• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.2. Pembahasan

Pada penelitian ini, dari 35 sampel lipstik yang diteliti, 30 sampel lipstik (85,7%) mengalami kontaminasi mikroorganisme dengan jumlah yang melewati batas yang diperbolehkan. Dari 30 sampel lipstik tersebut, 21 sampel berasal dari lipstik yang telah digunakan mahasiswi Fakultas Kedokteran Sumatera Utara selama kurang dari 12 bulan dan 9 sampel berasal dari lipstik yang baru. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sneha Sunil Sawant dan Varsha Kelkar-Mane di India, dimana dari 12 sampel lipstik, semuanya (100%) mengalami kontaminasi mikroorganisme dengan jumlah yang melewati batas yang diperbolehkan.2 Demikian juga pada penelitian yang dilakukan oleh Nuzhath Fatima di Arab Saudi, dari 10 kosmetik yang diteliti yang 2 diantaranya merupakan lipstik, semua sampel lipstik (100%) mengalami kontaminasi bakteri

penelitian yang dilakukan oleh Fatma Kaynak Onurdag, Selda Ozgen, dan Duygu Abbasoglu di Turki, hanya 2 sampel lipstik (10%) dari 20 sampel lipstik yang terkontaminasi bakteri dengan jumlah yang melewati batas yang diperbolehkan.

Jumlah kontaminasi yang lebih rendah pada penelitian yang dilakukan di Turki ini mungkin disebabkan oleh kondisi higienitas dari penggunanya sendiri karena setiap sampelnya hanya digunakan oleh satu orang, dimana resiko kontaminasi akan meningkat apabila produk yang sama digunakan oleh lebih dari satu orang.8 Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa jenis kontaminasi mikroorganisme yang dijumpai pada sampel lipstik terdiri dari Bacillus sp., Corynebacterium sp., Staphylococcus aureus, dan Staphylococcus epidermidis.

Dari keempat spesies tersebut, yang paling banyak dijumpai adalah Bacillus sp.

dan Staphylococcus sp. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Shweta Dixit dan Rekha Bhadauria di India, dimana Staphylococcus aureus dan Bacillus sp. juga merupakan bakteri yang paling banyak dijumpai. 4 Demikian juga pada penelitian yang dilakukan oleh Fatma Kaynak Onurdag, Selda Ozgen, dan Duygu Abbasoglu di Turki, spesies Staphylococcus aureus yang tidak diperbolehkan ada pada suatu sediaan lipstik juga ditemukan.8 Ditemukannya spesies Staphylococcus sp. pada beberapa penelitian ini mungkin disebabkan oleh kontak langsung sediaan lipstik pada bibir yang dengan tidak sengaja terkontaminasi oleh flora normal hidung ataupun kulit yang kemudian bermultiplikasi pada sediaan lipstik tersebut.24

Uji kepekaan antimikroba juga dilakukan terhadap bakteri yang ditemukan pada penelitian ini dan dianggap patogen atau tidak diperbolehkan ada pada suatu sediaan lipstik yaitu Staphylococcus aureus. Hasil uji kepekaan antimikroba menunjukkan bahwa ada dijumpainya pola resistensi terhadap antimikroba golongan ampicillin, cefoxitine, chloramphenicol, clindamycin, ciprofloxacin, erythromycin, dan vancomycin dengan angka kejadian resistensi terbanyak adalah terhadap antimikroba ampicillin yaitu sebesar 100%. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Qasem M Abu Shaqra, Walid Al-Momani, dan Rania M Al-Groom di Jordan, dimana hasil uji kepekaan antimikroba dari spesies Staphylococcus aureus adalah terjadinya resistensi terhadap antimikroba golongan

