BAB II TINJAUAN LITERATUR DAN METODE PENELITIAN
A. Tinjauan Literatur
Dengan meluasnya perdagangan global, tidak cukup bagi sebuah perusahaan atau seorang entrepreneur hanya dengan mengandalkan iklan dan selebaran untuk mengembangkan bisnis yang dijalankannya. Era perdagangan bebas secara tidak langsung memacu para pengusaha untuk menjalankan bisnisnya seluas mungkin. Internet telah menjadi satu sarana bagi para usahawan guna meningkatkan produktivitas perusahaan yang dijalankan. Salah satunya adalah dengan menggunakan aplikasi e-commerce untuk menjalankan transaksi secara online.
Salah satu tampilan dari begitu banyak sistem elektronik adalah website atau situs. Ada situs yang berisikan berita, informasi, profil beragam instansi perusahaan, sampai kepada situs yang menawarkan jual beli barang lewat dunia maya. Situs-situs inipun tidak hanya dimiliki oleh badan-badan hukum tetapi banyak juga yang dimiliki oleh individu-individu dengan berbagai macam latar belakang sosial, pendidikan, ekonomi dan sebagainya. Untuk memiliki situs-situs tersebut tidak dibutuhkan biaya yang besar sehingga semakin
mendorong perkembangan dunia internet.10
Kemajuan teknologi internet tersebut tentunya banyak menimbulkan keuntungan, peluang, dan keunggulan. Bagi perusahaan-perusahaan yang telah mengaplikasikan internet sebagai bagian dari strategi pemasaran produk-produknya dalam bentuk penawaran dan transaksi secara elektronik akan dapat bersaing dalam menjaring konsumen sebanyak-banyaknya dengan biaya yang optimal. Bahkan tidak dibutuhkan outlet fisik ataupun tempat untuk memajang produk-produk yang ditawarkan. Pilihan untuk menawarkan produk-produk perusahaan secara online akan sangat efisien karena modal untuk ekspansi ke luar negeri melalui jaringan fisik tidaklah murah.
10
Perkembangan bisnis dengan menggunakan internet sebagai media penawaran produk-produk tersebut merupakan tantangan tersendiri bagi otoritas perpajakan untuk memanfaatkan trend tersebut sebagai sarana untuk meningkatkan penerimaan sektor perpajakan. Hal ini tentu saja menuntut kesiapan dari Direktorat Jenderal Pajak untuk melakukan pengawasan terhadap transaksi e-commerce tersebut, baik dari segi sumber daya manusia, aturan-aturan terkait transaksi e-commerce termasuk pengertian istilah-istilah sehingga tidak menimbulkan multitafsir serta perangkat sistem informasi yang dimiliki.
Untuk berbisnis seperti layaknya sebuah jaringan ritel, pelaku e-commerce bisa menikmati jaringan kerja yang ada. Ini berarti melibatkan pihak ketiga yang mendukung terselenggaranya jaringan tersebut. Dalam hal ini proses pembelian bisa dilakukan secara online tetapi pengiriman barangnya dilakukan secara offline.
Karakteristik lain dari transaksi e-commerce ini adalah produk barang atau jasa yang ditawarkan diubah bentuknya dalam format digital (digitized) yang umumnya berupa artikel, buku, lagu, dan sebagainya dihantarkan baik untuk perusahaan lain maupun pembeli akhir (end-user). Hal ini tentunya menjadi salah satu sebab mengapa atas transaksi e-commerce ini sulit untuk ditelusuri dari mana asalnya dan kemana disampaikan. Artinya diperlukan cara-cara pembuktian yang lebih dari sekedar cara-cara-cara-cara konvensional yang sudah ada. Akibatnya produk dan jasa yang di-digitized tersebut tidak hanya rawan penggelapan tetapi juga sulit untuk dikenakan pajak khususnya Pajak Pertambahan Nilai (PPN), sehingga diperlukan sistem administrasi perpajakan yang baik dan didukung oleh sumber daya manusia yang memiliki kemampuan untuk menerapkan aturan-aturan perpajakan dengan pengetahuan berbasis teknologi yang memadai. Hal ini merupakan salah satu alasan untuk melakukan penelitian tentang kegiatan bisnis yang menggunakan e-commerce dalam menawarkan produk dan jasanya secara online.
