Program pemerintah terkait konversi penggunaan energi dari minyak tanah ke gas elpiji ukuruan 3 kg telah berjalan selama 9 tahun. SPBE sebagai mata rantai dalam distribusi gas elpiji keberadaannya merata hampir di seluruh kabupaten dan kota di Indonesia sebagai konsekuensi dari program konversi energi tersebut. SPBE berperan melakukan pengisian gas elpiji ke dalam tabung elpiji 3 kg milik agen sehingga jika kinerja SPBE terganggu maka akan mengganggu proses distribusi dan suplai gas elpiji di masyarakat. Salah satu penyebab utama terganggunya kinerja SPBE adalah terjadinya kecelakaan kerja. Selain itu, kecelakaan yang terjadi di SPBE dapat berdampak lebih luas dan berbahaya jika dibandingkan dengan lingkungan kerja biasa. Disisi lain potret angka kecelakaan kerja di Indonesia sangat tinggi dan cenderung meningkat, 70 persen penyebabnya adalah karena rendahnya perilaku keselamatan kerja karyawan. Apabila rendahnya perilaku keselamatan kerja terjadi pula pada karyawan SPBE maka akan sangat berbahaya. Sehingga salah satu usaha yang sangat penting dalam rangka mencegah kecelakaan kerja di SPBE adalah dengan menciptakan perilaku keselamatan kerja karyawannya. Implikasi manajerial dari hasil penelitain ini diharapkan dapat turut membantu mensukseskan program pemerintah. Uraian di atas menjadi kerangka pemikiran penelitian ini dan ditunjukkan oleh Gambar 3.
Kerangka Konseptual Penelitian
Kepemimpinan keselamatan kerja, iklim keselamatan kerja (iklim safety), kepuasan kerja, motivasi keselamatan kerja (motivasi safety), dan kelelahan kerja diduga memiliki pengaruh terhadap perilaku keselamatan kerja (perilaku safety) karyawan di tempat kerja, baik secara langsung atau tidak. Kerangka konseptual hubungan dari beberapa variabel tersebut diperlihatkan pada Gambar 4. Definisi konseptual masing-masing variabel laten ditunjukkan oleh Tabel 2.
Tabel 2. Definisi Konseptual Variabel Laten
Hipotesis Penelitian
Hipotesis yang dapat dikembangkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
H1a Motivasi keselamatan kerja memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku keselamatan kerja.
H0a Motivasi keselamatan kerja tidak memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku keselamatan kerja.
H1b Kepemimpinan keselamatan kerja memiliki pengaruh posistif dan signifikan terhadap motivasi keselamatan kerja.
H0b Kepemimpinan keselamatan kerja tidak memiliki pengaruh positif dan signifikan pada motivasi keselamatan kerja.
No Variabel Laten Definisi Konseptual Dimensi/konstruk Pustaka 1. Telling
2. Selling
3. Participating
4. Delegating
1. Komitmen manajemen pada keselamatan 2. Pengawasan yang mendukung keselamatan 3. Dukungan keselamatan dari rekan kerja 4. Parstisipasi keselamatan dari karyawan 5. Tingkat kompetensi
1. Upah
2. Pekerjaan itu sendiri 3. Kesempatan promosi/karir 4. Pengawasan
5. Rekan kerja
1. Penurunan fungsi fisik
2. Penurunan fungsi mental
1. Dorongan untuk berperilaku selamat dalam bekerja
2. Kesediaan untuk berperilaku selamat dalam bekerja
1. Safety compliance
- Mengikuti prosedur keselamatan - Memakai dan memanfaatkan peralatan
keselamatan 2. Safety participation - Partisipasi - Peduli - Kontribusi Saito, 1999
Dorongan dan kesediaan karyawan untuk melakukan perilaku keselamatan kerja dan seluruh perilaku yang berkaitan dengannya.
Griffin, 2000
Respon perbuatan yang ditunjukkan oleh kepatuhan (safety compliance)dan partisifasi (safety participation) terhadap keselamatan kerja
Griffin dan Neal, 2006 Penurunan fungsi fisik dan
mental yang dirasakan oleh karyawan karena bekerja yang menyebebkan berkurangnya semangat kerja sehingga mengakibatkan efektifitas dan efesiensi kerja menurun
Hersey dan Blanchard dalam Yukl,
1989
Astuti, 2010
Persepsi yang dirasakan karyawan terkait kondisi keselamatan kerja di temapt kerja
Seo et all. 2004
Sikap karyawan terhadap dimensi-dimensi pekerjaan Gibson, 2000 Job Descriptive Index (JDI) 5 Motivasi Keselamata Kerja (MS) 6 Perilaku Keselamatan kerja (PS) 3 Kepuasan kerja (KK) 4 Kelelahan (KL) 1 Kepemimpinan Keselamatan Kerja (KS) 2 Iklim Keselamatan Kerja(IS)
Gaya pemimpin yang dirasakan oleh karyawan untuk
menunjukkan karakter khusus yang berhubungan dengan sikap dan perilaku yang spesifik terkait keselamatan kerja
H1c Kepuasan kerja memiliki pengaruh positif dan signifikan pada motivasi keselamatan kerja.
