• Tidak ada hasil yang ditemukan

LANDASAN TEORI

E. Pendidikan dan Latihan Dalam Perspektif Syariah

2. Metode Ta’lim

Menurut Abudin Nata lafal at-Ta‟lim berasal dari kata „allama yang mengandung kata mengajar. Abdul Fatah Jalal berpendapat bahwa, istilah at-Ta‟lim berhubungan dengan pemberian bekal pengetahuan yang dalam Islam pengetahuan dinilai sesuatu yang memiliki kedudukan yang tinggi”.211

Kata ta‟lim dengan kata kerjanya ‟allama juga sudah digunakan pada zaman Nabi. Baik dalam Alqur‟ān, Ḥadīṡ atau pemakaian sehari-hari, kata ini lebih banyak digunakan dari pada kata tarbiyah. Dari segi bahasa, perbedaan arti dari kedua kata itu cukup jelas. Seperti digambarkan dalam Alqur‟ān berikut ini : 1) QS. Al-Baqarah [2] ayat 31 :

208Departemen Agama RI, Alqur‟ā n dan Terjemahnya…, h. 642.

209

Jaribah bin Aḥmad al-Haritsi, Fikih Ekonomi Umar bin al-Khathab, (Jakarta : Khalifa, 2012), h. 436.

210Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta : RajaGrafindo Persada, 2013), h.

42-46. 211

َ َداَء َهلَؿَو

ب

َ ل

َ سم

ٓا

هُكَ َء

مُِ َضَرَؾ ه ُث اَِ

َلىَؿ

ب م

ٓ َوَم

مهَب َلاَقَف ِةَكِئ

ِبُ

َ سمَأِب ِنِو

ٓا

ٓ َُ ِء

َٓلُؤ

ُتميُل نا ِءّ

َص

َينِقِد

Artinya : dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!".212

2) QS an-Naml [27] ayat 16 :                    

Artinya : “dan Sulaiman telah mewarisi Daud dan Dia berkata: "Hai manusia, Kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan Kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu kurnia yang nyata".213

Kata „allama pada kedua ayat tadi mengandung pengertian sekedar memberitahu atau memberi pengetahuan, tidak mengandung arti pembinaan kepribadian, karena sedikit sekali kemungkinan membina kepribadian Nabi Sulaiman melalui burung, atau membina kepribadian Adam melalui nama-nama benda. Lain halnya dengan pengertian rabba, addaba dan sebagainya yang jelas mengandung kata pembinaan, pimpinan, pemeliharaan dan sebagainya.

Pemaknaan pendidikan lebih jauh juga diterminologikan sebagai usaha untuk menginternalisasikan nama-nama keagungan Tuhan. Intensitas pengajaran Tuhan kepada Adam yang menyebabkan harus dipatuhi dan dimuliakan adalah karena telah memiliki tiga macam kecerdasan intelektual, yakni (1) kecerdasan intelektual, (2) kecerdasan emosional dan (3) kecerdasan spiritual.

Melalui kecerdasan intelektual Adam as. mampu membaca, memahami, memanfaatkan, menguasai, mengatur, memakmurkan dan melestarikan alam semesta dalam perannya sebagai Khalifa fi al-„Ard. Dengan kecerdasan emosional Adam as. memiliki sikap empati, kasih sayang dan menghargai ketentuan Allah

212Departemen Agama RI, Alqur‟ān dan Terjemahannya..., h. 14.

213

SWT. Sementara dengan kecerdasan spiritual, Adam as. mampu patuh, taat dan berusaha memperhambakan diri kepada Allah SWT.214

Implikasinya ialah dengan mengajarkan kepada karyawan perihal etos kerja, sosialisasi nilai-nilai, teori-teori, kiat-kiat sukses, kiat kerja produktif, aturan, atau tata tertib, visi, misi perusahaan serta tugas/kewajiban karyawan. Hal ini dilakukan untuk mengingatkan kembali motivasi kerja yang sebenarnya. Semakin tinggi motivasi karyawan maka akan semakin cepat dan sungguh-sungguh ia akan mempelajari suatu ketrampilan atau pengetahuan baru.

a. Etos Kerja

Menurut Nafis Irkhami etos kerja bagi seorang muslim merupakan bagian penting dari keberhasilan manusia, baik dalam komunitas kerja yang terbatas, maupun dalam lingkungan sosial yang lebih luas. Keberhasilan ini bukan hanya dikarenakan adanya pengetahuan dan kemampuan menggunakan nalar, tetapi juga kemampuan mengarahkan pengetahuan dan aktivitas penalaran menuju pada kebaikan, baik kebaikan individu maupun kelompok.215

Dengan demikian etos kerja Islam adalah akhlak dalam bekerja sesuai dengan nilai-nilai Islam sehingga dalam melaksanakannya tidak perlu lagi dipikir-pikir karena jiwanya sudah meyakini sebagai sesuatu yang baik dan benar. Dari perkataan ”etos” terambil pula perkataan ”etika” dan ”etis” yang merujuk kepada makna akhlak atau bersifat akhlaqi yaitu kualitas esensial seseorang atau suatu kelompok termasuk suatu bangsa.216

Dalam pandangan Islam pendidikan dan pelatihan dapat meningkatkan etos kerja. Tenaga kerja yang terlatih dan berpendidikan mampu bekerja lebih teliti daripada yang tidak memiliki ketrampilan dan pendidikan. Hal ini tertuang dalam keumuman QS. Az-Zumar [39] ayat 9 :

214M. Nasir Budiman, Pendidikan dalam Perspektif Alqur‟ān, (Jakarta : Madani Pers, 2012), h. iii.