Administrasi Perpajakan mengandung tiga pengertian, yaitu :11
1. Suatu instansi atau badan yang mempunyai wewenang dan tanggung
jawab untuk menyelenggarakan pemungutan pajak,
11
Mansyuri. 2002. Kebijakan Fiskal. Yayasan Pengembangan dan Penyebaran Pengetahuan Perpajakan (YP4), Jakarta. Halaman 5.
2. Orang-orang yang terdiri dari pejabat dan pegawai yang bekerja pada instansi perpajakan yang secara nyata melaksanakan kegiatan pemungutan pajak,
3. Proses kegiatan penyelenggaraan pemungutan pajak yang
ditatalaksanakan sedemikian rupa, sehingga dapat mencapai sasaran yang telah digariskan dalam Kebijakan Perpajakan, berdasarkan sarana hukum yang telah ditentukan oleh Undang-undang perpajakan dengan efisien.
Sedangkan dasar-dasar bagi terselenggaranya administrasi perpajakan yang baik meliputi :12
1. Kejelasan dan kesederhanaan dari ketentuan Undang-undang yang
memudahkan bagi administrasi dan memberikan kejelasan bagi Wajib Pajak,
2. Kesederhanaan akan mengurangi penyelundupan pajak.
Kesederhanaan dimaksud baik dalam perumusan yuridis yang memberikan kemudahan untuk dipahami; maupun kesederhanaan untuk dilaksanakan oleh aparat dan untuk dipatuhi pajaknya oleh Wajib Pajak,
3. Reformasi dalam bidang perpajakan yang realistis harus
mempertimbangkan kemudahan tercapainya efisiensi dan efektivitas
administrasi perpajakan, semenjak dirumuskannya kebijakan
perpajakan,
4. Administrasi Perpajakan yang efisien dan efektif perlu disusun dengan memperhatikan penataan pengumpulan, pengolahan dan pemanfaatan informasi tentang Subjek Pajak dan Objek Pajak.
Administrasi perpajakan merupakan kunci bagi berhasilnya pelaksanaan kebijakan perpajakan. Tugas administrasi perpajakan tidak membuat kebijakan atau ketentuan Undang-undang, tidak memutuskan Subjek Pajak yang dikecualikan dari pemungutan pajak, juga tidak menentukan Objek Pajak baru. Administrasi Perpajakan perlu disusun dengan sebaik-baiknya sehingga
12
mampu menjadi instrumen yang bekerja secara efisien dan efektif dalam
penyelenggaraan pemungutan pajak sesuai dengan hukum positif.13
Administrasi perpajakan wajib mengacu kepada hukum pajak positip yang sedang berlaku. Apabila kita sedang membahas ketentuan dari hukum pajak, kita sebaiknya bukan hanya memahami bunyi ketentuannya dan interpretasi dari ketentuan tersebut melainkan harus juga dipahami :
1. Pertimbangan-pertimbangan yang dipakai dalam menentukan ”policy
option” yang dianut oleh ketentuan itu, dan
2. Rumusan yuridis yang sekarang berlaku, dan
3. penyelenggaraan administrasi pajak untuk melaksanakan ketentuan
Undang-undang yang berlaku tersebut, sebagaimana dimuat dalam Surat Edaran-Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak.
A.1. Azas Perpajakan
Azas-azas perpajakan oleh para ahli sudah banyak disarankan sebelum Adam Smith menerbitkan bukunya : ”An Inquiry into The Nature and Causes of the Wealth of Nations”. Adam Smith mengemukakan bahwa pemungutan pajak hendaknya didasarkan atas empat azas yaitu :14
- Equality ( keadilan pajak ),
Keadilan merupakan salah satu azas yang sering kali menjadi pertimbangan penting dalam memilih policy option yang ada dalam membangun sistem perpajakan. Suatu sistem perpajakan dapat berhasil apabila masyarakatnya merasa yakin bahwa pajak-pajak yang dipungut oleh pemerintah telah dikenakan secara adil dan setiap orang membayar sesuai bagiannya.