amoxicillin dan ciprofloxacin.7 Demikian juga pada penelitian yang dilakukan oleh Nuzhath Fatima di Arab Saudi, hasil uji kepekaan antimikroba dari spesies Staphylococcus haemolyticus dan Staphylococcus hominis yang diisolasi dari produk kosmetik adalah terjadinya resistensi terhadap antimikroba golongan benzyl penicillin, oxacillin, dan erythromycin.3 Beberapa alasan yang menyebabkan kejadian resistensi tersebut adalah diproduksinya enzim penicillinase yang menghidrolasi cincin beta-lactam penicillin, akuisisi gen mecA yang fungsinya mengkode protein PBP2a untuk tetap mensintesis dinding sel walaupun dengan adanya antibiotik, dan adanya gen erm yang memproduksi enzim RNA methylase untuk memodifikasi tempat pengikatan antibiotik.25

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

1. Jumlah kontaminasi mikroorganisme yang paling banyak dijumpai pada sampel lipstik yang diteliti adalah > 1000 CFU/g yaitu sebanyak 30 lipstik (85,7%).

2. Jenis kontaminasi mikroorganisme yang dijumpai pada sampel lipstik yang diteliti terdiri dari Bacillus sp., Corynebacterium sp., Staphylococcus aureus, dan Staphylococcus epidermidis. Jenis mikroorganisme yang paling banyak dijumpai adalah Bacillus sp. yaitu sebanyak 17 lipstik (48,6%).

3. Hasil uji kepekaan antimikroba terhadap bakteri Staphylococcus aureus yang ditemukan pada sampel lipstik adalah ada dijumpainya pola resistensi terhadap antimikroba golongan ampicillin, cefoxitine, chloramphenicol, clindamycin, ciprofloxacin, erythromycin, dan vancomycin.

6.2. Saran

1. Pengguna lipstik diharapkan untuk tidak menggunakan lipstik selama lebih dari 12 bulan.

2. Perlunya peningkatan kualitas proses produksi untuk meminimalisasi kontaminasi mikroorganisme sehingga lebih menjamin keamanan lipstik yang digunakan oleh konsumen.

3. Pentingnya peningkatan penggunaan sistem pengawet yang tepat dan adekuat pada sediaan lipstik agar dapat lebih efektif dalam menghambat pertumbuhan dari kontaminasi mikroorganisme sewaktu proses produksi, distribusi, penyimpanan, dan saat sedang digunakan oleh konsumen.

4. Produsen diharapkan meningkatkan pemantauan mikrobiologis secara rutin pada produk akhir yang dihasilkan.

5. Pemerintah diharapkan dapat lebih mengontrol dan menindaklanjuti jika ditemukannya produk lipstik yang tidak memenuhi standar yang telah di tetapkan.

6. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat dilakukan pada sediaan kosmetik yang lebih beragam dengan jumlah sampel yang lebih banyak serta menggunakan metode dan alat ukur yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

2. Sawant SS, Kelkar-Mane V. Study of bacterial contaminants in local as well as branded lipsticks before and after consumer use. Int J Recent Adv Mult Res. 2015;2(1):149-154.

3. Fatima N. Bacteriological evaluation and comparison of unused branded and non-branded cosmetic products available in Jazan region of Saudi Arabia. J Microb World. 2014;16(1-2):57-67.

4. Dixit S., Bhadauria R. Microbial contamination of used herbal cosmetic products. Asian J Pharm Life Sci. 2014;4(3):28-33.

5. Das KK, Fatema KK, Nur IT, Noor R. Prevalence of microorganisms in commonly used cosmetics samples in Dhaka Metropolis. J Pharm Sci Innov.

2013;2(6):7-9.

6. Scientific Committee on Consumer Safety. The SCCS’s notes of guidance for the testing of cosmetic substances and their safety evaluation. Luxembourg:

SCCS; 2012 [diakses tanggal 2016 Mei 15] Diakses dari:

http://ec.europa.eu/health/scientific_committees/consumer_safety/docs/sccs_s _006.pdf

7. Shaqra QM, Walid A, Rania MA. Susceptibility of some bacterial contaminants recovered from commercial cosmetics in Jordan to preservatives and antibiotics. Trop J Pharm Res. 2012;13(2):255-259.