215Nafis Irkhami, Islamic Work Ethics; Membangun Etos Kerja Islami, (Salatiga : STAIN

Salatiga Press, 2014), h. 97-98.

216Nurcholis Majid, Islam Doktrin dan Peradaban, (Jakarta : Yayasan Paramadina, 2012),

                         

Artinya : “(apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah : "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?". Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”.217

b. Sosialisasi Nilai-Nilai

Secara umum, pelatihan bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan prilaku karyawan, kemudian mengaplikasikannya dalam pekerjaan sehari-hari berdasarkan nilai-nilai yang diperoleh. Dalam mencapai keunggulan bersaing, harus dipandang lebih luas sebagai suatu cara menciptakan modal intelektual (intelectual capital). Modal intelektual meliputi keterampilan kognitif (know what), keterampilan lanjutan (know how), kreatifitas dan pemahaman terhadap sistem (know why) serta care why atau kreatifitas terhadap dorongan sendiri.218

c. Kiat-Kiat Sukses

Islam mendorong untuk melakukan pelatihan (training) terhadap para karyawan dengan kiat-kiat sukses dan kemampuan teknis karyawan dalam menunaikan tanggung jawab pekerjaannya dan pelatihan diutamakan dengan pelatihan yang bersifat soft skill Islami. Rasulullah SAW memberikan pelatihan terhadap orang yang diangkat untuk mengurusi persoalan kaum Muslimin, dan membekalinya dengan nasihat-nasihat dan beberapa petunjuk. Agar memberikan kontribusi yang sebaik-baiknya bagi perusahaan, oleh karena itu, Islam mendorong untuk melakukan pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia melalui pelatihan (training) terhadap para pegawai dengan tujuan meningkatkan kesuksesan dan kemampuan teknis pegawai dalam menunaikan tanggung jawab pekerjaannya.219

217Departemen Agama RI, Alqur‟ān dan Terjemahannya..., h. 747.

218Raymond A. Noe, et al., Human Resources Management : Gaining A Competitive

d. Kiat Kerja Produktif

Dalam pelaksanaan pelatihan dan pengembangan pada perusahaan atau organisasi terdapat beberapa tujuan, diantaranya yaitu meningkatkan pengetahuan, meningkatkan produktivitas kerja, meningkatkan kualitas kerja, meningkatkan rangsangan agar pegawai mampu berprestasi secara maksimal, meningkatkan kualitas dan kuantitas output, untuk menurunkan jumlah dan biaya terjadinya kecelakaan.220

Dengan adanya peningkatan keahlian, pengetahuan, dan wawasan, sikap karyawan pada tugas-tugasnya dengan pengetahuan yang didapat dalam sehingga pendidikan dan pelatihan tersebut dapat merubah tingah laku, guna mendapatkan produktivitas yang tinggi.221

e. Visi dan Misi Perusahaan

Proses pelatihan dan pengembangan di awali dengan proses identifikasi kebutuhan perusahaan, selanjutnya akan diikuti oleh proses perumusan sasaran pelatihan dan pengembangan dan pada akhirnya akan ditentukan isi program dan prinsip pembelajaran. Seluruh langkah ini menggambarkan tahapan yang dilalui oleh perusahaan, yang pada akhirnya semua itu merupakan represntasi dari tujuan yang ingin dicapai dari perusahaan untuk mewujudkan visi dan misi perusahaan. Akan tetapi yang perlu diperhatikan adalah perumusan sasaran, pada tahap ini seringkali perusahaan hanya merumuskan tujuan duniawi semata. Tujuan untuk keperluan rohani belum banyak mewarnai sasaran yang ingin dicapai, sehingga pada sisi penyusunan program atau isi program hanya represntasi dari kebutuhan perusahaan, belum di sesuaikan dengan kebutuhan rohani karyawan. Kesenjangan inilah yang kemudian menjadikan karyawan hanya bekerja untuk keperluan perusahaan, belum mampu mewujudkan kebutuhan rohani, sebagai wujud ketakwaan kepada Allah SWT.

f. Tugas/Kewajiban Karyawan.

219

Aḥmad Ibrahim Abu Sinn, Manajemen Syari‟ah..., h. 116-117.

220Anwar Prabu Mangkunegara, Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan,

(Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2012), h. 45.

221MN. Nasution, Manajemen Mutu Terpadu, (Jakarta : PT.Gahalia Indonesia, 2012), h. 70.

Islam mendorong untuk melakukan pelatihan (training) terhadap para karyawan dengan tujuan mengembangakan kompetensi dan kemampuan teknis karyawan dalam menunaikan tanggung jawab pekerjaannya. Rasulullah SAW memberikan pelatihan terhadap orang yang diangkat untuk mengurusi persoalan kaum muslimin, dan membekalinya dengan nasihat dan beberapa petunjuk.222 g. Motivasi Kerja

Islam menegaskan bahwa pelatihan dan pengembangan adalah mencakup semuanya, dimulai dari pengembangan moral dan pengembangan spiritual manusia dan pada akhirnya dimuat pada kebijakan fiskal. Pelatihan dan pengembangan seharusnya mengantarkan pada peningkatan keimanan kepada Allah SWT dan untuk menambah pengetahuan dan ketrampilan pekerja sehingga bisa untuk menaikkan level mereka. Islam tidak hanya mendorong seseorang untuk bekerja, tetapi juga memotivasi untuk melakukan pekerjaan dengan baik dan sempurna.223