• Tidak ada hasil yang ditemukan

POKOK-POKOK PROGRAM RESTRUKTURISASI DAN PRIVATISASI

RKAP BUMN

Setiap BUMN wajib menyusun RKAP dan RKAPUKK yang mana permohonan persetujuan atas RKAP dan RKAPUKK untuk PERSERO disampaikan oleh Direksi kepada RUPS selambat-lambatnya dalam waktu 60 hari sebelum memasuki tahun anggaran Perusahaan, sedangkan untuk PERUM disampaikan oleh Direksi kepada Menteri Keuangan melalui Menteri Teknis yang bersangkutan selambat-lambatnya dalam waktu 60 hari sebelum memasuki tahun anggaran Perusahaan

2. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 197/KMK.016/1998 Tentang RJP

BUMN

Rencana Jangka Panjang (RJP) adalah rencana strategis yang mencakup rumusan mengenai tujuan dan sasaran yang hendak dicapai oleh BUMN (Persero sebagaimana yang dimaksud dalam PP No 12 tahun 1998 dan PERUM sebagaimana yang dimaksud dalam PP No 13 tahun 1998), dalam jangka waktu 5 tahun.

3. Keputusan Menteri BUMN Nomor KEP-101/MBU/2002 Tentang

Penyusunan RKAP BUMN

- Dalam menyusun Rencana Kerja harus secara tegas dipisahkan antara Rencana Kerja untuk melaksanakan Penugasan Pemerintah dengan Rencana Kerja untuk pencapaian misi perusahaan.

- Anggaran Perusahaan merupakan penjabaran program kegiatan usaha dalam satuan uang berdasarkan penerimaan/pengeluaran secara tunai dari program kegiatan untuk melaksanakan penugasan pemerintah/pemegang saham dan kegiatan komersil.

4. Keputusan Menteri BUMN Nomor KEP-102/MBU/2002 Tentang

Penyusunan RJP BUMN

- RJP BUMN sekurang – kurangnya memuat Pendahuluan, evaluasi pelaksanaan RJP yang lalu, posisi perusahaan saat ini, asumsi – asumsi yang digunakan dan tujuan, sasaran, strategi pencapaiannya.

- Perumusan RJP dilakukan oleh seluruh jajaran perusahaan dan merupakan tanggung jawab manajemen.

V.Peraturan dan Ketentuan tentang Komite Audit BUMN

1. Keputusan Menteri BUMN Nomor KEP-103/MBU/2002 Tentang

Pembentukan Komite Audit bagi BUMN, yang diperbarui menjadi

Peraturan Menteri BUMN Nomor PER-05/MBU/2006 Tentang Komite

- Dalam membantu Komisaris/Dewan Pengawas, Komite Audit bertugas untuk menilai pelaksanaan kegiatan serta hasil audit yang dilakukan oleh SPI maupun auditor ekstern sehingga dapat dicegah pelaksanaan dan pelaporan yang tidak memenuhi standar.

- Ketua Komite Audit BUMN wajib menyampaikan kepada Komisaris/Dewan Pengawas mengenai Laporan berkala yang berisi pokok–pokok hasil kerjanya dan laporan khusus yang berisi temuan yang diperkirakan dapat mengganggu kegiatan perusahaan.

VI.Peraturan dan Ketentuan tentang Pelepasan Aktiva Tetap BUMN

1. Instruksi Menteri Negara BUMN Nomor 01-MBUMN/2002 Tentang

Pedoman Kebijakan Pelepasan Aktiva Tetap BUMN

- Pelaksanaan pelepasan aktiva tetap yang tidak bermanfaat lagi bagi perusahaan, dapat dilakukan dengan prosedur lelang melalui Kantor Lelang Negara.

- Harga penjualan ditetapkan berdasarkan harga pasar. Sedangkan harga dasar untuk lelang ditetapkan oleh Tim yang dibentuk oleh Direksi yang terdiri dari wakil perusahaan dengan mengikusertakan isntansi terkait dan Kantor Kementerian BUMN maksimum sebanyak 8 orang.

2. Instruksi Menteri BUMN Nomor 02/M.MBU/2002 Tentang Pedoman

Pelaksanaan Pemindahtanganan Aktiva Tetap Berupa Rumah Dinas BUMN

- Dalam pelaksanaan penjualan rumah dinas kepada penghuni agar berpedoman pada ketentuan pemindahtanganan aktiva tetap sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor 89/KMK.013/1991 tanggal 25 Januari 1991 tentang Pedoman Pemindahtanganan Aktiva Tetap BUMN.

- Harga penjualan aktiva tetap rumah dinas ditetapkan oleh Direksi dengan membentuk Panitia Penaksir Harga yang mengacu pada harga pasar.

