• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode Privatisasi

POKOK-POKOK PROGRAM RESTRUKTURISASI DAN PRIVATISASI

3. Metode Privatisasi

Privatisasi dilakukan dengan menggunakan salah satu dari 3 metode di bawah ini yaitu:

a.Penjualan Saham berdasarkan Ketentuan Pasar Modal;

b.Penjualan Saham Langsung kepada Investor/Strategic Sale (SS)

c.Penjualan Saham kepada Manajemen dan/atau Karyawan (Employee and Management Buy Out /EMBO)

Masing-masing metode tersebut memiliki kriteria yang berbeda-beda. Kriteria bagi BUMN yang akan diprivatisasi dengan metode Penjualan Saham berdasarkan Ketentuan Pasar Modal adalah:

a.Berada dalam sektor yang kompetitif, mengalami pertumbuhan beberapa tahun terakhir dan memiliki trend pertumbuhan kedepan serta sahamnya diminati oleh investor;

b.Mampu membukukan keuntungan (profitable) dan memiliki prospek usaha yang baik di masa mendatang;

c.Memiliki produk/jasa unggulan;

d.Membutuhkan investasi modal yang besar untuk pengembangan usaha; e.Memiliki kompetensi baik teknis, manajemen dan jaringan pemasaran

yang memadai;

f.Memenuhi persyaratan peraturan Bapepam dan Bursa Efek (Pasar Modal). Sedangkan Penjualan Saham Langsung kepada Investor/ Strategic Sale (SS) dapat dilakukan terhadap BUMN-BUMN yang memenuhi kriteria di bawah ini:

a.Memerlukan bantuan dan keahlian, “know-how”, expertise dari mitra strategis, seperti operasi/teknis, inovasi/pengembangan produk, manajemen, pemasaran teknologi, dan kemampuan pendanaan;

b.Membutuhkan dana yang besar namun menghadapi keterbatasan dana dari Pemerintah (selaku shareholder) dan/atau kesulitan menarik dana dari pasar modal;

c.Mendorong lebih lanjut pengelolaan dan pengembangan sebagian aset/kegiatan operasionalnya yang dapat dipisahkan untuk dikerjasamakan dengan mitra strategis;

d.Mengurangi kepemilikan Negara menjadi minoritas sepanjang tidak bertentangan dengan regulasi;

e.Merupakan sektor yang bukan strategis bagi Pemerintah.

Adapun Employee and Management Buy Out (EMBO) digunakan untuk BUMN-BUMN yang masuk dalam kriteria:

a. Memiliki bidang usaha yang core business-nya jasa profesional (brainware), atau core business-nya bukan jasa profesional tetapi bidang usahanya sangat kompetitif dan memerlukan kompetensi tehnis khusus; b. Nilai aset relatif kecil dan hasil penjualan saham relatif tidak terlalu

besar;

c. Perusahaan harus menjaga kelangsungan (kesinambungan) program yang telah terjadwal sehingga diharapkan program privatisasi tidak akan

mengubah dinamika manajemen yang ada dan tidak mempengaruhi kegiatan usaha;

d. Nature of business–nya dianggap dapat dijalankan dan dimiliki oleh karyawan/manajemen;

e. Modal perusahaan tidak terlalu besar, sehingga karyawan dan manajemen mampu untuk berpartisipasi dalam kepemilikannya.

Sebagai strategi pokok maka secara umum, privatisasi diarahkan bukan semata-mata untuk pemenuhan APBN, tetapi lebih diutamakan untuk mendukung pengembangan perusahaan dengan metode utama melalui penawaran umum di pasar modal. Disamping juga untuk lebih mendorong penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance.

Oleh karena itu, privatisasi yang dilakukan tidak melalui metode penawaran umum lewat pasar modal akan dilakukan sangat selektif dan hati-hati. Metode ini terutama digunakan untuk BUMN-BUMN yang memerlukan pendanaan yang tidak dapat diperoleh/dipenuhi dari pasar modal dan/atau Pemerintah serta memerlukan peningkatan kompetensi tehnis, manajemen dan pemasaran.

4. Dampak Privatisasi

Dari hasil penelitian yang pernah kami lakukan terhadap BUMN yang telah diprivatisasi sejak tahun 1991-2005, secara umum kami temukan bahwa privatisasi di Indonesia memberikan dampak positif terhadap kinerja perusahaan:

a.Peningkatan yang cukup tajam terlihat pada profitability (dalam hal ini diwakili oleh Return on Sales meningkat dari 9.15% menjadi 24.66%) b.Output (penjualan real) meningkat dari 76.08% menjadi 142.56%

c.Operating Efficiency (yang diwakili tingkat efisiensi penjualan naik dari 517.33 menjadi 712.66 dan tingkat efisiensi laba meningkat dari 22.03 menjadi 163.61).

d.Leverage (yang diwakili DER membaik dari 413.44% menjadi 203.77%). Disamping itu, BUMN-BUMN yang telah diprivatisasi melalui metode IPO yang saat ini berjumlah 12 BUMN Tbk memberikan dampak signifikan terhadap perkembangan IHSG di bursa efek. Berdasarkan data per 5 Januari 2007 penguasaan kapitalisasi pasar dari 12 BUMN Tbk tersebut (dari 342 emiten) mencapai 36.02% atau senilai Rp.456.23 triliun. BUMN Tbk tersebut umumnya menunjukkan capaian kinerja yang lebih baik dibanding BUMN yang belum Tbk.

