• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penghormatan, Pengakuan dan

Dalam dokumen Indeks Persepsi Negara Hukum 2012 (1) (Halaman 50-165)

BAB II Survei Publik

C. Penghormatan, Pengakuan dan

HAM memiliki jumlah indikator yang paling banyak dibandingkan dengan indikator-indikator prinsip negara hukum lainnya. Dalam prinsip ini terdapat 5 indikator yang kemudian dijabarkan dalam sejumlah pertanyaan yang dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.

Tabel 2.3

Tabel Indikator dan Pertanyaan Prinsip Penghormatan, Pengakuan, dan Perlindungan HAM

No Indikator Pertanyaan

1 Kebebasan berserikat, berkumpul, dan menyatakan pendapat

• Jaminan atas hak menyatakan

penda-pat atau pemikiran secara terbuka;

• Jaminan kebebasan berkumpul dan

berserikat;

• Jaminan kebebasan pers.

2 Kebebasan beragama dan berkeyakinan

• Pemerintah memberikan jaminan

kebebasan bagi warga negara dalam menjalankan ajaran agama sesuai dengan keyakinannya masing- masing;

• Apakah kekerasan atas nama agama

sudah diproses hukum oleh penegak hukum;

• Negara sudah menjamin dan

melin-dungi hak-hak penganut agama minoritas seperti halnya penganut agama mayoritas

• Negara sudah menjamin dan

melin-dungi hak-hak kelompok agama minoritas, seperti Ahmadiyah, Syiah dll, seperti halnya penganut agama mayoritas Islam.

3 Perlakuan yang tidak diskriminatif

Persepsi publik yang hendak diketahui melalui indikator ini adalah perlindu-ngan terhadap kelompok perempuan, minoritas dan masyarakat adat.

4 Hak untuk hidup dan bebas dari penyiksaan

Lewat indikator ini survei hendak menggali persepsi publik mengenai jaminan untuk tidak disiksa selama proses pemeriksaan peradilan pidana dan extra judicial killing yang dilakukan oleh aparat penegak hukum.

5 Hak untuk mendapatkan penghidupan yang layak

Indikator yang terakhir ini mencari-tahu persepsi publik mengenai jaminan kehidupan yang layak.

Kebebasan berserikat, berkumpul, dan menyatakan pendapat

Publik sekarang sudah relatif terbebas dari rasa takut dalam mengemukakan pendapat, keinginan dan berorganisasi. Sebagian besar publik merasa tidak tertekan dan terancam dalam mengemukakan pendapat. Hal ini terungkap dari jawaban-jawaban yang diberikan responden terhadap tiga pertanyaan untuk indikator kebebasan berserikat, berkumpul, dan menyatakan pendapat.

Untuk pertanyaan pertama: kebebasan menyatakan pendapat, sebanyak 68% responden menjawab setuju, bahkan 7% responden di antaranya menjawab sangat setuju dengan pernyataan bahwa masyarakat sudah bebas dari rasa takut dalam menyatakan pendapat dan keinginannya. Hanya 16% responden yang menjawab tidak setuju, dan 1% responden menjawab sangat tidak setuju. Sedangkan sisanya: sebesar 8% responden, tidak menjawab.

Senada dengan jawaban dalam pertama, dalam pertanyaan kedua: tidak ada lagi orang yang mengalami tekanan/ancaman penjara karena mengemukakan pendapat, sebanyak 53% responden menjawab setuju, dan bahkan 4% responden sangat setuju, bila dikatakan bahwa di Indonesia tidak ada lagi orang yang mengalami tekanan/ancaman penjara karena mengemukakan pendapat. Sebaliknya, terdapat 27% responden yang menjawab tidak setuju, dan hanya 2% responden yang menjawab sangat tidak setuju. Sisanya sebesar 14% responden tidak menjawab pertanyaan ini.

Begitu juga dengan jawaban terhadap pertanyaan ketiga: sebanyak 68% responden menjawab setuju dengan pernyataan bahwa warga negara tidak lagi merasa takut untuk aktif dalam organisasi sosial dan politik. Bahkan 5% responden menjawab sangat setuju. Hanya 13% responden yang menjawab tidak setuju, dan 1% responden menjawab sangat tidak setuju bahwa warga negara tidak lagi merasa takut untuk aktif dalam organisasi sosial dan politik. Sedangkan sisanya sebesar 13% responden tidak menjawab pertanyaan ini.

