• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mien A. Rifai

Dalam dokumen Gaya dan Format Berkala Ilmiah Idaman (Halaman 45-49)

“Herbarium Bogoriense” Puslit Nasional Biologi LIPI, Jalan Raya Juanda 22, Bogor

Dalam era ketika superspesialisasi mewarnai kehidupan keilmuan sehariharinya, tidaklah mungkin seorang pengelola berkala ilmiah mampu mengikuti kemajuan

perkembangan ilmu secara tuntas. Pada pihak lain, berkala sebagai corong pelapor kemajuan ilmu dan teknologi serta rekayasa selalu dituntut agar mampu menyuguhkan data dan informasi temuan terbaru orisinal yang serba mutakhir dan berkepioneran tinggi. Sejalan dengan itu sidang penyunting berkala ilmiah harus bisa menjaga mutu naskah yang diterbitkannya sesuai dengan gaya selingkung yang dikembangkan dan dianutnya.

Bagi sebuah berkala yang cakupan kesuperspesialisan bidangnya sangat sempit, sidang penyunting yang berjumlah sedikit (sekitar 3 – 7 orang) biasanya sudah dianggap cukup ideal untuk menangani segala segi keteknisan isi penyuntingan. Untuk berkala dengan liputan bidang ilmu yang lebih luas dan berpendekatan lintas disiplin, seringkali dirasakan bahwa diperlukan orang di luar sidang penyunting guna membantu menilai naskah yang masuk. Dalam kaitan ini berkala tadi dapat memiliki 1) suatu tim

penyunting penelaah (board of editors) yang tetap, yang dalam beberapa berkala

Indonesia sering disebut ‘penyunting ahli’, 2) sejumlah penelaah independen yang hanya diminta berfungsi sewaktu diperlukan, atau 3) peninjau lepas berpola kerja lain. Dalam kaitan terakhir, berkala seperti Mycotaxon dan Floribunda mengharuskan bahwa naskah yang diajukan sudah disertai pernyataan tertulis lolos suntingan dari dua orang pakar yang dipilih oleh penulisnya sendiri. Jadi orang-orang di luar sidang penyunting ini merupakan wasit yang umumnya berperan sebagai kelompok peninjau atau penelaah naskah sebelum diputuskan untuk diterima, diperbaiki, atau ditolak penerbitannya dalam sesuatu berkala.

Penelaahan atau peninjauan kritis ini pada umumnya dilakukan oleh ilmuwan yang dianggap setara keahlian dan kepakarannya dengan si penulis naskah yang

diwasitinya. Mereka merupakan peer (dipadankan dengan istilah ‘bebestari’, atau ‘tetara’ dalam bahasa Indonesia––berturut-turut diciptakan dari kata ‘bestari’ dan ‘tara’

berdasarkan analogi istilah ‘tetua’ dari tua-tua, dan “leluhur” dari luhur). Dalam kamus-kamus, peer umumnya didefinisikan dengan ‘orang yang memiliki kedudukan tingkatan setaraf dengan kelompok sesamanya dilihat dari umur, peringkat, kemampuan, atau statusnya’. Dengan demikian, dalam kaitannya dengan tradisi penerbitan berkala ilmiah

di forum internasional, peer group (atau ‘mitra bebestari’) sebagai kelompok penelaah dipilihkan dari para ilmuwan yang masih giat dan aktif berkecimpung dalam dunia kecendekiaan sehingga diakui secara luas sebagai tokoh dan autoritas terpandang dalam bidang spesialisasinya. Mereka umumnya masih berkegiatan di laboratorium sehingga terus menerbitkan hasil penelitiannya yang berupa publikasi ilmiah berbobot dalam berkala-berkala terpandang. Kepakaran mereka tidak diperoleh dari selembar surat keputusan, tidak juga oleh sederetan sebutan jabatan atau gelar akademis seperti profesor atau doktor berangkap-rangkap, ataupun kedudukan terhormat dan berpangkat tinggi. Sebaliknya pengakuan kepantasannya untuk dijadikan mitra bebestari dari

lingkungannya semata-mata diperoleh berdasarkan hasil karya nyatanya berupa daftar panjang setumpuk terbitan berbobot yang masih terus dihasilkannya. Bukti hakiki ini menunjukkan kemampuan mereka memikirkan, mengikuti, dan mengembangkan serta menguasai arah kemajuan ilmu dan teknologi serta rekayasa berdasarkan hasil penelitian dan kreativitas kecendekiaan lain yang ditekuninya.

