BAB II TINJAUAN LITERATUR DAN METODE PENELITIAN
C. Metodologi Penelitian
Berdasarkan manfaat empiris, bahwa metode pengumpulan data kualitatif yang paling independen terhadap semua metode pengumpulan data dan tehnik analisis data adalah metode wawancara mendalam, observasi partisipasi, bahan dokumenter, serta metode-metode baru seperti metode bahan visual dan metode penelusuran bahan internet.34
Metode penelitian yang dilakukan dalam tesis ini dilakukan dengan cara-cara yang ilmiah baik dalam pengumpulan data dan pengolahan datanya. Adapun Tehnik yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Kualitatif dengan menggunakan metode studi komperatif (comparative study), yakni dengan membandingkan model pemajakan yang dilakukan oleh pemerintah Jepang dan Australia atas transaksi e-commerce. Dari hasil perbandingan tersebut diharapkan diperoleh hal-hal yang bermanfaat untuk diterapkan pemerintah Indonesia dalam melakukan pengawasan atas transaksi e-commerce.
Ada 6 (enam) ciri-ciri penelitian kualitatif yaitu :35
1. Peneliti kualitatif lebih menekankan perhatian pada proses, bukannya hasil atau produk.
2. Peneliti kualitatif tertarik pada makna – bagaimana orang membuat
hidup, pengalaman dan struktur dunianya masuk akal.
3. Peneliti kualitatif merupakan instrumen pokok untuk pengumpulan dan
analisa data. Data didekati melalui instrumen manusia, bukannya melalui inventaris, daftar pertanyaan atau mesin.
4. Peneliti kualitatif melibatkan kerja lapangan. Peneliti secara fisik berhubungan dengan orang, latar, lokasi atau institusi untuk mengamati atau mencatat perilaku dalam latar alamiahnya.
5. Peneliti kualitatif bersifat deskriptif dalam arti peneliti tertarik pada proses, makna dan pemahaman yang didapat melalui kata atau gambar.
34
Bungin, Penelitian Kualitatif : Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik dan Ilmu Sosial Lainnya. Kencana Prenada Media Group. 2007. hal.107
35
Cresswell, Desain Penelitian, Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif, KIK Press, Jakarta, 2002, hal.140
Proses penelitian kualitatif bersifat induktif dimana peneliti membangun abstraksi, konsep, hipotesa dan teori beserta rinciannya. Pemilihan pendekatan kualitatif dikarenakan sesuai dengan karakteristik dari penelitian kualitatif seperti yang dikemukakan oleh Cresswell :
1. Konsepnya “tidak matang” karena kurangnya teori dan penelitian
terdahulu,
2. Pandangan bahwa teori yang ada mungkin tidak tepat, tidak memadai,
tidak benar atau rancu,
3. Kebutuhan untuk mendalami dan menjelaskan fenomena serta untuk
mengembangkan teori, atau
4. Hakekat fenomenanya mungkin tidak cocok dengan ukuran-ukuran
kuantitaif.
Menurut Lawrence Neuman penelitian kualitatif memiliki karakteristik sebagai berikut :36
1. Construct social reality, cultural meaning, 2. Focus on interactive processes,
3. Authenticity is key,
4. Values are present and explicit, 5. Situationally constrained, 6. Few cases subjects 7. Thematic analysis 8. Researcher is involved.
Dari ketiga pendapat tersebut diatas terlihat ada kesamaan bahwa dalam penelitian kualitatif lebih menekankan pada proses dan bukan pada hasil dari penelitian tersebut, selain itu penelitian kualitatif juga digunakan jika kurangnya teori dalam membahas masalah penelitian tersebut. Berdasarkan penjelasan dan definisi-definisi tersebut diatas maka dalam tesis ini digunakan penelitian kualitatif yang disesuaikan dengan masalah yang akan dibahas.
36
Neuman, Social Research Methods : Qualitative and Quantitative Approaches, Pearson Education Ltd. 2003. hal.16
Berdasarkan kriteria-kriteria diatas maka metode penelitian ini disesuaikan dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Program Pascasarjana, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia.
