• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.13. Uji Kepekaan Antimikroba

2.13.2. Metode uji kepekaan antimikroba

Metode difusi cakram adalah difusi agen antimikroba dengan konsentrasi tertentu dari cakram atau tablet ke dalam media kultur padat yang telah ditaburi dengan koloni yang diisolasi dalam kultur. Difusi cakram berdasar pada determinasi zona inhibisi yang sebanding dengan kepekaan bakteri terhadap antimikroba yang ada pada cakram. Secara umum, semakin besar zona inhibisi, konsentrasi yang dibutuhkan untuk menghambat pertumbuhan organisme semakin rendah. Tetapi ini bergantung pada

2. Metode Dilusi

Metode dilusi broth dan agar dapat digunakan untuk mengukur aktivitas in vitro suatu agen antimikroba terhadap isolate bakteri tertentu secara kuantitatif. Untuk melakukan tes tersebut, serangkaian tabung atau lempeng yang berisi media broth dan agar disiapkan untuk ditambahkan dengan agen antimikroba dengan konsentrasi bervariasi. Tabung dan lempeng kemudian ditambahkan suspensi dari organisme yang sudah di standarisasi. Setelah inkubasi pada suhu 35 ± 2°C, hasil tes diperiksa dan ditentukan nilai minimal inhibitory concentration (MIC). Hasil akhir dipengaruhi oleh metodologi pemeriksaan sehingga harus dikontrol dengan teliti. Tujuan dari metode dilusi broth dan agar adalah untuk menetukan konsentrasi terendah dari antimikroba yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri yang diuji. MIC yang didapat dari metode dilusi adalah konsentrasi agen antimikroba yang dibutuhkan untuk menghambat pertumbuhan bakteri. Tetapi MIC bukan merupakan suatu nilai absolut.

Nilai MIC yang ‘nyata’ berada di antara konsentrasi tes terendah yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri dan konsentrasi tes terendah berikutnya.22

BAB 3

KERANGKA TEORI DAN KERANGKA KONSEP

3.1. Kerangka Teori

 Jumlah bakteri tidak melebihi 1000 CFU/g

3.2. Kerangka Konsep

Berdasarkan tujuan penelitian yang telah dibahas, maka kerangka konsep dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Variabel Independen Variabel Dependen

Skema 3.2 Kerangka Konsep Lipstik:

 Dibawah 12 Bulan

 Baru

 Jumlah dan Jenis

Kontaminasi Mikroba pada Kultur:

o Bakteri o Jamur

 Uji Kepekaan Antimikroba

BAB 4

METODE PENELITIAN

4.1. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif. Pendekatan yang digunakan pada desain penelitian ini adalah cross sectional study (studi potong lintang).

4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2.1. Lokasi penelitian

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Jalan Universitas nomor 1, Kampus Universitas Sumatera Utara, Medan.

4.2.2. Waktu penelitian

Penelitian ini dilakukan mulai dari bulan September 2016 sampai bulan November 2016 yaitu selama lebih kurang 3 bulan.

4.3. Populasi dan Sampel Penelitian 4.3.1. Populasi penelitian

Populasi target yang akan digunakan pada penelitian ini adalah semua lipstik yang digunakan oleh mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara stambuk 2013 dan semua lipstik baru dengan merek yang sama.

4.3.2. Sampel penelitian

Sampel yang akan digunakan pada penelitian ini diambil dari populasi target dan harus memenuhi kriteria inklusi serta tidak termasuk ke dalam kriteria eksklusi.

Adapun kriteria inklusi dan eksklusi pada sampel penelitian ini adalah : 1. Kriteria Inklusi

a. Lipstik yang telah digunakan selama kurang dari 12 bulan.

b. Lipstik yang baru dengan merek yang sama.

2. Kriteria Eksklusi

a. Lipstik yang sudah melewati batas tanggal kadaluwarsanya atau tidak ada batas kadaluwarsanya.

Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah consecutive sampling yaitu pemilihan subyek penelitian berupa lipstik dari mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara stambuk 2013 yang memenuhi kriteria inklusi sampai mencapai jumlah sampel yang ditentukan dengan rumus sebagai berikut:

𝑛 = 𝑍𝛼 2𝑃𝑄 𝑑2

Keterangan :

n : besar sampel minimum Zα : defiat baku alfa (1,96)

P : proporsi keadaan yang akan dicari (persentase kontaminasi bakteri dan jamur pada sampel kosmetik yang diambil dari kepustakaan penelitian sebelumnya = 13.7%)8

Q : 1-P

d : tingkat ketepatan absolut yang dikehendaki (15%)

𝑛 = 1,962 × 0,137 × (1 − 0,137) 0,152

𝑛 = 0,454 0,0225

𝑛 = 20,17 ≈ 21 lipstik

Jadi, jumlah sampel minimum yang dibutukan adalah 21 lipstik.

4.4. Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh langsung dari hasil pemeriksaan mikrobiologis berupa jumlah kontaminasi bakteri, jenis kontaminasi bakteri, jumlah kontaminasi jamur, jenis kontaminasi jamur yang ditemukan, dan hasil uji kepekaan antimikroba pada sampel lipstik yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi di atas.

4.5. Alat dan Bahan Penelitian 4.5.1. Alat penelitian

Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

 Kapas lidi steril

 Tabung inokulasi

 Inkubator

 Cawan petri

 Biohazard

 Ose

 Sarung tangan steril

 Masker

 Jangka sorong 4.5.2. Bahan penelitian

Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

 Sampel lipstik

 Agar Nutrient

 Reagensia pewarnaan Gram

 Agar MacConkey

 Agar Eosin Methlene Blue (EMB)

 Mannitol Salt Agar (MSA)

 Agar darah

 Salmonella Shigella Agar (SSA)

 Agar Cetrimide

 Reagensia pemeriksaan biokimia

 Sabouraud Dextrose Agar (SDA)

 Cakram antimikroba

 Agar Mueller Hinton

4.6. Variabel Penelitian

4.6.1. Variabel independen penelitian

 Lipstik yang telah digunakan kurang dari 12 bulan dan yang baru 4.6.2. Variabel dependen penelitian

 Jumlah dan jenis kontaminasi bakteri dan jamur pada kultur

 Uji kepekaan antimikroba 4.7. Definisi Operasional 4.7.1. Lipstik

 Lipstik adalah lipstik yang telah digunakan selama kurang dari 12 bulan dan yang baru dengan merek yang sama.

 Cara Ukur : wawancara

 Hasil Ukur :

o Lipstik yang telah digunakan selama kurang dari 12 bulan o Lipstik yang baru dengan merek yang sama

 Skala Ukur : Nominal

4.7.2. Jumlah kontaminasi mikroorganisme pada kultur

 Jumlah kontaminasi mikroorganisme pada kultur adalah hasil perhitungan jumlah bakteri dan jamur yang ditemukan pada sampel lipstik yang telah digunakan selama kurang dari 12 bulan dan yang baru.

 Cara Ukur :

o Melakukan perhitungan dengan menggunakan metode cawan sebar.

 Alat Ukur :

o Media Agar Nutrient

o Media Sabouraud Dextrose Agar (SDA)

 Hasil Ukur :

o Jumlah mikroorganisme < 1000 CFU/g : tidak signifikan o Jumlah mikroorganisme > 1000 CFU/g : signifikan

 Skala Ukur : o Ordinal

4.7.3. Jenis kontaminasi mikroorganisme pada kultur

 Jenis kontaminasi mikroorganisme pada kultur adalah hasil identifikasi jenis bakteri dan jamur yang pada sampel lipstik yang telah digunakan selama kurang dari 12 bulan dan yang baru.

 Cara Ukur :

o Melakukan identifikasi dengan melakukan, pewarnaan Gram, pemeriksaan mikroskopis, identifikasi pada media selektif, tes katalase, tes koagulase, dan pemeriksaan biokimia.

 Alat Ukur :

o Reagensia pewarnaan Gram o Media Mannitol Salt Agar (MSA) o Media Agar Darah

o Media Agar MacConkey

o Media Eosine Methylene Blue (EMB) o Media Salmonella Shigella Agar (SSA) o Media Agar Cetrimide

o Media Sabouraud Dextrose Agar (SDA) o Hidrogen peroksida (H2O2)

o Reagensia pemeriksaan biokimia

 Hasil Ukur :

o Identifikasi Staphylococcus aureus :

 Gram positif berbentuk bola (kokus).

 Koloni berwarna kuning keemasan dan tampak daerah jernih (clear zone) di sekitar koloni.