Penelaahan dan penilaian suatu naskah oleh mitra bebestari hampir selalu dilakukan secara anonim dalam dua arah, artinya si penilai tidak tahu siapa penulis naskah yang dihadapinya dan penulis juga tidak tahu siapa yang bakal menilai naskahnya yang sedang dipertimbangkan. Karena banyak indikator yang dapat dipakai untuk

mengetahui pengarang suatu naskah, sidang penyunting harus selalu mengusahakan agar orang yang sudah terkenal bermusuhan tidak diminta saling memeriksa naskah tulisan mereka. Oleh karena itu orang-orang yang selembaga umumnya tidak diperkenankan untuk saling menjadi mitra bebestari, karena dipastikan adanya conflict of interest di antara mereka. Keanoniman dan ketiadaan kaitan kelembagaan ini akan memungkinkan terjadinya penelaahan dan penilaian yang adil, independen, transparan, bebas kolusi, serta tidak berbias.

Dalam praktiknya, pemeriksaan bobot isi dan substansi naskah biasanya dilakukan oleh dua orang mitra bebestari yang umumnya memiliki kespesialisan yang sebidang dengan penulis naskah. Kebijakan yang umum dianut menyatakan bahwa suatu naskah diterima untuk diterbitkan sesudah ditelaah dan disetujui oleh dua orang yang sudah luas diakui merupakan autoritas yang ditokohkan dalam bidang tersebut. Kebijakan yang sama juga dipakai untuk menolak menerbitkan naskah yang tidak disetujui oleh dua orang pakar berkeahlian ini. Jika hasil penilaian kelayakan terbit suatu naskah yang diberikan kedua orang penelaah bertentangan satu sama lain, akan

diperlukan penelaah ketiga untuk memutuskannya.

Tugas mitra bebestari dalam menelaah naskah ialah membantu sidang penyunting dalam menyaring (awas: bukan menjaring!) untuk menjaga mutu substansi tulisan yang diterbitkan dalam berkala. Tujuan ini dicapai dengan jalan membantu penulis secara anonim dalam meningkatkan mutu naskahnya melalui kritikan yang membangun. Untuk itu, seorang yang bersedia menjadi mitra bebestari harus menyelesaikan penelaahannya dalam waktu yang umumnya tidak lebih dari dua minggu. Jika karena sesuatu hal seorang penelaah tidak dapat memenuhi jadwal waktu yang disepakati, segera beri tahu penyunting dan kembalikan naskah agar dapat dicari penggantinya.

Perlu ditekankan bahwa sebagai anggota mitra bebestari, seorang penelaah tidak bertugas menyunting gaya bahasa, dan tidak juga mengolah kopi naskah untuk siap diterbitkan. Ia hanya diminta mengevaluasi kelayakan bobot isi dan substansi naskah sesuai dengan baku mutu yang dipakai berkala bersangkutan. Oleh karena itu hasil penilaian seorang penelaah biasanya berupa laporan tentang kelayakan terbit naskah, sering dalam pernyataan berbentuk ya atau tidak. Laporan yang diberikan harus jelas dan tidak membingungkan penyunting ataupun pengarang. Dalam memberikan penilaian, pertanyaan-pertanyaan berikut supaya dipertimbangkan.

1. Apakah data dan informasi dalam naskah bersifat baru dan orisinal?

2. Cukup berbobotkah substansi yang disumbangkan sehingga bermakna untuk memajukan ilmu?

3. Pernahkan bahan serupa diterbitkan sebelumnya dalam bentuk lain? 4. Apakah naskah yang dihadapi lebih cocok untuk berkala lain? 5. Apakah kepustakaan yang ditelaah dan diacu mutakhir dan lengkap? 6. Apakah metode dan pendekatan memadai untuk tujuan penelitian? 7. Apakah semua bagian naskah perlu diterbitkan?