8. Onurdag FK, Ozgen S, Abbasoglu D. Microbiological investigation of used cosmetic samples. Hacettepe Univ J Fac Pharm. 2010;30(1):1-16.

9. Depkes RI. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1175/MENKES/PER/VIII/2010 tentang izin produksi kosmetika. Jakarta:

Depkes RI; 2010.

10. Tranggono, Iswari, Retno, Latifah, Fatimah. Buku pegangan ilmu pengetahuan kosmetik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2007.

11. Yatimah, Yeyet D. Analisa cemaran logam berat kadmium dan timbal pada beberapa merek lipstik yang beredar di daerah dengan menggunakan spektofotometri serapan atom. Fakultas Farmasi UIN Syarif Hidayatullah.

2015 [diakses tanggal 2016 Mei 15]. Diakses dari:

http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/25702/1/Yeyet%20 Durotul%20Yatimah%20-%20fkik.pdf

12. Han, Chenny. Make-up bibir sesuai aura dan fengshui. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2010.

13. Widodo W,Sumarsih S. Jarak kepyar tanaman penghasil minyak kastor untuk berbagai industri. Yogyakarta: Kaninus, 2007.

14. Wasitaatmadja, Syarif M. Penuntun ilmu kosmetik medik. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia Press, 1997.

15. Poucher, John. Poucher’s perfumes, cosmetics and soaps. 10th Ed. Dordrecht:

Kluwer Academic Publishers, 2000.

16. Eroschenko, Victor P. Atlas histologi diFiore dengan korelasi fungsional.

Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2008.

17. Detmer A, Jorgensen C, Nylen D. A guidance document on microbiological control of cosmetic products. Danish Ministry of The Environment. 2009

[diakses tanggal 2016 Mei 17]. Diakses dari:

http://www2.mst.dk/udgiv/publications/2010/978-87-92668-66-0/pdf/978-87-92668-67-7.pdf

18. Tortora GJ, Funke BR, Case CL. Microbiology an introduction. 10th Ed. USA:

Pearson Benjamin Cummings, 2010. microbiology. 2th Ed. New Jersey: Lippincott Williams & Wilkins, 2007.

22. CLSI. Method for dilution antimicrobial susceptibility tests for bacteria that grow aerobically; approved standard. 9th Ed. Pennsylvania: Clinical and Laboratory Standard Institute; 2002.

23. World Organisation For Animal Health. Guideline 2.1. laboratory methodologies for bacterial antimicrobial susceptibility testing. Paris: World Organisation For Animal Health; 2012 Mei [diakses tanggal 2016 Mei 20].

25. Coyle MB. Manual of antimicrobial susceptibility testing. USA: American Society for Microbiology, 2005.

Lampiran 1

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

I. Data Pribadi

Nama : Wendy

Tempat/Tanggal Lahir : Medan/02 Agustus 1995 Jenis Kelamin : Laki-laki

Agama : Buddha

Alamat : Jl. Pukat V Gg. Langsat No.75 D, Medan

Telepon : 08116302028

II. Riwayat Pendidikan

1. Tahun 2000-2001 : TK Wiyata Dharma Medan 2. Tahun 2001-2007 : SD Wiyata Dharma Medan 3. Tahun 2007-2010 : SMP Sutomo 1 Medan 4. Tahun 2010-2013 : SMA Sutomo 1 Medan 5. Tahun 2013-Sekarang : Universitas Sumatera Utara

III. Riwayat Kepanitiaan

1. Anggota Dana dalam PORSENI FK USU tahun 2015.

2. Anggota Konsumsi dalam Perayaan Waisak 2559 B.E FK USU tahun 2015.

3. Koordinator Peralatan dan Tempat pada Perayaan Asadha 2559 B.E FK USU tahun 2015.

4. Anggota Tim Medis Fakultas Kedokteran pada Bakti Sosial KMB USU tahun 2015.

5. Anggota Tim Medis Fakultas Kedokteran pada Bakti Sosial KMB USU tahun 2016.

Lampiran 2

LEMBAR PENJELASAN KEPADA CALON SUBYEK PENELITIAN

Assalamualaikum Wr Wb/Salam Sejahtera Dengan hormat,

Nama saya, Wendy, NIM 130100258, sedang menjalani pendidikan Kedokteran di Program S1 Ilmu Kedokteran FK USU. Saya sedang melakukan penelitian yang berjudul “Gambaran Kontaminasi Bakteri dan Jamur pada Sampel Lipstik Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara”.