VII.Peraturan dan Ketentuan tentang Privatisasi BUMN

1. Keputusan Presiden Nomor 122 tahun 2001 Tentang Tim Kebijakan

Privatisasi BUMN jo Keputusan Presiden Nomor 7 tahun 2002

Privatisasi BUMN merupakan kebijakan Pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja BUMN sehingga dirasa perlu dibentuk suatu Tim Kebijakan Privatisasi BUMN yang bertugas untuk merumuskan dan menetapkan langkah – langkah untuk Privatisasi BUMN.

2. Keputusan Menteri Negara BUMN Nomor KEP-35/M.BUMN/2001

Tentang Prosedur Privatisasi BUMN

- Privatisasi merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk lebih memperbaiki struktur permodalan, memperluas partisipasi masyarakat

dalam kepemilikan saham BUMN, meningkatkan profesionalisme dan efisiensi usaha serta untuk meningkatkan penerimaan Negara.

- Sesuai dengan tugas dan fungsinya, Menteri BUMN bertanggung jawab atas privatisasi BUMN.

3. Peraturan Pemerintah Nomor 33 tahun 2005 tanggal 5 September

2005 Tentang Tata Cara Privatisasi

Dalam rangka lebih mengoptimalkan peranannya dan untuk mampu mempertahankan keberadaannya dalam perkembangan ekonomi dunia yang semakin terbuka dan kompetitif, maka BUMN perlu melakukan peningkatan efisiensi dan produktifitas melalalui langkah restrukturisasi dan privatisasi. Sehubungan dengan hal tersebut, PP ini dibuat untuk dapat lebih memberikan pedoman bagi pelaksanaan program Privatisasi Persero. Pemerintah dapat melakukan Privatisasi terhadap Perseroan setelah mendapat persetujuan dari DPR RI dan dilakukan berdasarkan prinsip – prinsip transparansi, kemandirian, akuntabilitas, pertanggungjawaban, kewajaran dan prinsip harga terbaik dengan memperhatikan situasi pasar.

4. Keputusan Presiden Nomor 18 tahun 2006 Tentang Komite Privatisasi

Perusahaan Perseroan (Persero)

- Komite Privatisasi bertugas untuk : merumuskan dan menetapkan kebijakan umum dan persyaratan pelaksanaan privatisasi, menetapkan langkah – langkah yang diperlukan untuk memperlancar proses privatisasi, membahas dan memberikan jalan keluar atas permasalahan startegis yang timbul dalam proses privatisasi termasuk yang berhubungan dengan kebijakan sektoral Pemerintah.

- Segala biaya yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas Komite Privatisasi dibebankan kepada APBN pada Kementerian Negara BUMN.

VIII. Peraturan dan Ketentuan tentang Sinergi BUMN

1. Instruksi Menteri BUMN Nomor 109/MBU/2002 Tentang Sinergi Antar

BUMN

Berhubung BUMN melakukan kegiatan usaha pada hampir semua sektor bisnis, maka pengembangan sinergi antar BUMN kiranya merupakan salah satu langkah strategis dalam upaya peningkatan nilai tambah BUMN.

IX. Peraturan dan Ketentuan tentang Kemitraan dengan Usaha Kecil dan

Bina Lingkungan

1. Keputusan Menteri BUMN Nomor KEP-236/MBU/2003 Tentang

Program Kemitraan BUMN dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan

Program Kemitraan BUMN dengan Usaha Kecil adalah merupakan program untuk meningkatkan kemampuan usaha kecil agar menjadi tangguh dan mandiri melalui pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN.

2. Keputusan Menteri BUMN Nomor 576/MBU/2002 Tentang Tindak

lanjut Keppres No. 56 th. 2002 tentang Restrukturisasi hutang usaha kecil dan menengah

X.Peraturan dan Ketentuan tentang Penilaian Calon Anggota Direksi BUMN

1. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 146/KMK.05/2001 tanggal 27

Maret 2001 Tentang Penilaian Calon Anggota Direksi BUMN

Peraturan yang bertujuan untuk memperoleh anggota – anggota Direksi BUMN yang sehat dan berdaya guna optimal dalam memberikan kontribusi bagi pendapatan Negara, diperlukan adanya anggota Direksi yang profesional, berintegritas dan berdedikasi tinggi dalam mengelola BUMN.

2. Keputusan Menteri BUMN Nomor KEP-104/MBU/2002 Tentang

Penilaian Calon Direksi BUMN

- Seiring dengan dialihkannya kedudukan, tugas dan kewenangan Menteri Keuangan pada Persero, Perum dan Perjan kepada Menteri BUMN, dipandang perlu untuk meninjau kembali Keputusan Menteri Keuangan Nomor 146/KMK.05/2001 Tentang Penilaian Calon Anggota Direksi BUMN.