8. Apakah kerangka susunan naskah sesuai, memuaskan, dan hemat?

9. Bagian mana yang perlu dipertegas, dipersingkat, atau malah diperpanjang?

10. Jelaskah cara pengarang menyajikan tulisannya sehingga tidak akan disalahtafsirkan? Kalau memang dianggap perlu, tunjukkan gaya penulisan yang cacat.

11. Adakah kesalahan fakta, penginterpretasian, atau penghitungan? 12. Apakah tabel menyajikan data secara jelas dan ringkas?

13. Apakah semua ilustrasi diperlukan?

14. Sebaliknya, apa ada kekurangan ilustrasi dan gambar?

15. Apakah semua keterangan gambar dan judul tabel cukup jelas? 16. Cukup tajamkah analisis terhadap data yang terkumpul?

17. Sudah lebarkah sintesis yang dilakukan dalam merangkum temuan(-temuan) yang terungkapkan?

18. Cukup bermaknakah perampatan dan simpulan yang dirumuskan?

19. Apakah kandungan abstrak lengkap cakupannya tetapi ringkas? Bagaimana dengan kata kuncinya?

20. Apakah judul naskah tepat dan betul-betul sesuai dengan isi karangan?

Dalam menunaikan fungsinya, para mitra bebestari diminta untuk berpedoman pada kode etik penyunting sekalipun secara resmi mereka tidak termasuk dalam dan sama sekali bukan merupakan anggota sidang penyunting. Oleh karena itu mereka dianjurkan untuk membiasakan diri mengelasifikasi naskah dalam kategori sempurna, baik, diterima dengan perbaikan kecil, dipertimbangkan sesudah diperbaiki secara mendasar, dan tidak memenuhi syarat baik isi maupun bentuk. Naskah yang bobot isi substansinya berada di bawah standar agar diusulkan ditolak, sedang yang berbobot tetapi perlu penyempurnaan supaya dilampiri saran cara memerbaiki mutu naskah secara makro. Saran itu dapat berupa anjuran untuk mengatur kembali susunan kerangka

penyajian sehingga lebih efektif. Dapat pula saran itu menganjurkan pembuangan bagian naskah yang dianggap tidak berkaitan dengan pokok masalah, atau menambah bagian yang dirasakan kurang mendalam pembahasannya oleh pengarang.

Laporan penelaah dimaksudkan untuk membantu penyunting mengambil keputusan apakah menerima langsung, menerima dengan perbaikan yang dapat ringan tetapi bisa pula berat, atau sama sekali menolak naskah, yang adakalanya mungkin dianjurkan untuk dimuat di tempat lain. Nasib sebuah naskah memang berada di tangan sidang penyunting semata-mata, yang akan mengambil keputusan akhir berdasarkan rangkuman penyimpulan hasil laporan penilaian yang dimasukkan para mitra bestari.

Dari uraian di atas tersiratkan bahwa jumlah dan komposisi mitra bebestari akan berubah dari terbitan yang satu ke terbitan berikutnya, sesuai dengan topik naskah yang dimuatnya. Karena bukan anggota tetap sidang penyunting suatu berkala, daftar panjang para penyunting penelaah tadi tidak perlu dimunculkan pada setiap nomor terbitan berkala tersebut. Sebagai persantunan, penghargaan, dan pengakuan atas sumbangan jerih payahnya, cukuplah bila nama mereka yang berfungsi dalam suatu nomor

dicantumkan di akhir jilid berkala. Penerbitannya dilakukan bersamaan dengan pencetakan halaman judul berkala, daftar isi, dan indeks keseluruhan jilid yang bersangkutan.

Perlu diketahui bahwa di forum internasional, para mitra bebestari itu sama sekali tidak mendapat imbalan atas jerih payah darma baktinya membantu penyunting menjaga mutu substansi berkala. Keuntungan nyata yang diperolehnya adalah bahwa seorang yang diminta menjadi mitra bebestari memiliki kesempatan tak tertandingi untuk terlebih dulu mengetahui sebelum diterbitkan adanya pengungkapan temuan(-temuan), pendapat, ataupun teori yang sama sekali baru untuk ilmu, teknologi, rekayasa dan seni.

PENATARAN DAN LOKAKARYA MANAJEMEN JURNAL ILMIAH

Dalam dokumen Gaya dan Format Berkala Ilmiah Idaman (Halaman 45-49)

Dokumen terkait