C.1. Jenis Penelitian
Ada berbagai jenis penelitian yang dapat digunakan oleh seorang peneliti untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan penelitiannya. Salah satunya adalah penelitian komparatif. Yang dimaksud dengan jenis penelitian komparatif adalah suatu jenis penelitian deskriptif yang ingin menjawab secara mendasar tentang sebab akibat, dengan menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya ataupun munculnya suatu fenomena tertentu. 37
Penelitian deskriptif kualitatif menempatkan teori pada data yang diperoleh peneliti, fokus kepada proses-proses kejadian suatu fenomena dimana pada penelitian ini mengadopsi cara berfikir induktif untuk mengimbangi cara berfikir deduktif.38
Berdasarkan definisi-definisi diatas maka peneliti memutuskan penelitian ini menggunakan jenis penelitian studi komparatif, karena dalam penelitian ini akan dibandingkan model pemajakan atas transaksi e-commerce yang diterapkan oleh negara Jepang dan Australia, serta adakah hal-hal yang dapat diperoleh dari model-model tersebut sehingga bermanfaat bagi pemerintah Indonesia khususnya Direktorat Jenderal Pajak dalam rangka mengantisipasi cara pemajakan yang tepat. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi pemecahan masalah bagi administrasi pajak dalam melakukan pengawasan terhadap transaksi e-commerce.
C.2. Metode dan Strategi Penelitian
Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dan dalam hal ini metode yang dipakai adalah metode wawancara dan studi dokumentasi.
37
Nazir, 2003, Metode Penelitian.Ghalia Indonesia, hal. 58
38
Bungin. Penelitian Kualitatif : Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik dan Ilmu Sosial Lainnya. Kencana Prenada Media Group. 2007. hal.146
C.2.1. Tehnik Pengumpulan Data
Seperti disebutkan daitas bahwa jenis penelitian ini adalah Peneiltian Kualitatif, maka dalam mengumpulkan data harus melalui prosedur pengumpulan data yang biasa digunakan oleh peneliti kualitatif. Irawan mengungkapkan bahwa tehnik pengumpulan data yang biasa digunakan dalam penelitian kualitatif adalah :39
1. Wawancara dengan informan,
2. Observasi langsung terhadap berbagai hal, 3. Kajian terhadap berbagai bahan tertulis,
4. Analisis terhadap foto, video, gambar, ilustrasi, dll
Berdasarkan penjelasan tersebut diatas maka tehnik pengumpulan data dalam membahas penelitian ini dilakukan dengan dua cara yaitu :
a. Studi Kepustakaan.
Studi kepustakaan ini dilakukan dengan membaca dan
mempelajari sejumlah literatur, majalah-majalah perpajakan, artikel, tesis, jurnal perpajakan baik dalam maupun luar negeri.
Juga mempelajari Undang-undang Perpajakan, Peraturan
Pemerintah, Peraturan Menteri Keuangan, Peraturan Direktur Jenderal Pajak, serta peraturan-peraturan terkait lainnya.
b. Studi Lapangan.
Studi Lapangan dilakukan dengan melakukan wawancara mendalam (in depth-interview) dengan key informant yang dalam tugas dan pekerjaannya berhubungan dengan masalah-masalah yang berkaitan dengan tesis ini. Seperti yang dikemukakan oleh Prasetya Irawan bahwa :
” ... seorang peneliti mungkin menggunakan tehnik wawancara untuk mengumpulkan data. Tapi sebagai metode penelitian, maka tehnik wawancara ini benar-benar menjadi tumpuan utama bagi si peneliti untuk mengumpulkan data.” 40
39
Irawan, Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif untuk Ilmu-ilmu Sosial. Departemen Ilmu Administrasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia, 2006,.hal.70
40
C.2.2. Strategi Analisis Data
Dalam strategi analisis data akan dibahas hasil pengumpulan data dilapangan dari beberapa nara sumber yang telah ditentukan. Irawan menyebutkan bahwa 41 prosedur analisis data pada penelitian kualitatif adalah sebagai berikut :
1. Pengumpulan Data Mentah
Pada tahap ini peneliti melakukan pengumpulan data mentah misalnya melalui wawancara, observasi lapangan, kajian pustaka, dan sebagainya. Disini juga biasanya digunakan alat bantu seperti alat-alat tulis, kamera, tape recorder, dan lain-lain.
Perlu ditekankan bahwa data yang diperoleh adalah data apa adanya (verbatim) dengan tidak menstimulasi dengan apa yang ada di pikiran peneliti.