Publik juga menilai bahwa para pekerja pers telah mendapat perlindungan dari negara terutama saat meliput atau menyajikan berita. Hal tersebut tecermin ketika 64% responden menjawab setuju, bahkan 4% responden berpendapat sangat setuju, dengan pernyataan bahwa wartawan sudah mendapat perlindungan dalam menjalankan tugasnya. Sebaliknya, hanya 14% responden yang menjawab tidak setuju, dan 1% responden sangat tidak setuju. Sedangkan 17% responden tidak menjawab pertanyaan.

Kebebasan beragama dan berkeyakinan

Ketika ditanyakan perihal kebebasan memeluk dan menjalankan agama sesuai dengan keyakinannya masing-masing, sebanyak 78% responden menjawab setuju dan bahkan 10% responden menjawab sangat setuju bahwa negara telah memberikan jaminan terhadap warga negaranya dalam memeluk dan menjalankan agamanya masing-masing. Pada sisi lain, hanya 6% responden yang berpendapat tidak setuju. Sisanya 6% responden tidak menjawab.

Terhadap pertanyaan apakah kekerasan atas nama agama sudah diproses hukum oleh aparat penegak hukum, sebanyak 71% responden menjawab setuju, bahkan 5% menjawab sangat setuju bahwa aparat penegak hukum telah memproses tindakan kekerasan yang mengatasnamakan agama. Sebaliknya, 12% responden menjawab tidak setuju, dan 1% sangat tidak setuju. Sebanyak 11% tidak menjawab tidak tahu/tidak jawab.

Terhadap pertanyaan apakah negara sudah memberikan perlindungan kepada penganut agama minoritas, secara mengejutkan sebanyak 76% responden menyatakan setuju, bahkan 4% responden menjawab sangat setuju. Hanya 10% responden yang menyatakan tidak setuju dan 1% sangat tidak setuju. Sisanya sebesar 9 % responden menjawab tidak tahu/tidak menjawab.

Sedangkan terhadap pertanyaan apakah negara sudah mengakui dan melindungi hak-hak penganut kelompok agama minoritas seperti Ahmadiyah, Syiah dan lainnya,

apresiasi responden menurun. Sebanyak 42% responden mengatakan setuju dan 2% sangat setuju bahwa negara sudah mengakui dan melindungi kelompok agama minoritas seperti Ahmadyah, Syiah, dan lainnya. Sedangkan 32% responden menyatakan tidak setuju bila negara sudah mengakui dan melindungi mereka. Bahkan 3% responden berpendapat sangat tidak setuju. Sisanya sebesar 21% responden menjawab tidak tahu/tidak jawab.

Perlakuan yang tidak diskriminatif

Mayoritas responden juga berpersepsi negara sudah mengakui, melindungi dan memberikan hak-hak yang sama kepada kelompok etnis minoritas. Hal ini tecermin dari 66% responden yang menjawab setuju dan 3% responden menjawab sangat setuju. Hanya 12% responden yang menjawab tidak setuju dan 1% responden menjawab sangat tidak setuju. Sisanya sebesar 18% responden menjawab tidak tahu/tidak jawab.

Persepsi yang sama juga tecermin terhadap masyarakat adat: negara dipersepsikan sudah melindungi dan memberikan hak-hak yang sama kepada masyarakat adat seperti halnya kepada masyarakat umum. Hal itu tecermin dari 64% responden menjawab setuju, dan 3% responden menjawab sangat setuju. Sedangkan yang menjawab sebaliknya, tidak setuju dan sangat tidak setuju, sebanyak 14% dan 1% responden. Sisanya sebesar 18% responden menjawab tidak tahu/tidak menjawab.

Demikian pula terhadap perlindungan dan persamaan kepada perempuan: negara dipersepsikan sudah melindungi dan memberikan hak-hak yang sama kepada perempuan seperti halnya kepada laki-laki. Hal itu tecermin dari 74% responden yang menjawab setuju, bahkan 5% responden menjawab sangat setuju. Sedangkan 11% responden menjawab tidak setuju. Sisanya sebesar 10% responden menjawab tidak tahu/tidak menjawab.

