• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

5.2. Analisis Efisiensi Pemasaran Kopi

5.2.1. Metode Shepherd

Pada metode ini efisiensi pemasaran diketahui dari perbandingan antara harga konsumen dengan biaya pemasaran dan dikurangi satu. Saluran pemasaran dengannilai efisiensi tertinggi merupakan saluran pemasaran yang paling efisien dan sebaliknya.

Tabel 5.4 Efisiensi Saluran Pemasaran dengan Metode Shepherd

No Uraian Saluran I Saluran II

1. Harga Konsumen (Rp) 70.000 70.000

2. Biaya Pemasaran (Rp) 15.260 16.160

Efisiensi 3,58 3,33

Sumber: data primer (diolah)

Berdasarkan Tabel 5.4 dapat diketahui bahwa nilai efisiensi tertinggi diperoleh pada saluran I yaitu 3,58 ini berarti bahwa saluran I merupakan saluran yang paling efisien. Nilai efisiensi saluran II sebesar 3,33. Hal ini disebabkan karena biaya pemasaran pada saluran I lebih kecil daripada biaya pemasaran saluran II.

Biaya pemasaran saluran I yaitu Rp15.260,-/kg sedangkan biaya pemasaran saluran II sebesar Rp16.160,-/kg. Sementara harga kopi di konsumen pada saluran

5.2.2 Metode Acharya dan Aggarwal

Pada metode Acharya dan Aggarwal nilai efisiensi diperoleh dari perbandingan antara harga yang diterima produsen terhadap biaya pemasaran ditambah dengan marjin pemasaran setiap lembaga pemasaran. Saluran dengan nilai efisiensi tertinggi merupakan saluran pemasaran yang paling efisien.

Tabel 5.5 Efisiensi Saluran Pemasaran dengan Metode Acharya dan Aggarwal

No Uraian Saluran I Saluran II

1. Harga Produsen (Rp) 27.000 26.000

2. Biaya Pemasaran (Rp) 15.260 16.160

3. Marjin Pemasaran (Rp) 43.000 44.000

Efisiensi 0,46 0,43

Sumber: data primer (diolah)

Berdasarkan Tabel 5.5 dapat diketahui bahwa dalam metode ini nilai efisiensi saluran I lebih tinggi daripada nilai efisiensi pada saluran II. Artinya bahwa saluran I merupakan saluran yang paling efisiesn dibandingan dengan saluran II.

Hal ini disebabkan karena pada saluran I, petani yang menjual langsung kepada pedagang pengumpul besar, sehingga harga yang diterima petani pada saluran ini lebih besar dibandingkan dengan harga kopi yang diterima produsen pada saluran II. Sehingga marjin pemasaran pada saluran I lebih kecil daripada saluran II.

Marjin pemasaran saluran I yaitu Rp43.000,-/kg dan saluran II yaitu Rp44.000,-/kg.

5.2.3 Metode Composite Index

Pada metode Composite Index dapat dilihat dari tiga indikator, yaitu share produsen, biaya pemasaran dan marjin pemasaran lembaga pemasaran.

Tabel 5.6 Indikator dalam Composite Index Method

No Uraian Saluran I Saluran II

1. Share Produsen 29,07 27,70

2. Biaya Pemasaran (Rp) 15.260 16.160

3. Marjin Keuntungan (Rp) 48.340 47.340

Sumber: data primer (diolah)

Setelah dikelompokan berdasarkan indikator, maka setiap saluran akan diberi skor 1-2 kemudian skor tersebut ditotalkan dan dibagi dengan jumlah indikator yang digunakan. Nilai share produsen dan marjin keuntungan akan diberi skor 1-2 mulai dari yang paling tinggi sampai yang terendah. Sedangkan untuk indikator biaya pemasaran diberi skor 1-2 dari nilai terendah sampai tertinggi. Saluran dengan nilai index yang paling rendah merupakan saluran yang paling efisien.

Tabel 5.7 Efisiensi Saluran Pemasaran dengan Composite Index Methode

No Saluran Composite

Index Rj/Nj

Final Ranking I1 I2 I3

1. Saluran I 1 1 1 1 1

2. Saluran II 2 2 2 2 2

Sumber: data primer (diolah)

Berdasarkan Composite Index Methode dapat dilihat bahwa nilai index yang paling rendah adalah saluran I. Hal ini berarti bahwa saluran I merupakan saluran yang lebih efisien dibandingkan dengan saluran II. Pada saluran I terlihat bahwa share produsen sebesar 29,07% dan pada sluran II sebesar 27,70%. Hal ini menunjukkan bahwa persentase harga yang diterima produsen pada saluran I lebih besar daripada saluran II.