5. Program Tahunan Privatisasi Tahun 2007

Untuk program privatisasi tahun 2007, Menteri Negara BUMN telah mengajukan usulan Program Tahunan Privatisasi Tahun 2007 kepada Komite Privatisasi melalui Surat Nomor S-526/MBU/2006 tanggal 14 Nopember 2006 dan S-636/MBU/2006 tanggal 28 Desember 2006. Adapun BUMN yang diusulkan melalui surat tersebut adalah sebagai berikut:

a.12 BUMN Mayoritas (PT Jasa Marga, PT BNI, PT BTN, PT Wijaya Karya, PT Penanaman Nasional Madani, PT Garuda, PT Merpati, PT Krakatau Steel, PT Dirgantara Indonesia, PT Industri Soda Indonesia, PT IGLAS dan PT Cambrics Primissima);

b.5 BUMN Konsultan Kontruksi (PT Indah Karya, PT Indra Karya, PT Virama Karya, PT Yodya Karya dan PT Bina Karya);

c.7 Perusahaan Patungan Minoritas (PT JIHD, PT Kertas Padalarang, PT Atmindo, PT Intirub, PT PPLI, PT Kertas Blabak dan PT Kertas Basuki Rahmat.

Seluruh BUMN yang masuk program privatisasi perlu dibahas dalam Komite Privatisasi dan mendapatkan rekomendasi Menteri Keuangan untuk kemudian dikonsultasikan dan mendapatkan persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Untuk program tahunan 2007 BUMN-BUMN yang diprivatisasi melalui public offering/pasar modal umumnya adalah untuk kepentingan permodalan dan pengembangan perusahaan. Sedangkan BUMN-BUMN yang memerlukan dana cukup besar untuk restrukturisasi dan pengembangan usaha namun di sisi lain pemerintah memiliki keterbatasan dana dilakukan strategic sale akan tetapi Negara masih mempertahankan posisi mayoritas. Di luar itu sesuai kondisi dan posisi perusahaan bersangkutan yang tidak lagi strategis, dilakukan divestasi secara menyeluruh.

6. Rencana Privatisasi Jangka Pendek

Adapun BUMN yang direncanakan masuk dalam program privatisasi pada tahun 2008 adalah sebagai berikut:

Tabel 31 : Rencana Privatisasi 2008

Kompetitif SS/Divestasi 50 PT JIEP 10 Kompetitif SS/Divestasi 50 PT SIER 11

Kepemilikan Negara Minoritas Placement

18 PT Bank Bukopin

12

• Perseroan membutuhkan tambahan modal. • Akses ke teknologi dan pemasaran.

Strategic Sales/ Dilusi/ Divestasi 17**

PT Dirgantara Indonesia 13

Sektor kompetitif , Kepemilikan Negara minoritas (Akan ditinjau kembali) EMBO/Divestasi 4,97 PT Rekayasa Industri 14 Pengembangan Usaha SS 100 PT Koneba 9 Pengembangan perusahaan SS/Divestasi dan Dilusi 85,12 PT Surveyor Indonesia 15

• Sektor terbuka dan Kompetitif

• Untuk meningkatkan daya saing perusahaan (competitiveness), IPO/Dilusi/Divestasi 100 PT Krakatau Steel 7 Cut Loss SS 100 PT Rukindo 4

Butuh Dana Pengembangan Teknologi dan Pasar IPO/Dilusi/Divestasi* 100 PT Semen Baturaja 5 Pengembangan Usaha SS 100 PT Industri Sandang 6

Sektor kompetitif, perlu permodalan tinggi utk pengembangan (akan dikaji lebih mendalam) SS/Divestasi dan Dilusi 100 PT INTI 8 Kompetitif IPO/Dilusi 100 PT Asuransi Jiwasraya 2 Pengembangan Usaha SS 100 PT Sarana Karya 3 Kompetitif IPO/Dilusi 100 PT Asuransi Jasa Indonesia 1 Rencana Metode % Saham Negara

BUMN Dasar Pertimbangan

No Kompetitif SS/Divestasi 50 PT JIEP 10 Kompetitif SS/Divestasi 50 PT SIER 11

Kepemilikan Negara Minoritas Placement

18 PT Bank Bukopin

12

• Perseroan membutuhkan tambahan modal. • Akses ke teknologi dan pemasaran.

Strategic Sales/ Dilusi/ Divestasi 17**

PT Dirgantara Indonesia 13

Sektor kompetitif , Kepemilikan Negara minoritas (Akan ditinjau kembali) EMBO/Divestasi 4,97 PT Rekayasa Industri 14 Pengembangan Usaha SS 100 PT Koneba 9 Pengembangan perusahaan SS/Divestasi dan Dilusi 85,12 PT Surveyor Indonesia 15

• Sektor terbuka dan Kompetitif

• Untuk meningkatkan daya saing perusahaan (competitiveness), IPO/Dilusi/Divestasi 100 PT Krakatau Steel 7 Cut Loss SS 100 PT Rukindo 4

Butuh Dana Pengembangan Teknologi dan Pasar IPO/Dilusi/Divestasi* 100 PT Semen Baturaja 5 Pengembangan Usaha SS 100 PT Industri Sandang 6

Sektor kompetitif, perlu permodalan tinggi utk pengembangan (akan dikaji lebih mendalam) SS/Divestasi dan Dilusi 100 PT INTI 8 Kompetitif IPO/Dilusi 100 PT Asuransi Jiwasraya 2 Pengembangan Usaha SS 100 PT Sarana Karya 3 Kompetitif IPO/Dilusi 100 PT Asuransi Jasa Indonesia 1 Rencana Metode % Saham Negara

BUMN Dasar Pertimbangan

Dokumen terkait