- Certainty,
Azas certainty (kepastian) menyatakan bahwa harus ada kepastian, baik bagi petugas pajak maupun semua wajib pajak dan seluruh masyarakat.
13
Mansyuri. Ibid. halaman 6.
14
Mansyuri, Pajak Penghasilan Lanjutan Pasca Reformasi 2000. Yayasan Pengembangan dan Penyebaran Pengetahuan Perpajakan (YP4), Jakarta. hal. 11.
- Convenience,
Azas convenience (kemudahan/kenyamanan) menyatakan bahwa saat pembayaran pajak hendaklah dimungkinkan pada saat yang “menyenangkan/memudahkan” wajib pajak, misalnya pada saat menerima gaji atau penghasilan seperti saat menerima bunga deposito. - Economy.
Biaya pemungutan pajak yang kecil dibandingkan secara proporsional dengan peningkatan penerimaan dan menghindarkan efek distorsi perilaku wajib pajak.
Salah satu aspek dalam pemungutan pajak adalah adanya keadilan. Adam Smith sebagaimana dikutip oleh Waluyo dan Ilyas (2002) juga mengatakan bahwa salah satu aspek yang harus diperhatikan dalam pemungutan pajak adalah adanya keadilan pajak (equity) yaitu bahwa membayar pajak harus sebanding dengan kemampuannya untuk membayar (ability to pay principle) dan manfaat yang diterimanya (benefit principle).15
Aspek keadilan pemungutan pajak harus senantiasa dipegang teguh, baik dalam prinsip mengenai perundang-undangan maupun dalam prakteknya sehari-hari. Inilah sendi pokok yang seharusnya diperhatikan baik-baik oleh setiap negara untuk melancarkan usahanya dalam rangka pemungutan pajak. Maka dari itu syarat mutlak bagi pembuat Undang-undang pajak, juga syarat mutlak bagi aparatur setiap pemerintah yang berkewajiban melaksanakannya adalah pertimbangan-pertimbangan dan perbuatan-perbuatan yang adil pula.
Tidak mungkin suatu negara menghendaki merosotnya kehidupan ekonomi masyarakat karenanya maka politik pemungutan pajaknya harus diusahakan supaya jangan sampai menghambat lancarnya produksi dan perdagangan, dan harus diusahakan supaya jangan menghalang-halangi rakyat dalam usahanya menuju kebahagiaan dan jangan sampai merugikan kepentingan umum. Keseimbangan dalam kehidupan ekonomi tidak boleh
15
terganggu karenanya, bahkan harus tetap dipupuk sesuai dengan fungsi kedua dari pemungutan pajak, yaitu fungsi mengatur.16
Dari seluruh pendapat para ahli mengenai prinsip perpajakan, khususnya pengertian prinsip keadilan para ahli memandang sebagai suatu hal yang mutlak dipertimbangkan dalam sistem perpajakan. Selanjutnya, keadilan dalam pemungutan pajak dibedakan antara keadilan horizontal dan keadilan vertikal17. Suatu pemungutan pajak dikatakan adil secara horizontal apabila beban pajaknya adalah sama atas semua Wajib Pajak yang mendapatkan penghasilan yang sama dengan jumlah tanggungan yang sama tanpa membedakan jenis penghasilan atau sumber penghasilan.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa keadilan pajak
mengharuskan pembayar pajak membayar pajak sesuai dengan
kemampuannya dan manfaat yang diterimanya sehingga setiap Wajib Pajak yang mempunyai jumlah penghasilan yang sama, seharusnya membayar jumlah pajak yang sama pula. Kondisi ini biasa disebut keadilan horisontal (horisontal equity). Kemudian pembayar pajak yang mempunyai penghasilan yang lebih tinggi, membayar pajak lebih besar. Hal ini disebut keadilan vertikal (vertical equity).