Hak untuk hidup dan bebas dari penyiksaan

Apabila responden ditanya mengenai jaminan terhadap hak atas hidup maupun bebas dari penyiksaan, sebanyak 55% responden menilai bahwa aparat penegak hukum terhadap berhati-hati untuk tidak menghilangkan nyawa warga negara selama proses penegakan hukum. Bahkan 3% responden menjawab sangat setuju. Sebaliknya terdapat 24% responden yang menjawab tidak setuju, dan 2% responden menjawab sangat tidak setuju. Sisanya sekitar 16% responden menjawab tidak tahu/tidak jawab.

Sebagian besar responden merasa bahwa aparat penegak hukum tidak akan melakukan penyiksaan selama proses penahanan. Hal itu tecermin dari 46% responden yang menjawab setuju dan 3% responden yang menjawab sangat setuju. Sebaliknya, sebanyak 33% responden menjawab tidak setuju bahwa aparat penegak hukum tidak akan melakukan penyiksaan selama proses penahanan. Bahkan 3% responden menjawab sangat tidak setuju. Sisanya sebanyak 15% responden menjawab tidak tahu/tidak jawab.

Hak untuk mendapatkan penghidupan yang layak Apabila ditanya mengenai ketersedian lapangan kerja, sebagian besar responden menjawab negara masih gagal menyediakan lapangan pekerjaan. Hal itu tecermin dari 27% responden yang menjawab setuju dan 3% responden menjawab sangat setuju. Sebaliknya terdapat 57% responden yang menjawab tidak setuju dan 3% responden yang menjawab sangat tidak setuju bahwa lapangan kerja yang tersedia dapat menampung kebutuhan jumlah tenaga kerja yang ada. Sisanya sebesar 5% responden menjawab tidak tahu/tidak menjawab.

Sedangkan mengenai apakah upah minimum daerah sudah dapat mencukupi kebutuhan dasar masyarakat sehari-hari, ternyata masyarakat merasa upah minimum daerah belum mencukupi. Hal itu tecermin dari jawaban 55% responden yang memilih tidak setuju, bahkan 5% responden menyatakan sangat tidak setuju. Hanya 29% responden yang menyatakan setuju, dan 2% responden sangat setuju. Sisanya, 9% responden menjawab tidak tahu/menjawab.

Mengenai pertanyaan pendidikan murah dan berkuali-tas, lebih dari setengah responden merasa pendidikan yang murah dan berkualitas sudah tersedia. Hal itu tecermin dari 50% responden yang menjawab setuju, dan 3% responden yang menjawab sangat setuju. Sedangkan yang menjawab ti-dak setuju sebesar 37% responden, dan 4% responden men-jawab sangat tidak setuju. Sisanya sebesar 6% responden ti-dak tahu/menjawab.

Apabila semua indikator diakumulasikan, maka indeks un-tuk prinsip Penghormatan, Pengakuan, dan Perlindungan HAM berada pada angka 5.74. Angka tersebut merupakan akumulasi dari skor rata-rata yang didapatkan dari 5 indikator, yaitu:

1.

Kebebasan berserikat, berkumpul dan menyatakan pendapat (6.07);

2.

Kebebaan beragama dan berkeyakinan (6.54);

3.

Perlakuan yang tidak diskriminatif (6.08);

4.

Hak untuk hidup dan bebas dari penyiksaan (5.44); dan

5.

Hak untuk mendapatkan penghidupan yang layak (4.58). D. Akses Terhadap Keadilan

Prinsip negara hukum berikutnya adalah prinsip Akses Terhadap Keadilan. Terdapat tiga indikator untuk prinsip ini, yaitu:

Tabel 2.4

Tabel Indikator dan Pertanyaan Prinsip Akses terhadap Keadilan

No Prinsip Pertanyaan 1 Peradilan yang mudah,

cepat, dan berbiaya ringan

• Kecenderungan pilihan responden

dalam menyelesaikan masalah hukum mereka;

• Faktor-faktor yang mendorong

respon-den untuk memilih penyelesaian hukum-nya melalui lembaga peradilan; dan

• Faktor-faktor yang menghambat

responden untuk memilih penyelesaian hukumnya melalui lembaga peradilan. 2 Bantuan hukum kepada

warga yang tidak mampu

• Kewajiban negara untuk menyediakan

bantuan hukum untuk warga yang tidak mampu;

• Kesesuaian antara bantuan hukum

yang diberikan oleh negara dengan kebutuhan masyarakat; dan

• Kualitas pekerja bantuan hukum yang

disediakan oleh negara. 3 Perlindungan kepada

korban, pelapor dan kompensasi kepada yang keliru dinyatakan bersalah.