2. Transkrip Data
Hasil pengumpulan data mentah yang dapat berupa rekaman suara atau catatan tulisan tangan dari nara sumber dirubah kedalam bentuk tertulis. Dalam melakukan proses transkrip data ini juga harus independen dengan menuliskan data apa adanya sehingga tidak bias dengan pendapat atau pikiran dari peneliti.
3. Pembuatan koding
Disini peneliti membaca ulang seluruh data yang sudah ditranskrip. Pada bagian-bagian tertentu akan ditemukan hal-hal penting yang perlu dicatat untuk proses analisa berikutnya. Kata kunci dari hasil wawancara tersebut akan diberi kode yang berhubungan dengan konteks yang sedang diteliti.
41
4. Kategorisasi Data
Disini data yang telah diperoleh dibuat lebih sederhana dengan cara ”mengikat” konsep-konseo (kata-kata kunci) dalam satu besaran yang dinamakan kategori. Dari beberapa kata kunci yang sebelumnya telah diperoleh hanya akan dikelompokkan menjadi beberapa kategori saja sehingga terlihat permasalahan umum yang sedang diteliti.
5. Penyimpulan Sementara
Sampai saat ini peneliti telah dapat mengambil kesimpulan atas penelitian yang dilakukan. Kesimpulan ini sepenuhnya berdasarkan data yang dikumpulkan tidak bercampur dengan penafsiran dari peneliti itu sendiri.
Jika ingin memberikan penafsiran tersendiri maka pemikiran peneliti dapat dituangkan pada bagian akhir kesimpulan sementara ini, inilah yang disebut Observer’s Comments (OC). Observer’s Comments adalah pendapat atau reaksi peneliti terhadap data dilapangan yang sangat beragam, antara lain berisi : persetujuan/ketidaksetujuan terhadap apa yang dilakukan oleh subjek, komentar yang menghubungkan antara data denga teori, pertanyaan-pertanyaan
yang baru muncul setelah adanya data di lapangan,
perbandingansatu informan dengan informan lainnya, dan hal-hal lain yang sifatnya subjektif.
6. Triangulasi
Triangulasi adalah proses check dan re-check antara satu sumber data dengan sumber data lainnya. Dalam proses ini beberapa kemungkinan bisa saja terjadi. Pertama, satu sumber cocok (senada, koheren) dengan sumber data lainnya. Kedua, satu sumber data berbeda dengan sumber data lainnya, tetapi tidak harus bertentangan. Ketiga, satu sumber bertolak belakang dengan sumber data lainnya.
7. Penyimpulan akhir.
Kesimpulan akhir merupakan ujung terakhir dari satu proses penelitian. Kesimpulan ini sangat menentukan kualitas sebuah penelitian kualitatif. Kesalahan dalam menarik kesimpulan berarti merusak seluruh proses penelitian itu sendiri.
Berdasarkan prosedur analisis data seperti diuraikan diatas, juga dilakukan langkah-langkah yang sama sehingga diperoleh pengelompokan data yang sejenis (serumpun) sesuai kategori.
Tabel IV.1.
Kategorisasi data berdasarkan hasil pengumpulan data
NO KATEGORI RINCIAN ISI KATEGORI
1 Inventarisasi masalah pengawasan
otoritas perpajakan atas transaksi e-commerce
- Pelaku sulit diketahui keberadaannya.
- Belum ada definisi yang jelas atas jenis-jenis transaksi e-commerce
- Kesiapan teknologi DJP
- Keterbatasan SDM DJP dalam hal pengetahuan
akan dunia teknologi informasi
- Kepastian hukum untuk pencegahan
cybercrime.
- Meningkatkan pangsa pasar
2 Melakukan Penelitian secara
mendalam terhadap jenis-jenis penghasilan atas transaksi e-commerce.
- Tingginya minat masyarakat tidak disertai pengawasan kewajiban perpajakannya.
- Pengawasan oleh aparat pajak yang memiliki keahlian/pengetahuan luas.
- Kemungkinan akses terhadap
perusahaan/orang pribadi yang melakukan transaksi online.
- Berkembang seiring perkembangan dunia
internet
- Tingkat efisiensi perusahaan yang bertransaksi online
- Fungsi aturan perpajakan
- Potensi Penerimaan Pajak
3 Merumuskan kebijakan perpajakan
atas transaksi e-commerce. - NPWP sebagai prasyarat bagi perusahaan yang
melakukan transaksi online.
- Identitas alamat domain wajib dicantumkan dalam pengajuan NPWP.
- Dokumen khusus atas pencatatan transaksi
yang dilakukan.
