1. Ragam pandangan
Negara hukum adalah salah satu gagasan yang sangat penting di masa sekarang. Ia merupakan suatu bagian yang tidak terpisahkan dari gagasan mengenai
moralitas politik modern. Ia juga tidak dipisahkan dari ide mengenai Hak Asasi Manusia, demokrasi, dan prinsip-prinsip ekonomi pasar bebas. Dalam pemberitaan media negara hukum selalu disebut dan didengung-dengungkan dengan prediket berbeda. Di satu sisi ia digunakan untuk keperluan mencela namun di sisi lain ia digunakan sebagai landasan bagi legitimasi politik dan cita-cita yang hendak dicapai (Waldron 2008: 1).
Meskipun ‘negara hukum’ merupakan gagasan yang penting sampai masa sekarang namun, sebagaimana dikatakan oleh Andrei Marmor (tanpa tahun: 1), gagasan mengenai ‘negara hukum’ sangat rumit dan seringkali membingungkan. Kerumitan dimaksud tidak saja menyangkut substansi ide negara hukum tetapi juga dalam penggunaan terminologi. Negara-negara penganut sistem hukum anglo-saxon (Inggris dan Amerika Serikat) menggunakan terma “rule of law”, sedangkan negara-negara penganut sistem hukum civil law memakai terma Rechtsstaat atau Etat de Droit. Masing-masing terma tersebut mempunyai sejarah dan pengertian yang tidak sama (Zolo 2007:7).
Diskusi ide negara hukum yang membingungkan dan tidak ada habisnya juga menggejala dalam diskursus akademik. Salah satu imbas dari situasi yang demikian adalah para sarjana (academic scholars) belum memiliki kata sepakat mengenai prinsip-prinsip umum yang terkandung dalam istilah negara hukum. Mereka masih berbeda pendapat mengenai hal ini. Tabel berikut ini memperlihatkan berbagai pandangan mengenai prinsip negara hukum oleh sejumlah sarjana dan lembaga internasional:
Tabel 1.1
Berbagai Pandangan Mengenai Prinsip Negara Hukum
Sumber: diolah dari Andrei Marmor, The Ideal of The Rule of Law, University of Southern California Law School, Tanpa Tahun; Brian Z. Tamanaha, The History and Elements of Rule of Law, Washington University School of Law, 2012; Jeremy Waldron, The Concept and The Rule of Law, New York University School of Law, 2008; Jimly Asshidiqqie, Gagasan Negara Hukum Indonesia, Tanpa Tahun;
M. Scheltema Joseph Raz Rachel Kleinfeld Belton
1. Pengakuan, penghormatan, dan pelindungan Hak Asasi Manusia yang berakar dalam penghormatan atas martabat manusia (human dignity);
2. Kepastian hukum; 3. Persamaan (similia
similius atau equality before the law);
4. Demokrasi; dan 5. Pemerintah dan pejabat mengemban amanat sebagai pelayan masyarakat dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan tujuan bernegara yang bersangkutan.
1. Hukum harus prospektif, terbuka dan jelas;
2. Hukum seharusnya tidak sering dirubah;
3. Proses pembuatan hukum harus jelas, stabil, terbuka, dan berlandaskan pada prinsip-prinsip umum; 4. Independensi per-adilan; 5. Keadilan alamiah; 6. Pengadilan mampu menghentikan tindakan kekuasaan yang melampaui batas; 7. Pengadilan mudah diakses; dan 8. Penegak hukum tidak menyalahgu-nakan diskresi yang dimilikinya.
1. Pemerintah yang terikat pada hukum;
2. Persamaan di depan hukum;
3. Hukum dan Ketertiban;
4. Keadilan yang eisien
dan terukur; dan
5. Tidak adanya kekerasan terhadap Hak Asasi Manusia.
Brian Z. Tamanaha Jimly Asshidiqqie The International Commission of Jurist
Keadilan yang eisien
1. Pemerintahan yang dibatasi oleh hukum;
2. Legalitas formal;
3. Diatur oleh hukum, bukan orang. 1. Supremasi hukum; 2. Persamaan di depan hukum; 3. Legalitas; 4. Pembatasan kekuasaan; 5. Organ-organ campuran yang bersifat independen;
6. Peradilan bebas dan tidak memihak;
7. Peradilan tata usaha negara;
8. Peradilan tata negara; 9. Perlindungan Hak Asasi Manusia; 10. Demokratis berfungsi sebagai sarana mewujudkan tujuan Negara; 11. Transparansi dan kontrol sosial; 12. Ber-Ketuhanan yang maha esa. 1. Negara merupakan subjek hukum; 2. Peradilan independen dan fair; 3. Independensi profesi advokat; 4. Pengakuan dan penegakan hukum yang efektif terhadap hak-hak individual.