• Kewajiban negara untuk memberikan

perlindungan kepada korban;

• Kewajiban negara untuk memberikan

perlindungan kepada pelapor; dan

Peradilan yang mudah, cepat, dan berbiaya ringan Dari pertanyaan mengenai preferensi masyarakat dalam menyelesaikan masalah hukumnya, dapat diketahui bahwa masyarakat Indonesia lebih condong untuk menyelesaikan masalah hukumnya melalui jalur hukum. Hal itu terlihat dari 48% responden yang menjawab kemungkinan besar akan, dan 19% responden yang menjawab ya, pasti akan. Sebaliknya, hanya 23% responden yang menjawab kemungkinan besar tidak akan dan 9% responden menjawab pasti tidak akan. Hanya 1 % responden yang menjawab tidak tahu/jawab.

Jika kelompok responden yang menjawab ‘ya, pasti akan’ dan ‘kemungkinan besar akan’ menyelesaikan masalah hukumnya ke penegak hukum yang berjumlah 67% tersebut argumentasinya digali lebih dalam, maka mayoritas alasan mereka adalah mendapatkan keadilan (70%). Setelah itu, berturut-turut: akan mendapatkan kepastian (27%); prosesnya cepat (9%); prosesnya mudah (7%); biaya yang murah (4%), dan lainnya (45). Hanya 7% respoden yang menjawab tidak tahu/menjawab.

Sedangkan 31% responden yang memilih kemungkinan besar tidak akan dan pasti tidak akan menyelesaikan masalah hukumnya lewat jalur peradilan ditanyakan alasannya, maka alasan paling banyak adalah dikarenakan prosesnya berbelit-belit (44%). Berturut-turut dikarenakan: biaya yang mahal (37%); memakan waktu (16%); tidak akan mendapatkan kepastian (14%); tidak akan mendapatkan keadilan (11%); alasan lainnya (16%). Sedangkan jawaban tidak tahu/tidak menjawab sebesar 12%.

Bantuan hukum kepada warga yang tidak mampu Dari pertanyaan sudah seberapa banyak negara memberikan bantuan hukum cuma-cuma kepada warga yang tidak mampu, mayoritas responden menjawab bantuan hukum yang diberikan negara masih sedikit. Hal itu tecermin dari 32% respoden yang menjawab sedikit dan 24% responden yang menjawab sangat sedikit. Hanya 15% responden yang menjawab bantuan hukum cuma-cuma yang diberikan negara cukup banyak dan 3% responden yang menjawab sangat banyak. Sedangkan yang responden yang menjawab tidak tahu/tidak jawab cukup banyak, sebesar 26% responden.

Sekalipun mayoritas responden (56%) berpendapat bahwa bantuan hukum cuma-cuma yang diberikan oleh negara masih sedikit, namun mayoritas mereka berpendapat bahwa bantuan hukum yang masih sedikit tersebut sudah sesuai dengan kebutuhan. Hal itu tecermin dari 70% responden yang menjawab setuju, bahkan 6% responden menjawab sangat setuju. Hanya 22% responden yang menjawab tidak setuju. Sisanya, sebesar 2% responden menjawab tidak tahu/jawab.

Apresiasi responden terhadap bantuan hukum cuma-cuma yang disediakan oleh negara berlanjut ketika mereka dimintai pendapat mengenai kualitas para pekerja bantuan hukum yang memberikan bantuan. Sebanyak 66% responden setuju dan 8% responden sangat setuju bahwa para pekerja bantuan hukum tersebut berkualitas. Pada sisi lainnya, hanya 20% responden yang menyatakan tidak setuju dan 1% responden sangat tidak setuju (1% ) bila para pekerja bantuan hukum tersebut sudah berkualitas. Sisanya, 5% responden menjawab tidak tahu/tidak menjawab.