Lipstik adalah salah satu kosmetik yang paling dapat dijangkau dan ada sekitar 80% wanita menggunakannya secara rutin setiap hari. Lipstik dapat berperan sebagai media nutrisi yang ideal untuk pertumbuhan mikroba. Komposisi dari lipstik bersama dengan kondisi iklim yang hangat dan lembab dapat mendukung serta mendorong kelangsungan hidup dan pertumbuhan banyak mikroorganisme.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jumlah dan jenis kontaminasi bakteri dan jamur yang dijumpai pada sampel lipstik serta mengetahui kepekaan bakteri yang ditemukan pada sampel lipstik terhadap penggunaan antimikroba.

Manfaat dari penelitian ini adalah untuk menjadi informasi dan pengetahuan kepada konsumen tentang kelayakan lipstik yang mereka gunakan sehari-hari serta dengan adanya penelitian ini produsen diharapkan untuk lebih meningkatkan higienitas dan pemantauan mikrobiologis secara rutin selama proses pembuatan, pengemasan, dan penyimpanan.

Saya mengharapkan keikutsertaan dan kerjasama dari Saudari untuk memberikan lipstik yang telah digunakan oleh Saudari selama kurang dari 12 bulan sejumlah satu buah untuk dijadikan sampel dalam penelitian saya. Penelitian terhadap

sampel lipstik yang diberikan Saudari akan dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Jalan Universitas nomor 1, Kampus Universitas Sumatera Utara, Medan.

Partisipasi Saudari bersifat sukarela dan tanpa paksaan. Setiap data yang ada dalam penelitian ini akan dirahasiakan dan digunakan untuk kepentingan penelitian. Bila Saudari membutuhkan penjelasan, maka dapat menghubungi Saya:

Nama : WENDY

Alamat : Jl. Pukat V Gg. Langsat No. 75 D, Medan Nomor HP : 08116302028

Terima kasih saya ucapkan kepada Saudari yang telah ikut berpartisipasi pada penelitian ini. Keikutsertaan Saudari dalam penelitian ini akan menyumbangkan sesuatu yang berguna bagi ilmu pengetahuan.

Setelah memahami berbagai hal yang menyangkut penelitian ini diharapkan Saudari bersedia mengisi lembar persetujuan yang telah saya persiapkan.

Medan, 2016 Peneliti,

Lampiran 3

LEMBAR PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN (INFORMED CONSENT)

Saya yang bertanda tangan di bawah ini,

Nama :

Umur :

Alamat : Telp/HP :

Setelah membaca dan mendapat penjelasan serta memahami sepenuhnya tentang penelitian,

Judul Penelitian : Gambaran Kontaminasi Bakteri dan Jamur pada Sampel Lipstik Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

Nama Peneliti : Wendy NIM Peneliti : 130100258

Instansi Penelitian : Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

Dengan ini saya secara sukarela dan tanpa paksaan menyatakan bersedia ikut serta dalam penelitian tersebut. Dan dapat mengundurkan diri sewaktu-waktu.

Demikianlah surat pernyataan ini untuk dapat dipergunakan seperlunya.