5.2.4 Marketing Efficiency Index Method

Pada metode Marketing Efficiency Index Method efisiensi diperoleh dari penambahan satu dengan perbandingan antara marjin pemasaran dengan biaya pemasaran. Nilai efisiensi yang tinggi menunjukkan saluran pemasaran yang efisien.

Tabel 5.8 Efisiensi Saluran Pemasaran dengan Marketing Efficiency Index Method

Berdasarkan Tabel 5.8 dapat diketahui bahwa nilai efisiensi saluran I sebesar 3,81 dan nilai efisiensi saluran II sebesar 3,72. Hal ini menunjukkan bahwa nilai efesiensi saluran I lebih besar daripada saluran II. Maka menurut metode Marketing Efficiency Index Method saluran I merupakan saluran yang paling efisien.

Tingkat Efisiensi Berdasarkan Masing-Masing Metode Efisiensi

Dari penelitian ini diperoleh hasil bahwa dari berbagai indikator efisiensi dengan menggunakan empat metode analisis efisiensi menyatakan bahwa saluran I lebih efisien dan kemudian saluran II.

Dengan demikian hipotesis 1 yang menyatakan bahwa pemasaran kopi sudah efisien berdasarkan berbagai indikator efisiensi pemasaran dapat diterima.

5.3 Analisis Nilai Tambah Pengolahan Kopi

Nilai tambah diperoleh dari proses pengolahan kopi Hs (Hard skin) menjadi kopi Ose (Green Coffee), berikut uraian yang dilakukan dalam pengolahan kopi.

5.3.1 Proses Pengolahan Pasca Panen Kopi

Setelah panen kopi dilakukan proses pengolahan pasca panen kopi. Proses pengolahan pasca panen meliputi sortasi buah, pengupasan kulit buah, fermentasi biji kopi, pengeringan biji kopi, pengupasan kulit tanduk, sortasi biji kopi akhir.

a. Sortasi gelondong

Sortasi dilakukan dengan memisahkan buah dari kotoran, buah berpenyakit dan buah cacat serta memisahkan buah berwarna merah dengan buah yang berwarna kuning dan hijau. Selain itu pemisahan juga dilakukan pada buah yang mulus. Hal ini bertujuan untuk membedakan kualitas biji kopi yang dihasilkan. Caranya, kopi merah yang dipanen dimasukkan kedalam bak sortasi kemudian diisi air hingga bak hamper penuh, kemudian diaduk. Stelah diaduk, gelondong yang kualitas buruk akan mengapung sedangkan yang baik akan tetap terendam.

b. Pengupasan kulit buah

Pengupasan kulit buah dilakukan dengan memecahkan kulit kopi untuk menghasilkan kopi biji yang masih memiliki kulit tanduk. Pengupasan kulit kopi dilakukan dengan bantuan mesin pengupas yang disebut pulper. Selama proses pengupasan, alirkan air secara terus menerus kedalam mesin pengupas. Fungsi pengaliran air untuk melunakkan jaringan kulit buah agar mudah terlepas dari

bijinya. Hasil dari proses pengupasan kulit buah adalah biji yang masih memiliki kulit tanduk, atau disebut juga biji kopi HS.

c. Fermentasi biji kopi HS

Dilakukan fermentasi terhadap biji yang telah dikupas. Dengan cara yaitu merendam biji dalam air bersih, lamanya perendaman dilakukan semalaman yaitu sekitar 12 jam. Proses fermentasi juga bisa diamati dari lapisan lendir yang menyelimuti biji. Apabila lapisan sudah hilang, proses fermentasi bisa dikatakan selesai. Setelah difermentasi cuci kembali biji dengan air. Bersihkan sisa-sisa lendir dan kulit buah yang masih menempel pada biji.