Perlindungan kepada korban, pelapor dan kompensasi kepada yang keliru dinyatakan bersalah.

Indikator ketiga yang ingin diketahui dari prinsip Akses terhadap Keadilan adalah perlindungan yang diberikan negara baik kepada korban maupun pelapor pelanggaran hukum. Termasuk di dalamnya kompensasi/ganti rugi kepada yang keliru dinyatakan bersalah. Secara garis besar, mayoritas responden memberikan apresiasi terhadap perlindungan yang diberikan negara kepada korban dan pelapor. Namun kompensasi/ganti rugi yang diberikan negara kepada pihak/ orang yang keliru dinyatakan bersalah, penilaian responden terlihat ‘terpecah’.

Untuk pertanyaan pertama: apakah negara sudah memberikan perlindungan terhadap korban secara memadai? Hasil survei menunjukan bahwa 49% responden menyatakan setuju, bahkan 2% responden menyatakan sangat setuju. Sebaliknya terdapat 30% responden menyatakan tidak setuju dan 1% responden menyatakan sangat tidak setuju. Sisanya sebanyak 18% menjawab tidak tahu/jawab.

Komposisi jawaban yang relatif sama juga diberikan responden terhadap pelapor. 51% responden berpendapat setuju dan 2% responden berpendapat sangat setuju bahwa negara sudah memberikan perlindungan hukum secara memadai terhadap pelapor. Hanya 26% responden yang berpendapat tidak setuju dan 1% sangat tidak setuju bila negara sudah memberikan perlindungan hukum yang memadai terhadap pelapor. Sedangkan jumlah responden yang menjawab tidak tahu/menjawab cukup banyak, yaitu sebesar 20% responden.

Jika ditanyakan mengenai kompensasi/ganti rugi yang diberikan oleh negara kepada pihak yang keliru didakwa/ dinyatakan bersalah oleh pengadilan, 34 % responden menjawab setuju, bahkan 2% responden menjawab sangat setuju, bila dikatakan negara sudah memberikan kompensasi/ ganti rugi yang memadai kepada pihak yang keliru didakwa/ dinyatakan bersalah oleh pengadilan. Sebaliknya terdapat pula 34% responden yang menjawab tidak setuju dan 3% responden menjawab sangat tidak setuju. Sebanyak 27% responden menjawab tidak tahu/menjawab.

Dalam prinsip ini hanya dua indikator yang dapat diukur, yaitu indikator pemberian bantuan hukum kepada warga yang tidak mampu dan perlindungan kepada korban, pelapor dan kompensasi bagi kepada yang keliru dinyatakan bersalah oleh pengadilan. Hal ini disebabkan dalam proses indeksisasi, indikator peradilan mudah, cepat, dan biaya ringan tidak memenuhi prinsip unidimensionalitas dan realibilitas.

Apabila dua indikator dalam prinsip Akses terhadap Keadilan ini diakumulasikan secara rata-rata, maka indeks untuk prinsip ini berada pada angka 4.27. Angka tersebut didapat dari indikator pemberian bantuan hukum kepada warga yang tidak mampu yang berada pada angka 3.21; dan indikator perlindungan kepada korban, pelapor, dan kompensasi bagi kepada yang keliru dinyatakan bersalah berada pada angka 5.33.

E. Peraturan yang Terbuka dan Jelas

Sama seperti prinsip Akses terhadap Keadilan, prinsip Peraturan yang Terbuka dan Jelas juga memiliki 3 (tiga) indi-kator. Ketiga indikator dan pertanyaan-pertanyaan turunan-nya dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.

Tabel 2.5

Tabel Indikator dan Pertanyaan Prinsip Peraturan yang Terbuka dan Jelas

Indikator Pertanyaan

Mengikutsertakan publik dalam pembuatan peraturan

• Kewajiban negara untuk memberikan in -formasi mengenai peraturan yang akan dibuat;

• Kewajiban pemerintah dalam

mempub-likasikan materi rancangan peraturan perundang-undangan kepada masyarakat;

• Kewajiban pemerintah dalam memberikan

kesempatan bagi masyarakat untuk mem-berikan tanggapan dalam pembuatan suatu peraturan perundang-undangan; dan

• Mekanisme pelibatan masyarakat dalam

pembentukan peraturan perundang- undangan.