- Kerjasama dengan pihak lain ( DEPKOMINFO,
Bea & Cukai, ISP, Perbankan, dll )
- Pengenaan Sanksi (law enforcement) terhadap
penghindaran pembayaran pajak.
- Pengawasan melalui SPT Wajib Pajak.
- Pengklasifikasian transaksi
- Kebijakan yang mendorong iklim usaha perdagangan online (bukan mematikan)
- Identifikasi Transaksi
Dari pengelompokan atas data yang dihimpun, dimana atas data-data yang memiliki kesamaan persepsi dimasukkan dalam satu kategori yang sama, dapat diperoleh gambaran bahwa terdapat 3 (tiga) kategori pokok yang perlu mendapat perhatian bagi otoritas perpajakan yaitu :
1. Inventarisasi masalah pengawasan otoritas perpajakan atas
transaksi e-commerce.
2. Melakukan Penelitian secara mendalam terhadap jenis-jenis
penghasilan atas transaksi e-commerce
3. Merumuskan kebijakan perpajakan atas transaksi e-commerce.
Sesuai dengan prinsip dalam melakukan analisis data bahwa data yang diperoleh dikategorikan dengan ”menyederhanakan” dengan mengikat ”kata kunci” yang berhubungan dengan subjek penelitian, maka dari ketiga kategori diatas masing-masing memiliki rincian isi kategori yang beragam.
Dari kategori pertama, diperoleh rincian kategori yang menghendaki adanya inventarisasi masalah yang terkait dengan transaksi e-commerce. Dengan melakukan inventarisasi masalah ini diharapkan ditemukan solusi pemecahan yang sistematis. Misalnya dalam pemberian definisi atas jenis-jenis
transaksi e-commerce, termasuk didalamnya pemberian definisi apakah suatu ”server” yang berkedudukan di negara sumber tetapi dimanfaatkan oleh Wajib Pajak Luar Negeri dapat dikategorikan sebagai Bentuk Usaha Tetap (BUT). Hal ini masih menjadi kendala dengan alasan bahwa ”server” tersebut hanya sebagai fasilitas yang digunakan untuk menyimpan, memamerkan barang dagangan. Pendapat lain mengemukakan bahwa ”server” tersebut merupakan fasilitas untuk melakukan transaksi jual-beli sehingga dapat dikategorikan sebagai Bentuk Usaha Tetap (BUT).
Keterbatasan Sumber Daya Manusia di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak sendiri dimana masih sedikit yang memiliki pengetahuan yang memadai akan seluk beluk transaksi e-commerce sehingga menyulitkan pengawasan terhadap transaksi tersebut. Bila dilihat praktek yang terjadi di Jepang seperti diuraikan pada bab terdahulu dimana pemerintah Jepang membentuk gugus tugas khusus yang diberi nama PROTECT (Professional for E-Commerce Taxation) yang terdiri dari orang-orang yang sudah terdidik dan memilki kemampuan yang memadai dalam bidang Tehnologi Informasi bisa menjadi contoh yang baik bagi Direktorat Jenderal Pajak (DJP) untuk menerapkan kebijakan yang diambil oleh Pemerintah Jepang tersebut. PROTECT juga memiliki guidance/manual yang menjadi pedoman untuk melakukan pemeriksaan.
Dalam kategori kedua, diperoleh rincian agar melakukan penelitian secara mendalam terhadap jenis-jenis penghasilan atas transaksi e-commerce. Hal ini merupakan tidak lanjut dari inventarisasi masalah, dimana atas pengumpulan informasi yang dibutuhkan akan diketahui dan dilakukan penelitian dengan melibatkan pakar-pakar tehnologi informasi untuk memberikan sumbang saran dalam rangka penggalian potensi pajak atas transaksi e-commerce.