 Fermentsi mannitol positif, uji katalase positif, uji koagulase positif.

o Identifikasi Escherichia coli :

 Gram negatif berbentuk batang.

 Koloni berubah warna menjadi merah gelap dan mengkilap seperti logam (metallic sheen).

 Uji indol positif, uji methyl red positif, uji Voges-Proskauer negatif, uji citrat negatif, uji urease negatif, uji motilitas positif.

 Hasil TSI a/a, menghasilkan gas, dan memfermentasi glukosa, laktosa serta sukrosa.

o Identifikasi Salmonella spp :

 Gram negatif berbentuk batang

 Koloni tidak berwarna dengan pusat koloni berwarna hitam.

 Uji indol negatif, uji methyl red positif, uji Voges-Proskauer negatif, uji citrat positif, uji urease negatif, uji motilitas positif.

 Hasil TSI al/a, menghasilkan gas dan H2S, dan memfermentasi glukosa tanpa memfermentasi laktosa serta sukrosa.

o Identifikasi Pseudomonas aeruginosa :

 Gram negatif berbentuk batang.

 Koloni berwarna kehijauan dan berfluoresensi.

 Uji indol negatif, uji methyl red negatif, uji Voges-Proskauer negatif, uji citrat positif, uji urease negatif, uji motilitas positif.

 Hasil TSI al/al, tidak menghasilkan gas dan H2S, dan tidak memfermentasi karbohidrat.

o Identifikasi Candida albicans : koloni berwarna krem.

 Skala Ukur : o Nominal

4.7.4. Uji kepekaan antimikroba

 Uji kepekaan antimikroba adalah uji untuk mengetahui apakah bakteri peka (susceptible), kurang peka (intermediate), atau tidak peka (resistant).

 Cara Ukur :

o Melakukan uji kepekaan dengan metode difusi dan mengukur daerah hambatan dengan jangka sorong.

 Alat Ukur :

o Media Agar Mueller Hinton o Cakram antimikroba

o Jangka sorong

 Hasil Ukur :

o Diameter daerah hambatan ≥ 20 : peka (susceptible)

o Diameter daerah hambatan = 15-19 : kurang peka (intermediate) o Diameter daerah hambatan ≤ 14 : tidak peka (resistant)

 Skala Ukur : o Ordinal

4.8. Metode Pengolahan dan Analisis Data 4.8.1. Pengolahan data

Pengolahan data dilakukan dengan langkah – langkah sebagai berikut: (1) editing, dilakukan untuk memeriksa ketepatan dan kelengkapan data; (2) coding, data yang telah terkumpul dikoreksi, kemudian diberi kode oleh peneliti secara manual sebelum diolah dengan komputer; (3) entry, data tersebut dimasukkan ke dalam program komputer; (4) cleaning data, pemeriksaan semua data yang telah dimasukkan ke dalam komputer guna menghindari terjadinya kesalahan dalam pemasukan data; (5) saving, penyimpanan data untuk siap dianalisis; dan (6) analisis data.

4.8.2. Analisis data

Analisis data jumlah kontaminasi bakteri dan jamur dilakukan dengan melakukan uji statistik deskriptif dengan bantuan program komputer yang disajikan dalam tabel distribusi frekuensi. Sedangkan analisis data jenis kontaminasi bakteri dan jamur dan hasil uji kepekaan antimikroba dilakukan secara manual.

4.9. Tahap-tahap Penelitian

Skema 4.1 Tahap-tahap penelitian 4.10. Prosedur Pelaksanaan Pemeriksaan

4.10.1. Prosedur pengambilan sampel

1. Satu gram lipstik diambil secara aseptik dan di dispersikan ke dalam 1 ml Tween-80 dan kemudian dicampur sampai merata dengan vortex.

2. Volume total dibuat menjadi 10 ml dengan 8 ml sterile nutrient broth.

Lipstik yang telah memenuhi kriteria inklusi dan tidak termasuk dalam kriteria eksklusi.

Pengambilan sampel lipsik

Kultur pada media Sabouraud Dextrose Agar (SDA) dan diinkubasi pada suhu 37ºC selama 72 jam.

Kultur pada media Nutrient Agar dan diinkubasi pada suhu 37ºC selama 24 jam.

Melakukan pewarnaan Gram dan pemeriksaan mikroskopis untuk melihat morfologi bakteri.