Syarat keadilan horisontal adalah sebagai berikut:18
a. Pengertian penghasilan harus mencakup semua tambahan kemampuan
ekonomis;
b. Globality, yaitu bahwa seluruh tambahan kemampuan ekonomis tersebut merupakan ukuran keseluruhan kemampuan membayar;
c. Net Income, yaitu bahwa kemampuan membayar tersebut merupakan penghasilan neto atau setelah dikurangkan biaya yang tergolong untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan;
d. Personal Exemption, yaitu diberikannya pengurangan berupa lapisan penghasilan tidak kena pajak (PTKP) bagi Wajib Pajak orang pribadi; e. Equal treatment for the equals, yaitu seluruh penghasilan dikenakan
dengan tarif yang sama.
16
Brotodihardjo. 2003. Pengantar Ilmu Hukum Pajak. Rafika Aditama. Halaman 9.
17
Mansyuri. Op.Cit. halaman 18
18
Syarat-syarat keadilan vertikal adalah sebagai berikut:
a. Unequal treatment for the unequal, yaitu besarnya perbedaan tarif dibedakan oleh jumlah seluruh penghasilan bukan berdasarkan jenis atau sumber penghasilan;
b. Progression, yaitu Wajib Pajak yang berpenghasilan besar harus membayar pajak yang lebih besar dengan tarif yang lebih besar.
Pemungutan Pajak hendaknya didasarkan atas empat azas yaitu :
Equality. Pajak itu harus adil dan merata, yaitu dikenakan kepada
orang-orang pribadi sebanding dengan kemampuannya untuk membayar (ability to pay) pajak tersebut. Pembebanan pajak itu adil, apabila setiap Wajib Pajak menyumbangkan suatu jumlah untuk dipakai guna pengeluaran pemerintah sebanding dengan kepentingannya dan dengan manfaat yang diterimanya dari pemerintah.
Certainty. Certainty yang dimaksud Adam Smith adalah bahwa pajak itu
tidak ditentukan sewenang-wenang, sebaliknya pajak itu harus dari semula jelas bagi semua Wajib Pajak dan seluruh masyarakat : berapa jumlah yang harus dibayar, kapan harus dibayar dan bagaimana cara membayarnya. Bagi Adam Smith kepastian hukum adalah lebih penting dari keadilan. Jadi suatu sistem yang telah dirancang menganut azas keadilan apabila tanpa kepastian hukum, maka pemungutan pajak tersebut bisa menjadi tidak adil. Azas kepastian ini bila dihubungkan dengan empat pertanyaan pokok akan menjadi dasar pemungutan pajak yaitu :
• Harus pasti, siapa-siapa yang harus dikenakan pajak,
• Harus pasti, apa yang menjadi dasar untuk mengenakan pajak kepada
Subyek Pajak,
• Harus pasti, berapa jumlah yang harus dibayar berdasarkan ketentuan
tentang tarif pajak,
• Harus pasti, bagaimana harus dibayar jumlah pajak yang terutang
Convenience. Wajib Pajak yang hendak membayar pajak hendaknya
ditentukan pada saat yang tidak menyulitkan, yaitu misalnya pada saat menerima gaji atau menerima penghasilan lain, seperti pada waktu menerima bunga deposito dan lain-lain. Berdasarkan azas ini timbul dukungan yang kuat untuk menerapkan sistem pemungutan yang disebut Pay as you earn.