Joseph Raz, The Authority of Law: Essays on Law and Morality, 1979; Rachel Kleinfeld Belton, Competing Deinitions of The Rule of Law: Implications for
Practioners, Carniege Papers, 2005, dan International Commision of Jurist: The Rule of Law and Human Right, http://www.globalwebpost.com/genocide1971/ h_rights/rol/ 10_guide. htm#athens, diakses 10 Oktober 2012.
2. Prinsip-prinsip umum
Sekalipun masih terdapat perbedaan mengenai penggunaan istilah, pengertian maupun prinsip, namun tidak menghalangi upaya untuk merumuskan elemen-elemen universal dalam gagasan negara hukum. Salah satu elemen universal tersebut adalah prinsip-prinsip yang berlaku umum, karena disebutkan oleh hampir semua sarjana dan lembaga yang mencoba merumuskan prinsip-prinsip negara hukum.
Berangkat dari pandangan bahwa prinsip-prinsip umum negara hukum masih bisa dirumuskan, ILR memilih 5 prinsip dengan dua alasan. Pertama, kelima prinsip tersebut mewakili pandangan yang saling beririsan dari beberapa sarjana terkemuka. Kedua, prinsip-prinsip tersebut lebih realistis diturunkan dalam tataran praktis. Dengan kata lain prinsip-prinsip tersebut lebih aplikatif karena tidak terlalu abstrak.
Guna memudahkan untuk memeriksa seberapa jauh kelima prinsip tersebut telah dipenuhi atau dilaksanakan, ILR membuat indikator untuk masing-masing prinsip tersebut. Berikut kelima prinsip terpilih beserta indikatornya masing-masing:
Tabel 1.2
Prinsip dan Indikator Negara Hukum
No Prinsip Indikator
1 Pemerintahan berdasarkan Hukum
• Keseimbangan kekuasaan antara
eksekutif, legislatif dan yudikatif
• Performa eksekutif • Performa legislatif
2 Independensi kekuasan Kehakiman
• Pelaksana kekuasaan kehakiman • Organisasi kekuasaan kehakiman
3 Penghormatan, pengakuan dan perlindungan HAM
• Kebebasan untuk berserikat, berkumpul,
dan menyatakan pendapat
• Kebebasan beragama dan berkeyakinan • Perlakuan yang tidak diskriminatif
• Hak untuk hidup dan bebas dari penyiksaan • Hak atas pekerjaan, upah yang layak dan
pendidikan 4 Akses terhadap
keadilan
• Peradilan yang mudah, cepat dan berbiaya
ringan
• Bantuan hukum kepada warga yang tidak
mampu
• Perlindungan kepada korban, pelapor dan
kompensasi kepada yang keliru din-yatakan bersalah
5 Peraturan yang terbuka dan jelas
• Mengikutsertakan publik dalam pembuatan
peraturan
• Kejelasan materi peraturan
• Akses terhadap peraturan
perundang-undangan
Kelima prinsip yang dipilih ini tentu saja bisa mengundang perdebatan. Oleh sebab itu, perlu disampaikan di sini bahwa ILR memandang kelima prinsip terpilih tersebut bukan merupakan prinsip negara hukum yang final. Kelima prinsip tersebut bersifat sementara yang akan dikembangkan terus agar mampu memenuhi pelbagai pandangan dan ekspektasi mengenai negara hukum Indonesia yang lebih ideal.
3. Pengumpulan data
Laporan ini menggunakan survei dan studi dokumen sebagai cara untuk mendapatkan data. Survei digunakan untuk mendapatkan data primer berupa persepsi, sedangkan studi dokumen digunakan untuk mendapatkan data-data sekunder berupa laporan
lembaga negara/pemerintah dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Laporan ini mengutamakan hasil survei sebagai data utama untuk melihat pemenuhan atau pelaksanaan kelima prinsip negara hukum di atas.
Namun kami menyadari bahwa mengandalkan hasil survei semata hanya akan menghasilkan penggam-baran dan analisa yang tidak proporsional. Latar belakang responden, terutama dari segi pendidikan dan pekerjaan, diyakini akan menyulitkan sebagian mereka untuk memahami pertanyaan-pertanyaan sehingga berpengaruh pada jawaban-jawaban yang diberikan.
Dengan maksud mendapatkan gambaran dan analisa yang proporsional, laporan ini menggunakan data-data studi dokumen sebagai pembanding untuk data-data survei. Data-data dari studi dokumen dibagi atas dua kelompok: Pertama, data-data normatif berupa peraturan perundangan dan putusan pengadilan; Kedua, data-data statistik berupa laporan resmi lembaga negara/pemerintah, LSM, dan lembaga internasional.