Kultur pada media selektif

Melakukan tes katalase, tes

koagulase dan pemeriksaan biokimia

Menghitung jumlah bakteri

Mengidentifikasi jenis bakteri Menghitung jumlah jamur dan mengidentifikasi jenis jamur.

Uji kepekaan antimikroba

3. Suspensi ini adalah pengenceran 10-1 dan selanjutnya diencerkan secara berurutan sampai pengenceran 10-3.

4. Kemudian 100 µL dari setiap pengeceran disebarkan pada media agar Nutrient untuk menghitung total viable count (TVC) dan pada media Sabouraud Dextrose Agar (SDA) untuk jamur.

5. Media agar Nutrient diinkubasi pada suhu 37ºC selama 48 jam dan media agar Sabouraud Dextrose Agar (SDA) diinkubasi pada suhu 37ºC selama 72 jam.

4.10.2. Prosedur pembiakan kultur

1. Ose yang digunakan untuk menanam bakteri sebelum dan sesudahnya dipanaskan hinga merah pijar di atas nyala api dan didinginkan dahulu sebelum digunakan untuk menanam mikroba.

2. Bukalah tutup cawan petri secukupnya saja untuk menghindari kontaminasi dari udara.

3. Dengan ose mikroba diambil dan kemudian dilakukan penanaman pada permukaan medium padat dengan cara goresan 4 kuadran secara berulang-ulang.

4.10.3. Prosedur pelaksanaan pewarnaan Gram

1. Bersihkan gelas objek dengan kain bersih agar tidak berlemak, kemudian gelas objek dilayangkan di atas nyala api.

2. Setelah didinginkan, beri label dengan pensil kaca atau spidol.

3. Teteskan satu tetes aquadest atau garam faal pada gelas objek.

4. Pijarkan sengkelit, kemudian didinginkan.

5. Ambil sediaan yang hendak diwarnai dengan menggunakan sengkelit.

Pada saat mengambil sediaan, hanya ujung sengkelit yang menyentuh koloni.

6. Suspensikan sediaan tersebut pada tetesan aquadest pada gelas objek lalu sebarkan dengan gerakan memutar sampai merata. Luas sediaan 1-2 cm2. Pijarkan kembali sengkelit yang dipakai untuk mengambil sediaan yang mengandung bakteri tadi.

7. Sediaan dibiarkan mongering di udara, kemudian lewatkan di atas nyala api sebanyak 3 kali agar sediaan melekat sempurna di atas permukaan gelas objek (sisi gelas objek yang mengandung sediaan menghadap ke atas agar tidak terkena nyala api).

8. Tuangkan zat warna karbol-gentian violet di atas sediaan dan tunggu selama 5 menit.

9. Cuci sediaan dengan air kran selama 5-10 detik.

10. Genangi dengan larutan lugol selama 1 menit.

11. Cuci sediaan dengan air kran selama 5-10 detik.

12. Celup dan goyang dalam bak yang berisi aceton alkohol 96% selama 10 detik.

13. Cuci sediaan dengan air kran.

14. Genangi dengan fuchsin-air (safranin) selama 1-2 menit.

15. Cuci kembali dengan air kran, kemudian keringkan di udara.

16. Setelah kering, lihat di bawah mikroskop.

4.10.4. Prosedur pelaksanaan tes katalase

1. Teteskan satu tetes hidrogen peroksida (H2O2) di atas kaca slide yang bersih.

2. Sterilkan ose/sengkelit.

3. Ambil koloni bakteri yang akan diuji.

4. Campurkan koloni yang diambil ke dalam hidrogen peroksida.

5. Interpretasi :

a. Bila terbentuk gelembung udara : tes katalase positif

b. Bila tidak terbentuk gelembung udara : tes katalase negative 4.10.5. Prosedur pelaksanaan tes koagulase

Terdapat dua cara untuk melakukan tes koagulase yaitu : 1. Slide Test

a. Teteskan satu tetes aquadest di atas kaca slide yang bersih.

b. Emulsikan koloni bakteri Staphylococcus spp. pada tetesan aquadest itu.

c. Tambahkan satu sengkelit plasma manusia.

d. Campurkan tersebut diaduk menggunakan batang pengaduk.

e. Interpretasi :

i. Bila terbentuk gumpalan : slide test (+) : Staphylococcus aureus.

ii. Bila gumpalan tidak terbentuk : slide test (-) : lanjutkan dengan tube test.