Economy. Biaya pemungutan pajak bagi kantor pajak dan biaya
memenuhi kewajiban pajak (compliance cost) bagi Wajib Pajak hendaknya sekecil mungkin. Demikian pula halnya dengan beban yang dipikul oleh Wajib Pajak hendaknya juga sekecil mungkin. Jadi sistem yang dipilih untuk mengumpulkan pajak sejumlah yang diperlukan untuk membiayai kegiatan pemerintah hendaknya adalah sistem yang membebani masyarakat secara keseluruhan sekecil mungkin. Pajak hendaknya tidak menghalangi Wajib Pajak untuk melakukan kegiatan-kegiatan ekonomisnya. Pajak harus memberikan manfaat yang lebih besar kepada masyarakat daripada beban yang dipikul oleh masyarakat. (R. Mansyuri, 2002)
Namun yang lebih penting agar sistem perpajakan secara keseluruhan dapat berjalan dengan baik, maka azas-azas perpajakan harus dapat diterapkan pemerintah dengan baik dan konsisten terutama azas keadilan (equity principle) dan azas kepastian hukum (certainty principle). Karena transaksi e-commerce yang beragam dan tidak mengenal batas-batas negara dimana aturan-aturan yang berlaku juga rawan menimbulkan perbedaaan pendapat (multi tafsir) sehingga diperlukan suatu kepastian hukum dan aturan yang jelas serta tegas atas transaksi yang dilakukan. Tanpa kepastian hukum dan aturan yang jelas maka sistem perpajakan di Indonesia tidak akan dapat berjalan dengan baik karena akan timbul upaya perlawanan dari Wajib Pajak.
A.2. Sistem Perpajakan
Sistem perpajakan terdiri dari 3 (tiga) unsur pokok yaitu : 19 1. Kebijakan Perpajakan (Tax Policy),
2. Hukum Perpajakan ( Tax Laws),
3. Administrasi Perpajakan ( Tax Administration).
19
Kebijakan perpajakan positif merupakan alternatif yang nyata-nyata dipilih dari berbagai pilihan, agar dapat dicapai sasaran yang hendak dituju oleh sistem perpajakan itu sendiri. Alternatif-alternatif itu dipilih juga dengan pertimbangan agar sistem perpajakan tersebut tetap bertumpu diatas azas-azas yang sudah ditentukan .
Alternatif-alternatif tersebut meliputi :
1. Pajak yang akan dipungut.
Hal ini menyangkut pemilihan jenis pajak yang akan dipungut oleh otoritas perpajakan suatu negara. Di Indonesia saat ini dikenal Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai, Pajak Penjualan Barang Mewah, Bea Masuk serta Pajak Daerah.
2. Subjek Pajak.
Di Indonesia masih menganut The Classical System yang berarti hanya mengenal subjek pajak perorangan dan subjek pajak badan. Pemisahan kedua subjek tersebut mengakibatkan pemegang saham pada suatu perusahaan merupakan subjek pajak tersendiri dan subjek pajak badan bagi perusahaan itu. Pembagian dividen oleh perusahaan kepada pemegang sahamnya merupakan objek pajak, namun sebelum dividen tersebut dibagikan kepada pemegang saham adalah merupakan laba perseroan yang telah dikenakan pajak penghasilan bagi perusahaan.
3. Objek Pajak.
Dalam hal ini yang harus dijawab adalah objek Pajak Penghasilan mana yang akan dikenai pajak (Taxable Income) dan penghasilan apa yang tidak dikenai pajak (Non Taxable Income). Undang-undang perpajakan nasional memakai definisi penghasilan berdasarkan azas sumber dan azas tambahan kemampuan ekonomis, jika untuk Pajak Penghasilan. Biaya apa yang diperkenankan dalam menghitung Penghasilan Kena Pajak (apakah deductible atau non-deductible). Penentuan mengenai apa saja yang merupakan objek pajak inilah yang sangat penting mendapat perhatian dalam menentukan sistem perpajakan yang akan dianut. Objek Pajak yang menjadi dasar pengenaan pajak atas Pajak Pertambahan Nilai adalah penyerahan dan atau perolehan barang dan jasa, sedang objek
pajak untuk Pajak Penjualan Barang Mewah adalah barang itu sendiri yang tergolong mewah menurut peraturan.