H0c Kepuasan kerja tidak memiliki pengaruh positif dan signifikan pada motivasi keselamatan kerja.
H1d Kepemimpinan keselamatan kerja memiliki pengaruh positif dan signifikan pada iklim keselamatan kerja.
H0d Kepemimpinan keselamatan kerja tidak memiliki pengaruh positif dan signifikan pada iklim keselamatan kerja.
H1e Iklim keselamatan kerja memiliki pengaruh positif dan signifikan pada motivasi keselamatan kerja.
H0e Iklim keselamatan kerja tidak memiliki pengaruh positif dan signifikan pada motivasi keselamatan kerja.
H1f Kepemimpinan keselamatan kerja memiliki pengaruh positif dan signifikan pada perilaku keselamatan kerja.
H0f Kepemimpinan keselamatan kerja tidak memiliki pengaruh positif dan signifikan pada perilaku keselamatan kerja.
H1g Kelelahan memiliki pengaruh negatif dan signifikan pada perilaku keselamatan kerja.
H0g Kelelahan tidak memiliki pengaruh negatif dan signifikan pada perilaku keselamatan kerja.
Tahapan Penelitian
Kegiatan penelitian ini dimulai dengan melakukan identifikasi permasalahan tentang suatu isu atau topik yang dirasakan sangat penting dan menarik untuk dijadikan tema penelitian. Topik terkait perilaku keselamatan kerja karyawan SPBE dipandang sangat menarik karena potret angka kecelakaan kerja di Indonesia sangat tinggi (129.911 kasus pada tyahun 2014) dan 70 persen disebabkan oleh perilaku tidak selamat dalam bekerja (Ginting 2013). Studi kasus pada karyawan SPBE memiliki nilai yang strategis mengingat SPBE merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari program pemerintah dalam konversi penggunaan energi dari minyak tanah ke gas elpiji. SPBE memiliki peranan yang sangat vital dalam menjaga kelancaran distribusi dan menjamin ketersediaan stok gas elpiji yang aman di masyarakat. Selanjutnya dilakukan studi pustaka terhadap teori dan hasil penelitian sebelumnya yang relevan sebagai dasar dalam menentukan metode penelitian yang akan digunakan. Meskipun memiliki nilai yang strategis, penulis belum menemukan satu pun jurnal terpublikasi terkait penelitian perilaku keselamatan kerja karyawan SPBE. Litelatur terkait teori dan penelitian terdahulu lebih banyak penulis dapatkan dari jurnal terpublikasi di luar negeri. Proses pengumpulan data primer dilakukan penulis dengan mendatangi para responden yang telah terpilih secara acak sebagai sampel penelitian, kemudian kepada mereka dibagikan kuesioner penelitian. Pengumpulan data sekunder dilakukan penulis dengan mendatangi instansi terkait secara langsung, diantaranya Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan Pusat dan Kantor Pertamina Region III. Setelah seluruh data terkumpul, dilakukan uji validitas dan reliablitas data sebelum dilakukan analisis dengan alat uji analisis yang telah ditentukan. Langkah terakhir, dilakukan pembahasan terhadap hasil analisis data berdasarkan teori yang ada untuk memperoleh kesimpulan penelitian.
Penentuan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada karyawan SPBE yang berada di Kota dan Kabupaten Bogor. Pertimbangan pemilihan Wilayah Bogor sebagai lokasi penelitian karena Bogor memiliki jumlah SPBE paling banyak di Indonesia (ada 20 SPPBE). Bogor juga merupakan salah satu wilayah penyangga ibu kota yang paling penting. Khusus berkaitan dengan ketersediaan suplai energi (elpiji), gejolak yang disebabkan oleh kelangkaannya di wilayah tersebut dampaknya akan cepat dirasakan oleh ibu kota yang pada akhirnya berdampak nasional. Dengan kebutuhan elpiji 4,3 juta tabung ukuran 3 kilogram per bulan atau 170 ribu tabung per hari untuk mencukupi 1,64 juta keluarga, maka jaminan ketersediaannya di Wilayah Bogor patut menjadi perhatian utama.
