen khas Tionghoa yaitu terdapat kaligrafi pada atas

pintu yang berbunyi 圆通宝殿(Yuántōng bǎodiàn) yaitu nama salah satu dewa perang yang di agungkan dan masyarakat Tionghoa sebagai dewa penolong danpelindung.

5.2.2 Ornamen Atap Vihara

Pada Vihara Buddha Loka di atas atap vihara pada umumnya ditempatkan sepasang naga yang dibentuk dari pecahan porselin dalam kedudukan saling berhadapan untuk berebut sebuah bola naga semesta. Pada bagian atap bangunan yang lain kadang dihiasi sepasang naga mengapit Houw Lou dalam bahasa Hokkian , yaitu buah labu yang telah kering sebagai tempat air/arak.

5.2.3 Ornamen Naga

Pada Vihara Buddha Loka terdapat ornamen naga yang terletak di tiang Vihara, di hiolo dan di atas atap Vihara. Naga dianggap makhluk langit memiliki dua alasan, yang pertama adalah segala yang berhubungan dengan air seperti ikan dan buaya kemudian dihubungkan dengan darat seperti babi, kuda, sapi, dan rusa serta langit seperti petir, pelangi, dan burung-burung yang digabungkan menjadi satu

5.2.4 Ornamen Singa

Pada Vihara Buddha Loka terdapat ornamen singa yang diletakkan pada sisi kanan kiri pintu masuk utama bangunan Vihara. Singa jantan disebelah kiri sedangkan singa betina disebelah kanan. Ini dikarenakan kiri dianggap sebagai letak yang lebih besar dari pada kanan di dalam kebudayaan Tionghoa, juga untuk memenuhi standar “nan zou nu you” sama dengan “ lelaki dikiri dan wanita dikanan”.

5.2.5 Ornamen Burung Hong

Pada Vihara Buddha Loka terdapat ornamen burung Hong yang terdapat pada tiang Vihara. Burung Hong menjadi lambang yang disukai, binatang mithologi. Burung dewata ini merupakan raja dari segala burung, bentuknya paduan dari berbagai burung, kepalanya adalah kepala ayam pegar, paruh burung layang-layang, ekor burung merak, jengger ayam jantan, dan lain-lain.

5.2.6 Ornamen Gajah

Pada Vihara Buddha Loka tedapat ornamen gajah terletak di depan Vihara yang berjejer menjadi bentuk sebuah pagar pada Vihara Buddha Loka.

Gajah merupakan lambang kebijaksanaan, kekuatan dan kecermatan. Sangat disukai oleh kaum Buddhisme. “Xiang” (象) yang berarti gajah mempunyai persamaan bunyi dengan “xiang” (祥), yang berarti “keberuntungan”

5.2.7 Onamen Bambu

Pada Vihara Buddha Loka terdapat ornamen bambu yang terletak pada pintu Vihara,bagi masyarakat Tionghoa bambu di percaya sebagai keidahan dan mempunyai nilai luhur dalam kehidupan manusia seperti Xiao, Di, Zhong, Xin, Li, Yi, Lian, Che atau Laku Bakti, Rendah Hati, Setia, Dapat Dipercaya, Susila, Benar atau Bajik, Tulus atau Suci Hati, dan Tahu Malu.

5.2.8 Ornamen Harimau

Pada Vihara Buddha Loka terdapat ornamen harimau yang terletak dududk didepan pintu dan dinding Vihara. Harimau merupakan pimpinan tertinggi dewa binatang dalam kebudayaan masyarakat Tionghoa.

5.2.9 Ornamen Ikan Koi Berkepala Naga

Pada Vihara Buddha Loka terdapat ornamen ikan Koi, yang terletak pada atap Vihara yang berkepala naga, masyarakat Tionghoa mempercayai makhluk mitologi ini memberi kemakmuran dan masyarakat Tionghoa biasanya mmelihara ikan mas koi.

5.2.10 Ornamen Burung Bangau

Pada bangunan Vihara Buddha Loka terdapat ornamen burung Bangau terletak pada pembatas tangga dan juga landasan pilar. Dikarenakan pada pembatas tangga bangunan Vihara ini terdapat berbagai jenis ornamen yaitu

ornamen tumbuhan juga binatang, sehingga sebagai pelengkap ornamen binatang, maka digunakanlah ornamen burung bangau.

5.2.11 Ornamen Bunga Peony

Pada Vihara Buddha Loka terdapat ornamen bunga Peony yang terletak pada altar Vihara. Bunga peony merupakan salah satu bunga yang paling sering digunakan dalam bidang seni ornamen. Sejak zaman dulu, gambar-gambar bunga peony sering ditemukan pada berbagai macam keramik dan lukisan-lukisan, bahkan hiasa pada altar di Tionghoa.