Dalam rangka memperoleh kejelasan akan jenis barang yang diperdagangkan maupun identitas dari pihak-pihak yang melakukan transaksi e-commerce khususnya atas transaksi lintas negara, langkah yang dilakukan pemerintah Australia menarik untuk ditiru yakni Australian Taxation Office (ATO) guidance mengatur bahwa penjual diharuskan untuk memperoleh penjelasan dari pembeli mengenai tempat tinggal, lokasi fisik serta
penggunaan dari penjualan tersebut untuk transaksi dengan nilai tertentu. Kewajiban tersebut diharapkan agar pihak otoritas perpajakan dapat menentukan apakah pembelian tersebut bebas pajak atau tidak, sehingga pembeli harus menginformasikan alamatnya di luar negeri dan barang atau jasa tersebut tidak digunakan di wilayah negaranya. ATO juga mewajibkan kepada penjual untuk menggunakan metode yang lebih dapat diandalkan untuk menentukan tempat tinggal pembeli. Penentuan tempat tinggal pembeli ini juga menjadi penting dalam aturan tentang pembentukan harga dimana pemerintah Australia mewajibkan semua pelaku bisnis e-commerce yang melakukan penyerahan di Australia harus mematuhi ketentuan-ketentuan tentang pembentukan harga. Ketentuan dalam GST mewajibkan bahwa harga-harga pada internet harus dijelaskan sebagai GST-inclusive, oleh karena itu tempat tinggal pembeli harus ditentukan.
Dalam kategori ketiga, otoritas perpajakan diminta untuk merumuskan kebijakan perpajakan atas transaksi e-commerce. Diantara rician kategori ini adalah menjalin kerjasama dengan pihak Perbankan seperti yang dilakukan oleh Pemerintah Jepang dimana ketentuan kerahasiaan Bank tidak berlaku untuk kebutuhan perpajakan. Sehingga dari data/informasi yang diperoleh dapat langsung dilakukan pengecekan dan bila terdapat perbedaan maka atas Wajib Pajak tersebut bisa dilakukan tindakan pemeriksaan.
C.3. Nara Sumber / Informan
Dalam pengumpulan data di lapangan, telah dilakukan wawancara mendalam dengan pihak-pihak yang berhubungan langsung dan mengetahui masalah-masalah yang berkaitan dengan tesis ini, serta pihak-pihak yang berkompeten dibidangnya yakni :
1. Kepala Bidang Pemeriksaan, Penyidikan dan Penagihan Pajak
Kantor Wilayah DJP Bali. (Bapak Haryono)
2. Bagian Fungsional (Supervisor Pemeriksa Pajak) di Kantor
Wilayah DJP Bali : Bapak Saut D. Saragih.
4. Wajib Pajak PT Elex Media Komputindo (Gramedia) yang dalam hal ini diwakili oleh Bapak Budi Pratiknyo.
5. Staf Departemen Komunikasi dan Informatika Direktorat e-bisnis:
Bapak Eko Haryanto.
C.4. Penentuan Lokasi Penelitian
Mengingat transaksi e-commerce umumnya dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang telah memiliki sarana tehnologi yang memadai maka tidak semua perusahaan dapat secara langsung dapat melakukan transaksi ini. Sehingga penentuan nara sumber yang mewakili pihak yang melakukan transaksi e-commerce dilakukan secara sampling dalam hal ini seluruh sampel berada di Jakarta. Sedangkan lokasi nara sumber yang berasal dari Direktorat Jenderal Pajak berasal dari Jakarta dan Bali dengan pertimbangan efisiensi dan efektifitas serta kompetensi dari masing-masing nara sumber.
C.5. Keterbatasan Penelitian.
Mengingat luasnya permasalahan yang ada dalam transaksi elektronik (e-commerce) baik perusahaan-perusahaan yang terlibat di dalamnya maupun jenis-jenis transaksi yang dilakukan oleh masing-masing bidang usaha yang berbeda-beda, maka penelitian ini akan memfokuskan diri untuk melakukan penelitian terhadap transaksi e-commerce yang dilakukan melalui media internet. Hal ini disebabkan transaksi e-commerce itu sendiri sudah identik dengan internet. Beberapa jenis transaksi e-commerce yang tidak dilakukan dengan internet tetapi dilakukan dengan mesin ATM (anjungan tunai mandiri) misalnya bukan menjadi fokus dalam penelitian ini karena tidak secara utuh mewakili transaksi e-commerce. Demikian pula studi atas model peneltian yang dilakukan atas model pemajakan atas transaksi e-commerce di Negara Jepang dan Australia dimana kedua negara tersebut juga menitikberatkan pengawasan
penerapan aturan perpajakan atas transaksi e-commerce dengan
Dengan adanya pembatasan-pembatasan masalah tersebut, diharapkan agar penelitian ini dapat lebih memfokuskan diri dalam menganalisis masalah yang berkaitan dengan transaksi online (e-commerce) yang umumnya terjadi melalui media internet.