2. Tube Test

a. Inokulasi 0,5 ml citrated rabbit plasma (yang telah diencerkan sampai 1 : 4) dengan 1-2 tetes biakan Staphylococcus spp. yang telah dieramkan satu malam.

b. Eramkan pada suhu 35ºC dalam water-bath.

c. Jika terjadi koagulasi sempurna ataupun sebagian sesudah pengeraman 1-4 jam, maka tes dikatakan positif.

4.10.6. Prosedur pemeriksaan biokimia 1. Uji Indol

a. Biakan kuman diambil menggunakan ose steril lalu ditanam pada tabung berisi medium cair yang kaya akan triptofan.

b. Tabung tersebut diinkubasi pada suhu 37ºC selama 24 jam.

c. Tambahkan 3-5 tetes reagensia kovac pada tabung yang mengandung biakan kuman yang berumur 24 jam tersebut.

d. Kocok tabung tersebut lalu diamkan beberapa saat.

e. Reaksi yang positif untuk indol ditandai dengan terbentuknya cincin merah pada permukaan biakan.

2. Uji Methyl Red

a. Bakteri diinokulasikan pada medium MR/VP, kemudian diinkubasi pada suhu 35ºC selama 48-72 jam.

b. Teteskan 5 tetes reagensia methyl red ke dalam media.

c. Bila terlihat warna merah pada media maka hasil dinyatakan positif.

3. Uji Voges-Proskauer

a. Bakteri diinokulasikan ke medium MR/VP, kemudian diinkubasikan pada suhu 35ºC selama 24 jam.

b. Kemudian ke dalam medium ditambahkan 0,6 ml α-napthol 5%

dan 0,2 ml KOH 40%.

c. Kocok beberapa saat dan didiamkan selama 10-15 menit.

d. Hasil dikatakan positif bila dihasilkan warna merah pada medium setelah 15 menit ditetesi reagensia.

4. Uji citrat

a. Tanam kuman yang berasal dari biakan TSI pada agar miring Simmon’s Citrate.

b. Inkubasi pada suhu 37ºC selama 24 jam.

c. Bila terlihat pertumbuhan dan terjadinya perubahan warna media dari hijau menjadi warna biru tua, maka hasil dinyatakan positif.

5. Uji urease

a. Bakteri diinokulasikan pada medium yang mengandung urea sebagi sumber karbon.

b. Kemudian diinkubasikan pada suhu 35ºC.

c. Bila dideteksi adanya ammonia melalui perubahan pH pada indicator pH (phenol red) yang akan menimbulkan warna merah (suasana alkali) dalam waktu 15 menit, 30 menit, 60 menit, sampai 4 jam, maka hasil dinyatakan positif.

6. Uji motilitas

a. Biakan bakteri diambil dengan jarum penanam steril kemudian ditusukkan tegak lurus ke dalam media uji motilitas yaitu media semisolid.

b. Bila setelah pengeraman pada suhu 37ºC selama 24 jam terlihat adanya penyebaran pertumbuhan bakteri ke sekitar tempat tusukan, ditandai dengan bekas tusukan yang tidak jelas, maka uji motilitas bakteri adalah positif.

7. Uji Triple Sugar Iron (TSI)

a. Lakukan sterilisasi ose pada nyala api sampai merah pijar kemudian didinginkan dahulu sebelum digunakan untuk menanam bakteri.

b. Ambil tabung yang berisi Trypticase soy broth (TSB) yang telah dikultur selama 24 jam, buka penutup tabung dan panaskan leher tabung.

c. Ambil organisme kultur dari TSB dengan ose secara aseptik.

d. Panaskan kembali leher tabung dan letakkan tabung pada rak tabung.

e. Ambil tabung agar miring Triple Sugar Iron (TSI) steril, buka penutup tabung, dan panaskan leher tabung.

f. Tusukkan ose yang mengandung kultur murni pada media secara tegak lurus sedalam kira-kira satu sampai satu setengah cm dari dasar tabung (butt), dan goreskan ose secara bolak-balik sepanjang permukaan agar miring.

g. Kemudian panaskan kembali leher tabung TSI, tutup, dan letakkan pada rak tabung.

h. Inkubasi pada suhu 37ºC selama 18-24 jam.