5.2.12 Ornamen Bunga Teratai

Pada Vihara Buddha Loka terdapat ornamen bunga teratai yang terletak pada altar Vihara. Bunga teratai dalam masyarakat Tionghoa dipercayai bahwa proses mekarnya bunga teratai merupakan lambang pencapaian kesempurnaan.

5.2.13 Ornamen Burung Phoenix

Pada Vihara Buddha Loka terdapat ornamen burung phoenix diletakkan pada bagian bawah pilar sebagai struktur penopang bangunan Vihara, bagi masyarakat Tionghoa burung phoenix merupakan makhluk mitologi berwujud burung.

5.2.14 Ornamen Qilin

Pada Vihara Buddha Loka terdapat ornamen qilin yang terdapat pada depan pintu ruang sembahyang Vihara. Qilin (pada bahasa China ditulis 麒麟;

terkadang juga ditulis Kilin atau Ch’i-lin, Chinese-Unicorn) merupakan salah satu makhluk mitos dari Tionghoa. Wujud yang dimilikinya bersifat chimeric (bersifat seperti chimaera; memiliki bentuk tubuh yang berupa campuran beberapa jenis makhluk hidup) atau dapat juga disebut hybrid.

5.2.15 Ornamen Patung Dewi Kwan Im

Pada Vihara Buddha Loka terdapat ornamen patung Dewi Kwan Im terletak pada bagian luar Vihara dan di dalam Vihara. Kwan Im (Hanzi:觀音;

Pinyin: Guān Yīn) adalah translasi dari Avalokitesvara Bodhisattva, Dewi Welas Asih di Tiongkok. Kwan Im sendiri adalah dialek Hokkian dan Hakka yang digunakan masyarakat Tionghoa.

BAB VI

MAKNA ORNAMEN PADA VIHARA BUDDHA LOKA

Adapun makna ornamen pada Vihara Buddha Loka diyakini memiliki makna tertentu adapun makna ornamen tersebut akan dipaparkan penulis sebagai berikut :

6.1 Makna Ornamen Kaligrafi

Memasuki ruang ibadah terdapat tiga buah pintu yang masing-masing terdapat dua pintu yang terdiri dari pintu depan atau pintu utama dan dua lagi pintu samping yang berada di kiri dan kanan bangunan. Menurut kepercayaan umat Tionghoa dianjurkan harus masuk ke dalam bangunan Vihara dari pintu kiri dan keluar dari pintu kanan. Dalam kebiasaan budaya Tionghoa mereka yang utamakan, dihormati ditempatkan di sisi kiri. (Widiastuti, 2012:28).

Pada ornamen pintubangunan Vihara Buddha Lokaterdapat kaligrafi khas Tionghoa yaitu terdapat tulisan pada atas pintu yang berbunyi 圆通宝殿 (Yuántōng bǎodiàn) yaitu nama salah satu dewa perang yang agung yaitu dewa Guan Yu yang dikenal sebagai dewakesatria yang mempunyai rasa belas kasihan tinggi, penolong bagi masyarakat Tionghoa.

Gambar 6.1 Pintu Vihara Buddha Loka

Dokumentasi: Tessalonika, 2018

Dalam kebiasaan budaya Tionghoa mereka yang utamakan, dihormati ditempatkan di sisi kiri. Maka dari ritual tersebut adalah masuk menjalankan kebaikan dan keluar meninggalkan semua prilaku buruk. Selain pintu utama dari arah depan terdapat pula pintu samping yang menuju ruang ibadah makna adanya pintu samping adalah angin menghembus selaras dan hujan turun pada masanya, sehingga harapan agar ekonomi berlangsung tanpa terganggu bencana, negara sejahtera, rakyat sentosa, keamanan, dan kemakmuran bersama. makna ornamen pintu Vihara bagi masyarakat Tionghoa yaitu pintu Vihara bermakna sebagai penangkal roh jahat yang biasa menggaggu ketenangan dan kekhidmatan Vihara dan para umat yang sembahyang didalamnya.

6.2 Makna Ornamen Atap Vihara

Pada Vihara Buddha Loka di atas atap vihara ditempatkan sepasang naga yang dibentuk dari pecahan porselin dalam kedudukan saling berhadapan untuk berebut sebuah bola naga alam semesta. Naga yang mengapit Houw Lou dalam bahasa Hokkian , yaitu buah labu yang telah kering sebagai tempat air/arak. Houw Lou tidak dapat dipisahkan dari bekal para dewa, sehingga dianggap mempunyai kekuatan gaib untuk menjaga keseimbangan Hong Shui dan menangkal hawa jahat. Naga/Liong (bahasa Hokkian) adalah suatu makhluk mitologi yang melambangkan kekuatan, keadilan, dan penjaga burung suci.