d. Pengeringan biji kopi HS

Kopi yang sudah dicuci mengandung air antara 53-55%, langkah selanjutnya biji kopi hasil fermentasi dikeringkan dengan cara dijemur dibawah sinar matahari, caranya biji kopi dihamparkan dilantai dengan ketebalan 1,5cm atau kira kira 2 lapisan. Setiap 1-2 jam hamparan koi dibolak balik dengan alat yang menyerupai garu terbuat dari bambuatau kayusehingga keringnya merata. Penjemuran ini dilakukan harus benar benar kering. Bila matahari terik penjemuran bisa berlangsung selama 3 hari. Kemudian untuk mencapai kadar air 12% dilakukan pengeringan buatan menggunakan alatpengering. Kadar air tersebut merupakan kadar air kesetimbangan agar biji kopi yang dihasilkan stabil tidak mudah berubah rasa dan tahan serangan jamur.

d. Pengupasan kulit tanduk kopi (Ose)

Setelah biji kopi HS dijemur dan mencapai kadar air 12% akan dilakukan pengupasan kulit tanduk dengan menggunakan bantuan mesin pengupas (huller)

untuk mengurangi resiko kerusakan biji kopi. Hasil pengupasan pada tahap ini disebut biji kopi beras (green bean).

f. Sortasi akhir biji kopi

Setelah dihasilkan biji kopi beras, lakukan sortasi akhir. Tujuannya untuk memisahkan kotoran dan biji pecah. Selanjutnya, biji kopi dikemas dan disimpan sebelum didistribusikan.

5.9 Hasil Analisis Nilai Tambah Metode Hayami Kopi Hs menjadi Kopi Ose No Variable (Output, Input, Harga) Kopi Ose Formula

1. Hasil/ produksi (kg/tahun) 750 A 12. a. Imbalan tenaga kerja (Rp/kg)

(5x7)

Tenaga kerja (HOK) sebasar 12 didapat dari hasil perhitungan berdasarkan informasi yang didapat peneliti yaitu dalam pengolahan biji kopi Ose ini

harinya. Dimana rumus HOK = Jam harian kerja x banyaknya tenaga kerja x hari kerja dibagi jam kerja yang dilakukan. Sehingga didapat hasil tenaga kerja (HOK) sebesar 12. Upah rata rata didapat dari perhitungan, dimana upah yang diberikan Rp100.000/hari/Orang. Sehingga upah rata rata sebesar Rp75.000/HOK

Berdasarkan tabel 5.9 menunjukkan perhitungan nilai tambah dari berbagai elemen menunjukan bahwa proses produksi pengolahan kopi Hs menjadi kopi Ose, telah menghasilkan nilai tambah sebesar Rp. 8.000/kg dengan rasio nilai tambah sebesar 22,85 % dari nilai produk.

Menurut kriteria pengujian Hubeis (1997), rasio nilai tambah dikatakan rendah apabila memiliki persentase dibawah <15% ; sedang apabila memiliki persentase antara 15%-40% ; dan tinggi apabila memiliki persentase diatas >40%.

Berdasarkan kriteria tersebut, maka dapat diperoleh hasil bahwa nilai tambah pada kopi arabika di Kecamatan parbuluan tergolong pada rasio nilai tambah sedang.

Hal ini dikarenakan rasio nilai tambah proses pengolahan kopi Ose memiliki persentase diatas 15%.

Dari penelitian diperoleh hasil bahwa nilai tambah yang diperoleh dari pengolahan kopi Hs (Hard Skin) menjadi kopi Ose (Green Coffee) dengan rasio nilai tambah >15%, artinya bahwa nilai tambah tergolong pada rasio nilai tambah sedang.

Dengan demikian hipotesis 2 yang menyatakan bahwa nilai tambah yang diperoleh dari usaha pengolahan kopi adalah >50 % atau nilai tambah dinyatakan tinggi ditolak.

5.4 Analisis Penerimaan Petani Kopi

Berdasarkan penelitian yang dilakukan tanaman kopi bukan merupakan tanaman fokus yang diusahakan petani di daerah penelitian, karena tidak sepenuhnya diperhatikan petani. Petani lebih terfokus pada tanaman lain yang berada bersamaan pada lahan kopi, artinya lahan yang dimiliki dibuat dengan pola tumpang sari contohnya dengan tanaman cabai.

Ketika dilakukan penelitian biaya biaya yang dikeluarkan oleh petani di Kecamatan Parbuluan, para petani cenderung tidak mengeluarkan biaya, disamping karena tanaman kopi sudah sejak lama tumbuh di lahan mereka sehingga biaya penanaman tidak lagi di ketahui, demikian juga dengan perawatan tanaman kopi, sebagian besar petani yang menjadi sampel penelitian menyatakan tidak melakukan perawatan untuk tanaman kopi dengan alasan bahwa perawatan yang dilakukan hanya untuk tanaman lain yang berada di lahan kopi tersebut, sehingga asumsi petani bahwa tanaman kopi tersebut mendapatkan nutrisi dari perawatan yang diberikan melalui tanaman lain tersebut.