4. Besarnya Tarif Pajak.
Perpajakan Internasional tentang Pajak Penghasilan menganut tarif progresif yaitu penghasilan yang rendah dikenakan pajak yang rendah sedangkan penghasilan yang tinggi dikenai pajak yang tinggi pula. Namun jika ditelusuri, Undang-undang Pajak Penghasilan masih ada tarif-tarif tertentu yang tidak mengacu pada tarif progresif yakni dikenakan tarif final. Demikian pula dengan tarif Pajak Pertambahan Nilai yang dianut oleh Undang-undang Pajak Nasional yaitu tarif tunggal. Akan tetapi jika ditelusuri Undang-undang Pajak Pertambahan Nilai ini juga tarifnya tidak hanya tunggal tetapi masih ada tarif lainnya misalnya Pajak Pertambahan Nilai atas ekspor.
5. Prosedur
Perpajakan Nasional memakai istilah Self Assessment , artinya Wajib Pajak yang mempunyai kewajiban mulai dari mendaftar, menghitung, membayar dan melaporkan kewajiban pajaknya. Namun secara teori terdapat tiga sistem pemungutan pajak yakni Self Assessment, Official Assessment dan sistem tambahan Witholding Tax system. Namun apakah sistem pemungutan pajak nasional hanya menganut sistem Self Assessment saja ? Dalam prakteknya ternyata bahwa sistem perpajakan nasional memakai sistem campuran yaitu ketiga sistem tersebut dianut dalam Undang-undang Perpajakan Nasional.
Hukum Perpajakan adalah seperangkat peraturan perpajakan yang terdiri dari Undang-undang beserta peraturan pelaksanaannya. Undang-undang perpajakan mengatur mengenai pokok-pokok pikiran yang bersifat prinsip sedangkan peraturan pelaksanaannya berupa peraturan pemerintah, keputusan presiden, keputusan menteri dan seterusnya.
Administrasi Perpajakan merupakan salah satu dari tiga unsur pokok lainnya dalam sistem perpajakan. Administrasi perpajakan merupakan kunci keberhasilan pelaksanaan kebijakan perpajakan. Sebagai penyelenggara
pemungutan pajak berdasarkan Undang-undang perpajakan, administrasi perpajakan perlu disusun dengan sebaik-baiknya, sehingga mampu menjadi instrumen yang dapat bekerja secara efisien dan efektif. Jika tidak efisien dan efektif maka sasaran dari sistem perpajakan tidak akan tercapai, karena pemungutan pajak pada dasarnya didasarkan atas dua hal, yaitu :
1. Adanya Undang-undang Perpajakan,
2. Adanya fakta kena pajak, yaitu kenyataan yang ada yang menurut Undang-undang harus dikenakan pajak.
Pajak dapat dipungut dengan berbagai cara untuk memudahkan dan menjamin adanya penerimaan pajak atas suatu kejadian. Cara (Stelsel)
pemungutan pajak dapat dilakukan melalui:20
a. Stelsel Nyata (Real Stelsel) yaitu cara pemungutan pajak yang
dilakukan setelah penghasilan yang sesungguhnya dapat diketahui, sehingga biasanya baru dikenakan pada akhir tahun.
b. Stelsel Anggapan (Fictive Stelsel) yaitu cara pemungutan pajak yang didasarkan pada anggapan yang ditentukan Undang-undang, misalnya penghasilan tahun berjalan dianggap sama dengan penghasilan tahun sebelumnya, sehingga ditetapkan angsuran pajak tahun berjalan yang dihitung berdasarkan penghasilan tahun sebelumnya.
c. Stelsel Campuran yaitu cara pemungutan pajak yang dilakukan dengan
menerapkan stelsel nyata dan stelsel anggapan sekaligus.
Selanjutnya, perlu juga diketahui beberapa sistem pemungutan pajak yang lazim, diantaranya:
a. Official Assessment System, yaitu sistem pemungutan pajak yang memberikan kewenangan kepada fiscus untuk menghitung dan menetapkan besarnya pajak terutang.
b. Self Assessment System, yaitu sistem pemungutan pajak yang memberikan kewenangan kepada Wajib Pajak untuk secara mandiri menghitung, menyetor dan melaporkan sendiri pajaknya.