i. Interpretasi :

i. Jika hanya glukosa yang difermentasi, maka produksi asam hanya pada dasar tabung (butt) dan menghasilkan warna kuning, sedangkan pada bagian agar miring (slant) akan berwarna merah karena kurangnya produksi asam (al/a).

ii. Jika laktosa dan sukrosa difermentasi, maka warna kuning akan dijumpai pada butt dan slant (a/a).

iii. Jika tidak terjadi fermentasi, maka media TSI akan terlihat merah pada butt dan slant-nya (al/al).

iv. Jika dihasilkan gas pada saat fermentasi maka akan terlihat gas pada butt atau agar akan menjadi naik dari dasar

v. Jika bakteri menghasilkan gas H2S, maka pada dasar tabung akan terlihat warna hitam (black butt).

8. Uji fermentasi karbohidrat

a. Mempersiapkan phenol red carbohydrate broth dengan mencampurkan 1 g trypticase, 0,5 g sodium klorida, dan 0,0189 g phenol red dalam 100 ml air yang sudah didestilasi dan deionisasi.

b. Masukkan 4-5 ml larutan ke dalam tabung uji.

c. Tambahkan 0,5 g karbohidrat (glukosa, laktosa, atau sukrosa) yang akan diuji ke dalam tabung uji.

d. Masukkan Durham tube yang terbalik ke dalam tabung uji dan pastikan Durham tube terisi oleh phenol red carbohydrate broth sampai penuh.

e. Lakukan sterilisasi pada suhu 115ºC selama 15 menit untuk glukosa dan pada suhu 121ºC selama 3 menit untuk laktosa dan sukrosa.

f. Inokulasikan tabung uji yang berisi phenol red carbohydrate broth dengan bakteri hasil kultur secara aseptik.

g. Inkubasi tabung uji pada suhu 37ºC selama 18-24 jam.

h. Interpretasi:

i. Diproduksinya asam oleh karena karbohidrat terfermentasi ditandai dengan perubahan warna media dari merah menjadi kuning.

ii. Diproduksinya gas ditandai dengan adanya gelembung-gelembung udara pada Durham tube.

4.10.7. Uji kepekaan antimikroba

a. Menyediakan lempeng agar dengan tebal 4 mm yang dapat ditumbuhi oleh mikroorganisme yang akan diuji.

b. Mengambil beberapa koloni bakteri yang akan diuji kepekaannya dan dimasukkan ke medium cair kemudian diinkubasi selama 2-5 jam pada suhu 36-37ºC.

c. Mencelupkan kapas lidi steril ke dalam medium cair yang berisi bakteri lalu semaikan ke permukaan lempeng agar sampai merata dan biarkan 3-5 menit.

d. Meletakkan cakram antimikroba dengan bantuan pinset steril dan ditekan sedikit agar melekat pada lempeng agar dan diinkubasi pada suhu 37ºC selama 18-24 jam.

e. Mengukur daerah hambatan di sekitar cakram antimikroba dengan jangka sorong.

BAB 5

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1. Hasil Penelitian

5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang terletak di Jalan Universitas No. 1 Kampus Universitas Sumatera Utara. Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara mempunyai kelengkapan alat dan bahan untuk melakukan penelitian ini, seperti alat dan bahan untuk melakukan pelarutan sampel penelitian, kultur sampel penelitian, pewarnaan Gram, pemeriksaan mikroskopis, dan uji kepekaan antimikroba.

5.1.2. Deskripsi Pelaksanaan Penelitian

Pada penelitian ini, sampel yang digunakan adalah lipstik yang telah digunakan oleh mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara stambuk 2013 selama kurang dari 12 bulan sebanyak 21 buah dan lipstik baru dengan merek yang sama sebanyak 14 buah. Penelitian ini dilakukan selama 10 hari mulai dari tanggal 15 November – 24 November 2016 dan kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut:

 Pada hari Selasa, 15 November 2016, setiap sampel lipstik ditimbang sebanyak 0,1 gr dan dilarutkan ke dalam 1 ml tween-80 lalu volume totalnya disesuaikan sampai mencapai 10 ml dengan peptone water steril.

Suspensi yang didapat dicampurkan sampai homogen dengan vortex.

Setelah suspensi tercampur dengan merata, suspensi tersebut diinkubasi pada suhu 37 ºC selama 48 jam.