Medan, 2016

( )

Lampiran 4

Lampiran 5

Lampiran 6

Lampiran 7

TABEL HASIL JUMLAH DAN JENIS KONTAMINASI No. Label Jumlah Koloni Hasil Identifikasi

1. A1 TNTC Staphylococcus aureus

2. B1 TNTC Staphylococcus epidermidis

3. C1 TNTC Corynebacterium sp.

4. C2 TNTC Bacillus sp.; Staphylococcus epidermidis 5. C3 TNTC Bacillus sp.; Staphylococcus aureus

6. D1 TNTC Bacillus sp.

7. E1 TNTC Bacillus sp.; Staphylococcus aureus

8. F1 TNTC Staphylococcus aureus

9. G1 TNTC Bacillus sp.

10. H1 4,5 x 104 Bacillus sp.

11. H2 TNTC Bacillus sp.; Staphylococcus aureus

12. H3 TNTC Staphylococcus aureus

13. I1 TNTC Bacillus sp.; Staphylococcus epidermidis

14. I2 TNTC Staphylococcus epidermidis

15. I3 1,83 x 105 Corynebacterium sp.

16. I4 TNTC Staphylococcus epidermidis

17. J1 TNTC Bacillus sp.

18. K1 TNTC Bacillus sp.; Staphylococcus aureus 19. L1 TNTC Bacillus sp.; Staphylococcus epidermidis

20. M1 TNTC Staphylococcus epidermidis

21. N1 TNTC Bacillus sp.

22. A0 - -

23. B0 TNTC Staphylococcus epidermidis

24. C0 TNTC Bacillus sp.

25. D0 TNTC Bacillus sp.

26. E0 TNTC Staphylococcus aureus

27. F0 - -

28. G0 TNTC Bacillus sp.

29. H0 - -

30. I0 - -

31. J0 2 x 103 Bacillus sp.

32. K0 TNTC Staphylococcus aureus

33. L0 TNTC Bacillus sp.; Staphylococcus epidermidis

34. M0 TNTC Staphylococcus epidermidis

35. N0 - -

Keterangan:

A,B,C,D,E,F,G,H,I,J,K,L,M,N : Label untuk merek lipstik yang digunakan sebagai sampel

TNTC : Too Numerous To Count

1,2,3 : Label untuk sampel lipstik yang telah dipakai selama kurang dari 12 bulan 0 : Label untuk sampel lipstik yang baru

TABEL HASIl UJI KEPEKAAN ANTIMIKROBA

Lampiran 8

Statistics

Jumlah Kotaminasi

N Valid 35

Missing 0

Jumlah Kotaminasi

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid >1000 CFU/g 30 85.7 85.7 85.7

<1000 CFU/g 5 14.3 14.3 100.0

Total 35 100.0 100.0

Lampiran 9

(a) (b)

Gambar 1. (a) Lipstik yang digunakan sebagai sampel penelitian. (b) Hasil pelarutan 0,1 mg sampel lipstik kedalam 1 ml tween-80 dan 9 ml peptone water.

(a) (b)

Gambar 2. (a) dan (b) Proses pembiakan sampel lipsik pada media Nutrient Agar.

(a) (b)

Gambar 3. (a) dan (b) Contoh hasil kultur sampel lipstik pada media Nutrient Agar selama 24 jam.

(a) (b)

Gambar 4. (a) Hasil pewarnaan Gram dari mikroorganisme yang dijumpai pada sampel lipstik. (b) Contoh hasil pewarnaan Gram yang dilihat dengan

(a) (b)

Gambar 5. (a) dan (b) Contoh hasil pewarnaan Gram yang dilihat dengan menggunakan mikroskop cahaya.

(a) (b)

Gambar 6. (a) Proses pembiakan bakteri berbentuk kokus pada media spesifik Mannitol Salt Agar. (b) Hasil pembiakan bakteri berbentuk kokus pada media spesifik Mannitol Salt Agar selama 24 jam.

Gambar 7. (a) Hasil uji koagulase dari bakteri patogen Staphylococcus aureus yang dijumpai pada sampel lipstik. (b) Contoh hasil uji kepekaan antimikroba terhadap bakteri patogen Staphylococcus aureus yang dijumpai pada sampel lipstik.