- Untuk menilai persyaratan calon anggota Direksi BUMN, dibentuk tim penilai calon anggota Direksi BUMN yang keanggotaannya terdiri dari Sekretaris Kementerian BUMN selaku Ketua merangkap anggota, Deputi Menteri BUMN yang membidangi pembinaan BUMN yang bersangkutan selaku Wakil Ketua merangkap anggota, Asisten Deputi yang membidangi pembinaan BUMN yang bersangkutan selaku Sekretaris I dan Kepala Biro Hukum Kementerian BUMN selaku Sekretaris II.

- Sebelum ditetapkan sebagai anggota Direksi, calon anggota Direksi yang telah disetujui oleh Menteri BUMN diwajibkan menandatangani surat pernyataan/kontrak manajemen untuk melaksanakan dan menegakkan prinsip – prinsip GCG dalam pengelolaan BUMN.

3. Keputusan Menteri BUMN Nomor KEP-09A/MBU/2005 Tentang

Penilaian Kelayakan dan Kepatutan (fit and proper test) Calon Anggota Direksi Badan Usaha Milik Negara

Penilaian kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) adalah tes pengujian dalam rangka memilih calon terbaik untuk menduduki salah satu jabatan dalam jajaran Direksi BUMN, dengan cara pengujian tertentu dan dengan menggunakan tolok ukur yang jelas serta system pengujian yang baku, transparan,dan profesional yang dilakukan oleh lembaga profesional dan dievaluasi oleh tim yang dibentuk oleh Menteri BUMN.

4. Instruksi Presiden Nomor 8 tahun 2005 tanggal 3 Mei 2005 Tentang

Pengangkatan Anggota Direksi dan/atau Komisaris/Dewan Pengawas BUMN

Menteri BUMN mengangkat anggota Direksi dan/atau Komisaris/Dewan Pengawas BUMN atau mengusulkan anggota Direksi dan/atau Komisaris dalam RUPS pada Persero, sesuai hasil penilaian Penilai Akhir yang terdiri dari Presiden, Wakil Presiden, Menteri Negara PAN, Menteri Negara BUMN, Sekretaris Kabinet, Kepala BIN dan Menteri Teknis BUMN ybs.

5. Instruksi Presiden Nomor 9 tahun 2005 tanggal 19 Mei 2005 Tentang

Perubahan atas Instruksi Presiden Nomor 8 tahun 2005 Tentang Pengangkatan Anggota Direksi dan/atau Komisaris/Dewan Pengawas BUMN

- Pelaksanaan fit and proper test yang diselenggarakan dalam rangka pengangkatan anggota Direksi BUMN, agar dilakukan secara transparan dan akuntabel dengan memperhatikan pertimbangan dari Menteri Teknis yang lingkup tugasnya membidangi kegiatan usaha dari BUMN yang bersangkutan serta ketentuan perundang – undangan yang berlaku. - Menteri Negara BUMN melaporkan dan menyampaikan hasil

penjaringan calon anggota Direksi dan/atau Komisaris/Dewan Pengawas BUMN kepada Penilai Akhir yang terdiri dari Presiden (sebagai Ketua), Wakil Presiden (sebagai Wakil Ketua), Menteri Keuangan, Menteri Negara BUMN dan Sekretaris Kabinet (sebagai Sekretaris), guna mendapat penilaian.

XI. Peraturan dan Ketentuan tentang Penerapan GCG

1. Keputusan Menteri BUMN Nomor 117/MBU/2002 Tentang Penerapan

Praktek Good Corporate Governance Pada BUMN

Pokok-pokok yang diatur dalam keputusan Menteri Negara BUMN tersebut sebagai berikut:

a. BUMN wajib menerapkan GCG secara konsisten dan atau menjadikan GCG sebagai landasan operasionalnya. Pelaksanaan GCG tetap memperhatikan norma yang berlaku dan anggaran dasar perusahaan. b. Prinsip-prinsip GCG yang dimaksud dalam keputusan meliputi :

 Transparansi, yaitu keterbukaan dalam melaksanakan proses pengambilan keputusan dan keterbukaan dalam mengemukakan informasi materiil dan relevan mengenai perusahaan.

 Kemandirian, yaitu suatu keadaan di mana perusahaan dikelola secara profesional tanpa benturan kepentingan dan pengaruh/tekanan dari pihak manapun yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat.

 Akuntabilitas, yaitu kejelasan fungsi, pelaksanaan dan pertanggungjawaban Organ sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana secara efektif.

 Pertanggungjawaban, yaitu kesesuaian di dalam pengelolaan perusahaan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat.

 Kewajaran (Fairness), yaitu keadilan dan kesetaraan di dalam memenuhi hak-hak stakeholder yang timbul berdasarkan perjanjian dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Dokumen terkait