Gambar 6.2 Atap Vihara Buddha Loka Dokumentasi: Tessalomika 2018

Ornamen yang terdapat pada atas atap Vihara Buddha Loka berupa genteng biasa ada ornamen khas Tionghoa yang menghiasi yaitu ornamen Naga. Bentuk atappada Vihara ini yaitu bentuk menjulang ke atas.

Makna ornamen atap Vihara Budda Loka bagi masyarakat Tionghoa dipercayai permohonan segala sesuatu, hanya kepada yang di atas. Menerima kebaikan

setelah apa pencobaan yang dirasakan dari segala sesuatu apapun, makna atap yang melambangkan keharmonisan, melambangkan kerukunan dan melambangkan kedamaian. Atap bangunan ini memilik budaya khas Tionghoa yang menaungi sesuatu yang di bawahnya (penghuni/pengunjung) dengan kebahagiaan, keberuntungan, cinta kasih, umur panjang dan keagungan. Atap merupakan simbol surga karena atap mempunyai makna sebagai pelindung. Atap merupakan struktur atas bangunan, bentuk atap bermacam-macam sesuai pemaknaan tertentu dari suatu bangunan. Adapun makna atap hampir sama yaitu sebagai pelindung apapun yang di bawahnya agar terhindar dari panas, hujan, angin maupun hal-hal buruk lainnya.

6.3 Makna Ornamen Naga

Naga yang ada pada saat ini kebanyakan merupakan peninggalan dinasti Ming dan Qing (Ming Qing). Bentuk naga yang sudah berubah bentuk sekian lama, memiliki bentuk seperti ular. Selain itu terdapat janggut pada kanan dan kiri mulutnya, sisik yang mematikan di bawah leher dan sebuah mutiara putih dalam genggaman atau mulutnya sebagai sumber tenaga dan lambang kearifan. Sebagai petanda kaisar dan kepemimpinan aristokrat pada zaman dinasti Ming Qing, naga melegenda dalam peradaban Tionghoa Klasik dan membentuk kebudayaannya hingga dewasa ini.

(Miskaningsih, 2014: 60)

Pada dinasti Song, ada suatu peraturan yang harus diikuti ketika menggambar naga, yaitu sembilan karakter “jiushi”. Seorang pakar lukisan bernama Luo Yuan memberikan deskripsi tentang unsur-unsur pembentuk naga yang tertulis dalam

kitabnya, seperti: bertanduk rusa, berkepala unta, memiliki mata kelinci, leher seperti ular, perut seperti kerang, sisik seperti ikan, cakar seperti elang, telapak seperti macan, kuping seperti sapi. Sebelumnya seorang ahli lukis bernama Zhon Gyu, pada awal dinasti Song memberikan gambaran tentang bentuk naga seperti: kepala seperti sapi, mulut seperti keledai, mata seperti udang, tanduk seperti rusa, kuping seperti gajah, sisik seperti ikan, bentuk seperti orang, perut seperti ular, dan kaki seperti burung phoenix jantan. (Miskaningsih, 2017: 60)

Pada bukunya tentang kebudayaan naga Tionghoa, Pang Jin (2007) membagi jenis naga menjadi:

(1) Menurut lima unsur : naga emas, naga kayu, naga air, naga api, naga tanah. (2)Menurut tempat : naga selatan, naga utara, naga timur, naga barat, naga tengah, naga gunung, naga padang rumput, naga sungai, naga sumur, naga danau, naga laut, naga atas, naga bawah, naga kiri, naga kanan. (3) Menurut warna : naga hijau, naga hitam, naga kuning, naga putih, naga merah, naga ungu, naga berbintik, naga dengan campuran warna pada tubuhnya. (4)Menurut silsilah keluarga: raja naga, ibu naga, anak naga, naga perempuan, anak naga. Anak naga masih bisa dibagi lagi menjadi: pulao, bixi, bi’an, suan ni, taotie. (5) Menurut relasinya: qi (Qilin dan Pixiu) Qilin merupakan perwujudan makhluk mistis dari rusa, kuda, sapi, kambing, serigala. Makhluk ini memiliki bentuk, kepala kambing, badan rusa, kaki kuda, menerjang seperti serigala, berekor sapi, dan di kepalanya memiliki tanduk. Bentuk badan seperti sapi, sedangkan kepala

dan ekor seperti naga. Makhluk ini sering disebut memiliki hubungan erat dengan naga, kura-kura, dan burung phoenix. Kirin adalah kejujuran, phoenix adalah kestabilan, kurakura adalah kebaikan dan keburukan, serta naga merupakan perubahan. Pada kepercayaan masyarakat Tionghoa di Hongkong, Macau, dan Asia Tenggara, Kirin sering digunakan sebagai benda dan ornamen hongshui untuk mendatangkan kemakmuran, penangkal kejahatan, dan tidak pernah digunakan untuk melukai orang lain.