Kejelasan materi peraturan

• Kejelasan rumusan bahasa peraturan

perundang-undangan;

• Kerugian yang ditimbulkan oleh berlakun -ya suatu peraturan perundang-undangan; dan

• Penyebab merugikannya suatu peraturan

perundang-undangan. Akses terhadap

peraturan perundang-undangan

• Kewajiban negara dalam mensosialisa -sikan peraturan-perundangan yang baru disahkan; dan

• Kewajiban negara dalam mempublikasikan

peraturan perundang-undangan yang baru disahkan.

Mengikutsertakan publik dalam pembuatan peraturan

Informasi terhadap publik mengenai rencana pembuatan peraturan masih sangat sedikit dilakukan oleh negara. Hal tersebut terungkap dari 65% jawaban responden yang menyatakan tidak pernah mendapatkan informasi mengenai peraturan yang akan dibuat. Dan sebanyak 21% responden menyatakan jarang. Hanya sebagian kecil responden yang menjawab sering mendapatkan informasi mengenai hal tersebut, dengan rincian: 11% responden menyatakan cukup sering dan 2% responden sangat sering. Sedangkan sisanya 1% responden menjawab tidak tahu/menjawab.

Dari 34% responden yang mengatakan pernah mendapatkan informasi mengenai rencana pembuatan peraturan perundang-undangan, 42% responden di antaranya mengatakan bahwa pemerintah jarang memberikan informasi mengenai materi peraturan yang akan dibuat. Sedangkan 12% responden menyatakan tidak pernah mendapatkan informasi tersebut. Sebaliknya sebanyak 36% responden menyatakan cukup sering, dan 6% responden menyatakan sangat sering. Sisanya 4% responden menjawab tidak tahu/menjawab.

Bagi 42% responden yang mendapatkan informasi dari pemerintah mengenai materi peraturan yang akan dibuat tidak dengan sendirinya diberikan kesempatan untuk menanggapi rancangan peraturan yang akan dibuat tersebut. Hal ini tecermin dari 38% responden yang menyatakan tidak pernah diberikan kesempatan untuk memberikan tanggapan. Hanya 27% responden mengatakan masih diberi kesempatan namun jarang. Sebaliknya terdapat 22% responden yang mengatakan cukup sering dimintai tanggapan, dan 2% responden mengatakan sangat sering. Sisanya sebesar 11% responden menjawab tidak tahu/menjawab.

Terhadap responden yang menjawab merasa pernah diberikan kesempatan oleh pemerintah untuk menanggapi rancangan peraturan yang akan dibuat, cara paling sering yang dilakukan oleh pemerintah adalah dengan dimintai pendapat (43%). Menyusul kemudian: lewat dengar pendapat (38%); kotak saran (24%); dan sarana lainnya (4%). Sedangkan 8% responden menjawab tidak tahu/menjawab.

Kejelasan materi peraturan

Selain minim informasi mengenai rencana dan materi peraturan yang akan dibuat, mayoritas responden juga menyatakan tidak pernah membaca peraturan yang dibuat oleh negara. Hal itu tecermin dari 75% responden yang menjawab tidak pernah, dan 16% responden yang menjawab jarang. Hanya 7% responden yang menyatakan cukup sering dan 1% responden cukup sering. Sisanya 1% responden menjawab tidak tahu/menjawab.

Menariknya dari 24% responden yang mengatakan pernah membaca peraturan yang dibuat negara (baik jarang, cukup sering, dan sangat sering), berpendapat bahwa bahasa peraturan dapat dipahami. Hal itu tecermin dari 69% responden yang menyatakan cukup baik dan 11% responden menyatakan sangat baik. Sebaliknya hanya 11% responden yang mengatakan kurang baik, dan 1% responden yang menyatakan tidak baik sama sekali. Sisanya sebesar 8% responden menjawab tidak tahu/menjawab.