20
c. Withholding System, yaitu sistem pemungutan pajak yang memberikan kewenangan kepada pihak ketiga untuk memotong/memungut, menyetor dan melaporkan pajak yang terutang oleh pihak yang menerima penghasilan.
A.3. Pajak Pertambahan Nilai
A.3.1. Pengertian Dasar
Pertambahan Nilai adalah suatu nilai yang ditambahkan oleh suatu produsen (pabrikan, distributor, dan sebagainya) atas barang-barang atau jasa adapun Pengertian Value Added menurut Alan Tait adalah :21
“Value added is the value that a producer (whether a manufacturer, distributor, advertising agent, hairdresser, farmer, race horse trainer, or circus owner) adds to his raw materials or purchases (other than labor) before selling the new or improved product or service. That is, the inputs (the raw materials, transport, rent, advertising, and so on) are bought, people are paid wages to work on these inputs and, When the final good or service is sold, some profit is left. So value added can be looked at from the additive side (wages plus profits) or from the subtractive side (output minus inputs).”
Pajak Pertambahan Nilai pada dasarnya merupakan Pajak Penjualan yang dipungut atas dasar nilai tambah yang timbul pada semua jalur produksi dan distribusi. Nilai tambah adalah semua faktor produksi yang timbul di setiap jalur peredaran suatu barang seperti bunga, sewa, upah kerja, termasuk semua biaya untuk mendapatkan laba. Pada setiap tahap produksi nilai produk dan harga jual produk selalu terdapat nilai antara lain, yang utama karena setiap penjual menginginkan adanya keuntungan sehingga dalam menentukan harga jual, harga perolehan ditambah dengan laba bruto (mark up).22
Meskipun Pajak Pertambahan Nilai dapat dipungut beberapa kali pada berbagai mata rantai jalur produksi dan distribusi, namun pajak dikenakan hanya pada pertambahan nilai yang timbul pada setiap jalur yang dilalui barang dan jasa sehingga dapat dikatakan bahwa sasaran yang dikenakan Pajak Pertambahan Nilai adalah hanya pertambahan nilai yang merupakan biaya
21
Tait. 1988. Value Added Tax : International Practice and Problems. International Monetary Funds. Halaman 4
22
Rosdiana dan Tarigan. 2005. Perpajakan : Teori dan Aplikasi. Raja Grafindo Persada. Halaman 214.
yang dikeluarkan untuk faktor produksi mulai bahan baku/ bahan pembantu diterima, proses produksi, sampai hasil siap dijual, serta besarnya laba yang diinginkan oleh penjual.23
Pajak Pertambahan Nilai yang sejak tanggal 1 April 1985 berdasarkan Undang-undang nomor 8 tahun 1983 merupakan pengganti atas pajak penjualan yang pemungutannya berdasarkan Undang-undang darurat nomor 19 tahun 1951 merupakan suatu sistem pemungutan pajak tidak langsung yang dikenakan atas konsumsi. Latar belakang penggantian tersebut disebabkan beberapa hal sebagai berikut :24
1. Dalam pelaksanaan Undang-undang Pajak Penjualan 1951, telah terjadi
banyak perubahan fundamental baik yang bersifat sebagai
penyempurnaan maupun tambahan. Sebagai akibatnya, hal ini menimbulkan kesulitan dalam pelaksanaannya.
2. Menimbulkan dampak pengenaan Pajak Berganda sehingga mendorong
Wajib Pajak untuk menghindar dari pengenaan pajak bahkan kalau perlu menyelundupkan pajak. Hal ini disebabkan sejak tahun 1959 mekanisme pengkreditan pajak masukan atau pajak yang telah dibayar atas pembelian barang-barang tidak diberlakukan lagi.
3. Undang-undang Pajak Penjualan 1951 mengandung dualisme sistem
pemungutan pajak yaitu untuk pengusaha tertentu diterapkan Self Assessment System, sedangkan untuk kelompok pengusaha lainnya