Penerimaan adalah hasil perkalian antara produksi kopi petani dengan harga jual yang dinyatakan dalam rupiah. Harga jual produksi kopi di daerah penelitian sering mengalami fluktuasi pada waktu-waktu tertentu. Di daerah penelitian terdapat perbedaan harga kopi yang diterima oleh petani, hal ini disebabkan perbedaan tempat ditujukan pemasarana oleh petani itu sendiri. Berdasarkan informasi dari petani kopi di daerah penelitian harga Kopi Arabika berkisar Rp 24.000/kg - Rp30.000/ kg.

Tabel 5.10. Penerimaan Petani Kopi Per Tahun 1020,25 26,989.58 27,536,119 45,372,126.65 2,062,369.39 Sumber: data primer (diolah)

Dalam satu tahun petani kopi malakukan panen raya sebanyak 2 kali sementara untuk panen biasa dilakukan 1 kali dua minggu dengan total panen sebanyak 22kali panen. Diketahui rata-rata produksi kopi dalam setahun 1020,25kg/Tahun.

Rata-rata pohon sebanyak 934/Ha. Dengan demikian dapat dihitung produksi per pohon pada setiap kali pemanenan berdasarkan rata-rata penerimaan per sekali panen dibagi dengan rata rata banyaknya pohon kopi dan rata-rata harga kopi yaitu 0,08 kg kopi.

Berdasarkan tabel 5.10 Rata-rata penerimaaan petani kopi per Ha sebesar Rp45,372,126.65/Tahun. Sehingga dalam sekali panen rata rata penerimaan petani

sebesar Rp2,062,369.39/Ha.

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Dari seluruh analisis yang dilakukan terhadap hasil penenelitian pemasaran dan nilai tambah kopi (Arabica L) Perkebunan Rakyat di Kecamatan Parbuluan, dapat disimpulkan Bahwa:

1. Terdapat dua saluran pemasaran kopi di Kecamatan Parbuluan yaitu: Saluran I (Petani – Pedagang Pengumpul Besar – Eksportir) dan Saluran II (Petani – Pedagang Pengumpul Kecil – Pedagang Pengumpul Besar – Eksportir)

2. Nilai marjin pemasaran pada saluran I sebesar Rp 43.000,-/kg dan nilai marjin pemasaran pada saluaran II sebesar Rp 44.000,-/kg. Dari empat metode perhitungan efisiensi pemasaran diketahui bahwa saluran pemasaran kopi di Kecamatan Parbuluan yang paling efisien adalah saluran I dan kemudian saluran II.

3. Perhitungan nilai tambah dari berbagai elemen menunjukan bahwa proses produksi pengolahan kopi Hs menjadi kopi Ose, telah menghasilkan nilai tambah sebesar Rp. 8.000/kg dengan rasio nilai tambah sebesar 22,85 % dari nilai produk, menunjukkan bahwa nilai tambah pada kopi arabika di Kecamatan parbuluan tergolong pada rasio nilai tambah sedang.

4. Rata rata produksi kopi di Kecamatan Perbuluan sebesar 1020,25 kg/Tahun, dengan rata rata harga kopi sebesar Rp26.989.58, Rata – rata penerimaan petani kopi sebesar Rp45,372,126.65/Tahun. Sehingga dalam sekali panen rata rata penerimaan petani sebesar Rp2,062,369.39/Ha.

Saran

1. Kepada Petani Kopi

- Petani kopi di Kecamatan parbuluan sebaiknya melakukan perawatan pada tanaman kopi untuk meningkatkan produksi tanaman kopi di daerah penelitian.

- Petani kopi arabika di Kecamatan parbuluan perlu melakukan diferensiasi produk, misalnya dari kopi gelondong menjadi kopi Hs atau kopi Ose sehingga memberikan nilai tambah pada produk yang dihasilkan.

2. Kepada Pemerintah

Lebih digalakkannya lagi konsep fair trade, sehingga saluran tataniaga menjadi lebih pendek yang bertujuan untuk meningkatkan share harga yang diterima petani

3. Kepada Peneliti Selanjutnya

Kepada peneliti selanjutnya disarankan untuk meneliti mengenai perbandingan produksi kopi yang dihasilkan petani yang melakukan perawatan yang intensif dengan petani yang tidak melakukan perawatan yang intensif.