Sekalipun mayoritas responden minim informasi dan jarang diberikan kesempatan untuk memberikan masukan dalam pembuatan peraturan perundang-undangan, namun mayoritas responden juga merasa tidak pernah dirugikan oleh peraturan. Hal itu tecermin dari 68% responden yang menjawab tidak pernah, dan 23% responden yang menjawab jarang. Hanya 23% responden yang menyatakan cukup sering dan 7% menyatakan sangat sering dirugikan. Sisanya 1% responden menjawab tidak tahu/menjawab.

Dari 30% responden yang dirugikan oleh pemberlakuan peraturan (baik cukup sering dan sangat sering), mengemukakan beberapa alasan. Alasan paling dominan adalah peraturan tersebut tidak adil (42%). Selanjutnya berturut-turut: peraturan yang sering mengalami perubahan (36%); peraturan yang tumpang tindih (17%); peraturan yang menggunakan bahasa yang tidak jelas (9%); peraturan yang berlaku surut (7%); dan alasan lainnya (4%). Sedangkan sebanyak 12% responden menjawab tidak tahu/menjawab.

Akses terhadap Peraturan Perundang-undangan Mirip dengan informasi mengenai rencana pembuatan dan materi peraturan, pengetahuan responden mengenai peraturan yang disahkan juga minim. Hal itu tecermin dari 19% responden yang menjawab jarang, bahkan 70% responden menjawab tidak pernah tahu. Hanya 9% responden yang menyatakan cukup sering, dan 1% menyatakan sangat sering. Sisanya 1% responden menjawab tidak tahu/menjawab.

Terhadap responden yang mengatakan mengetahui peraturan yang baru disahkan ditanyakan dari mana mereka mendapatkan sumber informasi, sebagian besar responden menjawab melalui televisi (81%). Selanjutnya berturut-turut: melalui penjelasan/cerita orang lain (21%); melakui koran (19%); melalui internet (10%); melalui radio (7%); melalui lembaga resmi (4%); dan lainnya (2%). Sedangkan sebanyak 11% responden menjawab tidak tahu/menjawab.

Jika semua indikator dalam prinsip Peraturan yang Jelas dan Terbuka diakumulasikan, maka untuk prinsip ini mendapatkan angka indeks 3,13. Angka ini merupakan penjumlahan dari skor rata-rata untuk ketiga indikator, yaitu: mengikutsertakan publik dalam pembuatan peraturan dengan angka 1,38; kejelasan materi peraturan dengan angka 6,63; dan akses terhadap peraturan perundang-undangan dengan angka 1,39. Angka untuk prinsip Peraturan yang Jelas dan Terbuka sebesar 3,13 merupakan angka indeks paling kecil dibandingkan dengan angka yang diperoleh prinsip lainnya.

F. Indeks Persepsi Negara Hukum (Rule of Law) Indonesia Tahun 2012

Hasil survei terhadap seluruh pertanyaan dan indikator dari kelima prinsip negara hukum terpilih akan dikonversi menjadi indeks. Dari perhitungan tersebut diketahui bahwa prinsip Penghormatan, Pengakuan dan Perlindungan HAM mendapatkan skor tertinggi, yakni 5,74. Berturut-turut adalah prinsip Pemerintahan Berdasarkan Hukum (4,77); Independensi Kekuasaan Kehakiman (4,72); Akses Terhadap Keadilan (4,28); dan prinsip Peraturan yang Terbuka dan Jelas (3,13).

Bila indeks kelima prinsip negara hukum tersebut diakumulasikan maka untuk Indeks Persepsi Negara Hukum Indonesia (IPNHI) Tahun 2012 berada pada angka 4,53. Tabel di bawah ini menunjukan rincian skor indeks yang diperoleh masing-masing prinsip negara hukum dilengkapi dengan skor indeks masing-masing indikator.

Tabel 2.6

Indeks Persepsi Negara Hukum Indonesia Tahun 2012

No Prinsip Negara Hukum Skor Indeks

1. Pemerintahan Berdasarkan Hukum 4,77

Keseimbangan kekuasan antara legislatif,

eksekutif dan yudikatif 4,50

Dalam dokumen Indeks Persepsi Negara Hukum 2012 (1) (Halaman 50-165)

Dokumen terkait