Survei Publik
Laporan ini menggunakan metode survei untuk mendapatkan gambaran mengenai persepsi publik tentang seberapa jauh Indonesia telah melaksanakan atau memenuhi kelima prinsip terpilih negara hukum. Survei dilakukan dengan metode multi stage random sampling. Responden yang disurvei adalah warga negara Indonesia yang mempunyai hak pilih, yaitu mereka yang sudah berumur 17 tahun atau lebih, atau sudah menikah ketika survei dilakukan.
Jumlah sampel sebanyak 1.220 responden. Dengan jumlah sampel sebanyak itu, margin of error diperkirakan
kurang lebih 3 %, dengan tingkat kepercayaan sebesar 95%. Seluruh responden diwawancari lewat tatap muka oleh pewawancara yang telah dilatih. Satu pewawancara bertanggung jawab mewawancari para responden dalam satu desa/kelurahan, yang masing-masing terdiri dari 10 orang.
Untuk memastikan kualitas (quality control) hasil wawancara yang dilakukan oleh pewawancara, supervisor melakukan wawancara secara random terhadap responden terpilih (spot check) yang jumlahnya mencapai 20% dari total sampel. Setelah dilakukan, quality control menemukan tidak ada kesalahan berarti pada wawancara sebelumnya. Seluruh wawancara berlangsung pada 6-14 Desember 2012.
Dengan menggunakan metode multi stage random
sampling, responden ditentukan dengan menggunakan 3 tahap pengelompokan.
Tahap pertama, populasi pemilih dikelompokan menurut provinsi. Di masing-masing provinsi ditentukan jumlah pemilih sesuai dengan jumlah populasi. Atas dasar ini dipilih desa dan kelurahansecara random sebagai primary sampling unit. Jumlah desa atau keluruhan terpilih ditentukan oleh jumlah pemilih di masing-masing provinsi. Seperti sudah disebutkan setiap desa ditetapkan 10 responden dengan komposisi 5 laki-laki dan 5 perempuan. Kesepuluh responden tersebut dipilih secara random. Sekedar memberi contoh, bila di Provinsi Jawa Barat (Jabar) prosentase pemilih adalah 18% dan di Nusa Tenggara Barat (NTB) 2%, maka untuk Provinsi Jabar akan disurvei di 18 desa/kelurahan dan NTB di 2 desa/kelurahan.
Tahap kedua, populasi pemilih dikelompokan ke dalam kategori yang tinggal di pedesaan (desa) dan perkotaan (kelurahan) dengan komposisi 50% : 50%. Setelah
menentukan jumlah desa atau kelurahan selanjutnya dihitung jumlah rukun tetangga (RT) atau yang setingkat dengan itu. RT yang masuk dalam cakupan survei masing-masing 5 buah untuk setiap desa atau kelurahan yang dipilih secara random. Langkah terakhir dari tahapan kedua ini adalah menentukan 2 keluarga setiap RT yang dipilih secara random juga.
Tahap ketiga, populasi pemilih dikelompokan menurut jenis kelamin dengan komposisi 50% laki-laki dan 50% perempuan. Setelah ditentukan 2 keluarga untuk setiap RT sebagaimana yang dilakukan pada tahap kedua, langkah berikutnya adalah mendaftar seluruh anggota keluarga yang mempunyai hak pilih, baik laki-laki atau perempuan. Langkah terakhir dari tahap ketiga ini adalah memilih secara random siapa yang akhirnya menjadi responden. Aturan mainnya, bila pada keluarga pertama yang dipilih adalah responden perempuan maka pada keluarga kedua respondennya otomatis laki-laki. Demikian pula sebaliknya.
Indeksisasi
Sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa ILR memilih 5 prinsip negara hukum yang dianggap berlaku umum. Untuk keperluan membuat kelima prinsip tersebut lebih aplikatif, masing-masing prinsip tersebut diurai ke dalam indikator. Indikator selanjutnya diurai ke dalam pertanyaan. Terdapat 16 indikator dan 49 pertanyaan. Setiap indikator diukur dengan menggunakan skala ordinal 4 titik yaitu 1-4 dengan kualifikasi 1 berarti rendah dan 4 berarti tinggi.
Tahap pertama yang dilakukan adalah menganalisis reliabilitas dan unidimensionalitas kelima prinsip dan 16 indikator. Berdasarkan analisis tersebut pertanyaan yang tidak layak dikeluarkan.