DAFTAR PUSTAKA

Anonimous, 2011. http://susiloteguh.wordpress.com/2010/05/18/budidaya.

Dahl, D.C and Hammond J.W. 2001. Market and Price Analysis. The Agricltural Industries. McGraw-Hill Book Company, Inc. New York

Direktorat Jenderal Perkebunan. 2013. Produksi Kopi Menurut Provinsi di Indonesia Tahun 2008-2012. http: deptan.go.id/infoeksekutif/bun/

BUN_asem2012/produksi_kopi.

James J. Spillane. 1990. Komoditi Kopi. Kanisius:Yogyakarta.

Gultom H.L.T. 1996. Tataniaga Pertanian. Diktat FP USU, Medan

Hasyim, A.I. 2012. Pengantar Tataniaga Pertanian.: Buku Kuliah Fakultas Pertanian Universitas Lampung: Bandar Lampung.

https://panduanbertanam.blogspot.co.id/2016/04/bisnis-kebun-kopi.html

Kohls, R.L dan Uhl J.N. 2001. Marketing of Agriculture Products. Ninth Esition.

McMilan Publishing Company. New York

Kotler , P. 1997. Manajemen Pemasaran Analisis, Perencanaan, Implementasi Dan Kontrol. PT Prenhallindo: Jakarta.

Limbong, W. H & P. Sitorus. 2006. Pengantar Ekonomi Pertanian. Penebar Swadaya, Jakarta

Mubyarto. 2003. Pengantar Ekonomi Pertanian. LP3ES: Jakarta.

Mursid. M. 1993. Manajemen Pemasaran. Bumi Aksara: Jakarta.

Nasruddin, W. 1996. Tataniaga Pertanian. Universitas Terbuka: Jakarta

Pradika, Angginesa. 2013. Analisis Efisiensi Pemasaran Ubi Jalar Di Kabupaten Lampung Selatan. Skripsi. Universitas Lampung: Lampung.

Rahim, Abd. Hastuti, Diah Retno. 2007. Pengantar Teori dan Kasus Ekonomika Pertanian. Penebar Swadaya: Jakarta.

Restiana. 2010. Pola Distribusi Dan Efisiensi Pemasaran Jagung Di Kabupaten Lampung Selatan. Skripsi. Universitas Lampung: Lampung

Rahim, Abd. Hastuti, Diah Retno. 2007. Pengantar Teori dan Kasus Ekonomika Pertanian. Penebar Swadaya: Jakarta.

Redaksi Agromedia. 2012. Peluang Investasi Kayu, Tanaman Perkebunan, dan Tanaman Buah. PT Agromedia Pustaka: Jakarta Selatan

Rukmana, H Rahmat. 2014. Untung Selangit dari Agribisnis Kopi. Lily

Saefuddin, A.M. 1983. Pengkajian Pemasaran Komoditi. IPB. Bogor.

Soekartawi. 1993. Manajemen Pemasaran Dalam Bisnis Modern. Pustaka Harapan: Jakarta.

Soekartawi, 2002. Prinsip Manajemen Pemasaran Hasil-Hasil Pertanian. Teori

& Aplikasinya, Edisi Revisi. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta

Sujiwo, Joko Tri. 2009. Efisiensi Pemasaran Kopi (Coffea Sp) Di Kecamatan Singorojo Kabupaten Kendal Semarang. Jurnal. Universitas Wahid Hasyim: Semarang.

Sukirno, Sadono. 2002. Pengantar Teori Mikroekonomi. PT. Raja Grafindo Persada: Jakarta.

Thamizhselvan, K dan S. Paul Murugan. 2012. Marketing Of Grapes in Theni District. Volume 2, Issue 9. International Journal of Marketing and Technology

Turnip, C. E. 2002. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penawaran Ekspor dan Aliran Perdagangan Kopi Indonesia. Skripsi Fakultas Pertanian. IPB. Bogor.

Utje, Usman Slamet. 2005. Nilai Tambah dan Balas Jasa Faktor Produksi Pengolahan Hasil Hasil Pertanian. Bulletin Pendidikan No.08. Universitas Mercu Buana, Jakarta.

Dokumen terkait