 Pada hari Kamis, 17 November 2016, 0,1 ml dari suspensi tersebut dibiakkan pada Nutrient Agar dan diinkubasi pada suhu 37 ºC selama 24 jam.

 Pada hari Jumat, 18 November 2016, dilakukan perhitungan jumlah koloni dan hasilnya dinyatakan dalam satuan Colony Forming Units per gram (CFU/g), kemudian dari koloni yang ditemukan dilakukan pewarnaan Gram dan pemeriksaan mikroskopis dengan mikroskop cahaya.

 Pada hari Selasa, 22 November 2016, hasil pemeriksaan mikroskopis yang diduga bakteri patogen berupa ditemukannya bakteri gram positif berbentuk kokus dan bergerombol seperti buah anggur sebanyak 19 sampel dibiakkan pada media selektif Mannitol Salt Agar (MSA) pada suhu 37 ºC selama 24 jam.

 Pada hari Rabu, 23 November 2016, dilakukan pengamatan pada hasil biakan media selektif dan ditemukan 9 sampel yang mengandung bakteri patogen berupa Staphylococcus aureus yang kemudian dilakukan pemeriksaan lanjutan berupa pemeriksaan koagulase dan uji kepekaan terhadap antimikroba. Uji kepekaan antimikroba dilakukan dengan Mueller Hinton Agar dan delapan cakram antimikroba yang terdiri dari ampicillin, oxacillin, cefoxitine, vancomycin, erythromycin, ciprofloxacin, chloramphenicol, dan clindamycin. Koloni yang ditemukan pada media selektif diambil dan diencerkan dengan NaCl 0,9% sampai 0,5 Farland lalu di sebarkan pada seluruh permukaan media sampai merata dengan menggunakan kapas lidi steril. Kemudian delapan cakram antimikroba tersebut ditanamkan pada permukaan media dan diinkubasi pada suhu 37 ºC selama 24 jam.

 Pada hari Kamis, 24 November 2016, dilakukan pengukuran diameter daerah hambatan disekitar cakram antimikroba dengan jangka sorong.

Tabel 5.1 Distribusi Hasil Perhitungan Jumlah Kontaminasi Mikroorganisme pada Sampel Lipstik

Jumlah Kontaminasi Mikroorganisme (CFU/g)

Frekuensi (Lipstik)

Persentase (%)

> 1000 30 85,7

< 1000 5 14,3

Total 35 100

Tabel di atas menunjukkan bahwa dari semua sampel lipstik yang diteliti, jumlah kontaminasi mikroorganisme yang paling banyak terjadi adalah > 1000 CFU/g yaitu sebanyak 30 lipstik (85,7%).

Tabel 5.2 Distribusi Hasil Identifikasi Jenis Kontaminasi Mikroorganisme pada Sampel Lipstik

Jenis Kontaminasi Mikroorganisme

Frekuensi (Lipstik)

Persentase (%)

Bacillus sp. 17 48,6

Corynebacterium sp. 2 5,7

Staphylococcus epidermidis 10 28,5

Staphylococcus aureus 9 25,7

Tabel di atas menunjukkan bahwa dari semua sampel lipstik yang diteliti, jenis kontaminasi mikroorganisme yang paling banyak adalah Bacillus sp. yaitu sebanyak 17 lipstik (48,6%). Jenis kontaminasi mikroorganisme yang tidak diperbolehkan ada dalam suatu sediaan lipstik adalah Staphylococcus aureus yaitu sebanyak 9 lipstik (25,7%).

Tabel 5.3 Distribusi Hasil Uji Kepekaan Antimikroba terhadap Bakteri Staphylococcus aureus yang Dijumpai pada Sampel Lipstik Jenis Antimikroba Tidak Peka (Resistant)

n %

Ampicillin 9 100

Cefoxitine 1 11,1

Chloramphenicol 7 77,8

Clindamycin 2 22,2

Ciprofloxacin 3 33,3

Erythromycin 7 77,8

Oxacillin 0 0

Vancomycin 4 44,4

Tabel diatas menunjukkan bahwa hasil uji kepekaan antimikroba terhadap bakteri Staphylococcus aureus adalah ada dijumpainya pola resistensi terhadap

Tabel diatas menunjukkan bahwa hasil uji kepekaan antimikroba terhadap bakteri Staphylococcus aureus adalah ada dijumpainya pola resistensi terhadap