Tahap berikutnya adalah pembuatan skor atau indeks. Skor setiap indikator diperoleh dari rata-rata jawaban responden; skor setiap prinsip diperoleh dari rata-rata skor indikatornya; dan akhirnya IPNHI diperoleh dari rata-rata skor masing-masing prinsip. Dengan demikian, setiap skor pada awalnya mempunyai interval 1-4.
Skor akhir yang diinginkan adalah skor dengan interval 0-10. Untuk tujuan tersebut dibentuk skor akhir dengan formula berikut: skor akhir = (skor - 1) / 3 × 10.
Tabel 1.3
Demografi Responden Berdasarkan Gender, Desa-Kota, dan Usia
Kategori Sampel BPS Gender Laki-laki 49,8 50,3 Perempuan 50,2 49,7 Desa-Kota Pedesaan 50,6 50,2 Perkotaan 49,4 49,8 Usia < 25 Tahun 13,2 % 26-40 Tahun 39,7 % 41-55 Tahun 29,3 % > 55 Tahun 17,8 %
Tabel 1.4
Demografi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan dan Pekerjaan
Tingkat Pendidikan < SD 51,7 % SLTP 18,6 % SLTA 22,9 % PT 6,8 % Pekerjaan Petani/Peternak/Nelayan 27,0 % Buruh Kasar/ Pembantu/ Kerja Tidak Tetap/ Supir/
Ojek/ Satpam/ Hansip 13,7 % Pedagang/Wiraswasta 11,0 % Pegawai Negeri/ Pegawai Desa/ Guru/ Dosen 4,7 % Pegawai Swasta/ Profesional 6,6 % Ibu Rumah Tangga 24,4 %
Lainnya 12, 6 %
Sumber: Laporan Survei Nasional Lembaga Survei Indonesia, Desember 2012
Tabel 1.5
Demografi Responden Berdasarkan Agama dan Etnis
Kategori Sampel BPS Agama Islam 87,2 87,2 Katholik/Protestan 9,2 9,8 Lainnya 3,8 3,0 Etnis Jawa 40,0 40,2 Sunda 15,9 15,5 Melayu 2,3 2,3 Madura 3,0 3,0 Bugis 2,7 2,7 Betawi 2,9 2,9 Batak 3,6 3,6 Minang 2,7 2,7 Lainnya 27,1 27,1
Tabel 1.6
Demografi Responden Berdasarkan Provinsi
Kategori Sampel BPS Kategori Sampel BPS
Provinsi Provinsi NAD 1,9 1,9 NTB 1,9 1,9 Sumut 4,8 5,5 NTT 1,9 2,0 Sumbar 1,3 2,0 Kalbar 1,0 1,8 Riau 1,9 2,3 Kalteng 0,9 0,9 Jambi 0,8 1,3 Kalsel 1,9 1,5 Sumsel 3,1 3,1 Kaltim 1,7 1,5 Bengkulu O,5 0,7 Sulut 0,9 1,0 Lampung 3,5 3,2 Sulteng 0,9 1,1 Babel 0,4 0,5 Sulsel 3,2 3,4 Kepri 0,8 0,7 Sultra 0,9 0,9 DKI 4,7 4,0 Gorontalo 0,9 0,4 Jabar 17,1 18,1 Sulbar 0,9 0,5 Jateng 14,4 13,6 Maluku 0,9 0,6 DIY 1,7 1,5 Malut 0,9 0,4 Jatim 16,6 15,8 Papua 0,9 1,2 Banten 4,0 4,5 Papua Barat 0,9 0,3 Bali 1,9 1,6
Sumber: Laporan Survei Nasional Lembaga Survei Indonesia, Desember 2012
Studi Dokumen
Sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa studi dokumen menghasilkan data normatif dan statistik. Data normatif akan mencakup undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan presiden, peraturan menteri, peraturan daerah serta putusan Mahkamah Konstitusi (MK) dan Mahkamah Agung (MA). Mengikuti metode pengelompokan data survei, data studi dokumen juga disusun ke dalam prinsip, indikator, dan pertanyaan.
Berkenaan dengan data statistik berupa laporan resmi lembaga negara/pemerintah, LSM dan lembaga internasional, perlu disampaikan bahwa tidak semua prinsip atau indikator negara hukum tersedia laporan sebagai data pendukung. Hal ini terjadi karena tidak terdapat laporan mengenai prinsip atau indikator tertentu. Sekalipun laporan tersebut tersedia tidak dengan sendirinya dapat dipakai sebagai alat ukur untuk mengetahui seberapa jauh prinsip atau indikator tertentu telah dilaksanakan atau dipenuhi.