Penentuan Data dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer berupa data hasil wawancara langsung melalui pengisian kuesioner oleh karyawan SPBE bersubsidi yang berada di Wilayah Kota dan Kabupaten Bogor. Sementara itu, data sekunder dibutuhkan sebagai data penunjang dan diperoleh dari pihak-pihak terkait, seperti: Gasdom Pertamina Region III, Pemerintah Daerah Kota dan Kabupaten Bogor, dan BPJS Ketenagakerjaan.
Responden dan Pemilihan Responden
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan kuesioner. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan SPBE bersubsidi yang berada di Wilayah Kota dan Kabupaten Bogor. Pengambilan sampel dilakukan melalui teknik multy stage random sampling. Tahap pertama, Wilayah Bogor dibagi menjadi empat cluster, yaitu Timur, Barat, Utara, dan Tengah, kemudian SPBE yang ada dikelompokkan ke dalam beberapa cluster tersebut. Langkah selanjutnya, pemilihan SPBE sebagai sampel penelitian dilakukan dengan cara acak. Setelah SPBE yang menjadi sampel penelitian terpilih, tahap berikutnya dilakukan stratifikasi sampel karyawan berdasarkan lingkungan kerja. Karyawan dikelompokan berdasarkan lingkungan kerja di kantor dan di lapangan, kemudian mereka dipilih sebagai sampel penelitian secara acak. Skala pengukuran yang digunakan dalam kuesioner adalah skala interval dan skor sikap karyawan terhadap masing-masing pernyataan kuesioner dinyatakan dalam interval 1 sampai 9. Sebanyak 100 kuesioner disebar ke 10 SPBE yang terpilih secara acak, 92 yang kembali. Alasan yang tidak kembali karena kuesioner hilang dan tertinggal sewaktu pulang ke kampung halaman saat libur hari raya. Dari 94 kuesioner yang kembali, hanya 84 yang bisa dianalisis. Sisanya tidak bisa dianalisis karena terdapat kesalahan dalam pengisian. Jumlah kuesioner sebanyak 84 tersebut mewakili seluruh posisi yang ada di SPBE yang dipilih secara acak dan jumlahnya ditentukan secara proporsional berdasarkan jumlah karyawan pada masing-masing posisi tersebut. Dari 84 kuesioner yang valid, dianalisis hanya sebanyak 69 kuesioner yang berasal dari karyawan dengan lingkungan kerja di lapangan. Sebanyak 15 kuesioner yang berasal dari karyawan dengan lingkungan kantor tidak disertakan dalam analisis. Hal ini karena jumlahnya kurang memenuhi yang dipersyaratkan SEM-PLS (minimal 30 sampel) dan jumlah rata-rata skor kuesioner pada kedua lingkungan kerja tersebut tidak jauh berbeda.
Analisis Data
Uji validitas dan reliabilitas dilakukan terhadap kuesioner untuk memastikan bahwa seluruh pernyataan dalam kuesioner valid dan reliabel. Selanjutnya dilakukan analisis untuk mengetahui hubungan diantara variabel-variabel yang diteliti dengan
Structural Equation Modelling – Partial least square (SEM-PLS).
Uji Validitas dan Reliabilitas Kuesioner
Hasil analisis uji validitas menujukkan bahwa seluruh butir pernyataan kuesioner memiliki koefisein korelasi yang cukup tinggi atau > 0.25, sebagaimana ditunjukkan pada Lampiran 1. Hal ini mengandung pengertian bahwa seluruh butir-butir pernyataan valid dan saling berhubungan dengan konsep-konsep yang diingnkan.
Hasil analisis uji reliabilitas menunjukkan bahwa nlai Cronbach’s seluruh variabel laten yang diteliti memiliki nilai yang cukup tinggi atau > 0.7, sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 3. Hal ini menunjukkan bahwa seluruh butir pernyataan kuesioner bersifat reliabel, artinya berapa kali pun kuesioner tersebut diujikan maka hasilnya akan tetap sama.
Tabel 3. Nilai Cronbach’s Alpha Uji Reliabilitas
No Variabel Cronbach
's Alpha
N of Items
1 Kepemimpinan Keselamatan Kerja (KS) .860 11
2 Iklim Keselamatan Kerja (IS) .886 16
3 Kepuasan kerja (KK) .838 13
4 Kelelahan (KL) .800 7
5 Motivasi Keselamatan Kerja (MS) .779 5
4. HASIL DAN PEMBAHASAN