Gambar 6.3 Ornamen Naga

Dokumentasi: Tessalonika, 2018

Makna ornamen naga pada Vihara Buddha Loka yaitu keagungan dari Yang Maha Kuasa dalam bentuk mahkluk mitologi yang dipasang hampir diseluruh bagian Vihara. Warna hijau pada naga sebagai lambang kebijaksanaan dan ketenangan jiwa bagi masyarakata Tionghoa juga kekuatan, keberanian pendirian teguh dan kekuasaan yang memberi keuntungan kebaikan bagi umat manusia. Selain dari simbol

kekuasaan, makna sebagai penghalang kebakaran dan untuk mendatangkan hujan, manusia sejak dahulu selalu mencari suatu kekuatan yang ada diatasnya, dan percaya bahwa kekuatan itu dapat memberikan kebaikan dan keuntungan bagi diri mereka.

Ketika kekuatan itu tidak dapat memberikan mereka kebaikan dan keberuntungan, maka manusia akan meninggalkan kekuatan itu. Naga merupakan suatu simbol dari kekuatan yang dapat memberikan kebaikan dan keberuntungan bagi umat manusia.

Hal ini dapat terlihat dari bangunan-bangunan dengan arsitektur Tionghoa yang memiliki ciri khas sendiri dengan memasang naga sebagai salah satu jimat keberuntungan bagi bangunan tersebut.

6.4 Makna Ornamen Singa

Pada Vihara Buddha Loka terdapat ornamen singa yang terletak pada bagian depan pintu Vihara sepasang singa batu yang dipahat tepat di depan bangunan sembahyang biasanya patung ini terdiri dari jantan dan betina. Sebelum ke tangga terdapat sepasang singa batu yang dipahat tepat di depan tangga.

Karya-karya ini sebagian besar diambil dari nilai-nilai simbolik dari filsafat China Wu-Xing. Simbol-simbol tersebut dapat dilihat dari pemilihan warna yang diaplikasikan pada karya, dan juga pada beberapa karya menggunakan permukaan kulitnya sebagai simbol. Simbol-simbol tersebut di antaranya: warna hijau dan sisik yang menggambarkan amarah; warna merah dan api yang menggambarkan rasa gembira maupun rasa terkejut; warna kuning dan kulit yang menggambarkan rasa simpati dan cinta, dan juga sebagai simbol keseimbangan; warna putih dan bulu

sebagai simbol kesedihan; dan warna hitam dan cangkang sebagai simbol ketakutan.

Nilai-nilai simbolik lainnya terdapat pada sosok qilin itu sendiri yang merupakan simbolsimbol dari sifat-sifatnya yang mengetahui semua dan suka melakukan penilaian sesuai dengan pengetahuannya tersebut. Sifat ini digunakan untuk menggambarkan sifat keras kepala, sifat-sifat mereka yang “merasa benar sendiri”.

(Wicaksana, 2017:7)

Gambar 6.4 Ornamen Singa Batu Dokumentasi: Tessalonika, 2018

Makna yang terkandung pada patung singa ini dipercaya sebagai makluk penolak roh jahat yang akan masuk ke bangunan Vihara. Singa merupakan lambang keadilan dan kejujuran. Singa adalah hewan penjaga pintu Vihara, sebagai binatang dewa binatang jenis ini banyak diwujudkan dalam bentuk arca batu yang biasanya sepasang yaitu jantan dan betina. Singa mempunyai makna sebagai keadilan dan

kejujuran hati, makna ornmaen singa pada Vihara Buddha Loka di percaya masyarakat Tionghoa sebagai raja binatang karena kegagahan, keangkeran dan kekuatan singa dan sebagai lambang untuk mengusir kejahatan dan memberi perlindungan kepada masyarakat Tionghoa.

6.5 Makna Ornamen Burung Hong

Pada Vihara Buddha Loka terdapat ornamen Burung Hong terletak pada tiang Vihara menjadi lambang yang disukai, binatang mitologi ini terdapat juga di antara hiasan di bubungan atap Vihara.

Gambar 6.5 Ornamen burung Hong

Gambar 6.5 Ornamen burung Hong